Tags

, ,


Author : veahwa eunve
Title : heart of the black piano
Genre : sad romance
Cast :
– Park jung soo (leeteuk suju)
– han soo ra
– Kim jong woon (yesung suju)
– Kim eun joo

Part 7

Soo ra tercekat menatap laki2 itu. Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa dicegahnya.
Laki2 itu menatapnya lekat2 “permainanmu sangat bagus. . .” ujarnya “apa kau yg membuat lagu itu? Melodynya sangat indah. . .”
Dada soo ra terasa sesak, bahkan laki2 itu tidak mengingat tentang melody buatannya sendiri.
“kau tau. . .” jung soo berjalan pelan menghampiri soo ra kemudian menyentuh piano hitam itu dgn ujung jarinya “sebenarnya aku ingin sekali bisa memainkannya. . . Tapi sudah jelas aku tidak bisa. . .” jung soo tersenyum pahit.
“ikuti saja hatimu, maka jari2mu akan bergerak sendiri karna melody. . . Karna melody. . . ” soo ra berusaha menahan air mata dan suaranya yg bergetar “karna melody itu berasal dari hati. . .” ucapnya lirih kemudian cepat2 melangkah pergi.
Ia berlari disepanjang koridor. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia menekan dadanya dengan telapak tangannya kuat2, terasa sakit. . .Bagaimana ia bisa menghilangkan rasa itu jika jung soo selalu berada disekitarnya. .
“anyeong haseo oppa,.” sapa eun joo ceria.
“ah kau rupanya, masuklah. . .” jong woon membuka pintu lebih lebar agar gadis itu bisa masuk.
“dimana ajushi dan ajhuma?” tanya eun joo saat melihat rumah itu sepi.
“appa belum pulang, eomma sedang dirumah nenek saat ini. . .”
“oh. . . Lalu soo ra?”
“dia sedang tidur dikamarnya. . . Kesehatannya kurang baik akhir2 ini. . . Tubuhnya sangat lemah, dan beberapa kali pingsan, keadaannya tidak jauh berbeda dgn 4 tahun yg lalu. . .Aku dapat memakluminya, beban yg dibawanya begitu berat. . .
“Eun joo mengeryit heran, “memangnya apa yg terjadi?”
“kita bicara ditaman saja,”
“ah kebetulan aku membawa taboyaki”

Eun joo ternganga tidak percaya setelah mendengar cerita jong woon.
“karna itu eun joo ah, aku minta tolong padamu agar selalu menemaninya, agar ia bisa melupakan hal itu. . .”
“tentu oppa, tapi. . . Siapa laki2 itu?”
Wajah jong woon menjadi muram “aku sendiri belum tau, soo ra tidak mau menyebutkan namanya, dan aku tidak mau memaksanya. . .”
“kasian sekali dia, kalau aku belum tentu bisa kuat sepertinya. . .”
“ya, yg paling penting sekarang adalah membuatnya sedikit melupakan tentang masa lalunya. . .”
“ne,” eun joo mengangguk2 sambil memakan taboyakinya.
Tiba2 jong woon tertawa pelan. Eun joo mengerutkan keningnya “ada apa?”
“ada saos dibibirmu. . .” jawab jong woon sambil mengusap bibir eun joo dgn ibu jarinya sementara eun joo sepertinya jantungnya sudah berhenti. . .

