Tags

, ,

season of love

Diadaptasi dari keempat novel ilana tan, summer in seoul, auntumn in paris, winter in tokyo, dan spring in london. Di ff ini saya ringkas jadi satu, jadi kalau ada yang menemukan kemiripan adegan atau kata2 yang sama di ff ini mohon dimaklumi karna memang saya sengaja,,
ok dah, happy reading… ^^

 

 

Part 1

 

 

Gadis itu mengerang sambil memegang kepalanya. Rasanya seperti ada suara sirine yang berdengung keras hingga membuat kepalanya pusing. Lambat laun disadarinya kalau itu adalah suara ponselnya yang menjerit-jerit minta diangkat. Dengan mata masih terpejam ia mengangkat ponselnya tanpa melihat nama pemanggilnya.

“Yeobseo…” gumamnya dengan suara serak, khas orang bangun tidur.

‘Oh… Miss Kim, aku memintamu datang ke kantorku hari ini!’

“Ye??” Yoon Hye membuka matanya lebar-lebar dan langsung duduk tegak. Membuat kepalanya pusing seketika.

‘Aku tau kau sedang libur hari ini, tapi di sini benar-benar sibuk__ oh bukan yang itu Miss. Han! No, no, no, aku butuh model yang berwajah dewasa, bukan yang imut seperti bayi!!’ terdengar teriakan dari atasannya itu disebrang sana ‘seperti yang kau dengar Miss Kim, kami sangat sibuk sekarang ini, jadi cepat kau datang sekarang juga!!’

Tut… Tut… Tut… Telphone diputus di seberang.

Yoon Hye memijat pelipisnya pelan sambil memejamkan mata. Kepalanya semakin berdenyut-denyut sekarang ini. Kemarin ia bergadang dan baru tidur jam setengah tiga pagi setelah menghabiskan dua buku novel karya Stephanie Mayer, Eclipse dan Breaking Dawn, dan sekarang atasannya itu memintanya datang ke kantor sekarang juga?

“Aaaarrghh…” ia berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Setelah ini ia bersumpah atasannya yang seperti vampir penghisap darah itu akan menerima surat pengunduran dirinya. Tapi Yoon Hye tau, itu tidak akan terjadi karena sudah ribuan kali ia berfikir seperti itu. Dengan wajah kusut, Yoon Hye turun dari tempat tidurnya dan melangkah kekamar mandi.

Ya, Kim Yoon Hye, 22 tahun. Saat ini ia sedang bekerja menjadi asisten direktur disebuah toko fashion ternama di korea. Ia adalah gadis blasteran Indonesia-Korea. Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea, namun lima tahun yang lalu mereka bercerai lalu ibu Yoon Hye kembali ke negaranya. Hingga Senior Highschool Yoon Hye tinggal bersama ayahnya yang sudah menikah lagi dengan seorang wanita. Tapi begitu ia kuliah, ia memilih untuk tinggal sendiri di apartement hingga kini.

Ia suka membaca buku, takut gelap dan suka makan. Ia juga pintar memadukan baju, tidak heran jika ia menjadi seorang asistan manager di sebuah butik ternama di Korea. Pekerjaannya ini cukup menyita waktunya hingga Yoon Hye jarang keluar untuk bersenang-senang. Satu-satunya teman yang dekat dengannya adalah Lee Hyo Ra, seorang gadis yang saat ini sedang mengurus café ayahnya di kawasan Myeondong.

Hari sudah malam saat Yoon Hye pulang dari kantornya. Ia mengayun-ayunkan tas tangannya yang berwarna coklat sambil menghembuskan nafas panjang. Kota Seoul masih saja ramai dan terang benderang. Kota ini seolah pernah tidur. Tiba-tiba saja ponsel yang ada didalam tasnya itu menjerit minta diangkat. Yoon Hye mengeluarkan benda itu lalu mengerutkan alis saat melihat sebuah nomor tidak dikenal berkedip-kedip di layar ponselnya.

“yeobseo…” sapa Yoon Hye begitu ia membuka flap ponselnya “oh, Yong Hwa ssi… Ada apa kau menghubungiku?”

