Tags

, , , , , ,

Teardrops in the rain

Ini ff pertamaku. Yah sekedar pengenalan saja, ff teardrops in the rain ini aku bwt saat mendapatkan wahyu alias ide dari tuhan sewaktu aku ndengerin lagu teardrops in the rain punyanya C.N.BLUE. dan waktu itu ujan deres turun,, jadilah aku bikin ne ff,,
Happy reading,, ^^
===========================================


Hujan. . .

Seorang laki-laki tampak sedang berlari-lari mencari tempat berteduh. Akhirnya ia menghampiri sebuah gedung musik, di selatan gedung utama sebuah Universitas ternama di Korea. Gedung musik itu terpisah dari gedung utama. Letaknya agak di belakang.

Laki-laki itu berteduh di terasnya. Ia mengusap air hujan di wajah dan di rambutnya. Jung Yong Hwa. 21 tahun. Mahasiswa jurusan kedokteran dan ia membenci hujan. Saat laki-laki itu sedang bersandar di dinding, menunggu hujan reda, saat itulah Yong Hwa melihatnya. . .

.

.

Kim soo in, 19 tahun. Mahasiswi jurusan seni. Gadis itu terlihat sedang berlari-lari kecil menuju sebuah gedung musik untuk menghindari hujan. Ia menutupi kepalanya dengan buku besar yang dibawanya. Sesampainya di gedung musik itu, ia membersihkan air yg mmbasahi tubuhnya sambil mengomel panjang lebar.

“Yaa, kau! Kenapa kau datang tiba-tiba huh?” ia berkecak pinggang sambil menatap garang pada air yang jatuh dari langit itu. “Aku memang senang kau datang, tapi aku tidak bisa bermain denganmu sekarang. Aku masih ada kelas nanti. Lihat, bajuku basah semua, ini gara-gara kau! Eomma bilang kalau aku berdo’a di saat hujan pertama datang di tahun ini maka do’a-ku akan dikabulkan. Tahun lalu aku meminta agar aku bisa masuk Universitas ini, dan kau mengabulkanya. Jadi. . .Kalau kau tidak mengabulkan permintaanku kali ini, aku akan membencimu seumur hidupku!”

Sunyi, gadis itu diam beberapa saat sambil menutup matanya. Mungkin sedang berdo’a. Entahlah, Yong Hwa hanya diam saja menatapnya.

“Baiklah, tolong kabulkan permohonanku… ” ujarnya riang.

Lalu gadis itu menunduk, memperhatikan jaketnya yang basah. Dilepasnya jaket itu dan diperasnya agar cepat kering. Ia memakai baju putih tanpa lengan, sehingga Yong Hwa bisa melihat lengannya yang kurus dengan jelas. Sepertinya gadis itu belum menyadari keberadaan Yong Hwa. Tiba-tiba gadis itu berbalik dan… Saat itulah ia melihatnya…

“YAA!! Si-siapa kau??” tanya Soo In terkejut saat melihat ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dan bersandar di dinding, menatapnya. “Sejak kapan kau di situ??” ia memakai kembali jaket putihnya dengan panik.

Laki-laki itu mendengus sambil memalingkan wajahnya “Paboya!” gumamnya pelan namun masih terdengar jelas ditelinga Soo In.

“Kau. . . Sudah lama di situ?!” tanya Soo In ragu.

Laki-laki itu kembali menatap Soo In, “Aku tidak tau kalau hujan bisa diajak bicara!” sahutnya.

“Jadi kau sudah di sini dari tadi…”

Soo In menatap laki-laki yang sedang memandang hujan itu. Sepertinya ia pernah melihatnya sebelum ini. Didekatinya laki-laki itu. Diamatinya dari dekat. Tiba-tiba saja laki-laki itu menoleh dan mendapati wajah Soo In tepat di depan mukanya.

DEG

“YAA!!” jeritnya sontak memundurkan wajah “Apa yang kau lakukan??” bentaknya.

“Ternyata benar! Kau Jung Yong Hwa si pemain piano itu kan???” tunjuk Soo In tepat di depan hidung Yong Hwa.

Sesaat yang terdengar hanya suara gemersik hujan, mereka saling bertatapan dalam diam. Kemudian laki-laki itu menepis jari telunjuk Soo In dari depan hidungnya.

“Bukan, kau salah orang!” jawabnya dingin sambil berpindah tempat yang agak jauh.

“Tidak mungkiiiiin. . .” seru Soo In, “Kau bohong padaku kan?” dihampirinya Yong Hwa, “Yaa, mataku ini tidak mudah melupakan apa yang sudah kulihat. Permainan pianomu saat festival itu sangat bagus, padahal kau mahasiswa kedokteran. Itu sebabnya aku mengingatmu karena ada pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadamu. Kenapa kau tidak memilih jurusan musik sesuai bakatmu??”

