Tags

, ,

autumn of heart

 

~ epilog ~
Aku melihatnya setiap hari duduk disana. . . diantara pohon2 yang menggugurkan daunnya. Ia sedang serius dengan kertas dan pensilnya. Angin musim gugur membelai rambutnya lembut. . . begitu cantik. . .
——————

2006, Autumn in seoul

Seorang gadis sedang berlari2 kecil masuk kedalam hutan kecil dibelakang sebuah universitas. Park young in. . .
Langkahnya tiba2 terhenti saat melihat ada seorang laki2 yang berdiri diantara pohon2 itu.
“kukira hanya aku yang mau datang ketempat seperti ini. . .” ujarnya “tidak kusangka ada orang lain yang mau kemari. . .”
Laki2 itu menoleh dan mengerjap kaget “aku suka tempat ini. . .” balasnya.
“jjinja??” tanya gadis itu sambil menatap keatas, memperhatikan daun2 yang berjatuhan “tempat ini sangat menyenangkan. . . begitu tenang. . . aku nyaman berada disini. . .”
“kau suka melukis??” tanyanya.
“ne, aku menyukainya. . . dengan melukis, aku bisa menggambarkan bagaimana perasaanku. . .”
Laki2 itu tersenyum “kau keberatan bila aku disini??” tanyanya.
young in menoleh, kemudian tertawa kecil “kenapa harus keberatan?? Tempat ini bukan milikku. . .”
“arigato. . .”
young in mengerutkan alisnya “kau bukan orang korea??”
Ia menggeleng pelan “aku baru saja pindah kemari. . .”
“kenapa?”
“ibuku orang korea asli, orang tuaku baru saja bercerai dan aku ikut pindah kemari bersama ibuku. . .”
Terlihat raut prihatin diwajah gadis itu “bahasa koreamu sangat bagus. . .”
“sejak kecil eomma membiasakan aku untuk berbicara korea juga. . .”
young in tersenyum “hei, kau juga kuliah disana??” tanyanya sambil menunjuk sebuah gedung yang terlihat dari sela2 pohon itu.
“ya. . . dan kau??”
“aku juga. . . aku dikelas management, dan kau??”
“arsitek. . .” ia mengerutkan alisnya “bukankah kau suka melukis?? Kenapa tidak masuk kejurusan seni??”
young in tersenyum muram “ayahku tidak mengijinkannya. . . “
“aku belum tau namamu. . .” katanya tiba2, mencoba mengalihkan pembicaraan.
young in menoleh dan tersenyum “young in. . . park young in imnida. . .dan kau??”
“taguchi junnosuke. . .”
“bagaimana aku harus memanggilmu??” tanya young in bingung.
“panggil saja aku junno oppa!!”
“baiklah. . . junnooppa. . .” jawab young in riang.
“young in ah, terima kasih sudah menjadi teman pertamaku dikorea. . .”
“ne, cheonmaneyo oppa. . .” jawab young in sambil tersenyum.
****

“nona, tuan lee sudah menunggumu dibawah. . .”
“ne ajhuma. . .”
young in meraih tasnya dengan lesu. Setiap hari kehidupannya sama saja, semua sudah diatur orang tuanya. Ia ingin bebas, sungguh. . . tapi sepertinya itu hal yang mustahil baginya. Orang tuanya selalu memaksakan kehendaknya karna ia adalah putri pewaris kekayaan keluarga Park satu2nya. Beruntung ia memiliki lee sungmin, laki2 yang sudah dianggapnya menjadi kakaknya. Hanya dengan sungmin-lah ia diijinkan keluar. Karna orang tuanya hanya percaya kepada laki2 itu. laki2 yang sudah menjadi teman young in sejak kecil. Laki2 dari teman baik ayahnya.
“anyeong oppa. . .” sapa young in tanpa semangat.
“kenapa wajahmu kusut seperti itu??” tanya sungmin lembut.
“aniyo. . . “
“kau sudah sarapan??”
young in `menganggukkan kepalanya pelan “sudah!!”
“bersemangatlah. . . hari ini aku ada tambahan kelas hingga sore, jadi kau bisa melukis sepuasmu!!”
“jjinja???” tanya young in berseri2.
“ne. . . ayo kita berangkat, nanti terlambat!!”
“kajja!!” young in berlari2 kecil dengan semangat sementara sungmin hanya tersenyum sambil menggeleng2kan kepalanya.

“anyeong yoon hye!!” sapanya pada teman sekelasnya [aku ngeksis. . . kekekek. . .]
“young in ah?? Kapan kau datang??” tanya yoon hye kaget.
“baru saja!!” jawab young in “yaak, ada apa denganmu?? Kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu??”
“kau sudah mendengar kabar tentang laki2 pindahan dijurusan arsitek??”
“laki2 pindahan??”
“dia dari jepang, namanya taguchi junnosuke!! Dia sangat kereeen. . .”
“yaaak apa kau sudah gila?? Kau kan sudah punya namjachingu!!!”
“siapa?? Lee hyuk jae??” yoon hye mendengus pelan “aku sedang kesal dengannya!!”
“eh? Waeyo??”
“seperti tidak tau saja kalau dia itu menyebalkan??!”
young in tertawa kecil “tapi kau menyukainya bukan??”
“kalau kau tidak bilang suka, mati kau kim yoon hye!!!”
Kedua gadis itu tersentak kaget dan langsung menoleh kesamping. Lee hyuk jae, laki2 itu berdiri tidak jauh dari mereka.
“yaak sedang apa kau disini?? Kembali kekelasmu sana!!” bentak yoon hye.
Hyuk jae mendengus kemudian berjalan menghampiri kedua gadis itu. braak. . . dibantingnya sebuah majalah didepan yoon hye “ini majalah yang kau mau!!” katanya ketus.
Sedetik kemudian yoon hye langsung menjerit “gyaaaaaa……..yamapi. . . .>.< , saranghae yeobo. . .”
Hyuk jae mendengus kemudian langsung berjalan keluar kelas.
“yaaak jarang2 aku mengucapkannya, dia malah seperti itu!!!” gerutu yoon hye kesal.
“kau menyuruhnya untuk membelikan majalah edisi yamapi??” tanya young in dengan alis terangkat.
“ne, waeyo??” tanya yoon hye dengan tampang watadosnya.
“aigooooo. . . jelas saja dia marah!! Kau ini. . .”
Baru saja yoon hye hendak bertanya tapi seongsaengnim sudah memasuki kelas siap memulai perkuliahan.
****