Gadis itu sesekali memejamkan matanya saat mendengar Jung yong hwa mengoceh di seberang sana. Ia benar-benar lelah saat ini dan laki-laki itu membuatnya semakin pusing. Kenapa dia terus bertanya pada yoon hye? “Jung Yong Hwa ssi, maaf aku lelah sekali. Kita bicara lagi besok, anyeong haseo,” potong Yoon Hye, kemudian gadis itu memutuskan sambungan teleponenya sambil memijat pelipis pelan.

Ia sudah sangat stres saat ini, kenapa laki-laki itu malah membahas tentang dirinya saat ini? Bukankah hubungan mereka sudah berakhir setahun yang lalu? Lalu kenapa dia menghubunginya lagi sekarang. Sebenarnya apa yang diinginkannya?

Bruuuk…

“Oh, jeosonghamnida. ..” ucap Yoon Hye saat tidak sengaja menabrak seseorang. Dalam hati ia mengutuk Yong Hwa yang membuatnya seperti ini.

“Gwaenchanayo…” ucap laki-laki yang tidak sengaja ditabrak Yoon Hye itu.

kemudian gadis itu tersadar, ponselnya terjatuh. Cepat-cepat ia memungut ponsel itu dan melihat laki-laki itu juga memungut ponselnya.

“Jeongmal jeoseonghamnida…” ucap Yoon Hye sekali lagi sambil membungkuk sedikit sebelum ia pergi.

Gadis itu kembali berjalan sambil memasukan benda itu ke dalam tasnya. Tapi baru beberapa menit, benda itu berdering lagi. Sesaat Yoon Hye membiarkannya hingga benda itu mati dengan sendirinya. Tapi beberapa detik kemudian benda itu menjerit lagi minta di angkat.

“Aaiiiissh…” Yoon Hye mendecak kesal sambil membuka tasnya dengan kasar lalu langsung menjawab panggilan itu langsung. “Yong Hwa ssi, bukankah sudah kubilang padamu kita akan berbicara lagi besok? Berhentilah meneleponku, aku benar-benar lelah!!” sembur Yoon Hye kesal.

‘……’

Tidak ada jawaban dari sebrang. Tunggu, jangan-jangan dia sedang mengerjai Yoon Hye.

‘Co-cogiyo…’

Kim Yoon Hye mengerutkan alisnya saat mendengar suara asing itu.

‘Bu-bukankah ini nomor Lee Hyuk Jae?’

“Mwo…?” Yoon Hye termangu sesaat, “aniyo… Kim Yoon Hye imnida. Sepertinya anda salah sambung.”

‘Jeongmalyo? Baiklah kalau begitu, jeoseonghamnida…’

Yoon Hye menatap ponselnya itu dengan kening terlipat. Kemudian ia ingat untuk menghubungi Hyo Ra agar ke apartemennya besok. Ia menekan nomor lima yang langsung terhubung dengan nomor temannya itu. Tapi begitu ia menekan angka lima, bukan nama Lee Hyo Ra yang muncul, tapi Lee Teuk Hyung. Cepat-cepat Yoon Hye memutuskan panggilan itu. Dibukanya phonebook dan semakin mengerutkan alisnya saat mendapati berbagai daftar nama yang tidak dikenalnya.

Yoon Hye yakin, ini ponselnya. Setidaknya bentuk dan warnanya sama, tapi kenapa semua isinya berbeda? Gadis itu memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya -lagi. “tenang, yoon ah…” gumamnya pelan. kemudian ia mulai mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.

Tadi gadis itu masih menjawab telphone dari Jung Yong Hwa, berarti itu masih ponselnya, hingga ia… bertabrakan dengan seorang namja dan ponselnya jatuh. Saat Yoon Hye mengambil ponselnya, namja itu juga sedang mengambil ponselnya. Berarti kemungkinannya hanya ada satu, ponselnya tertukar dengan ponsel namja itu.

“Aiiishhh…” Yoon Hye mengerang pelan. sekarang ia harus bagaimana?

