Tags

, , , , , ,

 

Teardrops in the rainPart 10

“Cogiyo… Apa kau Kang Minhyuk anggota CN. Blue?”

Namja itu membalasnya dengan senyuman, “Ye, Kang Min Hyuk imnida. Senang bertemu denganmu, Park Eun Yi ssi.”

“Sudah lama sekali…” gumam Soo In sambil menatap sekeliling tempat itu, “aku hampir saja tidak mengenal tempat ini. Sekarang sudah banyak berubah.”

“Ne. Usaha bos berjalan lancar, saat ini dia sudah membuka dua cabang rumah makan di Myeundong. Sekarang aku untuk menjadi kepala manager di sini. Padahal dulu cuma ada aku dan kau yang bekerja.”

Gadis itu tertawa kecil, “Kau benar.”

“Kapan kau pulang ke Korea? Ji Kyo bilang kau pindah ke paris dulu.”

“Belum lama, sekarang aku akan bekerja di sini.”

“Jeongmalyo? Itu bagus… Aku sangat senang bertemu denganmu lagi. Baiklah aku akan menyiapkan menu andalan kami. Kau tau, aku pandai memasak sekarang. Kau pasti terkejut mencicipi masakanku. Kalian mengobrol saja dulu.”

“Gomawo…”

Gadis berlesung pipi itu beranjak dari duduknya lalu pergi kebelakang. Meninggalkan Soo In dan Min Hyuk yang memang membutuhkan waktu untuk berbicara berdua.

“Kami dulu teman baik, jadi aku sangat senang bertemu dengannya,” senyum Soo In.

Min Hyuk sambil menyesap tehnya pelan, “aku juga senang bertemu dengannya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Mwo? Ka-kau_apa?”

“Dia pandai memasak bukan?”

“Astaga… Apa kau serius? Yaa, dia teman baikku. Jangan mempermainkannya!”

Laki-laki itu tertawa renyah, “Sudahlah, saat ini yang sedang ingin kubicarakan adalah kau!”

“Aku?”

“Kami sudah tau semua tentangmu dan Yong Hwa hyung.”
Wajah Soo In mendadak berubah muram. Ia menatap laki-laki itu terdiam.

“Masalahnya, saat ini wartawan dan reporter sedang menyelidiki hal ini sementara posisi Yong Hwa hyung sudah bertunangan.”

“Apa gadis itu juga tau?” tanya Soo In pelan.

“Ne, dia sudah tau.”

“Apa yang dikatakannya? Apa dia terluka?”

“Bukankah kau mengenalnya?”

“Nuguseo?”

“Han Eun Ki. Dia gadis itu. Tunangan Yong Hwa hyung.”

Soo In menatap Min Hyuk terkejut “Bukankah dia menyukai Sukkie oppa?” tanyanya.

“Ya, sejak awal dia memang tidak mau bertunangan. Dia bahkan menemui Yong Hwa hyung setiap saat untuk memintanya membatalkan pertunangan. Dia terpaksa melakukannya karena orang tuanya.”

“Lalu… Apakah Yong Hwa ssi juga terpaksa bertunangan dengannya?” tanya Soo In hati-hati.

“Entahlah… Hyung bisa saja menolaknya, tapi dia tidak melakukannya.”

Gadis itu tiba-tiba saja merasakan sesak. Ia menyesap tehnya pelan-pelan. “Aku akan bilang pada wartawan bahwa kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya bekerja dalam satu proyek dan kejadian kemarin itu hanya kebetulan saja.”

“Apa kau yakin?”

“Ya, aku tidak ingin menyusahkannya lagi.”

“Tunggulah sebentar, kita lihat apa yang akan dilakukan Yong Hwa hyung.”

“Mmm,” Soo In mengangguk setuju.

******

“Apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Yong Hwa saat melihat ayahnya masuk ke ruang studio.

“Kenapa kau tidak pulang ke rumah? Sampai kapan kau berdiam diri seperti ini?”

“Ini masalahku, biar aku yang menyelesaikannya sendiri!”

“Kau habis minum semalam?” tanya Seung Wo saat melihat ada banyak botol soju berserakan di meja.

“Pergilah!”

“Tidak sebelum aku selesai bicara denganmu.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Dengar Jung Yong Hwa, aku dan orang tua Han Eun Ki sepakat akan mempercepat rencana pernikahan kalian. Kami akan mengadakannya lima hari lagi.”