“anyeong. . .”
young in menoleh kaget dan melihat yamashita sedang duduk disampingnya.
“anyeong. . .” balasnya sambil tersenyum.
“apa yang kau lukis??” tanya junno.
young in memperlihatkan sebuah gambar sketsa pensilnya. Digambar itu terlihat seorang gadis sedang bertatapan dengan seorang laki2 diantara pohon2 yang sedang menggugurkan daunnya.
“apa judul dari lukisan ini??” tanya junno.
“firstmeet. . .”
junnomengangkat wajah, menatap gadis itu. ia terlihat sedang menahan tawa.
“sepertinya aku familiar dengan gambar ini. . .”
“yaak oppa, ingatanmu sangat payah!!!” ledek gadis itu “ini gambar saat pertemuan pertama kita kemarin!!”
“ah, kau benar. . .”
“untukmu. . .”
Junno mengerjap kaget, ditatapnya gadis itu tanda tanya.
“hadiah pertama dari teman koreamu!!” kata young in sambil tersenyum kecil.
“arigato. . .” jawab junno sambil mengambil kertas itu.
“apa yang kau gambar??” tanya young in sambil menatap buku besar yang dibawa Junno.
Junno tidak langsung menjawab. Ia membuka buku itu dan menunjukkannya kepada young in.
“ini indah sekali. . .” ucap young in kagum.
“ini kuil didekat rumahku dijepang sana. . . yang ini gambar tokyo tower, dan yang ini pemandangan sungai han, kugambar saat pertama kali tiba dikorea!!”
“semua ini kau yang melukis?? Benar2 indah. . .”
“ya, aku juga ingin membuat sebuah rumah rancanganku sendiri kelak. . .”
“kau benar2 berbakat, nanti kau pasti akan menjadi seorang arsitek yang hebat. . .”
“dan kau akan menjadi pelukis terkenal. . .”
young in tertawa kecil “nanti, kalau kau sudah menjadi seorang arsitek yang hebat, kau harus membangunkan rumah impianku, araseo?!”
Junno tertawa kecil “seperti apa rumah impianmu itu??”
young in diam sejenak “aku ingin punya rumah ditengah2 hutan ini. . . agar setiap musim gugur tiba, aku selalu bisa melihat guguran daun2 disini. . . “ jawabnya dengan nada melamun “bukankah indah?? Sebuah rumah putih berdiri dibawah pohon sana. . . dengan balkon yang terbuka lebar. . .mempunyai pilar2 yang menyangganya agar tidak rapuh. . . dindingnya terdapat banyak kaca hingga terlihat terbuka, dan dipohon besar itu ada sebuah ayunan. . . bukankah sangat indah??”
“seperti ini??”
young in mengerjap kaget melihat buku yang disodorkan Junno. Dikertas gambar itu, terlukis jelas rumah impian yang baru saja dibayangkannya. . .”
“ini benar2 indah. . .” ucapnya kagum “kapan kau melukisnya??”
“baru saja saat kau membicarakannya. . .”
“hisa oppa, kau benar2 hebat!!” ucap young in takjub.
“arigato. . .”
Tiba2 saja ponsel young in berbunyi. Nama lee sungmin berkedip2 dilayar ponselnya.
“ne oppa??. . .kau sudah selesai?? Ah, araseo, aku kesana sekarang!!”
young in menutup flap ponselnya kemudian menoleh pada Junno “oppa, mianhae. . . aku harus pergi sekarang, anyeong!!” ucapnya sambil beranjak dari duduknya kemudian menundukkan kepala sejenak dan berlari pergi.
****

Junno sedang makan dikantin bersama kangin, teman sekelasnya. Tiba2 saja matanya mengangkap sesosok gadis yang baru saja memasuki kantin bersama seorang namja.
“hei, apa yang kau lihat??” tanya kangin tiba2 mengalihkan pandangannya.
“kau mengenal gadis itu??” tanya yamashita sambil menatap gadis itu lagi.
“park young in??” kangin terkekeh “siapa yang tidak kenal dia?? Ayahnya salah satu donatur terbesar disekolah ini!!”
“siapa namja itu??” tanya Junno lagi.
“oh, itu lee sungmin. . .”
“apa dia pacarnya??”
“aku tidak tau, tapi kalau dilihat sepertinya memang iya, mereka sangat dekat!! Kenapa?? Kau menyukainya?? Lupakan saja niatmu itu, orang tuanya sangat mengerikan!! Leeteuk pernah mencoba mendekatinya, tapi sia2!!”
“benarkah??”
“ya. . . dia itu seperti bintang tak terjangkau!! Dan calon suaminya juga sudah pasti pangeran yang punya istana!!”
Junno hanya menatap gadis itu dalam diam. . .
****
“oppa. . .aku punya seorang teman. . .”
“mm?? nugu??”
“dia laki2 pindahan dari jepang dikelas arsitek, namanya taguchi junnosuke, kau tau??”
sungmin menghentikan makannya kemudian menatap gadis dihadapannya itu “namja??”
“ne. . . dan dia sangat hebat, dia pandai sekali melukis. . .”
sungmin kembali menatap makanannya tanpa ada nafsu lagi sementara gadis itu masih berceloteh tentang laki2 itu “kau menyukainya??” potong sungmin tiba2.
young in terlihat kaget dengan pertanyaan yang tiba2 itu kemudian ia tertawa kecil “ya. . . aku menyukainya, ia laki2 yang menyenangkan. . .”
sungmin meletakkan sumpitnya dan menatap young in hati2 “young in ah, berapa lama kau mengenalnya??”
“eh? Emm . . . rasanya baru satu minggu. . .” jawab young in ragu.
“bukannya aku melarangmu untuk menyukainya young in ah, tapi kau baru mengenalnya, kau harus tau bagaimana ia, aku hanya tidak ingin kau disakiti ataupun kecewa nantinya, tapi tidak usah terburu2. . .”
Gadis itu tertawa kecil “oppa, aku menyukainya bukan mencintainya!!”
“maksudnya??”
“aigooooo…… kau ini sangat pintar tapi begini saja tidak paham!! Siapa yang bilang aku menyukainya untuk dijadikan pacar??”
“jadi??”
“aku masih belum yakin dengan hatiku, aku ingin semuanya mengalir dengan sendirinya. . . lagipula siapa yang mau berpacaran denganku?! Appa dan eomma tidak akan mengijinkannya. . .” wajah young in terlihat sendu.
sungmin menyukai gadis ini. Gadis yang sudah dijaganya sejak dulu. Namun ia tidak berani mengatakannya. Ia takut, young in akan menjauhinya jika tau yang sebenarnya. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi.
****

“young in ah, kami akan berangkat keamerika besok pagi2 sekali!! Ada urusan disana, mungkin eomma dan appa akan pulang minggu depan!!”
“eh?? Jjinja??”
“ne, appa akan meminta sungmin untuk menjagamu selama kami pergi, kalau ada apa2 hubungi kami araseo??”
“ne, kalian tidak pergipun sungmin oppa selalu menjagaku!!” dengus young in.
“itu bagus!!”

Untuk pertama kalinya, young in merasakan kebebasan dalam hidupnya yang amat sangat jarang terjadi!!! Kini ia bebas melakukan apapun. Setidaknya dalam waktu seminggu kedepan!!
Dengan semangat diraihnya ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“yeobseo??” sapa seseorang disebrang.
“sungmin oppa!!! aku bebaaass. . . .” teriak young in gembira tapi langsung membekap mulutnya agar tidak terdengar orang tuanya.
“ada apa young in ah??”
“besok appa dan eomma akan pergi keamerika selama seminggu!! Jadi kau tidak perlu menjemputku besok!! Aku akan berangkat sekolah sendiri!!”
“tapi young in ah. . .”
“ayolah oppa. . . ini kesempatanku. . .”
Terdengar suara desahan sungmin disebrang “baiklah. . .tapi kau harus janji agar menjaga diri, ara?!”
“ne, gomawo oppa. . .”
“cheonmaneyo!!”
young in memutus telponenya kemudian menjatuhkan diri ketempat tidurnya sambil tersenyum senang.
****

