Tags

, , , ,

season of love

“Kisah cinta?” tanya Yoon Hye dengan alis terangkat kemudian tersenyum, “Baiklah, seperti apa kisah cinta kita?”

——————

 

Part 2

 

“Mianhaeyo…” ucap Hyuk Jae lirih.

Mereka sedang berada di dalam lift menuju lantai lima saat ini, ke tempat salon yang biasanya digunakan oleh artis SM. Yoon Hye harus merubah penampilannya agar wartawan tidak mengenalinya hingga ia siap untuk dikenalkan pada publik.

“Bukan salahmu,” jawab Yoon Hye sambil mencoba untuk tersenyum.

Hyuk Jae menghela nafas kemudian menatap Yoon Hye dari ujung kaki hingga ujung rambut, “Baiklah Kim Yoon Hye ssi, kau siap menjadi kekasih Eunhyuk Super Junior?”

Yoon Hye meringis mendengarnya, “Boleh aku mengatakan tidak?”

“Sudah terlambat.” Hyuk Jae tersenyum, “Jja!” ditariknya tangan Yoon Hye saat pintu lift terbuka.

.

.

.

“Bagaimana menurutmu?”

Hyuk Jae yang sedang membaca majalah tersentak lalu mengangkat wajahnya. Di depannya berdiri seorang gadis yang memakai kaos putih di lapisi jaket hitam panjang hingga lutut dan celana sewarna serta sepatu berhak. Rambutnya keriting bergelombang berwarna hitam gelap di bawah bahu dan ada topi rajut coklat muda yang menutupi kepalanya. Matanya yang berwarna hitam gelap bersembunyi di balik kacamata bening yang dipakainya.

Yoon Hye mendesah pelan ketika laki-laki itu bergeming, “Kurasa ini tidak cocok untukku,” dilepasnya topi rajut itu dari kepalanya.

“Kau… sangat berbeda,” gumam hyuk Jae sambil berdiri, “siapa bilang kau tidak cocok? Kau terlihat sangat manis,” diraihnya topi yang dipegang Yoon Hye lalu memakaikannya ke kepala gadis itu lagi.

“Ka-kamsahamnida…” jawab Yoon Hye gugup. Pipinya merona dan tiba-tiba saja wajahnya terasa panas. Hei, ini pertama kalinya ia dibilang manis oleh seorang laki-laki.

“Tidak perlu berbicara formal begitu, bukankah aku ini kekasihmu? Ne jjagiya?” canda Hyuk Jae sambil mengedipkan sebelah matanya.

Yoon hye tertawa kecil “Kau ini!”

“Jja… sekarang apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Terima kasih, berkatmu aku mendapatkan libur hari ini. Jadi aku bisa pergi ke toko buku kemudian membacanya seharian di apartement.”

“Kau suka membaca?”

Gadis itu mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Bagaimana kalau hari ini kita buat acara untuk saling mengenal?”

Yoon hye mengerutkan keningnya, “Saling mengenal?”

“Sangat aneh bukan jika seorang Eunhyuk tidak tau apa-apa mengenai kekasihnya? Begitu juga sebaliknya. Walaupun sebenarnya bisa dibilang banyak yang tau mengenai diriku dari internet, tapi aku yakin, kau sama sekali tidak tahu dan tidak mau tau tentangku.”

Yoon hye meringis pelan, “Jangan begitu… Kau akan lebih repot kalau seandainya aku memang fansmu. Bisa saja aku tidak mengembalikan ponselmu atau aku akan langsung menjerit-jerit begitu melihatmu saat itu, kau mau aku begitu?”

“Kalau dipikir-pikir memang akan sangat merepotkan, tapi mengetauhi kenyataan bahwa kau sama sekali tidak ada reaksi saat bertemu denganku itu membuatku sedikit kecewa.”

Yoon Hye tergelak, “Fansmu itu tidak terhitung jumlahnya, jadi aku tidak ada artinya.”

Hyuk Jae tersenyum lembut, “Kau salah. Semua fans sangat berarti untukku.”

“Kalau fansmu itu sangat berarti, lalu kekasihmu bagaimana?”

“Kalau fansku sangat berarti untukku, maka kekasihku sangat berarti melebihi diriku sendiri.“

“Beruntung aku bukan fansmu, kalau iya itu artinya aku berkali-kali lipat sangat berarti untukmu.”

“Benar, kau sangat berarti berkali-kali untukku.”

Gadis itu tertawa, “Faktanya, aku bukan fansmu. Aku juga bukan kekasihmu. Itu artinya aku tidak ada artinya untukmu. Jadi kau tidak perlu mencemaskanku, aku baik-baik saja.”

