Tags

, , , , , ,

 

Teardrops in the rainPart 3

“Sepertinya kita tersesat…”

“M-mwo?” tanya Yong Hwa terkejut. “Haiiish… Kau ini bagaimana? Kau tau jalan kemari, tapi tidak tau jalan pulang!!” bentak Yong Hwa.

“Sudah sepuluh tahun aku tidak ke sini, wajar saja aku lupa!” Soo In balas membentak.

“Lalu bagaimana tadi kita bisa sampai kemari?”

“Karena aku menginginkannya!”

“Kalau begitu sekarang cepat pikirkan kau ingin pulang!”

“Mana bisa begitu??!”

“Ka-kau… Haiiish… Seharusnya aku tidak ikut denganmu. Aku jadi sial!!”

“Hueeeeeee Eommaaa…” Soo In menangis semakin keras sambil berjongkok.

Yong Hwa mendecak pelan. “Sudah jangan menangis!!!”

“A-aku ta-takut gelap…” isak Soo In.

Yong Hwa tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka gadis itu takut gelap. Pelan-pelan ia ikut berjongkok. Diangkatnya wajah Soo In. Diusapnya air mata yg mengalir di pipi gadis itu dengan kedua ibu jarinya.

“Apa kau bisa melihatku?” tanya Yong Hwa.

Gadis itu mengangguk pelan.

“Kalau begitu kau tidak perlu takut. Ada aku di sini. Nah sekarang ayo berdiri!”

Laki-laki itu membantu Soo In berdiri. Hari sudah gelap, dan mereka tidak bisa melihat apa-apa. Ia merasakan tubuh gadis itu gemetaran. “Kalau kau takut, tutup saja matamu, aku akan menuntunmu.”

Soo In mengangguk sambil memeluk lengan Yong Hwa erat-erat. Laki-laki itu memeriksa ponselnya. Tidak ada sinyal sama sekali. Ia mendesah pelan, Kemudian mereka mulai berjalan lagi dengan menggunakan cahaya dari ponsel itu.

“Sepertinya kita harus berhenti” kata Yong Hwa akhirnya setelah mereka cukup lama berjalan. “duDuklah” dibantunya Soo In duduk di sebuah akar pohon yang besar.

“Jangan pergi!” pinta Soo In takut.

“Jangan takut, aku hanya mau melepas kemeja.”

“Mwo?” tanya Soo In terkejut.

“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam,” Yong Hwa melepas kemeja lengan panjangnya hingga menyisakan kaos putih polos. Lalu ia memakaikan kemeja itu pada Soo In “Pakai ini, supaya kau tidak sakit,” katanya.

“Gomawo…”

Laki-laki itu mendesah pelan sambil duduk di sebelah soo in yang langsung memeluk lengannya lagi dengan erat. disandarkan kepalanya ke bahu Yong Hwa.

“Kenapa kau takut gelap?” tanya Yong Hwa.

“Apakah ada alasan yang membuatku harus memberitahumu?”

Seketika Yong Hwa mendengus mendengarnya, “Kalau kau memberitahuku, aku akan menjawab pertanyaanmu yang dulu!”

“Bagaimana aku bisa percaya?! Kau dulu!” kata Soo In.

Ditatapnya gadis itu sejenak. Kemudian ia menghembuskan nafas panjang pelan, mengalah. “Aku memang menyukai musik dari dulu, tapi eomma menginginkanku menjadi dokter. Dan aku tidak bisa menolak keinginnannya yang terakhir.”

“Mmm… Jadi eomma-mu sekarang ada di surga seperti Oppa-ku. Lalu… Dimana appamu?”

Yong Hwa diam sejenak “Mollayo. Tapi dia masih membiayai hidupku meskipun aku tidak peduli padanya,” jawabnya akhirnya.

“Jadi kau sekarang tinggal sendirian?”

“Benar. Lalu… Kenapa kau takut gelap?”

“Dulu… Appa dan eomma sibuk bekerja, yang menemaniku hanya Jung Hoon Oppa. Kalau ada dia, aku merasa aman, aku tidak takut lagi. dan aku juga bisa tidur dalam gelap. Tapi saat dia pergi, Aku seperti ketakutan. Aku merasa sendiri. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Dan sejak itu, aku tidak bisa tidur dalam gelap. Aku takut sekali… Karena itu, jangan meninggalkanku sendiri di sini.”

“Aniyo, aku tidak akan melepaskanmu.” ditatapnya gadis itu lekat-lekat. Kemudian ditatapnya langit. Berjuta-juta bintang berkedip-kedip di atas sana. “Yaa, kau yakin tidak mau membuka mata? Langitnya sangat indah.”

“Ng…” gadis itu masih terlihat ragu.

“Jangan takut, ada aku.” kata Yong Hwa meyakinkannya “Bukalah matamu pelan-pelan.”

Soo In mendongak lalu membuka matanya pelan-pelan. Dan terpuka melihat lukisan langit dengan taburan bintang yang begitu banyak. Hal yang sangat jarang bisa dilihat di kota Seoul.