Hening. Sunyi lagi. Laki-laki itu hanya diam memandang hujan.

“Kau tidak mau memberitahu?” desak Soo In.

Tiba-tiba Yong Hwa menoleh dan menatap Soo In “Apa ada alasan yang membuatku harus menjawabmu?”

“Kenapa aku tidak boleh tahu?”

“Karena itu bukan urusanmu!”

Yong Hwa berpaling dan menatap hujan. Lagi. Ia berharap air dari langit itu segera berhenti. Dengan begitu ia bisa pergi meninggalkan gadis yang menurutnya sedikit menyebalkan itu.

Soo In mengalihkan pandanganya dan ikut menatap hujan.

“Baiklah… Aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu hingga kau punya alasan untuk menjawabku,” putus gadis itu.

Sudah hampir satu jam, tapi hujan belum juga reda. Karena bosan Soo In menggambar berbagai macam bentuk di kaca pintu gedung music yang mengembun. Ia memang suka melukis. Tiba-tiba matanya menatap sebuah piano di dalam ruang musik itu. Senyumnya mengembang, ditatapnya Yong Hwa.

“Yaa, kau mau bermain piano tidak?” tanyanya riang.

“Mwo?” tanya Yong Hwa tidak mengerti.

Soo In tidak menjawab, ia mengambil jepit rambut yang tersemat di rambut hitam panjangnya. Dimasukkannya jepitan itu ke lubang kunci pintu dan diputar-putarnya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi klik lalu diputarnya knop pintu itu dan terbuka.

“Nah, ayo masuk!” ujar Soo In riang.

“Kau-kau ini maling ya??”

“Itu keahlianku yang lain,” saut Soo In tanpa beban. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dan mengamati keadaannya “Kadang-kadang sangat berguna bila dibutuhkan. Seperti sekarang,” sambungnya.

Tidak ada jawaban.

Soo In menoleh kebelakang dan mendapati Yong Hwa masih berdiri di luar.

“Yaa! Kenapa kau masih di situ?!” dihampirinya laki-laki itu. “Kajja!!!” digamitnya lengan Yong Hwa lalu diseretnya masuk ke dalam “Mainkan piano untukku!”

“Mwoya?? Waeyo?” protes Yong Hwa.

“Karena aku menginginkannya,” sahut Soo In ringan.

.

.

Yong Hwa duduk di depan piano itu sambil menatap Soo In yang duduk di sebelahnya dengan pandangan ragu. Gadis itu membuka bukunya dan mengambil pensil yang ada di dalamnya. Ia terlihat sedang membuat sketsa. Tapi tiba-tiba saja gerakan tangannya terhenti dan menatap Yong Hwa “Yaa, kenapa kau diam saja?? Ayo cepat mainkan!”

Yong Hwa menatap tuts-tuts piano itu sejenak lalu mendesah pelan, “Lagu apa?” tanyanya mengalah.

“Mmm…” gadis itu tmpak sedang berfikir “Aku ingin mendengar lgu Teardrops In The Rain,” jawabnya pelan.

Yong Hwa mengerutkan keningnya samar, belum pernah didengarnya judul lagu itu.

“Itu lagu ciptaan Oppa-ku” jelas Soo In sambil menyerahkan beberapa lembar kertas.

Yong Hwa menerima dan melihat kertas-kertas yang berisi not lagu itu. mengamatinya.

“Oppa menulisnya sebelum dia meninggal setahun yang lalu. Dia menderita kanker otak, tapi… dia sama sekali tidak sedih. Itu… Lagu yang dibuatnya untukku. Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Terakhir kali, dia menyanyikannya saat di rumah sakit sebelum meninggal. Ini rahasiaku. Hanya kau yang kuberi tahu tentang lagu ini, jadi bisakah kau memainkannya??” tanya Soo In penuh harap.

Tanpa menjawab Yong Hwa meletakkan kertas-kertas itu di depannya dan mulai menyesuaikan tuts-tutsnya. Soo in tersenyum melihatnya, “Ternyata kau baik juga,” ujarnya senang.

Gadis itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. diletakkannya ponsel itu di atas piano. Kemudian dilanjutkannya lagi kegiatan mencoret-coret kertasnya yang tadi sempat tertunda sementara Yong Hwa mulai memainkan lagu itu. Sesekali ia melirik ke arah Yong Hwa dan kertas yang dicoretnya.

