Tags

, , , ,

season of love

“Saat aku merindukanmu bolehkah aku mengatakannya?”

——————

Part 3

 

Hyuk Jae duduk bersimpuh di samping Yoon Hye sementara seorang pria separuh baya sedang duduk di hadapan mereka yang dipisahkan oleh sebuah meja kayu pendek. Ada sepoci teh dan beberapa cangkir kecil di atasnya.

“Berapa lama kalian berhubungan?” tanya seorang pria separuh baya itu sambil menatap kedua orang didepannya.

“Kami sudah saling mengenal selama setahun dan mulai berhubungan tiga bulan yang lalu, Ajhusi,” jawab Hyuk Jae cepat.

“Kalau aku menyuruhmu untuk meninggalkan putriku apa kau bersedia?”

Keduanya terkejut mendengar hal itu. “Appa… Jangan begitu…” protes Yoon Hye.

“Animida ajhusi,” jawab Hyuk Jae, “saya tidak akan pernah meninggalkan putri anda.”

“Aku tidak suka putriku terlibat masalah, lalu apa yang akan kau lakukan untuknya?”

“Saya akan melindunginya. Apapun yang terjadi, saya tidak akan meninggalkannya.”

“Untuk seorang pria, kata-kata adalah janji. Ku pegang janjimu. Sementara ini aku tidak bisa melarang kalian. Tapi… kalau sesuatu terjadi pada putriku kelak. Sebagai seorang appa, aku akan melakukan hal yang terbaik. Meskipun kalian tidak menyukainya.”

“Ne, saya mengerti.”
.
.
.

Gadis itu mendesah pelan, “Mianhae, appaku memang begitu,” ucapnya saat mereka sudah ada di dalam mobil kembali dari rumah Yoon Hye untuk menuju tempat konferensi pers.

“Bukankah itu hal yang wajar? Aku mengerti… Aku bisa melihat dia sangat menyayangimu. Jangan khawatir.”

“Mmm… karena itu aku tidak ingin membuatnya kecewa.”

“Yoon ah, apa kau sudah siap?”

“Ne?”

“Kita hampir sampai!”

Mobil itu meluncur masuk ke halaman gedung agency. Begitu Hyuk Jae turun dari mobil, para wartawan langsung menjepretkan kamera mereka masing-masing. Dengan cepat laki-laki itu membukakan pintu untuk Yoon Hye dan menggenggam tangannya erat, menariknya berjalan bersamanya.Para bodyguard yang ada sudah siap dan langsung melindungi keduanya dari wartawan hingga mereka masuk ke dalam ruang konferensi.

Di dalam ruangan itu sudah ada PD-nim, manager Hyung, juga Leader Super Junior, leeteuk. Yoon hye menyapa mereka dengan gugup lalu duduk di kursi yang sudah disediakan. Ini pertama kalinya ia tampil di depan kamera dan itu membuat perutnya terasa mulas. Ia hanya menundukkan wajah, tidak terbiasa dengan kilatan kilatan lampu kamera yang beruntun itu.
Tiba-tiba tangan Hyuk Jae menggenggam tangannya erat. Gadis itu mengerjap menatapnya, Hyuk Jae sedang tersenyum padanya. Menenangkan seolah mengatakan ‘Semuanya akan baik-baik saja’ dan mau tidak mau Yoon Hye membalas senyum itu.

PD-nim mengambil microfonnya lalu mempersilahkan para wartawan untuk bertanya satu persatu.

“Eunhyuk ssi, apa ini gadis yang kau antarkan malam itu?”

“Ne, majjayo.”

“Sepertinya dia sedikit berbeda.”

“Untuk keamanannya, kami mengubah penampilannya hingga konferensi pers ini diadakan.”

“Lalu apa benar dia kekasihmu? Siapa namanya?”

Hyuk Jae tersenyum sejenak, “ya, dia kekasihku. Namanya Yoon Hye. Kim Yoon Hye,” jawabnya tanpa keraguan.

“Berapa lama kalian berhubungan?”

“Kami masih menjalaninya tiga bulan ini.”

“Kapan kalian pertama kali bertemu?”

“Setahun yang lalu, kami tidak sengaja bertabrakan di depan supermarket. ”

“Agashi, apa pekerjaan anda?”

“Ye? A-aku seorang asistent manager di butik pakaian,” jawab Yoon Hye gugup.

“Kim Yoon Hye ssi, bisakah anda memberitahu kami bagaimana Eunhyuk ssi menyatakan cintanya kepada anda?”

Yoon Hye mengerjap sedikit terkejut lalu menatap Hyuk Jae meminta pendapat.

“Apakah itu perlu kami jawab? Meskipun terbiasa di depan kamera tapi aku benar-benar gugup saat ini,” saut Hyuk Jae membuat seluruh orang tertawa.