Tunggu dulu, kalau ponsel namja itu ada padanya, bukankah ponselnya ada pada namja itu?
Dengan cepat gadis itu menghubungi nomernya sendiri. Ia mondar mandir gelisah di depan sebuah toko elektronik yang sudah tutup. “ayo… jawab ponselnya… palli…”
.
.
.
Lee Hyuk Jae, 24 tahun, seorang penyanyi ternama yang punya nama panggung Eunhyuk. Salah satu member dari boyband terkenal di Asia, Super Junior. Juga menjadi Dj di salah satu program radio Sukira. Saat ini ia ada dalam perjalanan pulang ke dorm. Tapi kemudian ia merasa haus hingga terpaksa harus berhenti di sebuah mini market untuk membeli beberapa botol minuman dingin.

Ponselnya berbunyi saat ia sedang membayar minuman itu, “Ye, Hyung?” jawabnya begitu tau kalau Leeteuk yang meneleponenya. “Ne, aku akan segera kembali,” Setelah menggumamkan terima kasih pada pelayan toko, ia cepat-cepat keluar lalu menghampiri mobilnya yang diparkir di tepi jalan. “leeteuk hyung, kita bicarakan itu__”

Bruuk…

Ponsel Hyuk Jae terjatuh saat seseorang tidak sengaja menabraknya.

“Oh, jeosonghamnida. ..” ucap gadis itu sambil membungkuk beberapa kali.

“Gwaenchanayo…” jawab Hyuk Jae sambil tersenyum tipis lalu memungut kembali ponselnya yang terjatuh.

“Jeongmal jeoseonghamnida…” ucap gadisitu sekali lagi sambil membungkuk sebelum dia pergi.

Hyuk Jae mengerutkan alisnya heran. Apa gadis itu tidak mengenalnya? Padahal saat ini ia sedang tidak memakai kaca mata hitam, hanya topi saja yang menyamarkan wajahnya. Tapi dari jarak sedekat tadi, mustahil dia tidak melihat wajah Hyuk Jae dengan jelas. Tapi bukankah itu bagus? Bisa repot kalau gadis itu ternyata fangirlnya. Dia tidak akan berhenti berteriak sebelum Hyuk Jae memberikan tanda tangan atau berfoto dengannnya.

Laki-laki itu menggeleng pelan kemudian menghampiri mobilnya di tepi jalan dan langsung meninggalkan tempat itu. Suasana terasa tenang saat ia mengemudi sebelum dering ponselnya memecah keheningan. Ia mendecak pelan. Hyung-nya itu memang tidak sabaran. Dipasangnya alat penjawab pada telingannya, “Ye, Hyung?” jawabnya begitu telphone tersambung.

‘Yeoboseo…?’ terdengar suara ragu disebrang sana.

“Ne, nuguseo?” tanya Hyuk Jae sedikit terkejut mendengar suara diseberang ternyata suara seorang gadis.

‘Jeoseonghamnida… Tapi, ponselmu tertukar dengan ponselku saat ini. Bisakah kau kembali ke toko tadi?’

Hyuk Jae mengerutkan alisnya “Mworago?”

‘Saat ini yang sedang kau bawa adalah ponselku.’

“Aku tidak mengerti,” gumam Hyuk Jae sambil menepikan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan.

‘Kurasa ponsel kita tertukar saat kita bertabrakan tadi. Aku gadis yang tidak sengaja menabrakmu tadi, bisakah kau kembali ke tempat tadi? Aku menunggumu.’

“Changkamanyo!” Hyuk Jae menatap ponselnya dengan kening terlipat. Dibukanya phonebooknya dan terheran-heran saat mendapati daftar nama yang asing untuknya. Laki-laki itu mengerang tanpa suara. Ponsel mereka tidak sengaja tertukar atau memang dari awal gadis itu sengaja? Yang jelas Hyuk Jae tidak punya pilihan lain. “Agashi, kau masih di sana??” tanyanya.

‘Ne.’

“Tunggu sebenat, aku akan kembali ke sana.”

‘Ne.’

Hyuk Jae memutuskan sambungan telepon itu dan memutar balik mobilnya, kembali ke tempat tadi.
.
.
.
Lee Hyuk Jae melihat gadis itu sedang berdiri di bawah sebuah pohon sambil menatap sekitarnya dengan gelisah. Beruntung jalanan itu sedang sepi, hingga Hyuk Jae tidak perlu cemas identitasnya diketahui. Ia keluar dari mobil lalu menghampiri gadis itu.

