Tags

, , ,

kiss with love
Bisakah kau percaya pada diriku yang seperti ini bahwa kali ini aku benar-benar tulus, bukan berpura-pura? Mungkin kau sulit untuk melakukannya. Namun ada yang tidak kau ketahui, begitu banyak peran yang kumainkan, dan aku lelah dengan semuanya. Sekarang saat aku memunculkan sisi diriku yang sebenarnya, apa kau percaya bahwa ini aku??

Saat ini, sekali saja dalam hidupmu. Bisakah kau melihatku dalam kenyataan? Bukan dalam akting ataupun sandiwara, karena aku benar-benar mencintaimu di kehidupan ini. Bukan di depan kamera…

*****

 

Suasana lokasi syuting saat ini sangat ramai, banyak orang berlalu lalang sambil membawa peralatan syuting. Seorang Actor terkenal terlihat turun dari mobil bersama managernya. Kemudia mereka berjalan menghampiri sutradara yang sedang mengatur anak buahnya untuk menyiapkan perlengkapan syuting.

 

“Anyeong haseo Hyungnim!” sapa Kibum, seorang penyanyi terkenal. Salah satu member dari sebuah boyband Super Junior.

 

“Oh, kalian sudah datang rupanya. Cepatlah bersiap-siap, sebentar lagi syuting akan dimulai.” jawab Park Sutradara.

 

Kibum membungkukkan badannya sedikit kemudian duduk di sebuah kursi. Lalu Hairstyle-nya, Nona Wang mulai merapikan penampilannya.

 

“Oh ya Hyung, di mana artis yang akan menjadi lawan mainku? Apa aku mengenalnya? Kenapa kau management merahasiakan identitasnya padaku?” tanya Kibum pada managernya.

 

“Itu agar kau bisa mendapatkan feel saat akting nanti. Kau sudah membaca skrip drama yang akan kau mainkan bukan?” balas Manager Ma (minjem dari YAB juga) “Nah, itu dia, gadis yang akan bermain denganmu. Kau lihat gadis yang sedang membaca skrip di kursi putih itu?”

 

“Ya… Ah, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas,” gerutu Kibum.

 

“Dia sangat cantik,” saut Nona Wang “Juga ramah, aku baru saja meriasnya tadi.”

 

“Benarkah?”

 

“Dia artis baru. Ini debutnya yang pertama. Aku lupa namanya, tapi sepertinya ia cukup berbakat.”

 

“Baiklah, syuting dimulai!!!” teriak Park Sutradara.

 

Kibum merapikan jaketnya dan berjalan menuju Park Sutradara.

 

“Ah, kibum ah, kemarilah! Ini Han Ji Yoo ssi yang akan menjadi lawan mainmu. Kau belum mengenalnya bukan?” tanya Park Sutradara.

 

Langkah Kibum terhenti saat melihat gadis itu. Gadis itu berambut hitam lurus dan menggunakan dress putih polos selutut. Ia tersenyum dan membungkukkan badannya sedikit. Kibum merasa tubuhnya mematung, sudah lama sekali…..

.

.

.

“Sudah lama sekali. . .” kata Kibum sambil menatap lurus pada Ji Yoo.

 

“Apa aku pernah mengenalmu??” tanya Ji Yoo skeptis.

 

Kibum tersenyum kemudian menggeleng “Aniyo,“ jawabnya pelan “Lain kali berhati-hatilah, mintalah tolong orang lain kalau tidak bisa memanjat.”

 

Ji Yoo tersenyum “Aku tidak memikirkan itu, aku takut kucing kecil ini terjatuh dari atas pohon. Terima kasih sudah menolongku.”

 

“Bukan masalah,” jawab Kibum sambil tersenyum “Namaku Kim Tae Hwa, pastikan kau mengingatnya Eun Ra ssi.” Kibum melangkah pergi meninggalkan Ji Yoo yang belum sempat menjawab.

 

“Dari mana ia tau namaku??” gumam Ji Yoo bingung.

 

“CUT!!!” teriak Park Sutradara. “Bagus! Kalian berdua berakting dengan baik!! Sekarang bersiap-siaplah untuk skrip selanjutnya!”

 

Ji Yoo menerima botol air minum dari seorang staf dan mengucapkan terima kasih. Kemudian ia meneguknya cepat.

 

“Han Ji yoo ssi,” panggil Park Sutradara.

 

Gadis itu menghentikan minumnya kemudian menoleh pada pria itu “Ye?”

 

“Ada perubahan sedikit untuk skrip selanjutnya. Agar feel yang didapat maksimal, adegan Tae Hwa memeluk Eun Ra diganti dengan ciuman.”

 

“Ye?” tanya Ji Yoo terkejut.

 

“Aku harap kau tidak keberatan. Bersiap-siaplah, dan sampaikan hal ini pada Kibum ah juga!” kata Park Sutradara kemudian berlalu.

 

Ji Yoo termangu ditempatnya. Apa ia bisa melakukannya? Ia belum pernah sama sekali berciuman. Bagaimana caranya mengatakan hal ini pada laki-laki itu? Tapi bagaimanapun ini debutnya yang pertama, ia harus bersikap profosional.

 

“Maaf, apa kau melihat Kibum ssi?” tanya Ji Yoo pada salah satu staf.

 

“Sepertinya di sebelah sana!”

 

“Ah terima kasih!” ucap Ji Yoo kemudian berjalan menuju arah yang ditunjuk staf tadi.

 

Ia melihat laki-laki itu berdiri bersandar pada pohon dengan mata terpejam dan sedikit mendongakkan kepalanya. Dengan ragu-ragu Ji Yoo berjalan menghampirinya. Bagaimana cara menyampaikannya?? Ji Yoo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ada apa?” tanya Kibum tiba-tiba.

 

“Ye?” Ji Yoo menatap terkejut, laki-laki itu masih memejamkan matanya. Bagaimana ia tau ada Ji Yoo di dekatnya?

 

Kibum membuka matanya pelan kemudian tersenyum “Ada apa mencariku?” tanyanya lagi “Ingin mengajakku berkencan?” godanya.

 

“Ye?” lagi-lagi Ji Yoo terkejut, “Ah, aniyo… I-itu… Park Sutradara menyuruhku menyampaikannya kepadamu tentang perubahan skrip.”

 

Laki-laki itu mengerutkan alisnya “Apanya yang berubah?” tanyanya.

 

“Mmm…” lidah Ji Yoo terasa kelu, kenapa ia menjadi gugup seperti ini?

 

“Apakah itu buruk?” tanya kibum lagi.

 

“A-aku tidak tau…” jawabnya ragu “Adegan Tae Hwa memeluk Eun Ra kata sutradara diganti menjadi…” wajah Ji Yoo terasa panas, wajahnya pasti sangat merah sekarang.