“yaak kim eun joo ssi, kenapa kau senyum2 terus dari tadi? Apa kau sudah gila?”
“kau ini. . . Merusak suasana saja!” saut eun joo sambil cemberut.
“memangnya ada apa?” tanya jung soo yg sudah duduk disebelah eun joo.
“aku baru tau kalau jong woon oppa orang yg romantis. . .”
Mendengar itu jung soo langsung mengalihkan pandangannya dgn kesal. Tanpa sengaja matanya melihat sosok seorang gadis yg sedang berjalan sambil membawa setumpuk buku.”han soo ra, gadis yg aneh. . .” gumam jung soo pelan.
“mm mwo?”
Jung soo menoleh lagi pada eun joo yg mengerutkan kening.
“ani. . . Temanmu han soo ra sangat pintar bermain piano!”
Eun joo tertawa “yak park jung soo ssi, kau jangan mengada ada, dia itu paling malas memainkan alat musik dan sering sekali membolos saat kelas musik,”
“tapi aku melihatnya sendiri ia bermain piano kemarin, bahkan aku sempat berbicara dengannya!”
“jinjja? Itu tidak mungkin. . .”
“untuk apa aku berbohong?!” saut jung soo kesal.
“apa selama diluar negri ia belajar piano?!” gumam eun joo sambil berfikir.
“eun joo ya, apa temanmu itu sedang memiliki masalah yg berat? Aku sering melihatnya menangis. . .”
Eun joo terdiam “itu memang sangat menyakitkan untuknya. . . Dulu, ia mempunyai seorang kekasih. . . Aku tidak tau siapa kekasihnya itu, soo ra orang yg tertutup, hanya aku yg sering mengajaknya berbicara, dan kemarin aku baru tau kalau ternyata kekasih soo ra itu adalah kakaknya sendiri. . .”
Jung soo mengerutkan kening bingung.
“aku tidak tau apa yg terjadi, yang jelas jong woon oppa bilang kalau kekasih soo ra itu ternyata kakaknya sendiri, tapi beda ayah. . . Dan sejak 4 tahun yg lalu hingga kini, keadaanya tidak berubah, atau malah semakin buruk,”
Jung soo terdiam mendengarnya.
“aku harus pergi, sebentar lagi ada kelas, sampai ketemu nanti oppa, anyeong. . .”
“anyeong,”
Jung soo masih terdiam ditempatnya. Ia ingat saat pertama kali soo ra memanggilnya, tiba2 gadis itu memeluknya, tapi ia bilang ia salah orang dan tidak ingin mengatakannya pada eun joo, tapi. . . Entah kenapa saat gadis itu menatapnya, jung soo melihat ada luka dimatanya, dan lagu itu. . . Kenapa jung soo seperti mengenalnya?? Jung soo mengerutkan kening mencoba mengingatnya, bayangan seorang kakek dan seorang gadis melintas diingatannya, tapi kabur tidak jelas, jung soo berusaha mengingatnya lagi namun tiba2 saja kepalanya terasa sakit luar biasa membuatnya mengerang kesakitan. . .

