Tags

, , , , , ,

 

Teardrops in the rainPart 8

 

“Wow, gadis itu lumayan juga,” kata Jungsin sambil mendecakkan lidah.

“Yaa, semua gadis juga kau anggap cantik!” saut Jong Hyun.

“Memangnya kenapa?! Eh, dia melambaikan tangannya,” kata Jung Shin senang sambil ikut melambaikan tangan.

“Benar-benar sulit dipercaya…” gumam Jong Hyun, “Apa Jungsin begitu mempesona?!”

Jung Yong Hwa hanya diam saja menatap gadis itu. Sedang apa dia di sini? Kenapa ia harus selalu bertemu dengannya? Tanpa sadar, seseorang mengernyitkan dahi sambil menatap ekspresi antara Yong Hwa dan gadis itu.

“Eh, dia berjalan kemari!” seru Jung Shin riang.

.

.

Soo In tertegun sejenak melihat Yong Hwa ada diantara mereka. Mereka pasti anggota CN.Blue. Gadis itu tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Yong Hwa. Tapi laki-laki itu hanya diam saja. Malah laki-laki tinggi di sebelahnya yang membalas lambaian tangan Soo In. Dihampirinya keempat orang itu.

“Anyeong haseo,” sapanya ramah.

“Anyeong haseo…” balas mereka sambil tersenyum.

“Sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya,” Komentar laki-laki tinggi yang tadi membalas lambaian tangan Soo In.

“Ne, Kim Soo In imnida. Aku mulai bekerja hari ini, perusahaan tempatku bekerja mengadakan kerja sama dengan produser di sini.”

“Jeongmal? Ah, kenalkan, Lee Jungsin imnida. Ini Lee Jong Hyun hyung, dan ini Jung Yong Hwa hyung, sedangkan dia, Kang Min Hyuk hyung.”

“Anyeong haseo, Kim Soo In imnida… Bangapsumnida.”

“Aku pergi dulu!” kata Yong Hwa tiba-tiba sambil melangkah pergi sebelum mereka sempat menjawab.

“ah, kau bekerja di bagian apa? Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?” tawar Jungsin “Boleh aku minta nomor ponselmu?”

“Igo…”

SET

belum sempat Soo In menjawab, Yong Hwa kembali lagi. Ia menarik krah belakang baju Jungsin dan menyeretnya pergi “Kau ikut aku!” perintahnya.

“Yaa, hyung lepaskan aku!! Yaa…” protes Jungsin diikuti tatapan ketiga orang yang masih tersisa itu.

“Bukankah kalian CN.blue?” tanya Soo In “Aku akan bekerja sama dengan Sutradara Shin untuk penggarapan music vidio kalian.”

“Jeongmal?” tanya Jong Hyun.

“Mm,” Soo In mengangguk pelan “Ah, bolehkah aku meminta nomor ponsel Jung Yong Hwa ssi?”

Kedua laki-laki itu tampak ragu. Bagaimanapun mereka baru kenal dan tidak tau siapa gadis itu, “Jeoseonghamnida, kami tidak bisa. Kami tidak punya hak untuk itu. Kuharap kau mengerti,” jawab Min Hyuk.

“Ah, ye. Aku mengerti,” kata Soo In “Tapi, apakah benar ini nomor ponselnya?”

Soo In menunjukkan ponselnya yang berisi nomor ponsel Yong Hwa pada kedua laki-laki itu.

“Ah ye, ini nomor Yong Hwa hyung,” seru Jong Hyun.

“Sudah 3 tahun… Ternyata masih tetap sama…” gumam Soo In pelan.

“Changkaman, bagaimana kau tau itu nomor ponsel hyung?” tanya Min Hyuk tiba-tiba dengan kening berkerut.

“I-itu…”

“Oh, Min Hyuk ah, Jong Hyun ah!! kalian sudah datang rupanya,” suara berat sutradara Shin membuat mereka menoleh ke arahnya. “Ah, anda Kim Soo In ssi bukan?!”

“Ye. anyeong haseo, Kim Soo In imnida,” Soo In membungkukkan badannya sedikit kepada pria separuh baya itu.

