Tags

, ,

Tittle : Family By Accident
Author : vea
Cast :
– Lee hyuk jae (eunhyuk, super junior)
– Kim yoon hye (sudah pasti saya, yang mau protes silahkan dalam hati)
– Yamashita tomohisa (yamapi, News)
– Angela zhang (pemeran utama romantic princess dan at the dolphine bay)
– Dan artis2 lainnya. . .
Genre : romance
Length : chapter
Rated : 17+

fba

Part 5

 

= Kim Yoon Hye =

 

Aku terbangun dari tidurku dengan cepat. Kupegangi kepalaku yang pusing. Apa yang terjadi? Kemudian kulihat Hyuki yang masih tidur pulas di sofa.

Omo!!

aku tersentak kaget. Se-semalam kami…

Aku membenamkan wajahku ke dalam bantal lagi. Eothokajji? Paboya!! Tunggu… Bukankah semalam dia mabuk? Kalau dia mabuk kenapa aku yang tidak ingat. Tunggu dulu. Aaarrgghh… Bisa gila aku kalau seperti ini.

Kau harus tenang Kim Yoon Hye. Aku menarik nafas panjang dan mengingat-ingat apa yang terjadi.

Omoooo… Astaga tuhan, dia mencium bibirku? Dan aku diam saja?? Tapi, kenapa aku tidak bisa menolaknya? Rasanya ada suatu dorongan yang membuatku untuk membalasnya. Apakah semua karena bayi yang ku kandung ini? Apakah dia bisa merasakan apa yang terjadi? Aku meraba perutku pelan. Kemudian aku ingat kalau aku hampir kehabisan nafas saat dia melepaskan ciumannya. Aku membenamkan wajahku ke dadanya lama sekali hingga aku… tertidur? Dan sekarang aku ada di tempat tidur ini. Itu artinya dia yang membawaku kemari. Kalau dia bisa memindahkan aku ke tempat tidur, artinya… kemarin dia belum mabuk?

Andwaeeeeeee…

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Eoteokkeh? Eoteokkeh? Aaaaarrrrgghh… Dia bisa membuatku gila!

***

A view month latter

Aku memandangi perutku yang semakin besar di cermin. Sudah tujuh bulan lebih… Dan eomma mengharuskanku untuk memakai baju hamil karena bajuku sudah tidak muat kupakai lagi. Berat badanku bertambah banyak, dan aku seperti badut yang kebesaran perut sekarang. Kemarin, Ki Jou Koo memaksaku mandi kembang 7 rupa yang menurutnya itu bagus untuk membuang kesialan. Aku menghela nafas pelan. Sampai kapan aku harus seperti ini?

Aku benar-benar benci keadaan ini. Aku tidak bisa makan dengan nikmat, karena setiap makanan yang masuk ke dalam perutku pasti kumuntahkan kembali. Dan setiap hari, eomma selalu memaksaku untuk minum susu yang sangat sangat sangat kubenci. Juga obat dari Jang geum Ajhuma yang rasanya selalu membuatku mual.

Aku keluar dari kamar lalu berjalan menuruni tangga. Kenapa sepi sekali? Kemana eomma, Kajol ajhuma dan yang lainnya? Kulihat Hyuki sedang duduk di lantai bersama Jeremy bermain kartu di depan televisi. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku.

“Ajushi, kapan adik bayi akan lahir?” tanya Jeremy tiba-tiba.

“Sekarang sudah tujuh bulan lebih empat belas hari. Mungkin dua bulan lagi,” jawab Hyuki.

Astagaaaaa… Sampai-sampai dia juga menghitung berapa umur bayi ini?!

“Kenapa lama sekali?” tanya Jeremy lagi.

“Kau harus bersabar. Kalau dia sudah lahir, kau harus membantuku menjaganya. Arachi?”

Jeremy mengangguk, “Memangnya Yoon Hye Ajhuma kemana?”

Hyuki tersenyum “Dia juga akan menjaganya. Kau harus berjanji akan menyayanginya, eothe?”

“Ne, Aku janji. Nanti, akan aku ajak ia main bola.”

“Kalau dia perempuan bagaimana?”

“Aku akan mengajarinya main piano.”

“Bagus,” Hyuki mengacak-acak jambut Jeremy sambil tersenyum lebar.