Soo ra terdiam memandang lurus kedepan. Ia menemukan tempat faforite dikampus ini. Sebuah loteng dilantai 4 sebelah gudang. Disitu ada balkon tanpa batas. Memang sedikit mengerikan karna tidak ada pembatasnya, jika terjatuh kebawah bisa dipastikan nyawa akan melayang. Tapi dari tempat ini juga, luasnya kota seoul bisa terlihat.Soo ra duduk tidak jauh dari tepinya. Ia memeluk kedua lututnya dan membiarkan angin membelai rambutnya yang panjang. Sudah hampir sejam ia duduk disitu, memandang ruang tak terbatas didepannya. Ia suka kesunyian dan keheningan ini. Karna ditempat inilah ia tidak perlu berpura2, karna ditempat inilah ia tidak perlu tersenyum, karna ditempat ini juga ia bisa menangis, mengeluarkan semua rasa sakitnya tanpa diketahui orang lain.Ia lelah berpura2. . . Sungguh ia lelah. Hingga sekarangpun ia tak tau sedang hidup dimana, mimpi ataukah nyata?! Semuanya terlalu menyakitkan, sangat menyakitkan. . .
Sempat terlintas difikirannya untuk mengakhiri, ia bisa saja melompat kebawah sekarang juga, tapi tak bisa. . . Ia tidak bisa melakukannya karna rahasia itu ada padanya. . . Dan hingga kini ia belum sanggup untuk mengatakan itu kepada ibunya. . .
Takdir. . . Seperti apa permainannya? Kenapa tidak tertebak pula alurnya?? Tapi begitulah takdir. . . Jarak terdekat yg begitu jauh dan jarak yg dirasa jauh sebenarnya teramat dekat. . .
“sedang apa kau disini?”
Soo ra tersentak dan menoleh dengan cepat kebelakang. Laki2 itu berjalan menghampirinya dan duduk disebelahnya sambil menjulurkan kakinya sehingga sebagian kakinya menggantung.
“kau suka tempat ini?” tanyanya sambil menatap kearah langit yg luas “aku juga. . .”
Soo ra hanya bisa menatapnya, ia terlalu terkejut hingga tak mampu berbicara.
“aku sering tidur disini kalau bosan. . . Tidak ada yg bisa menggangguku disini. . . Kupikir hanya aku yg tau tempat ini, bahkan eun joo pun tidak tau!” katanya sambil menatap lurus kedepan
“tapi sekarang kau juga tau. . . Jadi ini adalah rahasia kita berdua. . .”
Soo ra tercekat, air matanya jatuh begitu saja. Kenapa ada begitu banyak rahasia diantara mereka? Piano itu. . . Tempat itu. . . Cinta itu. . . Tempat ini. . . Dan kenyataan itu. . .
“bagaimana menurutmu?” tanya jung soo tiba2 sambil menoleh. Mata mereka saling bertemu.”kenapa menangis?” tanya jung soo bingung saat melihat bekas air mata itu “apa kata2ku salah??”
Cepat2 soo ra menggeleng dan mengusap air matanya “aniyo. . .” jawabnya pelan kemudian memandang lurus kedepan lagi.
“soo ra ya, apa aku boleh menanyakan beberapa hal kepadamu??”
“apa?”
“sejak kapan kapan kau berteman dgn eun joo?”
Soo ra terdiam sejenak “sejak senior high school” jawabnya kemudian.
“aku mengenal eun joo saat masuk universitas ini. . . ”
Ya tuhan, jadi ini soal eun joo?! Soo ra menggigit bibir bawahnya, dadanya tiba2 terasa sesak.
“soo ra ya, apa dulu. . . Apa dulu kita saling mengenal?”
DEG. . .Jantung soo ra terasa berhenti berdetak. Ia menelan ludah. Apa yg harus dijawabnya??
“aniyo. . . Kita tidak pernah kenal” bohongnya.
“benarkah? Lalu kenapa saat pertama kali ki__”
“bukankah sudah kubilang kalau aku salah orang?!” potong soo ra cepat.
“tapi kenapa aku merasa kau memang mengenalku. . .??” tanya jung soo pelan “seolah2 ada yg kau sembunyikan dari kami. . .”
Lidah soo ra terasa kelu. Ia tidak tau harus menjawab apa
“aku. . . Aku pernah mengenal seseorang yg bilang kepadaku ‘melody adalah alunan yg berasal dari hati. . .sama seperti cinta. . .’ namun kini, orang itu tidak ingat tntang melody itu. . . Tidak tentang masa lalunya. . . Tidak tentang orang2 terdekatnya. . . Tidak tentang aku. . . Bahkan tidak tentang dirinya sendiri. . .Aku hanya berharap bisa mengatakan kepadanya ‘sekali saja dalam kekosonganmu. . .pernahkah kau mengingat sedikit saja tentangku? Walau itu hanya namaku atau melody yg pernah ada, karna aku selalu mengingatmu. . .'”
“apakah orang itu aku?”
DEG. . .Jantung soo ra terasa berhenti.Cepat2 ia menggeleng sambil tersenyum pahit.
“tentu saja bukan. . .”
“aku tidak tau apa yg terjadi. . . Tapi setiap kali kau menatapku, seperti ada luka dimatamu. . .”
Soo ra menatap terkejut.
“jujur kukatakan, kau sepertinya tidak asing bagiku! Saat melihatmu aku merasa ada yg aneh dgnku. . . Dan aku juga merasa pernah mengenal lagu itu. . . Lagu yg pernah kau mainkan . . . Karna itu aku bertanya, apa benar dulu kita tidak saling kenal??”
Luka itu mulai berdarah lagi. . . Perih. . .soo ra hanya bisa menatap nanar. Kepalanya terasa pusing sekarang. Dadanya terasa sesak seolah2 ia perlu udara lebih banyak.
“aku harus pergi. . .” gumamnya kemudian cepat2 melangkah pergi.
Begitu sampai diluar air matanya tumpah. Ia berjalan disepanjang koridor sambil menahan rasa sakitnya. Kepalanya berdenyut2 nyeri saat ini. Pandangannya kabur.
“yaak soo ra, ada apa denganmu???” didengarnya suara eun joo yg berteriak nyaring.
Detik berikutnya tiba2 saja semuanya menjadi gelap. . .

