Tags

, ,

Tittle : Family By Accident
Author : vea
Cast :
– Lee hyuk jae (eunhyuk, super junior)
– Kim yoon hye (sudah pasti saya, yang mau protes silahkan dalam hati)
– Yamashita tomohisa (yamapi, News)
– Angela zhang (pemeran utama romantic princess dan at the dolphine bay)
– Dan artis2 lainnya. . .
Genre : romance
Length : chapter
Rated : 17+

fba

 

Part 6

 

= Kim Yoon Hye =

Aku terbangun perlahan dari tidurku. Mataku terasa berat. Entah sampai kapan aku menangis. Aku beranjak dari tempat tidur dengan susah payah dan melihat Hyuki masih tidur sambil memeluk laptopnya. Tanpa suara, aku turun dari tempat tidur kemudian pergi ke kamar mandi.

Hari ini hari minggu. Aku berjalan menuruni tangga dan seperti biasanya, semua orang ada di rumah saat ini. Aku melihat Kajol ajhuma sedang memaksa Jeremy untuk menari India.

“Kajja… Jerry chagiya… Tumpha se aye… yun muskurahe…”

“Andwaeee!!!” teriak Jeremy sambil bersembunyi di belakang Justin yang sedang membawa bola basket.

Aku terkikik pelan melihatnya tapi kemudian menjadi kesal karena Hyuki tidak mau menari seperti itu saat aku memintanya kemarin.

Di depan televise, Minyeo Eonni sedang menonton drama Korea Fullhouse dan di belakangnya, Ji Eun Eonni sedang bersusah payah mengepel lantai diiringi backsound lagu dari Fullhouse yang dilihat Minyeo Eonni.

“Yaa burung, kau bisa bersih-bersih tidak?” bentak Young Jae oppa “Itu masih kotor! Itu juga!” teriaknya sambil menunjuk-nunjuk lantai yang belum dibersihkan.

Sedangkan ditaman belakang terlihat Hyun shin haraboji yang sedang berlatih memukul batu dengan pedang kayunya.

“985… 986… 987…” teriaknya semangat.

Di dekatnya, Jeong Ho ajhusi sedang mengasah pedangnya hingga berkilau. Bisa dipastikan benda yang terkena tebasannya pasti akan terpotong menjadi dua.

“Jjagi… Kau sudah selesai mengasah pedang beluuum?” teriak Jang ajhuma dari dapur. Selain menjadi dokter yang hebat, Bibi Jang juga jadi juru masak yang sama hebatnya “Cepat sedikit, ayam-ayam ini harus dipotong!”

Olala… Ternyata tu pedang untuk memotong ayam.

Tidak jauh dari mereka, di sela-sela tanaman bunga Ki Jou Koo sedang bersemangat mencabuti rumput-rumput liar-liar yang mengganggu tanamannya sambil asyik menembang.

“lingsir~ wengiii…. “

*kuntilanak keluar*

#plak
Abaikan!

Braaak braaak bruuuk…

Terdengar suara-suara gaduh dari dalam ruang musik. Oh, ternyata si Avril yang lagi renovasi ruangan, tertimpa drumnya hingga mengguling dengan sukses dan membuat kepala gadis itu benjol-benjol.

“YAA!! Jangan berisik!!” teriak Syah ajhusi yang sedang berdo’a dengan khusuknya di tempat sembahyang.

Aku melihat appa sedang membaca koran di ruang tengah dan Taekyung Oppa yang sedang sibuk mengarasemen lagu. Kemana eomma? Biasanya ia selalu menjahit atau merajut. Kenapa tidak terlihat?

“Semuanyaaaa… Lihat siapa yang dataaaang!!!” seru eomma lantang dari depan rumah. Ia masuk ke dalam rumah sambil menggandeng seorang gadis cantik.

“Angela ssi, kau ada disini?” seru Minyeo eonni gembira.

Deg…

Kakiku membeku. Aku  berhenti di anak tangga terakhir sambil menatap gadis itu lekat-lekat. Gadis itu… Begitu cantik dan anggun. Itukah gadis yang dicintai Hyuki?

