Tags

, ,

Tittle : Family By Accident
Author : vea
Cast :
– Lee hyuk jae (eunhyuk, super junior)
– Kim yoon hye (sudah pasti saya, yang mau protes silahkan dalam hati)
– Yamashita tomohisa (yamapi, News)
– Angela zhang (pemeran utama romantic princess dan at the dolphine bay)
– Dan artis2 lainnya. . .
Genre : romance
Length : chapter
Rated : 17+

fba

Part 8

 

= Kim Yoon Hye =

Dia sudah kembali seperti dulu. Ah, aku jadi lega. Syukurlah dia baik-baik saja. Jika dia ingin bersama gadis itu, tidak apa-apa. Tapi aku akan tetap membawa anak ini bersamaku karena dia anakku. Selama beberapa hari ini aku menyadari beberapa hal. Yang pertama aku beruntung bisa masuk dan mengenal keluarga yang begitu baik ini. Yang kedua, sekarang aku sadar bahwa hidupku sudah menjadi hidup anak yang kukandung ini. Terakhir, aku sadar bahwa aku, Kim Yoon Hye, mencintainya. Mencintai suamiku, Lee Hyuk Jae.

Namun aku tau, aku hanyalah seseorang yang datang menyelip ke dalam kehidupannya dan Ang. Akan lebih baik jika aku tidak ada. Tapi Hyuki sangat mencintai anak ini, bagaimana jika dia tau kalau tiba-tiba aku menghilang dari rumah ini? Tidak, dia pasti bisa mengatasinya. Dia punya keluarga yang sangat menyayanginya dan dia juga punya Ang. Sedangkan aku, aku hanya mempunyai anak ini.

Tapi… Semua kejadian yang sudah aku alami bersamanya apakah itu tidak ada artinya sama sekali untuknya? Tunggu dulu… Bukankah ia seorang playboy? Mungkin saja semua perlakuannya untukku sama dengan gadis-gadis yang lain.

Aku menatapnya yang sedang duduk di taman halaman rumah bersama Ang dari balkon kamarku. Bukan kamarku, tapi kamar Hyuki karena sejak awal aku tidak punya tempat di rumah ini. Aku melihatnya sedang menggenggam tangan Ang. Meskipun hatiku perih melihatnya, setidaknya aku senang mereka bisa bahagia lagi. Kemudian kuputuskan untuk pergi dari rumah ini, malam ini juga. Semakin cepat, semakin baik. Kuambil selembar kertas dan bolpoint, kutulis sesuatu untuknya.

.

.

Aku membuka mataku perlahan. Kulihat dia sedang tertidur pulas di sofa. Aku beranjak bangun tanpa suara. Sudah hampir tengah malam. Kubuka lemari pakaian dan mengambil beberapa baju. Tidak ada barang berharga lain yang kubawa. Yang harus kulakukan adalah pergi dari rumah ini dan kembali ke apartementku. Kemudian pindah ke tempat yang tidak bisa ditemukan mereka.

Kuhampiri Hyuki yang sedang tertidur pulas. Kutaruh suratku di atas meja kemudian kutatap laki-laki itu. Air mataku mengenang, kemudian kukecup keningnya pelan.

Aku keluar pintu dengan pelan tanpa suara. Keadaan rumah sudah sepi, tapi masih terdengar suara musik dari kamar Avril. Aku berjalan menuruni tangga pelan dan keluar rumah, membuka pintu pagar tanpa suara dan berjalan pelan menuju halte.

Suasana terasa begitu sunyi. Halte bus itu begitu sepi. Hanya ada aku yang duduk di bangkunya. Sudah setengah jam tapi belum ada bus yang lewat. Haruskah aku mencari taksi? Kupegangi perutku yang hangat. Bisakah aku membesarkannya seorang diri tanpa Hyuki? Tiba-tiba saja air mataku jatuh. Aku terisak pelan. Bagaimana sekarang?

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Aku tersentak mendengar suara itu dan menoleh kaget. Laki-laki itu sedang berdiri menatapku dengan wajah kecewa, sedih dan . . . terluka?

Aku berdiri dari dudukku dengan gamang “Hyuki ya…”

***

= Lee Hyuk Jae/Hyuki =

“Nonna ada yang ingin kukatakan kepadamu…” kataku pelan sambil menatap wajahnya ragu. Saat ini kami sedang duduk di taman halaman depan rumah.

“hmm? Mwoya?

“Ini… soal kata-katamu dulu. Bahwa kau ingin kembali kepadaku.”

Ang tersenyum lembut “Apa itu?”

Aku menatapnya ragu. Haruskah aku mengatakannya? Bagaimana bila ia kecewa? Tapi hati ini sudah terlanjur berubah.