“Anyeong haseo. ..” sapanya sopan.

Gadis itu menoleh terkejut, sontak membungkukkan badannya sedikit “anyeong haseo,” balasnya.

“Kau bilang ponsel kita tertukar?” tanya Hyuk Jae.

“Ah benar, ini ponsel anda…“

Hyuk Jae menerima ponselnya kembali lalu memberikan ponsel gadis itu. Sepertinya ia sudah salah sangka. Gadis ini bukan fangirlnya. Tapi apakah dia benar-benar tidak mengenalinya?

“Kamsahamnida, baiklah kalau begitu saya permisi… Geurom,“ pamitnya.

“Tunggu…” kata Hyuk Jae tanpa sadar saat gadis itu akan berbalik.

Gadis itu menghentikan langkahnya, menatap Hyuk Jae bingung. Laki-laki itu melirik jam tangannya, “Sudah jam sebelas, bagaimana kalau ku antar kau pulang? Tidak baik seorang gadis pulang sendirian malam-malam begini.”

Yoon Hye tercenung mendengar tawaran laki-laki itu. Tapi kemudian ia menggoyang-goyangkan telapak tangannya, “A-aniyo… Gwenchana, aku bisa pulang sendiri.” jawabnya gugup. Pulang dengan orang tidak dikenal itu justru sangat tidak baik.

“Apa kau takut padaku? Aku tidak akan macam-macam. Hanya sampai halte kalau begitu, bagaimana? Sebagai rasa terima kasihku karena kau mengembalikan ponselku.”

Gadis itu terdiam sejenak, menimang-nimang. Sebenarnya laki-laki itu tidak perlu berterima kasih karena Yoon Hye sendiri juga membutuhkan ponselnya. Hanya sampai halte… “baiklah kalau begitu, hanya sampai halte.” jawabnya kemudian.

Akhirnya Yoon Hye ikut masuk kedalam mobil laki-laki itu. Astaga… Otaknya pasti sudah berhenti berfungsi saat ini. Bagaimana bisa ia diantar oleh orang yang belum dikenalnya? Ya meskipun ia tau siapa laki-laki yang ada disebelahnya itu.

“Siapa namamu?” tanya Hyuk Jae memecah keheningan saat diperjalanan.

Yoon Hye menoleh dengan gugup, “Kim Yoon Hye imnida…” jawabnya pelan.

“Yoon Hye ssi, mungkinkah kau tidak tau siapa aku?” tanya Hyuk Jae lagi.

“Arayeo…” gumam Yoon Hye pelan.

“Benarkah?” ada rasa penasaran dalam kata-kata itu.

“Kau Lee Hyuk Jae, salah satu member Super Junior yang dipanggil Eunhyuk.”

“Ah, kupikir kau tidak mengenalku.”

“Apa aku harus mengenalmu?”

Hyuk Jae tergelagap mendengarnya, entah kenapa ia tiba-tiba merasa gugup. “Ti-tidak juga…”

“Aku turun di depan!” kata Yoon Hye tiba-tiba.

“Oh? Sebaiknya ku antar kau hingga ke apartemen dengan selamat. Dengan begitu aku bisa pulang dengan tenang.”

Yoon Hye menoleh, menatap laki-laki itu dengan alis terangkat. Kemudian ia mengalihkan pandangannya, kembali menatap lurus ke depan dengan diam. Ia malas berdebat dan kepalanya saat ini sangat pusing.

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di depan gedung apartemen Yoon Hye. Laki-laki itu keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Yoon Hye.

“Kamsahamnida…” ucap Yoon Hye sambil membungkuk pelan kemudian berbalik melangkah menuju gedung apartemennya.

 

****

 

Lagi-lagi Kim Yoon Hye mendengar suara ponselnya berdering nyaring, membangunkannya dari mimpi indah. Ia menggerutu dalam hati, tangannya meraba-raba tempat tidur sampingnya mencari benda sialan itu dengan mata masih terpejam. Kemudian ditemukannya benda itu ada di sebelah bantalnya.

“yeobseo…” gumamnya dengan nada melantur.