“Yoon ah, kemarilah!” panggil eomma ceria, menyadarkanku.

Aku tersenyum tipis kemudian berjalan menghampiri mereka.

“Kenalkan, ini Angela Zhang,” kata eomma.

Aku menundukkan kepala sedikit dan dibalas olehnya.

“Ang, ini Kim Yoon Hye, Istri Hyuki. Sekarang dia sedang hamil tujuh bulan lebih,” jelas eomma.

“I-istri??” ada keterkejutan di mata Angela.

“Ne, setelah kepergianmu Hyuki menikah dengan Yoon Hye. Bagaimana? Cantik bukan?”

“Ba-bagaimana bisa?” Tanya Angela. Pertanyaan yang bagus, karena jika dilihat dari kenyataan, semua itu mustahil terjadi.

“Hooam…. Ada apa ribut-ribut?”

Serentak semua orang menoleh pada Hyuki yang sedang menguap lebar-lebar sambil berjalan menuruni tangga.

“Lihat siapa yang datang!” seru Ji Eun Eonni.

Aku melihat Hyuki terkejut saat melihat Angela berdiri disitu, di dekat eomma.

“Nonna…?” gumamnya bingung.

“Ini aku…” jawab Ang sambil tersenyum lembut.

“Yoon, bersiap-siaplah. Setelah ini kau akan diceraikan Hyuki,” kata avril tiba-tiba.

BLETAK

“Adaw… Kenapa mom memukulku?” teriaknya keras.

“Mana mungkin Hyuki seperti itu, bodoh!” balas Kajol ajhuma.

“Hyuki kan tidak bisa lepas dari Ang. Mungkin dia melakukannya dengan Yoon juga karena frustasi!”

BLETAK

“YAA!! Kenapa daddy ikut memukulku?” teriak Avril lagi.

“Kau ini bicara apa?! Dasar bodoh!”

Semua orang tertawa melihat hal itu. Hanya aku yang terdiam, ya, hanya aku. Kutatap Hyuki, apa benar yang dikatakan avril?

“Yoon ah, kau tidak apa-apa bukan? Kami memang suka bercanda,” kata Deokman halmoni.

Aku menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Tapi tiba-tiba. . .

“Hoeeek…”

Aku menutup mulutku kemudian berlari menuju kamar mandi. Kenapa tiba-tiba saja perutku terasa mual? Aku muntah berkali-kali. Tapi yang kumuntahkan hanya air, karena perutku memang kosong. Aku membasuh mulutku kemudian bersandar dengan lemas di dinding. Tiba-tiba saja air mataku menetes. Ada apa denganku? Kenapa aku merasa seperti ini?

Bagaimana jika Avril benar? Bagaimana denganku jika Hyuki kembali pada gadis itu? Bagaimana dengan anak ini? Aku meraba perutku pelan. Sekarang ini saja dia bahkan tidak menyusul untuk melihatku. Biasanya dia langsung panik begitu aku merasa mual. Apa ia benar-benar akan meninggalkanku?

Tunggu… Kenapa aku harus peduli? Kehidupannya bukan urusanku. Setelah ini aku akan pergi, lalu apa bedanya? Tapi kenapa dada ini terasa sesak?

“Kau baik-baik saja?”

“Hyuki ya…” aku menoleh dan membeku saat menyadari itu bukan Hyuki, tetapi Hisa kun.

“Apa kau baik-baik saja?” ulangnya “Ini kubuatkan teh untukmu, minumlah. Keadaan perutmu pasti benar-benar tidak enak saat ini.”

Aku mengusap air mataku dan menerima segelas teh dari Hisa kun kemudian menyesapnya pelan.

“kamsahamnida…” ucapku pelan.

“Kau butuh sesuatu lagi?”

Aku menatapnya ragu “Hisa kun, bisakah kau membawa aku keluar dari rumah ini?”

Ia mengerutkan alisnya bingung “Waeyo?”

