Tags

, ,


Author : veahwa eunve
Title : heart of the black piano
Genre : sad romance
Cast :
– Park jung soo (leeteuk suju)
– han soo ra
– Kim jong woon (yesung suju)
– Kim eun joo


Part 8

“eun joo ya, apa kau baik2 saja??” tanya jung soo cemas. “akhir2 ini kau selalu murung dan terlihat pucat. . .”
Eun joo menggeleng pelan. Keringat dingin mengalir ditengkuknya. Tangannya memegang perutnya yang terasa perih. Semakin lama semakin perih, eun joo menggigit bibir bawahnya sambil meremas perutnya yang luar biasa sakit.
“yaak, eun joo ya, ada apa denganmu?? Apa penyakit maghmu kambuh??” tanya jung soo panik sambil memegang bahu gadis itu.
Belum sempat eun joo menjawab, matanya sudah tertutup dan ia jatuh pingsan.
“yaak eun joo ya!!!”
Tanpa ragu jung soo mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya kerumah sakit. ada apa dengannya? Kalau maghnya kambuh seperti ini pasti ia sedang tertekan. Dan sudah dua minggu ia murung.
jung soo sedang menunggu dokter saat orang tua eun joo datang. “jung soo ya, apa yang terjadi??” tanya ibu eun joo cemas.
“tiba2 saja dia pingsan ajhuma, jadi langsung kubawa kemari. . .”
“apa kata dokter??” tanya ayah eunjoo.
“dokter belum keluar. . .”
Beberapa detik kemudian pintu terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan itu.
“dokter apa yang terjadi??” tanya ibu eun joo langsung.
“dia baik2 saja. . . sekarang sudah sadar. . .” jawab dokter itu ramah “maghnya kambuh, dan kali ini lebih serius, kalau dibiarkan terus, dapat berakibat pada sesuatu yang buruk, pastikan pola makannya teratur!!”
“baik dokter. . .”
“dia sudah boleh dilihat, saya permisi dulu!!”
“terima kasih dokter. . .”
Orang tua eun joo dan jung soo masuk kedalam ruangan itu. ditempat tidur itu eun joo terbaring lemah. Seorang suster sedang memeriksa alat infusnya, kemudian keluar dan menutup pintu.
“eomma. . .appa. . .”
“eun joo ya, sudah eomma bilang kan kau harus makan teratur!! Lihat dirimu, akhir2 ini kau jarang makan dan selalu mengurung diri dikamar, sebenarnya ada apa denganmu??” omel ibu eun joo panjang lebar.
“mianhae eomma. . .” jawab eun joo lemah “oppa. . . terima kasih sudah membawaku kemari. . .”
Jung soo hanya menjawabnya dengan senyuman.
“eomma. . . aku ingin sesuatu yang hangat, bisakah kau membelikanku bubur??” pinta eun joo.
“baiklah, akan kubelikan, lagipula kau perlu makan saat ini!!” jawab ibu eun joo.
“appa juga harus mengurus adsministrasi dulu, jung soo ya, kami titip eun joo sebentar!!”
“ne, ajhusi!!”
Kemudian kedua orang tua eun joo keluar kamar.
“oppa mianhae merepotkanmu. . .” kata eun joo pelan.
Jung soo menghampiri gadis itu dan mengacak2 rambutnya lembut “kau kan memang selalu merepotkanku!!”
Eun joo mengerucutkan bibirnya mendengar itu.
“sebenarnya ada apa denganmu?? Apa karna kim jong woon?? Dan jangan bilang tidak ada apa2, aku mengenalmu dengan baik eun joo ya!!”
Wajah eun joo berubah menjadi sendu saat nama itu disebut. “kau benar oppa. . . cintaku bertepuk sebelah tangan. . .” jawabnya lirih. Air matanya sudah hampir jatuh.
“apa maksudmu??”