“Geure?” Yong Hwa tersenyum masam “terserah kau saja. Tapi aku membatalkan pertunangan ini.” ucapnya sambil melepaskan cincin di jari manisnya lalu menaruhnya di meja.

“Apa kau sudah lupa? Kau bilang kau akan mengikuti syarat yang kuberikan. Kau tau akibatnya jika menolak keinginanku?”

Laki-laki itu beranjak dari duduknya. Matanya menatap manik pria itu, “Aku tau!” jawabnya tanpa ragu “Selama ini aku selalu menuruti kemauanmu, tapi tidak kali ini. Aku akan mengikuti keinginanku. Aku akan bilang pada orang tua Han Eun Ki untuk membatalkan pertunangannya, aku yakin gadis itu akan senang mendengar hal ini. Aku juga akan mengatakan pada Soo In bahwa aku mencintainya, aku tidak peduli kalau aku tidak bisa bernyanyi dan bermain musik lagi. Bisa bernyanyi didepannya saja itu sudah cukup untukku.” Kakinya langsung melangkah pergi sebelum mendengar sangkalan dari ayahnya.

Jung Seung Wo menghela nafas pelan kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi orang kepercayaannya. “Carikan aku data seorang gadis bernama Kim Soo In!”

*****

“Soo In ah? Sedang apa kau di sini?” tanya Sukkie heran saat melihat gadis itu masih berada di lobi perusaahaan.

“Aku menunggumu. Aku baru saja menyelesaikan rancangan sebuah cafe dan sudah menyerahkannya pada Mr. Park! Kulihat kau belum pulang, jadi aku menunggumu.”

Sukkie tersenyum mendengarnya “Kau sudah makan malam? Mau makan sushi?” tawarnya.

“Mmm kajja!!” jawab Soo In riang.
.
.
Mereka berdua makan di sebuah restourant sushi tidak jauh dari gedung tempat mereka bekerja. Sudah pukul tujuh malam, saat mereka menikmati makanan itu.

“Sudah lama sekali aku ingin makan ini… Mmm mashita…” kata gadis itu dengan nada ceria.
“Jeongmal? Kalau begitu makan yang banyak!”

Gadis itu tersenyum, “Sepertinya kau harus memberikan bagaianmu kepadaku.”

“Makanlah, akan kuberikan apapun untukmu.” tawa Sukkie.

” Gomawo…”

“Jangan protes padaku kalau kau jadi gemuk nanti. Itu salahmu sendiri.”

“Hoho… Tenang saja! Itu tidak akan terjadi.”

“Aku mau ke toilet dulu. Kau mau ice cream?”

Soo In langsung mengangguk, “Mm, gomawo!”

Laki-laki jangkung itu beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju counter ice cream sebelum pergi ke toilet. Dia belum selesai saat ice cream yang dipesan datang. Soo In memakannya sementara menunggu.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini.”

Gadis itu menoleh dengan kaget, “Han Eun Ki ssi…?”gumamnya pelan saat melihat gadis itu. Han Eun Ki sedang sendirian jadi tidak mungkin mereka kebetulan bertemu. Lebih tepat jika gadis itu berkata kebetulan sekali dia melihat Soo In di restaurant ini.

Perasaan Soo In tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Ia sama sekali tidak akur dengan gadis itu. Dulu saat di Paris, Han Eun Ki sering mendatanginya. Marah-marah tidak jelas. Tapi Sukkie selalu datang menyelamatkannya dan menyeret gadis itu pergi.

“Sukkie oppa, eodiga?” tanyanya sambil menatap jaket sukkie yang ada dikursi paling kanan.

“Dia sedang pergi ke toilet.”

Gadis berambut pendek itu tiba-tiba saja duduk di tempat Sukkie tadi sambil mendesah keras. Mata gadis itu melirik sebuah amplop coklat di dalam saku jaket sukkie yang sedikit menyembul. “Ige mwoya?” tanyanya sambil menarik amplop itu.

Dibukanya amplop itu dan mengeluarkan isinya tanpa ijin pemilik. Sepertinya kumpulan foto-foto.
Soo In melihat wajah datar Han Eun Ki saat menatap satu persatu foto itu dengan cepat. Gadis itu menghela nafas pelan sebelum menatapnya, “Kim Soo In ssi,” panggilnya dengan nada lelah.

“Ne?”

