Tags

, , , , , ,

 

Teardrops in the rain Part 5

 

“Bogoshipo…” ucap Sukkie sambil memeluk Soo In.

“Nado…” balas Soo In pelan.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Sukkie sambil melepaskan pelukannya. “Sampai aku harus menelepon Choi Ajhuma karena kau tidak membalas emailku.”

“Mianhae…”

“Sebaiknya kutinggalkan kalian berdua, kalau butuh apa-apa, aku ada di rumah,” kata Choi Ajhuma.

“Oh, kasahamnida Ajhuma, maaf merepotkanmu.”

“Gwenchana, jangan sungkan.”

Sukkie membungkukkan badannya sedikit sebelum Choi Ajhuma pergi. Kemudian ia kembali menatap Soo In.

“Kau terlihat kurus, apa kau sudah makan?” tanya Sukkie.

Soo In mengangguk pelan sambil duduk kembali. Laki-laki itu ikut duduk disampingnya lalu menggenggam tangannya yang dingin.

“Sudah setahun aku tidak melihatmu tapi sepertinya kau tidak berubah, kau tetap sama seperti gadis kecilku yang dulu.”

“Oppa… Aku sudah sembilan belas tahun sekarang.”

Sukkie tersenyum “Soo In ah, sebenarnya… aku pulang kemari hanya untuk menjemputmu.”

Soo In mengerutkan keningnya lalu menatap Sukkie dengan pandangan tanda tanya, “Menjemput?”

“Dulu saat Jung Hoon meninggal, kau tidak mau ikut ke Paris bersamaku. Sekarang, Tidak ada alasan untukmu menolak. Appa dan eomma memintaku untuk menjemputmu dan tinggal bersama kami. Kau juga sudah menjadi putri mereka Soo In ah.”

“A-aku… Ingin tinggal di sini…”

Sukkie menggeleng pelan, “Kau tidak bisa tinggal di sini Soo In ah…”

“Aku akan tetap tinggal disini, aku tidak mau pergi!”

“Kau tidak punya pilihan. Bagaimana kau hidup kalau terus tinggal di sini? Dengan bekerja sebagai pelayan restouran? Itu tidak akan cukup. Ikutlah ke Paris, bekerjalah di perusahaan appa bersamaku. kau juga bisa melanjutkan kuliah di sana.”

Soo In tidak bsa berfikir. Ini semua terlalu tiba-tiba untuknya. “Aku…”

“Kau tidak mungkin tetap disini dan merepotkan Choi Ajhuma juga teman-temanmu,” nada suara Sukkie melembut “Ikutlah bersamaku… Bekerjalah di perusahaan Appa. Nanti bila kau sudah bisa berdiri sendiri, kau bisa kembali lagi kemari.”

Soo In menatap Sukkie seolah bertanya benarkah ia bisa kembali lagi.

“Akan kusuruh orang untuk merawat rumah ini, siapkan keperluanmu. Kita berangkat ke Paris besok siang.”

Soo In menatap gamang, satu-satunya yang ada dipikirannya adalah Jung Yong Hwa. Ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sukkie dan mengambil kembali ipadnya. Memasang earphone ditelinganya dan memeluk lututnya erat-erat. Membiarkan kesedihannya mengalir.

***

Jam 11.21 siang. Satu stengah jam lagi ia harus berangkat ke Paris. Di luar sedang hujan deras. Pikirannya masih kacau. Semuanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Ia tak pernah membyangkan hal ini sebelumnya. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak punya pilihan. Tidak mungkin ia meminta bantuan Yong Hwa. Laki-laki itu sudah cukup susah mengurus dirinya sendiri.

Tiba-tiba saja matanya menatap ponselnya yang mati diatas meja. Diambilnya benda itu lalu dinyalakannya. Ada beberapa pesan yang masuk dan semuanya dari yong hwa. Didengarkannya pesan itu satu persatu.

‘Aku sudah sampai, pasti kau sudah tidur sekarang. Baiklah selamat malam’

‘Kenapa ponselmu tidak aktif? Cepat hubungi aku!’

‘Kenapa ponselmu belum aktif juga? Waegeure?’

‘Soo In ah, kau membuatku khawatir. Cepat hubungi aku. Aku merindukanmu, ani, lebih tepatnya aku sangat merindukanmu. Arachi?!’

Air mata Soo In menetes begitu saja saat mendengar suara Yong Hwa.

‘Aku sekarang dalam perjalanan pulang. Sudah dua hari ponselmu tidak aktif, apa kau marah? Apa kau tidak merindukanku?’

‘Kim Soo In ssi, kau benar-benar membuatku frustasi. Kutunggu kau hari selasa jam sebelas di gedung musik.’

