Tags

, ,

Tittle : Family By Accident
Author : vea
Cast :
– Lee hyuk jae (eunhyuk, super junior)
– Kim yoon hye (sudah pasti saya, yang mau protes silahkan dalam hati)
– Yamashita tomohisa (yamapi, News)
– Angela zhang (pemeran utama romantic princess dan at the dolphine bay)
– Dan artis2 lainnya. . .
Genre : romance
Length : chapter
Rated : 17+

fba

Part 4

 

 

=Lee Hyuk Jae/Hyuki=

Aku akan memiliki seorang bayi. Ah, betapa menyenangkannya mendengar hal itu. Dari dulu aku menyukai anak-anak, memikirkannya saja sudah membuatku bahagia. Namun aku tidak mengerti kenapa ia menanyakan hal itu.

‘Meskipun itu bukan dari wanita yang kau cintai?’

Benar…

Aku memang tidak mencintainya. Tapi saat melihat wajahnya yang tertekan, aku tau ini sangat sulit untuknya. Tiba-tiba saja aku merasa kasian kepadanya dan ingin membuatnya tersenyum.

Aku ingat saat ia mabuk di penginapan malam itu, ia bilang kalau ia sedang terluka. Mungkin ia mempunyai kenangan yang buruk dalam hidupnya. Sama seperti aku yang sempat depresi saat Ang Nonna (Angela) meninggalkanku untuk melanjutkan hidupnya di Taiwan. Aku mencintainya, dari dulu aku menyayanginya, kami tumbuh bersama-sama dan tiba-tiba saja ia harus pergi meninggalkanku. Aku benar-benar frustasi. Mengunci diri di kamar berhari-hari setelah itu pergi dari rumah tanpa pamit.

Dan di sanalah aku bertemu dengannya. Kim Yoon Hye. Dia gadis yang menarik dan selalu ingin menghadapi semuanya sendirian. Ia sangat jarang sekali tertawa tapi sangat manis saat marah. Ah, tidak pernah kubayangkan sebelumnya ia akan menjadi ibu dari anakku.

Aku tidak menyesal sudah melakukannya, namun aku sedih bila harus melihat wajahnya yang tertekan. Bahkan bisa-bisanya ia punya fikiran untuk menggugurkan anak kami.

Ia sangat tertutup, karena itu aku sering berusaha untuk membuatnya menceritakan kisah hidupnya. Tapi aku tidak berani memaksanya untuk berbicara karena dia lebih seram daripada yang kubayangkan.

Kehadirannya membuatku mulai melupakan kesedihanku. Walaupun aku masih berharap Ang Nonna kembali ke Korea, namun aku tidak berharap lagi bisa memilikinya karena sekarang ini aku akan menjadi seorang Appa dari bayi yang dikandung Yoon. Aku tidak memikirkan apapun selain menjaga baby dan Yoon saat ini.

Sudah hampir tengah malam. Yoon menginginkan buah Kiwi, dan aku harus mendapatkannya. Aku mengayuh sepedaku ke Supermarket terdekat. Namun beberapa dari Supermarket itu persediaan buah Kiwi sedang kosong. Ini Supermarket ke empat yang kudatangi, dan ternyata ada. Aku membelikan Yoon sekantong plastik buah Kiwi dan pulang.

Sampai di rumah aku langsung menjatuhkan sepedaku di halaman dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu kamar, dan… kosong? Aku mengerutkan alis heran. Kemana dia? Kucari ia di kamar mandi, dapur dan setiap ruangan tapi ia tidak ada. Tidak sengaja mataku melihat tangga menuju taman di atap. Apa ia sedang ada di sana?

Aku melangkah menaiki tangga itu dan benar. Ia ada di sana. Bersama… Tomo chan?

Aku terdiam melihat mereka bersama. Entah kenapa rasanya kakiku membeku. Dan baru kusadari, tatapan Yoon Hye pada Tomo chan sangat berbeda dengan tatapannya kepadaku. Ia juga selalu menunduk saat Tomo chan memandangnya. Apakah mungkin ia…? Tidak, aku tidak ingin memikirkannya.

Dengan susah payah kulangkahkan kakiku pergi dari sana. Aku kembali ke kamar. Kuletakkan kantong buah Kiwi itu di meja dan kembali tidur. Aku memejamkan mata kuat berusaha mengusir apa yang baru saja kulihat. Kemudian aku mendengar suara pintu terbuka pelan. Aku tetap memejamkan mataku. Aku merasa ia sedang menghampiriku. Kemudian aku mendengar suara kantong plastik dibuka. Ia pasti sedang mengambil buah Kiwi itu. Kemudian hening sejenak. Tiba-tiba aku merasakan ia sedang menaikkan selimutku.

“Kau memang Appa yang baik.”

Aku mendengarnya berbicara pelan. Kemudian kurasakan ada jari-jari yang menyentuh dan merapikan rambutku. Entah kenapa sedikit saja sentuhannya bisa membuat jantungku berdetak cepat.