“Senang sekali bekerja sama denganmu,” ucap sutradara Shin “Tapi, aku tidak melihat Yong Hwa dan Jungshin…”

“Oh, mereka sudah pergi lebih dulu tadi,” jawab Jong Hyun.

“Benarkah? Bagus kalau begitu, kita bisa mulai bekerja. Ayo!”

.

.

“Mworago? Uee tidak bisa syuting karena mengalami usus buntu dan harus dioprasi nanti siang?” tanya sutradara Shin. Raut wajahnya terlihat terkejut.

“Ne, jeongmal jeoseonghamnida…” manager Uee membungkuk beberapa kali untuk meminta maaf.

“Baiklah, akan kupikirkan penggantinya.”

“Ne, jeoseonghamnida” wanita itu membungkuk sekali lagi lalu pergi meninggalkan lokasi.

“Mau bagaimana lagi, syuting tidak bisa dibatalkan,” kata produser yang berdiri di sebelah sutradara Shin.

Soo In yang tidak sengaja mendengar pembicaraan itu, menghentikan kegiatannya menulis di buku agenda lalu menatap kedua pria itu. “Cogiyo… Apa ada masalah sajangnim?” tanyanya.

“Ne, Uee tidak bisa syuting karena usus buntu dan kita harus cepat mencari penggantinya!”

“Pengganti? Bagaimana kalau memakai Kim Ji Kyo ssi? Anda mengenalnya bukan?”

“Tentu saja, tapi apa dia mau melakukannya?” tanya produser.

“Mohon tunggu sebentar, akan kutanyakan padanya.”

Soo In mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Jikyo.

“Yeoboseo?” sapa Soo In begitu telphone tersambung “Kau masih dirumah? …Cepat datang ke FnC management, ada pkerjaan untukmu …Datang dulu nanti kujelaskan, kutunggu kau 20 menit lagi.”

Soo In menutup ponselnya lalu kembali menatap kedua pria itu “Dia akan datang 20 menit lagi.”

“Agashi, apa kau managernya?” tanya produser heran.

“Ah, aniyo… Saya hanya teman baiknya.”

.

.

“Oke… Bagus… CUT!! Syuting hari ini selasai!” ucap Sutradara Shin.

“Kamsahamnida…”

Semua staf mulai membereskan peralatan yang digunakan untuk syuting. Menyimpan semua kamera, menggulung kabel-kabel.

“Bagaimana konsep selanjutnya?” tanya sutradara Shin pada Soo In.

“Saya rasa untuk bagian yang ini lebih baik dilakukan di jalan, saat pertemuan pertama di musim gugur!”

“Ya, bagus. Kalau begitu next skrip kita syuting di jalan.”

“Akan saya hubungi anda begitu menemukan tempat yang cocok.”

“Nde, trima kasih atas kerja samanya. Kau mau ikut kami untuk makan malam bersama?”

“Ah, mungkin lain kali. Bukankah saya harus mencari lokasi yang tepat?” tolak Soo In halus.

“Baiklah kalau begitu…”

“Saya permisi dulu,” pamit Soo In sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.

“Kau mau ke mana Yong Hwa ya? Tidak ikut makan bersama?” tanya sutradara Shin saat melihat Yong Hwa mengambil jaketnya.

“Lain kali saja hyung, aku harus pulang”

“Ah pasti kau akan kencan dengan tunanganmu itu,” goda sutradara Shin.

Kim Soo In yang masih bisa mendengarnya, hanya tersenyum muram lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.

Yong Hwa hanya tersenyum tipis “Aku pergi dulu,” katanya cepat.

Hari ini ia hanya ingin istirahat karena lelah. Namun saat ia berjalan akan keluar dari pintu gedung itu, dilihatnya Han Eun Ki sedang menunggunya. Yong Hwa menghentikan langkah sambil mendecakkan lidah kesal, “Mau apa lagi gadis itu?!” gumamnya.

“Akhirnya ketemu juga,” kata Eun Ki “Urusan kita belum selesai!”

“Aku tidak ingin membahasnya,” jawab Yong Hwa sambil terus berjalan.