 

“Menjadi…?”

 

“Ci-ciuman… “ jawab Ji Yoo akhirnya.

 

Keduanya saling diam. “Baiklah, hanya itu?” tanya Kibum.

 

Ji Yoo mengangguk pelan, ditatapnya laki-laki itu penasaran. Kenapa mudah sekali jawabannya. Apa ia sudah sering melakukannya?

 

“Ada lagi?” tanya Kibum ketika Ji Yoo belum juga pergi.

 

“Jeoseonghamnida… Aku tau kau aktor berbakat, dan aku takut kalau nanti aku tidak bisa melakukannya dengan baik, “ gumam Ji Yoo pelan.

 

“Waeyo?”

 

“Karena… Karena aku… Aku belum pernah merasakan ci-ci… ini memalukan sekali…” keluh gadis itu sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

 

“Kau belum pernah berciuman?” tanya Kibum skeptis.

 

Ji Yoo menggeleng pelan. Tiba-tiba saja sebuah tangan memegang dan mengangkat wajahnya. Ia menatap terkejut, tapi belum sempat ia berbicara, bibirnya sudah terkunci oleh bibir kibum.

Shock! Ji Yoo merasa arwah tubuhnya lepas dari raganya. Bibir kibum menekannya pelan dan melumatnya lembut selama beberapa detik.

 

“Sekarang kau sudah merasakannya,” bisik Kibum kemudian melangkah pergi meninggalkan Ji Yoo yang masih termangu ditempatnya.

 

Gadis itu membeku bagaikan patung, kemudian ia tersentak dan berbalik, namun laki-laki itu sudah berjalan jauh. Ia menatap terpaku, jadi itu yang namanya ciuman? Rasanya hangat, lembut, dan manis…

.

.

.

“CUT!!” teriak Park Sutradara “Kalian berakting bagus sekali hari ini. Ekspresi wajah kalian benar-benar terasa, aku yakin drama korea Kiss With Love ini akan memperoleh rating yang tinggi.”

 

“Kamsahamnida,” ucap Kibum sambil tersenyum.

 

“Baiklah, kalian boleh pulang, kita lanjutkan besok!” kata Park Sutradara “Ayo semuanya berkemas!”

 

Ji Yoo berjalan menuju meja tempat tasnya diletakkan. Tiba-tiba saja seseorang melingkarkan lengannya pada bahu Ji Yoo “Jadi Han Ji Yoo ssi, jadi berkencan denganku?”

 

Ji Yoo menatap terkejut dan langsung melepaskan lengan laki-laki itu “Si-siapa bilang kita akan berkencan?” Tanyanya gugup.

 

“Ah bukankah tadi kita sudah ciuman dua kali? Satu sebelum syuting dan yang satu saat syuting!”

 

“Itu bukan ciuman!” kilah Ji Yoo.

 

“Kau tidak menganggapnya ciuman? Lalu… Seperti apa ciuman menurutmu? Kau bisa menunjukkannya padaku?” goda Kibum sambil mendekatkan wajahnya pada Ji Yoo.

 

Gadis itu sontak memundurkan wajahnya dengan gugup “A-aku…”

 

Pletak

 

“YAA!” Kibum meringis sambil memegangi kepalanya yang sakit.

 

“Kenapa masih disini? Ayo pergi, kau masih ada jadwal di reality show!!” Manager Ma menyeret paksa kra baju Kibum.

 

“Hyung, hentikan! Kau ini mengganggu saja!”

 

“Kenapa kau senang sekali menggoda artis baru?”

 

“Memangnya kenapa?”

 

Ji Yoo masih berdiri menatap mereka yang berjalan menjauh. Apa menggoda artis itu memang kebiasaannya? Lalu kenapa tadi… Tidak, dia pasti hanya main-main. Tapi kenapa ciuman tadi terasa… Entahlah, seolah-olah laki-laki itu benar-benar menyampaikan semua perasaannya yang sudah lama dia simpan. Ciuman yang lembut dan pelan. Menikmati setiap detiknya seakan-akan ingin menyimpannya dimemori otaknya. Tapi… Apa semua ciuman memang seperti itu?

Ji Yoo menghela nafas pelan kemudian mengambil tasnya dan segera pulang.

.

.

.

“Kau sangat aneh hari ini,” komentar Manager Ma. Saat itu mereka sedang ada dalam perjalanan pulang ke Apartement.

 

Namja itu tidak menjawab, ia hanya bersandar pada kursi sambil melihat pemandangan di luar jendela mobilnya sepanjang perjalanan.

 

“Tidak biasanya kau diam terus seperti saat ini, biasanya kau selalu mengoceh tentang artis-artis yang menurutmu cantik,” kata Manager Ma lagi “Ada apa denganmu? Kau terlihat berbeda.”

 

“Aniyo… Aku hanya malas saja.” jawab Kibum acuh.

 

“Oh ya, untuk adegan ciuman tadi sepertinya kau tidak merasa kesulitan. Ini yang pertama kalinya untukmu bukan? Sebelumnya kau juga mendapat peran ciuman, tapi tidak benar-benar mencium karena kau tidak bisa melakukannya. Padahal saat itu kau sedang bermain bersama artis Song Hye Gyo. Tapi tadi, kau melakukannya dengan baik sekali. Aku sampai merasa kau benar-benar sedang berciuman di kehidupan nyata, bukan di depan kamera.”

 

“Hyung, bisakah kau diam saja? Kepalaku pusing!”

 

“Hoho… Kenapa kau marah? Apa kau sedang malu? Baiklah, aku diam!”

 

Kibum menghela nafas pelan. Saat ini mereka sedang melewati sungai Han. Tatapannya menerawang jauh, fikirannya melayang jauh kemasa lalu…

 

= 7 tahun yang lalu=

 

“Siapa dia??” tanya Kibum sambil melihat tanpa kedip seorang gadis yang sedang berlari-lari kecil di koridor sambil membawa setumpuk buku. Saat itu ia menjadi murid baru di salah satu sekolah junior di kota Seoul.

 

“Ah, itu Han Ji Yoo, saudara sepupu Han Geng Hyung, kau tau Han Geng Hyung kan??” jawab Lee Dong Hae, teman sebangkunya.

 

Kibum mengangguk mengerti “Tapi dia bukan orang Cina…”

 

“Ya, Bibi Han Geng Hyung menikah dengan orang Korea, nah pamannya yang dari korea itu punya seorang adik perempuan yang sudah menikah juga. Han Ji Yoo itu putri mereka.”

 

“Bagaimana kau bisa tau?” Tanya kibum sambil menatap sahabatnya itu curiga.

 

“Aku tau dari Ryeowook, adikku itu kan sekelas dengannya.”

 

Ah, benar juga…” Kibum mengangguk-angguk lagi.

