Tags

, ,

“ada apa?” tanyaku bingung.
“darah. . .” jawabnya tanpa mengangkat wajah.
Aku mengernyitkan alis saat mendengar suara laki2 yg bergetar itu. Kulihat tangan kanannya, jari telunjuknya berdarah, sepertinya terkena pecahan gelas tadi.
“kau kan hanya tergores. . .” kataku bingung.
“a. . .aku tidak mau melihatnya, cepat bersihkan!”
Aku berjalan menuju meja dan membuka lacinya mengeluarkan kotak obat. Kubawa ketempatnya dan kuraih jarinya. Ia gemetar?? Aku menatapnya tertegun sejenak, apa ia begitu takut dgn darah hingga seperti ini?! Ku ambil kapas dan alkohol kemudian kubersihkan lukanya. Setelah itu kubalut dgn plester.
“sudah selesai!” kataku sambil membereskan kotak obat.
“sudah hilang?”
“ne!”
Ia mengangkat wajahnya perlahan dan seketika aku tertegun melihat wajah pucatnya. Ia terlihat begitu ketakutan hanya karna. . .darah?? Benar2 tidak masuk akal!
Ia memalingkan wajahnya dari tatapanku “sekarang pergilah!” katanya pelan.
“tanpa kau suruhpun aku akan pergi!” sautku dingin sambil mengembalikan kotak obat ketempatnya semula.
***

Ada yg aneh. . . Sudah seminggu ini dia selalu diapartement. . . Sendirian!! Tanpa wanita2 murahan yg selama ini dibawanya kemari tanpa rasa malu.
Seperti sekarang, aku melihatnya sedang sibuk dgn laptopnya. Ia tengah duduk lantai ruang tengah dan sibuk mengetikkan sesuatu. Berkali2 ponselnya berbunyi, tapi diabaikannya.
Aku melahap jjajangmyeonku tanpa memperdulikannya, apalagi menawarinya. Dia sudah makan atau belum bukan urusanku.
“jika ada yg mencariku, bilang saja aku tidak ada!” katanya tiba2.
Aku menghentikan makanku kemudian tertawa pendek “ada apa ini?! Kukira kau tidak bisa hidup tanpa gadis2 murahan itu!” sindirku.
“aku lelah. . .”
“wow, tidakkah kau merasa kata2mu baru saja sangat tidak biasa?”
Kulihat ia menghentikan kegiatannya dan memejamkan mata sambil menghela nafas lelah. Kemudian ia membuka mata dan beranjak dari duduknya, berjalan menghampiriku.
“ma. . .mau apa kau??” tanyaku tergelagap. Diotakku sudah tersusun seribu satu cara untuk melawannya, termasuk melemparkan mangkok jajjangmyeong ini kekepalanya.
“aku lapar!” katanya singkat sambil merebut sendok dan mangkok jajjangmyeonku.
“yaaak kenapa memakan punyaku???” teriakku kesal sedangkan ia melahap jajjangmyeonku dgn buas.
Tiba2 ia mengangkat wajahnya “kau masih mau??” tanyanya.
“tidak terima kasih! Aku tidak mau makan dari bekasmu!”
“ya sudah!” katanya acuh sambil meneruskan makannya sementara aku hanya bisa menggertakkan gigiku dgn geram.
***

Aku melangkah pelan menyusuri jalan dgn malas. Hari sudah malam. Hampir pukul sebelas. Lagi2 aku harus lembur tadi. Aku benar2 lelah, tapi aku tidak ingin kembali keapartement itu. Apa boleh buat, aku harus menabung agar bisa menyewa apartement sendiri dan meminta cerai dari laki2 itu.
Aku menghembuskan nafas berat dan tiba2 melihat sosok yg sangat kukenal sedang menyebrangi jalan dan menghampiri sebuah mobil putih yg diparkir dipinggir taman.
“jaejong oppa. . .” bisikku lirih.
Tanpa banyak berfikir aku berlari dan langsung memeluknya dgn air mata yg sudah jatuh.
“oppa. . .jangan pergi. . .” isakku.
“yoon ah???” laki2 itu tersentak kaget.
“neohmu bogoshipo. . .” bisikku lirih.
Ia berdiri mematung. Tapi aku tetap memeluknya erat “aku tau kau pasti kembali. . . Aku tau kau pasti datang menyelamatkanku, aku tau. . .”
“kau salah yoon ah. . .”
Aku membeku kemudian melepaskan pelukkanku, “apa maksudmu oppa??” tanyaku dgn suara gemetar.
“lebih baik kita bicara disana. . .” ia menarik tanganku menuju sebuah bangku ditaman.
Aku menatapnya “kenapa oppa? Kenapa kau pergi saat itu??” tanyaku sambil menahan tangis.
“aku tidak ingin pergi yoon ah, tapi aku harus. . .” ia terdiam sejenak “appa sakit. . . Jadi aku harus pergi keamerika menemuinya, dan ia ingin aku mengurus perusahaannya disana. . .”
“kenapa kau tak bilang oppa? Kalau kau harus pindah kesana, bawalah aku bersamamu. . . Kumohon oppa. . .”
Ia menggeleng pelan “aku tidak bisa yoon ah. . .”
“kenapa??”
“karna mereka. . . Karna mereka sudah menjodohkanku dgn gadis pilihan mereka. . . Dan kami akan secepatnya menikah. . .”
Tubuhku bagai tersambar petir mendengarnya. Aku tak dapat bergerak, hanya air mataku yg berjatuhan.
“mianhae yoon ah, jeongmal mianhae. . . Aku tidak bisa menolaknya karna kondisinya benar2 buruk. . .”
Aku tak sanggup bicara lagi. Seakan2 ada yg meremas jantungku. Sakiiiit. . .
“aku kembali hanya untuk mengurus dokumen yg ada disini, esok, aku harus kembali keamerika, mianhae yoon ah. . .”
Aku melihatnya meneteskan air mata, tiba2 saja ia beranjak dan melangkah pergi.
Aku tersentak dan berlari menyusulnya. Kupeluk ia dari belakang membuatnya berhenti melangkah.
“setega itukah kau kepadaku oppa??” isakku “kenapa??”
Aku tau ia juga sakit tapi kenapa ia tega melakukan ini padaku?? Kenapa?
“jangan pergi oppa. . . Kumohon. . . ” pintaku lirih.
Selama beberapa saat kami saling terisak. Tapi kemudian tiba2 ia melepaskan pelukan tanganku dgn paksa “mianhae yoon ah. . .” bisiknya dan langsung melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Aku jatuh terduduk. Tangisku pecah. Aku benar2 merasa hancur sekarang. Harapan itu sudah musnah. Tuhan, bolehkah kuakhiri hidupku sekarang juga? Karna aku tak tau lagi untuk apa aku hidup.
Entah berapa lama aku terisak, pandanganku sudah kabur. Aku sudah mati rasa. Tapi tiba2 kurasakan ada seseorang yg memeluk kemudian menggendongku. Aku tidak tau dan aku sudah tidak perduli lagi apa yg akan terjadi pada diriku. Aku hanya bisa terisak terus. . .