Astaga Tuhan, Mereka begitu menyayangi bayi ini. Lalu kenapa aku tidak pernah menginginkannya? Kuraba perutku pelan, apa jadinya kelak bila aku pergi? Bagaimana Hyuki bisa mengurusnya sendirian? Tapi aku juga punya kehidupan. Aku tidak ingin seperti ini. Air mataku tiba-tiba saja mengenang dan cepat-cepat kuhapus.

“Yoon ah!” sapa eomma ceria. Aku menoleh dan mendapati eomma dan Kajol ajhuma sedang membawa beberapa kantong belanjaan. Sepertinya mereka baru saja menguras isi toko.

“Ayo duduk di sini!” kata eomma sambil menepuk-nepuk kursi sofa di sebelahnya. “Lihat ini!”

Eomma dan Kajol ajhuma mengeluarkan belanjaan-belanjaan itu dari kantong plastiknya.

“Lihat ini, ini sangat lucu…”

“Kami juga membelikanmu beberapa baju hamil.”

“Waaa… Kenapa cuma yoon yang dibelikan? Aku juga mau!” timpal hyuki tiba-tiba dengan wajah cemberut.

“Aisshh… Kau ini, nanti akan eomma belikan kau kostum kelinci.” saut eomma.

Aku tertawa kecil. Keluarga ini sungguh sangat baik. Mereka saling menyayangi. Entah kenapa tiba-tiba saja dadaku terasa hangat.

***

Lagi-lagi ekspresi itu terlihat saat dia berbicara di telepon. Siapa yang sedang di teleponnya? kenapa dia bisa membuat Hisa kun tersenyum seperti itu?

“Sedang apa kau di sini?”

Aku mengerjap kaget. Hisa kun memandangku sambil mengerutkan alisnya. Aku tidak sadar kalau dia sudah selesai menelepon.

“Aku… Aku hanya ingin menghirup udara segar.”

“Udara malam ini terlalu dingin. Sebaiknya kau ada di dalam saja,” katanya.

“Aniya, Aku ingin di sini…” kataku sambil melihat pemandangan di bawah.

“Kau bisa masuk angin, pakai ini!”

Hisa kun melepaskan swetter yang di pakainya lalu memakaikannya padaku. Jantungku terasa berdebar pelan.

Hoeeek…

Tiba-tiba saja aku merasa mual.

“Kau tidak apa-apa? “ tanyanya cemas “Duduklah,”

Ia menyuruhku duduk di bangku taman. Aku menurut.

“Tunggu di sini, biar kubuatkan kau teh hangat.”

Aku mengangguk pelan sambil merapatkan swetter itu. Ia benar, udaranya sangat dingin. Dapat kucium aromanya dari swetter itu, terasa lembut tapi tajam. Ia pergi menuju dapur. Kemudian kulihat ponselnya di meja. Aku menatapnya ragu. Ini akan terlihat lancang tapi aku sangat penasaran. Mengabaikan kesopanan, kuraih benda itu lalu kubuka kotak masuknya.

Aku tertegun saat melihat ada beberapa pesan masuk dengan nama ‘Ai wa’. Kubuka salah satu pesan itu.

‘Aku baru saja berbicara denganmu beberapa menit yang lalu. Ah, kenapa aku sudah merindukanmu?’

 

Dan aku melihat balasan dari Hisa kun untuk gadis itu.

‘Lalu kenapa kau tidak segera datang kemari dan menemuiku?’

 

Dadaku terasa sakit membacanya, tapi aku tidak bisa berhenti.

‘Kau tau kalau aku ingin sekali melakukannya. Apa menurutmu aku harus pindah sekolah di Seoul?’ balas gadis itu.

‘Selesaikanlah dulu studymu. Lalu aku akan datang untuk menjemputmu, bagaimana? Kau setuju?’

 

‘Hai.’

 

‘Sudah malam, kau tidurlah, aku tidak ingin kau sakit!. Aku mencintaimu.’

 

Aku memang tidak pandai bahasa Jepang, namun aku pernah mempelajari dan masih bisa memahaminya. Siapa gadis itu? Apa dia pacar Hisa kun? Aku benci keadaan ini. Kuletakkan  ponsel itu kembali di meja.