“Yeppuda…” serunya saat ia melihat bintang-bintang itu. “Ini pertama kalinya aku melihat bintang dengan jelas.”

“Nado,” sahut Yong Hwa pelan.

“Lihat ada bintang jatuh!!” seru Soo In tiba-tiba “Cepat minta sesuatu!”

Gadis itu memejamkan mata, memohon. Dan Yong Hwa hanya bisa menatapnya dalam diam. Bibirnya tersenyum tipis. Kemudian ia ikut memejamkan matanya, memohon. Memohon untuk kebahagiannya.

.

.

Mata itu perlahan terbuka. Tubuhnya terasa kaku dan sakit semua. Kemudian ia sadar kalau ia masih memeluk lengan Yong Hwa. Dilepasnya dengan hati-hati pelukkan itu.

“Yaa, Jung Yong Hwa ssi, irona!! Yaa!” Soo In menggoyang-goyang lengan Yong Hwa pelan.

Kemudian laki-laki itu mulai membuka matanya. “A-aku ada dimana??” tanyanya sambil menguap. Masih belum sadar sepenuhnya.

“Kau lupa? Kita masih ada di hutan sekarang,” jawab Soo In sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan-jalan sambil melihat sekelilingnya, “Yaa, Jung Yong Hwa ssi! Lihat itu sawah, ternyata kita sudah dekat kemarin.”

“Haiish… Seharusnya kita tidak berhenti semalam kalau sudah dekat. Badanku rasanya sakit semua.”

“Kau benar. Tapi kita bsa melihat bintang jatuh tadi malam. Haah… Yeppuda…” ujar Soo In riang.

“Kau ini, polos sekali…” komentar Yong Hwa sambil berjalan pergi.

“Mwo? Apa kau bilang? Yaa, tunggu aku!!” teriak Soo In sambil berlari menyusul Yong Hwa.

***

“Yaa, Soo In ah, kau kemarin tidak bekerja?” tanya Ji Kyo saat kelas pertama berakhir.

“Ne, tapi aku sudah meminta ijin pada ajhusi!”

“Memangnya kau kemana??”

“Aku harus pergi sebentar, nanti kuceritakan!” jawab Soo In cepat-cepat lalu berlari keluar.

“Yaa!! kau mau kemana? Kita masih ada kelas lagi!” teriak Ji Kyo.

.

.

Gadis itu berdiri di depan ruang laboratorium. Sesekali ia menengok ke dalam melalui kaca jendela. Tapi orang yang dicarinya belum menampakkan diri.

“Yaa, sedang apa kau disini?”

“Oh?” Soo In tersentak kaget saat seseorang menegurnya. Lee Hong Ki. “A-aku sedang mencari seseorang,” jawabnya tergelagap.

“Mencari seseorang? Nuguseo?” tanyanya sambil ikut melihat ke dalam lab itu. “Bukankah ini laboratorium untuk mahasiswa kedokteran?! Kalau tidak salah kau dari jurusan…seni. Benar?”

“Benar. Aku hanya sedang mencari Jung Yong Hwa ssi,”

“Yong Hwa Hyung??” tanya Hong Ki terkejut.

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, rumah kontrakkannya ada di sebelah rumahku.”

“Jeongmalyo? Lalu apa kau tau dimana dia sekarang??”

“Memangnya untuk apa kau mencarinya??”

“Aku… hanya ingin mengembalikan sesuatu.”

“Tadi sebelum aku berangkat ke kampus, aku mampir sebentar ke kontrakkannya. Sepertinya dia sedang sakit.”

“Sakit??” tanya Soo In terkejut “Sakit apa?”

“Aku tidak sempat bertanya.”

“Maaf… Tapi boleh aku tau di mana rumahnya?”

“Kalau kau mau aku bisa mengantarmu,” tawar Hong Ki.

“Jjinjayo??”

“Ne, Tapi hari ini aku masih ada satu kelas lagi. Kau mau menunggu?”

“Ne, gwenchana. Aku juga masih ada kelas. Kau bisa menghubungiku nanti, pinjamkan ponselmu!”

“Mwo? Untuk apa?” tanya Hong Ki tapi tetap sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.

Soo In mengambil ponsel itu lalu menyimpankan nomor ponselnya. “Nomorku sudah tersimpan, namaku Kim Soo In. Hubungi Aku begitu kau selesai.” katanya sambil mengembalikan ponsel itu.

“Araseo, nanti kuhubungi kau.”

“Ne, kamsahamnida. Aku harus pergi sekarang, anyeong haseo.” Soo In membungkuk sebentar kemudian berlari secepat mungkin ke kelas melukisnya karena ia sudah terlambat.

.

.

“Baiklah, kelas hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa kumpulkan tugas kalian minggu depan.” Cha Seongsaengnim membereskan file-filenya lalu meninggalkan ruang kelas.

