Tags

, , , , , ,

Teardrops in the rain Part 4

Yong Hwa merasakan kepalanya sangat berat. Tubuhnya terasa sakit semua. Ia mendesah pelan. Perlahan dibukanya matanya. Tangan kirinya terangkat menyentuh kening. Ada sesutu yang dingin disitu. Diambilnya benda yang ternyata kain kompres. Ia menatap tidak mengerti tapi kemudian ia tertegun begitu melihat Soo In tertidur di sebelahnya. Tiba-tiba saja gadis itu bergerak dan perlahan membuka matanya.

“Jung Yong Hwa ssi?!” serunya panik begitu membuka mata.

“Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” disentuhnya kening dan leher Yong Hwa “Panasmu sudah turun…” gumamnya

“Kenapa kau ada disini?” tanya Yong Hwa dengan suara serak.

“Kemarin aku ingin mengembalikan bajumu, tapi kulihat kau sedang sakit. Jadi aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja.”

“Jadi kau sudah disini sejak kemarin…?”

“Kau tidak ingat?” tanya Soo In “Berarti kau juga tidak ingat saat… Ah, aniya!!”

“Saat apa?”

“Aniya! Oh, aku membuat bubur semalam, sebentar aku panaskan dulu. Kau pasti belum makan dari kemarin. Aku juga sudah membeli obat jadi kau harus meminumnya,” kata Soo In panjang lebar.

Soo In menelepon bosnya untuk meminta ijin libur sambil menunggu bubur itu panas. Kemudian ia membantu Yong Hwa untuk duduk dan menemani laki-laki itu memakan buburnya.

“Demammu belum sembuh total, badanmu masih agak panas. Setelah ini kau harus minum obat!”

“Kau… Seperti eomma,” gumam Yong Hwa pelan.

“Jjinjayo?” saut Soo In riang. “Nah, sekarang kau harus istirahat. Tidurlah!!” kata Soo In begitu Yong Hwa selesai makan dan minum obat.

“Kau mau pergi?” tanya Yong Hwa pelan.

Soo In berfikir sejenak lalu menggeleng “Tidak sebelum kau membaik. Sekarang tidurlah, aku mau mencuci piring dulu.”

Sementara Yong Hwa tidur, Soo In membereskan rumah laki-laki itu. Tidak lama karena Yong Hwa adalah tipe laki-laki yang rapi. Dan karena rumah itu juga tidak besar. Hanya dua ruang kosong yang dibatasi dinding kertas. Satu digunakan sebagai kamar yang satu lagi dapur. Ada satu kamar mandi kecil disebelah ruang dapur.

Di luar sedang hujan. Karena tidak ada yang bisa dikerjakannya, Soo In mengambil kertas gambarnya lalu mulai melukis seseorang yang sedang tidur itu.

***

“Anyeong Ji Kyo ya, kau sudah datang rupanya,” sapa Soo In riang sambil mengambil duduk di depan temannya itu, “Yaa, waegeure?!” tanya Soo In saat Ji Kyo tidak menjawab sapanya.

Gadis itu menompang wajahnya dengan sebelah tangan. Raut wajahnya terlihat kesal. Enggan menatap Soo In.

“Apa karena hari ini hujan lagi?” tanya Soo In lagi.

“Jangan berbicara denganku, aku sedang kesal padamu!” jawab Ji Kyo ketus.

Soo In mengerutkan alisnya tidak mengerti. “Memangnya apa yang sudah kulakukan?” tanyanya bingung.

Ji Kyo mendengus pelan. Kemudian ia menatap Soo In, “Kau tidak tau apa yang telah kau lakukan??” tanyanya sinis.

“Memangnya apa yang sudah kulakukan??” tanya Soo In masih bingung.

Ji Kyo mendecih pelan “Kukira kau menyukai Jung Yong Hwa, tapi ternyata kau malah berkencan dengan dengan orang yang ku sukai.”

“Orang yang kau sukai?”

“Jangan pura-pura tidak tau!” seru Ji Kyo.

“Aku memang tidak tau siapa yang kau maksud!” balas Soo In.

“Aku melihatmu pulang bersamanya kemarin lusa. Bukankah sebelumnya aku sudah bilang kalau aku menyukai si rambut kuning pirang, teman Yong Hwa itu?!” jelas Ji Kyo penuh emosi.

“Si kuning pirang…” Soo In berfikir sejenak. “Omo! Jadi dia? Aigoo… Kau hanya salah paham,” serunya.

“Mwo?” Ji Kyo mengerutkan keningnya bingung.