 

“Memangnya kenapa?” tanya Donghae.

 

“Kau percaya, suatu saat dia pasti akan menjadi milikku?”

 

“Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kudengar setelah ini ia akan melanjutkan sekolahnya ke Cina bersama Han Geng Hyung.”

 

Kibum menatap Donghae terkejut “Benarkah? Tapi kenapa aku merasa suatu saat dia akan menjadi milikku?”

 

Donghae menggeplak kepala Kibum, “Sebaiknya kau berdo’a saja agar dia tidak mendapatkan jodoh orang cina!”

.

.

.

Sore itu Kibum berjalan sendirian pulang dari sekolah. Ia melewati sebuah jalan yang sepi dan tertegun saat melihat gadis itu ada di sana, sedang berusaha mengambil anak kucing di atas pohon dan hampir terjatuh.

 

Secepat kilat Kibum menjatuhkan tasnya dan berlari menghampiri gadis itu. Tepat saat gadis itu terjatuh kibum menangkapnya. Untuk sejenak keduanya saling menatap terkejut. Kibum menurunkan gadis itu dari gendongnganya, “Tunggu sebentar!” pintanya, kemudian ia memanjat dan mengambilkan anak kucing di pohon itu.

 

“Kamsahamnida…” ucap gadis itu sambil menerima anak kucing dari kibum.

 

“Lama sekali…” gumam kibum. Ya, sudah lama sekali ia ingin berbicara dengan gadis itu, tapi baru kali ini ia sanggup berbicara langsung dengannya. Sebelumnya ia sudah pernah mencoba, tapi ia begitu gugup sehingga hanya bisa menatapnya dari jauh.

 

“Apa aku pernah mengenalmu?” tanya Ji Yoo skeptis.

 

Kibum tersenyum kemudian menggeleng “Aniyo… “ jawabnya pelan “Lain kali berhati-hatilah, mintalah tolong orang lain kalau tidak bisa memanjat!”

 

Ji Yoo tersenyum “Aku tidak memikirkan itu, aku takut kucing kecil ini terjatuh dari atas pohon. Terima kasih sudah menolongku.”

 

“Bukan masalah!” jawab Kibum sambil tersenyum “Namaku Kim Kibum, pastikan kau mengingatnya Ji Yoo ssi!” Kibum melangkah pergi meninggalkan Ji Yoo yang belum sempat menjawab.

 

“Dari mana ia tau namaku??” gumam Ji Yoo bingung.

 

Itu terakhir kali mereka bertemu dan berbicara karena ternyata Ji Yoo mempercepat jadwal kepindahannya. Namun Kibum masih tetap mengingatnya hingga kini, gadis yang selalu ditunggunya itu.

.

.

.

Kibum menghela nafas lagi kemudian tersenyum.

 

“Kenapa kau tiba-tiba tersenyum aneh begitu?” tanya managernya bingung.

 

“Dia pasti akan menjadi milikku!” gumamnya pasti.

 

“Si-siapa?? Yaa, kau tidak sedang menyukai seorang gadis kan?”

 

Ia menoleh kepada managernya dan tersenyum meragukan “Aniyo, Hyung tenang saja!”

 

“Sebenarnya aku bingung kenapa kau mau menerima peran itu? Bukankah kau bilang kau tidak ingin bermain film dulu? Apa karena ceritanya bagus?”

 

Kibum terdiam sejenak, “Karena ceritanya… sama dengan hidupku.”

 

“Mwo?” Manager Ma mengerutkan alisnya bingung.

 

“Sudahlah, Hyung menyetir saja!”

 

*****
Han Ji Yoo sedang berguling-guling gelisah di tempat tidurnya. Setiap ia memejamkan mata ia selalu teringat kejadian itu. Tanpa sadar jari-jarinya meraba bibirnya. Rasanya masih hangat.

 

“Aigooooo…” Runtuknya sambil memukul kepalanya sendiri. “Kenapa aku jadi beginiiiiii???” jeritnya, “Kim Kibum… Kim Kibum… Sepertinya aku pernah melihatnya sebelum ini. Ah, dia kan artis terkenal, mungkin saja aku memang sudah pernah melihatnya.”

 

Gadis itu menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya, “Kim Kibum… Kim Kibum… Kim Kibum…” gumamnya berkali-kali. Tiba-tiba ia tersentak dan langsung duduk. Kemudian ia turun dari tempat tidur dan membongkar lemari bukunya.

 

Ditemukannya buku yang dicarinya kemudian diperiksanya lembar demi lembar. Terkejut, ia membaca lagi buku diary yang pernah ditulisnya beberapa tahun yang lalu.

 

 

2004, maret 13

 

Aku bertemu dengan laki-laki yang sedikit aneh hari ini. Ia menangkapku saat aku terjatuh dan membantuku mengambil anak kucing dari atas pohon.

 

“Namaku Kim Kibum, pastikan kau mengingatnya Ji Yoo ssi.”

 

Aku tidak tau apa maksud dari kata-katanya itu, dan bagaimana ia bisa tau namaku. Sayang sekali besok aku harus berangkat ke Cina bersama appa. Tuhan… Apakah aku bisa bertemu lagi dengannya?

 

 

“Kim Kibum…” gumam Ji Yoo lirih, “Dia… Laki-laki itu?”

 

*****

 

“Bagus sekali!! Rating drama Kiss With Love terus naik. Banyak fans yang mendukung kalian berdua, Chukaeyo!!”

 

“Kamsahamnida,” Ji Yoo membungkukkan badannya untuk berterima kasih.

 

“Baiklah, bersiap-siaplah untuk syuting selanjutnya!!”

 

“Ne!”

 

“Kau berbakat jadi artis,” komentar Kibum sepeninggalan Park Sutradara.

 

“Kamsahamnida, tapi kau lebih hebat Kibum ssi. Aku harus banyak belajar darimu.”

 

Kibum tersenyum “Aku bisa mengajari apapun kalau kau mau,” goda Kibum “Termasuk ci…” Kibum menggantung kalimatnya sambil tersenyum.

 

“A-aku harus bersiap-siap,” saut Ji Yoo gugup dan langsung melangkah pergi.

 

Kibum tersenyum melihat gadis itu. Rona pipinya sangat cantik.

.

.

.

“Wah, kalian berakting bagus sekali!” komentar Nona Wang yang sedang menyisir rambut Ji Yoo.

 

“Gomawoyo Eonni.”

 

“Aku yakin drama ini pasti laris. Apalagi ada Kibum ssi.”

 

“Ne,dia memang hebat. Aku beruntung menjadi lawan mainnya.”

 

Nona Wang tertawa kecil “Tapi aku merasa dia sedikit aneh.”

 

“Waeyo?” tanya Ji Yoo sambil menatap melalui cerminnya.