“selama hampir lima tahun aku mengenalnya oppa. . . dan sejak awal aku bertemu dengannya aku sudah menyukainya. . . dan baru kutau saat aku kelas dua kalau ia adalah sepupu soo ra, dan karna soo ra juga aku bisa dekat dengannya. . . selama itu aku selalu mencoba untuk mengambil hatinya. . . ia orang yang populer oppa, bisa dekat dengannya bagaikan mimpi untukku. . . tapi kemarin. . . ia sudah menghancurkan mimpi itu. . .”
Air mata eun joo mengalir deras “ia menyukai soo ra oppa. . . ia mencintainya. . . dan baru kusadari kalau ternyata selama ini aku tidak ada sedikitpun dihatinya. . .”
Jung soo terdiam melihatnya. Ia juga menyukai gadis didepannya ini. . . tapi entah kenapa saat ini hatinya berkata kalau rasa sukanya itu berbeda. . . bukan rasa suka untuk mencintai. . .
“jangan menangis. . .” kata jung soo sambil mengusap pipi eun joo lembut “dia terlalu bodoh untukmu. . . dan terlalu bodoh untuk dirinya sendiri!!”
“maksud oppa??”
Jung soo menggeleng pelan. “aku akan membuatnya pintar” ia tersenyum setan.
“m. . mwo?”
“kau tunggu saja disini!! Sebentar lagi ajhuma datang!! Ok?! Nanti aku kembali lagi!!” jung soo mengusap kepala eun joo lembut kemudian pergi meninggalkan eun joo yang masih bingung.

“oppa. . . apa ini tidak apa2??” tanya soo ra cemas “hampir dua minggu aku tidak melihat eun joo, dan perasaanku tidak enak!!”
“…..”
“yaak oppa!!! kau mendengarkanku tidak???” teriak soo ra keras membuat jong woon terlonjak kaget.
“ada apa??” tanyanya bingung.
Soo ra mendesah “aiiish. . . ternyata dari tadi kau sedang melamun!!”
“kau bilang apa tadi??” tanya jong woon lagi.
“apa menurutmu eun joo tidak apa2?? Dia sudah hampir dua minggu tidak terlihat!!”
“aku tidak tau. . .” gumam jong woon.
“akhir2 ini kau sering melamun, apa yang kau pikirkan?? Apa karna eun joo??”
“aku tidak tau. . . entahlah. . .”
“kim jong woon ssi!!!”
Soo ra dan jong woon sama2 menoleh ke asal suara. Park jung soo, laki2 itu berjalan dengan cepat menghampiri jong woon dan. . . .
Bough. . . ia menghantam pipi kiri jong woon keras. Soo ra memekik keras.
“park jung soo ssi, apa yang kau lakukan??”
“kau benar2 brengsek kim jong woon!! Kau sudah membuat eun joo masuk rumah sakit?!!”
Jong woon menatap kaget “rumah sakit??”
“ya, dan itu semua gara2 kau!! kau sudah membuatnya terluka, dan sekarang kau membuatnya masuk rumah sakit, kenapa tidak kau bunuh saja dia??”
Tanpa banyak bertanya jong woon langsung berlari ketempat mobilnya diparkir dan segera pergi kerumah sakit.
“hh. . .laki2 bodoh!!” gumam jung soo pelan. “kau kenapa??” tanyanya pada soo ra yang masih membekap mulutnya kaget.
“bukankah aku harus membuatnya pintar??” tanya jung soo lagi “lihat, dia bahkan tidak bertanya kepadaku eun joo ada dirumah sakit mana!!” jung soo tertawa pendek.
“kau benar. . .” gumam soo ra pelan. “lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau menyukai eun joo?”
Jung soo meringis sambil menggaruk2 kepalanya “bukankah dua orang yang saling mencintai itu sebaiknya bersatu?!”
Soo ra merasa ada pisau yang menghujam tepat kejantungnya. Benarkah orang yang saling mencintai seharusnya bersatu?? Benarkah?? Meskipun itu cinta terlarang sekalipun??
