Tags

, ,

Eun chan melangkah dengan pelan. ia menghembuskan nafas keras2 “in jung ah, apa sebaiknya aku pindah sekolah saja??”
In jung yang berjalan disisinya tersentak “kau akan pindah??”
“aku. . .”
“kalau kau pindah aku akan menyiksanya!!”
Kedua gadis itu berhenti melangkah dan saling memandang. Mereka menoleh kebelakang pelan2 dan langsung pucat begitu melihat siapa yang berdiri dibelakang mereka.
“o. . .oppa. . .”
“kalau aku mendengar kau mengatakan hal itu lagi, jangan harap temanmu ini selamat!! Kau mengerti??”
Kedua gadis itu mengangguk2 gemetaran.
“aku lapar!! Buatkan aku sesuatu!!” perintah heechul “ingat, aku mau makan masakanmu, araseo??”
Eun chan mengangguk sambil mengeluh dalam hati ‘dimana aku harus memasak?? Ini sekolah, bukan restoran!!’
“kutunggu kau lima belas menit, kalau tidak kau akan tau akibatnya!!” kata heechul santai sambil berjalan pergi.
“apa yang harus kulakukan??” keluh eun chan.
“kau. . . buatkan saja sandwich. . . mudah bukan?? Kau bisa minta tolong pada yoon ajhuma agar mengijinkanmu membuatnya sendiri!!”
Akhirnya eun chan pergi ke yoon ajhuma, pengurus kantin dichunsan dan meminta ijin untuk membuat sandwich sendiri. Eun chan memekik kaget saat melihat jam tangannya, lima menit lagi ia harus bertemu dengan namja itu. cepat2 dimasukannya kedalam kotak sandwinc itu “bibi aku sudah selesai, terima kasih!!!” teriaknya sambil berlari pergi.
Saat masuk lobi ia baru sadar, kemana ia harus mencari namja itu?? ia memandang kedepan dengan bingung. Dimana namja itu?? ah bukankah namja itu membawa ponselnya?? Cepat2 dihubunginya nomernya itu.
“kau dimana??” tanya eun chan langsung begitu telphone tersambung.
“ditempat yang ada airnya!!” jawab heechul pendek dan langsung mematikan telphone.
“air??” eun chan mengerutkan keningnya. Dikamar mandi?? Ia langsung berlari menuju kamar mandi, tapi ada lebih dari sepuluh kamar mandi disekolah ini, kemana ia harus mencari?? Tiba2 ia melihat seorang ajhusi yang sedang membawa alat penyedot air. Kolam renang!!! Eun chan segera melangkahkan kakinya menuju tempat itu.
BRAAAK. . .
Eun chan menatap kaget hingga tubuhnya membeku. Heechul berada agak jauh darinya, ia baru saja menghantam locker hingga melesak kedalam, di hadapan heechul ada seorang gadis yang benar2 terlihat shock dan pucat. Entah apa yang mereka bicarakan, eun chan tidak bisa mendengarnya.
“PERGI!!!” teriak heechul keras membuat eun chan terlonjak hampir menjatuhkan kotak sandwichnya.
Gadis itu berlari sambil menagis melewati eun chan. Heechul menoleh dan menatap eun chan. Kemudian ia tersenyum misterius “ah, kau sudah datang rupanya. . .” katanya sambil menghampiri eun chan. Otomatis eun chan mundur beberapa langkah, wajahnya langsung pucat.
“kenapa kau mundur??” tanya heechul sambil menatap tajam.
“a. . .ani. . .” jawab eun chan gugup.
“ayo, temani aku makan!!”
“ta. .tapi kelasku. . . ba. . .baik. . .” melihat mata namja itu membuat eun chan ketakutan. Apalagi setelah melihat locker yang peyok itu.
“apa yang kau buatkan untukku??” tanya heechul sambil menyambar kotak itu “sandwich??”
“i. . .itu makanan yang bisa dibuat dengan cepat!!”
Heechul menyambar tangan eun chan dan menariknya. Mereka berdua duduk di pinggir kolam saat ini. heechul memakan sandwichnya dengan diam. Sementara eunchan hanya duduk menatap kolam didepannya sambil mengeluh dalam hati.
“tanganmu berdarah. . .” gumam eun chan tiba2 saat melihat darah mengalir dari sela2 jari heechul.
Eun chan membuka tasnya dan mengeluarkan obat merah dan perban yang selalu ada ditasnya jika dibutuhkan. Diraihnya tangan heechul perlahan.
“apa yang kau lakukan??”
“kalau terluka tentu saja harus diobati. . .” jawab eunchan lembut sambil membersihkan luka heechul sementara heechul hanya bisa menatapnya tertegun.
****
“sepertinya eomma salah memilih sekolah. . .” keluh eun chan pelan “kenapa harus aku yang mengalami ini semua?? Hhh. . .”
“bisakah kau untuk tidak berisik??”
Eun chan menoleh terkejut. Seorang namja sedang tiduran ditangga yang menuju atap. Kim kibum.
“sedang apa kau disini??” tanya eun chan.
“apa kau harus tau apa saja yang kulakukan?!”
“bu. . .bukan begitu maksudku. . .” desah eun chan.
Kibum beranjak dari tidurnya dan menghampiri eun chan, berdiri disebelahnya “kenapa kau tidak ikut olah raga??” tanya kibum saat melihat eun chan yang memakai kaos olah raganya.
“aku punya penyakit jantung lemah, jadi aku hanya boleh ikut olah raga yang ringan saja!!”
“tidakkah kau merasa disini sangat tenang?? Aku tidak bisa mendengar suara2 yang berisik. . .”
Eun chan menoleh menatap kibum “ya. . . disini sangat damai. . .”
Tiba2 ponsel heechul berbunyi. Ada pesan yang masuk, cepat2 dibukanya pesan itu.
‘hallo anakku tersayang, kutunggu kau sekarang ditaman belakang sekolah!!’
Eun chan mengerutkan keningnya. Nomor itu tidak ada namanya, tapi apa pedulinya, yang penting ia menyampaikan pesan itu pada heechul. Diforwardnya pesan itu kemudian dikirimkannya kenomor ponselnya.
Sedetik kemudian ponsel heechul berbunyi lagi. Nomor ponselnya berkedip2 dilayar, cepat2 diangkatnya “ya??”
“KENAPA MENGIRIM PESAN YANG TIDAK PENTING???”
Eun chan menjauhkan benda itu dari telinganya, dibentak seperti itu membuatnya emosi “MANA AKU TAU ITU PENTING ATAU TIDAK??! KALAU TIDAK KUSAMPAIKAN KAU AKAN MEMBUNUHKU, BENAR KAN?? LALU AKU HARUS BAGAIMANA???”
“SIAPA SURUH KAU MEMBENTAKKU BODOH??”
“KAU YANG MEMULAINYA!!!”
“TEMUI AKU SEKARANG JUGA!!!”
Telphone terputus. “dasar tidak tau diri!!! Perusak kedamaian orang!!!” maki eun chan pada ponselnya.
Kibum tergelak melihatnya “aku heran kau berani membentaknya!!”
Eun chan tersentak “aku membentaknya?? Aku membentaknya?? Eotheokeh?? Aigoo. . . dia pasti membunuhku!! Eotheokeh??”
“cepat temui dia, atau kau akan mati dua kali lipat!!”
“omonaaa. . .. “ eun chan langsung berlari meninggalkan kibum.