“Mungkin belum…” gumam Hyuk Jae.

“Mwo?”

“Aniyo. Untuk saat ini kau adalah tanggung jawabku. Jadi kau tetap berarti untukku sebagai seseorang yang sudah membantuku. Jeongmal gomawoyo.”

“Jangan berkata seperti itu, aktingku sangat payah. Sebaiknya kau sering berdo’a, semoga aku bisa melakukannya dengan benar.”

Lagi-lagi hyuki tergelak, “Kalau begitu, kau harus belajar banyak dariku.”

“Kau pernah main film?”

“Belum satu pun.”

Yoon Hye menaikkan alisnya sambil menatap laki-laki itu kemudian keduanya sama-sama tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kajja! Aku ada latihan hari ini. Akan kuperkenalkan pada member lainnya. Setelah itu aku akan menemanimu ke toko buku.”

“Aku akan bertemu mereka?” tanya Yoon Hye gugup. Ia tidak menyangka akan bertemu langsung dengan orang-orang yang wajahnya selalu dilihatnya di layar televise.

“Bukankah sudah kukatakan kalau hari ini kita belajar untuk saling mengena?”

“Ah benar!”

.

.

.

Yoon Hye menghembuskan nafas lelah sambil melemparkan tas dan kantong plastik berisi buku-bukunya ke sofa. Ia membuka jaket dan topinya kemudian cepat-cepat mandi. Sudah pukul sepuluh malam. Seharian tadi ia mengikuti Hyuk Jae latihan dance dan pemotretan, juga mampir ke dorm Super Junior dan berkenalan dengan member lainnya. Setelah itu baru mereka pergi ketoko buku.

Ponselnya berdering saat Yoon Hye baru saja selesai memakai piama dan akan menarik selimut untuk tidur. Ia mengambil ponselnya itu diatas nachast dan langsung menjawab teleponnya begitu tau siapa yang menghubunginya. Ibunya yang saat ini berada di Indonesia.

“Ya Mama?” jawabnya ketika telepon tersambung. Ia selalu menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan ibunya.

‘Sayang, kamu sudah tidur?’

“Belum, ada apa Ma?”

‘Baru saja Rara menunjukkan majalah ke Mama. Apa benar Kim Yoon Hye dalam artikel itu kamu?’

“Maaf aku belum memberi tahumu ma, tapi semuanya akan baik-baik saja. Jangan cemas.”

Wanita di seberang sana mendesah pelan, ‘Mama tidak suka kamu terlibat dengan hal-hal seperti ini…’

“Yoni tau, tapi Yoni tidak punya pilihan. Ini sebenarnya cuma salah paham. Mama tenang aja, Yoni bisa mengatasi semuanya. Jangan khawatir.”

‘Oke. Kalau ada apa-apa beritahu Mama atau Rara.’

“Tentu!”

‘Mama sayang kamu.’

“Yoni juga.”

Yoon Hye menatap ponsel itu sambil menghela nafas pelan. Tentu saja ibunya tau kalau saudaranya berkerja di sebuah perusahaan majalah khusus Asia. Dilemparnya benda itu ke samping bantalnya kemudian tidur.

.

.

.

Bunyi itu semakin lama semakin keras. Yoon Hye menggeliat malas di tempat tidurnya. Sebelah tangannya meraba-raba, mencari benda yang berbunyi itu. Setelah ketemu langsung ditempelkannya benda itu ke telinga.

“Yeoboseo?” gumamnya serak.

‘Yoon ah, apa maksud semua ini?’

“Appa?”

‘Kau masih tidur?’

“Aniyo!” seru gadis itu langsung, “aniyo, aniyo… huwaaa…”

Bruuuk…

Mata Yoon Hye langsung terbuka lebar saat tubuhnya membentur lantai dengan keras. Disambarnya ponsel yang sempat terlepas dari tangannya itu di lantai, “Aku baik-baik saja. Aku tidak jatuh, aku tidak jatuh…”

Terdengar suara helaan nafas appanya di sebrang sana, ‘Katakan padaku berapa lama kau berhubungan dengan laki-laki itu?’

“Ye? Ah, itu… aku…”

‘Bawa dia ke rumah!’

“Ye?”

‘Appa ingin bertemu dengannya!’

“Ta-tapi…”

‘Appa menunggumu!’

“Appa, itu__” terdengar suara telphone di putus di sebrang. “ternyata ini semua bukan mimpi…” gumam gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya, “OMO sudah jam tujuh!!” pekiknya lalu langsung berlari ke kamar mandi.