“YAA, Jung Yong Hwa ssi!!” teriak Eun Ki sambil mengejar Yong Hwa lalu menahan lengannya.

Yong Hwa menatap gadis itu dengan kesal, “Lepaskan aku!!”

“Sukkie oppa…”gumam gadis itu pelan sambil melihat ke arah lain.

Yong Hwa mengikuti arah pandangan Eun Ki. Ia melihat Kim Soo In sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang sama dengan yang tiga tahun lalu…

.

.

Soo In baru saja keluar dari ruang syuting ketika ponselnya berbunyi. Bibirnya tersenyum saat melihat siapa yang meneleponnya.

“Oppa??” sapanya riang, “Aku baru saja selesai bekerja, bagaimana denganmu? …Kenapa tidak memberitahu kalau kau tiba di korea kemarin sore? Aku kan bisa menjemputmu dibandara …Sekarang aku msih ada di FnC management… Eum, aku sedang berjalan keluar saat ini, kau mau menjemput? Baiklah…”

Gadis itu menutup ponselnya saat keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar. Tanpa disadarinya ia telah melewati Han Eun Ki yang sedang menunggu Yong Hwa di lobi utama. Tidak lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Sukkie keluar dari dalamnya.

“Sudah menunggu lama?” tanyanya sambil menghampiri Soo In.

“Aniyo…”

“Malam ini kita makan bersama.”

“Baiklah, tapi kau harus menemaniku untuk mencari lokasi syuting yang tepat.”

“Tidak masalah,” senyum sukkie.

“Sukkie Oppa!!!”

Soo In dan Sukkie langsung menoleh ke asal suara. Han Eun Ki, gadis itu sedang berlari menuju mereka.

“Kenapa tidak memberitahuku kalau pulang ke Korea?? Kenapa tidak menghubungiku sama sekali?? Kenapa kau jahat sekali?” omel Eun Ki kesal.

“Aku sudah menghubungimu tapi nomormu tidak aktif, Kenapa menyalahkanku?” balas Sukkie.

“Aku benar-benar kecewa padamu. Karena kau aku jadi tunangan dengannya. Kenapa kau tidak datang untuk membatalkannya??”

Sukkie menghela nafas pelan menatap gadis di depannya itu. Han Eun Ki sama sekali tidak berubah, “Aku tidak bisa mencampuri urusan keluargamu Eun Ki ya… ”

“Aku tidak peduli!! Sejak ada dia kau selalu menomor-duakanku!” Eun Ki menunjuk muka Soo In tepat di depan hidungnya “Kau tau kalau aku menyukaimu. Kenapa kau tidak pernah mengerti?”

“Dari awal aku sudah bilang kalau aku hanya menganggapmu sebagai dongsaeng!”

“Aku tidak mau jadi dongsaeng!!” teriak Eun Ki hampir menangis “Apa kau juga menganggapnya sebagai dongsaeng?” Eun Ki menunjuk muka Soo In lagi.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Aku ingin tau, apa itu salah?”

“Aisssh… Kau- kau benar-benar membuatku gila!”

Sukkie membuka pintu mobil lalu menarik tangan Soo In lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil. Menutup pintunya lalu berjalan ke sisi kemudi. Ia sendiri masuk ke dalam mobil dan langsung melesat pergi dari situ.

“Oppa, apa tidak apa-apa meninggalkannya begitu?” tanya Soo In saat mereka sudah pergi. Gadis itu menoleh kebelakang dan menatap kasihan pada Han Eun Ki.

“Jangan takut. Dia memang seperti itu. Kalau tidak begitu dia tidak akan dewasa.”

“Tapi kau dekat dengannya, apa kau tidak tertarik padanya?”

“Jangan bercanda!” dengus Sukkie sebal.

“Tapi kemungkinan itu ada bukan?! Memang… Terkadang kita tidak sadar dengan apa yang kita miliki, dan baru menyadarinya saat kita kehilangan…”

.

.

Eun Ki menatap mobil itu pergi dengan kecewa. Sudah lima tahun ia mengenal Sukkie. Tapi baru kali ini ia benar-benar merasa ditinggalkan.

“Jadi kau menyukai namja itu?!”