young in berlari2 kecil dengan gembira menuju halte bus. Untung saja choi ajhuma bisa diajak kerja sama, karna orang tua itu benar2 mengerti apa yang diinginkan young in.
Tidak lama, bus yang ditunggunya datang. Ia segera masuk kedalamnya.
“young in ssi??”
“Junno oppa??” seru young in gembira sambil duduk disebelah Junno.
“kenapa kau ada disini??” tanya Junno bingung.
“maksudmu aku tidak boleh ada disini??”
“ah ani, maksudku tidak biasanya kau naik bus,”
young in tersenyum masam “ya. . .tapi ini kesempatanku untuk mencoba hal2 yang dilarang oleh orang tuaku. . .”
“maksudmu??”
“kalau saja kau tau aku tidak pernah punya teman banyak. . . temanku hanya sungmin oppa dan yoon hye. . . “ gumam young in dengan nada melamun “dan kau tentu saja. . .”
Junno hanya terdiam. Kangin, temannya pernah bercerita bagaimana latar belakang gadis ini.
“aku ingin sekali seperti anak2 yang lain. . . pergi ketempat2 yang menyenangkan. . . mencoba berbagai makanan. . . dan melakukan hal2 yang seru. . . tidak seperti hidupku yang membosankan ini. . . bahkan untuk melukis-pun aku harus sembunyi2, menggunakan waktu luang sungmin oppa, bukankah aku sangat menyedihkan??”
“kalau kau mau. . . kalau kau mau. . . aku bisa menunjukkan hal2 yang baru kepadamu. . .”
young in mengerjap kaget. “benarkah??”
“kau mau??”
“tentu saja. . .”
“kalau begitu ayo!!”
Tiba2 saja yamashita menarik tangan young in untuk berdiri kemudian meminta sopir untuk menghentikan bus yang mereka tumpangi.
“oppa apa yang kau lakukan?? Aku ada kelas pagi ini!!” kata young in saat Junno menariknya turun dari bus.
“kau ingin melakukan hal2 baru bukan?? Ini adalah hal baru untukmu!!”
young in menatap Junno yang tersenyum lebar sambil mengerutkan alisnya tidak mengerti.
“kau pernah membolos kuliah??” tanya laki2 itu lagi ketika young in belum juga mengerti.
young in menggelengkan kepala pelan.
“membolos, bukankah ini hal baru untukmu??”
Perlahan kerutan kening young in memudar bergantikan senyum lebar dibibirnya “kau benar. . .”
“kajja!!” Junno mengulurkan tangannya.
“kemana??”
“tentu saja mencoba hal2 baru, lagipula aku juga belum sempat keliling korea. . .”
young in tersenyum semangat sambil menerima uluran tangan Junno.

Akhirnya seharian itu mereka habiskan dengan mencoba hal2 yang baru. Mereka pergi ketempat ice sketing dan bermain hingga siang disana, kemudian mencoba makan makanan dikedai2 pinggir jalan, main kegame center, ketempat karaoke, dan sempat kesasar ke lotte world. Karna ini pertama kalinya mereka ketempat itu tentu saja mereka tidak menyia2kannya. Dicobanya semua permainan yang ada hingga malam. Dan terakhir, mereka duduk berdua dipinggir sungai han dengan kertas ditangan masing2. Sibuk melukis.
“oppa. . . apa yang kau gambar??” tanya young in sambil mengintip kertas yang dipegang Junno “yaak, bukankah ini kita saat dilotte world tadi?? Aigoooo. . . bagaimana bisa kau menggambar sesempurna itu???”
Junno tertawa melihat eksperesi gadis itu “lihat, kau terlihat gembira sekali disini!!”
“aku memang gembira saat ini!! Banyak hal yang kulakukan hari ini, terima kasih sudah menemaniku. . .”
Junno tersenyum “terima kasih juga sudah mau bersamaku hari ini. . .”
“ah bagaimana kalau kita tukaran gambar??”
“ye?”
young in mengambil kertas gambar itu dari tangan Junno dan menggantinya dengan kertas miliknya “ini untukmu!!” katanya ceria.
Junno menatap kertas itu takjub “kau selalu bilang aku hebat, tapi yang hebat itu sebenarnya adalah kau! lihat, bagaimana bisa kau melukis wajahku sesempurna ini?? Aku jadi merasa kalah dengan lukisan ini!!”
“oppa, kau bisa saja!”
“young in ah, wajah siapa saja yang pernah kau lukis selama ini??”
“hmmm. . .” young in berfikir sebentar, selama ini ia hanya pernah melukis wajah sungmin saja, itupun dengan ancaman kalau young in tidak akan mau mendengarkan sungmin bernyanyi lagi. Ia ingat betapa sungmin kesal saat dijadikan objectnya, tapi lambat laun ia sudah tidak memerlukan sungmin lagi, hanya dengan membayangkan laki2 itu, ia sudah bisa melukisnya.
“hei, kenapa kau tertawa??”
young in mengerjap kaget dan baru menyadari kalau tadi ia tertawa saat mengingat sungmin. “selama ini aku hanya melukis sungmin oppa saja. . .”
“sepertinya kau menyayanginya?!”
“tentu saja. . .” dan mengalirlah cerita tentang sungmin dari bibir young in.
“kau gadis yang unik young in ah, dan kau juga sangat pandai melukis. . .”
young in tertawa kecil “itu karna aku melukisnya dengan hatiku! Aku tidak bisa melukis tanpa hatiku. . . semua yang ada didalam hatiku, kugoreskan diatas kertas dengan pensil ini. . . karna ART adalah bagian dari heART!!”
Junno tersenyum “kau gadis yang luar biasa. . . sudah malam, ayo kuantar kau pulang!!”
****

young in berlari2 kecil masuk kedalam rumahnya. Hari ini ia sangat bahagia. Banyak hal baru yang dilakukannya.
“young in ah. . .”
Langkah young in dianak tangga kedua terhenti saat didengarnya panggilan itu. lee sungmin. . .
“oppa??”
sungmin berjalan cepat menghampirinya kemudian memegang kedua bahunya menatapnya dari ujung rambut hingga bawah.
“kau baik2 saja?? kenapa tidak menjawab telphoneku?? Aku mencarimu kemana2, kenapa kau tidak masuk kuliah?? Bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga diri?”
“gwenchana oppa. . . aku baik2 saja, mian membuatmu khawatir. . .”
“lalu kemana saja kau?? kenapa menghilang seharian ini?? Orang tuamu tadi menelphone, dan aku terpaksa berbohong tentangmu!! Kumohon, jangan membuatku khawatir lagi!!”
Tiba2 young in memeluk sungmin “oppa mianhae. . . lain kali aku pasti akan berbicara dulu denganmu, dan terima kasih karna sudah melindungiku, aku menyayangimu. . .”
sungmin mendesah pelan membalas pelukan gadis itu. ia tau, ia benar2 lemah dengan young in, bahkan untuk marahpun ia tidak bisa.
“aku punya cerita bagus untukmu!!” kata young in ceria sambil melepaskan pelukannya “tunggulah diatap, aku mau mandi dulu, ok?!”
sungmin tersenyum lembut “memang sudah seharusnya kau menceritakannya. . . baiklah cepat mandi, kutunggu kau diatap!!”
young in mengangguk2 riang kemudian melompat2 menaiki tangga dengan semangat.