‘kim yoon hye ssi…?’ terdengar suara ragu dari seberang.

“Ne…?”

‘Kau masih mengingatku?’

Yoon hye mengernyitkan alisnya sejenak lalu membuka sedikit matanya untuk melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Nomer tidak dikenal… apa dia Jung Yong Hwa? Tidak, tidak, itu bukan suara Yong Hwa.

“Nuguseo?” tanyanya.

‘Aku Lee Hyuk Jae.

“Lee Hyuk Jae?”

‘Orang yang mengantarmu pulang semalam,’ tambah laki-laki itu sambil mendesah pelan.

Seketika Yoon Hye membuka matanya lebar-lebar, “Mwo? Ah, maksudku ada apa kau menghubungiku?” tanyanya sambil berusaha untuk duduk.

‘Bisa kita bertemu hari ini?’

Yoon hye mengerutkan alisnya heran, “Memangnya ada apa? Aku harus berkerja hari ini.”

‘Sebaiknya kau tidak keluar apartemen dulu!’

“Apa maksudmu?” tanya gadis itu semakin bingung.

‘Nanti akan ku jelaskan. Jam berapa kau bekerja? Biar aku yang menjemputmu! Berapa nomor apartemenmu?’

“Ja-jam sembilan, nomor lima ratus sembilan puluh dua…” jawab Yoon Hye dengan bingung.

‘Baiklah… Ingat, jangan keluar apartemen!!’

Sambungan telepon terputus. Gadis itu termangu sesaat sambil menatap ponselnya. Sebenarnya ada apa? Kenapa ia tidak boleh keluar apartemen? Tiba-tiba saja benda dalam genggamannya itu berbunyi. Lee Hyo Ra…

“Yeoboseo?” sapanya begitu benda itu menempel di telingannya.

‘Yoon ah, di mana kau sekarang?’ tanya gadis itu langsung.

“Aku masih ada di apartement…”

‘Kau_ sebentar lagi aku ke sana, dan jangan keluar apartement hingga aku datang!!’

“Memangnya kenapa?”

‘Tunggu aku, araseo?!’

Sambungan telepon terputus -lagi. Kening Yoon Hye semakin berkerut. Sebenarnya ada apa? Kenapa semua orang menyuruhnya agar tidak keluar apartement?

Lima belas menit kemudian bell apartemennya berbunyi. Yoon Hye yang sedang minum air mineral setelah mandi cepat-cepat melangkah menuju pintu lalu membukannya. Lee hyo ra langsung mendorongnya masuk lagi ke dalam begitu pintu terbuka lalu menutup pintu dengan cepat. Gadis itu mendesah lega sebelum ia menoleh, mendelik pada temannya itu.

“waegeure…?” tanya Yoon Hye bingung.

“Yaa, seharusnya aku yang bertanya! Waegeure?”

Yoon hye mengerutkan alis bingung “Mwoya?”

Hyo ra mendecak kesal. Ia menarik tangan Yoon Hye, mengajaknya duduk di tepi ranjang. Kemudian dibentangkannya sebuah majalah tepat di hadapan gadis itu. “Apa maksud semua ini?”

Yoon hye mengerutkan alis menatap majalah itu. Sedetik kemudian matanya membelalak saat menyadari apa yang ada di majalahnya itu.

“OMO!!!” jeritnya histeris, “itu aku???”

“Sudah jelas itu kau! Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau ada hubungan dengan penyanyi itu? Kenapa tidak pernah bilang padaku?”

Yoon hye menatap gelisah artikel di majalah itu. Judulnya tertulis dengan huruf besar ‘KEKASIH EUNHYUK SUPER JUNIOR?’. Apa karena hal ini laki-laki itu meneleponenya tadi pagi?

“Di lobi banyak sekali wartawan. Untung mereka tidak tau nomor apartemenmu. Jadi, sebaiknya kau jelaskan padaku sekarang juga atau aku akan melemparmu pada wartawan-wartawan itu!” ancam Hyo Ra.

Yoon Hye mendesah pelan kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih belum percaya bahwa niat baik Lee Hyuk Jae membuatnya menjadi seperti ini. Gadis itu menyesal sekarang. Kenapa saat itu ia tidak menolak tawaran laki-laki itu.

