Tags

, , ,

Kumulai kehidupanku dari awal bersamanya. Mencoba menjadi sosok yg baru karna kini aku tidak sendiri lagi. Dan kulihat ia memang serius untuk berubah. Dia bukan laki2 menjijikkan seperti dulu lagi. Entahlah, melihat sorot matanya membuat semua rasa benciku pudar. Dan entah mengapa, setiap ia menatapku, aku merasa detak jantungku melambat. Rasa yg kurasakan terhadapnya, jauh lebih kuat dibandingkan rasa untuk jaejong oppa dulu.
Kini aku mengambil jam kerja pagi. Sebenarnya hyukie melarangku untuk bekerja, tapi aku pasti akan sangat bosan diapartement sendirian bila ia bekerja nanti. Aku heran kenapa ia mau repot2 mencari kerja kalau orang tuanya adalah pengusaha sukses. Mungkin ia ingin mandiri, itu bagus!
“yoon ah, waktumu sudah habis, biar kugantikan!”
Aku menoleh kearah seorang gadis disebelahku.
“gomawo hyo ya. . .” ucapku pada gadis itu.
Aku melangkah keluar dari restaurant sambil merapatkan jaketku. Angin berhembus kencang akhir2 ini.
“kau sudah selesai?”
Aku berhenti melangkah dan menoleh kesamping “sedang apa kau disini??” tanyaku saat melihatnya berdiri tidak jauh dari pintu restourant.
“tentu saja menjemputmu. . .” jawabnya sambil menghampiriku “kenapa tidak memakai syal?! Cuaca sangat dingin!!” dilepasnya syal yg dipakainya kemudian memakaikannya kepadaku. Seperti biasa, jantungku langsung berdetak kacau.
“lihat pipimu terasa dingin!” dipegangnya kedua pipiku dgn tangannya.
“sudahlah, ayo kita pulang!!” ajakku sebelum pipiku semakin merah.
“tidak ingin mendengar kabar dariku dulu??” tanyanya skeptis.
Aku mengerutkan kening “apa ada yg terlewatkan olehku??”
Ia tertawa kecil “aku baru saja diterima diperusahaan tv swasta sebagai editor acara,”
“jjinja??” seruku gembira.
“kau senang??”
“chukaeee. . .” ucapku sambil memeluknya erat.
“gomawo. . .” balasnya.
“ayo kita pulang, akan kumasakkan sesuatu untuk merayakannya!!”
“hei, ini masih sore, bagaimana kalau kita berjalan2 dulu?”
“Hmm. . . Baiklah. . .”
Hyuki menggenggam tanganku kemudian memasukkannya kedalam saku jaketnya. Rasanya hangat. . .
Kami berdua berjalan pelan menyusuri jalan.
“hyu. . . Boleh aku bertanya sesuatu??” tanyaku pelan.
“apapun. . .”
“kenapa kau tidak bekerja diperusahaan appamu? Bukankah kau satu2nya penerusnya??”
Ia tersenyum tanpa menatapku “kau keberatan hidup sederhana bersamaku??”
“tentu saja tidak!” jawabku cepat “aku tidak perduli kau bagaimana, asal kau tidak pernah meninggalkanku itu saja sudah cukup. . .”
“tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu. . .” sautnya lembut “aku hanya ingin menjadi orang yg biasa saja, dan bekerja biasa juga, aku tidak mau menghabiskan waktuku karna terlalu sibuk bekerja, kini aku tidak hidup sendirian, ada kau dan ada anak kita nantinya, kalian yg terpenting dalam hidupku. . .”
Aku menatapnya takjub. Tanpa sadar kupererat genggaman tanganku. Ia menoleh menatapku dan tersenyum.
“hyu. . .”
“mm? Ada lagi??”
“sebenarnya aku masih penasaran bagaimana bisa kau membuat jesica hingga seperti itu?”
Ia terdiam sejenak “saat kau pergi aku bertengkar dgnnya, kemudian kuseret paksa ia kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, kemudian sambil menunggu hasilnya keluar kusekap ia diapartement, dikamarku tepatnya, kalau ternyata ia benar2 hamil kukatakan padanya aku akan bunuh diri setelah membunuhnya, tapi kalau tidak, aku akan tetap membunuhnya kalau sampai kau pergi dari sisiku!!”
Aku menatapnya ternganga. Ia melakukan hal itu??
“bagaimana kedengarannya??” tanyanya tanpa menatapku.
“benar2 gila. . .” desisku.
Ia mendesah pelan “kau benar. . . Kurasa aku sudah gila karnamu!! Dan hanya dirimulah obatnya. . . Jangan pergi dari sisiku atau kau akan melihatku gila. . .”
Aku tersenyum mendengarnya. Kami terus berjalan pelan.
“kau mau taboyaki??” tanyanya tiba2.
“mwo??”
“pasti enak dimakan saat panas, ayo!!” ujarnya semangat sambil menarikku kesebuah kedai taboyaki. Dalam sekejap ia sudah berubah menjadi seperti bocah, aiiish. . .

Kami menikmati taboyaki itu sambil berjalan pelan. Tangannya masih menggenggam tanganku.
“kau tau, bukankah ini seperti kencan??” tanyanya tiba2.
Aku tersenyum “ya, jika menurutmu begitu!”
“ini kencan kita yg pertama. . . Baru kali ini aku berjalan2 dgn seorang gadis. . . Ah ani, kau bukan gadis lagi sekarang. . .”
wajahku langsung terasa panas mendengar kata2nya yg diucapkannya tanpa dosa itu. Laki2 ini benar2 menyebalkan!
Bruuk. . .
“oh mianhae. . . Aku sedang terburu2!” orang itu membungkuk beberapa kali sebelum pergi.
“taboyakimu jatuh. . .” gumam hyuki. “biar kubelikan lagi!” katanya sambil berlari pergi.
“hyu tidak u. . .HYUKIIIIIII!!!!”
Pernahkah duniamu menggelap seketika?? Ya itulah yg kurasakan saat ini. . .
***

Mataku sudah berat, namun air mata ini tidak berhenti keluar. Kutatap wajahnya yg penuh luka. Berbagai alat menempel ditubuhnya. Aku merasakan sakit itu sementara alat penunjuk detak jantung berbunyi tanda ia masih hidup.
Aku menggenggam tangannya erat, menciumnya berharap ia akan membuka mata dan menatapku lembut. Seperti yg dilakukannya tadi sebelum mobil itu menghantam tubuhnya dan menghempaskannya beberapa jam yg lalu, dan saat itu juga aku merasa hatiku runtuh.
Tuhan, sebegitu bencinya kah kau terhadapku hingga membuat semua orang yg kucintai pergi meninggalkanku?? Apakah aku tidak pantas untuk mencintai?? Katakan kepadaku kenapa? Kenapa orang lain boleh sedangkan aku tidak boleh??
Bila saat ini aku memohon kepadamu untuk mengembalikannya, mengembalikan hyukiku apa kau akan mengabulkannya?? Karna dialah hidupku,