Tags

, ,

Tittle : Family By Accident
Author : vea
Cast :
– Lee hyuk jae (eunhyuk, super junior)
– Kim yoon hye (sudah pasti saya, yang mau protes silahkan dalam hati)
– Yamashita tomohisa (yamapi, News)
– Angela zhang (pemeran utama romantic princess dan at the dolphine bay)
– Dan artis2 lainnya. . .
Genre : romance
Length : chapter
Rated : 17+

fba

Part 7

 

= Kim Yoon Hye =

Aku termenung di balkon kamar sambil menatap sebuah foto. Foto yang sama dengan yang tergantung di ruang tengah dengan ukuran sepuluh kali lipat lebih besar. Foto itu di ambil saat aku pertama kali aku masuk ke dalam rumah ini.

Aku ada di antara mereka. Bila nanti aku pergi, apakah mereka akan melepas foto ini? Atau parahnya lagi foto ini akan dibuang? Apa yang akan terjadi bila aku meninggalkan rumah ini? Bagaimana raut wajah mereka? Apakah mereka akan sedih? Kecewa? Marah? Atau mungkin biasa saja karena akan ada Ang yang menggantikanku? Ya, mereka pasti akan melepas foto ini dan menggantinya dengan foto bersama Ang.

Kenapa aku jadi sedih begini? Aku tidak ingin tempatku digantikan. Kurasakan bayi dalam perutku menendang pelan beberapa kali. Kuraba perutku.

“Apa kau ingin aku pergi juga?” gumamku pelan. Tidak ada tendangan lagi.

“Apa kau menyayangiku?” gumamku lagi. Sebuah tendangan terasa di dalam perutku. Aku tersenyum “Aku juga mulai menyayangimu…”

“Yoon ah?”

Terdengar suara panggilan dari eomma.

“Ne?” jawabku sambil beranjak dari duduk kemudian berjalan menghampirinya yang sedang berdiri di ambang pintu dengan ceria.

“Waeyo?” tanyaku pelan.

“Ayo ikut aku.”

Eomma mengajakku ke sebuah kamar di sebelah kamar kami. Ah tidak, di sebelah kamar Hyuki lebih tepatnya. Aku berdiri di depan pintu itu sambil mengerutkan alis bingung.

“Ada apa eomma memanggilku?” tanya hyuki yang baru saja datang.

“Kau sudah menemui hyung-hyungmu?” tanya eomma.

“Sudah, mereka ada di ruang tengah sekarang bersama yang lain.”

“Nuguseo?” tanyaku bingung.

“Anak-anak Super Junior,” jawab eomma.

Omooo. . . Mereka lagi??

“Tadi mereka datang kemari dan kami semua membuat suatu kejutan untuk kalian,” sambung eomma.

“Jeongmal?” tanya Hyuki berseri-seri “Apa mereka membelikanku mobil baru?”

BLETAK

Hyuki meringis kesakitan. Haha… Ternyata bukan cuma aku saja yang suka menjitaknya. Pantas  saja semakin lama otaknya semakin tidak beres. Apa mungkin karena terlalu sering dipukul?

“Jangan bicara yang tidak-tidak!” tatap eomma garang “Kejutan kalian ada di balik pintu ini. Lihatlah sendiri, Eomma mau turun dulu.”

Eomma melangkah pergi, sedangkan aku menatap Hyuki yang juga tidak mengerti.

“Kau mau membukanya?” tanyanya.

“Kau saja,” sautku pelan.

Ia memutar knop pintu itu dan membuka pintu kamar perlahan.

Aku_ kami, sama-sama terpana menatapnya. Ruangan itu bernuansa biru. Sepertinya member lain berhasil menahan Sungmin Oppa untuk memberikan warna pink. Biru lebih baik, cocok untuk perempuan ataupun laki-laki. Di sudutnya ada sebuah tempat tidur bayi lengkap dengan ornamen-ornamen dan pernak-perniknya. Dan di sisi lain ada sebuah kursi sofa yang penuh dengan bermacam-macam mainan. Di sudut lain, ada sebuah piano kecil. Di dindingnya penuh dengan hiasan-hiasan gambar berwarna warni dan… Poster-poster Super Junior? Apa maksudnya?

“Hyuki ya…” aku menoleh menatapnya.

Ia tersenyum “Mereka sangat baik bukan?”

“Mmm…” aku cukup terkejut kalau mereka semua perduli pada kami.