“jadi kau bersamanya seharian ini??” terdengar nada muram sungmin, namun sepertinya young in tidak menyadarinya.
Angin musim gugur menerpa mereka lembut. Taburan bintang2 terlihat indah dilangit sana. Inilah tempat faforite young in dan sungmin, diatap.
“ne oppa, aku benar2 senang hari ini. . . aku mencoba berbagai hal baru dengannya. . . “
“itu bagus. . . jadi kau tidak perlu lagi merengek kepadaku untuk pergi ketempat2 itu!!” kata sungmin mencoba menutupi kekecewaanya.
“yaak oppa, kau memang benar2 pelit!!” young in menggembungkan pipinya membuat sungmin tertawa kemudian mencubit pipi itu.
“aku hanya tidak ingin kau kena masalah young in ah, kalau orang tuamu sudah marah, aku tidak bisa membantumu!!”
“ne, ne, araseo!! Terima kasih sudah menjagaku oppa. . .” young in menyandarkan kepalanya dibahu sungmin “kau memang oppaku yang paling baik. . .”
“sejauh ini memang aku satu2nya oppamu!!”
young in tertawa kecil “gomawo. . .” gumamnya pelan.
Hening. . . tak satupun dari min young ataupun sungmin yang berbicara. Saat sungmin menoleh, gadis itu sudah tertidur pulas. sungmin tertawa masam melihatnya. Oppa. . . ya, selamanya young in akan menganggapnya oppa. hanya oppa. . . kenapa kenyataan itu membuatnya sakit?? Bila suatu saat ia pergi dari sisinya, apa yang harus ia lakukan?? Dan sepertinya itu baru saja dimulai. . .
Ia benar2 menyayangi gadis ini, tidak, ia mencintainya, hingga bisa melakukan apapun untuknya. Ia tidak ingin young in sedih, apakah itu berlebihan?? Ia hanya ingin melihat gadis itu tertawa, dan orang yang bisa membuatnya tertawa itu bukan dia. . .
****

Sudah dua minggu lebih sejak kejadian itu, dan kini gadis itu semakin menjauh dari sungmin. Dan sungmin tidak bisa berbuat apa2. Mereka hanya bersama saat berangkat kekampus dan pulang dari kampus, karna orang tua young in sudah kembali dari amerika.
“oppa!!!” gadis itu berteriak memanggil sungmin yang sedang mengotak-atik kameranya. “apa yang kau lakukan??” tanya young in setelah sampai ditempat sungmin
sungmin tidak menjawab tapi langsung menjepretkan kamera itu kearah young in.
“yaak oppa, apa yang kau lakukan??” young in menggembungkan pipinya sementara sungmin tertawa melihatnya.
“gwenchana??”
“aku sudah punya namjachingu sekarang ini!!” kata young in ceria.
sungmin menghentikan kegiatannya dan menoleh menatap young in “orang jepang itu??”
“yak oppa, namanya taguchi junnosuke!!”
sungmin mengalihkan kembali pandangannya kekamera yang dibawanya sementara gadis itu berceloteh menceritakan semua kejadian yang terjadi.
“oppa kau mendengarkanku tidak???” tanya young in kesal karna merasa diabaikan oleh sungmin.
“ne, ne, tentu saja kudengarkan!! Baguslah, mulai sekarang kau tidak akan menggangguku lagi!!”
“jadi selama ini aku mengganggumu???”
“aniyo. . .” sungmin tertawa kecil sambil mengacak2 rambut young in “aku suka kau menggangguku!!”
Tiba2 saja ponsel young in berbunyi dan wajahnya berubah cerah seketika “Junno oppa?? . . . ye? Ah, ne araseo!! Aku kesana sekarang!!” ucap gadis itu riang “oppa aku pergi dulu!! Anyeong!!” pamitnya dan langsung berlari pergi.
sungmin memandangi sosok gadis yang semakin jauh itu. hanya dalam waktu kurang dari sebulan, ia benar2 telah kehilangan gadis itu. sakit. . . tentu saja, karna tak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Rasanya sungguh menyesakkan. . . sepertinya ia harus mengambil jalan lain yang sudah dipikirkannya.
****

Hari ini sungmin harus menyelesaikan praktikumnya. Itu artinya young in punya waktu lebih sebelum pulang kerumah. Ia menghabiskan waktunya itu dengan berjalan2 berasama Junno. Mereka berjalan2 di myeondong, melihat2 aksesoris, makan ice cream dan mencoba makanan2 yang ada.
“oppa, kau tau, ini kedua kalinya aku berjalan2 di myeondong, sebelumnya dengan sungmin oppa, kau tau, saat itu ada sebuah tantangan, dan ia mengikutinya. Karna ia menang, ia mendapatkan sebuah boneka besar dan memberikannya kepadaku!!”
“benarkah??”
“ne!! dia sangat hebat!! Aku ingin bisa sepertinya. . . pintar dalam segala hal. . . ia bisa bermain piano, ia juga bisa memasak, kau ingat jjangmyeon yang kita makan tadi?? Buatannya lebih enak dari jjajangmyeon tadi!!”
“tapi ia tidak bisa melukis sepertimu dan aku!!” saut Junno sambil tersenyum.
“mm. . . kau benar. . . tapi dia pandai sekali memotret. . .”
“setiap orang memiliki kemampuannya sendiri2 young in ah. . .”
“kau benar oppa!!”
“park young in!!!”
young in menghentikan langkahnya begitu mendengar panggilan itu. ia kenal suara ini, amat sangat kenal. . . dengan ketakutan yang luar biasa, ia membalikkan badan dan menatap seseorang berdiri tidak jauh darinya.
“appa. . .”
Laki2 separuh baya itu menghampiri young in dan menarik tangannya dengan kasar “ayo pulang!!!”
“tapi appa. . .”
“maaf ajhusi, tapi kau membuatnya kesakitan!!” Junno menahan tangan appa young in.
“jangan ikut campur, kau tidak berhak atas putriku!!”
“oppa pergilah, aku harus pulang!!” kata young in pelan sambil mengikuti appanya.
****

“jadi itu yang kau lakukan diluar rumah??? berkeliaran dengan namja yang tidak jelas asal usulnya??” bentak appanya marah.
“appa. . .” young in menangis sesegukan. Sementara ibunya tidak menolongnya sama sekali.
“dimana sungmin?? Kenapa ia membiarkanmu sendirian??” tanya appanya lagi “paman kim, telphone sungmin sekarang juga, suruh kemari!!!” perintah appa young in pada asistennya itu.
“baik tuan!!”
Lima belas menit kemudian sungmin datang dengan tampang bingung “paman ada apa??”
“seharusnya aku yang tanya kepadamu, kenapa kau membiarkan young in pergi dengan laki2 yang tidak jelas??”
“maaf paman tapi aku tau siapa laki2 itu. . . dia orang yang baik2!!” sanggah sungmin.
“aku tidak perlu alasan apapun!! Sepertinya aku harus cepat2 mentunangkan kalian berdua!!”
young in dan sungmin sama2 tersentak kaget. “apa maksud appa??” tanya young in dengan suara yang bergetar karna tangisnya.
“sebenarnya rencana ini sudah lama sekali!! sungmin, aku dan appamu sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua!!”
“andwaeeee!!!!” jerit young in tiba2. Ia berdiri dari duduknya “aku bukan bonekamu appa!! Aku tidak mau melakukan inginmu lagi!!! Sudah cukup selama ini!!!” kemudian young in langsung pergi kekamarnya dan mengunci pintunya.
“young in ah!! PARK YOUNG IN!!!!”
“biar aku saja yang berbicara paman!!” sungmin berjalan menuju kamar young in dan mengetuk pelan pintunya.
“young in ah. . .”
“pergilah oppa, aku tidak ingin bicara denganmu saat ini!!” balas young in dari dalam.
Hati sungmin terasa tertusuk. Bahkan saat ini ia tidak bisa melakukan apapun untuk gadis ini. Kenapa dirinya tidak berguna?? Dan ia benci hal itu. sekarang gadis itu menangis, dan semua itu karna dirinya. Adakah yang bisa dilakukannya??
****