Air matanya mulai mengambang dipelupuk matanya. Ia menggigit bibirnya kuat2. Apa kita bisa bersatu oppa. . .?? hatinya ingin mengatakan hal itu, namun terlalu sakit. terlalu perih. . .
“ada apa denganmu??” tanya jung soo heran “apa aku salah bicara??” tanyanya bingung.
Soo ra menggeleng pelan. Ketika air mata itu jatuh, cepat2 ia berbalik dan berlari pergi. . .

Jong woon mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh tapi sampai ditengah jalan ia tersentak. Ia tidak tau dirumah sakit mana eun joo dirawat. Kemudian ia berpikir cepat. Rumah sakit yang dekat dengan kampus ada dua, disebelah utara kampus dan satunya disebelah selatan. Karna ia sekarang menuju selatan, maka ia pergi kerumah sakit yang berada diselatan. Tapi ketika ia sampai disana tidak ada pasien yang bernama eun joo. Jadi ia pergi kerumah sakit satunya.
Begitu sampai ia langsung berlari masuk kedalam. Ternyata benar, eun joo ada dirumah sakit ini. setelah mendapatkan nomor kamar eun joo ia langsung berlari menuju kamar itu.
Braaak. . . dibukanya pintu dengan keras. “eun joo ya!!”
Eun joo yang sedang duduk memeluk lututnya melamun memandang keluar jendela tersentak kaget saat seseorang membuka pintu kamarnya yang ternyata jong woon. “oppa??”
Laki2 itu menghampirinya dan menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. “kau tidak apa?? Apa yang terluka??” tanyanya panik.
“aku tidak apa2, hanya maghku yang kambuh, besok juga sudah boleh pulang. . . dari mana kau tau aku ada disini?? Oh, bibirmu berdarah oppa. . .” eun joo memegang wajah jong woon melihat luka itu.
Jong woon memegang tangan gadis itu sambil menghela nafas lega “kenapa bisa kambuh?? Apa makanmu tidak teratur?? Kau selalu mengingatkanku untuk makan, tapi kau sendiri malah sakit!!”
“mianhae oppa. . .”
“kenapa minta maaf kepadaku??”
“karna membuatmu khawatir. . .” air mata eun joo menetes begitu saja.
Jong woon menggeleng pelan sambil menghapus air mata dipipi eun joo. “jangan menangis lagi karna aku. . . air matamu terlalu berharga untuk orang sepertiku. . . mianhae eun joo ya. . . mianhae. . . “ ucap jong woon penuh sarat penyesalan.
“kau tidak perlu minta maaf oppa. . . aku menghargai perasaanmu. . . maaf karna aku sudah kekanak2an. . .”
“ssst. . .kau benar eun joo ya, kau benar2 bodoh. . . kau bodoh karna menyukai orang bodoh sepertiku. . . selama ini aku tidak pernah bisa melihatmu yang selalu ada disisiku. . . aku mengharapkan orang yang berada jauh dariku sedangkan ada kau yang ada disisiku. . .maafkan aku eun joo ya. . . aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. . . kumohon, jangan pergi dari sisiku. . . karna tanpamu aku menjadi kacau. . .”
Eun joo menatap kaget “oppa. . . apa kau serius??”
“aku serius. . . amat sangat serius. . .”
“tapi soo ra lebih membutuhkanmu. . .”
Jong woon menggeleng pelan “ia memang membutuhkanku. . . tapi aku membutuhkanmu. . . saranghaeyo eun joo ya. . .” [dicopy dari omongan seseorang kepadaku setahun yang lalu *mewek*]
Air mata eun joo semakin deras “nado saranghae oppa. . .”
“gomawo. . .” bisik jong woon pelan kemudian mendekat dan melumat bibir gadis itu dengan lembut.

“paman, apa yang kau bawa itu??” tanya jung soo saat melihat paman jung, orang kepercayaan ayahnya sedang membawa sebuah kardus berukuran besar.
