Tags

, ,

Aku mengerjapkan mata perlahan, terasa berat. Sedetik kemudian ingatan tentang kejadian kemarin menyergapi otakku. Tiba2 saja hatiku terasa tertusuk. Aku memejamkan mata kuat2 menahan perih itu. Sakit. . .
Tiba2 aku tersentak saat menyadari sesuatu. Ada yg memelukku!!
Dan ketika kuangkat wajahku, aku melihatnya masih terlelap dgn tangan yg masih memelukku. Dan aku baru sadar bahwa aku sedang duduk dipangkuannya. Tubuhku membeku, jadi semalaman aku tidur dipelukkannya??!
“kau sudah bangun?”
Aku tersentak kaget dan melihatnya sedang menguap kecil.
“kemarin. . .”
“kemarin aku yg membawamu!” sautnya pelan “apa kau baik2 saja?”
Tuhanku, kenapa kau biarkan dia melihatku saat terjatuh dan rapuh??
Aku hendak turun dari pangkuannya, tapi tangannya masih memelukku, “lepaskan tanganmu!” kataku dingin.
“tidak akan kulepas jika kau masih menangis!”
Aku menatapnya terperangah, apa maksudnya?!
“itu bukan urusanmu!” sautku dingin sambil berusaha melepaskan tangannya.
“aku akan melepasmu kali ini, tapi jika aku melihat air matamu lagi, aku tidak akan melepasmu lagi! Kau mengerti?!”
Aku tertegun melihat tatapannya yg tajam itu. Kemudian ia melepaskan pelukannya perlahan. Aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Tapi kenapa jantungku berdetak begitu cepat?
Aku turun dari pangkuannya dan melangkah menuju kamarku.
“aiish. . .punggungku sakit. . .” kudengar ia meruntuk pelan.
Aku menutup pintu dan menjatuhkan tubuhku ditempat tidur. Kenapa ia bisa menemukanku?? Tiba2 saja air mataku mengalir lagi saat teringat jaejong oppa. Aku sudah tidak punya harapan lagi. . . Tidak punya. . .
Aku menghapus air mataku dgn cepat. Aku tidak boleh menangis. . . Aku tidak mau menyia2kannya untuk hal yg tidak mungkin berubah. Lebih baik aku bersiap2 untuk bekerja. Belajar melupakannya! Ah tidak, aku tidak akan bisa melupakannya, tapi aku akan belajar menghapus rasa untuknya!
Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat aku keluar kamar, ia tidur lagi disofa, tapi kali ini tidak dgn posisi duduk. Aku menatapnya sejenak, entah apa yg kurasakan. Aku tidak bisa berfikir saat melihatnya. Kulanjutkan langkahku menuju dapur dan memasak. Aku sengaja memasak agak banyak. Ini caraku untuk menebus hutangku padanya. Setelah menata makanan dimeja, aku meninggalkan sebuah pesan dikertas.
‘makanlah, ini untuk membalas perbuatanmu kepadaku semalam, jadi hutangku lunas’
Setelah menulis pesan itu, aku berangkat kerja.

Hari ini aku pulang sesuai jadwal. Restaurant tidak terlalu ramai, jadi aku tidak perlu lembur. Saat aku masuk kedalam apartement, aku melihatnya sedang sibuk dgn dokumen2 dan laptopnya. Mungkin ia akan ujian. Aku berjalan menuju kulkas dan mengambil segelas air kemudian meneguknya. Tiba2 mataku melihat makanan yg masih utuh dimeja.
“kau tidak makan?? Tanyaku skeptis.
“aniyo. . .” jawabnya tanpa menoleh.
Mustahil dia tidak makan seharian, “kenapa?” tanyaku lagi.
“dgn begitu kau masih berhutang kepadaku!”
Aku menatapnya kaget. Apa maksudnya??
“apa maumu sebenarnya??” tanyaku dingin.
“tidak ada! Aku tidak menginginkan apapun saat ini! Biarkan aku mengerjakan skripsiku, lusa aku ujian!!”
Aku mendengus “kukira kau hanya perduli pada gadis2 murahan itu! Ini benar2 mengejutkan!!” kataku sambil melangkah kekamar dan menutup pintu. Aku ingin istirahat, aku lelah. . .
***

Ponselku berdering nyaring saat aku selesai mandi. Dihari libur ini kugunakan waktuku untuk istirahat.
“yeobseo??” jawabku begitu kuangkat telp. Itu.
“yoon ah, ini eomma!!”
“ah, ye? Ada apa?”
“apa hyukie bersamamu? Tadi aku mendengar kabar bahwa kemarin dia berhasil lulus dgn nilai yg bagus, aku ingin mengucapkan selamat padanya tapi dia tidak menjawab telp.ku!!”
“mianhamnida. . . Aku tidak bersamanya saat ini. . .”
“ah begitu ya, baiklah, nanti katakan padanya untuk menghubungiku!!”
“tentu,”
Aku menatap benda itu sambil menghela nafas. Maaf aku berbohong. Karna saat ini aku tidak ingin berbicara dgnnya.
Aku keluar kamar saat bell apartement berbunyi. Kulihat dia masih berkutat dgn laptopnya. Akhirnya aku menyerah dan membukakan pintu apartement.
Seorang gadis langsung mendorongku dgn kasar.
“hyukie, kemana saja kau?? Kenapa tidak menjawab telp.ku?” tanyanya manja.
“hye yeon?? Untuk apa kau kemari??” tanyanya kaget.
Aku mendengus melihat mereka kemudian melangkah kearah dapur untuk membuat makan malam.
“aku sangat merindukanmu hyu. . .”
Masih bisa kudengar suaranya sementara aku menikmati ramyunku.
“bukankah pesan yg kukirimkan padamu sangat jelas??”
Aku mengernyit heran. Tidak biasanya dia menolak gadis. Apalagi gadis seperti itu.
“aku tidak perduli dgn pesan itu dan aku tidak perduli dgn istrimu!!”
“lebih baik kau cepat pergi! Dan jangan temui aku lagi!”
Ok ini tidak biasanya. Tapi apa perduliku?! Aku menaruh mangkok kotorku dibak cuci kemudian minum segelas air sementara mereka masih bertengkar.
“kau milikku hyu!! Hanya milikku!!” gadis itu berteriak histeris.
“bukankah sudah kukatakan dgn jelas bahwa aku tidak menyukaimu lagi??”
“kenapa? Kenapa kau lebih memilihnya???”
Aku melangkah menuju kamarku tanpa menghiraukan mereka, tapi gadis itu tiba2 menarikku “kembalikan hyukie!!” jeritnya dan. . .
Plaak. . .
Ia menamparku dgn keras.
“HYE YEON APA YG KAU LAKUKAN??”
“aaaargh. . .” gadis itu menjerit saat ia mendorongnya menjauh dariku dgn kasar.
Kurasakan sudut bibirku terasa asin dan perih.
“yoonie kau tidak apa2?” tanyanya cemas.
Aku menepis tangannya yg hendak memegang wajahku, “tidak usah berpura2 padaku!!”