“Junno ssi, bisa kita bicara sebentar??”
Junno yang sedang melamun ditaman universitas, mengerjap kaget saat melihat sungmin.
“kau, lee sungmin, benar bukan??”
“ne, lee sungmin imnida!!”
“bagaimana young in??” tanya Junno sedih “apa dia baik2 saja?? maaf, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. . .”
“aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu. . .”
“apa itu??”
“apa kau benar2 mencintai young in??”
Junno terdiam sejenak “ya. . . aku mencintainya. . .”
“kalau begitu, kutitipkan dia padamu. . .”
“apa maksudmu??”
sungmin hanya tersenyum lemah, “kau akan tau nanti, tapi kumohon jagalah ia baik2!! Ia tidak suka menunggu lama, ia suka makan roti choklat, tidak suka makan pedas, dan alergi kepiting. . .”
Junno mengerutkan keningnya “apa yang terjadi??” tanyanya.
sungmin terdiam sejenak “aku hanya berusaha untuk membuatnya bahagia. . . hanya itu yang ingin kusampaikan kepadamu, aku harus pergi, sampai jumpa Junno ssi!!”
Junno masih memandang bingung pada sosok sungmin yang semakin jauh. “aku memang mencintainya. . . tapi aku tidak yakin ia mencintaiku seperti aku mencintainya, karna orang yang selalu dibicarakannya adalah kau lee sungmin. . .”
****

young in membuka matanya yang berat. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia baru ingat kejadian kemarin. bagaimana bisa appanya punya rencana untuk menjodohkan dirinya dengan orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak?? Hari ini ia harus bicara dengan sungmin!!
young in menuruni tangga dengan lemas. Sejak kemarin malam ia belum makan. “nona, anda sudah bangun??” tanya seorang pelayan.
“dimana eomma dan appa??” tanya young in.
“tuan dan nyonya sudah pergi pagi tadi. . .” jawab pelayan itu “dan ini. . . ada titipan dari tuan lee!”
young in mengerutkan keningnya heran saat menerima sebuah kotak dari pelayan itu. ia berjalan pelan dan duduk dikursi makan. Dibukanya kotak itu. berpuluh2 foto ada didalam kotak itu. young in mengambil selembar foto. Foto dirinya yang sedang melukis. Ia mengerutkan keningnya, kapan sungmin mengambil foto ini?? Dan hal itu sudah terjawab dengan adanya tulisan dibalik foto itu.

April 05, 2004. . .
Sunyi dalam damai. . .

Foto itu diambil dua tahun yang lalu. young in mengambil semua foto2 itu. dilihatnya satu per satu. Dan disetiap foto itu ada waktu kapan foto itu diambil. Young in semakin tidak mengerti. Bukankah foto2 itu diambil saat dirinya asyik melukis dihutan belakang universitas itu?? kenapa sungmin bisa mendapatkan foto2 ini?? Bukankah setiap ia melukis sungmin bilang dia ada kelas tambahan atau praktikum??
Setelah berlembar2 foto tentang dirinya, kemudian ada foto2nya saat bersama laki2 itu. mulai dari kecil hingga dewasa. young in tersenyum melihatnya. Kenangan2 tentang mereka, satu per satu muncul dimemorinya. Dan foto terakhir, adalah foto young in yang sedang tertawa dengan ukuran yang lebih besar. Saat dibaliknya foto itu, ada tulisan yang cukup panjang.

Kau ingat saat kau tertawa seperti ini?? Sungguh akupun merasa bahagia melihatnya. Tapi kini, karna aku, air matamu jatuh menggantikan setiap tawamu.
Dan aku sakit melihatnya young in ah. . .
Aku ingin kau terus tertawa seperti foto ini, meskipun bukan aku lagi yang bisa membuatmu tertawa, aku rela. . . railah keinginanmu, meskipun tanpa aku disisimu, dan untuk yang terakhir kalinya aku ingin mengatakan sesuatu. . . sesuatu yang dari dulu ingin kukatakan kepadamu. . . hanya saja aku takut, bagaimana reaksimu setelah aku mengatakannya kepadamu. . . apakah kau akan menerimanya, marah atau malah membenciku. . . . dan kenyataan terakhirlah yang membuatku menjadi pengecut untuk tetap bungkam. Bahkan sekarang aku tidak bisa mengatakan secara langsung kepadamu. . .
Maafkan aku. . . tapi aku benar2 mencintaimu young in ah. . . neomu saranghae. . . kata2 itulah yang ingin kuucapkan kepadamu. . . maafkan aku. . . dan kini, semuanya sudah terlambat bukan?? Karna itu, kutitipkan hatiku kepadamu dalam kotak ini, jagalah dengan baik. . . saranghae. . . .

young in membeku membaca kata2 itu. tanpa fikir lagi, ia berlari keluar rumah dan pergi kerumah sungmin. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kenapa ia menangis?? Apa yang membuatnya menangis??
“ajhuma, dimana sungmin oppa???” tanya young in begitu ia tiba dirumah sungmin.
“young in ah, gwenchana??” tanya bibi lee heran “sepertinya ia masih tidur. . .”
“aku keatas dulu bibi. . .” kata young in cepat dan langsung menaiki tangga menuju kamar sungmin.
Begitu pintu kamar sungmin terbuka, young in terpaku. . . disana disatu sisi kamar sungmin, beratus2 foto dirinya menempel didinding. Tiba2 saja hati young in terasa nyeri. Kamar itu terlihat kosong. “oppaa???” teriaknya. Ia membuka kamar mandi yang ternyata juga kosong. Disaat fikiran kacau, ia melihat sesuatu diatas tempat tidur itu. selembar kertas. . .
young in menghampirinya dan mengambil kertas itu. dibacanya isinya.

Appa mianhae. . .
Aku bukan anak yang baik, aku tau itu. maaf jika aku mengecewakanmu, tapi aku tidak bisa bertunangan dengan young in. . . aku menyayanginya appa, sungguh, tapi aku tidak ingin melihat air matanya. . . dia sudah punya orang lain appa, dan aku tidak ingin mengganggu hubungan mereka. Maafkan aku. . .
Karna itu, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke amerika, maaf tidak memberitahumu, karna aku tau kau pasti marah dan kecewa padaku, jika kau membaca surat ini, itu artinya aku sudah terbang jauh kesana. Sampaikan pada eomma aku menyayanginya. . .

young in langsung terjatuh begitu selesai membaca. Kakinya terasa lemas. Kini, orang yang selalu ada disisinya bahkan sejak ia dilahirkan, sudah pergi jauh dengan meninggalkan hatinya disini. Apa yang bisa dilakukannya??
“young in ah, gwenchana???” bibi lee masuk kedalam kamar dengan panik saat melihat young in “dimana sungmin??”
“dia. . . dia pergi. .. bibi. . .” tangis young in pecah sementara bibi lee mengambil surat yang digenggam young in dan membacanya.
“i. . .ini. . .”
****

Cinta itu seperti air. . .
Ketika tak ada air, kau akan kehausan dan sedih. . .
Tapi ketika terlalu banyak air,
Kau tidak akan menyangka, betapa berharganya itu. . .
~sungmin quote’s~

