Tags

, ,

“senyummu manis. . .”
Deg. . . Kenapa jantung ini tiba2 jadi kacau? Dan kenapa aku tadi tertawa??
“kau tau, itu adalah tawa pertamamu dirumah ini!” ia menatapku lembut membuatku salah tingkah.
“sudah waktunya kau makan!” kataku datar, “apa badanmu masih panas?”
“kenapa kau tidak memeriksanya sendiri?”
Aku terdiam menatapnya kemudian menghela nafas pelan. Apa laki2 ini sengaja ingin mempermainkanku?! Kusentuh dahinya, masih terasa panas. . .
“kau masih demam, ayo cepat makan!”
Kusuapi ia dengan cepat. Aku tidak mau berlama2 didekatnya. Ia bisa membuatku kacau.
“yoon. . .mu. . .lutku ma shih pe. .nuh. . .” protesnya ketika aku mau menyuapkan bubur itu lagi.
“lagipula kenapa terburu2 begitu?! Kau bisa membuatku tersedak!” protesnya.
“sudahlah cepat habiskan!!”
Setelah selesai makan aku memberinya obat. Ia menatap tidak suka pada obat2 itu tapi begitu melihat tatapan membunuhku cepat2 diminumnya obat itu hingga ia tersedak.
Ia terbatuk2 sementara air mengalir membasahi dagu dan bajunya.
Aku merebut gelasnya dan meletakkannya dimeja. Kuraih beberapa lembar tisue dan membersihkan air dimulut juga bajunya.
“minumpun kau belum bisa benar!” omelku.
Tiba2 ia menggenggam tanganku membuat gerakan tanganku terhenti. Aku mengangkat wajah menatapnya dgn bingung. Perlahan ia mendekat masih dgn menatapku.
Tubuhku mematung, seakan2 tatapannya mengikatku. Aku merasa jantungku berdetak kacau. Kemudian kurasakan hembusan nafasnya yg hangat dan sedetik kemudian ada sesuatu yg panas dan lembut melumat bibirku pelan. Bibirnya. . .
Otakku benar2 berhenti berfungsi sekarang. Aku masih membeku. Kurasakan dadaku ikut menghangat. Tanpa berfikir aku memejamkan mata membalas ciumannya.
Rasanya panas, lembut dan manis. . .tanpa sadar kupeluk lehernya dgn lenganku.
Ia mengulum bibirku dgn lembut bukan dgn nafsu. Dan entah kenapa aku merasakan sesuatu yg berbeda. . .
Ia melepaskan bibirku beberapa saat kemudian. Ia menempelkan keningnya pada keningku. Kami masih sama memejamkan mata dgn nafas tersegal.
Apa yg baru saja kulakukan?? Oh tuhan benarkah ini terjadi??
Aku melepaskan diri darinya dan berlari masuk kekamarku.
Kututup pintu kamar dan air mataku tumpah. Kakiku terasa lemas hingga aku terduduk bersandar pintu.
Apa yg kutangisi?? Aku tak tau. Ada apa dengan diriku?? Kenapa aku seperti ini?? Apa aku mulai menyukainya? Aku takut, benar2 takut kalau ini semua hanya permainannya, bisakah aku percaya padanya?? Tapi matanya seolah mengatakan kalau ini semua tulus. . .
Apa yg harus kulakukan tuhan?? Bolehkah aku menyukainya??
PRAAAAANG. . .
Aku mendengar sesuatu pecah. Cepat2 kuhapus air mataku dan berlari kekamarnya.
“apa yg terjadi??” tanyaku begitu membuka kamarnya. Kulihat ia akan turun dari tempat tidur.
“aniyo. . . Aku hanya minum tadi, tapi tidak sengaja menjatuhkannya. . .”
“biar aku saja! Tetaplah ditempatmu!” kataku sambil menghampiri pecahan gelas itu dan membersihkannya. Setelah itu aku mengambilkannya segelas air yg baru, “minumlah. . .”
Aku membantunya minum kemudian meletakkannya dimeja, “tidurlah, sudah malam!” kataku kemudian beranjak dari dudukku dan melangkah keluar.
Tanganku yg meraih handle pintu terhenti, tubuhku membeku saat sepasang tangan merengkuhku dari belakang. Ia mendekapku erat dan meletakkan dagunya dibahuku. Bisa kurasakan nafasnya yg panas menerpa leherku. Lagi2 jantungku kacau seketika.
“a. . .apa yg kau lakukan??” tanyaku tergelagap.
“aku ingin berubah. . .” gumamnya pelan.
Aku tertegun “apa maksudmu??”
“saat melihatmu menangis, aku ingin melindungimu, memberimu kekuatan saat kau rapuh. . . Dan saat aku merasakan pelukanmu aku sadar, aku membutuhkanmu untuk ada disisiku, membantuku menghapus semua mimpi2 burukku. . . Dan saat kau merawatku, aku sadar kau adalah seorang istri yg sesungguhnya untukku. . . Jadi kumohon, tetaplah disisiku karna aku ingin melindungi, menjagamu, dan menjadi seorang suami yg baik untukkmu. . . Mungkin sulit untukmu bisa percaya padaku, aku tau kehidupanku benar2 gelap sebelum kau hadir. . . Tapi cahaya yg kau bawa membuatku bisa melihat dgn jelas apa yg seharusnya kulakukan. . . Kau gadis pertama yg membuatku seperti ini yoonie, aku tidak tau apakah ini cinta atau bukan, aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, tapi satu hal yg pasti, aku menyayangimu. . . Kau gadis pertama yg tidak ingin kusakiti. . . Aku tau kau membenciku, tak apa, asal kau ada disisiku aku tidak membutuhkan apa2 lagi, bisakah kita mencoba untuk hidup yg lebih baik mulai saat ini?? Maukah kau mencobanya bersamaku? Walaupun kau belum bisa mencintaiku, biarkan waktu yg mengaturnya. . . Kim yoon hye ssi, bersediakah kau untuk hidup bersamaku??”
Ia memutar tubuhku pelan dan menatapku.
Aku tidak tau sejak kapan air mata ini keluar. Yg jelas, pipiku sudah basah.
“kumohon jangan menangis lagi. . .” ia menghapus air mataku dgn ibu jarinya pelan “sudah cukup air mata yg kau keluarkan selama ini, dan aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis lagi. . .”
Aku menahan jari2nya yg menghapus air mataku. Menggenggamnya erat “aku bersedia. . .” Bisikku pelan “aku bersedia untuk berada disisimu, aku bersedia untuk menjadi istrimu dan aku bersedia untuk belajar menyukaimu. . . Buat aku percaya akan kata2mu, buktikan kepadaku!!”
Ia menatapku terkejut beberapa saat kemudian langsung memelukku erat “akan kubuktikan. . .” jawabnya tegas.
Dan kemudian tanpa ragu, aku membalas pelukannya erat. Merasakan badannya yg panas. Rasanya sangat nyaman. Akhirnya kutemukan lagi harapan itu . . Bersamanya,