“oh, ini guci yang akan ditaruh dirumah lama tuan, ada orang yang akan membeli rumah itu, dan besok dia akan datang untuk melihat!!”
“kau akan kesana sekarang??”
“ya”
“boleh aku ikut??” tanya jung soo. Selama ini ia tidak tau kalau ternyata ia pindah rumah. Mungkin rumah yang dulu bisa mengembalikan sedikit kenangan masa lalunya.
“tentu saja kalau tuan mau. . .”
Jung soo menatap rumah itu. tidak ada yang istimewa. Sementara paman kim sibuk dengan urusannya, ia berkeliling melihat2 rumah itu. dilihatnya setiap ruangan hingga sampai kepada sebuah kamar. Dibukanya kamar itu. kamarnya yang dulu. . .
Jung soo menatap setiap sudut kamar itu. ia berjalan pelan menghampiri meja tulisnya. Tapi keningnya berkerut saat melihat tumpukan buku disitu. Diambilnya salah satu. Dibukanya. Ternyata itu adalah buku musik, dan didalamnya ada kumpulan not2 untuk bermain piano. Ia melihat buku lainnya. . . ada buku musik lagu2 mozart, dan semuanya tentang piano. Ia mengembalikan lagi buku itu dengan bingung kemudian mulai membuka2 lacinya yang lain, tidak ada yang istimewa, satu2nya barang yang menarik perhatiannya hanya buku2 itu.
Dibawanya buku2 itu kemudian ia duduk ditepi tempat tidur. “piano. . .??” gumamnya bingung. “apa aku dulu menyukai piano?? . . .apa aku dulu bisa memainkannya. . .??” tatapannya menerawang mencoba mengingat2 apa yang sudah terjadi. Tapi kemudian ia tersentak, dengan cepat disambarnya sebuah foto dimeja lampunya.
Itu foto dirinya dan. . . han soo ra?? Memang gadis itu sudah agak berubah sekarang, tapi ia yakin bahwa itu han soo ra. Matanya, hidungnya, dan bibirnya masih sama. . . jung soo memandang lekat2 foto itu, dan latar belakangnya sepertinya itu taman bermain.
“ini aku. . maafkan aku. . .” kata soo ra saat pertama kali mereka bertemu dikampus dulu.
Tiba2 rasa sakit menyerang kepala jung soo. Bayangan seorang anak laki2 dan seorang gadis yang bermain ditaman hiburan melintas diingatannya, dan kali ini ia tau siapa gadis itu. han soo ra. . .
Dengan cepat jung soo beranjak dari duduknya dan membongkar laci2 juga lemari2 mencari sesuatu. Dan ditemukannya benda itu dilaci meja paling bawah. Cameranya. . . diperiksanya camera itu, dilihatnya gambar2 yang sudah diambilnya. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapatkan gambar2 diri soo ra. Sepertinya gadis itu tidak tau kalau ia sedang dipotret.
Tanpa fikir panjang jung soo memasukkan kamera dan foto itu kedalam tasnya dan langsung berlari pergi. Ia harus mencari gadis itu sekarang!! Gadis itu pasti masih ada dikampus. Jung soo berlari secepat2nya. Fikirannya kacau. Siapa han soo ra baginya??
TIN TIIIIIINNN…………… BRAAK. . .
Jung soo terserempet mobil itu, tubuhnya jatuh dan berguling2 dijalan dan kepalanya memberntur tepi jalan. Jung soo memegang kepalanya yang sakit. bayangan masa lalunya muncul satu per satu dalam ingatannya, semuanya, tanpa terkecuali.
Ia mengabaikan rasa sakit dikepalanya dan mencoba bangun kemudian ia berlari lagi. Ia harus menemui gadis itu sekarang. Gadis yang teramat penting dalam hidupnya.
Ia berlari disepanjang koridor, dan menabrak beberapa orang tanpa sengaja. Salah satunya eun joo, dia bingung melihat jung soo yang seperti itu.