“young in ah, kenapa kau melamun terus??” tanya Junno sambil duduk disebelah gadis itu.
Gadis itu belum bergeming. Ia masih memandan kosong kedepan sambil memegang alat lukisnya. Kertas kanvas itu masih putih bersih, belum ada satu goresan-pun.
“young in ah??”
Gadis itu tersentak kaget kemudian menatap Junno dengan bingung “oppa, kapan kau datang??”
Junno tersenyum “kenapa kau melamun??”
young in menggeleng pelan kemudian menatap kertas gambarnya lagi. Ia terdiam. . .
“ada apa?? kenapa tidak menggambar??”
Tangan young in bergerak sedikti. Tapi kemudian berhenti. Ia diam lagi. Tiba2 saja air matanya jatuh membasahi kertas itu. dan semakin lama ia semakin terisak.
“young in ah, ada apa??”
Young in terus terisak “a. . .aku. . . tidak bisa menggambar oppa. . .”
Junno memeluk bahu gadis itu dan membenamkan wajah gadis itu kedalam dadanya. “apa ada sesuatu??”
“dia pergi oppa. . . dia pergi. . .” kata young in disela tangisnya.
Junno tidak bertanya lagi. Ia menunggu gadis itu tenang dulu. Ditatapnya gadis itu kemudian tersenyum pahit.

“jadi, sungmin pergi keamerika??”
young in mengangguk dengan gamang. Pandangannya masih lurus kedepan “bahkan ia tidak pamit kepadaku. . .” air mata young in jatuh lagi “kenapa ia sekejam itu?? pergi dan meninggalkan hatinya disini. . .”
Junno hanya diam. Ia tau gadis itu saat ini sedang kehilangan. Tapi ia juga tau, cepat atau lambat, ia juga akan kehilangan.
“kau tau oppa?? sebenarnya dia mencintaiku. . .” gumam young in lagi “benar2 bodoh bukan?? . . . dia ingin melihatku tertawa, tapi malah meninggalkanku, apa dia fikir aku akan bahagia setelah ia pergi?? Apa dia fikir aku akan tertawa setelah ia pergi?? Dia benar2 bodoh. . .”
Junno hanya menatap sendu gadis itu. walaupun kini statusnya adalah kekasih dari gadis yang ada disampingnya ini, dari awal ia sudah tau, tidak ada yang bisa menggantikan posisi sungmin.
“ternyata, selama ini ia selalu memotretku. . . selalu bilang ada kelas tambahan agar aku bisa melukis meskipun kenyataannya itu bohong, dan dia juga tidak pernah mengajakku melakukan hal2 baru sepertimu karna ingin melindungiku, agar aku tidak terkena masalah. . . dia benar2 malaikatku oppa, tapi sekarang ia pergi. . .rasanya. . . ada yang hilang. . . sejak kecil, kami selalu bersama. . . dan sekarang tiba2 saja kami tidak bersama, aku merasa aneh oppa. . .”
“kalau begitu susul dia!!”
young in menoleh kearah Junno dengan terkejut.
“aku tau kau membutuhkannya young in ah. . . dan aku tau kau juga mencintainya. . .”
“tapi aku. . .”
“kau hanya merasa nyaman bersamaku. . . sejak awal aku tau, hanya dia yang kau butuhkan young in. . . tapi aku juga tidak menyesal sudah menyukaimu, ini belum terlambat. . .aku akan membantumu. . .”
young in terdiam. Ia tidak tau apa yang diinginkannya. Namun yang jelas, ia ingin sungmin kembali.
****

Telphone berbunyi saat young in melewati ruang tamu. Ia mengahampiri benda itu dan mengangkatnya.
“yeoboseo??. . . ya benar. . .mwoya????” young in mematung saat mendengar kabar itu. orang tuanya kecelakaan mobil???
Dengan cepat young in berlari keluar. Tapi ia bingung, biasanya orang pertama yang ditelphonenya adalah sungmin, tapi saat ini sungmin sudah pergi. Akhirnya ia berlari kejalan dan menyetop taksi.
“ajushi, bisakah lebih cepat sedikit??” tanya young in panik.
“baik nona!!” taksi itu menambah kecepatnya. Tapi ada satu hal yang tidak diduga, seekor kucing melintas ditengah jalan. Dan itu membuat sopir taksi kaget dan membanting stirnya kekanan.
“sungmin oppaaaa…….”
BRAAAAK. . . .
Mobil taksi itu menghantam tiang lampu dengan keras dan terbalik tertabrak container. Untuk beberapa detik semuanya terasa hening. Hingga kemudian orang2 sadar dan berlarian melihat apa yang terjadi.
****

Braaaak. . . .
sungmin mengerjap kaget menatap kameranya yang tidak sengaja disenggolnya hingga jatuh itu. Kamera itu adalah kamera yang selalu digunakannya untuk memotret gadis itu. ingatannya langsung melayang pada gadis itu. ada apa ini?? Kenapa tiba2 saja perasaannya begitu resah. Seperti ada sesuatu yang terjadi. Dipungutnya kamera itu. lensa kaca depannya retak cukup parah. Saat diperiksanya kamera itu gelap, layarnya masih bisa menyala. Tapi tidak ada apapun yang terlihat. . .
****

Junno terheyak melihat gadis yang dicintainya itu tergeletak dengan penuh luka. Tubuhnya dipenuhi berbagai alat2. Matanya terpejam rapat, hanya alat penunjuk detak jantung yang berbunyi teratur itu yang menandakan bahwa ia masih hidup. Kecelakaan itu, telah merenggut nyawa sang sopir. Beruntung gadis itu masih bisa diselamatkan. Namun tidak ada yang tau apakah ia akan sembuh atau malah sebaliknya.
Sudah dua minggu, namun gadis itu belum sadar. Seminggu yang lalu ia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Dan selama itu pula Junno yang menemaninya dirumah sakit.
Junno terbangun saat merasakan jari2 tangan yang digenggamnya bergerak. Ia terkesiap dan menatap gadis itu. gadis itu mengerjap beberapa saat “oppa. . . sungmin oppa. . .”
Junno menelan ludah pahit. Tentu saja, hanya namanya yang akan disebut oleh gadis itu, nama laki2 yang sudah ada dalam kehidupannya sejak ia dilahirkan.
“young in ah, ini aku. . . Junno oppa. . .” bisik Junno pelan.
“oppa. . .” young in mendesah lirih sambil mengerjapkan matanya beberapa kali untuk melihat lebih jelas.
“aku disini. . .”
“oppa kenapa gelap sekali. . .??” tanya young in lemah.
Aku terpaku menatapnya. Gelap?? Apa maksudnya??
“oppa. . . aku dimana?? kenapa sangat gelap?? Tolong nyalakan lampunya. . .”
“yo. . . young in ah. . .” Junno menatap young in dengan pandangan ngeri. Tidak mungkin gadis itu. . .
“oppa. . . kumohon, aku tidak bisa melihat apapun. . .”
“tu. . .tunggu sebentar. . .”
Junno menekan tombol pemanggil dokter. Tidak lama kemudian seorang dokter masuk diikuti seorang perawat dibelakangnya.
“dokter, dia. . .”
“oppa. . . kenapa aku tidak bisa melihat apapun. . .” wajah young in terlihat cemas.
“dengan sangat menyesal, harus saya katakan bahwa saudara park young in ssi mengalami kebutaan. . .”
“maksud dokter??”
“ada pecahan kaca yang masuk kedalam bola matannya, kami sudah mengeluarkannya, tapi tidak dapat membantu untuk mengembalikan pengelihatannya kecuali. . . ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untuk saudara young in ssi. . .”
Junno terpaku menatap dokter itu kemudian menoleh pada young in. Gadis itu terisak pelan “a. . .aku. . .aku buta. . .??”
“young in. . .”
“aku tidak bisa melihat lagi. . .” young in semakin terisak.
Tidak ada yang bisa dilakukan yamashita selain menatap dan menggenggam tangan gadis itu. karna ia sendiripun tidak bisa mengembalikan pengelihatan young in. Diusapnya air mata gadis itu, dibiarkannya ia menangis untuk mengurangi sakitnya.