“Aku ingin menghirup udara luar. Tolong bawa aku ke mana saja.”

“Baiklah…” jawabnya “Akan kuambilkan kau jaket dulu.”

Aku mengangguk pelan.

.

.

“Eomma, aku ingin keluar sebentar. Aku ingin menghirup udara luar, boleh kan?” tanyaku pada eomma yang sedang duduk bersama Ang dan yang lain. Semua orang menatapku. Mereka terlihat seperti penasaran.

“Kau mau kemana?” tanya Hyuki.

“Aku ingin keluar sebentar.”

“Kau mau pergi sendirian?” tanya Hyun shin haraboji.

“Dia bersamaku.”

Aku menoleh kebelakang dan mendapati Hisa kun sedang berjalan ke arahku dengan sebuah jaket di tangannya.

“Biar aku saja yang menemani,” kata hyuki tiba-tiba sambil berdiri.

“Tidak perlu, bukankah Ang ada d isini? Temani saja dia. Biar aku yang membawa Yoon,” saut Hisa kun sambil memakaikan jaket ke tubuhku.

Aku diam saja mendengarnya. Kemudian Hisa kun menarik tanganku, menggenggamnya “Kami pergi dulu,” pamitnya.

“Berhati-hatilah!!” teriak eomma.

***

“Kau menyukainya?”

“Mwo?” aku menoleh kaget pada Hisa kun. Laki-laki itu sedang menatap lurus ke depan. Ke arah laut yang terbentang luas di depan kami.

“Kau menyukainya bukan?” ulang Hisa kun.

“Siapa?” tanyaku bingung.

“Appa dari bayi yang kau kandung. Bukankah kau ingin keluar karena ada Ang di sana?”

Aku mengerjap kaget. Kenapa dia berfikir seperti itu? “Aniyo…  Aku tidak menyukainya. Aku hanya ingin keluar.”

“Kalau kau tidak menyukainya, lalu kenapa kau mau menjadi istrinya?”

Aku mengerjapkan mata terkejut. Astaga, apa yang baru saja kubicarakan? Kenapa laki-laki ini pintar sekali?

Sejenak aku menghela nafas, “Aku akan pergi setelah bayi ini lahir,” jawabku. Tidak ada gunanya merahasiakan ini darinya “Itu perjanjian kami.”

“Kenapa tidak kau gugurkan saja dari awal?”

“Aku sempat berfikir begitu, tapi Hyuki menolaknya dan marah-marah. Ah tidak, lebih tepatnya dia memasang wajah sedih.”

Hisa kun tersenyum tipis “Rumit sekali kisah kalian,” komentarnya.

“Aku tidak berharap seperti ini. Hingga kini aku masih berharap bahwa ini hanyalah mimpi panjang . Ketika aku terbangun, semuanya masih sama seperti dulu…”

“Sayangnya ini semua nyata dan kau terpaksa harus menjalaninya.”

Aku mendesah pelan “Ya…”

“Tapi aku berani bertaruh, kau tidak akan bisa keluar dari rumah kami.”

Aku mengerutkan alis menatapnya bingung. Memangnya kenapa? Apa kalau aku keluar aku akan dibunuh oleh Hyun Shin haraboji dan Jeong Ho Ajhushi dengan pedangnya? Atau aku akan diguna-guna oleh Ki Jou Koo dengan ilmunya?

Aku bergidik ngeri “Kenapa begitu?” tanyaku.

“Karena menurutku, hidupmu sudah menjadi hidup Hyuki dan hidup bayi kalian. Benarkah kau tidak menyukainya?”

Aku terdiam mendengar jawabannya. Apa maksudnya? Benarkah aku tidak menyukai Hyuki? Benarkah aku tidak menyukainya? Aku tidak tau…

= Lee Hyuk Jae/Hyuki =

Aku menatap ponsel dengan gelisah. Apa aku harus menelphone mereka? Ini sudah malam, Kenapa mereka belum kembali? Apa mereka baik-baik saja?

“Hyuki ah, kau kenapa?”