“Namanya Lee Hong Ki, dia__” kata-kata Soo In terputus karena ponselnya bergetar. “Changkaman!” pintanya.

Ji Kyo mendecak pelan, menatap tidak sabar Soo In yang menjawab panggilan teleponenya.

“Yeoboseo?? …Oh, Jung Yong Hwa ssi, …Mmm, Hari ini aku hanya ada satu kelas …Ne, tapi aku hanya punya waktu satu jam sebelum masuk kerja, …Araseo, sampai jumpa nanti,” Soo In menutup ponselnya dan melihat tatapan penasaran dari temannya.

“Bagaimana bisa Jung Yong Hwa punya nomor ponselmu?” tanyanya tidak sabar.

“Tenanglah, aku akan menceritakannya,” jawab Soo In pasrah.

Gadis itu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tentu saja tanpa adegan ciumannya dengan Yong hwa, karena sepertinya Yong Hwa sendiri juga tidak mengingatnya.

“Jadi kau tidak masuk kuliah dan kerja kemarin karna mengurus Jung Yong Hwa?!”

“Begitulah… Aku takut terjadi sesuatu padanya, karena itu kuberikan nomor ponselku padanya.”

“Ah… Jadi begitu… Eh, jadi si pirang itu bernama Lee Hong Ki??” tanya Ji Kyo sambil tersenyum senang.

“Ne,” jawabnya pendek.

Kemudian seongsaengnim datang dan Ji Kyo terpaksa menunda apa saja yang ingin ditanyakannya pada Soo In.

.

.

Sementara itu di studio rekaman…

“Jong Hyun ah!!” sapa Yong Hwa pada seorang laki-laki yang ada di dalam studio itu.

Laki-laki itu menoleh sambil melepas headphone yang dipakainya, “Oh, Hyung! Bagaimana kabarmu?” balas Lee Jong Hyun.

“Aku baik-baik saja.”

“Tumben sekali Hyung kemari, apa kau berubah fikiran?” tanya Jong Hyun. Laki-laki itu pernah mengajak Yong Hwa untuk ikut trainee di sebuah agency bersamanya. Membentuk sebuah grub band musik.

Yong Hwa tertawa kecil “Aku butuh bantuanmu.”

Lee Jong Hyun sesekali mengangguk saat mendengarkan penjelasan Yong Hwa yang meminta tolong padanya untuk merekamkan sebuah lagu. Lagu yang didapatnya dari Kim Soo In.

“Suaramu tetap saja bagus. Kau menolak untuk membuat band bersamaku dan malah pergi dari rumah. Sayang sekali… Lagu ini sangat bagus, pasti laku sekali dipasaran. Bagaimana? Hyung mau membuat band bersamaku?! Ayolah…” pinta Jong Hyun setelah rekaman Yong Hwa selesai.

“Mianhae… Lagu itu bukan milikku. Dan tidak akan dijual,” jawab Yong Hwa sambil tersenyum. “Kau bisa lebih cepat mengerjakannya? Satu jam lagi aku harus pergi.”

“Araseo,”

.

.

Soo In berlari-lari kecil menuju gedung musik. Gedung musik tempatnya pertama kali bertemu dengan Yong Hwa. Hujan sudah reda, namuh masih menyisakan gerimis. Di sana, Yong Hwa sudah menunggunya.

“Kau sudah disini rupanya, Ada apa kau memanggilku?” tanya Soo In setelah sampai di tempat laki-laki itu.

“Kalau kau tidak ada, aku tidak bisa masuk ke dalam,” jawab Yong Hwa “Sekarang gunakan keahlianmu itu untuk membuka pintu. Palliwa!”

Soo In merengut mendengar perintah Yong Hwa “Aku kira ada apa, ternyata hanya disuruh membuka pintu…” gumamnya pelan sambil mengotak atik lubang pintu itu dengan jepitnya. “Sudah terbuka. Kalau tidak ada lagi, aku pergi.”

Baru saja gadis itu akan berbalik tiba-tiba Yong Hwa menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam.

“Duduklah!” pinta Yong Hwa yang lebih dulu duduk di depan piano.

“Jung Yong Hwa ssi, apa kau yakin gedung ini tidak dipakai kelas sebentar lagi?” tanya Soo In sedikit khwatir sambil duduk di sebelah Yong Hwa.

“Aku ini lebih pintar darimu, duduk saja dan dengarkan. Karena kemarin kau sudah merawatku, aku akan memainkan lagu oppamu sebagai hadiah.”

“Jeongmal??” tatap Soo In semangat.