“yaak soo ra, ada apa denganmu???” jerit eun joo saat melihat temannya tiba2 ambruk.
Dihampirinya soo ra dengan cemas.”soo ra ya, bangun lah, soo ra . . . Eotteokeh?!” gumam eun joo panik sambil menggoyang2 tubuh soo ra.
Cepat2 dihubunginya jong woon.
“yaak oppa!!” teriaknya begitu telp tersambung “soo ra sedang pingsan saat ini, kau cepatlah kemari. . .mwo? Tunggu sebentar. . . Kami ada di lantai 4 didekat perpustakaan,”
Telp terputus, 5 menit kemudian jong woon tiba dgn nafas tersegal.
“kenapa dia?” tanya laki2 itu.
“aku tidak tau, saat aku melihatnya ia sudah jatuh pingsan!”
“kita bawa keruang kesehatan. . .”
Dengan cepat jong woon mengangkat tubuh soo ra dan melarikannya keruang kesehatan.
Jong woon memberi sedikit alkhohol agar soo ra sadar. Tidak lama kemudian gadis itu bergerak perlahan dan mulai membuka mata.
“soo ra apa kau baik2 saja?” tanya jong won cemas.
“aku kenapa? Kepalaku sakit. . .”
“biar kuambilkan minum. . .” saut eun joo kemudian beranjak pergi.
“aku sedih jika terus2an melihatmu seperti ini soo ra. . . Sampai kapan kau akan terus merapuhkan dirimu sendiri??”
“oppa. . .”
“kau bisa merubah kenyataan soo ah” jong woon meraih tangan soo ra dan menggenggamnya “bisakah kau berpaling sedikit demi sedikit untuk menatapku?? Karna aku menyanyangimu soo ah, aku tersiksa jika melihat keadaanmu yg seperti ini. . . Aku. . . Dari dulu aku. . . Aku mencintaimu soo ah, saranghaeyo. . .”
Soo ra menatap terkejut. Tapi ia tidak menemukan kebohongan dimata jong woon.
“cobalah untuk menatapku dan merubah kenyataan. . .” ucap jong woon lagi.
Sudah terlalu lama ia memendam perasaannya. Dari dulu ia mencintai gadis ini, tapi terlambat begitu ia melihat foto soo ra bersama namjachingunya dulu.
Tiba2 jong woon tersentak. Foto itu. . . Namja itu. . . Begitu mirip dengan. . .park jung soo??