.

.

.

Yoon Hye menatap kertas-kertas itu sambil melamun. Bagaimana ini? Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada appanya? Kalau ia bicara jujur, appanya pasti tidak akan setuju kalau ia membantu laki-laki itu. Tapi kalau tidak… Apa yang akan terjadi? Sebaiknya ia menanyakan hal itu pada Hyuk Jae saja. Ditatapnya ponsel itu dengan ragu. Ia menghela nafas pelan kemudian menekan nomor laki-laki itu.

Tidak dijawab? Gadis itu mengerutkan kening sejenak. Sekali lagi Yoon Hye menghubungi laki-laki itu. Tetap tidak dijawab. Akhirnya ia mengirim pesan singkat kepada Hyuk Jae kemudian kembali untuk mencoba fokus pada kertas-kertas design di depannya. Dalam sehari hidupnya tiba-tiba berubah menjadi kacau. Beberapa teman kerjanya tau orang yang di tabloid itu adalah dirinya, hal itu dibuktikan dengan penampilannya yang berubah. Tapi untungnya mereka tidak membahas atau berkomentar tentang hal itu.

Ponsel Yoon Hye berdering saat ia sudah duduk di dalam bus perjalanan pulang. Ternyata dari Lee Hyuk Jae. Cepat-cepat dijawabnya telepon itu.

“Yeobseo?”

‘Tadi kau menghubungiku?’

“Mmm…”

‘Ada apa? Merindukanku?’

“Mwo?” yoon Hye mempertajam pendengarannya. Apa laki-laki itu salah bicara? Atau telinganya yang bermasalah?

‘Merindukanku?’

Oke, ternyata telinganya tidak bermasalah. Yoon hye mendengus pelan, “Lee Hyuk Jae ssi, jangan bercanda!”

Terdengar suara tawa pelan di seberang, ‘Baiklah, ada apa?’

“Ah itu soal… Apa kau yakin kita akan membicarakannya lewat telepone?”

‘Aku tidak tau kalau kau sangat ingin bertemu denganku,’ goda laki-laki itu.

“Aku tidak ingin, tapi ini benar-benar masalah serius!”

‘Masalah apa?’ kali ini suara Hyuk Jae berubah menjadi lebih serius.

“Kita bertemu saja besok!”

‘Kenapa harus besok?’

“Mwo?”

‘Kenapa tidak sekarang?’

“Ini sudah malam.”

‘Sayang sekali, aku sudah ada di depan gedung apartementmu sekarang.’

“Yaa, Apa kau gila? Bagaimana kalau kau ketahuan?”

Hyuk Jae tergelak pelan, ‘Kalau kau berteriak seperti itu mungkin aku akan ketahuan. Gwenchana… Kau di mana sekarang?’

“Aku masih ada di bus, sebentar lagi aku sampai.”

Laki-laki itu mendesah pelan, ‘Seharusnya aku menjemputmu tadi. Baiklah ku tunggu kau di sini, cepat datang!’

“Araseo.”

.

.

.

Kim Yoon Hye menatap sekitar gedung apartementnya. Di mana laki-laki itu? bukankah dia bilang akan menunggunya?

“Apa yang kau lakukan?”

“YAA!!” Yoon Hye terlonjak kaget sambil memutar tubuhnya “kau__ Demi Tuhan jangan membuatku kaget seperti itu!”

Hyuk Jae meringis kecil, “Mianhae…”

“Lagipula, kenapa kau memakai pakaian serba hitam seperti itu?”

“Mwo?” Hyuk Jae menatap dirinya sendiri dengan bingung, “aku tidak sadar…”

Yoon Hye mendesah pelan, “Sudahlah… Ayo kita bicara!”

“Kau sudah makan?”

“Mwo?”

“Aku bertanya, kau sudah makan malam atau belum?”

“Oh…” Yoon Hye menggelengkan kepalanya pelan.

“Kalau begitu ayo ku traktir kau makan,” kata hyuk Jae santai sambil menarik tangan gadis itu sebelum dia sempat menjawab.

Dalam waktu singkat, keduanya sudah berada di sebuah kedai sushi di pinggir jalan.

“Kau tidak keberatan kalau makan di tempat seperti ini?”

Yoon Hye mengerjap kaget sesaat, “ah aniyo… Aku justru heran, kenapa kau mau makan di tempat seperti ini.”

Laki-laki itu tersenyum kecil, “Sudah lama aku tidak makan sushi.”

“Pekerjaanmu pasti tidak mudah.”