“Kembalilah pada Jung Yong Hwa!”

“Ye??” Soo In terkejut mendengar permintaan itu. Apa pendengarannya masih normal?

“Aku minta agar kau kembali pada Jung Yong Hwa!” ulang Han Eun Ki.

Gadis itu terdiam sejenak, “Bukankah dia tunanganmu?”

“Aku tidak pernah mau jadi tunangannya. Bukankah kau mencintainya?”

“Meskipun aku ingin, tapi aku tidak bisa. Dia benar-benar membenciku.”

“Aku akan membantumu!”

Kim Soo In menatap Han Eun Ki heran, “Kenapa kau sangat ingin aku kembali padanya?”

“Karena aku tidak ingin kau merebut Sukkie oppa dariku!”

Mata gadis itu melebar mendengarnya, “Mana mungkin! Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.”

“Mungkin benar kau hanya menganggapnya sebagai kakak, tapi apa dia pernah bilang akan menganggapmu sebagai adiknya?”

“Aku…” suara gadis itu mengambang. Ia terdiam tidak tau harus berkata apa. Sukkie memang pernah mengatakan bahwa dirinya adalah keluarga, tapi dia tidak pernah mengatakan kalau Soo In adalah adiknya.

“Dia menyukaimu,” kata Han Eun Ki datar, membuat Soo In lebih terkejut lagi.

“I-Itu tidak mungkin!”

Tanpa berkata apa-apa, Han Eun Ki meletakkan kumpulan foto di depan gadis itu. Ada perasaan kesal yang luar biasa saat melihat hasil jepretan itu.

“I-ini…”

“Bahkan hanya kau yang selalu dilihatnya,” kata Han Eun Ki dengan muram.

Soo In menggeleng pelan. Foto-foto itu… Semua foto-foto itu adalah dirinya. Sukkie memang suka memotret. Dan itu memang terkadang diperlukan dalam pekerjaannya. Ia sama sekali tidak pernah menyadari kalau Sukkie selalu memotretnya. Saat ia sedang tertawa, melamun, menangis, bekerja, tidur, makan, melukis, banyak sekali. “sejak kapan dia melakukan hal ini…?” gumamnya pelan.

“Yang kutau, dia sudah menyukaimu bahkan sebelum dia bertemu denganku.”

“Tidak mungkin…”

“Dia mencintaimu. Karena itu kembalilah pada Jung Yong Hwa!”

“Aniya… Maldo Andwae!” ucap Soo In sambil meletakkan foto-foto itu kembali lalu menyambar tasnya dan berlari keluar.
.
.
Laki-laki itu baru saja keluar dari toilet dan sedikit heran mendapati gadis yang duduk di tempatnya bukan Kim Soo In.

“Han Eun Ki?”

“Sukkie oppa!!” sapa gadis itu riang.

“Sedang apa kau di sini? Soo In eodiga?”

“Baru saja pergi.” Jawab Eun Ki singkat.

Sukkie mengerutkan keningnya, merasa aneh. “Kenapa dia pergi?”

“Karena dia tau kau mencintainya.”

“Mworago?” tanya Sukkie terkejut, matanya melirik foto-foto yang ada di meja, “Kau_” ditatapnya Han Eun Ki, ia sudah membuka mulut untuk bicara namun diurungkannya. Tangannya menyambar jaket miliknya dengan cepat lalu berlari pergi.

“Oppaaaa!!”

Han Eun Ki berteriak memanggil laki-laki itu. Namun Sukkie tidak menjawabnya. Selalu seperti ini, pada akhirnya Han Eun Ki selalu ditinggalkan.
.
.
“Baiklah pemotretan hari ini selesai!” teriak Joon PDnim, “kalian boleh pulang!”

“Kamsahamnida…”

Semua artis dan staf saling membungkuk untuk berterima kasih. Mereka mulai membereskan semua barang-barang yang sudah digunakan untuk syuting.

“Hari ini sangat melelahkan bukan?” Tanya Jong Hyun pada gadis yang menjadi model Music Video-nya.

“Ne,” jawab Jikyo sambil tersenyum. Manic matanya melihat Jung Yong Hwa sedang terburu-buru mengambil jaket kemudian segera pergi.

“Kau pulang bersama siapa?” tanya Jong Hyun lagi, mengalihkan pandangan Jikyo dari Yong Hwa.

“Aku bisa naik bus sendiri.” jawabnya.