Tapi tunggu dulu, di atas keranjang bayi itu ada foto keluarga yang sama besarnya dengan yang ada diruang tengah. Sedangkan di sebrang foto itu tergantung dua buah foto berukuran besar. Fotoku dan… Siapa namja cantik itu?

!!=_=

“Kenapa fotoku diganti fotonya Heechul Hyung?”

Aku menoleh dan terkikik melihat ekspresi wajah Hyuki yang sedang memberengut kesal. Ia berjalan menghampiri foto itu lalu membaliknya hingga fotonya yang terlihat.

“Aiissh… Kenapa foto ini yang dipajaang?” gerutunya.

Aku tertawa melihat foto itu. Di foto itu, ia sedang memakai kostum kelinci.

“Yaa! Berhentilah tertawa!”

Tawaku semakin keras “Tampangmu konyol sekali. Bahkan kalau bayi ini sudah lahirpun dia akan tertawa. Hahaha…“

“Jinjja?” tanyanya sambil berlutut di hadapanku lalu memeluk perutku. membuatku tersentak kaget. “Benarkah dia akan tertawa?” tanyanya lagi.

“YAA! Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah bodoh!”

“Aku hanya ingin mendengarkannya, apa benar dia tertawa.”

“Pabo! Kubilang kalau ia sudah lahir.”

“Baiklah… “ katanya mengalah sambil melepaskan pelukannya.

“Hyuki ah?”

Terdengar suara Ang Eonni dari balik pintu.

“Ne?”

“Kau dicari Hyungmu,” katanya lembut “Ah, jadi ini kamar bayi yang mereka bicarakan itu?”

“Ne. Kalau begitu ayo kita turun,” ajak Hyuki.

“Aku masih ingin melihat-lihat,” kata Ang.

“Kau mau ikut menemui mereka?” tanyanya kepadaku.

“Neo michiseo?” tatapku garang.

Ia meringis “Baiklah, baiklah… Memang lebih aman kalau kau di sini,” Kemudian ia berjalan keluar meninggalkan aku dan Ang berdua saja.

Kami saling diam untuk sejenak.

“Aku sudah tau semua tentang kalian,” kata Ang memecah kesunyian.

Aku menoleh menatapnya. Ia tau semuanya? Aku tidak terkejut kalau Hyuki menceritakanya pada gadis ini.

“Tapi sebelumnya apa kau tau juga semua tentang kami?” tanyanya tanpa melihatku.

“Ne… Aku tau,” jawabku pelan.

“Kau tau kenapa aku kembali lagi ke sini?”

“Tidak.”

“Karena aku menyukai Hyuki.”

Aku terdiam mendengarnya. Tiba-tiba saja aku merasa sesak nafas. Apa sebenarnya maksud gadis ini?

“Aku kembali untuk mengambilnya lagi karena dia milikku,” katanya dingin “Aku tidak ada masalah dengan anak yang sedang kau kandung it Aku bisa merawatnya seperti anakku. Jadi jika setelah anak itu lahir kau ingin pergi, kami tidak keberatan, “ katanya kemudian melangkah pergi.

“Hyuki bukan barang yang harus di ambil!” seruku.

Ang berhenti melangkah, “Barang atau bukan, dia tetap milikku dari dulu hingga sekarang dan sampai nanti.” sautnya tanpa menoleh kemudian melangkah lagi.

Dadaku terasa sesak. Mataku memanas dan air mataku jatuh. Aku menatap fotoku yang tergantung di samping foto Hyuki. Nanti, foto itu akan digantikan dengan foto Ang dan anak ini akan memanggilnya Eomma.

Aku duduk di sofa lalu mendekap sebuah boneka beruang besar. Menyembunyikan isakanku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Dari awal ini semua kebodohanku. Aku yang menginginkah hal ini. Tapi sekarang kenapa aku merasa takut? Bukankah ini yang kuinginkan? Pergi dari rumah ini?

.

.

Beberapa jam berlalu dan aku masih ada di kamar itu. aku mulai terbiasa tinggal di sini. Menerima kehangatan keluarga ini juga kasih sayang dari Hyuki. Apa aku sudah mulai mencintainya? Dan bayi ini… ini bukan hanya anak hyuki. Ini anakku.

“Aku tidak ingin kau memanggilnya Ibu…” lirihku.

