Tags

, ,


Author : veahwa eunve
Title : heart of the black piano
Genre : sad romance
Cast :
– Park jung soo (leeteuk suju)
– han soo ra
– Kim jong woon (yesung suju)
– Kim eun joo


Part 4

Soo ra berlari sekuat tenaganya. Air matanya tidak bisa berhenti. Ia terus berlari, melewati jalan panjang itu. tidak, ini tidak nyata, ini hanya mimpi. . . tapi kenapa dadanya terasa sesak?? Ia terus berlari meskipun langit mulai meneteskan airnya. Hingga akhirnya ia tak sanggup lagi untuk menyangga tubuhnya.
Gadis itu terjatuh dipinggir jalanan yang sepi, ia terisak hebat. Namun air hujan, dengan kejam terus mengguyur tubuhnya. Dingin. . . rasa dingin itu begitu menusuk, namun tetap tidak mampu mengalahkan rasa sakit yang ada dihatinya. Rasanya ada lubang yang menganga lebar.
Bila ini benar2 mimpi, ia ingin terbangun sekarang juga. Namun bila ini kenyataan yang harus didapatnya, biarlah ia hidup dalam mimpi saja. . .
“soo ra ah?? Ada apa denganmu??” tanya ibu soo ra cemas saat mendapati putrinya pulang dalam keadaan kacau. Badan basah kuyup dan berantakan.
“eomma. . .” kata soo ra lirih hampir tidak terdengar “apa dia. . . apa kakakku itu. . . memiliki tanda lahir dibelakang telinganya??”
“be. . .benar. . . bagaimana kau tau??”
Soo ra tidak mampu membuka mulut lagi, perlahan matanya menutup, dan ia-pun limbung.
“yaak, soo ra ah,,” jerit ibunya sambil menangkap tubuh soo ra sebelum jatuh kelantai, pingsan.

Soo ra benar2 merasa jatuh ketempat yang benar2 gelap sekarang. Ia benar2 kosong, hampa, dan mati rasa. Kenapa ia harus tau kenyataaan ini?? kenapa ia harus tau?? Kalau saja ia tidak tau, biarlah kenyataan itu terkubur selamanya.
Gadis itu menjadi patung hidup sekarang. Pandangannya selalu kosong. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Bila ditanya ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala. Atau ia akan diam saja. Bahkan orang tuanya sendiripun bingung dengan keadaannya. Mereka pikir, soo ra hanya sedih karna harus meninggalkan teman2nya.
Soo ra masih tetap menjalani aktivitasnya. Tapi semua itu dilakukannya dengan gamang. Kadang2 air matanya tiba2 saja jatuh.
Hari inipun ia masih sekolah, namun kini ia diantar oleh ayahnya. Karna melihat kondisinya yang seperti itu, mereka tidak bisa membiarkannya untuk berangkat sekolah sendiri.
Disekolahpun ia hanya duduk diam. Ia juga mengikuti pelajaran, namun pandangannya masih hampa. Sepertinya otaknya benar2 berhenti berfungsi.
“soo ra ah, kami akan mengadakan acara untuk perayaan ulang tahun sekolah, apa kau ada ide??” tanya sung min, ketua kelas.
Gadis itu hanya menggeleng pelan, tanpa menoleh sedikitpun pada sung min.
Sung min menjadi salah tingkah melihatnya “mm. . .baiklah. . .” kata sung min kemudian pergi meninggalkan soo ra.
“jadi nanti pulang sekolah kau akan berkencan dengan dong hae oppa??”
“ne, aku benar2 senang, ia mengajakku ketempat sky!!”
“waa. . . kau sangat beruntung, rae ki ah!!”
Tanpa sadar air mata soo ra jatuh mendengar ocehan teman2nya itu. dan semakin mengalir deras. Rasa sakit itu kembali berdenyut2 dihatinya. Perih. . .
“yaak soo ra ah, kau mau kekantin tidak??” tanya eun joo.
Soo ra hanya diam saja, menoleh-pun tidak.
“hei, ada apa denganmu??” tanya eun joo “apa kau baik2 saja??”
Tidak, ia tidak baik2 saja, ia sakit!!
Eun joo memegang wajah soo ra dan mengangkatnya. Ia terkejut melihat air mata itu.
“yaak, kau kenapa??”
Soo ra tidak menjawab. Hanya air matanya yang mengalir deras.
Tanpa bertanya lagi kemudian eun joo pergi meninggalkannya.