“young in ah. . . mianhae. . .” gumam Junno sambil menatap wajah gadis itu. matanya terpejam. Beberapa jam yang lalu perawat memberikan obat penenang padanya.
“bukan salahmu oppa. . .” jawab young in pelan masih memejamkan matanya.
Junno tersentak “kau tidak tidur??”
“oppa. . . dimana mereka?? Dimana orang tuaku?? Apa mereka baik2 saja??” tanya young in.
Junno membeku. Ia melupakan hal itu. paman kim, orang kepercayaan ayah young in sudah memberitahunya jika orang tua young in tidak bisa diselamatkan dalam kecelakaan itu.
“oppa. . .kenapa kau diam??” tanya young in lagi “apa mereka. . . apa mereka baik2 saja??”
“young in ah. . . mianhae . . .” ucap Junno lirih.
“apa maksudmu oppa?? jangan katakan kalau mereka.. . .”
“aku tidak ingin mengatakannya, tapi. . . tapi itu lah kenyataannya. . .”
young in kembali terisak “mereka . . . per. . .gi. . .??” tanyanya tidak percaya.
“young__”
“pergilah oppa. . .” potong young in sambil membalikkan badannya membelakangi Junno “tinggalkan aku sendiri. . .”
Junno hanya diam menatap gadis yang terisak itu dengan sendu. Ia benar2 merasa tidak berguna. Entah berapa lama, young in sudah berhenti dari tangisnya.
“oppa. . . aku tau kau masih disini. . .” kata young in tiba2 tanpa menggerakkan tubuhnya, masih tetap membelakangi Junno “aku hanya ingin tau, kenapa semua orang yang kusayangi meninggalkanku. . .??”
“aku tidak akan meninggalkanmu young in. . .” gumam Junno lirih.
“ani oppa. . . kau tidak boleh disisiku terus. . . aku sudah melepasmu. . . carilah gadis yang lebih pantas untukmu. . .”
Junno tersenyum pahit “kalaupun kau tidak melepasku, aku yang akan melepasmu. . . karna aku tau, kau hanya miliknya young in ah. . .”
“apa maksudmu oppa??”
“lee sungmin. . . hanya dia yang bisa memilikimu bukan??”
“ani oppa. . .” air mata young in menetes lagi mendengar nama itu disebut “aku tidak pantas untuk siapapun. . . jangan pernah kau memberitahu keadaanku padanya, atau kepada siapapun. . .”
“tapi young__”
“jebal oppa. . . hanya ini permintaanku. . .”
Junno menghembuskan nafasnya pelan “baiklah. . .”

~ 5 years latter ~
20011, Autumn in seoul

sungmin menatap keluar jendela mobil dengan pandangan menerawang. Ia baru saja tiba dikorea dua hari yang lalu. Karna pekerjaannya sebagai fotografer di SM Entertaint dia harus pulang kekorea setelah menyelesaikan pendidikannya diamerika. Kemarin ia menemui kedua orang tuanya. Dan seperti yang telah diduganya, kedua orang tuanya kecewa dengan apa yang dilakukannya. Yang membuatnya shock, mereka memberitahukan tentang kematian kedua orang tua young in. Dada sungmin seperti dihantam palu. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang??
Meskipun keduanya terpisah oleh jarak yang jauh dan waktu yang lama, ada satu hal yang dilupakan oleh sungmin, ia masih meninggalkan hatinya pada gadis itu. . .
“sungmin ah, apa kau baik2 saja?? apa kita batalkan saja??” tanya yoon eun hye, rekan kerja sungmin.
sungmin menggeleng lemah “tidak apa2. . . lagi pula aku juga ingin melihat2 bagaimana pameran dikorea!!”
Hari ini ia berjanji untuk menemani yoon eun hye, teman kerjanya dikorea untuk pergi kepameran seni. Ia ingin melihat banyak hal dikorea setelah sekian tahun ditinggalkannya, tapi tidak dipungkirinya, fikirannya masih terpaku pada satu orang. perasaannya benar2 gelisah. Karna itu ia membiarkan eun hye menyetir mobilnya.
“ayo turun, kita sudah sampai!!” kata eun hye.
sungmin turun tanpa semangat. ia hanya berjalan mengikuti eun hye yang sekarang sudah masuk kedalam ruangan pothografi. Mengamati foto2 itu dan mempelajari teknik2nya yang mungkin hanya 30% yang masuk kedalam otaknya.
“sungmin ah, kau mau melihat2 lukisan?? Sepertinya menarik. . . kudengar itu semua lukisan dari seorang gadis buta, seorang direktur kontruksi bangunan khusus menyewa sebuah ruangan disini untuk memajan semua lukisan2 gadis itu. . .”
Alis sungmin mengerut “aku tidak masalah kalau kau ingin melihat. . .” katanya pelan.
“ayo!!” seru gadis itu ceria sambil menyeret sungmin keruangan sebelah itu.
Begitu sungmin masuk ruangan itu, ia melihat tulisan besar heART di tengah2 ruangan. Ia berhenti melangkah membiarkan eun hye berkeliling melihat2. Matanya masih terpaku pada tulisan itu. dulu, young in selalu menulis kata itu dibalik kertas lukisan yang dibuatnya bersama judul dan waktu lukisan itu dibuat.
Kemudian ia menoleh kesamping dan menatap sebuah lukisan hitam putih yang paling dekat dengan pintu. Dalam lukisan itu ada seorang gadis yang sedang naik sepeda dan seorang laki2 yang memeganginya dari belakang. Ingatannya langsung melayang pada young in, saat ia mengajari gadis itu bersepeda dulu.
Kemudian ia berjalan pelan kelukisan berikutnya. Ada seorang laki2 yang sedang menggendong seorang gadis. Tampak tangan gadis itu sedang menenteng sepatu higheelsnya. Tanpa sadar ia tersenyum saat mengingat young in tidak suka memakai higheels dan dialah yang selalu menggendong gadis itu.
sungmin mengamati lukisan2 hitam putih itu satu persatu. Keningnya mengerut, kenapa ia merasa de javu?? Seakan2 semua kenangan kenangannya bersama gadis itu muncul dalam semua lukisan2 ini dan sampailah ia disebuah lukisan berfigura yang lebih besar dari lukisan2 lainnya. Sebuah lukisan seorang namja yang teramat mirip dirinya. Ada sebuah tulisan disudut kanan bawah dari lukisan itu.
My heART in my dark Eyes. . .
Saranghae. . .
sungmin terdiam menatapnya. Fikirannya campur aduk sekarang.
“sungmin ah, kenapa namja itu sangat mirip denganmu??” tanya eun hye yang sudah dibelakang sungmin, ikut mengamati lukisan itu “disana juga ada beberapa lukisan yang seperti ini, cara tertawanya sama persis denganmu. . .”
“lama tidak bertemu lee sungmin ssi!!”
sungmin dan eun hye langsung menoleh kebelakang. Disana, dengan jarak satu meter dari mereka, seorang namja berdiri dengan tangan kirinya yang dimasukan kedalam kantong celananya. Ia tersenyum memandang sungmin.
“Junno ssi. . .” gumam sungmin.
“kau masih ingat padaku rupanya. . .” Junno tertawa kecil “bagaimana menurutmu tentang semua lukisan ini??’
“lukisan2 ini sangat artistik. . .” saut eun hye “siapa yang melukisnya??”
Junno tersenyum “seorang gadis. . .” jawabnya lembut, kemudian matanya kembali menatap sungmin “keahlian tangannya tidak berubah bukan??”
“dimana dia??” tanya sungmin “apa. . . apa dia bahagia bersamamu??” sungmin menelan ludahnya, sangat sulit baginya untuk menanyakan hal itu.
Wajah Junno berubah menjadi sendu. Senyum itu pudar dari wajahnya “seandainya saja memang aku orang yang dipilih dan dicintainya, tentu aku akan selalu membahagiakannya. . . tapi sayangnya itu bukan aku. . .”
“apa maksudmu??”
Junno mendesah “mungkin dia akan marah padaku, tapi aku tidak perduli, ini satu2nya cara yang bisa kulakukan untuk membahagiakannya. . .”
“Junno ssi, tolong jangan membuatku bingung!!”
Junno menghela nafas pelan “aku tau kau meninggalkannya demi kebahagiaannya. . . aku tau kau begitu mencintainya. . . dan aku tau sebenarnya orang yang selalu dilihatnya adalah kau, hanya kau lee sungmin!! Mungkin kau kira dengan kau pergi dia akan bahagia bersamaku, tapi kau salah. . . sejak awal orang yang dibutuhkannya itu hanya kau, hanya saja dia belum menyadarinya. . . dan begitu kau pergi, dia mulai sadar. . . lalu apa yang bisa kulakukan?? Tentu saja melepaskannya untukmu. . . sangat sulit, tapi harus!!”
sungmin masih membeku mendengar kata2 Junno. Fikirannya kacau sekarang.
“kau tau, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. . . dan dia sendiri sekarang. . . sendiri, karna ia tidak mau ada aku disisinya. . .”
“dimana dia. . .??” tanya sungmin dengan suara bergetar.
“ditempat hatinya menghabiskan musim gugur. . . kau tau dimana itu bukan?? Pergilah. . . bahagiakan dia dengan keadaannya yang gelap. . . jadilah mata untuknya . . .”
“apa maksudmu??”
“kau bisa melihatnya sendiri nanti!!” jawab Junno muram.
Tanpa banyak bertanya lagi sungmin berlari pergi meninggalkan eun hye yang kebingungan “apa ada sesuatu yang aku tidak tau??” tanyanya sambil menatap sosok sungmin dan Junno bergantian.
Junno tersenyum “bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum teh??”
“sepertinya bukan ide buruk!!”
****