Tidak, ini anakku. Hanya aku yang akan menjadi ibunya. Hanya aku yang boleh dipanggilnya ‘eomma’.  Aku harus bicara pada Hyuki.

Aku berjalan keluar kamar dengan cepat mencari Hyuki. Rumah sudah sepi. Anak-anak Suju sepertinya sudah pulang. Dan keluarga yang lain sudah masuk kamar masing-masing. Dimana Hyuki? Kenapa dia tidak ada di kamar? Apa dia ada di dapur? Aku melangkah cepat menuju dapur. Tapi tiba-tiba saja langkahku terhenti saat melewati kamar Ang. Aku mundur beberapa langkah dan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka itu. Dia, gadis itu, sedang memeluk Hyuki.

“Itulah alasanku kenapa aku kembali ke Korea. Aku sudah terbiasa hidup denganmu, jadi rasanya aneh jika tidak ada dirimu. “ kata Ang “Kau milikku Hyuki ya, aku tidak keberatan jika kau ingin merawat anak itu. Aku akan menjadi eomma yang baik untuknya. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia.”

Aku membekap mulutku tidak percaya. Dadaku terasa perih. Air mataku mulai mengenang. Tidak. Ini anakku, tidak akan kubiarkan dia memanggil orang lain eomma selain aku. Aku tidak akan menyerahkan anak ini pada gadis itu. Tidak akan! Aku harus pergi dari rumah ini. Sekarang.

Aku berbalik dengan cepat namun tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di meja kecil di depan kamar Ang hingga pecah. Tapi aku tidak perduli. Aku harus pergi dari rumah ini. Tidak akan kubiarkan mereka merebutnya dariku. Termasuk Hyuki.

Aku berlari dengan susah payah menuruni tangga. Kupegang perutku yang besar, menahannya. Aku berlari ke halaman, membuka pintu gerbang.

“Yoon!” kudengar teriakkan Hyuki di belakangku, tapi aku tidak perduli. Aku terus berlari dengan sekuat tenaga. Menelusuri jalan yang mulai sepi. Kepalaku terasa begitu pusing, rasanya aku sudah tidak sanggup. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir di kakiku. Darah…

Aku menatapnya terkejut. Dalam keadaanku yang kacau tiba-tiba saja aku melihat sebuah cahaya menyilaukan menerpa tubuhku. Kemudian aku melihat Hyuki yang menarikku sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

***

Kabur. Itulah yang kulihat saat pertama kali aku membuka mata. Kepalaku terasa pusing. Aku mengerjap-ngerjapkan mata perlahan untuk memandang lebih jelas.

“Yoon ah, kau dengar aku?”

Aku mendengar Jang ajhuma memanggilku.

“Aku haus…” ucapku dengan suara parau.

Seseorang langsung mengulurkan air dan membantuku meminumnya. “Bagaimana rasanya?” tanya orang itu. Hisa kun.

“Aku… Pusing…” jawabku sambil memegang kepala. “Apa yang terjadi?”

“Kau… Mengalami kecelakaan. Tapi Hyuki menyelamatkanmu, semuanya baik-baik saja,” jawab Hisa kun.

Perlahan aku mulai mengingat semuanya, seperti air mengalir yang langsung membanjiri otakku. Kemudian aku tersentak kaget “Anakku?”

“Jangan cemas, kandunganmu baik-baik saja.” kata Jang ajhuma. Ia menahanku untuk bangun dari tidur “Kau sempat mengalami pendarahan, tapi tidak apa-apa. Tidak ada yang serius.”

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kalian keluar rumah malam-malam begini?” tanya Deok halmoni yang ada di sampingku.

“Aku… Hyuki…” aku terdiam lalu baru kusadari kalau laki-laki itu tidak ada. “Di mana Hyuki?” tanyaku saat teringat kejadian itu.

Semua orang diam, tidak menjawab. Ada apa ini?

“Dia baik-baik saja,” jawab Jang ajhuma akhirnya. Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh.

“Di mana dia sekarang?” tanyaku lagi.

“Dia…” Jang ajhuma menatap halmoni gelisah. Aku menatapnya bingung. “Dia sempat  terluka saat menyelamatkanmu, tapi dia sudah dibawa ke rumah sakit. Jadi kau tenang saja.”

Apa? Apa? Apa? Hyuki terluka sampai dibawa ke rumah sakit? Seperti apa lukanya? Seberapa parah?