Yong Hwa mengangguk pelan lalu mulai memainkan piano itu dan bernyanyi. Saat mendengarkannya, Soo In merasa bahwa ia sudah menemukan pegangannya lagi. Tanpa sadar, Air matanya menetes. Bayangan Kim Jung Hoon, oppanya, kini melebur bersama lagu itu. hingga akhirnya lagu itu pun memelan dan berhenti.

“Yaa, kenapa kau menangis?” tanya Yong Hwa sambil menghapus air mata Soo In.

“Mollaseo… Suaramu sangat bagus…” jawab gadis itu dengan suara serak.

“Ini pertama kalinya aku bernyanyi di depan seorang gadis,”

“Jeongmal?”

“Mm,” Yong Hwa mengangguk pelan. “Ah, aku punya sesuatu untukmu.”

Laki-laki itu mengeluarkan sebuah i-pad dari saku lalu memasangkan earphonenya ke telinga Soo In. “Dengarkan!” pintanya. Tidak lama kemudian sebuah lagu mengalun lembut ditelinga Soo In.

Soo in tertegun mendengarnya “Ini…”

“Ne, aku merekam lagu Teardrops In The Rain ini untukmu,” Yong Hwa meraih tangan Soo In dan menaruh ipad itu dalam genggaman gadis itu, “Jadi kau tidak akan merasa sendiri lagi. Kau tidak perlu takut lagi tidur dalam gelap. dengarkan saja lagu ini, maka aku dan oppamu akan ada untuk menemanimu.”

“Gomawo…” ucap gadis itu sambil menahan tangis.

“Uljima… Di luar sudah hujan, terlalu banyak air yang menetes hari ini,” kata Yong Hwa sambil menghapus air mata gadis itu.

“Apa yamg bisa kulakukan untukmu?” tanya Soo In pelan.

“Hmm… Kau bisa memaafkanku untuk perbuatanku malam itu.”

Soo In menatap tidak mengerti “Perbuatan apa?” tanyanya bingung.

“Kau tidak ingat?” tanya Yong Hwa sambil mendekatkan wajahnya “Akan kuingatkan…” bisiknya pelan.

Sebelum Soo In menjawab, bibir itu sudah menekan bibirnya dengan lembut. Membuat jantungnya berhenti berdegup seketika.

“Saat itu, aku sadar sepenuhnya…” tambah Yong Hwa “Sekarang kau sudah ingat?” tanyanya retoris kemudian ia mengecup Bibir Soo in lagi dengan lembut…

.

.

Hujan mulai reda. Lee Hong Ki sedang berjalan dengan santai menuju gedung musik. Tangan kanannya memainkan gantungan kunci. Tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat ada seorang gadis yang sedang mengendap-ngendap di depan gedung musik.

“Sedang apa dia…?” gumamnya pelan.

Dihampirinya gadis itu “Kau sedang apa??” tanyanya dari belakang dengan pelan.

“Omo!!” pekik gadis itu sambil mengusap dadanya karena terkejut. Tapi matanya semakin melebar begitu melihat siapa yang ada di hadapannya.

“Waeyo?” tanya Hong Ki.

Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih membelak dengan mulut ternganga.

“Agashi, gwenchanae?” tanya Hong Ki lagi, “Yaa, kau kenapa??” digoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah gadis itu.

Sedetik kemudian gadis itu mengerjapkan mata tersadar “Jeo-jeosonghamnida…” ucapnya gugup.

“Kau siapa? Dan sedang apa kau disini?” tanya Hong Ki.

“A-aku… Kim Ji Kyo imnida. Yaa, kau temannya Jung Yong Hwa ssi bukan? Lihatlah!!” Ji Kyo menarik lengan Hong Ki, menyuruhnya untuk melihat ke dalam ruangan musik tanpa terlihat.

“Itu kan Hyung!!” seru Hong Ki kaget.

“Ssst… Jangan berisik!” desis Ji Kyo.

“Bukankah itu kim Soo In ssi?! Sedang apa mereka? bagaimana mereka bisa masuk?” tanya Hong Ki bingung sambil menatap kunci yang digenggamnya.

“Ternyata benar, Soo In memang menyukainya…” gumam Ji Kyo.

“Mwo?” tanya Hong Ki tidak mengerti. “Tunggu dulu! Sebentar! A-apa yang mereka lakukan??” mata Hong Ki melebar saat Yong Hwa perlahan mendekat ke arah Soo In.

“Sepertinya kita harus pergi. Kajja!!” ajak Ji Kyo sambil menarik lengan Hong Ki untuk pergi meninggalkan tempat itu.

“Yaa, changkaman!! Aku belum mengambil gitarku!” protes laki-laki itu.