 

“Dia itu sangat populer. Dia sering menggoda artis-artis lain, tapi tidak satupun yang dijadikannya pacar atau mungkin ada tapi tidak diketahui publik. Gosip tentangnya juga sangat banyak sekali. Aku sendiri tidak mengerti yang mana kepribadiaannya. Kau harus berhati-hati dengannya.”

 

Ji Yoo tersenyum “Tentu,” jawabnya pelan.

 

Ia menatap kaca itu terdiam. Benarkah ia seperti itu…??

.

.

.

“Oppa? Kenapa kau di sini??” tanya Ji Yoo terkejut saat melihat Kang Min Hyuk ada dilokasi syuting.

 

“Apa kau terkejut?” tanya Minhyuk sambil tersenyum

 

“Tentu saja!”

 

“Ah, Kang Minhyuk ssi! Kau sudah datang rupanya,” sapa Park Sutradara.

 

Min Hyuk membungkukkan badannya sedikit “Ye, Hyung Nim.”

 

“Kalian sudah saling kenal? Itu bagus! Han Ji yoo ssi, Kang Minhyuk yang akan menggantikan peran Lee Min Hoo sebagai tokoh pria kedua, kalian harus berusaha sebaik mungkin!”

 

“Ne!” jawab Ji Yoo dan Minhyuk bersamaan.

 

Park Sutradara melangkah pergi meninggalkan mereka. Kemudian Minhyuk menoleh kepada Ji Yoo “Bagaimana denganmu?? Tidak ada masalah dengan aktingmu bukan?”

 

Ji Yoo menggeleng pelan “Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Kenapa tidak memberi tau kalau kau juga ikut bermain di drama ini?”

 

“Itu kejutan,” jawab Minhyuk sambil tersenyum.

 

“Kau ini, senang sekali membuatku terkejut,” gerutu Ji Yoo.

 

Min Hyuk tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Ji Yoo, “aigoo… uri ji yoo neomu kyeopta…”

 

“Oppaaa~ hentikan! Kau bisa dibunuh Eonni nanti, dia sudah susah payah mengatur rambutku jadi jangan mengacaukannya!”

 

“Baiklah baiklah…“ saut Minhyuk mengalah masih tetap tertawa.

.

.

.

BRAAAK

 

Kibum menggebrak meja keras. Ji Yoo terlonjak kaget. Benar-benar kaget. Ia menatap pria itu dengan bingung, apa ia benar-benar sedang berakting? Kenapa Ji Yoo melihat ada kilatan marah dimatanya.

 

“KATAKAN APA HUBUNGANMU DENGANNYA?” bentak Kibum keras membuat gadis itu terlonjak lagi.

 

“A-aku…”

 

“Dia kekasihmu?” suara Kibum menurun.

 

Ji Yoo menggerak-gerakkan bibirnya ingin berbicara namun tidak ada suara yang keluar.

 

“JAWAB AKU!!” bentak Kibum lagi.

 

“ADA APA DENGANMU? KENAPA MARAH PADAKU?” Ji Yoo balas bentak sambil berdiri dari duduknya. “Memangnya kenapa kau bertanya-tanya soal itu, apa hubunganku dengan dia itu bukan urusanmu!” Ji Yoo mengambil tasnya di meja dan berlalu pergi.

 

BRAAAK

 

Lagi-lagi Kibum menggebrak meja.

 

“CUT!!” teriak Park Sutradara “Bagus sekali, ekspresi kalian sungguh sangat bagus!”

 

Kibum duduk di sebuah kursi sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. Sementara Ji Yoo mengerutkan alis bingung ke arah laki-laki itu. Ada apa dengannya? Kenapa Ji Yoo merasa yang tadi itu bukanlah akting? Sementara seseorang yang berdiri disebrang sana menatap mereka sambil melipat tangan di depan dada. Kang Min Hyuk tersenyum tipis melihatnya.

 

“Aku tidak tau kau bisa akting marah sebagus itu,” komentar Manager Ma sambil mengulurkan sebotol kaleng soda sementara kibum hanya tersenyum masam sambil menatap Ji Yoo dari kejauhan. Gadis itu tampak sedang mengobrol bersama Min Hyuk.

.

.

.

“Han Ji Yoo ssi, boleh aku berbicara padamu sebentar?” tanya Kibum saat mereka sudah selesai syuting. Hari sudah malam.

 

Ji Yoo dan Min Hyuk yang tengah mengobrol menoleh dan menatap sejenak “Ada apa?” tanya Ji Yoo.

 

“Bisa kita berbicara berdua?” tanya Kibum lagi.

 

Ji Yoo melirik Min Hyuk seperti meminta pendapat.

 

“Biar aku yang mengantarmu pulang nanti!” saut Kibum paham “Kau tidak keberatan Kang Min Hyuk ssi?” tanyanya pada Min Hyuk.

 

“Terserah Ji Yoo saja…” jawab Min Hyuk.

 

“Baiklah,” jawab Ji Yoo “Oppa, kita bertemu lagi besok. Jangan lupa janjimu!”

 

“Araseo!” jawab laki-laki itu sambil tertawa kecil.

 

Kibum tidak suka melihatnya. Diraihnya tangan Ji Yoo, ada sedikit keterkejutan di mata gadis itu.

 

“Kalau begitu kami pergi,” pamit Kibum kemudian menarik tangan Ji Yoo pergi tanpa menunggu jawaban Minhyuk.

 

“Nanti aku akan menghubungimu!!” teriak Ji Yoo.

 

“Ne!!” balas Min Hyuk sambil melambaikan tangannya.

 

Kibum terus menggenggam tangan gadis itu sambil berjalan cepat.

 

“Kibum ssi, kita mau kemana?” tanya Ji Yoo cemas.

 

Laki-laki itu tiba-tiba berhenti berjalan membuat gadis itu menabrak bahunya, “Ada wartawan!” katanya pelan.

 

“Mwo?”

 

Tanpa banyak bicara kibum menarik tangan gadis itu untuk berlari sementara para wartawan yang melihat mereka langsung mengejar sambil menjepretkan kamera mereka.

 

Kibum membuka mobil, mendorong gadis itu masuk ke dalamnya lalu ia sendiri cepat-cepat berlari ke sisi seberang. Ia menyalakan mobil lalu melesat pergi dari tempat itu. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara hingga Kibum menghentikan mobilnya di pinggir sungai Han.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya laki-laki itu pelan.

Gadis itu menggeleng, “aku hanya terkejut.”

 

“Mianhae.”

 

Ji Yoo tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”

 

Kibum terdiam sejenak. “Aku menyukaimu.” katanya tiba-tiba.

 

Ji Yoo menoleh kaget “Mwo?”