Kim jong woon. Laki2 itu sedang bermain basket bersama teman2nya saat seorang gadis memanggil2 namanya.
“jong woon oppa!!! jong woon oppa!!!”
“ada apa??” tanya jong woon sambil megerutkan alisnya “bukankah kau kim eun joo??”
“kau ingat??” tanya eun joo sambil mengatur nafasnya.
“tentu saja,,” jawab jong woon sambil tersenyum “kau adik dari eun hye nonna bukan?!”
Eun joo tersenyum “aku senang kau mengingatnya. . .” katanya dengan pipi memerah. Tapi kemudian ia tersentak “aigooo. . .” runtuknya sambil menepuk2 keningnya.
“ada apa??”
“soo ra. . . soo ra. . . dia. . .”
“ada apa dengannya??”
“sebaiknya kau lihat sendiri keadaannya!!”
Tanpa banyak berfikir jong woon membuang bolanya dan berlari dengan cepat menuju kelas soo ra. Ia berhenti dipintu sesaat, mencari dimana soo ra duduk. Banyak mata yang memandangnya tapi ia tidak perduli. Kemudian ia melihat gadis itu duduk dibangku nomor dua dari belakang dekat jendela. Dengan cepat dihampirinya.
“soo ra ah??” panggilnya cemas sambil berjongkok didepan soo ra “apa terjadi sesuatu denganmu??” dipegangnya wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
Gadis itu sudah berhenti menangis, namun bekas air mata itu masih berhenti disana. “ada apa??” tanya jong woon lembut. Namun gadis itu tidak bereaksi apa2.
“ayo ikut aku!!” jong woon beranjak berdiri, menarik tangan gadis itu untuk berdiri juga. Kemudian menggandengnya keluar kelas “eun joo ssi, tolong ijinkan ia pada seongsaengnim!!” katanya sebelum keluar kelas.
“mm. . .” Eun joo mengangguk pelan.
“hei, apa mereka sedang berpacaran??” tanya sulli, teman sekelasnya “aku tidak menyangka jong woon oppa bisa mengenal soo ra. . ..”
Eun joo menoleh dengan galak “bukan urusanmu!!” bentaknya sewot dan langsung ikut keluar kelas.
“kenapa dia yang marah??! Aiiiiissssh…… jong woon oppa, kenapa kau lebih memilihnya daripada akuu??!” runtuk sulli kesal, diikuti dengan gadis2 lainnya.

“apa yang terjadi padamu. . .?? apa dia menyakitimu??” tanya jong woon lembut sambil memegang wajah soo ra. Saat itu mereka sedang ada dihalaman belakang sekolah. Soo ra sedang duduk dibangku taman, dan jong woon berlutut dihadapannya.
Soo ra menggeleng pelan, kemudian terisak. tidak sanggup untuk berbicara. Yang bisa dilakukan jong woon hanyalah memeluknya. Gadis itu membenamkan wajahnya kedalam dada jong woon sambil terisak. “kenyataanlah yang menyakitiku oppa. . .” jawabnya lirih hampir tidak terdengar. Untuk saat ini, jong woon tau, percuma untuk menyuruhnya berbicara.

Hari berikutnya, soo ra tampak lebih baik. Ia sudah bisa kembali seperti biasa walaupun jarang sekali berbicara. Pagi ini, jong woon yang menjemputnya pergi kesekolah.
“bagaimana tidurmu??” sapa jong woon.
“sudah lebih baik” jawab soo ra pelan.
“itu bagus. . .” jong woon tersenyum lembut “baiklah, bibi kami berangkat dulu!!”
“ya, hati2!!”
Mereka berdua diantar sopir jong woon hingga kesekolah. Sebenarnya banyak sekali mata2 yang menatap mereka berdua saat turun dari mobil. Seorang gadis berlari2 kecil kearah mereka. “soo ra ah, kau sudah lebih baik??” tanyanya begitu sampai ditempat mereka.
“aku tidak apa2. . .” jawab soo ra pelan.
“eun joo ssi, bisakah kau menemani soo ra dikelas hari ini??” pinta jong woon.
“oppa. . . apa kau lupa?? Aku ini teman sekelasnya, tentu saja aku akan bersamanya!! Dan satu lagi, jangan panggil aku seperti itu, kedengarannya seperti orang asing!!”
Jong woon tertawa kecil “baiklaaah. . . gomawo eun joo ah!!”
Eun joo memasang senyum manis “cheonmaneyo. . .”
Jong woon mengacak2 rambut eun joo dengan pelan masih sambil tertawa “baiklah, aku pergi kekelas dulu!! Kalian juga!!” katanya kemudian berlalu.
“apakah aku bermimpi. . .??” bisik eun joo yang masih terpana menatap kepergian eun joo. Tangan kirinya terangkat untuk menyentuh rambutnya yang baru saja diacak2 jong woon.