“Sudah nanti saja,” jawab Ji Kyo tanpa melepaskan lengan Hong Ki.

“Ta-tapi…”

“Pokoknya tidak ada yang boleh mengganggu mereka!” kata Ji Kyo dengan nada final.

***

“Anyeong, Soo In ah,” sapa Ji Kyo riang begitu melihat Soo In yang sudah duduk di depan kanvas lukisnya.

“Anyeong,” balas Soo In sambil mengerutkan alisnya, bingung, “Yaa, kenapa kau senyum-senyum sendiri? Menakutkan…”

“Karena aku sangat, sangat, saaangat bahagia. Dan itu karenamu,” jawab Ji Kyo.

“Aku?”

“Ne. Kemarin saat aku mengintipmu ber__ “

“Kau mengintipku??” tanya Soo In terkejut.

Uups… Ji Kyo langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya sambil melirik Soo In takut.

“Jadi kemarin kau membuntutiku??” Soo In menyipitkan matanya.

Ji Kyo meringis lebar “Mianhae…  Aku penasaran sekali…”

“Seharusnya aku tidak perlu terkejut.”

“Jadi kau tidak marah?” tanya Ji Kyo “Yaa, ceritakan padaku!” pinta Ji Kyo.

“Mwoya??”

“Apa yang kau lakukan bersama Yong Hwa kemarin?”

“Bukankah kemarin kau sudah melihatnya??” kilah Soo In dengan pipi memerah.

“Aku tidak bisa mendengarkan suara kalian meskipun aku tau bagaimana bagian akhirnya,” saut Ji Kyo sambil melirik Soo In yang sedang menyembunyikan wajahnya “Tapi tenang saja, aku tidak melihatnya,” gadis itu tertawa geli.

Soo In menoleh cepat “Kau tidak melihatnya?”

“Bukankah itu privasi?!” Ji Kyo balik tanya dengan senyum misterius, “Jadi, cepat ceritakan padaku sekarang juga!”

Baru saja Soo In akan membuka mulut untuk bicara, ponsel di atas meja di sebelahnya bergetar. Segera dijawabnya begitu ia tau siapa yang menelphone.

“Ne, yeoboseo? …Mmm, Aku ada di kelas sekarang. Waeyo? …Penelitian di Ilsan? Kapan? Besok pagi? …Baiklah. Tapi, apa kita bisa bertemu sebentar nanti? Ada yang ingin kuperlihatkan kepadamu. …Mmm sampai jumpa nanti,” gadis itu menutup ponselnya sambil menghela nafas pelan.

“Waeyo?” tanya Ji Kyo penasaran.

“Eopseo. Yong Hwa ssi hanya akan pergi ke Ilsan besok.”

“Berapa lama?”

“Tiga hari,”

“Aigooo… Dia hanya pergi selama tiga hari, bukan tiga tahun. Dan kau tidak akan mati karena hal itu. Jangan memasang wajah muram begitu, sekarang cepat ceritakan padaku apa saja yang kalian lakukan kemarin sebelum kelas dimulai!”

“Ne, ne araseo. Asal kau juga menceritakan kepadaku apa yang membuatmu sangat bahagia seperti ini.”

“Setuju!”

***

Gerimis. . .

“Kau tidak kerja hari ini?” tanya Yong Hwa pada Soo In saat mereka bertemu.

“Aniyo…” Soo In menggeleng pelan “Aku menukarnya dengan hari minggu.”

“Waeyo? Kau bilang kau ingin memperlihatkan sesuatu padaku.”

“Geure! Kajja!” Soo In menggandeng lengan Yong Hwa dan menariknya.

“Eodiseo?” tanya Yong Hwa tanpa bergerak dari tempatnya.

“Ikut saja, kau akan tau nanti.”

“Araseo!” jawab Yong Hwa mengalah lalu mengikuti Soo In. dilepasnya lengan Soo In yang memeluk lengannya, lalu menautkan jemarinya pada jemari gadis itu. Menggenggamnya erat. Sesaat Soo In menoleh dan melihat genggaman tangan itu, kemudian ia menatap Yong Hwa dan tersenyum.

“Inilah yang ingin kuperlihatkan padamu,” kata Soo In begitu mereka sampai di tempat yang dituju.

Yong Hwa menatap makam itu dengan diam, ia tau gadis disebelahnya belum selesai berbicara.

“Ini adalah makam Jung Hoon Oppa. Dan hari ini tepat satu tahun meninggalnya Oppa,” jeda sejenak “Karena itu, hari ini aku ingin mengenalkanmu kepada Jung Hoon Oppa.”