Suara Yong Hwa membuatnya menoleh, menatapnya dengan mata basah.

Yong Hwa mendengus pelan “Cinta yang sia-sia,” katanya pendek sambil melegang pergi.

“Apa kau bilang?” tanya Eun Ki dengan mulut ternganga, “YAA, urusan kita belum selesai! YAA!!!” teriak Eun Ki pada Yong Hwa yang sudah masuk ke dalam mobilnya.

“Dengar Jung Yong Hwa ssi, meskipun aku tidak bersama Sukkie Oppa aku tetap tidak akan pernah menikah denganmu!! Seribu kali pun tidak!!”

“Nona apa benar yang anda katakan??”

“Apa anda tidak mencintai Jung Yong Hwa?”

“Anda tunangannya bukan? Apa kalian bertunangan karena dipaksa?”

“Tolong jelaskan kata-kata anda tadi!”

Eun Ki menatap reporter-reporter yang tiba-tiba muncul itu dengan bingung. Darimana asal mereka? Kenapa mereka tiba-tiba muncul di depannya dengan pertanyaan-pertanyaan dan jepretan kamera. Tanpa berfikir lagi gadis itu langsung lari dari situ dan terpaksa bersembumyi dibalik tong sampah agar tidak ketahuan reporter-reporter yang mengejarnya.

“Awas kau Jung Yong Hwa brengsek!! Aku akan membunuhmu!!” geramnya sambil memelintir seikat sawi yang sudah layu.

***

“Astaga, aku terlambat!!!” teriak Soo In panik. Cepat-cepat ia bangun dan berlari ke kamar Ji Kyo, tapi gadis itu sudah tidak ada. Dilihatnya ada secarik kertas yang ditempelkan di pintunya.

‘Aku harus berangkat ke agency lebih awal. Kita bertemu di lokasi syuting nanti, anyeong.’

Setelah membaca pesan itu, Soo In cepat-cepat mandi. Cepat-cepat bersiap dan cepat-cepat berangkat. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk sarapan bahkan untuk menyisir rambut.

Kakinya terpaksa olah raga, berlari-lari di pinggir jalan untuk mencari taxi yang lewat. Namun tak ada satu pun yang kosong. Akhirnya ia terpaksa naik bus umum. Dan begitu bus berhenti di halte yang dituju, gadis itu segera berlari menuju lokasi syuting.

“Jeoseonghamnida hyung nim, saya terlambat. Jeoseonghamnida…” ucapnya pada sutradara Shin begitu ia tiba sambil membungkuk beberapa kali.

“Gwenchana… Lain kali jangan terlambat lagi, araseo?!”

“Ne, araseo… kamsahamnida…” Soo In membungkukkan badannya sekali lagi pada sutradara Shin dan ia mulai bekerja untuk mengatur latar tempat.

.

.

“Ok CUT!!” teriak sutradara Shin, “Kita istirahat sebentar.”

Soo In menghela nafas panjang, kepalanya terasa pusing. Dilihatnya Ji Kyo sedang berlatih dialog bersama Jong Hyun yang mnjadi model utama.

“Untukmu!”

Soo In mengerjap kaget saat melihat sekaleng minuman Jung Shin mengulurkan sebotol minuman padanya. “Ah kasahamnida…” diterimanya minuman itu sambil tersenyum. meskipun sebenarnya ia lebih membutuhkan makanan daripada minuman.

“Yaa, Jung Sin ah!! Kemarilah sebentar!!” teriak sutradara Shin.

“Aku pergi dulu,”

Soo In mengangguk pelan, “Kamsahamnida…” ucapnya lagi. Gadis itu menghela nafas pelan, “Aku harus makan sesuatu sebelum penyakit magh-ku kambuh,” gumamnya pelan.

Gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi, berniat mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tapi baru beberapa langkah, ia berhenti. Matanya tertegun menatap Seseorang yang sedang mengulurkan sandwich kepadanya.

“Aku sedang tidak lapar. Kurasa kau membutuhkannya,” kata Yong Hwa datar.

Soo In menerima sandwich itu dengan ragu. Ditatapnya lagi Yong Hwa.