Jung soo tidak memikirkan apapun lagi selain menemukan gadis itu sekarang. Ia mencari gadis itu disetiap ruangan, kemudian kebalkon atas dilantai empat, dikantin, diperpustakaan, semuanya diperiksanya. Kemudian ia ingat, ada satu tempat yang belum didatanginya. Ruang musik. . .
Dan, disanalah ia melihat gadis itu. han soo ra, gadis itu sedang termenung menatap kedalam kelas musik itu dari luar kaca jendela. Didalamnya ada beberapa orang yang sedang bermain musik. Tanpa ragu, jung soo menghampirinya dan menarik gadis itu menghadapnya.

Soo ra tersentak saat tiba2 saja ada seseorang menarik tangannya. Dan ia lebih terkejut lagi saat melihat siapa orang itu “jung soo ssi. . .”
Tanpa banyak bicara laki2 itu menarik tangannya dan membuka pintu ruangan musik dengan keras, sehingga beberapa anak yang ada didalam menghentikan kegiatan mereka dan menatap heran.
“jung soo ssi apa yang kau lakukan??” soo ra mencoba melepaskan pegangan jung soo, tapi jung soo terlalu kuat. Ingatannya melayang kemasa lalu saat jung soo menariknya keluar dari sekolah dulu, genggaman tangan dan ekspresi wajahnya terlihat sama. Tiba2 saja soo ra merasa sangat takut.
Jung soo menarik gadis itu kesebuah piano disudut ruangan. Setelah sampai dihadapan benda itu jung soo melepaskan pegangannya kemudian ia duduk didepan piano itu. soo ra tidak tau apa yang harus dilakukannya. Sebaiknya ia pergi dari tempat ini. cepat2 ia berbalik, namun baru beberapa langkah tiba2 saja ia berhenti. Tubuhnya membeku.
Lagu itu. . . melody itu. . . mengalun indah. . . masih sama seperti yang terakhir kali didengarnya. Soo ra membalikkan badan dan melihatnya, park jung soo sedang memainkan piano itu sambil memejamkan mata.
Kaki soo ra membeku, air matanya jatuh. . . rasa sakit itu menyerang lagi. . . menghujam tepat dijantungnya. Semua kenangan masa lalunya kembali lagi bersama kenyataan itu. perih. . .
Jung soo mengakhiri permainannya kemudian membuka mata. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri memandang soo ra, menghampirinya, mengabaikan semua mata yang ada diruangan itu.
“aku sudah ingat. . .” katanya pelan “semuanya. . . termasuk kenyataan itu. . .” air mata mengambang dipelupuk mata jung soo. “maaf membiarkanmu menanggung semuanya sendirian. . .”
“oppa. . .” air mata soo ra mengalir deras. Ia benar2 tidak sanggup untuk bergerak.
Tiba2 saja jung soo menarik soo ra kedalam pelukannya “bogoshipoyo. . .” bisiknya pelan, air matanya jatuh.
Soo ra sudah tidak sanggup berkata. Dadanya terasa sesak. “na. . .do. . .bogoshi. . .po. . .” tiba2 saja rasa sakit menusuk kepalanya dan semuanya menjadi gelap.
Jung soo mengerutkan alis saat merasakan tubuh yang dipeluknya melemas. Ia melepaskan pelukannya dan mendapati soo ra sudah tidak sadarkan diri.
“yaak. . . soo ra, kau kenapa??” teriaknya panik. “bantu aku membawanya kerumah sakit!!!” teriaknya kepada beberapa orang yang ada disitu tanpa perduli siapa mereka.
Onew, minho, dan key yang terpesona melihat adegan romantis dihadapan mereka langsung tersentak kaget saat mendengar teriakan itu. cepat2 merka membukan pintu agar jung soo yang sedang menggendong soo ra bisa lewat.
“kita pakai mobilku!!” kata onew. [dalam hati ketiga orang itu bilang ‘kenapa tiba2 aku harus terlibat seperti ini?’]
Cepat2 mereka berlari kearah mobil onew dan segera melesat kerumah sakit.