Soo In berjongkok di ikuti Yong Hwa. Tangan gadis itu menyentuh batu nisan yang tampak berdebu, “Oppa, bogoshipoyo…” ucapnya pelan. “Hari ini aku ingin mengenalkan seseorang padamu. Namanya Jung Yong Hwa ssi. mulai saat ini, Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku merasa aman berada di sisinya,” gadis itu menoleh dan menatap yong hwa sambil tersenyum.

“Aku, Punya sesuatu untukmu,” gadis itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah gelang berwarna hitam. Kemudian ia meraih tangan Yong Hwa dan memakaikannya. “Ini adalah gelang kesayanganku. Hadiah pertama dari Jung Hoon Oppa. Pakailah, agar kau selalu mengingatku. Dan jagalah baik-baik.”

“Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu, aku berjanji atas nama Jung Hoon Hyung,” saut Yong Hwa sambil mengusap kepala gadis itu lembut.

***

“Hah… Hari ini banyak sekali pelanggan,” kata Eun Yi sambil membereskan piring-piring di meja bersama Soo In.

“Mmm, Kau benar,” sahut Soo In.

“Aigoo… Kalian sudah bekerja keras hari ini. Cepat bereskan, kita tutup restourannya lebih awal.”

“Ne!!” jawab kedua gadis itu semangat.

“Ah, sebelum pulang aku punya sesuatu untuk kalian. Ambilah di meja dapur!”

“Ah, ne. Kamsahamnida…” ucap mereka serentak.

Hari masih sore tapi Soo In sudah pulang. Ia berjalan menyusuri jalan dengan menenteng sebuah kantong plastik yang berisi buah jeruk. Kebetulan kebun buah jeruk bosnya sedang panen jadi dia membaginya kepada Soo In dan Eun Yi. Soo In memeriksa ponselnya dan mendesah pelan saat melihat benda itu mati kehabisan batrai. Langit sangat gelap karena mendung. Cepat-cepat ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas saat tetesan air mulai turun. Ia mulai berlari saat hujan semakin deras. Rumahnya tidak jauh lagi. Tapi sampai di depan gerbang rumahnya, langkahnya tiba-tiba melambat.

Ia membuka pintu dengan heran saat melihat banyak orang yang berkumpul dirumahnya. Perasaannya mulai tidak enak sampai-sampai ia tidak merasakan dinginnya air hujan yang mengguyur tubuhnya. Dihampirinya Choi Ajhuma, tetangganya.

“Ajhuma, waegeure?” tanya Soo In pelan.

Soo In bertanya dengan nada pelan, namun wanita itu tersentak kaget saat mendengarnya. Tubuh itu berbalik dengan cepat dan Soo in dapat melihat lapisan air mata di matanya.

“Ajhuma, waegeure?” tanya Soo In lagi.

“Soo In ah… Appa… Appa dan eomma-mu… Mereka mengalami kecelakaan dan… dan… dan meninggal.”

Sraak…

kantong plastik yang dibawa Soo In jatuh begitu saja. membuat jeruk-jeruk itu berhamburan. Untuk sesaat tubuh itu hanya bisa mematung dan tiba saja semuanya menjadi gelap.

***

Sudah dua hari namun Soo In tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya duduk disamping jendela kamarnya, menatap hujan yang turun sambil memeluk sebuah foto keluarganya. Ditelinganya terpasang sebuah earphone yang terhubung dgn ipad pemberian yong hwa.

“Kenapa kalian meninggalkanku?” tanyanya pelan “Kenapa tidak mengajakku? Apa salahku??” lirihnya. Air matanya mengalir lagi.

Wajah itu terlihat sangat pucat, dan matanya bengkak. Setiap hari Choi Ajhuma mengantarkan makanan, namun ia hanya memakannya sedikit. Nyaris tidak tersentuh. Ponselnya yang tergeletak di meja belum ia hidupkan lagi sejak dua hari yang lalu.

“Soo In ah…” panggil Choi Ajhuma, disentuhnya bahu gadis itu pelan “Ada yang ingin bertemu denganmu.”

Soo In menoleh perlahan dan terkesiap saat melihat seseorang yang berdiri di sebelah choi ajhuma sambil tersenyum. Jang geun suk…

“Sukkie Oppa?” tanyanya masih kaget. Ia menaruh foto yang dipeluknya dan melepas earphonenya kemudian berdiri menatap Sukkie.

“Aku sudah kembali,” jawab Sukkie sambil berjalan menghampiri Soo In lalu memeluknya.

.

.

To be continue…

 

Revisi 20 Nov 13 ; 02.19