“Benar… Tapi itu semua menyenangkan.”

“Itu bagus.”

“Jadi… Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya hyuk Jae sambil menunggu pesanan mereka.

“Itu… Tadi pagi uri appa meneleponku. Sebagai seorang appa tentu saja dia mengkhawatirkanku.”

“Kurasa aku bisa mengerti.”

“Aku bingung harus menjelaskan apa kepadanya. Kalau aku bilang yang sebenarnya, aku takut dia akan melarangku untuk membantumu dan membuat semuanya tambah rumit. Tapi kalau tidak… Dia akan memperlakukanmu seolah kau benar-benar kekasihku. Dia… Dia memintaku untuk membawamu ke rumah,” jelas Yoon Hye pelan.

Hyuk Jae tersenyum, “tentu saja aku harus datang ke rumahmu.”

“Mwo??” Yoon Hye menatap laki-laki itu penuh tanya.

“Bukankah sebagai kekasih yang baik, aku harus mengunjungi calon mertuanya?” dikedipkan sebelah matanya, menggoda gadis itu.

“Yaa, apa kau bercanda?”

Hyuki tergelak, “Serahkan saja semuanya kepadaku. Aku akan melindungimu. Kupastikan kau tidak akan mendapat masalah apapun, aku berjanji…”

Yoon Hye tertegun mendengarnya, kemudian ia tersenyum kecil, “Gomawoyo…”

“Pelajaran pertama menjadi kekasih Eunhyuk, saat berbicara denganku jangan memakai jeongdaemal (bahasa formal), itu sangat mengganggu. Pakai saja Banmal.”

“Ye?”

“Ini makanlah!” Hyuk Jae memberikan sepotong susi tuna pada piring yoon hye dengan memakai bahasa banmal.

Kedua orang itu mulai memakan sushi yang ada di piring masing-masing.

“Jjinja mashita…” gumam laki-laki itu dengan mulut penuh.

Yoon Hye hanya tersenyum melihatnya. Terkadang laki-laki itu terlihat begitu kekanakan.

“Ah, aku lupa memberitahumu sesuatu,” kata Hyuk Jae sebelum memasukan potongan sushi ke dalam mulutnya.

“Apa itu?”

“Besok sore akan diadakan konferensi pers mengenai hubungan kita.”

Seketika gadis itu tersedak. Cepat-cepat Hyuk Jae mengulurkan segelas air kepadanya, “Gwenchana?”

Yoon Hye meminum air itu sejenak, “Secepat ini?” tanyanya.

“Mmm… Semua sudah diatur oleh Manager Hyung. Mianhae…”

“Oh, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit… terkejut.”

“Aku benar-benar minta maaf sudah membuat hidupmu kacau…” ucap Hyuk Jae tiba-tiba.

Yoon hye menoleh tertegun, “Hyuk Jae ssi, kau tidak perlu meminta maaf__”

“Pelajaran kedua saat bersamaku…” potong Hyuk Jae tiba-tiba, “kau harus memanggilku ‘oppa’!”

“Mwo? Op-oppa?”

“Atau kau ingin memanggilku ‘yeobo’?”

“Yaa, ini tidak sedang di depan kamera!””

Laki-laki itu tertawa, “Baiklah, baiklah, panggil aku oppa! Besok sebelum kita menghadiri konferensi pers, kita ke rumahmu dulu.”

“Hhh… Apakah sebaiknya aku melakukan yoga untuk menenangkan diri dulu? Para fansmu pasti akan mencabik-cabikku,” desah Yoon Hye pelan. Tampak sekali raut frustasi di wajahnya dan hal itu malah membuat Hyuk Jae tertawa keras.

“Kau lupa,aku akan melindungimu. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

Entahlah, satu kalimat itu dapat membuat hati Yoon Hye merasa lebih tenang. Seolah ia benar-benar percaya bahwa laki-laki itu akan menjaganya.

“Jja, cepat selesaikan makanmu! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Eodiseo?”

“Kau akan tau nanti.”

.

.

.

“Sudah lama sekali aku tidak kemari…”

Yoon Hye hanya diam sambil menatap sekeliling tempat itu. Ruangan yang cukup luas dengan kursi penonton yang berderet-deret menghadap sebuah panggung kecil.

“Dulu saat sekolah, aku sering tampil di atas sana,” jelas Hyuk Jae sambil menatap panggung itu.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Menari. Disinilah aku menemukan impianku.” jawab laki-laki itu sambil berjalan menaiki tangga ke atas panggung.