 

“Jadilah kekasihku,” kata Kibum sambil menatap lurus ke depan.

 

Gadis itu terdiam, “A-aku tidak tau. Kau meminta hal yang sulit untuk kuputuskan…”

 

Kibum menoleh dan tersenyum pahit, “Aku tau…” sautnya pelan, “Pasti sulit sekali untukmu percaya padaku bukan? Kita baru mengenal beberapa minggu, jadi aku akan menunggu jawabanmu.”

 

“Ke-kenapa kau ingin aku menjadi kekasihmu?” tanya Ji Yoo pelan “Bukankah masih banyak gadis diluar sana yang lebih baik dariku?”

 

“Semakin banyak gadis yang lebih baik darimu, semakin banyak rasa sukaku kepadamu,” jawab kibum pelan “Kau ingin tau alasannya? Aku punya seribu lebih alasan kenapa aku menyukaimu! Aku menyukai sifatmu, matamu, hidungmu, bibirmu, rona pipimu, wajahmu, rambutmu, kepribadianmu, senyummu, tawamu, dan semua yang ada pada dirimu aku menyukainya, juga termasuk kekuranganmu, apa itu belum cukup?”

 

Ji Yoo menatap terpana. Tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. “Aku… butuh waktu.”

 

“Selama yang kau inginkan. Aku tidak keberatan untuk menunggumu lebih lama lagi,” kata Kibum, kemudian tiba-tiba saja ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu “Dan selama itu, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku,” bisiknya kemudian mengecup bibir gadis itu lembut.

 

Ji Yoo mematung ditempatnya, jantungnya berdegup begitu kencang. Ia merasakan lagi bibir Kibum yang lembut. Ciuman yang terasa sama dengan yang sebelumnya. Terasa hangat dan manis.

 

“Sekarang kuantar kau pulang!” bisik laki-laki itu.

 

*****

 

Han Ji Yoo menyingkap selimut yang menutupi kepalanya kemudian membuka mata lebar-lebar. Ia menepuk pipinya pelan. Apa yang terjadi padanya tadi malam? Itu nyata atau hanya mimpinya? Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Kenapa akhir-akhir ini ia seperti hidup di dalam mimpi?

 

Dihirupnya nafas panjang kemudian turun dari tempat tidurnya. Jam delapan lewat. Jadwal syutingnya masih jam satu nanti siang. Ia berjalan mengambil remote tv dan menyalakannya, kemudian ia berjalan menghampiri lemari es dan mengambil segelas air putih dan menegaknya.

Tiba-tiba ponselnya yang ada diatas meja berdering. Diambilnya benda itu. Kang min hyuk.

 

“Yeobseo??” jawabnya.

 

“Yoo ah, kau ada di mana?” tanya Min Hyuk dari seberang sana.

 

“Aku ada di rumah, baru saja bangun tidur. Waeyo Oppa??”

 

“Cepat buka internet sekarang juga tentang dirimu!”

 

“Mm? memangnya ada apa?” tanya Ji Yoo bingung.

 

“Kau lihat saja sendiri, aku tidak bisa menjelaskannya karena aku juga tidak mengerti!”

 

“N-ne… Araseo!”

 

Ji Yoo menutup ponselnya kemudian secepat kilat berlari ke kamarnya lalu membuka laptopnya.

 

“A-apa ini??” gumamnya saat melihat artikel-artikel dan foto-foto itu.

 

Rupanya wartawan-wartawan itu berhasil memotret mereka tadi malam dan sekarang foto-fotonya sudah menyebar di internet.

 

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Cepat-cepat diangkatnya.

 

“Yeobseo?? … Ah, ne, aku mengerti. Aku akan segera ke sana sekarang juga. Kamsahamnida…”

 

Gadis itu melempar ponselnya dan langsung berlari ke kamar mandi. Tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Ini debut pertamanya dan pertama kalinya juga ia terkena skandal.

.

.

.

Ruangan produser itu tampak sunyi beberapa saat. Pria separuh baya itu menopangkan dagunya di tangannya yang mengepal dan menatap meja. Diatas meja itu terdapat berlembar-lembar foto yang berserakan. Foto-foto Kibum dan Jiyoo. Saat Kibum memegang tangan Ji Yoo, saat mereka berlari, dan saat mereka masuk ke dalam mobil.

 

“Jadi… Apa hubungan kalian sebenarnya?” tanya PDnim.

 

Semua yang ada di situ, Manager Ma, Nona Wang, Ji Yoo dan Kibum terdiam tidak ada yang menjawab.

 

“Aku tidak ada masalah dengan ini, berita ini cukup memberikan dampak positif untuk drama kita. Banyak fans yang ingin kalian bersama, hal ini bisa mendongkrak penjualan drama kita. Tapi kalian tetap saja harus berhati-hati.”

 

“Jadi tidak ada masalah serius dengan berita-berita ini?” tanya Manager Ma.

 

PDnim tertawa, “Kenapa kalian serius begitu? Ini hal yang bagus! Kalaupun ini benar-benar nyata, aku tidak keberatan dengan hubungan kalian.”

 

Kibum menghela nafas lega, “Syukurlah kalau begitu…” desahnya.

 

“Baiklah, setelah ini kita makan siang bersama. Kemudian bersiap-siaplah untuk syuting dan jangan lupa besok ada pemotretan!”

 

“Ne!!”

 

“Permisi!” seseorang membuka pintu ruangan itu, “Kimbum ssi, ada seseorang yang mencarimu. Dia sedang menunggu diruang meeting sekarang!”

 

“Baiklah, aku kesana sekarang,” balas Kibum “Aku permisi dulu!” pamitnya.

.

.

.

“Kau baik-baik saja?” tanya Min Hyuk.

 

“Aku hanya sedikit terkejut,” jawab Ji Yoo pelan “Ini pertama kalinya untukku, aku harus belajar banyak darimu.”

 

Min Hyuk tersenyum lembut, “Aku akan slalu ada untuk membantumu.”

 

“Gomawoyo, Oppa…”

 

“Tapi, apa memang kau punya hubungan dengannya?”

 

“Aku tidak tau…” gumam Ji Yoo “Dia membuatku merasa aneh. Aku tidak bisa melihat sisi dirinya yang sesungguhnya. Apad ia sedang akting atau tidak. Aku merasa dia tidak terkesan berpura-pura saat syuting, dan itu membuatku bingung. Terus terang saja, drama Kiss With Love ini sama persis ceritanya saat aku pertama kali bertemu dengannya dulu.“

 

“Benarkah?”

 

“Ya… Dan aku baru menyadarinya kemarin.”

 

Min Hyuk tersenyum tipis, “Bersemangatlah, kau pasti bisa melalui ini semua!”

 

“Gomawo…”

 

“Kau sudah makan? Bagaimana kalau kita makan dulu?”