Aku masih memejamkan mataku, berpura-pura tidur. Kemudian aku merasakan jarinya menyentuh hidungku dan memencetnya. Aku mendengarnya terkikik, ah, ia pasti sedang menertawakan tampangku. Tapi aku senang mendengarnya tertawa. Kemudian kuraih tangannya dan kupeluk “Jjagi…” gumamku pelan.

Sedetik kemudian ia menarik tangannya sambil mendengus, membuatku ingin tertawa.

“Dasar bodoh!!” runtuknya pelan.

Aku menahan untuk tidak tertawa, kemudian aku mendengar suara kantong plastik lagi. Aku mengintip sedikit dari celah mataku dan melihatnya duduk di tempat tidur sambil memakan lahap buah itu meskipun keasaman. Manisnya…

***

Hari ini aku tidak ada jadwal apapun. Karena itu pagi ini aku sedang tidur-tiduranan di sofa ruang tengah sambil tertawa melihat Yoon yang sedang dipaksa Kajol Ajhuma untuk mencicipi manisan khas India buatannya. Wajahnya terlihat lucu saat memakan manisan itu. Aku berani bertaruh ia tidak pernah memakan manisan itu sebelumnya.

Ting. . .

Terdengar suara oven dari dapur.

“Ah, kuenya sudah matang. Tetap disini dan habiskan manisannya, Ok?!” perintah Kajol ajhuma. Dia mengangguk-angguk dengan mulut penuh. Aku tertawa tergelak.

Begitu Kajol ajhuma masuk ke dalam dapur, dia berlari kepadaku “Buka mulutmu!” pintanya.

“Mwo?”

“Buka mulutmu! Paliwa!” desaknya. Aku membuka mulut lalu dia menyuapkan manisan itu dengan paksa ke mulutku banyak-banyak.

“Cepat habiskan! Palli! Palli! ” katanya panik.

Aku menahan tawa sambil berusaha menelan manisan itu. Wajahnya terlihat sangat lucu.

“Tinggal satu,” katanya lagi.

Aku membuka mulutku yang masih penuh dan dia menjejalkannya lagi ke dalam mulutku dengan paksa.

“Aigoo… Uri appa memang sangat baik…” ucapnya gembira sambil mencubit pipiku lalu berlari lagi kembali ke tempatnya dan berpura-pura sudah menghabiskan semua manisan itu.

Aku membuka lemari es dan mengambil segelas air untuk mendorong manisan yang ada di dalam mulutku agar mau melewati tenggorokkan. Rasa manisannya memang aneh. Sedikit asam, juga ada rasa pedas jahe di dalamnya. Jeremy pernah memakannya sekali kemudian ia kapok dan selalu kabur saat Kajol Ajhuma memaksanya memakan manisan yang katanya baik untuk kesehatan itu.

“Yaa, Hyuki ah! kau masih hidup?”

Aku hafal suara ini. Teuki Hyung. Aku menoleh dan benar saja ternyata semua member Super Junior ada di sana dan beberapa dari mereka sedang duduk di sofa ruang tamu.

“Tumben sekali kalian kemari?” tanyaku.

“Donghae merindukanmu,” saut Shindong Hyung.

Sementara yang disebut namanya hanya menggigit sapu tangan sambil sesegukkan.

“Hueeeeee….. Donge yaaa….” aku berlari memeluknya. Ia dulu adalah teman sekamarku dan hingga saat ini aku menyayanginya lebih dari yang lain. “Kenapa kau menangis?” tanyaku lembut.

“Patah hateee… Bikin sakit hateeee…” Chullie Hyung bernyanyi kencang-kencang.

BLETAK

Sebuah jitakan dari Kangin Hyung mendarat tepat di kepalanya, ia langsung meringis. Kemudian Hankyung Hyung mengusap-usap kepalanya lembut. Euuuh. . . *sweatdrop*

“Kenapa kau meninggalkan aku…” isak Donghae dramatis. “Sekarang aku jadi tidur sendirian di kamar, hiks…”

“Ah, mianhae. Tapi Istri dan Anakku juga sedang membutuhkanku sekarang.”

“Aku tidak menyangka, kau bisa menghamili seorang gadis.” Siwon nyengir lebar.

“Ngomong-ngomong di mana istrimu itu, Hyung??” tanya si Magnae.

“Ajhuma… aku sudah kenyaaangg~”

Semua orang menoleh ke arah Yoon yang ternyata masih dipaksa Kajol ajhuma untuk makan. Kali ini kue hasil eksperimennya.

Aku berjalan menghampirinya dan menyelamatkannya dari Kajol ajhuma, “Ajhuma, teman-temanku ingin bertemu Yoon. Kupinjam dia dulu!” kutarik tangannya pergi sebelum Kajol ajhuma sempat menjawab. Kubawa ia ke ruang tengah.

“kenalkan ini Kim Yoon Hye, Istriku.”

Serentak, semua member ingin bersalaman dengannya. Shindong Hyung malah menendangku dengan tubuhnya agar menjauh. Aiiiiissssshhhhhhh… Apa apaan ini? Apa dia tidak takut dengan Nari Nonna?

