Tags

, , ,

Entah berapa lama aku seperti ini, aku tak ingat. . . Berapa banyak air mataku yg keluar, aku juga tak ingat. . . Dan berapa juta untaian do’a, aku juga tak ingat. . .
Yg bisa kulakukan hanyalah menatapnya. Berharap mata itu akan terbuka, berharap bibir itu akan tersenyum lagi. Kugenggam tangannya erat.
“hyu. . . Tidak lelahkah kau tidur terus seperti ini??” gumamku pelan “tidakkah kau merindukanku?? . . . Aku sangat merindukanmu. . .” isakku lagi. Dadaku terasa sesak.
“dia pasti akan sembuh. . .” bisik seorang wanita ditelingaku. Nyonya lee.
“eomma. . .” aku memeluknya, tangisku pecah. Sepertinya mereka baru saja tiba dikorea dari amerika begitu aku memberitahu soal hyuki.
“dia benar2 jahat eomma. . . ” isakku.
“jjagi, dokter ingin bicara sebentar dgn kita. . .” kudengar suara tuan lee.
“tunggu sebentar ya. . .”
Aku kembali menatap hyuki begitu mereka keluar.
Kutekankan telapak tangannya kepipiku yg sudah basah. Aku bersenandung pelan sambil menatapnya. Kulantunkan lagu love you-howl, namun hingga aku selesai bernyanyi ia tak kunjung membuka matanya “aku sudah lelah menangis, akupun sudah bernyanyi, namun kau tidak mau membuka mata. . . Haruskah aku menangis, bernyanyi dan tertawa disaat yg bersamaan agar kau mau membuka matamu?? Tidakkah kau kasihan terhadapku?? Aku mencintaimu hyu, neomu saranghae. . .
Jika kau pergi, bawalah aku juga bersamamu. . . Karna kau adalah hidup dan nafasku, bagaimana aku bisa terus ada disini sementara hidup dan nafasku kau bawa bersamamu?? Akan kupastikan aku akan selalu bersamamu, disini ataupun dikehidupan lain, saranghaeyo lee hyuk jae ya”
Tuuuuut. . . .
Bunyi dengung panjang itu membuatku tersentak kaget. Saat aku menatap layar alat penunjuk detak jantung yg menampilkan garis datar panjang itu, aku berlari keluar ruangan dan menjerit histeris memanggil dokter.
Beberapa suster dan dokter berlari dan langsung masuk kedalam ruangan.
Seseorang memelukku sambil menangis. Nyonya lee.
Pikiranku terasa kosong, aku sudah tidak bisa merasakan tubuhku lagi.
Lama. . . Lama sekali. . . Kenapa dokter itu belum juga keluar?? Apa yg terjadi? Inikah akhir dari segalanya?? Bila memang begitu, aku siap untuk mengakhirinya. . .
Tiba2 pintu terbuka.
“dokter bagaimana putraku?” tanya tuan lee.
“masa kritisnya sudah lewat, memang ada beberapa masalah tadi, tapi semuanya baik2 saja, dia sudah bisa dipindahkan keruangan biasa sekarang!”
Tubuhku langsung terasa lemas. Air mataku jatuh. Terima kasih ya tuhan. . .
Begitu leganya hingga tubuhku tidak bisa bergerak.

Sudah seminggu lebih ia dirumah sakit, dan selama itu aku terus ada disisinya. Aku tidak pernah beranjak dari tempatku walau untuk makan. Bagaimana aku bisa makan sedangkan ia masih terbaring disini??
“hyu. . .cepat buka matamu. . . Bukankah kau berjanji tidak akan membuatku menangis?? Jika kau terus seperti ini siapa yang akan memberiku kekuatan disaat kurapuh? Siapa yg akan menjagaku? Menghiburku disaat aku sedih? Kau bilang aku yg terpenting untukmu, tapi kenapa kau membiarkanku seperti ini??” kupererat genggaman tanganku, kubelai pipinya lembut “aku merindukanmu. . .benar2 merindukanmu. . . Saranghae. . .”
Jari itu bergerak pelan membuatku tersentak.
“hyu. . .”
Ia mengerjapkan matanya lemah. Aku mendekatkan wajahku.
“yoonie. . .” panggilnya lirih hampir tidak terdengar.
“disini. . .” bisikku didekat telinganya.
“bogoshipoyo. . .”
Air mataku jatuh. Kucium tangannya yg ada digenggamanku “nado, nado bogoshipoyo. . .”
Terima kasih tuhan, kau sudah mengembalikannya kepadaku. . .
“kau menangis??” tanyanya lemah sambil menyentuh pipiku pelan.
“aku bahagia. . . Terima kasih sudah kembali, terima kasih karna tidak meninggalkanku. . .”
“aku tidak akan meninggalkanmu, karna aku mencintaimu, saranghae. . .”
“nado saranghae, jeongmal saranghae. . .”

“kondisinya masih lemah, tapi keadaanya sudah stabil, nanti saya akan kembali lagi!”
“terima kasih dokter. . .”
“sama2. . .”
“eomma appa mianhae. . .” kata hyuki setelah dokter itu melangkah keluar ruangan.
Nyonya lee membelai kepala hyuki penuh sayang “sudahlah, semuanya sudah berlalu. . . Jangan membuat kami cemas lagi araseo?”
“ne. . .gomawo eomma. . .” jawab hyuki pelan “bolekah aku berbicara berdua dgn yoonie sebentar??”
“ah, baiklah, eomma dan appa akan pergi mencari makan dulu, istrimu belum makan sejak kemarin!!”
“jjinja?” Hyuki menoleh dan menatapku tajam.
“ya, kami pergi dulu. . .”

“apa yg ingin kau bicarakan?” tanyaku setelah orang tua hyuki pergi.
Ia mengulurkan tangannya kepadaku “tidakkah kau merindukanku??”
Aku tersenyum sambil berjalan, meraih tangannya “tentu saja. . .” jawabku sambil duduk disebelahnya.
“mendekatlah, aku ingin melihat wajahmu lebih jelas. . .”
Aku mendekatkan wajahku. Ia memegang wajahku dgn kedua tangannya. Jantungku langsung berdetak kacau.
“kau tau, aku hampir saja ikut hyung pergi kalau tidak kudengar suaramu memintaku kembali. . . Dan aku sadar, kau sedang menungguku, karna itu aku kembali. . .”
“gomawo. . .”
“kenapa kau terlihat kurus? Matamu juga bengkak, apa kau tidak menjaga diri dgn baik?!”
“aku akan baik bila ada kau, jadi jangan pernah meninggalkanku kalau kau tidak ingin melihatku seperti ini, atau aku akan menyusulmu!”
Ia tersenyum lembut, senyuman yg amat kurindukan.
“tidak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, karna aku terlalu mencintaimu, saranghae. . .”
“nado saranghae. . .”
Ia menarik kepalaku lembut semakin dekat dan dilumatnya bibirku lembut.
Aku membalasnya pelan, kulumat bibirnya yg hangat. . .