“Aku- Aku tidak ingin Yoon pergi,” ucapku pelan.

Kulihat ia yang terdiam. Aku menunggunya berbicara.

“Kau menyukainya…?” tanyanya.

Aku menatapnya sejenak kemudian menggeleng pelan. “Ani, aku mencintainya.”

“Apa aku sudah terlambat?”

Aku tidak tau harus menjawab apa.

“Ini bukan karena dia sedang mengandung anakmu kan?”

Aku menggeleng “Aku mencintainya dengan atau tanpa anak itu. Semakin aku mengenalnya, semakin aku mencintainya. Mianhae…”

“Lalu bagaimana denganku?” tanyanya sedih.

Aku terdiam menatapnya. Ia gadis yang begitu kucintai dulu, melihatnya seperti itu membuatku sedih juga. Kuraih tangannya dan kugenggam erat. “Aku yakin nanti kau juga pasti akan menemukan seseorang yang lebih dari aku.”

Ia tersenyum pahit “Sepertinya aku memang benar-benar terlambat. Seharusnya sejak dulu aku kembali.”

“Ini sudah takdir. Aku tetap akan menyanyangimu.”

“Tentu saja. Tunggu hingga aku mendapatkan seseorang yang lebih darimu, kau akan menyesal.”

Aku tersenyum menatapnya. Sepertinya ia baik-baik saja. Aku mendesah lega. Setelah ini, aku harus membuat Yoon menatapku dan melupakan Tomo chan.

.

.

Aku seperti mendengar ponselku berbunyi nyaring. Mataku masih terasa lengket. Siapa yang menelepon malam-malam begini? Kemana benda itu? Kuraba-raba bawah bantalku dan menemukannya. Masih memejamkan mata kuangkat benda itu.

“Ye?” gumamku tidak jelas.

“Eunhyuk ssi, kau kemana saja?”

Aku mengerutkan kening mendengar suara itu “Nuguseo?” gumamku pelan.

“Mwo? Kau sudah melupakanku? Aku Park Shin Hye!”

Aku tersentak dan langsung terbangun dari tempat tidurku. “Ah, Hye ah? Mianhae… Kenapa kau menelphone malam-malam begini?”

“Malam? Ah, aku lupa kalau di sana sekarang tengah malam,“ ia tertawa pelan “Aku ada di Swiss sekarang. Aku ingin menanyakan titipanmu tempo hari, aku lupa kau pesan apa, Haha…”

“Aiiiissshh… Kau ini! Belikan saja aku perlengkapan bayi yang banyak!”

“Istrimu sudah akan melahirkan ya? Baiklah akan kucarikan.”

“Terima kasih, sekarang apa aku boleh tidur?”

“Ne, maaf sudah membangunkanmu. Anyeong!!”

Telphone terputus, aku menyusupkan benda itu ke bawah bantal dan tidur lagi. Tapi baru beberapa detik kusadari ada yang aneh. Aku membuka mataku dan melihat tempat tidur Yoon Hye kosong. Aku beranjak bangun, kemana gadis itu? Kemudian tanpa sengaja kutemukan selembar kertas di atas meja. Kuraih dan kubaca kertas itu.

‘Hyuki ya, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku senang melihatmu baik-baik saja. Ang Eonni sudah kembali, aku senang melihat kalian bahagia. Tapi sekarang aku baru menyadari sesuatu. Aku mencintai bayi ini, bayi yang ada dalam kandunganku dan aku tidak bisa pergi tanpanya. Bisakah kau melepaskan kami? Aku hanya punya dia, tolong jangan mengambilnya dariku. Saat kau membaca pesan ini, itu artinya aku sudah pergi dari rumah ini. Sampaikan permintaan maafku untuk semuanya. Aku benar-benar menyesal, tapi aku tidak ingin meninggalkan bayi ini dan aku juga tidak ingin ada orang lain yang dipanggilnya eomma selain aku. Mianhae… Aku menyangimu…’

 

Yoon

 

 

Apa-apaan ini? Tanpa banyak fikir aku keluar dari kamar dan berlari keluar menyusulnya. Kemana ia pergi? Ini sudah malam, apa ia tidak memikirkan bayi kami? Apa yang dipikirkannya? Kenapa aku harus melepaskan mereka? Aku berlari menyusuri jalanan kota Seoul yang masih terang walaupun sudah tengah malam. Astaga Tuhaaan, di mana Istriku yang bodoh itu saat ini?