“Aku tidak ingin syuting tertunda gara-gara ada yang sakit. Lebih cepat selesai lebih baik,” tambahnya dingin kemudian langsung berbalik pergi.

“Cangkaman!!” seru Soo In membuat Yong Hwa menghentikan langkahnya “Yong Hwa ssi, gomawo…” ucap soo in tulus.

“Ini demi janjiku kepada seseorang yang sudah tiada. Aku tidak akan pernah mengingkarinya!” balas Yong Hwa dingin tanpa menoleh, kemudian melanjutkan langkahnya lagi.

Kata-kata itu menusuk tepat di hati Soo In. membuatnya sesak. Seketika rasa sakit itu kembali lagi, dan air mata itu jatuh. “Oppa…”

***

“Sukkie oppa!!” teriak Eun Ki sambil berlari-lari kecil menghampiri Sukkie. Saat ini ia sedang berada di perusahaan milik Appa Yong Hwa. Tadi ia pergi ke studio untuk mencari Yong Hwa, tapi kata Jong Hyun, Yong Hwa sedang berada dikantor appanya. Sampai mati pun ia tidak akan menyerah untuk membatalkan pertunangan itu.

“Kenapa kau berada di sini?” tanya Sukkie heran.

“Aku sedang mencari seseorang, kau sendiri?”

“Aku baru saja meeting dengan klien.”

“Mmm… Soal kemarin… A-aku minta maaf_”

Kalimat Eun Ki terhenti saat Sukkie mengacak-ngacak rambutnya sambil tersenyum. “Araseo. Aku sangat mengenalmu Han Eun Ki.”

Eun Ki menatap terpana “Oppa~~ Aku benar-benar menyukaimu. . .”

“Kau ini!” gerutu Sukki sambil mengacak lebih keras rambut Eun Ki.

“Oppa hentikan! Kau bisa membuat rambutku rontok,” gerutu gadis itu sambil merapikan rambutnya. Tiba-tiba matanya melihat Yong Hwa yang sedang berjalan ke arahnya “Ah,Jung Yong Hwa ssi!!” serunya keras.

.

.

Yong Hwa membanting pintu kantor appanya dengan keras. “Dia memanggilku hanya untuk membicarakan masalah pernikahan?!” laki-laki itu mendengus pelan “Kenapa harus bertanya padaku? Bukankah smuanya dia yang memutuskan?!”

Ia melangkah dengan kesal dan tiba-tiba saja langkahnya melambat saat melihat Han Eun Ki “Dia lagi? Lama-lama dia terlihat lebih menyeramkan daripada wartawan,” gumam Yong Hwa.

“Ah, Jung Yong Hwa ssi!!” seru gadis itu. Pada waktu yang bersamaan, laki-laki yang ada dihadapan Eun Ki berbalik menatap dirinya. Laki-laki itu…

Sejenak mereka hanya saling bertatapan dalam diam.

“Aku ingin bicara baik-baik dgnmu!” kata Eun Ki setelah sampai di depannya. Tapi yong hwa hanya diam. Matanya masih tertuju pada Sukkie yang sekarang sedang berjalan ke arahnya.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu,” kata Sukkie.

Melihat itu, Eun Ki langsung memeluk lengan Sukkie “Benar oppa, dia adalah orang yang dijodohkan denganku!” adu Eun Ki.

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” Sukkie diam sejenak “Lepaskan dia…”

“Benar! Lepaskan aku, aku tidak mau menikah denganmu!” saut Eun Ki.

Yong Hwa mendengus pelan “Kau hanya ingin mengatakan itu?”

“Benar. Aku tidak ingin melihatnya menangis karenamu. Karena itu lepaskan dia.”

“Kau dengar Yong Hwa jelek, cepat lepaskan aku! Karena aku sangat menderita bersamamu!” timpal Eun Ki.

“Dia tidak perlu menangis lagi. Karena sejak tiga tahun yang lalu, saat ia meninggalkanku, saat itu juga aku melepaskannya.” jawab Yong Hwa dingin, kemudian melangkah pergi.

“Eh, tiga tahun yang lalu? Yang kalian bicarakan bukan aku?” tanya Eun Ki bingung. Namun Sukkie hanya diam sambil menatap Yong Hwa yang berjalan smakin jauh.