Jung soo memandang ponselnya dengan resah. Berkali2 dihubunginya gadis itu tapi tidak aktif. Bahkan ia sudah menunggu di toko kakeknya, gadis itu tidak muncul. Apa yang terjadi?? Ia bisa frustasi kalau seperti ini!!
Dicobanya sekali lagi, tetap tidak aktif.
“hei, jung soo, kau sedang apa??” tanya temannya, kangin yang tiba2 saja melingkarkan tangannya pada jung soo “ada masalah dengan pacarmu ya??”
Jung soo tidak menjawab. Ia masih sibuk dengan ponselnya.
“ayolaaah. . . “ ajak heechul “untuk apa memikirkan gadis2 sialan itu??! lebih baik kita bersenang2 nanti!!”
“benar!!! Lupakan saja gadis bodoh itu!!”
Jung soo menyingkirkan tangan kangin dengan kasar “KALIAN BISA DIAM TIDAK???” BRAAAK. . . dibantingnya ponsel itu kelantai.
Semua orang dikelas memandangnya kaget. Jung soo menatap ponselnya yang pecah itu diam. Kemudian ia menyambar tasnya dan berjalan keluar dengan cepat meskipun ia tau, ini belum waktunya untuk pulang.
Dan disanalah ia sekarang, didepan sekolah soo ra. ia sedang menunggu waktu pulang sekolah itu. ada yang harus dibicarakan. Ya, ia harus berbicara dengan gadis itu.
Setengah jam kemudian bell pulang berbunyi. Beribu2 murid keluar dari sekolah itu. jung soo memincingkan matanya mencari sosok soo ra.
Akhirnya, ia melihat gadis itu ada disana. Ia sedang keluar dari gedung sekolahnya bersama seorang . . . namja??
Siapa namja itu?? apa itu sepupu yang dikatakannya beberapa hari yang lalu?? Tapi kenapa soo ra tiba2 saja menghindarinya?? Jung soo menyipitkan matanya saat melihat soo ra masuk kedalam sebuah mobil bersama namja itu.
Ia marah, ya, ia benar2 marah. Ia benci kalau harus tidak tau. Kemudian mobil itupun lewat didepannya. Namun gadis itu sama sekali tidak menoleh. Tatapannya lurus kedepan. Saat itulah jung soo merasa semuanya sia2.

Sudah empat hari. . . jung soo sama sekali tidak bertemu dengan soo ra. bahkan gadis itu tidak mengaktifkan ponselnya. Ia benar2 bingung. Ada apa sebenarnya?? Tiba2 saja ia merasa harus memperjelas semuanya. Sekarang!!
Braaakk. . .
Tiba2 saja jung soo berdiri dari duduknya. Semua yang ada didalam kelas menatapnya heran.
“ya?? Ada yang ingin kau tanyakan park jung soo??” tanya seongsaengnim didepan kelas.
Jung soo memandang orang tua itu sejenak, kemudian tanpa bicara apapun ia menyambar tasnya dan berjalan keluar dengan cepat.
“yaakk!! Park jung soo, mau kemana kau??? Hei!!!”
Jung soo terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan seongsaengnim itu. ia benar2 harus tau sekarang juga.
Dan disanalah ia, tepat diambang pintu kelas soo ra. (bagaimana ia bisa tau kelas soo ra?? jawabannya is jung soo memasuki semua kelas yang ada!! Nekat bener ne anak, ckck. . .)
“ya?? Ada perlu apa??” tanya seongsaengnim yang ada dikelas soo ra.
Semua yang ada dikelas menatapnya heran. Tanpa ragu, jung soo berjalan menghampiri soo ra yang tampak shock dan menariknya membawanya keluar.
“a. . .apa yang kau lakukan?? Yaakk, mau kau bawa kemana dia???” teriak seongsaengnim itu.