Eun joo kembali dengan segelas air putih. Begitu ia akan membuka tirai itu tangannya membeku saat mendengar kata2 jong woon.
“bisakah kau berpaling sedikit demi sedikit untuk menatapku??Karna aku menyayangimu soo ah, aku tersiksa jika terus menerus melihat keadaanmu yg seperti ini. . . Aku. . . Dari dulu aku. . . Aku mencintaimu soo ah, saranghaeyo. . .”
Tangan eun joo bergetar. Dadanya terasa ditikam ribuan pisau, benar2 menyakitkan.
“cobalah menatapku dan merubah kenyataan. . .” lanjut jong woon.
Gelas yg dipegang eun joo hampir saja jatuh. Tidak, ia harus menahannya. Ia tidak boleh menangis sekarang. . .
Eun joo memantabkan hatinya sejenak kemudian menyibak tirai itu.
“oppa ini airnya. . .” ucapnya senormal mungkin berusaha menyembunyikan suaranya yg bergetar.
Ia melihat soo ra menarik tangannya dengan cepat dari genggaman jong woon.
Jong woon mengambil air itu kemudian membantu soo ra bangun untuk meminumnya.
Sakit. . . Benar2 sakit. . . Bahkan jong woon tidak mengucapkan terima kasih ataupun tersenyum memandangnya.
Perlahan eun joo mundur dan melangkah pergi. Ia tidak bisa menahan lagi. Air matanya jatuh.

Jung soo masih diam ditempatnya. Pikirannya kacau saat ini. Ia sangat yakin kalau soo ra ada hubungan dengan masa lalunya. Tapi kenapa eun joo tidak tau? Bukankah dia bilang mereka berteman sejak senior highschool?! Sebenarnya apa hubungannya dgn gadis itu? Bahkan jong woon-pun baru mengenalnya saat dikenalkan oleh eun joo.
Apa tidak ada seorangpun yg tau bahwa mereka saling mengenal? Tapi soo ra bilang mereka tidak saling kenal? Lalu kenapa saat pertama kali soo ra melihat jung soo tiba2 saja ia memeluknya? Apa yg sebenarnya terjadi? Apa yg tidak diingatnya??Tiba2 saja kepala jung soo terasa sakit. Bayangan seorang gadis dan laki2 yg sedang bermain piano melintas diingatannya. Tapi kabur, samar. . . Ia tidak bisa melihat dgn jelas siapa mereka dan itu membuat kepalanya semakin sakit.

“oppa, kenapa aku tidak melihat eun joo sama sekali dua hari ini?” tanya soo ra sambil menyesap capucinonya.
Jong woon menoleh “mm?? Kau benar. . .” gumamnya.
Sudah 2 hari ia tidak melihat gadis itu. Kemana dia? Tidak biasanya, sejak diruang kesehatan itu tiba2 saja ia menghilang. Ia juga tidak menghubunginya sama sekali. Biasanya ia akan mengiriminya pesan agar tidak lupa makan bila ia tidak sempat membuatkan bekal untuknya. Lalu kemana gadis itu sekarang??
“apa dia sedang sibuk?” tanya soo ra.
“kenapa tanya aku?”
“kau kan yg selalu bersamanya!!”
Ah benar juga, selama ini eun joo selalu ada disekitarnya.
“mungkin ia memang sibuk. . .” gumam jong woon.
“aku harus kembali sekarang. . .” kata soo ra sambil beranjak dari duduknya.
“aku ikut!” saut jong woon.

“kenapa kertasmu masih kosong?” tanya jung soo yg duduk disebelah eun joo dihalaman kampus.
“aku tidak bisa menggambar hari ini. . .”
“kenapa? Kau ada masalah?” tanya jung soo lagi.
Eun joo tidak menjawab. Ia memandang lurus kedepan kemudian menggeleng pelan, “aniyo. . .”
“ini tidak biasanya. . .” gumam jung soo “akhir2 ini kau tidak pernah menyebut nama jong woon, kau juga tidak menemuinya, apa kalian ada masalah?”
“diamlah, aku tidak ingin bicara!”
Jung soo menyeringai. Ia senang menggoda gadis itu “apa. . . Cintamu ditolak?”
Eun joo menoleh dan melotot padanya
“ayolaaah. . . Kan masih ada aku,,” jung soo tertawa kecil.
Tiba2 eun jo beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
“yaak, kau mau kemana?”
“kau menyebalkan!” saut eun joo tanpa menoleh.

