Tags

, ,

Apakah ia demam??
Kusentuh keningnya pelan, ternyata ia memang demam. Ia bergerak pelan dalam tidurnya. Kusingkirkan lengannya dipinggangku dgn pelan. Kemudian aku turun dari ranjang dan keluar kamar.
Kuputuskan untuk mengambil cuti beberapa hari. Tidak mungkin aku membiarkan dirinya sendirian. Pengakuannya yg semalam berhasil mematahkan rasa benciku. Sama sekali tak kusangka ternyata ia punya kenangan pahit akan masa lalunya. Aku bisa merasakan bagaimana orang yg kau cintai pergi meninggalkanmu?! Rasanya seperti tak dapat bernafas, dan aku tau pasti itu!
Kubersihkan diriku sejenak kemudian aku kembali kekamarnya dan mengompres keningnya. Kuselipkan sebuah termometer kecil kelengan atasnya sebentar. 39° c, ckup tinggi. Kemudian aku keluar dan membuatkannya bubur.
Ia belum sadar hingga siang dan aku terpaksa harus memanggil dokter karna takut kondisinya semakin buruk.
“dia tidak apa2, hanya demam biasa, apakah ia sering kehujanan??”
“sepertinya begitu dok. . .”
“ini resep obatnya, saya permisi dulu!”
“kamsahamnida. . .”
Aku mengantarkan dokter itu keluar dan menelphone kerumahnya, menyuruh salah satu pelayan yg ada disana keapartement karna tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri untuk membeli obat.
Sementara menunggunya bangun, aku merapikan kamarnya yg sedikit berantakan. Ia termasuk orang yg rapi, segala benda2 miliknya tertata rapi ditempatnya. Aku membereskan tumpukan kertas dimeja tulisnya. Tapi keningku mengerut saat melihat kertas2 itu. Surat lamaran?? Kemudian mataku tanpa sengaja menangkap sebuah surat kabar. Kuambil dan kulihat ia banyak melingkari alamat2 lowongan kerja dgn spidol merah.
Aku menoleh kearahnya sejenak. Apa ia berniat mencari pekerjaan?? Untuk apa? Bukankah ayahnya memiliki perusahaan besar yg akan diwariskan kepadanya??
Tiba2 ponselnya bergetar tanpa suara. Kuraih benda diatas tumpukan buku itu dan memeriksa isinya. Ada 53 missed call dan 41 pesan yg belum dibuka pada ponselnya.
Aku terdiam sejenak kemudian kuputuskan untuk membuka isinya. Rasa penasaranku mengalahkan segalanya.
Pesan itu dari orang yg berbeda2, kubaca satu2 pesannya.
‘hyukie kau dimana?? Kenapa tidak menjawab telp.ku? Apa maksud pesanmu??’
‘hyu angkat telp.ku, kumohon. . .’
‘hyu ah apa maksudmu???’
‘kenapa tiba2 berkata begitu? Apa maksudmu??’
‘hyukie, kau milikku! Aku tidak perduli dgn istrimu!’
‘begitukah? Kalau begitu aku akan merebutmu darinya!’
Dan hampir semua pesan itu sama isinya. Aku jadi penasaran, apa yg dikatakannya pada semua gadis2 itu?! Kubuka kotak keluarnya dan membaca sebuah pesan yg sudah dikirimkan kegadis2 itu.
‘mulai sekarang jangan mencariku, jangan temui aku lagi dan jangan muncul dihadapanku! Aku sudah menemukan apa yg kubutuhkan, dan akan melakukan apa yg seharusnya kulakukan, menjadi suami yg baik untuk istriku karna aku menyayanginya!’
Aku membeku setelah membaca itu. Apakah ini nyata tuhan?? Apakah laki2 itu serius??
Tiba2 kulihat ia bergerak pelan kemudian membuka mata. Aku berjalan cepat menghampirinya dan meletakkan ponsel itu dimeja.
“kau baik2 saja?” tanyaku sambil mengambil kain kompres dari keningnya.
“apa aku sakit?” tanyanya pelan.
“ya kau demam! Aku sudah memanggil dokter tadi, dan kau harus minum obat. Tunggu sebentar, kuambilkan kau bubur, kau harus makan!!”
Aku keluar kedapur sebentar mengambil bubur hangat kemudian kembali lagi kekamarnya. Kubantu ia untuk duduk bersandar ditempat tidur, lalu kusuapi ia. Kupaksa ia untuk makan meskipun sedikit kemudian kuberikan obat yg sudah dibeli diapotik tadi.
“lebih baik kau istirahat lagi!” kataku sambil membenarkan selimutnya.
“yoonie. . . Gomawo. . .”
“n. .ne. . .”
Tiba2 ponselnya diatas meja bergetar lagi. Aku meraih dan memberikannya kepadanya. Ia melihat sekilas layarnya kemudian melepas batrainya dan mengambil cardnya. Dipatahkan jadi dua cardnya itu kemudian dilemparnya kesudut kamar.
“kenapa dipatahkan??” tanyaku bingung.
“aku sudah mendapatkan apa yg kubutuhkan!” jawabnya sambil menatapku.
Entah kenapa tatapannya membuatku salah tingkah. Jantungku mulai berdetak kacau “aku kebelakang dulu mencuci piring!” kataku cepat dan langsung pergi.

Aku mencuci mangkok2 itu dgn setengah sadar. Apa yg terjadi padaku? Kenapa saat ini pandanganku terhadapnya jadi berubah? Ia tidak terlihat seperti pria menjijikkan yg dulu lagi, tapi kini, ia terlihat sama sepertiku, sama2 rapuh dan membutuhkan dukungan.
Aku tidak kembali lagi kekamarnya setelah mencuci. Kubiarkan ia istirahat.
Aku termenung menatap jendela itu. Terlihat hujan deras diluar sana. Selalu saja, selalu saja aku mengingatnya saat sendiri.
“oppa. . . Apa kau bahgia disana??” gumamku pelan. Air mataku jatuh lagi “carilah kebahagiaanmu oppa. . . Aku sudah rela untuk melepasmu. . . Dan biarkan aku mencari kebahagiaanku. . .” kuhapus air mataku. Mulai kini aku berjanji untuk tidak menangis lagi. Aku tau ia akan baik2 saja. . .
***

“apa yg kau lakukan??” tanyaku sambil menatapnya dgn alis terangkat.
Dia sedang duduk ditempat tidur sambil membaca komik??
“aku tidak bisa tidur dan sedang bosan, jadi kubaca saja komik2 kesanyanganku!”
Ok, kenapa kalau begini ia terlihat seperti bocah?! Membuatku kesal saja, aku paling lemah dengan anak2!
“singkirkan buku2 itu, sekarang saatnya kau makan dan minum obat!”
“kau seperti suster2 galak yg ada dirumah sakit saja!” ia cemberut sambil memeluk komiknya erat2.
Aku tertawa melihatnya, tampangnya benar2 jelek. Tapi kmudian tawaku pudar “kenapa?”
“senyummu manis. . .”
Deg. . kenapa jantungku terasa berhenti?