“Apa tidak berbahaya? Kau seorang model yang cukup terkenal.”

Gadis itu tertawa kecil, “Aku tidak sepopuler dirimu.”

Jong Hyun balas tersenyum, “Bagaimana kalau kuantar? Kebetulan Jung Shin juga ikut denganku, lagipula tidak baik seorang gadis pulang malam sendiri.”

“Yaa, semobil dengan dua orang laki-laki itu juga tidak baik untuk seorang gadis. Gwenchanato… Aku sudah biasa naik bus.”

“Kalau begitu sampai halte saja.”

Jikyo menimang-nimang sebentar sebelum mengangguk setuju, “Baiklah… Hanya sampai halte.”

Jong hyun tersenyum lalu membalikkan tubuh, berteriak pada Jung Shin “Jung Shin ah, ayo kita pulang!!”

“Changkaman hyung! Aku mau ke toilet dulu.”

“Kalau begitu kutunggu di mobil.”

“Ne!!”

“Kajja!” ajak Jong Hyun pada gadis itu.

“Ah, changkamanyo!” saut Jikyo saat melihat sebuah buket bunga di atas kursi. “cogiyo… apa bunga ini sudah tidak dipakai? Apa aku boleh membawanya?” tanyanya pada salah satu kru.

“Ne, gwenchanayo.”

“Kamsahamnida…” ucapnya sambil membungkuk pelan. “Kajja!” ucapnya pada Jong Hyun sambil memeluk buket bunga mawar itu.

“Kau suka mawar rupanya…” kata laki-laki itu saat mereka berjalan melewati koridor menuju lobi.

“Ne… Aku sangat menyukainya, apalagi yang berwarna putih,” jawab Jikyo sambil mencium bunga itu.

“Kebanyakan yeoja memang suka bunga.”

“Sama seperti namja yang suka bola.”

“Aktingmu cukup bagus, kau tidak mau mencoba dunia film?”

“Aku belum memikirkannya. Aku menjadi model karena aku menyukai fashion.”
“Jadi begitu…”

“Ne, benar…” suara gadis itu tiba-tiba mengambang saat matanya menangkap sosok seseorang yang dikenalnya.

“Waeyo?” tanya Jong Hyun bingung.

“Oppa…” gumamnya pelan saat melihat Lee Hong Ki berdiri di depannya.

Baru saja bibirnya akan tersenyum laki-laki itu tiba-tiba saja membalikkan badan kemudian berjalan pergi.

“Oppaa!!!” gadis itu berteriak keras, “Mianhaeyo, Jong Hyun ssi. Aku tidak bisa ikut kalian, Anyeong haseo…” ucapnya terburu-buru pada laki-laki itu sebelum berlari pergi menyusul Lee Hongki.
.
.
“Soo In ah, ternyata kau di sini. Kau membuatku khawatir!” laki-laki itu mendesah lega saat melihat gadis yang sedang duduk di bangku pinggir taman itu terlihat baik-baik saja.

Gadis itu menoleh saat mendengar suara yang dikenalnya. Ia beranjak dari duduknya lalu menatap laki-laki dihadapannya itu. “Oppa…”

“Kenapa kau tiba-tiba pergi?” tanya Sukkie.

“Oppa… Kau pernah bilang kalau aku ini keluargamu. Tapi… tapi apa kau juga menganggap aku sebagai adikmu?” Soo In balas tanya.

Jang Geun Suk terdiam. Ia bimbang. Selama ini ia sudah bersyukur gadis itu tidak bertanya padanya. Sekarang apa yang harus dijawabnya?

“Kenapa tidak menjawab?” tanya Soo In saat dilihatnya Sukkie hanya diam.

“Ani…” jawab Sukkie akhirnya, “aku tidak pernah menganggapmu sebagai adikku.”

Hening. Keduanya sama-sama terdiam.

“Kalau begitu… Semua yang dikatakan Han Eun Ki ssi itu benar?” gadis itu menatap, menuntut jawaban, “Katakan padaku, oppa! Apa kau mencintaiku?”

“Apa kau benar-benar ingin mendengarnya?” Sukkie balik bertanya.

“Ya, aku ingin mendengarnya.”

Hening sejenak. Laki-laki itu menghela nafas panjang. Entah sudah yang keberapa hari ini ia melakukan hal itu. Ia bisa melihat gadis itu menunggu jawaban darinya. “Benar…” jawabnya kemudian, “Aku memang mencintaimu. Sebagai seorang wanita.”