“Kalau bukan aku lalu siapa? Mungkinkah… Kim Soo In??” tanya Eun Ki terkejut.

***

Hari ini syuting diadakan di dalam ruangan. Sejak tadi para kru sudah terlihat mondar-mandir mengerjakan pekerjaannya untuk keperluan syuting.

“Kenapa suasananya kelihatan seram? Aneh sekali,” komentar Jong Hyun pelan.

“Sekarang makin banyak orang yang melihat kita syuting,” tambah Jung Shin sambil melihat sekelilingnya. Di sana ada reporter Choi, Eun Ki, juga Sukkie.

“Lakukan saja syutingnya dengan baik!” saut Min Hyuk.

Syuting pun di mulai. Namun baru dua jam sutradara Shin berteriak untuk istirahat sebentar. Soo In menghampiri Jong Hyun yang duduk di sebelah Yong Hwa. Ia memperbaiki karangan bunga yang sedang dipegang Jong Hyun.

Sementara itu sutradara Shin menyuruh salah satu anak buahnya untuk membenarkan peralatan. Namun saat mencolokkan kabel, salah satu staf itu tidak sengaja menekan tombol yang salah hingga listrik menjadi padam. Seketika ruangan menjadi gelap.

Soo In merasa jantungnya mendadak berhenti. Namun tiba-tiba seseorang menariknya. Membekap mulutnya dan memeluknya.

“Jangan takut! Kau tidak sendiri,” bisik orang itu.

Beberapa detik kemudian lampu menyala lagi membuat semua mata menjadi silau. Namun smuanya sangat terkejut saat melihat Soo In ada di sana, dalam dekapan Yong Hwa.

.

.

Saat ruangan menjadi gelap tanpa pikir panjang Yong Hwa langsung beranjak dari duduknya dan menarik Soo In ke dalam pelukannya. “Jangan takut, kau tidak sendirian,” bisiknya pelan saat dirasakannya tubuh gadis itu gemetar hebat.

Tidak lama kemudian lampu menyala dan ia melihat keterkejutan di mata gadis itu. Ia sendiri merasa bingung atas tindakannya dan tiba-tiba saja sebuah cahaya yang menyilaukan menerpa mereka. Cahaya dari kamera reporter Choi.

Yong Hwa langsung melepaskan pelukannya dan segera pergi ke toilet, sementara Sukkie menghampiri Soo In yang wajahnya terlihat pucat.

“Aku harus mencari tahu tentang mereka” gumam Eun Ki pelan. Beberapa detik kemudian ia terdiam dan menoleh ke samping. Di situ Min Hyuk sedang menatapnya aneh, “Kau juga harus membantuku!” perintah Eun Ki galak.

***

“Yaa, Jung Shin ah! Baru kali ini aku melihatmu mendengarkan ipod,” komentar Min Hyuk. Saat itu mereka sedang berada di studio, menunggu untuk pemotretan.

“Ini bukan punyaku,” saut Jung Shin “Coba dengarkan ini!” Jung Shin memasangkan salah satu earphonenya ke telinga Min Hyuk.

Min Hyuk mengernyit pelan, “Mirip sekali dengan suara Yong Hwa hyung.”

“Kau merasa begitu? Aku juga.”

“Yaa, kalian sedang mendengarkan apa?” tanya Jong Hyun.

“Kemarilah, coba dengarkan ini!”

Jong Hyun beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat Jung Shin. Sementara itu Yong Hwa baru saja memasuki ruangan dan langsung menjatuhkan diri ke sofa.

“Tunggu sepertinya aku kenal lagu ini…” kata Jong Hyun tiba-tiba “Yaa, Lee Jung Shin! Ini kan ipod milik Yong Hwa hyung!”

“Aniyo, itu milik Kim Soo In!”

Seketika Yong Hwa menoleh dan langsung beranjak dari duduknya. Menghampiri mereka lalu menyambar ipod itu dan memasang earphone ke telinganya. Suara itu… lagu itu…

Teardrops in the rain. . .

 

To be continue…

 

Revisi 20 Nov 13 ; 02.35