“Yaa, Soo In ah, akhir-akhir ini kau jadi aneh. Kau pergi kemana saja tadi?” tanya Ji Kyo begitu seongsaengnim mereka keluar dari kelas.

“Aku sedang mencari seseorang,” jawab Soo In sambil membereskan peralatan lukisnya.

“Seseoranga? Nuguya? Apa namja yang bernama Jung Yong Hwa itu??” tebak Ji Kyo.

Soo In tidak menjawab karena tiba-tiba ponselnya bergetar. Nomor baru. Segera dijawabnya panggilan itu. “Yeoboseo? …Ye, benar. Nuguseo? …Oh, Lee Hong Ki ssi? … Ah, ne. Ne, aku akan segera kesana. Kamsahamnida.”

“Kau akan pergi? Tidak jadi pulang bersamaku?”

“Ji Kyo ya, mianhae. Aku ada janji, nanti kuhubungi kau lagi. Anyeong!!” kata Soo In buru-buru dan langsung berlari keluar.

Ternyata Lee Hong Ki sudah menunggu di depan gerbang kampus. Laki-laki itu sedang duduk di atas motornya sambil mendengarkan musik.

“Jeosonghamnida, sudah membuatmu menunggu.” ucap Soo In dengan nafas naik turun karena berlari tadi.

“Gwenchanae. Ini!” namja itu menyerahkan sebuah helm kepada Soo In.

“Kamsahamnida,” jawab Soo In sambil memakai helm itu lalu naik keboncengan motor Lee Hong Ki. Kemudian keduanya segera pergi meninggalkan kampus. Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat mereka dari kejauhan. Kim Ji Kyo…

.

.

“Cha, ini rumah kontrakkannya Yong Hwa Hyung. Kau bisa pergi sendiri? Sebentar lagi aku ada latihan,” kata Hong Ki.

“Ne, jeongmal gomawo Lee Hong Ki ssi,” ucap Soo In sambil menyerahkan helm milik Hong Ki kembali.

“Tidak masalah…” jawab namja itu, “Aku pergi dulu,”

“Ne,” Soo In membungkukkan badannya sebelum Hong Ki pergi meninggalkannya.

Gadis itu kemudian membuka pagar rumah Yong Hwa. Rumah yang cukup sederhana. Cukup untuk ditinggali sendiri. tidak ada pot tanaman di dalam pagar. Diketuknya pintu itu, tapi tidak ada jawaban. Diketuknya sekali lagi. Soo In menimang-nimang apa laki-laki itu tidak ada di rumahnya?! Ditatapnya handle pintu lalu digesernya pintu kesamping. Tidak terkunci.

“Cogiyo???” serunya “Jung Yong Hwa ssi? Kau ada disini??”

Hening. Tidak ada jawaban. Tiba-tiba terdengar suara dari kamar mandi. Yong Hwa keluar dari kamar mandi dengan langkah sempoyongan hampir terjatuh.

“Jung Yong Hwa ssi,” seru Soo In sambil menangkap tubuh Yong Hwa sebelum laki-laki itu terjatuh. Tapi tubuh Soo In tidak mampu menahan berat badan Yong Hwa hingga mereka berdua sama-sama terjatuh.

“Soo In ssi, kenapa kau ada di sini?” gumam Yong Hwa tidak jelas sambil memeluk erat tubuh Soo In.

Tiba saja Soo In merasa jantungnya berdegup begitu cepat. Tubuh Yong Hwa begitu panas. “A-aku…” belum sempat Soo In menyelesaikan kalimatnya, bibir lembut itu menekan pelan bibir Soo In.

Terasa panas. Kini Soo In merasa jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Yong Hwa memangut bibir Soo In lembut. Hanya beberapa detik, namun mampu membuat Soo In menjadi beku.

Bruuk…

“Jung Yong Hwa ssi??” pekik gadis itu saat tubuh Yong Hwa tiba-tiba saja jatuh tergeletak dilantai tidak sadarkan diri. “Jung Yong Hwa ssi, kau tidak apa-apa? Badanmu panas sekali.” dengan susah payah dibawanya Yong Hwa ke tempat tidur. Diselimutinya tubuh laki-laki itu.

Masih jam tujuh malam, Soo In berlari keluar mencari mini market dan membeli es serta obat. Dikompresnya Yong Hwa dengan es agar panasnya turun. Kemudian ia teringat sesuatu. Diambilnya ponsel, dihubunginya rumahnya.

“Eomma, yeoboseo? …Mmm, Aku ada di rumah teman sekarang,” diliriknya Yong Hwa sebentar “Dia sedang sakit, aku tidak bisa meninggalkannya. dia tidak punya siapa-siapa… Mmm araseo, eomma gomawo,” diputusnya sambungan itu dan saat itulah ia melihat lukisan yang dibuatnya untuk yong hwa. Tertempel di dinding, di atas sebuah piano yang ada di sudut kamar itu. Soo In tersenyum, kemudian ia kembali menatap Yong Hwa dan mengganti kain kompresnya.

.

.

To be continue

Revisi 20 Nov 13 ; 02.31