“Yaa, sudah-sudah! kalian bisa membuatnya sesak nafass,” seruku keras-keras. Tapi rupanya tidak mempan.

Akhirnya kukeluarkan benda keramat milikku, loadspiker asli made in Indonesia.

“HENTIKAAAAAAANNNN!!!”

Semua orang menutup telinga sekarang. Aku tersenyum puas.

“Jangan mengeroyoknya begitu, sisakan buatku!” kataku kesal. Aku melihat tatapan membunuh di mata Yoon, membuatku nyengir kuda.

“Ah, aku punya sesuatu untukmu,” kata Sungmin Hyung “Taraaaaaaa…”

Aku menahan tawa saat Yoon bergidik melihat daster pink pendek transparan dengan tali bahu kecil dan agak terbuka di bagian depan juga belakangnya yang dibawa Sungmin Hyung.

“Kau pasti terlihat manis memakainya” kata Sungmin Hyung polos.

“Ka-Kamsahamnida…” ucapnya gugup sambil menerima baju tidur itu.

“Hyuki pasti melebarkan matanya saat kau memakai baju itu,” Teuki Hyung terkekeh.

Wajahku langsung terasa panas. Aiiissssshhhhh… Apa-apaan mereka itu? Membuatku malu saja. Kulirik Yoon yang sedang menundukkan wajahnya, pipinya bersemu merah. Manis sekali…

***

“Jangan sekali-kali kau membawaku kepada mereka, araseo?” ia menatap tajam sambil mencengkeram baju depanku.

“A-araseo,” jawabku mengalah.

Ia melepaskan cengkramannya lalu berkecak pinggang “Apa benar kalian itu penyanyi terkenal? Kenapa lebih kelihatan seperti orang tidak waras?!” dengusnya.

Aku terkikik kemudian memeluk perutnya, ia terlonjak kagek “Jangan begitu… Kau membuat baby stres,” kataku lembut.

“Kau yang membuatku stres!” sautnya judes.

Aku tertawa pelan dan membenamkan wajahku ke dalam perutnya yang mulai membesar. “Perutmu semakin besar…” gumamku.

“Tentu saja, itu artinya dia tumbuh.” sautnya “Lepaskan pelukkanmu, aku ingin ke dapur!”

Aku mengangkat wajahku, “Kau membutuhkan sesuatu? Aku bisa mengambilkannya untukmu.”

“Ani. Aku hanya ingin minum.”

Aku melepaskan pelukkanku dengan terpaksa, jujur aku masih ingin memeluknya. Tapi aku hanya bisa melihatnya berjalan keluar kamar.

.

.

Sudah jam sepuluh malam. Kenapa Yoon belum kembali dari dapur? Bukankah ia bilang hanya ingin minum air? Aku menutup laptopku lalu bejalan keluar kamar. Melihatnya di dapur. Tapi dia tidak ada di sana. Lalu di mana ia? Apa mungkin di atas lagi? Aku setengah berlari menaiki tangga menuju atap tanpa suara. Kakiku sontak berhenti saat melihat Yoon berdiri di ujung tangga. Di ambang pintu sambil menatap Tomo chan yang berdiri di tepi balkon sambil berbicara di telepon dengan seseorang.

Tatapan mata itu… Aku tidak suka. Aku tidak suka dia menatapnya seperti itu. Aku berbalik pergi dan melangkah kembali ke dapur. Membuka lemari es dan mengambil sebuah botol soju, membukanya dan menegak isinya hingga separuh. Aiiiiiissssshhhh… aku benar-benar kesal saat ini. Kuhabiskan sisa isi botol itu dengan sekali tegak.

Aku melangkah kembali ke kamar dengan pandangan sedikit kabur. Sepertinya agak mabuk, tapi aku masih sadar. Benar-benar sadar. Aku menjatuhkan diri di sofa dengan lemas. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Yoon masuk ke dalam kamar.

“Kenapa lama sekali?” tanyaku “Kau darimana?”

“Aku lapar, jadi makan roti dulu.” jawabnya berbohong. Kenapa harus berbohong?

“Kenapa kau bohong?” tanyaku kecewa. Ia menatapku terkejut dan menghampiriku. Dia duduk di sofa, di hadapanku dan memegang wajahku.

“Kau sedang mabuk?” tanyanya dengan alis mengerut.

Aku mendekatkan wajahku “Ne… Kau yang membuatku mabuk,” bisikku kemudian mengecup bibirnya.

Dia mematung. Aku merasakan tubuhnya membeku. Kupegangi leher dan wajahnya dengan kuat sementara bibirku menyapu lembut bibirnya. Aku menekan bibirnya pelan, ia tidak bereaksi, kemudian kulumat. Terasa manis, ia tidak menolaknya. Lalu kurasakan ia menggerakkan bibirnya. Aku langsung menekan bibirnya dalam-dalam.

Saat ini, kami berciuman dengan sadar sepenuhnya. Namun aku tau, dia mengira aku sedang mabuk. Tidak, aku tidak mabuk. Aku sadar sepenuhnya. Terus kulumat bibir lembut itu…

To be continue. . .

Last edited 24 Oktober 13 ; 08.00