 

“Aku harus menyelesaikan sesuatu dengan Kibum ssi, ada yang harus kuperjelas padanya.”

 

“Araseo! Kita bertemu di lokasi syuting nanti.”

 

Ji Yoo mengangguk pelan kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Ia harus mencari laki-laki itu untuk bertanya sesuatu. Ah, bukankah dia sedang menemui seseorang diruang meeting? Apa dia masih disana sekarang?

.

.

.

“Nonna?” Kibum menatap terkejut saat melihat Moon Geum Young berdiri di depan jendela menatap keluar. Gadis itu menoleh dan tersenyum.

 

“Bum ah…”

 

“Sedang apa kau di sini?” tanya Kibum sambil menghampiri gadis itu.

 

“Aku mendengar banyak gosip tentangmu bersama artis baru itu, apa itu semua benar?”

 

Kibum diam sejenak, “Mmm… itu benar.”

 

“Kau pasti bohong!” tuduh Geum Young, “Kau hanya memanfaatkannya untuk mendongkrak popularitas drama kalian. Aku tidak suka caramu itu, kapan kau akan mendengarkanku Bum ah?”

 

Kibum tersenyum, “Nonna tenang saja, yang paling penting aku menyangimu.”

 

“Tentu saja kau harus menyayangiku. Baiklah, hari ini aku akan pergi ke luar pulau untuk beberapa waktu, beri aku pelukan!”

 

Kibum tersenyum kemudian memeluk Geum Young dengan erat. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari balik pintu.

.

.

.

“Kau hanya memanfaatkannya untuk mendongkrak popularitas drama kalian! Aku tidak suka caramu itu, kapan kau akan mendengarkanku Bum ah?”

 

Ji yoo yang hendak mengetuk pintu membeku mendengar kata-kata itu.

 

“Nonna tenang saja, yang paling penting aku menyangimu,” kali ini Kibum yang berbicara.

 

“Tentu saja kau harus menyayangiku, Baiklah, hari ini aku akan pergi keluar pulau untuk beberapa waktu, beri aku pelukan!!”

 

Gadis itu mematung melihat semua itu dari kaca pintu. Kibum, laki-laki itu memeluk wanita itu dengan erat. Apa semua yang dikatakan orang-orang itu benar? Bahwa dia suka menggoda gadis-gadis? Mungkin dia memang tidak serius dengan Ji Yoo. Bodoh sekali ia kalau harus memikirkan laki-laki itu. Kenapa tiba-tiba saja hatinya menjadi sakit?

 

Tiba-tiba saja ponselnya berdering, membuatnya tersentak dan cepat-cepat mencari benda itu dan mematikannya.

 

Craak… Pintu terbuka.

 

“Yoo ah?”

 

Kibum, laki-laki itu berdiri di ambang pintu terkejut.

 

“Mianhaeyo,” ucap Ji Yoo sambil membungkukkan badannya cepat dan berlari pergi.

 

“Tunggu!!” Kibum mengejarnya dan menahan tangannya.

 

“Lepaskan aku Kibum ssi!” pinta Ji Yoo sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Kibum.

 

“Kau melihatnya?” tanya kibum.

 

Ji Yoo menggeleng cepat “A-aniyo…”

 

“Lalu kenapa kau menangis?”

 

Ji Yoo terkesiap, tangannya yang bebas otomatis mengusap air mata di pipinya. Sejak kapan ia menangis?

 

“A-aku…”

 

“Ada apa kau mencariku?” tanya laki-laki itu.

 

“Mwo?”

 

“Kau tadi mencariku kan? Ada apa?”

 

“Ne… Aku mencarimu untuk mengatakan sesuatu.”

 

“Apa itu?”

 

“Kurasa aku sudah tau jawabannya sekarang. Maaf aku tidak bisa percaya padamu Kibum ssi. Tadinya aku bingung, seperti apa sisi dirimu yang sebenarnya. Yang mana dirimu yang sesungguhnya? Tapi baru saja aku sadar bahwa kau yang terlihat di mata orang-orang adalah kau yang sesungguhnya. Jadi bagaimana aku bisa percaya kepadamu setelah aku melihat sendiri dengan mataku? Sudah bertahun-tahun, lama sekali… Saat ini, mungkin kau bukan Kim Kibum yang sama… Kim Kibum yang kukenal tujuh tahun lalu.“

 

Kibum membeku, genggaman tangannya terlepas saat mendengar kata-kata gadis itu. Ji Yoo berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya yang masih mematung di tempatnya.

 

 

*****

 

“Di mana Kim Kibum? Kenapa dia belum datang?” tanya Park Sutradara kepada Manager Ma.

 

“Ponselnya tidak aktif. Aku juga tidak tau di mana dia,” balas Manager Ma sambil mencoba menghubungi Kibum.

 

“Apa kau baik-baik saja? Dari tadi kau melamun terus!” tanya Nona Wang yang sedang merapikan rambut Ji Yoo cemas.

 

Ji Yoo menggeleng dan tersenyum lemah, “gwenchanae…” gumamnya pelan.

 

“Sepertinya matamu bengkak, apa kau habis menangis?”

 

“Aniyo… Hanya terkena debu tadi.”

 

“Kena debu kenapa bisa kedua-duanya?”

 

“Baiklah semuanya berkumpul!!” teriak Park Sutradara “Karena Kibum belum datang, kita ubah skrip. Yoo ah, kau sudah menghafal skrip halaman 32 bukan?”

 

Ji Yoo mengangguk pelan.

 

“Baik kita syuting skrip halaman 32 dulu!” kata Park Sutradara kemudian kembali ke kursinya.

 

“Ah itu kibum datang!!” seru salah satu staff.

 

Kibum melangkah dengan cepat dan menatap lurus kepada Ji Yoo, ia menghampiri gadis itu lalu memutar tubuhnya dengan cepat hingga menghadap padanya.

 

Park Sutradara yang melihat itu langsung memberi isyarat kepada anak buahnya untuk langsung mengambil gambar.

 

Ji Yoo menatap terkejut saat Kibum tiba-tiba memutar tubuhnya. Begitu pun Min Hyuk yang melihat mereka dari tempat tidak jauh.

 

“Kibum ssi…”

 

“Kau bilang aku sudah berubah bukan?” tanya Kibum sambil menatap tajam, “Aku tidak berubah! Dan aku tidak akan pernah berubah! Kenapa kau tidak bisa melihat sisi diriku yang sesungguhnya? Sedangkan aku selalu melihatmu, sejak dulu hingga sekarang aku selalu melihatmu. Bahkan saat kau tidak ada sekali pun aku selalu melihatmu dalam mataku. Aku tidak main-main!” kata Kibum kemudian langsung mencium bibir Ji Yoo di depan banyak mata.