Aku mencarinya di setiap taman dan jalan yang kulalui. Tenagaku sudah hampir habis. Aku juga tidak memperdulikan penampilanku yang kacau. Rambut kusut dengan kaor longgar dan celana panjang lengkap dengan sandal rumah. Banyak orang yang menatapku heran. Tapi aku tidak perduli, aku harus menemukannya.

Aku terus berlari mencarinya. Saat aku mulai putus asa, tiba-tiba kulihat ada seorang gadis yang sedang duduk sebuah halte bus sendirian dengan perut yang besar. Aku mendesah lega dan berlari menghampirinya.

“Kenapa kau meninggalkanku??” tanyaku sambil mengatur nafas.

Ia tersentak dan menoleh ke arahku dengan kaget. Kemudian ia berdiri dan menatapku. Aku melihat air mata di pipinya.

“Hyuki ya…” gumamnya lirih.

Dengan cepat aku berjalan menghampirinya, menariknya ke dalam pelukanku dengan kelegaan yang luar biasa.

= Kim Yoon Hye =

 

“Kenapa kau meninggalkanku yoon? Apa kau ingin anak kita terlahir tanpa seorang Appa?” tanyanya sambil mempererat pelukkannya “Bagaimana bisa aku melepasmu?”

“Aku…” air mataku mengalir deras “Aku tidak ingin ada orang lain yang dipanggilnya eomma selain aku.”

“Tidak akan ada orang lain. Hanya kau yang bisa menjadi eomm dan hanya aku juga yang bisa menjadi Appanya. Apa kau meragukanku?”

Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya terkejut. Ia menatapku balik.

“Aku mencintaimu Kim Yoon Hye. Saranghaeyo…” ucapnya pelan namun begitu jelas.

“Ta-tapi Ang…”

Ia menggeleng pelan “Kau sudah merebut semuanya. Kau membuatku jatuh cinta kepadamu yoon ah…” diusapnya air mata yang mengalir di pipiku. “Aku tau kau menyukai Tomo chan. Tapi sekarang ini, aku ingin membuatmu melihatku. Hanya aku! Bisakah kau melupakannya dan mulai menatapku?”

“Aku sudah menatapmu sejak lama…” air mata sialan ini tidak ingin berhenti mengalir dari pipiku, “Nado saranghae…”

Hyuki mendesah lega kemudian meraih tanganku dan menciumnya. Ia memelukku erat dan aku membalas pelukannya.

Tiba-tiba kurasakan sakit di perutku. Rasanya begitu sakit, “Hyuki… ughh… Sa-kit…” aku mengerang sambil memegang perutku. Rasanya kakiku tidak sanggup berdiri karena  sakitnya.

“yoon, ada apa? Kau kenapa?” tanyanya panik.

“Appo…” aku menghirup nafas sebanyak-banyaknya “Hyukiiii!! Appooo!!!!”

“A-apa sudah akan keluar? Bukankah masih sebulan lagi?”

“APPOOO!!!” Teriakku kuat sambil menjambak rambutnya.

Hyuki memegangiku dengan panik sambil meringis kesakitan. Ia membuka tasku dan meraih ponselku. Dipencetnya salah satu kontak di ponsel itu tanpa melihat namanya.

“Hallo?” sapa seseorang yang kebetulan di telphone itu yang ternyata Ki Jou Koo.

“Ki, Ki, anakku mau lahir Ki, ini bagaimana?”

“Gue dukun santet bukan dukun bayi bego’!!” bentak Ki Jou Koo kesal dan langsung memutus sambungan telphone.

“Hallo? KI? KI??”

“TELPHONE RUMAH SAKIT PABOOO!!!!” teriakku sekuat tenaga sambil menahan sakit.

Aku benar-benar tersiksa. Perutku terasa mau meledak. Benar-benar sakit. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Rasanya begitu sesak.

***
“Ya, terus! dorong yang kuat…”

Aku mengikuti instruksi dokter itu sambil teriak-teriak kesakitan. Paru-paruku terasa kosong, nafasku tersegal. Di sampingku, Hyuki menggenggam tanganku erat sama paniknya. Seolah-olah ia ikut merasakannya.

“Ayo terus… Sedikit lagi…”

Hyuki mengusap keringat di wajahku sambil meniup-niup wajahku agar aku merasa dingin.

“Ya, bagus… terus dorong…”

“HYUUUUUU!!!” jeritku tertahan kemudian terdengar suara tangisan seorang bayi.

Tubuhku terasa lemas, aku memejamkan mata lelah. Mendadak aku merasa kosong. Kurasakan tangan Hyuki yang merapikan rambutku dan mengecup keningku. Tapi aku merasa begitu lelah kemudian kegelapan itu merenggut seluruh kesadaranku.

To be continue. . .

Last edited 24 Oktober 13 ; 08.18