Braaak. . .
“ah, mianhae. . .”
“geum candy??”
Wanita itu mendongak dan menatap terkejut saat melihat seseorang yang baru saja ditabraknya. “park jun pyo??”
“sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu??” tanya laki2 itu.
“aku baik. . .” jawab candy pelan.
“tidak kusangka kita bisa bertemu disini. . . kau ada waktu?? Bisa kita mengobrol sebentar??”
Candy memandangnya ragu. Tapi kemudian mengangguk pelan. Ada sesuatu yang harus ditanyakannya kepada laki2 itu.
Saat ini mereka sudah ada didalam sebuah café. “bagaimana kabarmu??” tanya candy.
“aku baik2 saja, aku jarang pulang kekorea. Aku baru tiba disini jam dua pagi tadi. Dan baru saja menemui klien”
“ternyata kau sangat sibuk. . .”
“ya, benar. . .”
“lalu. . . bagaimana . . .kabarnya. . . kabar putraku??” tanya candy pelan.
Jun pyo tersenyum. “dia baik2 saja. . . tapi ada masalah sedikit dengannya. . .”
Candy tersentak “masalah??”
Wajah jun pyo menjadi murung “beberapa tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan dan menjadi amnesia. . .”
“am. . .nesia??”
“ya, tapi kau tidak usah khawatir, dia tidak apa2. . .”
“boleh aku menemuinya??”
“tentu saja. . . kau kan ibu kandungnya. . . sudah saatnya ia tau semuanya. . .”
“apa istrimu tidak keberatan??”
“tidak. . . ia ada diamerika saat ini. . . aku akan mengatur pertemuan untukmu dan jung soo. . .”
“jung soo. . .”
“ya, namanya park jung soo. . .”
“park jun pyo ssi. . . kamsahamnida. . .”
“sama-sama. . . aku juga ingin minta maaf untuk perlakuan ibuku padamu. . . tapi aku benar2 tidak bisa berbuat apa2. . .”
“aku mengerti. . . “ jawab candy pelan. “dan aku harap aku bisa bertemu dengan jung soo sebelum akhir minggu ini, karna aku harus kembali ke paris. . .”
“paris??”
“ne, suamiku kerja disana. . . kami datang kemari karna ia mendapat cuti, kami ingin mengunjungi putri kami yang sekolah disini. . .”
“benarkah??”
“ya, aku baru tiba kemarin malam, dan ingin membuat kejutan untuknya, bagaimana kalau nanti malam kau datang kerumah kami bersama jung soo?? Kita makan malam bersama. . .”
“sepertinya itu bagus. . .”
Tiba2 saja ponsel candy berbunyi. Ternyata dari suaminya.
“yeobseo??” jawabnya begitu ponsel itu menempel ditelinga “mwo???”

Jong woon, baru saja pulang dari kampus. Nanti malam ia akan pergi dengan eun joo. Dibukanya pintu kamar soo ra, ternyata gadis itu belum pulang. Diambilnya ponselnya, dihubunginya.
“kenapa tidak diangkat. . .??” gumamnya pelan, tiba2 telphone rumahnya berdering. Cepat2 diangkatnya telphone itu.
“yeobseo. . .” jawabnya “oh, ajhusi apa kabar?? . . .mwo?? dikorea?? Ah, eomma dan appa sedang dirumah nenek saat ini, . . .nanti malam?? Mm. . .sebenarnya aku sudah punya acara. . . tapi baiklah, aku akan kesana bersama soo ra nanti, dia pasti senang bertemu dengan eomma appanya lagi, juga si kecil soo eun. . . tapi. . . bolehkah aku mengajak satu orang lagi?? Dia teman baik soo ra juga. . .” jong woon tertawa kecil “benar. . . dia yeojachinguku. . .ah, gomawo ajhusi. . . aku akan memberi tahu soo ra nanti, dia masih ada dikampus saat ini!! . . . ne, ayeong haseo. . .”