Untuk sejenak Kim Soo In terdiam, “Sejak kapan?” tanyanya lirih.

“Aku juga tidak tau. Mungkin saat kita berpisah dulu. Atau mungkin sebelum itu. Yang jelas aku menyadari bahwa aku membutuhkanmu saat kau tidak ada disisiku dulu. Sebagian diriku menyesal karena harus pindah ke Paris saat itu.”

Gadis itu memejamkan matanya sejenak, berharap bisa mengurangi perasaan lelahnya. “Gomawo oppa… Terima kasih karena kau sudah mencintaiku.” jawabnya pelan, “Tapi maaf… Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Bagiku… Kau adalah oppaku. Sampai nanti pun kau akan tetap menjadi oppaku, mianhaeyo…”

Tangan sukkie bergerak cepat menahan lengan gadis itu saat dia akan pergi, “Kenapa aku harus menjadi oppamu?” tanyanya sambil menatap tajam.

“Oppa, waegeure?” Soo In meringis pelan saat merasakan sakit pada cengkraman tangan itu. Ia mencoba menarik tangannya.

“Apa karena dia?” tanya Sukkie lagi “apa kau masih mengharapkannya?”

“Oppa jebbal!”

“Kenapa kau masih menunggunya? Dia sudah melepasmu Soo In ah, dia membencimu! Kenapa kau terus menunggunya dan tidak mau menerima uluran tangan dariku? Kenapa kau terus berlari ke tempat lain sedangkan aku selalu ada disini untukmu? Kenapa kau terus mengikatkan dirimu padanya?”

Kim Soo In terkesiap, ini baru pertama kali dilihatnya Sukkie bicara dengan penuh emosi.

“Lupakan dia dan lihatlah aku! Aku akan selalu menjadi tongkat untukmu berjalan agar kau tidak terjatuh.”

“Aniya oppa… Mianhae,” jawab Soo In pelan, air matanya mulai menggenang lalu meluncur jatuh, “kau bisa menjadi tongkat yang menyanggaku saat aku terjatuh. Tapi kau tidak bisa menjadi cahaya untukku seperti dirinya. Meskipun aku punya tongkat untuk berjalan, tetap saja aku akan kehilangan arah tanpa cahaya.” Gadis itu melihat keterkejutan di mata Sukkie. “Aku sudah tidak mengharapkannya lagi,” lanjutnya “tapi aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Dulu aku melakukan hal yang tidak kuingikan dengan meninggalkannya. Sekarang aku tidak akan melakukan hal yang tidak kuinginkan lagi. Jadi kumohon lepaskan aku…”

Laki-laki itu terdiam. Menatap gadis yang memohon didepannya. Dia begitu dekat tapi mengapa hanya untuk meraih tangannya saja ia tidak bisa. Tiba-tiba cengkeraman itu melemah. Sukkie melepaskan tangan Soo In, “Kka!” pintanya pelan sambil memalingkan wajah, “cepat pergi sebelum aku menahanmu untuk selamanya!”

Kaki gadis itu melangkah mundur. Dari balik pandangannya yang kabur, ia merasa sedih telah menyakiti orang yang disayanginya itu. “Gomawo oppa… Jeongmal gomawo…” ucapnya lirih sebelum ia berbalik lalu berlari pergi.
.
.
“Kim Soo In ssi?”

Gadis itu menatap bingung dua orang laki-laki berpakaian jas yang rapi tiba-tiba saja menghalangi jalannya.

“Bisakah anda ikut dengan kami sebentar? Jung sanjangnim ingin bertemu dengan anda.”

“Jung… Nuguseo?” tanya Soo In bingung.

“Appa dari tuan muda Jung Yong Hwa.”

Kim Soo In terdiam sejenak. Apa yang harus dilakukannya? Apa ia harus ikut dengan orang-orang itu? Apa yang akan terjadi padanya? Ia tidak tau sama sekali jawabannya. Pada akhirnya, gadis itu saat ini berdiri di dalam ruang kerja yang besar itu untuk menemukannya. Mungkin dengan begini, ia bisa menemukan sedikit dari jawaban yang dicarinya.

“Jadi kau yang bernama Kim Soo In?” tanya seorang pria yang sedang duduk di balik meja besar dalam ruangan itu. Salah satu tangannya sedang membuka map.