“ya?? Ada perlu apa??”
Soo ra mendengar seongsaengnim itu bertanya. Kemudian ia mengangkat wajah dan melihat kearah pintu. Seketika tubuhnya membeku. Park jung soo, laki2 itu ada disana, diambang pintu kelasnya, menatapnya lurus.
Soo ra merasakan hatinya kembali berdenyut2 sakit. benar2 perih. . .
Belum sempat ia berfikir, namja itu sudah menghampirinya dan menariknya untuk ikut keluar bersamanya tanpa menghiraukan teriakkan seongsaengnimnya.
Mendung. . . langit diluar terlihat gelap. Titik2 air mulai jatuh dari langit.
“oppa lepaskan aku. . .” pinta soo ra sambil mencoba melepaskan genggaman jung soo. Tapi laki2 itu tidak menoleh dan terus berjalan.
“oppa. . .” soo ra mulai terisak “kumohon lepaskan aku. . .”
Jung soo terus mengajak soo ra berjalan.
“oppa. . . tolong. . . lepaskan aku. . .”
“tidak akan kulepas!!!” teriak jung soo sambil berbalik menatap soo ra “bagaimana bisa kau memintaku untuk melepasmu??”
Soo ra terisak pelan, ia benar2 takut untuk memandang wajah namja itu.
“katakan kepadaku kenapa aku harus melepasmu??”
Tidak ada jawaban. . . gadis itu hanya terisak pelan.
“kenapa tidak menjawab??? Apa karna dia?? Apa karna namja itu???”
Soo ra menggeleng pelan, masih terisak. ia benar2 sulit bernafas sekarang. Gerimis membuat udara menjadi dingin. Rasanya, ada ribuan es yang menancap dihatinya.
“kenapa kau lakukan ini padaku soo ra. . . kenapa?? Apa kau tidak tau kalau aku benar2 mencintaimu. . .??” tanya jung soo lirih.
Soo ra makin terisak. “aku. . . aku. . .aku tidak bisa mencintaimu oppa. . . tidak. . .” soo ra menggeleng pelan “bukan tidak bisa. . . tapi aku tidak boleh mencintaimu. . .” ia terisak hebat.
Jung soo membeku, hingga genggaman tangannya pada gadis itu terlepas tanpa sadar. “apa??” tanyanya gamang.
“aku. . .aku tidak boleh mencintaimu. . . kakak. . .”
“apa maksudmu???” teriak jung soo “siapa yang melarangmu untuk mencintaiku??”
“takdir. . .” jawab soo ra langsung “karna kita. . . karna kita. . .dilahirkan pada rahim yang sama. . . .”
Jung soo membeku. Sementara soo ra benar2 tidak kuat. Ia berbalik dan berlari dari situ, meninggalka jung soo yang masih terpaku ditempatnya sementara air hujan mulai deras.

Soo ra memencet bell rumahnya dengan sisa2 kekuatannya. Tidak lama kemudian pintu terbuka, ibu soo ra muncul dari baliknya.
“soo ra ah??” tanyanya terkejut mendapati putrinya lagi2 pulang dalam kondisi menyedihkan “soo ra ah, apa yang terjadi__ yaak. . . soo ra!!” jeritnya panik saat melihat putrinya tiba2 saja pingsan.

Eun joo menggigit bibirnya dengan cemas. Saat ini ia sedang berdiri didepan kelas jong woon. Sesekali ia menengok kedalam kelas jong woon.
“aiiiissh. . . kenapa seongsaengnim itu lama sekali keluarnyaa. . .” runtuknya pelan sambil memeluk tas soo ra yang tadi ditinggalkan gadis itu.
Begitu seongsaengnim itu keluar, eun joo langsung menghampiri jong woon tanpa memperdulikan sunbae2nya yang menatap heran (garang untuk yang yeoja).
“oppa. . .”
Jong woon yang sedang merapikan bukunya menatap heran pada eun joo “ada apa??”
“soo ra. . . soo ra. .. dibawa kabur oleh seorang namja,,“
“mwo??” jung soo mengerutkan alisnya bingung.
“tadi ada seorang namja yang tiba2 membawa pergi soo ra, sampai sekarang ia belum kembali. . .”
Tanpa banyak bertanya jong woon menarik tangan eun joo pergi. Tapi sampai didepan lobi sekolah tiba2 saja ia berhenti.
“ada apa oppa??” tanya eun joo dengan nafas tersegal.
Jong woon berbalik “kemana kita harus mencarinya dalam hujan seperti ini??” tanyanya bingung. Eun joo-pun ikut bingung.
Kemudian jong woon-pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi rumah soo ra.
“yeobseo. . . bibi?? . . .ne, aku jong woon, apa soo ra pulang kerumah??” sejenak jong woon mendesah lega “ne, aku mengerti, nanti pulang sekolah aku akan kesana!!”
“bagaimana??” tanya eun joo saat melihat jong woon menutup ponselnya.
“dia sudah ada dirumah. . .”
Eun joo mendesah lega, “syukurlah. . .”

To be continue. . .