Akhirnya lagu itu memelan dan berakhir. Yong Hwa masih menatap kertas-kertas itu, lagu itu… Ada sesuatu yang kuat di dalamnya. Membuat laki-laki itu terdiam mencoba merasakannya lebih.

“Akhirnya, aku bisa mendengarnya lagi…” ujar Soo In sambil meraih ponselnya dengan riang, membuyarkan lamunan Yong Hwa.

Ternyata gadis itu merekam permainan Yong Hwa tadi tanpa laki-laki itu tau.

“Astaga, aku harus pergi!” jerit Soo In panik. “Ini untukmu, kamsahamnida untuk permainannya,” katanya cepat sambil menyerahkan selembar kertas pada Yong Hwa.

“Anyeong haseo,” Soo In membungkukkan badannya cepat lalu berlari keluar sebelum Yong Hwa sempat mengucapkan satu kalimat pun.

Ia memandang gadis itu hingga sosoknya menghilang. Disadarinya hujan telah reda. Kemudian dilihatnya kertas yang sedang dipegangnya. Seketika ia tertegun. Kertas itu adalah lukisan dirinya yang sedang bermain piano tadi. Lukisan hitam putih yang begitu hidup…

***

“Yaa, Soo In ah, kau tadi ke mana saja? Kenapa bisa terlambat?” tanya Kim Ji Kyo, gadis berambut gelombang coklat yang menjadi teman satu kelas Soo In. Saat ini mereka berdua sedang berjalan pulang.

“Waeyo?”

“Kim Ajhusi membutuhkan seseorang untuk membantunya bekerja di rumah makan miliknya, kau mau tidak??”

“Jeongmal??” tanya Soo In semangat “Tentu saja aku mau!”

“KALAU begitu besok setelah kelas terakhir selesai, kita ke rumah Ajhusi!”

“Mmm… Ji Kyo-ya, gomawo,”

“Haiish… Sudah jangan dipikirkan. Sebenarnya aku juga ingin ikut membantu. Tetapi eomma tidak mengijinkan. kau tahu sendiri nilai-nilaiku tidak bagus. Tidak sepertimu yang bisa melukis dengan cepat.”

Soo In tertawa kecil “Itu karena kau tidak melakukannya dengan sepenuh hati,”

“Aku memang tidak begitu bisa seni, aku lebih tertarik dengan fashion,”

“Mungkin suatu saat nanti kau bisa menjadi model.”

“Kuharap begitu. . . Yaa, kau kan pintar. Dari dulu kau selalu peringkat pertama. Kenapa kau memilih jurusan seni? Padahal kau bisa masuk jurusan dokter atau hukum,”

“Aku belajar sesuai dengan yang kusukai, jadi aku bisa melakukannya dengan sepenuh hati. Dan hasilnya pun akan lebih bagus.”

“kadang-kadang aku iri padamu. Kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan,” Ji Kyo melirik temannya itu sambil mencibir pelan.

Soo In tertawa kecil “Dalam hidup ini banyak pilihan, dan aku hanya memilih apa yang kusukai. Eh, itu busnya sudah datang!”

“Baiklah sampai jumpa besok, anyeong!” Ji Kyo melambaikan tangan lalu masuk ke dalam bus, sedangkan Soo In tetap melanjutkan jalannya.

“Anyeong!!”

***

Yong Hwa sedang mengendarai sepeda roda duanya sambil mendengarkan lagu dari Iphone-nya. Ia baru saja dari supermarket untuk membeli bahan makanan. Jalanan terlihat remang-remang dan sepi. Tiba-tiba saja Yong Hwa menghentikan sepedanya di tengah jalan.

Ia diam sejenak. “Keluarlah ajhusi! Aku tau kalian di sini!!” pintanya tegas.

Tidak lama kemudian pria bersetelan jas hitam rapi keluar dari balik pohon besar di pinggir jalan sambil membenarkan letak kaca matanya. “Tuan muda,” sapanya sambil membungkukkan badan ke arah Yong Hwa.

“Kalian juga keluar!” perintah Yong Hwa.

Lima orang yang berpakaian jas hitam perlahan muncul dari balik pohon, tong sampah dan semak-semak.

“Ada apa kalian mengikutiku?” tanya Yong Hwa datar.

“Tuan besar mengkhwatirkan anda, Tuan Muda,” jawab pria berkaca mata hitam tadi.

“Saat ini aku tidak butuh apapun! Jangan mengikutiku lagi!” pinta Yong Hwa dengan tegas lalu mulai mengayuh sepedanya lagi dan meninggalkan ke enam orang yang hanya mampu menatapnya itu.

.

.

To be continue…

 

Revisi 20 Nov 13 ; 02.30