Tidak lama kemudian Hisa kun kembali dengan membawa segelas teh hangat. Ia memberikan gelas itu kepadaku.

“Gomawo, “ ucapku kemudian menyesapnya.

“Aku harus kembali, kau juga cepat kembali ke kamar. Selamat malam,” ucapnya, kemudian mengambil ponselnya di atas meja dan melangkah pergi.

Aku menatap gelas teh dalam genggamanku. Rasanya hangat tapi kenapa hatiku menjadi dingin?

***

“Sedang apa kau?” tanyaku saat melihat Hyuki sedang berjoget-joget di depan tv kamar.

“Aku sedang latihan untuk konser sebentar lagi,” jawabnya sambil terus dance.

Aku terkikik melihatnya. Tiba-tiba saja aku ingin melihatnya dance India seperti Kajol ajhuma.

“Hyuki ya…” panggilku manja sambil duduk di tempat tidur.

“Wae?” tanyanya tanpa menoleh.

“Aku ingin melihat kau menari seperti Kajol ajhuma…”

“Mwo?” sontak ia menghentikan gerakannya. “Kau ingin aku menari ala India?”

“Ne… Ayolah… Yang ingin melihatnya ini anakmu,” rayuku.

“Tidak mungkin. Baby tidak akan minta hal-hal yang aneh. Jangan bohong padaku!”

Aku mengerucutkan bibirku “Dasar pelit!”

“Sudahlah, kau tidur saja.”

“Aku baru saja bangun tidur dan kau menyuruhku tidur lagi?” tatapku garang, tapi kemudian aku mencium sesuatu yang bau “Kenapa ada bau aneh?” gumamku.

Hyuki tidak menjawab, ia sibuk meneruskan latihannya. Aku mengambil remote dan mematikan musicnya.

“YAA, kenapa kau mematikan musiknya?”

Aku mendekatinya lalu mengendus-endus tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Hoeeek…” aku langsung menutup mulut “Kapan kau terakhir kali mandi?” tanyaku sambil menjauh darinya.

“Kemarin pagi, memangnya kenapa?”

Aku bergidik ngeri. “Mandi sekarang juga!” bentakku “Kau ingin membunuh bayimu ini ha?”

“Andwaee… Aku mandi sekarang!” jawabnya panik dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Aku mendengus pelan “Dasar jorok!” gumamku. Tapi kamar ini rapi sekali. Juga bersih… Sebenarnya dia ini orang yang bagaimana sih?!

“Yoon ah…”

Aku menoleh dan melihat kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi. “Wae?”

“Bisakah kau ambilkan aku handuk? Aku lupa membawanya!,” ia meringis lebar.

“Aaaiiish. . . kau ini.”

Aku membuka lemari pakaian dan mengambilkan handuk untuknya. Kemudian kuberikan kepadanya.  Aigoo… Kenapa ia terlihat berbeda saat rambutnya basah?

Ia menutup kembali kamar mandi sedangkan aku duduk di tempat tidur. Perutku sudah semakin besar. Aku jadi sulit bergerak. Tiba-tiba saja ponsel Hyuki berbunyi. Ku ambil benda itu di atas meja. Park Shin Hye? Aku mengerutkan alis membaca nama pemanggil itu. Kemudian panggilan itu berhenti karena terlalu lama tidak dijawab. Aku jadi penasaran ada apa saja di dalam ponsel Kunyuk itu.

Kulihat daftar kontaknya. Mwo? Apa-apaan ini? Kenapa banyak sekali nama-nama wanita di dalam kontak teleponenya? Aiiisshhh…

“YAA!! Kenapa kau menyentuh ponselku?” teriaknya begitu keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk sepinggang dan langsung menghampiriku. Merebut ponselnya dari genggamanku. Aissh… Apa-apaan dia?

“Kenapa marah-marah padaku?”.

“Pokoknya jangan menyentuh ponsel atau laptopku, araseo?”

“Tidak akan!” balasku marah dan berjalan keluar kamar. Tapi baru kupegang hendel pintu kamar itu aku merasakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.

Aku merasakan tendangan dari dalam perutku.

Aku berbalik dan menghampiri laki-laki itu “Hyuki ya, coba rasakan ini!” kuraih tangannya dan kuletakkan di perutku.