“Aku ingin kesana!” kataku sambil berusaha bangun.

“Tapi yoon, kau belum pulih.”

“Aku ingin melihatnya,” sekarang aku merasa begitu takut. Mataku memanas dan air mataku mulai mengenang. Seperti apa keadaannya? Kenapa semua keluarga tampak ragu mengatakannya?

“Biar aku yang mengantarnya,” saut Hisa kun sambil membantuku berdiri.

.

.

“Jangan berjalan terlalu cepat, itu berbahaya untuk kandunganmu.” kata Hisa kun saat kami sudah tiba di rumah sakit.

Aku mengangguk pelan tapi tetap tidak bisa menahan kakiku untuk tidak berjalan cepat. Sedikit lagi, itu kamar Hyuki.

Jantungku benar-benar terasa berhenti saat melihatnya dari kaca pintu kamar. Aku masih belum sempat masuk ke kamarnya. Tapi aku bisa melihat, ia sedang terbaring di sana dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Juga dengan alat bantu pernafasan dan selang infus. Di dekatnya, alat penunjuk detak jantung terus berbunyi teratur. Dan di sampingnya, Ang sedang menggenggam tangannya erat.

Aku benar-benar seperti mati rasa melihatnya. Keadaannya separah itu kenapa keluarga tidak memberitahuku? Kenapa? Tiba-tiba saja Hisa kun memutar tubuhku dan memelukku sebelum kakiku tidak bisa menahan berat tubuhku. Aku terisak pelan sambil membenamkan wajahku padanya.

Ini semua karena aku. Aku benar-benar sakit melihatnya. Melihat keadaannya dan melihat Ang yang ada di sisinya. Bukannya aku. Aku benar-benar berharap mati saat ini juga.

***

Tubuhku terasa lemas akhir-akhir ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Semuanya melarangku untuk menemani Hyuki di rumah sakit dengan alasan kandunganku yang sudah besar. Lagipula di sana sudah ada Ang yang menemaninya. Yang kulakukan hanya duduk di sofa ruang bayi ini sambil memeluk salah satu boneka. Aku tidak nafsu makan dan keadaan perutku semakin buruk. Hampir semua makanan yang sudah kumakan kumuntahkan kembali. Karena itu aku merasa sangat lemas.

Hisa kun sering memainkan piano untukku, tapi itu tidak merubah keadaanku. Tidak ada yang ingin kulakukan. Aku benar-benar seperti mayat hidup. Kadang air mataku menetes tiba-tiba saat memikirkannya. Bagaimana keadaannya saat ini? Ini semua karena aku. Karena menyelamatkanku ia jadi seperti ini, kenapa tidak ia biarkan aku mati saja saat itu?!

Sudah hampir tiga minggu. Tapi Hyuki belum pulang ke rumah. Dan kandunganku sudah delapan bulan lebih. Aku menggenggam rosarioku erat, memohon kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Biarlah ia bersama gadis lain, asalkan ia bisa selamat.

“Yoon…”

Aku tersentak dan menoleh ke arah pintu saat mengenali suara itu “Hyuki ya…”

Laki-laki itu tersenyum menatapku sambil berjalan menghampiriku. Ia berlutut di depanku, memegang kedua lenganku “kau baik-baik saja bukan??” tanyanya lembut.

Aku masih terdiam memikirkan ini nyata atau hanya halusinasiku. Kupegang wajahnya dengan kedua tanganku “Apa benar ini kau?” tanyaku pelan.

Ia menggenggam tanganku dan menekankannya di pipinya “Ya, ini aku…”

Aku merasa begitu lega hingga air mataku mengenang. Mengalir pelan di kedua pipiku. Aku terisak.

“sst… uljima…” bisiknya sambil mengusap pipiku dengan jarinya. “Bagaimana denganmu? Apa anak kita baik-baik saja?” tanyanya sambil memeluk perutku yang besar

“kami baik-baik saja karena kau.”

Ia mendesah pelan, “baguslah…” katanya sambil tersenyum menatapku.

“Ajhushi, Ajhuma! Ayo turun, ada perayaan pesta di bawah karena Ajushi sudah pulang dari rumah sakit,” kata Jeremy tiba-tiba. Bocah itu sudah berdiri di ambang pintu.

“Kajja!” ajak Hyuki sambil menarik tanganku lembut.