 

Ia melumat bibir gadis itu dengan kasar dan menuntut. Ji Yoo berusaha melepaskan diri, tapi rengkuhan itu begitu kuat. Sementara ia semakin menolak, semakin kuat Kibum memeluk dan menciumnya. Laki-laki itu terus mengulum bibir Ji Yoo. Ciuman yang kasar dan kuat. Akhirnya Ji Yoo berhenti memberontak, air matanya menetes. Ia sudah hampir kehabisan nafas saat Kibum tiba-tiba melepaskan ciumannya.

 

“Aku akan membuktikannya!” kata laki-laki itu dengan tatapan tajam.

 

Semua yang melihatnya tercengang luar biasa, tidak ada satu pun dari mereka yang mengedipkan mata.

 

“CUT!!” teriak Park Sutradara tiba-tiba membuat semua menoleh ke arahnya “Kalian menyelesaikan skrip 29 dengan sangat bagus meskipun sedikit berbeda. Bagus sekali!” komentarnya.

 

“Aku sedang tidak berakting!” saut Kibum dingin kemudian melangkah pergi membuat Park Sutradara menatap bingung.

 

Begitu Kibum melangkah pergi, Ji Yoo menjatuhkan dirinya di lantai sambil terisak pelan. Barulah semua yang ada di situ tersentak sadar. Min Hyuk sudah melangkah akan menghampiri Ji Yoo tapi Nona Wang lebih cepat menghampirinya dan membawa gadis itu ke ruang style.

 

“A- apa aku salah?” tanya Park Sutradara sambil menatap bingung Ji Yoo.

 

Sementara Manager Ma yang ada di sebelahnya tidak bisa memberikan jawaban apapun.

.

.

.

“Aku ingin kau menjauhinya!” pinta Min Hyuk sambil menatap tajam pada Kibum. Saat ini mereka sedang berada di sebuah tempat parkir. Mereka, tidak sengaja saling bertemu.

 

“Itu tidak mungkin, karena aku menginginkannya,” balas Kibum dingin.

 

“Kau membuatnya menangis, dan aku tidak suka itu. Apa kau memang ingin membuatnya menangis dan terluka? Aku tau dia masih polos, dan aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya.”

 

Kibum terdiam “Kenapa semua orang tidak bisa melihat sisi diriku yang sebenarnya?” gumamnya lirih.

 

“Karena kau sendiri yang membuatnya tertutup dan tidak bias dilihat oleh mata orang lain!” saut Min Hyuk kemudian melangkah pergi.

 

Kibum masuk ke dalam mobilnya lalu melesat pergi. Ia menyetir mobilnya dengan tidak fokus. Pikirannya kacau. Tangannya meraih ponsel untuk menghubungi managernya “Hyung, apa aku ada tawaran acara reality show life? …Kapan itu?? …Lusa?? baiklah, terima saja!”

 

Kibum melemparkan ponsel itu ke bangku sebelah saat seekor anjing tiba-tiba saja muncul menyeberangi jalan. Sontak ia membanting kemudinya ke kanan dengan cepat tanpa berfikir.

 

Braaak…

 

Semuanya menjadi gelap saat mobil itu menabrak tiang lampu pinggir jalan.

.

.

.

Gadis itu sedang melamun di kamarnya. Rasanya, ia sangat malas untuk keluar Apartement. Ia malas untuk pergi syuting. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan, ia tidak berani menatap wajah Kibum. Ia benar-benar bingung. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari nona wang.

 

“Yeobseo Eonni… Mwo? Syuting ditunda? Kenapa? … Kibum ssi mengalami kecelakaan? Bagaimana dia sekarang? Aku mengerti, terima kasih atas informasinya Eonni…”

 

Ji Yoo menatap ponselnya cemas. Apa laki-laki itu baik-baik saja? Tadi Eonni bilang ia hanya terkena pecahan kaca di tangannya. Kenapa aku harus mencemaskanya…?? keluh Ji Yoo dalam hati.

 

*****

 

“Kau yakin mau mengikuti acara ini?” tanya Manager Ma sambil menyetir.

 

“Mmm…”

 

“Kau tau kan, acara itu selalu membahas masalah-masalah pribadimu?”

 

“Araseo…”

 

“Baiklah terserah kau saja.”

 

Ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan dan satu-satunya caranya adalah acara ini. Ia berharap ji yoo juga melihatnya.

.

.

.

“Jadi Kibum ssi, kau adalah member yang paling pintar di Suju?” tanya Host acara.

 

“Itu tidak benar. Aku sering salah melakukan sesuatu,” jawab Kibum sambil tersenyum.

 

“Lalu, kesalahan apa yang paling buruk yang pernah kau lakukan??”

 

“Aku kira setiap kesalahanku itu adalah hal yang paling buruk. Tapi aku masih lebih baik dari Kyuhyun, dia sering menjahili member lain,” jawaban Kibum membuat semua yang hadir tertawa.

 

“Bagaimana dengan wanita, bagaimana type wanita idealmu?”

 

“Aku tidak punya type untuk wanita. Saat aku mencintai seseorang, aku akan menyukai semua yang ada padanya termasuk kekurangannya juga.”

 

”Wow… Ternyata kau romantis juga, pantas banyak wanita yang menyukaimu. Lalu bagaimana dengan gosip tentangmu dengan artis baru Han Ji Yoo itu sekarang? Apakah itu benar atau hanya untuk mendongkrak popularitas drama kalian saja?”

 

“Berbicara tentang Han Ji Yoo ssi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya, kuharap ia melihat acara ini sekarang!”

 

“Benarkah? Apa itu?”

“Han Ji Yoo ssi, jika saat ini kau mendengarku aku minta maaf padamu. Maaf aku sudah membuatmu menangis dan terima kasih kau sudah mengingatku. Mengingat diriku yang tujuh tahun yang lalu.”

 

Semua orang yang hadir distasiun tv itu berbisik-bisik ramai, namun tidak ada satupun yang berani menyela.

 

“Kalau boleh aku mengatakan…” lanjut Kibum “Aku tidak pernah berbohong. Didepanmu, aku selalu menunjukkan diriku yang sebenarnya. Selama tujuh tahun ini aku selalu menunggumu, hanya kau. Jadi… Bisakah kau percaya pada diriku yang seperti ini? Bahwa kali ini aku benar-benar tulus, bukan berpura-pura. Mungkin kau sulit untuk melakukannya. Namun ada yang tidak kau ketahui, begitu banyak peran yang kumainkan, dan aku lelah dengan semuanya. Sekarang saat aku memunculkan sisi diriku yang sebenarnya, apa kau percaya bahwa ini aku?

Saat ini, sekali saja dalam hidupmu. Bisakah kau melihatku dalam kenyataan? Bukan dalam akting ataupun sandiwara, karena aku benar-benar mencintaimu di kehidupan ini. Bukan di depan kamera….