Aku menoleh menatap Ang Nonna dan tersenyum, “Gwenchana…” jawabku pelan. Saat ini kami sedang duduk kursi santai yang ada di halaman rumah.

“Hyuki ya, kenapa kau bisa menikah dengannya?” tanya Ang Nonna pelan dengan nada sedih. Kenapa wajahnya terlihat begitu kecewa?

“Ceritanya panjang.”

“Saat aku akan pergi ke Taiwan, kau bilang kalau kau menyukaiku. Lalu kenapa sekarang saat aku sudah kembali kau malah menikah dengan gadis lain?”

Aku terdiam menatapnya. Apa yang harus kukatakan kepadanya? Semua itu benar. Tapi hal yang sudah terjadi, tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Kenapa kau hanya diam?” tanyanya lagi “Apa kau lebih menyukainya dariku? Siapa dia? Kenapa aku tidak mengenalnya dan kenapa kau tidak pernah bercerita apapun tentangnya?”

Aku bingung harus berkata apa. Kutatap lekat-lekat gadis yang kucintai ini dulu. Kenapa aku merasa ada yang berubah? Dia masih sama seperti yang dulu, cara bicaranya yang manja, ekspresinya, semua masih sama seperti dulu. Tapi kenapa aku merasa ada yang tidak sama? Atau mungkin… Hatiku yang sudah tidak sama lagi?

“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” gerutunya pelan.

“Aku…”

Kata-kataku terhenti di tenggorokan saat melihat Tomo chan sedang menggendong Yoon Hye. Gadis itu sepertinya tertidur. Ia berjalan melewati kami hendak masuk ke dalam rumah.

Aku langsung berdiri dan mengejarnya “Apa dia baik-baik saja?” tanyaku.

Tomo chan berhenti dan menatapku“Dia hanya tertidur.”

“Berikan padaku!”

“Tidak perlu, nanti dia terbangun,” jawab Tomo chan kemudian berjalan lagi masuk ke dalam rumah.

Aku mematung menatap mereka. Aku tau, Yoon menyukai Tomo chan. Tapi, apa Tomo chan tau hal itu? Tidak, ia tidak boleh tau.

“Hyuki ya…”

Aku menoleh menatap Ang Nonna “Lebih baik kau tidur. Besok kutemani kau jalan-jalan, Jaljayo,” kataku pada Ang Nonna yang menginap di rumah ini. Aku melangkah masuk kedala rumah, meninggalkan gadis itu sendirian di sana.

.

.

Aku menunggu Tomo chan keluar dari kamar setelah membaringkan yoon hye di tempat tidur. Ada perasaan yang tidak nyaman oleh hal ini. Entahlah, aku merasa seharusnya aku yang melakukan hal itu. Bukankah aku suaminya?

“Dari mana saja kalian?” tanyaku saat dia baru saja keluar.

“Memangnya kenapa?” tanya Tomo chan balik.

Tiba-tiba saja aku tidak suka melihatnya. “Kemana kalian pergi?” tanyaku lagi, kutatap matanya dengan tajam.

Ia membalas tatapanku “Bukankah ia tidak ada hubungannya denganmu?”

Aku menatapnya terkejut. Apa maksudnya?

“Aku tau kalian seperti ini karena ketidaksengajaan. Dan setelah bayi itu lahir, dia akan pergi. Bukankah begitu?”

Seolah tertampar, aku tersadar. Selama ini aku lupa. Aku lupa bahwa nanti Yoon Hye akan pergi dari kehidupanku. Lalu kenapa dia tau hal ini? Apa Yoon menceritakan semuanya pada Tomo chan?

“Benar! Tapi selama dia belum pergi, dia masih Istriku!”

Tomo chan tersenyum sinis “Lalu apa menurutmu dia menganggap kau sebagai suaminya?”

Aku tersentak, “Apa maksudmu? Kenapa kau ikut campur urusan kami? Kenapa tidak kau urusi saja Yui?” tanyaku emosi.

“Dia sudah menjadi urusanku karena sepertinya, aku mulai menyukainya.”