“Ne.”

“Apa kau tau aku adalah Appa Yong Hwa?”

“Ne.”

“Apa kau juga tau kalau appamu adalah salah satu pegawaiku?”

Apa? Apa katanya? Appa? Pegawai? Perasaan gadis itu tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ia merasa takut sekarang. “Anda_ apakah anda Jung Seung Wo ssi?” tanyanya pelan.

“Benar. Itu aku.”

Gadis itu merasa dadanya tiba-tiba saja menjadi sesak seperti kehilangan nafas. Dia, orang itu, Jung Seung Wo. Orang yang memiliki andil atas kepergian orang tuanya. Dan dia adalah appa Yong Hwa?

“Aku mendengar tentang hubunganmu dengan putraku. Apa kau tau dia akan segera menikah?”

Mata Soo In menatap terkejut. Ia baru mendengar hal ini. Bibirnya ingin berbicara namun lidahnya terasa kelu.

“Dengar Kim Soo In ssi! Aku tidak ingin pernikahan ini gagal. Aku ingin kau menjauh dari putraku. Kau tau kalau dia suka bermain musik bukan? Aku akan membuatnya berhenti bernyanyi dan bermain musik kalau kau masih tetap berhubungan dengannya. Kalau kau menyukainya seharusnya kau tidak merusak impiannya.”

Tangan gadis itu terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Ditatapnya pria itu tajam, “Dengar Jung Seung Wo sanjangnim yang terhormat! Aku tidak memiliki hubungan dengan putramu. Seharusnya kau katakan hal itu tiga tahun yang lalu. Tanpa kau memohon pun, aku akan menjauhi semua hal yang berhubungan denganmu dengan senang hati. Jadi kau tidak perlu repot-repot membawaku kemari saat ini.” sautnya dingin kemudian langsung melangkah pergi.
.
.
Lee Hongki, laki-laki itu sedang mengendarai mobilnya. Ia baru saja pulang dari tour luar negeri untuk promo album terbarunya So Today. Hari ini ia ingin memberi kejutan kepada seseorang. Tentu saja kepada gadisnya. Dering ponselnya di dashboard membuatnya mengernyit pelan. Cepat-cepat ia memasang handsfree begitu tau Joon PDnim yang menelepon.

“Yeoboseo…?” jawabnya begitu telepon tersambung, “ne PDnim… Sekarang? Odigayo? …araseoyo, lima belas menit lagi aku sampai.”

Sepertinya keinginannya untuk bertemu gadis itu harus ditunda dulu. Joon PDnim menyuruhnya mengambil skrip yang dibutuhkan untuk pembuatan music video. Tentu saja ia tidak bisa menolak. Karena itu, dalam waktu yang tidak lama laki-laki itu sudah ada di gedung agency. Di dalam ruangan Joon PDnim lebih tepatnya.

“Ini skrip untuk pembuatan music video-nya. Pelajarilah dengan baik. Maaf harus menyuruhmu kemari saat kau baru saja pulang dari jepang. Aku baru saja selesai dengan music video cn. Blue dan harus ke pulau jeju besok.”

“Araseoyo, gwechasubnika PDnim. Baiklah, aku pergi dulu,” pamit Hongki.

“Ya, hati-hati.”

Laki-laki itu keluar dari ruangan Joon PDnim kemudian masuk ke dalam lift. Begitu sampai di lantai bawah ia langsung berjalan menuju lobi. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti saat matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Gadis itu tampak sedang tertawa kecil pada seorang laki-laki yang berjalan disampingnya. Wajahnya terlihat ceria saat mengobrol dan di dalam pelukannya ada sebuket bunga mawar. Kim Jikyo, gadisnya, gadis yang akan diberinya kejutan itu ada di sini. Bersama laki-laki lain.

Rasa kecewa langsung menyergap hati Hongki. Ia baru sadar sudah lama sekali mereka tidak bertemu hingga senyum gadis itu pun ia lupa. Tapi saat ini, gadisnya sedang tersenyum dan tertawa bersama laki-laki lain. Tentu saja ia merasa kecewa. Tepat saat ia mengangkat wajah, mata mereka bertemu.

Gadis itu terkejut melihatnya. Bibirnya mengucap pelan, “Oppa…” Lee Hongki mendengarnya. Tapi hatinya menolak saat ini. Cepat-cepat ia melangkah pergi mengabaikan teriakan itu.