Sekarang, aku tidak perduli lagi pada apapun. Apapun jawabanmu aku akan menerimanya. Kalau setelah ini kau memintaku untuk menghilang dari hidupmu, aku akan melakukannya. Terima kasih.”

 

Semua orang terdiam menatapnya, bahkan ada yang menangis.

 

“A-apakah ini pernyataan cinta untuknya…??” tanya host itu terpana.

 

Kibum tersenyum “Ya… Aku harap ia mendengarnya sekarang ini.”

 

“Wow, kalian lihat pemirsa, Kim Kibum Suju mengungkapkan cintanya kepada artis baru Han Ji Yoo di acara ini. Ini pertama kalinya terjadi. Ah, sayang sekali waktu kita sudah habis, kita akan bertemu lagi di episode mendatang, Anyeong haseo!!”

.

.

.

“Oke, semuanya sudah selesai. Terima kasih Han Ji Yoo ssi!”

 

“Ne, Kamsahamnida…” gadis itu membungkuk untuk berterima kasih kepada para staf pemotretan. Ia baru saja menyelesaikan jadwal pemotretan untuk sebuah majalah.

 

“Ji Yoo ah!”

 

“Ne??” Ji Yoo menoleh saat manager Ma memanggilnya.

 

“Bisa ikut denganku sebentar?” tanya pria itu sambil menggamit lengan Ji Yoo, menariknya ke tempat yang tidak terlalu ramai.

 

Ji Yoo mengerutkan alisnya, “Ada apa?” tanyanya.

 

“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Kita harus pergi.”

 

Ji Yoo terdiam sejenak. Apa ini ada hubungannya dengan Kibum? Ada apa dengan namja itu? Apa lukanya parah? Ji Yoo belum sempat melihatnya. “Araseoyo.” jawab gadis itu akhirnya.

 

Kenyataan bahwa Manager Ma tidak membawanya ke rumah sakit melainkan ke sebuah stasiun tv membuatnya mengerutkan alisnya “Hyung Nim, kenapa kita kemari?” tanyanya.

 

“Kim Kibum sedang ada reality show di sini. Dia bilang dia akan mengatakan sesuatu padamu di acara itu, jadi aku merasa aku harus membawamu kemari untuk melihatnya.”

 

“Mengatakan apa?”

 

“Aku sendiri tidak tau. Masuklah dan lihat saja!” Manager Ma membuka sebuah pintu ruangan yang di dalamnya terdapat banyak layar monitor dan earphone.

 

Ji Yoo duduk disalah satu kursi dan menggunakan earphone itu mulai menyaksikannya sementara Manager Ma menutup pintu dari luar.

 

‘Bisakah kau melihatku dalam kenyataan? Bukan dalam akting ataupun sandiwara, karena aku benar-benar mencintaimu di kehidupan ini. Bukan di depan kamera.’

 

Tanpa sadar air mata Ji Yoo menetes mendengar kata-kata itu. Memang sulit baginya untuk mempercayai semuanya. Tidak pernah disangkanya ada seorang laki-laki yang menunggunya selama ini. Jantungnya terasa bergetar. Sisi diri Kibum yang sesungguhnya adalah saat di mana ia berada di depan Ji Yoo. Tidak perduli saat itu sedang di depan kamera atau tidak, ia tidak pernah berpura-pura saat di depan Ji Yoo.

 

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Ji Yoo melepas earphonenya lalu beranjak dari tempat duduknya. Menatap namja yang baru saja masuk itu.

 

“Hyung bilang kau ada di sini,” kata Kibum sambil menutup pintu lalu melangkah mendekat, “Sedang apa kau di sini?”

 

“Hyung Nim yang membawaku kemari.” jawab Ji Yoo pelan.

 

“Jadi… Kau sudah melihat semuanya?” tanya kibum.

 

“Ya. Aku melihatnya.”

 

Hening sejenak, keduanya sama-sama diam.

 

“Seperti inilah diriku yang sesungguhnya,” kata Kibum memecah keheningan, “Aku tidak pernah berpura-pura di hadapanmu. Aku yang dulu, dan aku yang sekarang masih sama. Jadi bisakah kau percaya kepadaku? Apa pun jawabanmu aku akan menerimanya.”

 

Ji Yoo melangkah pelan menghampiri Kibum dan berhenti tepat di hadapannya. Ia mendongak menatap wajah namja itu, “Kau akan menerima apapun jawabanku?” tanyanya pelan.

 

“Apa pun.”

 

Perlahan Ji Yoo berjinjit dan melingkarkan lengannya pada leher laki-laki itu, menyandarkan dagunya pada bahu dan berbisik pelan, “Aku percaya.”

 

Kibum menghembuskan nafas lega, ia baru sadar kalau sejak tadi ia sudah menahan nafas. Tangannya yang terkulai terangkat memeluk pinggang gadis itu erat-erat sambil membenamkan wajah pada leher gadis itu. “Gomawo.” bisiknya.

 

“Kibum ssi.”

 

“Kau seharusnya memanggilku Oppa!”

 

Wajah Ji Yoo tiba-tiba memerah “Mwo? O-oppa?”

 

“Ne?”

 

“Boleh kutau apa hubunganmu dengan Moon Geum Young ssi?”

 

Kibum memundurkan tubuhnya menatap gadis itu, masih tetap memeluk pinggangnya. Ia tersenyum “Dia sudah seperti Nonna untukku. Kami sudah dekat sejak traine, apa kau cemburu padanya?”

 

“Aniyo…” kilah Ji Yoo, “Aku hanya ingin tau.”

 

“Lalu kenapa kau sampai menangis saat itu?” goda kibum.

 

“I-itu… Karena mataku kemasukan debu saat itu,” kilah Ji Yoo.

 

Kibum tertawa kecil membuat gadis itu menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. “Baiklah aku percaya,” saut Kibum, “Ngomong-ngomong sepertinya kau sangat akrab dengan Kang Min Hyuk?”

 

Ji Yoo menatapnya kemudian tersenyum “Dia juga seperti Oppa untukku. Kau tidak tau? Dia sebenarnya menyukai temanku, Lee Hyo Ri.”

 

“Ah, aku jadi lega sekarang. Kupikir kau menyukainya.”

 

“Mungkin… Sebelum kau datang dan mengambil seluruh perhatianku.”

 

“Dan mulai detik ini, kau hanya boleh memperhatikanku. Arachi?”

 

“Kenapa aku harus?”

“Yaa!!”

 

Gadis itu tertawa kecil sebelum Kibum mencium bibirnya. Menciumnya dengan cinta.

 

 

 

 

FIN

 

 

[edited 18 Mei 2016 ; 10.04 am]