“Mwo? Lalu bagaimana dengan Yui?”

“Itu bukan urusanmu. Bukankah Yui dan Yoon tidak ada hubungannya denganmu?”

Aku sudah ingin membalasnya, tapi dia langsung melangkah pergi. Rahangku mengeras. Tanganku terkepal erat. Kuhantam dinding dengan keras. Darah mengalir melalui jari-jariku. Tapi kenapa di dalam rasanya lebih sakit daripada luka di luar ini?

***

“Hyuki irona! Hyuki ya….” aku merasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku pelan. Aku mengenali suara ini. Suara Yoon.

“Hyuki ya, Irona! Palliwa!”

“Mmm…” aku bergerak pelan, dengan mata masih terpejam kuraih dan kupeluk tangannya. Kumasukkan ke dalam selimutku. Ia memekik pelan. Membuatku ingin tertawa.

“Buka matamu pabo!” bentaknya sambil berusaha menarik tangannya “YAA, Hyuki ya lepaskan! Ang Eonni sedang menunggumu, pabo!”

Sontak aku membuka mata dan melepaskan tangannya. Aku duduk dengan cepat hingga terasa pusing dan menatap mereka bergantian dengan bingung.

Yoon Hye mendengus pelan lalu berjalan ke tempat tidur dan duduk di sana. Meraih buku novelnya lalu membacanya tanpa memperdulikanku lagi.

“Nonna…” panggilku ling-lung. Gadis itu sedang berdiri dihadapanku sambil tersenyum manis.

“Kau sudah janji mau mengajakku jalan-jalan bukan?”

“Ah, benar. Maaf aku kesiangan.”

“Hyuki ah, tanganmu kenapa?” serunya panik saat melihat luka di punggung tanganku. Ia meraih tanganku dan melihatnya.

“Gwenchanae… “ jawabku pelan.

“Kenapa bisa begini?” tanyanya cemas “Kau kemarin tidak berkelahi kan? Atau kau sedang kesal hingga memukul dinding?”

“Aniyo… Aku benar-benar tidak apa-apa.”

“Biar ku obati!”

Aku lupa Ang Nonna tau semua kebiasaanku “Tidak perlu. Sudahlah, tunggu aku di bawah. Aku mau mandi dulu,” kataku sambil menarik tanganku dari genggamannya.

“Baiklah…” katanya mengalah “Kutunggu kau di bawah.”

Aku meraih handukku kemudian masuk ke dalam kamar mandi setelah dia keluar dari kamarku.

Yoon masih membaca novelnya saat aku keluar dari kamar mandi. Aku meniup lukaku pelan yang terasa sedikit perih.

“Gwenchanae?”

Aku menoleh dan melihatnya sedang menatapku, “Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Kudengar tadi tanganmu sedang terluka. Apa tidak apa-apa? Sudah kau obati?”

Aku menggeleng pelan “Kau punya obat?” tanyaku balik.

“Kemarilah!” katanya sambil membuka laci meja samping tempat tidurnya.

Aku berjalan menghampirinya lalu duduk di pinggir tempat tidur, di dekatnya.

“ige!” ia menyodorkan sebuah salep kepadaku.

“Bisakah kau yang melakukannya?” pintaku.

Aku melihatnya menatapku sejenak, kemudian ia membuka salep itu dan meraih tanganku pelan. Aku tersenyum melihatnya. Entah kenapa dadaku terasa hangat.

Kutatap ia lekat-lekat “Kami mau pergi, kau mau ikut?” tanyaku pelan sementara ia sedang mengoleskan salep di lukaku dengan lembut.

“Kemana?” tanyanya.

“Entahlah… Kemana saja.”

“Aku di rumah saja,” jawabnya pelan “Apa masih sakit?” tanyanya sambil meniup-niup lukaku pelan.

“Tidak terasa sama sekali saat kau menyentuhnya,” bisikku sambil terus menatapnya.