Tendangan itu terasa lagi. Hyuki menatapku terkejut “Di-dia bergerak. . .” katanya.

Aku mengangguk-angguk riang. Hyuki menempelkan pipinya ke perutku “Dia bergerak lagi!” serunya gembira. “Ayo, semuanya harus tau hal ini.” ia menarik tanganku dengan semangat.

“Yaa, ganti baju dulu pabo!” bentakku.

“Ah, benar…” ia berlari kelemari pakaian dan mengambil selembar kaos dan celana.

“Kau mau apa? Ganti didalam kamar mandi!” teriakku dengan wajah memanas. Ayolah, apa dia tidak bisa bersikap wajar untuk sehari saja?!

***

“Kau sedang apa disini?” tanya Ji Eun Eonni saat aku sedang duduk di ujung tangga saat hari sudah malam.

“Aku sedang bosan,” jawabku pelan.

“Di mana Hyuki?” tanyanya sambil duduk di sebelahku. Ia menyesap air mineral yang baru saja diambilnya.

“Mollayo eonni… Mungkin ada jadwal bersama suju,” jawabku asal “Kau sedang apa Eonni?”

“Aku baru saja menyelesaikan naskah skenario. Melelahkan sekali…” jawabnya sambil membenarkan letak kacamata “Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk pelan “Aku hanya sedikit sulit bergerak.”

“Aku senang sekali Hyuki menikah denganmu,” komentarnya.

Aku menoleh menatapnya “Waeyo?”

“Dia berubah sekarang.”

Aku mengerutkan alisku tidak mengerti.

“Kau tidak tau kalau dia itu playboy?”

“Jeongmal??”

“Ne, dia itu sangat jahil. Dia suka menggoda gadis-gadis. Tapi dia hanya menurut pada Ang. Begitu Ang pergi, dia semakin parah. Aku tidak heran kalau dia bisa menghamilimu,” cengir Ji Eun Eonni.

!!=_= apa-apaan itu? Jadi maksudnya Hyuki suka bermain wanita? Apa dia begitu stresnya ditinggal Ang hingga seperti itu?

“Tapi sekarang dia berbeda,” Ji Eun Eonni tersenyum padaku “Dia selalu ada di rumah bila tidak ada jadwal. Dia juga tidak bertingkah menyebalkan seperti dulu.”

“Benarkah?”

“Menurutku itu semua karena adanya dirimu.”

“Sedang apa kalian di situ?” tanya seseorang tiba-tiba.

“Oh Tomo chan, kau sudah pulang dari kantor?” Ji Eun Eonni balik bertanya.

“Ne, aku ke kamar dulu.” jawab Hisa kun sambil berlalu.

“Apa dia selalu bersikap seperti itu?” tanyaku pada Ji Eun Eonni setelah dia pergi.

“Siapa? Tomo chan? Dia memang tidak banyak bicara, tapi dia orang yang baik.”

“Aku pernah melihatnya tersenyum saat menelepon seseorang, ekspresinya berbeda sekali.”

“Ah, dia pasti sedang menelepon Yui.”

“Yui?” aku mengerutkan alis tidak suka mendengarnya.

“Ne, Yui chan adalah pacar Tomo chan. Mereka sudah berpacaran dua tahun lebih, tapi yui saat ini masih ada di Jepang. Menyelesaikan sekolahnya. Kalau dia sudah lulus, dia akan kembali ke Korea, ke rumah ayah kandungnya.”

“Mereka sudah dua tahun berpacaran… “ gumamku pelan.

“Benar, mereka juga sudah merencanakan akan bertunangan secepatnya,” jelas Ji Eun eonni.

“Eonni, aku merasa ngantuk. Boleh aku ke kamar dulu?” tanyaku pelan.

“Tentu saja.”

Aku beranjak dari dudukku dan cepat-cepat melangkah menuju kamar. Kulihat Hyuki sedang asyik melihat laptopnya begitu aku masuk. Bukankah ia tadi sedang keluar? Ah, bukan urusanku. Aku naik ke tempat tidur dan membenamkan wajahku ke dalam bantal. Dadaku terasa begitu sesak. Tiba-tiba saja aku ingin menangis.

 

To be continue…

 

Last edited 24 Oktober 13 ; 08.12