“Omo… Jadi semua ini hanya gara-gara kalian tidak sengaja bertabrakan hingga ponsel kalian tertukaaar??” teriak Hyo Ra tidak percaya. “lalu bagaimana sekarang?”

“Nan molla~” gumam Yoon Hye putus asa. Kenapa hidupnya tiba-tiba saja menjadi kacau? Gadis itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri lemari. Mengeluarkan tas tangannya.

“Yoon ah, kau masih mau bekerja dalam situasi seperti ini?” tanya Hyo Ra tidak percaya.

“Lalu aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku berdiam diri di sini selamanya,” jawab Yoon Hye sambil memasukkan perlengkapannya ke dalam tas itu.

“Apa sebaiknya kau menemui Lee Hyuk Jae saja?” tanya Hyo Ra ragu.

Yoon Hye mendelik, “Neo michiseo? Satu pertemuan saja sudah cukup mengacaukan hidupku!”

“Tapi bagaimanapun juga hal ini menyangkut dirinya.”

“Apapun yang terjadi a__” kalimat gadis itu terputus saat bell apartementnya berbunyi. Dengan kesal ia berjalan menghampiri pintu lalu membukannya. Namun, belum sempat ia bertanya orang itu sudah mendorong tubuhnya, menerobos masuk.

“YAA, apa yang kau lakukaan?” teriak Yoon Hye.

Orang itu menutup pintu dengan cepat lalu melepaskan topi serta kaca matanya, “Ini aku.”

“Lee Hyuk Jae ssi?” gumam Yoon Hye bingung saat melihatnya.

Lee Hyuk Jae meringis lebar, “penyamaranku berhasil bukan? Bahkan kau tidak mengenaliku. Kau mau pizza?” tanyanya sambil mengulurkan sekotak pizza yang digunakan untuk melengkapi penyamarannya.

“Ke-kenapa kau kemari?”

“Tentu saja untuk membicarakan hal ini!!”

“Tapi aku… Aku harus bekerja.”

“Kau tidak bisa keluar dengan situasi seperti ini. Di luar banyak sekali wartawan. Kau mau mereka menangkapmu saat kau muncul? Teleponlah atasanmu, katakana kau tidak bisa masuk hari ini.”

Yoon hye mendesah pelan sambil menatap Hyo Ra yang diam bagaikan patung di tempat tidurnya.

Dan saat itu juga Hyuk Jae sadar, ada gadis lain di apartement ini.

“Oh, mianhaeyo. Aku tidak tau kalau ada tamu_”

“Gwenchanayo. Dia temanku,” saut Yoon Hye.

gadis bermata coklat itu berdiri lalu membungkuk dengan kaku, Ini pertama kalinya ia melihat artis dalam jarak sedekat itu. “Anyeong haseo. Lee Hyo Ra imnida,” katanya gugup.

“Anyeong haseo, Lee Hyuk Jae imnida,” balas laki-laki itu sambil tersenyum.

“Jadi bagaimana sekarang?” tanya Yoon Hye lagi.

Saat ini ketiga orang itu sedang duduk di sofa dengan wajah serius. Berdiskusi jalan terbaik apa yang akan diambil.

“Apa perlu kita bicara kepada publik bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa?” tanya Yoon Hye ragu.

Hyuk Jae menggeleng pelan, “Kau pikir mereka akan percaya?” tanya Hyuk Jae balik, “tidak akan. Aku sudah mengenal dunia mereka. Kalau kita bicara tentang satu hal, mereka akan mencari hal lain yang berkaitan.”

Gadis itu mendesah. Tubuhnya terasa lemas.

“Kenapa kalian tidak pura-pura pacaran saja?” tanya Hyo Ra tiba-tiba.

Seketika Yoon Hye melotot pada temannya itu, “Yaa, neo michiseo? Aku tidak ingin hidupku kacau!”

“Apa dengan menjadi kekasihku akan mengacaukan hidupmu?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba.

“M-mwo? Bu-bukan begitu,” Yoon hye tergelagap, ia tidak tau harus menjawab apa, “aku hanya tidak ingin berhubungan dengan hal-hal seperti ini…“ gumamnya pelan.