Yoon hye mengikutinya, laki-laki itu duduk di depan sebuah piano yang berada di sebelah sisi kiri panggung itu lalu menekan salah satu tutsnya. Nada itu menggema dalam ruangan kosong itu.

“Kau bisa bermain piano?” tanya Yoon Hye bersemangat, “mainkan satu lagu!”

“Hei, kau harus membayar kalau ingin melihatku bermain piano.”

Yoon hye mendengus pelan, “Ayolah…”

“Baiklah. Untuk kekasihku, ini gratis.” katanya sambil mengedipkan sebelah mata, membuat gadis itu tertawa.

Kemudian lagu The One I Love milik Super Junior KRY itu terdengar mengalun lembut. Yoon Hye duduk di sebelah laki-laki itu sambil terus menatap jari-jari Hyuk Jae yang bergerak lincah menekan tuts-tuts piano. Akhirnya semakin lama, lagu itu semakin mengalun pelan dan berakhir.

“Bagaimana??” tanya hyuki.

Yoon Hye tersenyum menatapnya, “Tentu saja sangat indah…”

“Besok, biar aku saja yang menjawab pertanyaan dari wartawan. Tapi meskipun begitu, kau juga harus tau seperti apa kisah cinta kita.”

“Kisah cinta?” tanya Yoon Hye dengan alis terangkat kemudian tersenyum, “Baiklah, seperti apa kisah cinta kita?”

“Pertama kali kita bertemu, saat kita bertabrakan di depan minimarket. Setahun yang lalu.”

“Yaa, itu masih seminggu yang lalu!”

“Aiiish… Tidak mungkin kita bilang pada mereka kalau kita baru bertemu seminggu yang lalu.”

Yoon hye tertawa melihat wajah cemberut laki-laki itu, “Nde, Nde… lalu?”

“Yah, seperti yang terjadi, ponsel kita tertukar. Kemudian selanjutnya, kita sering bertemu di butik tempatmu bekerja dan menjadi dekat.”

“Lalu?”

“Kencan pertama kita, aku mengajakmu kemari. Di sini aku bermain piano dan menyatakan perasaanku kepadamu.”

“Jadi… Ini kencan pertama kita?” tanya Yoon Hye sambil menahan tawa.

Hyuk Jae menoleh kemudian tersenyum, “ya, Ini kencan pertama kita. Bukankah kenyataannya seperti itu? Jadi… Kim Yoon Hye ssi, aku mencintaimu, apa kau bersedia menjadi kekasihku?”

Oh dear… Jantung Yoon Hye terasa berhenti berdegup. Ia tau kalau ini tidak nyata, tapi kenapa ia merasa sangat gugup. Melihat senyum laki-laki itu membuatnya… entahlah, akhirnya ia ikut tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya itu, “Apa jawaban yang kau inginkan dariku?” tanyanya balik.

“Tentu saja ‘Ne oppa, aku mau menjadi kekasihmu. Karena aku juga amat sangat mencintaimu.’”

Gadis itu mengernyitkan keningnya, “Kenapa aku merasa mual saat akan mengatakanya?”

Hyuk Jae tertawa, “Lalu jawaban apa yang akan kau katakan?”

Yoon hye terdiam sesaat kemudian tersenyum menatap laki-laki itu, “Aku tidak berkata apa-apa. Tapi aku akan memelukmu dan berbisik ‘Aku bersedia.’ bagaimana? Itu terlihat lebih romantis daripada tadi.”

Oh, oh… Laki-laki itu terdiam. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Meskipun dia tidak melakukan apa yang dikatakannya, tapi entah mengapa Hyuk Jae merasa seolah ia sedang mengalaminya, “Ide bagus!” timpalnya sambil memalingkan wajah, menutupi kegugupannya. “Jadi… begitulah kau menjadi kekasihku. karena jika kau menolakku, maka tidak akan ada konferensi pers besok.”

Yoon hye tertawa kecil, “Sepertinya itu lebih baik…”

“Maaf aku sudah melibatkanmu terlalu jauh,” Hyuk Jae tersenyum kecut.
“Bukan begitu maksudku. Hanya saja… saat ini semuanya sudah terjadi dan aku tidak punya pilihan, bukan?”

“Tidak. Kau punya pilihan. Kau bisa saja menolak dan membiarkanku terkena rumor-rumor tidak jelas. Tapi kau tidak melakukannya, kenapa?”

Yoon Hye terdiam sesaat, “karena aku ingin tau, mengapa mereka sangat menyukaimu… Sesederhana itu.”

 

 

To be continue

 

[Revisi 23 Nov 2014 ; 12.19 pm]