Jong woon sedang mencuci tangannya diwastafell. Didengarnya seseorang keluar dari salah satu kamar dan berdiri disebelahnya untuk mencuci tangan. Park jung soo. . .

Jong woon menatap jung soo dari cermin didepannya.
“park jung soo ssi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. . .” katanya tiba2.
Jung soo mengerutkan kening “apa ini tentang eun joo?”
“bukan, ini tentang soo ra. . .”
Jung soo menghentikan kegiatannya kemudian menoleh “soo ra ssi?”
“benar! Aku hanya ingin bilang, jauhi dia! Kalau bisa jangan muncul dihadapan soo ra lagi!”
“kenapa?” tanya jung soo tenang.
“kau tidak perlu tau!”
“tentu saja aku harus tau, ini menyangkut diriku!” saut jung soo tegas “kenapa aku harus menjauhi soo ra?!”
Jong woon terdiam menatap jung soo, apa yg harus dikatakannya?!
“apa soo ra ada hubungannya dengan masa laluku?” tanya jung soo lagi.
“mwo?”
“entah kau tau ini atau tidak, tapi dulu aku pernah mengalami kecelakaan yg membuatku hilang ingatan, apa soo ra ada hubungannya dengan masa laluku? Karna terus terang saja aku merasa mengenalnya. . .”
Kini jong woon bingung harus bilang apa.
“aku memang tidak tau. . . Tapi aku akan mencari tau!” kata jung soo kemudian berlalu.
“kau bisa membunuhnya jung soo ssi. . .” ucap jong woon lirih sambil memandang pintu tempat jung soo menghilang.

Jong woon tengah berjalan keluar kampus. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya dilaboratorium saat hari sudah gelap. Tanpa sengaja ia melihat eun joo yg masih duduk dibangku taman kampus sendirian.
Dihampirinya gadis itu kemudian duduk disebelahnya. Sepertinya dia sedang melamun hingga tidak menyadari kehadiran jong woon.
“eun joo ya, sedang apa kau disini?” tanya jong woon pelan namun mampu membuat gadis itu terkejut.
“oppa?? Sedang apa kau disini?”
“aku menanyakan hal itu kepadamu!”
“a. . .aku. . .” eun joo tidak meneruskan kalimatnya. Ia hanya diam.
“kemana saja kau akhir2 ini? Kenapa aku tidak melihatmu? Apa kau sibuk?”
“ne, aku sibuk!”
“padahal aku ingin meminta bantuanmu. . .”
“apa itu?”
“kau tau kan keadaan soo ra akhir2 ini memburuk. . .”
Eun joo menggigit bibir bawahnya sambil memalingkan wajah. Soo ra lagi?! Dadanya kembali terasa sesak.
“dan aku ingin membuatnya tersenyum. . .” lanjut jong woon “kau sudah berteman lama dgnnya kan? Apa kau tau apa yg disukainya?”
Eun joo semakin menggigit bibirnya. Sakit. . . Air mata mulai mengenang dimatanya. Tanpa berkata apa2 ia beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
“yaak eun joo, kenapa tiba2 pergi??” teriak jong woon sambil menyusulnya.
“ada apa denganmu?” tanya jong woon sambil menahan tangan eun joo.
“lepaskan oppa. . .” pinta eun joo. Air matanya menetes kali ini.
“apa aku salah bicara?” tanya jong woon.
Eun joo menggeleng sambil mencoba melepaskan tangan jong woon.
“kenapa kau menangis?”
“lepaskan aku oppa. . . Sudah cukup kau menyakitiku. . .”
Tubuh jong woon membeku “menyakitimu. . ??”
“lepaskan aku oppa. . . ” Pinta eun joo lirih.
“apa maksudmu??”
Eun joo menggeleng pelan “aku bodoh oppa. . . Aku bodoh selama ini sudah menyukaimu, sedangkan kau hanya menyukai soo ra. . . Aku bodoh sudah menyukaimu kurang lebih hampir lima tahun, ternyata yg kau lihat hanya soo ra. . . Kau tidak pernah menatap aku yg selalu ada disisimu. . .aku yg selalu tersenyum untukmu. . . Aku yg selalu menatapmu, aku yg selalu mengagumimu, dan aku yg selalu mencintaimu. . .” air mata eun joo kini mengalir deras.
“kau. . . Mencintaiku. . .??”
“bahkan kau tidak pernah menyadarinya. . .” eun joo menarik tangannya. Jong woon yg membeku tidak mampu menahan lagi.
“aku benar2 bodoh. . . ” eun joo berbalik dan melangkah pergi meninggalkan jong woon yg masih terpaku ditempatnya.