“kenapa lama sekali???” bentak heechul.
Eun chan tidak menjawab, ia hanya memegangi dadanya yang terasa sakit. Nafasnya naik turun “beri aku. . . waktu. . .”
“ada apa memanggilku??” tanya eun chan lemah.
Heechul tidak menjawab. Ia hanya memandang lurus kedepan “kenapa ia ingin bertemu denganku??” tanya heechul.
“siapa??” tanya eun chan bingung.
“pemilik sekolah ini!!” jawab heechul singkat “ayo ikut aku!!” ditariknya tangan eun chan sebelum ia sempat menjawab.
Seorang ajhushi sedang berjongkok didepan bunga2 mawar. Ia mengenakan topi lebar dan ada handuk kecil yang melingkar dilehernya. Eun chan menatap heechul bingung. Kenapa namja itu membawanya kemari??
“ada apa appa memanggilku??” tanya heechul.
Ajhusi itu menoleh kemudian tersenyum lebar “chul ya, aaaah. . . kau semakin tampan!!!” seru ajhusi itu sambil menghampiri heechul dan akan memeluknya.
Eun chan menatap shock. Appa?? Orang ini adalah appa heechul?? Pemilik sekolahan ini??
“lepaskan aku bodoh!!!” teriak heechul sambil menjauhkan tubuh appanya.
“ayolah, kenapa kau tidak mau kupeluk, kau ini anakku!!!”
“lepaaaasss atau aku akan membunuhmu!!!”
“baiklah, baiklah, tempramenmu buruk sekali!!”
“cepat katakan apa maumu??”
“eomma menyuruhku memberikan ini kepadamu, ia selalu membuatkanmu bekal tapi kau tidak pernah membawanya, sekali2 bawalah agar ia tidak sedih!!”
“aku tidak butuh!!” jawab heechul dingin.
“kau ini, kenapa keras kepala sekali??! Ayo ambil!!!” ayah heechul menyodorkan kotak makanan itu tapi langsung ditepis heechul hingga kotak itu jatuh ketanah.
“jangan pernah memaksaku kalau aku tidak mau!!!”
“yaak kim heechul!!! Mana boleh kau bersikap seperti itu??” bentak eun chan. Ia memungut kotak bekal itu “bagaimanapun juga makanan ini dibuat dengan penuh rasa sayang, kau ini benar2 keterlaluan!!!”
Heechul menatap tajam eun chan “bukan urusanmu!!!” tandasnya kemudian pergi.
“yaak dasar napeun namja!!!”
“sudahlah nona, dia memang begitu!!” saut ayah heechul.
“tapi dia sudah keterlaluan!!”
“ngomong2 kau ini siapa?? Pacarnya?? Kau sangat manis!!”
Eun chan menatap ayah heechul terdiam. Ia baru menyadari dengan siapa dia berhadapan “a. . .aku bukan pacarnya, maafkan saya pak!!”
“ah, tidak perlu sungkan seperti itu!! aku sedang membersihkan tanaman mawar, kau mau membantu??”
Eun chan menatap heran. Apa benar pria ini pemilik chunsan high school, pantas saja semua murid tidak tau bagaimana wajah pemilik chunsan, pria ini lebih pantas dibilang tukang kebun daripada direktur utama chunsan.
****