“Oppa changkaman!!” gadis itu menahan lengan Hongki yang sudah akan membuka pintu mobil. Ia tidak menyangka gadis itu akan menyusulnya hingga ke tempat parkir. Reflek, ditepisnya tangan gadis itu.

“Waegeure? Kenapa tidak mendengarkan panggilanku? Kenapa kau marah-marah? Dan kenapa pulang tidak memberitauku?” tanya Jikyo. Menuntut penjelasan dari laki-laki itu.

“Tadinya aku ingin memberi kejutan dengan pulang lebih awal. Haahhh ternyata malah aku yang diberi kejutan.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, sebenarnya kau ini kenapa?”

“Yang tidak mengerti itu aku! Yaa, kau ini sudah punya pacar apa belum? Kenapa mudah sekali tertawa dan berkencan dengan laki-laki lain?”

“Mwo? Siapa yang berkencan? Kau ini bicara apa? Apa otakmu sudah tergeser?”

Lee Hongki mendengus pelan, “sudah memeluk bunga masih saja mengelak!”

Gadis itu menatap dengan pandangan tidak percaya,”Bunga ini bukan darinya dan kami tidak ada hubungan apa-apa!!” jelasnya setengah menjerti.

“Berarti ada yang lain lagi? Hebat sekali… Kau mau tepuk tangan dariku?” tanya laki-laki itu sinis. Ia tau gadis itu hampir menangis sekarang, tapi mengingat cara gadis itu tertawa kepada laki-laki sialan itu, Hongki ingin sekali meremukkan bunga itu.

“Yaa, apa kau cemburu padaku? Kenapa kau tidak percaya dengan kata-kataku?” tanyanya tidak percaya “dengar lee hongki ssi, bunga ini digunakan untuk syuting mv dan aku membawanya karena sudah tidak dipakai lagi! Dia dan aku hanya sama-sama bekerja dalam music video itu. Tidak lebih.”

“Bahkan kau tidak memberitahuku tentang mv itu, bagaimana bisa aku percaya padamu?” bentak Hongki.

“Bagaimana aku bisa memberitahumu? Setiap aku menelepon, ponselmu selalu mati!” balas jikyo. Gadis itu tiba-tiba saja merasa sangat marah sekarang, “dan saat kau menelepon kau selalu mengeluh tentang pekerjaanmu yang sangat padat dan melelahkan itu. Bagaimana aku bisa memberitahumu? Kau tidak memberi kesempatan padaku untuk bicara! Apa kau pernah menanyakan keadaanku di sini? Apa saja kegiatanku dan apa saja yang kulakukan, kau bahkan tidak pernah menanyakan apakah aku pernah merindukanmu atau tidak. Sekarang tiba-tiba kau muncul dengan berbagai dugaan tidak masuk akal. Menuduhku selingkuh dengan pria lain tanpa mendengar penjelasanku. Perasaanku bahkan jauh lebih sakit darimu saat ini. Apa kau puas?” Jikyo melempar bunga yang dipeluknya itu lalu melangkah pergi.

Laki-laki itu terdiam. Tubuhnya mematung menatap bunga di tanah yang sudah tidak sempurna lagi. Ia baru sadar, bahkan hingga kini ia belum pernah memberi bunga pada gadis itu. Penyesalan tiba-tiba saja menyergap hatinya. Gadis itu benar… selama ini ia mengira bahwa Kim Jikyo adalah kekasih yang sangat baik karena bersedia mendengarkan segala keluh kesahnya. Kemudian ia menjadi lupa… ia lupa bahwa bukan hanya ia yang ingin didengarkan. Gadis itu pun sama. Hongki mengusap kasar wajahnya sambil bersandar lemas pada mobilnya. Pikirannya pasti sedang kacau tadi. Apa yang baru saja dilakukannya? Sembari termangu, ia merasakan tetesan air jatuh membasahinya.
.
.
Laki-laki itu termangu menatap gadis yang semakin jauh darinya. Sudah dicobanya untuk menahan gadis itu sekuat yang ia bisa, namun bagi Soo In, ia bukanlah cahaya yang selama ini dicari olehnya. Dengan gerakan kaku, Jang geun suk mencoba untuk berbalik. Mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

“Oppa…”

Suara itu mengembalikan seluruh kesadarannya. Saat ia mengangkat wajahnya, gadis itu sudah berdiri dihadapannya. “Lee Eun Ki, apa kau puas melihatku seperti ini?” tanyanya dengan nada dingin.