“aaaaaaargh. . .” untuk kesekian kalinya jong woon berteriak kesal.
Lembaran2 kertas yg berserakan didepannya membuatnya pusing. Tapi bukan itu yg mengacaukan pikirannya. Pernyataan eun joo semalamlah yg membuat pikirannya kacau. Ia teringat lagi saat2 bersama gadis itu. Ya, sekarang ia baru menyadari betapa banyak perhatian eun joo kepadanya dari dulu. Kenapa ia bisa tidak sadar?? Selama ini ia beranggapan bahwa eun joo baik kepadanya hanyalah karna ia juga baik pada eun joo, tapi ternyata. . .
Kruuuk. . .
kruuuk. . .
Perut jong woon berbunyi. Ia baru sadar kalau belum makan apapun dari pagi. Dan ini sudah lewat tengah hari. Biasanya ia tidak pernah terlambat makan karna ada eun joo yg mengingatkannya, dan eun joo juga yg selalu membuatkannya bekal makan siang saat ia tidak sempat kekantin karna sibuk dgn tugas kuliahnya. Tapi sekarang, gadis itu bahkan tidak mau menemuinya. Ia ingat kata2 eun joo tadi pagi
“jangan menemuiku lagi oppa. . . Kau akan menyakitiku. . .”
Saat itu jong woon benar2 tidak tau harus berkata apa.
“aaaaaargh. . .” ia mengerang lagi. Diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya.
“ada apa denganmu jong woon ssi?”Jong woon mendongak dan mendapati temannya satu jurusan, uee sedang menatapnya.
“ani. . .” jawab jong woon lemah “kau dari mana?”
“aku baru saja dari ruangan lee seongsaengnim”
“duduklah sebentar, aku ingin bertanya,” pinta jong woon.
“ada apa?” tanya uee sambil duduk didepan jong woon.
“mmm. . . Aku. . . Aku ingin bertanya. . . Apa. . . Apa yg kau lakukan saat kau menyukai seorang namja dan. . . Dan kalian saling mengenal baik. . .”
Uee mengerutkan keningnya “sudah pasti aku akan memberinya perhatian. . .”
“seperti?”
“hmm. . . Mungkin mengingatkannya kalau sudah waktunya makan, memperhatikan hal2 yg disukainya dan yg tidak disukainya, meminta bantuannya untuk mengajariku, juga membawakannya makanan atau bekal. . .Dan, masih banyak lagi. . .”
“apa. . . Apa menurutmu namja itu akan sadar kalau kau menyukainya??”
Uee tampak berfikir sebentar “mungkin iya. . . Mungkin juga tidak, karna namja biasanya tidak peka dan tidak pandai menebak. . .”
“itulah masalahnya!!!” seru jong woon keras tiba2, membuat uee mengerjap kaget.
“waeyo??” tanya uee bingung.
Jong woon yg tersadar langsung bersikap biasa “aniyo. . .”
“tapi tergantung waktu juga. . . Lama2 dia pasti akan sadar juga. . .”
“kalau. . . Kalau waktunya sudah hampir 5 tahun??”
“itu artinya si namja yg buta, mati rasa!!” tegas uee langsung tanpa sadar membuat jong woon terheyak.
“aku ragu ada gadis yg bisa bertahan selama itu. . . Kalaupun ada pasti gadis yg luar biasa sekali. . .” tambah uee membuat hati jong woon semakin menciut.
Soo ra sedang berjalan menuruni tangga tiba2 tanpa sengaja seseorang berlari menaiki tangga dan menyenggolnya hingga membuat map2 yg dibawanya jatuh. Kertas2 yg ada didalamnya berhamburan keluar. Ia berjongkok dan merapikan kembali semua dokumennya. Seseorang membantunya merapikan dan mengulurkan tumpukan kertas itu pada soo ra. Soo ra menerimanya dan mendongak. Seketika itu juga tubuhnya membeku.
Park jung soo, laki2 itu sedang tersenyum menatapnya.
“kamsahamnida. . .” ucap soo ra pelan.
“lain kali berhati2lah. . .” katanya.
Soo ra hanya diam saja, meskipun ia tau mapnya jatuh bukan karna salahnya.
“aku pergi dulu, anyeong. . .” kata soo ra cepat.
“kenapa kau tidak pernah kebalkon lagi?” tanya jung soo membuat gerakan tubuh soo ra berhenti.
“a. . .aku sedang sibuk. . .”
“kenapa akhir2 semua orang sedang sibuk? Eun joo juga, dia bilang tidak ingin diganggu, huuft. . .” jung soo menghembuskan nafas keras2.
“eun joo. . . Kau tau dimana dia?” tanya soo ra “dia tidak mengangkat telphoneku, juga tidak membalas pesanku. . .”
“entahlaaah. . . Sejak kita bertemu dibalkon waktu itu aku melihatnya selalu murung,”
Soo ra berfikir sejenak. . . Berarti itu sejak diruang kesehatan. . .
Tiba2 soo ra tersentak, saat itu. . . Saat itu jong woon. . . Mengatakan perasaannya pada soo ra, apa ia mendengarnya? Ia pasti salah paham. Jong woon. . . Soo ra harus menemui laki2 itu.
“aku harus pergi!” kata soo ra cepat dan langsung meninggalkan jung soo sendiri.