“Kalau begitu, apakah sebaiknya aku berhenti jadi artis?”

Kedua gadis di hadapannya itu menatap terkejut.

“Apa maksudmu Lee Hyuk Jae ssi?” tanya Yoon Hye.

Hyuki menghela nafas pelan “yaa… Karena aku tidak ingin mengacaukan hidupmu.”

Gadis itu menghela nafas pelan, “Ini semua bukan salahmu.”

Tiba-tiba ponsel Hyuk Jae berbunyi. Laki-laki itu cepat-cepat menjawabnya. “Ye Hyung? …Araseo …mwo? Bersamanya?” diliriknya yoon hye sekilas, “…mm, aku mengerti.” Hyuk Jae menutup ponselnya kemudian terdiam sejenak. Ditatapnya Yoon Hye sambil menghela nafas “Leeteuk hyung menyuruhku untuk datang ke kantor agency.”

“Ka-kalau begitu pergilah! Aku tidak apa-apa,” balas Yoon Hye.

“Dia memintaku untuk datang bersamamu.”

“Aku? Mwo?”

“Bagaimana?”

“Ku rasa itu ide bagus,” saut Hyo Ra yang sejak tadi diam, “Mereka pasti punya solusi yang terbaik untuk masalah ini.”

Yoon hye terdiam sejenak kemudian mendesah lagi “Aku tidak punya pilihan bukan?”

 

*****

 

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” bentak PD-nim sambil melemparkan majalah itu ke atas meja.

Yoon hye tersentak kaget. Ia menundukkan wajahnya tidak berani menatap orang-orang dalam ruangan itu.

“Hyung nim, bukankah sudah ku bilang kalau semua ini salah paham?” saut Hyuk Jae, “Nona ini sama sekali tidak tau apa-apa.”

“Lalu bagaimana caramu mengatasi semua ini? Apa kau tidak sadar kalau saat ini kau sudah terkenal di seluruh Asia?? Bagaimana bisa kau membuat skandal seperti ini?”

“Tenanglah Hyung, kita pikirkan jalan keluarnya bersama,” saut Leeteuk, leader boyband Super Junior.

PD-nim mendecak kesal sambil menghempaskan dirinya ke sofa.

“Bagaimana kalau kita katakan saja yang sebenarnya?” usul salah satu member suju yang punya gigi kelinci. Lee Sungmin.

“Apa? Apa yang akan kalian katakan? Bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa dan kebetulan Eunhyuk mengantarkan Nona ini karena sudah malam? Kau pikir mereka akan percaya? Kau tidak tau betapa kejamnya wartawan dalam menyebarkan rumor?”

“Bagaimana kalau kita bilang saja kalau mereka memang berpacaran?” saut sang leader.

“Mwo?”

“Aku tidak setuju!” potong Hyuk Jae, “aku tidak ingin membuat hidup Nona ini kacau.”

“Dan membuat hidupku kacau? Kalau begitu pikirkan jalan keluarnya!!” bentak PD-nim.

“Hyuk ah, kurasa itu pilihan yang paling aman. Mereka tidak akan percaya bahwa Nona ini bukan apa-apamu sementara kau pernah mengantarkannya pulang. Jika kalian mengaku kepada publik kalau kalian berpcaran, mungkin resikonya bisa diminimalis. Fansmu akan berkurang, itu sudah pasti tapi itu akan meredam rumor-rumor lainnya.”

Hyuk Jae menatap gelisah, “Tapi…”

“Ku rasa itu ada benarnya…” gumam PD-nim, “Agashi, bagaimana pendapatmu?” tanyanya pada Yoon Hye.

Gadis itu menatap gugup, “A-aku…”

“Kau tidak perlu cemas. Eunhyuk hanya perlu berbicara bahwa kalian berpacaran, itu saja.” jelas PD-nim, “tolonglah kami! Hanya pura-pura. Ini sangat berpengaruh pada karinya nanti.”

Yoon hye mendesah pelan sambil menatap laki-laki yang duduk di sampingnya itu, “Aku tidak punya pilihan bukan?”

 

 

To be continue…

 

[Revisi 23 Nov 14 ; 12.12 pm]