= Lee Hyuk Jae/hyuki =

“Itulah alasanku kenapa aku kembali ke Korea. Aku sudah terbiasa hidup denganmu, jadi rasanya aneh jika tidak ada dirimu. “ kata Ang “Kau milikku Hyuki ya, aku tidak keberatan jika kau ingin merawat anak itu. Aku akan menjadi eomma yang baik untuknya. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia.”

Aku membeku mendengar kata Nonna. Ia memelukku erat, tapi aku tidak tau harus mengatakan apa. Tiba-tiba terdengar sesuatu pecah dari luar kamar. Aku menoleh terkejut, kulepaskan pelukan Nonna dan berlari keluar. Kulihat ada pecahan vas bunga yang pecah berantakan di lantai. Yonn Hye… Fikiranku langsung teringat kepadanya dan benar saja, aku melihatnya berlari menuruni tangga. Kukejar dia.

Aku berteriak memanggil namanya, tapi ia tetap berlari. Dia pasti melihat kami tadi. Apa yang dipikirkannya? Lalu kulihat ada sebuah mobil yang meluncur cepat kearahnya dari seberang. Tidak, ia tidak boleh terluka. Aku berlari sekuat tenaga.  Kutarik tangannya dan sedetik kemudian aku merasa tubuhku dihantam keras. Lalu semuanya menjadi gelap. Jika masih bisa, sekali saja aku ingin melihat wajahnya lagi. untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

.

.

Aku membuka mataku pelan. Terlihat kabur. Aku mengerjap-ngerjap pelan untuk melihat lebih jelas. Terdengar begitu banyak suara yang memanggilku, tapi aku tidak mendengar suaranya. Kemudian kulihat wajah Ang Nonna yang terlihat lega di sampingku. Begitu banyak wajah yang kulihat, tapi kenapa aku tidak melihat wajahnya? Dimana dia?

“Yoon…” gumamku pelan. Kepala dan tenggorokanku terasa sakit.

“Dia baik-baik saja di rumah,” jawab eomma. Aku mendesah lega. Syukurlah ia baik-baik saja.

Ternyata aku tidak sadar hampir seminggu. Aku ingin pulang ke rumah, tapi dokter tidak mengijinkan karena lukaku di bagian lengan dan tulang rusuk masih parah. Hingga aku terpaksa harus menginap di rumah sakit ini kurang lebih dua minggu lagi.

Banyak yang datang melihatku, tapi dia tidak pernah datang. Eomma bilang padaku kalau keluarga tidak mengijinkannya kemari karena perutnya sudah semakin besar. Aku ingin sekali cepat pulang untuk melihatnya. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?

Setelah hari-hari yang membosankan itu berakhir, akhirnya aku boleh pulang ke rumah. Begitu tiba di rumah aku langsung menuju kamar, mencari dimana ia berada. Tapi kosong. lalu dimana dia? Apa di taman atap? Aku pergi ke sana tapi ia juga tidak ada di sana. Kalau begitu di mana dia? Apa mungkin dia…

Aku melangkah ke kamar bayi itu dengan cepat. Kubuka pintunya pelan dan kulihat ia sedang duduk di sofa sambil memeluk sebuah boneka. Tatapannya terlihat kosong. Ah, betapa aku sangat merindukannya. Aku benar-benar ingin memeluknya saat ini.

“Yoon…” panggilku pelan sambil tersenyum.

“Apa benar ini kau?” tanyanya pelan sambil menangkup kedua sisi wajahku..

Aku menggenggam tangannya, menekankannya di pipiku “Ya, ini aku…”

Air matanya mengenang dan ia mulai terisak. Jangan… jangan menangis lagi. aku tidak ingin melihatnya menangis.

“sst… uljima…” bisikku sambil mengusap pipinya pelan. “Bagaimana denganmu? Apa anak kita baik-baik saja?” kupeluk perutnya yang semakin besar. Mengecupnya.

“kami baik-baik saja karena kau.”

aku mendesah pelan, “baguslah…” balasku lega.

“Ajhushi, Ajhuma! Ayo turun, ada perayaan pesta di bawah karena Ajushi sudah pulang dari rumah sakit,” kata Jeremy tiba-tiba.

Aku tersenyum menatapnya, “Kajja!” kutarik tangannya lembut. Kurasa sekarang aku sudah menyadari betapa aku mencintai gadis ini.

 

To be continue. . .

 

Last edited 24 Oktober 13 ; 08.15