Tags

, ,

“kau tidak perlu berpura2 perduli padaku!” kataku dingin.
“hyu. . .” gadis itu menarik lengannya manja.
“PERGI!!”
Aku terlonjak kaget. Tidak pernah kulihat dia semarah itu.
“ta. . .tapi-”
Dgn kasar ia menyeret gadis itu keluar apartemen dan membanting pintu dgn keras. Kemudian ia menghampiriku “kau tidak apa2?”
Lagi2 kutepis tangan itu “kau tidak perlu perduli padaku! Urus saja gadis itu!” jawabku dingin dan langsung masuk kekamar.
Kulihat sudut bibirku yg berdarah dan membiru dari kaca cermin. Rasanya perih.
Kraaak. . .
Aku langsung berbalik saat mendengar seseorang membuka pintu kamarku. Aku melihatnya berjalan kearahku.
“mau apa kau?” tanyaku sinis.
Tiba2 ia menarikku agar duduk diranjang “apa yg kau lakukan?”
Ia tidak menjawab tapi malah berlutut didepanku sambil mengambil kapas dari kotak obat. Diraihnya daguku.
“kau tidak perlu_”
“diamlah!” potongnya.
Aku hanya bisa menatapnya dan heran saat merasakan tangannya bergetar. Ah, bukankah dia takut darah??
Ia memejamkan mata sejenak seolah mengumpulkan keberanian. Kemudian diobatinya lukaku dgn pelan.
Aku meringis saat merasa perih. Wajahnya terlihat agak pucat. Aku jadi penasaran, kenapa ia takut darah??
***

Musim panas kali ini lebih sering hujan. Seperti saat ini, diluar hujan sangat deras. Kulirik jam diatas kulkas, hampir jam sepuluh malam. Kusesap teh hangatku sambil melihat keluar jendela.
Tiba2 pintu apartement terbuka. Ia masuk dgn basah kuyup.
“buatkan aku minuman hangat!” katanya sebelum masuk kekamarnya.
Aku mendengus, tapi tetap saja beranjak dari tempatku untuk membuatkannya segelas susu panas.
Ia keluar dari kamarnya saat aku sudah duduk ditempatku semula. Diminumnya susu itu beberapa kali teguk hingga habis. Kemudian ia kembali masuk kekamarnya dan tidak keluar lagi.

Aku membuka mataku paksa. Ini sudah tengah malam. Tapi tenggorokanku terasa kering. Kunyalakan lampu kemudian keluar kamar menuju dapur. Kuhampiri kulkas dan kuminum segelas air putih.
“HYUUUUNG!!”
Aku tersentak mendengar teriakan itu. Tanpa berfikir aku berlari menuju kamarnya dan masuk kedalam. Kunyalakan lampu tidur dan kulihat ia sedang duduk dgn nafas tersegal. Wajahnya sangat pucat dan peluh membasahinya.
“ada apa?” tanyaku bingung sambil duduk didekatnya.
Tiba2 saja ia menarik dan memelukku erat dgn tubuh yg gemetar hebat. Aku membeku sekaligus bingung.
“kenapa ia pergi. . . Kenapa ia meninggalkanku. . .??”
Aku tidak bisa menjawab apapun, siapa yg dia maksud?
“siapa?” tanyaku pelan.
Hening. Ia tidak mengatakan apapun. Yg terdengar hanya detakan jantung kami.
“aku menyayanginya yoonie,,” katanya tiba2 dgn suara dan nafas yg lebih teratur. Kutunggu lanjutan kata2nya.
“namanya lee donghae. . . Dia hyungku satu2nya! Aku menyayanginya karna dia satu2nya orang yg menjagaku saat orang tuaku sibuk. . .” kudengar nada sedih dalam suaranya.
“saat aku junior student, ia sudah kuliah. . . Suatu hari kekasihnya pergi mencampakannya, dia frustasi hingga depresi. . .” suaranya mulai bergetar “ia begitu mencintai gadis itu. . . Suatu hari saat aku masuk kedalam kamarnya, aku. . . Aku menemukannya. . . Tergeletak dilantai dgn tubuh penuh darah. . .” kudengar ia terisak pelan “ia menyayat pergelangan tangannya. . . Kenapa? Kenapa ia melakukan itu??”
Tanpa sadar, tanganku terangkat kepunggungnya dan memeluknya lebih erat. Aku baru menyadari bahwa bukan aku satu2nya orang yg pernah kehilangan.
“sejak itu aku tidak ingin melihat darah lagi. . . Dan aku menjadi benci dgn wanita! Aku benar2 benci mereka hingga aku ingin mempermainkan mereka dan membuat mereka menangis!! Apa aku salah yoonie??” tanyanya lirih.
Aku terperangah mendengar pengakuannya. Inikah sosok asli laki2 yg selama ini kulihat?!
“kau tidak salah. . . Tapi tidak sepenuhnya benar. . .” jawabku pelan. Aku tidak tau lagi harus berkata.
“aku benar2 pengecut bukan?? Menangis dihadapanmu. . .”
Aku hanya diam, tidak tau harus berkata apa.
“tapi kini aku sadar. . . Saat aku melihatmu menangis waktu itu, aku sadar betapa rapuhnya wanita. Saat melihatnya meninggalkanmu, aku sadar, tidak hanya wanita yg kejam. Kaumku-pun ternyata sama!”
Air mataku jatuh saat teringat kejadian itu. Tiba2 saja jantungku berdenyut nyeri.
“kau yg merubahku yoonie. . . Kau yg mematahkan presepsiku tentang wanita selama ini. . . Aku pernah bilang padamu bahwa kau menyedihkan, tapi aku-lah yg sebenarnya menyedihkan. . .”
“aniyo. . . Kita berdua sama2 menyedihkan. . .”
Ia mempererat pelukannya, dan aku membalasnya. Entahlah saat ini aku merasa kami sama2 saling menyangga kerapuhan yg ada.
Aku terdiam, iapun terdiam. Hening, kami tetap seperti ini cukup lama.
“kau sudah lebih baik?” tanyaku pelan sambil melepaskan pelukannya “lebih baik kau tidur lagi, dan aku juga harus kembali kekamar!”
Aku beranjak dari dudukku tapi ia menahan tanganku. Aku menatapnya bingung.
“untuk malam ini, temani aku. . . Kumohon. . .”
Aku diam beberapa saat kemudian mengangguk pelan. Ia menggeser tubuhnya memberiku tempat. Aku masuk kedalam selimut dan mematikan lampu.
Ia menarikku lebih dekat dan memeluk pinggangku erat, Merapatkan tubuhnya. Jantungku berdetak cepat. Aku merasa nyaman dgn kehangatan ini. Akhirnya kutarik selimut lebih tinggi, dan memejamkan mata. . .
***
Aku mengerjapkan mata perlahan dan tersentak kaget saat melihat wajahnya persis tepat dihadapanku. Kemudian ingatan2 tentang semalam membanjiri otakku. Aku terdiam menatapnya. Tangannya masih memeluku. Wajahnya terlihat damai, tapi kenapa suhu tubuhnya naik? Apa ia demam?