Jong woon menutup telphone kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi eun joo. Tapi sebelum ia menekan tombol call, eun joo menelphonenya terlebih dahulu. Ia tersenyum kemudian segera menjawabnya “yeobseo jjagi?? Ne. . .mwo??? tunggu aku disitu!!” tanpa banyak fikir jong woon langsung melesat menuju mobilnya.

Jung soo, laki2 itu sedang duduk gelisah didepan ruang ICU. Baru saja ia menghubungi eun joo. Ia tidak bisa diam ditempatnya. Sebentar2 ia berdiri dan berjalan mondar mandir didepan ruangan itu, kemudian duduk lagi, kemudian berdiri lagi, begitu seterusnya. Entah kenapa perasaannya tidak enak.
“oppa. . .” teriak eun joo “bagaimana soo ra??” tanya gadis itu setelah sampai ditempat jung soo.
Jung soo menggeleng pelan “dokter belum keluar. . .” ucapnya lirih.
“apa yang terjadi?? Kenapa dia bisa pingsan??” tanya jong woon.
“dia jatuh pingsan begitu saja setelah. . . setelah. . .aku mengatakan padanya bahwa aku mengingat semuanya. . .”
Jong woon tersentak “kau ingat semuanya??”
“ya. . . aku sudah ingat. . . semuanya. . .”
Bough. . .
Eun joo memekik saat melihat jong woon tiba2 saja memukul wajah jung soo hingga laki2 itu terhuyung kebelakang.
“bukankah aku sudah bilang jangan dekati dia??” bentak jong woon “kau bisa membunuhnya park jung soo ssi!!!”
“bukan aku. . . tapi kenyataan yang akan membunuh kami. . .” jawab jung soo lemah. Air matanya jatuh.
Jong woon tertegun menatapnya.
“apa maksud kalian?? Sebenarnya ada apa??” tanya eun joo.
“aku harus menghubungi ajhusi!!”
“ajhusi??” tanya eun joo bingung.
“ya, orang tua soo ra ada disini sekarang!!” tanpa banyak bicara lagi jong woon menghubungi orang tua soo ra, sementara jung soo membeku ditempatnya.
Tidak lama kemudian seorang laki2 separuh baya datang sambil menggendong seorang gadis kecil.
“apa yang terjadi??”
“kami masih belum tau, dokter belum keluar dari ruangan!!” jawab jong woon sambil merebut gadis kecil itu dari gendongan laki2 itu.
“dimana ajhuma??”
“dia sedang belanja tadi, tapi aku sudah menghubunginya!!”
Tidak lama kemudian seorang wanita datang dengan tampang gelisah bersama seorang pria.
“appa??” tanya jung soo bingung saat melihat appanya datang kerumah sakit.
“jung soo, kau ada disini??”
“apa yang terjadi??” tanya candy cemas.
“kami masih belum tau bibi. . . dokter belum keluar!!” saut jong woon.
Semua menatap gelisah.
“jjagiya, siapa dia??” tanya ayah soo ra tiba2.
“dia. . . park jun pyo. ..”
Begitu nama itu disebut ayah soo ra langsung paham.
Jung soo menatap lekat wanita itu “kau. . . eomma soo ra??” tanyanya pelan.
Semua langsung menoleh menatap jung soo.
“candy ssi. . . dia adalah park jung soo. . .”
Ibu soo ra terkejut menatapnya. Ia memandang jung soo dengan air mata dipelupuk mata.
Tiba2 pintu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu.
“dokter bagaimana soo ra??” tanya eun joo yang melihatnya pertama kali.
“kenapa dia baru dibawa sekarang??” tanya dokter balik.
“maksud dokter??” tanya jong woon bingung.
Dokter itu menghela nafas. “saya ragu bisa menyelamatkannya. . .”
“apa maksud dokter??” tanya ibu soo ra bingung.
“kanker yang dialaminya sudah mencapai tahap akhir, saya ragu ia bisa bertahan!!”
“kanker??”

To be continue. . .