“Oppa…”

“Sebaiknya kau jangan muncul dihadapanku untuk saat ini,” sahut Sukkie sambil melangkah melewati gadis itu.

“YAA!! NEO PABOYA??” teriak Eun Ki.

Langkah kaki itu terhenti. Sebelum ia melanjutkan kembali, tiba-tiba saja lengannya ditarik dan sebuah tamparan mendarat keras di pipinya. Membuatnya begitu terkejut. Ia tidak pernah menyangka gadis itu akan melakukan hal ini.

“Kenapa kau sangat bodoh sekali?” bentak Eun Ki, “mungkin kau bisa menunggunya seumur hidupmu, tapi aku tidak bisa! Aku tidak bisa menunggu sepertimu karena pernikahanku sudah ditetapkan empat hari lagi. Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku? Aku menyukaimu dan aku tidak ingin menikah dengan Jung Yong Hwa!”

“Sudah kukatakan aku tidak menyukaimu.”

“Kenapa kau tidak menyukaiku?” air mata gadis itu mulai meleleh, melewati pipinya, “selama ini yang kau lihat hanya dia! Kau tidak pernah sedikit pun mencoba untuk menoleh kepadaku. Kenapa? Padahal aku yang selalu ada di sini untuk melihatmu. Kenapa kau tidak menyukaiku? Apa dimatamu aku masih belum dewasa?! Katakan apa kekuranganku hingga kau tidak mau melihatku?”

Sukkie hanya diam melihatnya menangis. Ia tidak tau harus berkata apa.

“Kenapa saat itu kau menolongku? Kenapa saat itu kau datang ke dalam hidupku kalau sekarang kau tidak mau melihatku? Aku membencimu!!” jerit gadis itu sambil melemparkan jaketnya lalu berlari pergi.

Untuk kedua kalinya, laki-laki itu hanya bisa termangu melihat Lee Eun Ki yang semakin jauh. Kemudian, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang basah. Kepalanya menengadah, menatap langit yang mulai meneteskan ribuan airnya. Hujan…
.
.
Gadis itu berdiri di depan pembatas sebuah jembatan. Ia menatap air sungai yang mengalir di bawahnya. Terlihat gelap. Seolah memanggilnya untuk masuk ke dalam pekatnya. Kim soo in merasa tidak bisa bernafas sejak dari tempat itu. Tidak… sebenarnya ia sudah mulai sulit bernafas saat bertemu laki-laki itu kembali.

“Oppa, nan eothokeh?” gumamnya pelan, “bolehkah aku menyusul kalian sekarang? Sepertinya hidup kalian sangat bahagia di sana. Aku ingin bersamamu, bersama eomma dan appa juga.”

Air mata gadis itu meluncur jatuh saat sepasang lengan tiba-tiba saja memeluknya. Membuat tubuhnya membeku seketika.

“Mianhae…”

Kim Soo In tersentak. Suara itu…

“Jung Yong Hwa… Apa yg kau lakukan? Lepaskan aku!” pinta gadis itu setelah sadar dari keterkejutannya.

Laki-laki itu tidak mendengarkannya. Dia semakin mempererat pelukannya. “Mianhae… Karena keegoisanku selama ini, kau harus mengalami hari-hari yang sulit,” katanya pelan.

“Jung Yong Hwa, lepaskan aku!”

“Aku tidak akan melepaskanmu lagi,” tegas Yong Hwa.

Air mata gadis itu jatuh satu per satu tanpa bisa dicegah. Ada sebagian dari dirinya yang ingin tetap berada dalam pelukan itu. Pelukan yang terasa hangat, sama seperti dulu.

“Kembalilah padaku Kim Soo In, aku mencintaimu…”

Gadis itu semakin terisak. “Tidak, aku tidak bisa!”

Jung Yong Hwa melepas pelukannya lalu memutar tubuh gadis itu hingga menghadapnya. “Wae?” tanyanya.

“Kau sudah bertunangan.”

“Aku akan membatalkannya.”

Kim Soo In menggeleng pelan, “Aku tetap tidak bisa! Aku… kita, tidak akan pernah bisa bersama.”

“Kenapa?”

“Karena…”

 

 

To be continue…

 

Revisi 06 Juli 2015 [10:08 am]

Advertisements