sungmin berlari kemobilnya dan segera melesat pergi. ‘ditempat hatinya menghabiskan musim gugur. . .’ ia tau dimana tempat itu. . . hutan belakang universitasnya!! Tapi ia sedikit bingung, kenapa young in ada disana??
sungmin memarkir mobilnya dan segera berlari ketempat itu. langkahnya terhenti tiba2 saat dilihatnya ada sebuah bangunan rumah putih ditengah2 hutan itu. rumah impian yang dirancang oleh junno untuknya yang pernah diceritakannya dulu. . . perlahan sungmin menghampiri rumah itu. . . disentuhnya handle pintunya. Tidak terkunci. . . dibukanya sedikit dan melihat dalamnya.
Rumah itu begitu terang. Dalamnya begitu luas dan tidak banyak perabotnya, hanya ada sofa dan meja disudut ruangan.
“ajhuma, kau kah itu??” sebuah suara yang sangat dikenalnya membuatnya memutar kepalanya kekiri. Disana, disudut ruangan, seorang gadis sedang duduk dengan kanvas ditangannya. Park young in . . .
“ajhuma??” panggil gadis itu lagi sambil menoleh kearah sungmin.
Mereka saling diam sejenak. . .
“ajhuma?? Tolong jawab aku!!”
sungmin membeku mendengarnya. Ia menatap young in bingung. Gadis itu berdiri sambil meraih dinding disebelahnya “siapa disitu?? junno oppa??” tanya gadis itu lagi.
Tubuh sungmin bagai disambar petir. Air matanya menetes begitu saja. gadis itu. . . buta??

“hyo suk ah, kau mau melihat2 lukisan?? Sepertinya menarik. . . kudengar itu semua lukisan dari seorang gadis buta, seorang direktur kontruksi bangunan khusus menyewa sebuah ruangan disini untuk memajan semua lukisan2 gadis itu. . .”

“ditempat hatinya menghabiskan musim gugur. . . kau tau dimana itu bukan?? Pergilah. . . bahagiakan dia dengan keadaannya yang gelap. . . jadilah mata untuknya . . .”

Ia ingat kata2 eun hye dan junno beberapa jam yang lalu. Kenapa?? Apa yang terjadi dengannya?? sungmin masih mematung ditempatnya menatap young in yang berusaha berjalan kearahnya. Tapi kakinya tidak sengaja menyenggol kaki meja hingga membuatnya hampir terjatuh. Melihat itu sungmin langsung berlari dan menahan tubuh gadis itu. ditatapnya gadis itu tanpa suara. Tubuh young in terasa membeku.
Perlahan tangannya terangkat menyentuh wajah sungmin. sungmin membiarkan jari2 lentik itu menyentuh dahinya, menyusuri pipinya yang basah oleh air mata. Air mata young in jatuh. . . . bersama itu, sungmin menariknya kedalam pelukannya.
“sungmin oppa. . .” panggil gadis itu lirih.
sungmin tidak menjawab. Ia mempererat pelukannya. Mengeluarkan semua rasa yang telah lama dipendamnya. “aku kembali young in ah. . .” bisiknya pelan.
Untuk sesaat, keduanya saling berpelukan. Tapi tiba2 saja young in mendorong tubuh sungmin menjauh.
“kenapa kau ada disini?? Pergilah oppa, aku tidak ingin kau melihat keadaanku yang seperti ini!!” kata young in sambil berbalik dan berusaha menjauh.
sungmin menatap nanar namun kemudian direngkuhnya tubuh gadis itu dari belakang “aku tidak akan membuat kesalahan dua kali dengan meninggalkanmu young in ah. . . saranghae. . .”
young in terisak pelan “aku bukan young in yang dulu oppa. . . aku buta. . . aku tidak pantas untukmu. . .”
sungmin mempererat pelukannya “kau masih young in yang dulu . . . kau tidak berubah. . . biarkan aku menjadi mata untukmu young in ah. . . biarkan aku disisimu, biarkan aku membahagiakanmu. . .”
“tapi oppa. . .”
sungmin memutar tubuh gadis itu dan menyentuh dada sebelah kiri atasnya “kau bisa merasakannya bukan?? Disini. . .biarkan aku memasukinya. . . tempat yang tidak bisa dimasuki siapapun, biarkan aku memasukinya. . . kumohon young in ah. . . “
young in masih terisak pelan “aku buta oppa. . .”
“ani. . . kau tidak buta. . . karna kau masih bisa melihatku dengan hatimu. . . saranghae young in ah. . . saranghae saranghae. . .neomu neomu saranghae. . .” dipeluknya gadis itu erat.
“na. . .do saranghae oppa. . .” bisik young in lirih.

FIN