Soo In menutup flap ponselnya dengan gamang. Ia sudah terlambat setengah jam. Apa yang harus ia lakukan? Sedetik kemudian ia melempar ponselnya ke tempat tidur lalu menyambar jaketnya. Ia berlari menuruni tangga dengan terburu-buru sambil memakai jaketnya.

“Oh, Soo In ah, kau sudah membereskan barang-barangmu?” tanya Sukkie saat melihat gadis itu berlari menuruni tangga. Namun dia tidak menjawab. Dia terus berlari keluar. Tidak menghiraukan teriakan Sukkie.

.

.

Di situ, di teras gedung musik, yong hwa sudah menunggunya. Soo In hanya bisa diam melihat laki-laki itu tersenyum dan berjalan menghampirinya.

“Aku tau kau pasti datang. Kenapa tidak membawa payung? Kau jadi basah kuyup…”

Hati Soo In begitu sakit mendengarnya. Air matanya mengalir deras namun tidak akan ada yang tau karena air hujan dengan cepat menghapusnya.

“Bogoshipo…” ujar Yong Hwa sambil menarik Soo In kepelukannya.

Ditengah dinginnya siraman air hujan, ia merasakan kehangatan yang justru membuatnya semakin sakit.

“Kukira kau menghilang dan meninggalkanku,” bisik Yong Hwa.

Soo In merasa sulit bernafas. Tenggorokannya terasa sakit. Tapi ia harus mengatakannya.

“Mulai sekarang… Kita… Kita tidak bisa bersama lagi…”

Yong Hwa terdiam mencoba memahami arti kalimat gadis itu. Dilepasnya pelukannya perlahan, menatap Soo In tidak mengerti.

“Apa maksudmu? Jangan bercanda!”

“Aku serius. Mulai saat ini, aku tidak bisa berada disisimu lagi… Mianhae…”

Yong Hwa menatapnya lekat, seperti mencari kebenaran di mata Soo In. “Waeyo?” tanyanya pelan.

“Karena aku… aku…”

“Soo In ah!!!”

panggilan itu terdengar nyaring membuat Soo In dan Yong Hwa menoleh secara bersamaan ke asal suara. Tak jauh dari mereka, dibawah guyuran air hujan, Sukkie berdiri di bawah payung sambil mencoba mengatur nafas.

“Siapa dia?” tanya Yong Hwa pelan.

“Dia… Orang yang menjemputku, aku harus pergi ke Paris.”

“Aku tanya siapa dia?” ulang Yong Hwa.

“Mianhae…”

“Aku tanya siapa dia?!!” bentak Yong Hwa.

“Dia adalah orang yang paling dekat denganku!!!” balas Soo In ikut membentak.

Sesaat keduanya saling tatap dalam diam.

“Benar! Karena dia lah aku tidak bisa bersamamu. Karena dia juga aku tidak bisa berada disisimu. Mianhae… Aku lebih memilihnya.”

Hening. Yang terdengar hanya suara derasnya hujan. Kaki gadis itu terasa beku. Dengan susah payah digerakkannya untuk berbalik dan melangkah pergi. Namun tangan Yong Hwa lebih cepat. Menahan lengannya. Ia menarik Soo In, merengkuh ke dalam pelukkannya. Begitu kuat, hingga Soo In merasa sesak.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Yong Hwa pelan.

Hati Soo In berdenyut sakit mendengarnya, “Mianhae…”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena… Karena aku menginginkannya,” Soo In merasakan tubuh Yong Hwa membeku.

Tidak, ia tidak sanggup melihat Yong Hwa terluka. Dengan mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa, didorongnya tubuh Yong Hwa perlahan untuk melepaskan diri dan berlari pergi.

Yong Hwa hanya bisa menatap kepergian gadis itu. Tubuhnya beku seolah tidak bisa digerakkannya. Gadis itu sudah mencuri semua kekuatannya. Sebelum ini ia tak tau untuk apa ia hidup, namun setelah bertemu dengan Kim Soo In, Yong Hwa tau alasannya. Tidak pernah sebelumnya ia ingin menghabiskan waktu bersama seorang gadis untuk selamanya. Namun kini, saat ia ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan gadis itu, gadis itu malah pergi dengan meninggalkan goresan luka.

Perih… Disaat kekuatan itu hilang, untuk pertama kalinya, air mata Yong Hwa menetes. Saat ia kecil, saat eommanya meninggal ia tidak menangis. Namun kali ini, ia merasa tubuh dan jiwanya kosong. Bahkan hujan pun tak dapat menghapus rasa sakitnya. Tak peduli berapa banyak tetesan air mata yang keluar, hujan dengan cepat akan menghapusnya…

No one ever sees, no one feels the pain, I shed teardrops in the rain. . .