Ia berhenti meniup kemudian mendongak menatapku. Jantungku terasa berhenti saat mata kami bertemu. Bisa kulihat sedikit keterkejutan di matanya. Aku masih menatapnya dalam, kugenggam tangannya yang sedang memegang tanganku dengan lembut. Perlahan aku mendekat dan memiringkan wajahku. Jantungku terasa berdetak semakin lambat hingga sulit bernafas. Kemudian dengan teramat pelan kutekan bibir lembut itu.

Tubuhnya membeku tapi tidak menolak. Aku melumat bibirnya pelan dan dalam. Kurasakan bibirnya mulai bergerak. Kutekan lebih dalam ciumanku dan dia melenguh pelan. Kemudian, kuakhiri ciuman itu. Debaran jantungku terdengar begitu keras dan nafas kami berderu naik turun.

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar, “Hyuki ah, apa kau sudah selesai?”

Aku memundurkan wajahku dan melihatnya sedang menundukkan kepala. Pipinya bersemu merah membuatku ingin menciumnya lagi.

“Kau yakin tidak mau ikut?” tanyaku lagi.

“Pergilah…” jawabnya pelan.

“Araseo,.” aku mengecup pelan perutnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan melangkah pergi.

***

“Waaa… Di sini ramai sekaliii…” seru Ang Nonna ceria saat melihat arena sky di depannya.

Aku tersenyum melihatnya, ia tidak berubah. “Kau mau balapan denganku?” tantangku.

Ia menaikkan salah satu alisnya sambil menatapku “Kau tidak takut kalah?” tanyanya.

“Tentu saja tidak!”

“Yang kalah harus mentraktiiiiirrr…” teriaknya sambil meluncur di es meninggalkanku.

“YAA! Tunggu aku!!”

Aiiiissh… Sial, kususul dia yang sudah meluncur jauh. Ya, inilah hal yang sering kami lakukan saat membolos sekolah dulu. Sangat menyenangkan bermain seperti ini. Aku memakai topi rajutan dan masker penutup muka serta kacamata. Di telingaku terpasang alat penghangat telinga. Dengan begini, tidak ada yang mengenaliku.

Setelah dua jam kami bermain sky, akhirnya sekarang kami sedang duduk di kereta gantung sambil memakan es cream kesukaannya.

“Hyuki ah…”

“Mmm?”

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku saat itu.”

Aku terdiam menatapnya. Kenapa ia masih mengungkit hal itu? bukannya aku tidak ingin memberitahunya, tapi entah kenapa hatiku enggan melakukannya. Aku seperti tidak ingin ada orang lain masuk ke dalam lingkaran yang kubuat dengan Yoon. Tidak dengan ang nonna ataupun tomo chan.

“Apa aku tidak boleh tau?” tanyanya lagi.

“Kenapa kau ingin tau?”

“Sejak kecil kita di besarkan bersama-sama. Aku tau semua tentangmu. Juga rahasia-rahasiamu. Rasanya, sangat aneh bila aku tidak tau apapun yang sudah kau alami. Kenapa aku tidak boleh tau?”

Aku menatapnya sejenak kemudian menghela nafas pelan. Ia benar. Tidak ada satupun rahasiaku yang tidak diketahuinya. Apa aku harus menceritakannya tentang pertemuanku dan ketidaksengajaan itu?

“Kau tidak percaya kepadaku?” tanyanya sedih.

“Ani, hanya saja aku…”

Aku bimbang. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan. Namun begitu melihat mata bulatnya yang menatapku seolah memohon, aku menjadi lemah. Kemudian tanpa sadar aku menceritakan semuanya.

“Jadi setelah anak itu lahir dia akan pergi?” tanyanya setelah aku selesai bercerita.

Aku mengangguk ragu. Entah kenapa aku tidak suka melihat ekspresinya yang bahagia. Aku tidak ingin Yoon pergi. Aku tidak ingin hal itu terjadi.

“Itu bagus. Kau tidak boleh menyukainya lebih dariku karena kau adalah milikku.”

Aku terkejut menatapnya. Apa maksudnya?

 

To be continue. . .

 

Last edited 24 Oktober 13 ; 08.14