“oppa. . .” panggil soo ra dgn nafas tersegal.
Jong woon, laki2 itu sedang duduk dibangku dgn sebuah buku terbuka ditangannya. Tapi sepertinya ia sedang melamun, bahkan ia tidak menyadari kehadiran soo ra.
“yaak oppa!!!” teriak soo ra.Jong woon tersentak kaget hingga buku yg dipegangnya jatuh.
“ada apa?” tanyanya bingung sambil menatap soo ra.
“kau tau dimana eun joo?” tanya soo ra sambil duduk disebelahnya.
Jong woon memungut bukunya kemudian menggeleng pelan.
“oppa. . . Apa kau tau kalau selama ini eun joo menyukaimu?” tanya soo ra hati2.
“aku baru tau kemarin. . .” jawab jong woon lemah.
“darimana kau tau?”
“aku sudah menyakitinya soo ra ya, ia tau kalau aku. . . Aku mencintaimu. . .”
“tidak oppa. . .kau tidak mencintaiku. . .”
Jong woon menoleh menatap soo ra “tapi aku memang men__”
“ani oppa. . .” potong soo ra cepat “kau menyayangiku tapi tidak mencintaiku. . . Fikirkanlah baik2, siapa yg sebenarnya kau butuhkan. . .
” soo ra tersenyum kemudian beranjak pergi. Meninggalkan jong woon yg termangu ditempatnya.