Soo In terus berlari dengan pandangan kabur. Sukkie yang melihatnya, ikut berlari menyusulnya. Tidak tau sampai mana ia berlari, gadis itu berhenti saat kakinya sudah tidak mampu melangkah lagi. Ia berjongkok dan memeluk tubuhnya erat-erat. Ini pertama kali dalam hidupnya ia tidak punya pilihan. dan ini juga pertama kalinya ia melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya. Gadis itu terisak hebat. Melihatnya seperti itu, membuat sukkie ikut merasa sedih.

“Jung Hoon oppa… Eothokeh??” isaknya.

“Soo In ah, kita harus pergi…” kata Sukkie pelan.

“Beri aku waktu…” kata gadis itu masih memeluk tubuhnya, “Aku takut… Aku takut kalau aku bergerak nanti, Tubuhku akan jatuh berantakan.”

Sukkie merasa ada yang menusuk hatinya saat mendengar kalimat gadis itu. Ditatapnya gadis itu dalam diam.

‘Ada aku disini yang slalu mengulurkan tangan kepadamu. Tapi kau tidak pernah menerimanya dan berusaha berdiri sendiri…’

Sederas apapun hujan yang turun tetap tidak bisa menghapus luka itu dan sebanyak apapun tetesan air mata itu tetap akan terhapus oleh derasnya hujan.

No one ever sees, no one feels the pain, I shed teardrops in the rain. . .

 

 

I wish upon a star i wonder where you are

I wish you’re coming back to me again

and everything’s the same like it used to be. . .

i see the days go by and still i wonder why

i wonder why it has to be this way

Why can’t i have you here just like it used to be. . .

 

I don’t know which way to choose

How can i find a way to go on. . .

I don’t know if i can go on without you oh. . .

 

Even if my heart still beating just for you

I really know you are not feeling like i do

And even if the sun is shining over me

How come i still freeze?

No one ever sees, no one feels the pain

I shed teardrops in the rain. . .

 

I wish i could fly i wonder what you say

I wish you’re flying back to me again

Hope everything’s same like it used to be. . .

 

 

Yong hwa berdiri di depan tangga rumah besar itu. Hujan masih juga belum reda. Seorang pria terlihat berlari-lari keluar sambil membawa payung. Ia menghampiri Yong Hwa dan memayunginya.

“Tuan muda, anda kembali?”

“Apa dia ada di dalam?” tanya Yong Hwa datar tanpa menoleh.

“Tuan besar ada di ruang kerjanya.”

tanpa banyak bicara, yong hwa melangkah menaiki tangga dan masuk ke dalam rumah.

“Jeo-jeoseonghamnida tuan muda. Se-sebenarnya tuan besar tidak ingin diganggu,” jelas Min Ajhusi yang sedang berjalan dibelakangnya itu dengan nada takut. Namun Yong Hwa tidak memperdulikannya. Ia tetap berjalan lurus ke depan. Menuju sebuah ruangan lalu membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Jung Seung Wo terkejut begitu melihat putranya masuk ke dalam ruang kerjanya tiba-tiba. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menatap Yong Hwa dengan kening terlipat. Ini Tidak seperti biasanya. Sudah tiga tahun Yong Hwa tidak menjejakkan kakinya di rumah ini dan sekarang laki-laki itu sedang berdiri dihadapannya dengan tubuh basah kuyup.

“Ini tidak seperti biasanya,” kata Seung Wo “Apa yang membuatmu pulang ke rumah?”

“Biarkan aku bermain musik,” pinta Yong Hwa langsung.

Seung Wo mengerutkan alisnya “Kau tau kalau aku tidak menyukainya.”

“Akan kulakukan apapun agar kau tidak menghalangiku.”

Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya, “Dulu kau setuju untuk sekolah kedoteran karena ingin pergi dari rumah, kau yakin akan menuruti semua kemauanku?”

“Dia melakukan apa yang diinginkannya, dan aku akan melakukan apa yang kuinginkan. Akan kupenuhi semua syarat agar kau tidak menghalangiku lagi.”

Seung Wo melepas kaca matanya sambil tersenyum sipul, “Siapa dia?” tanyanya.

“Bukan urusanmu!” jawab Yong Hwa dingin.

“Baiklah…” kata seung wo menyerah “Aku tidak akan menghalangimu, tapi kau harus menuruti semua kemauanku. Syarat pertama yang kuajukan, tinggal kembali di rumah ini!”

.

.

To be continue…

 

Revisi 20 Nov 13 ; 02.19