“Tentu saja, kami ingin tau bagaimana seorang Eunhyuk menyatakan cintanya.”

Hyuk Jae mengangguk samar, mengijinkan gadis itu untuk berbicara.

“Dia… menyatakan cintanya saat kami kencan. Saat itu Hyuk Jae oppa membawaku ke sekolahnya dulu dan menunjukkanku tempat di mana dia menemukan mimpinya. Panggung pertunjukan… di situ dia memainkan piano untukku dan menyatakan perasaannya.”

“Aku benar-benar takut saat itu.” saut Hyuk Jae, “bagaimana kalau dia mengatakan ‘tidak’? pasti aku tidak akan berada di sini sekarang. Tapi saat itu dia hanya memelukku dan berkata ‘Aku bersedia…’ membuatku sangat lega,” tambahnya sambil tersenyum menatap Yoon Hye.

Yoon Hye merasa wajahnya memanas. Pasti pipinya sudah merona sekarang. Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya.

“Aigo… itu kisah yang sangat romantis. Lalu bagaimana dengan fansmu? Kau tidak takut kehilangan mereka?”

“Aku percaya mereka akan selalu mendukungku. Karena Jewels ataupun ELFs adalah teman kami. Teman selamanya Super Junior.”

“Tapi bukankah sekarang banyak sekali fans yang bertindak nekat? Bagaimana jika ada yang menyakiti kekasih anda?”

“Jika mereka menyakiti kekasihku, itu artinya mereka juga menyakitiku. Aku percaya, ELFs tidak akan menyakitiku karena seperti yang kukatakan tadi, kami adalah teman.”

“Leeteuk ssi, bagaimana tanggapan anda dengan semua ini?”

Leeteuk tersenyum, “Sejujurnya aku kecewa dengan ini semua,” jawabnya dan membuat kaget seluruh orang, “karena ternyata dia mendahuluiku untuk mendapatkan kekasih,” tambahnya membuat tawa.

“Apa kalian yakin ini tidak akan berpengaruh kepada Super Junior?”

“Pengaruh itu pasti ada, hanya saja bagaimana cara kita menyikapinya. Seperti Eunhyuki, aku percaya ELFs akan selalu mendukung kami. Karena mereka adalah teman terbaik kami,” jawab Leeteuk lagi.

“Eunhyuk ssi, bolehkah kami memotretmu bersama Kim Yoon Hye ssi?”

Hyuk Jae menatap Yoon Hye, meminta ijin. Gadis itu mengangguk pelan, lalu mereka berdua berdiri bersama. Membiarkan para wartawan memotretnya.

“Bisakah kalian lebih dekat? Jangan malu begitu…”

Hyuk Jae tertawa kecil sambil meraih pinggang gadis itu, merapatkannya. Yoon Hye hanya bisa tersenyum sambil menenangkan detak jantungnya. Baru kali ini ia sedekat itu dengan laki-laki, membuatnya gugup setengah mati. Bahkan ia bisa mencium aroma parfum Hyuk Jae.

“Baiklah, saya rasa semuanya sudah jelas sekarang. Konferensi kami tutup sampai di sini,” kata PD-nim.

 

****

 

Seminggu setelah konferensi pres itu Yoon Hye sama sekali tidak bertemu dengan laki-laki itu ataupun menerima panggilan darinya. Sepertinya dia sangat sibuk dengan jadwalnya dan Yoon Hye-pun sibuk dengan pekerjaannya.

“Dia belum menghubungimu sama sekali?” tanya Hyo Ra sambil meletakkan secangkir capucino untuk Yoon Hye dan dirinya sendiri. Suasana caffe saat ini sedang tidak ramai karena jam makan siang sudah lewat. Karena itu ia bisa menemani Yoon Hye mengobrol.

Yoon Hye tersenyum sambil menatap capuchino itu, “Untuk apa dia menghubungiku? Aku bukan kekasihnya Hyo-ya…”

“Benar juga. Lalu, apa akan kau lakukan?”

“Yoon ah…” seorang laki-laki tiba-tiba saja duduk di sebelah Yoon Hye dan Hyo Ra.

“Oh Jung Yong Hwa ssi? Sedang apa kau di sini?” tanya Hyo Ra.

“Kebetulan aku melihat kalian saat lewat. Jadi aku mampir. Selain itu aku juga ingin berbicara denganmu, yoon ah.”

“Naega?”

Laki-laki itu mengangguk pelan,“mmm.”

“Kalau begitu akan kubuatkan kau kopi,” kata Hyo Ra sambil beranjak dari duduknya.

“Gomawoyo.”

“Jadi… apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yoon Hye begitu Hyo Ra sudah pergi.

Yong Hwa menatap gadis itu sejenak kemudian mendesah pelan, “Apa kau benar-benar berpacaran dengan artis itu?”

Yoon hye menyipitkan matanya, “Memangnya kenapa?”

“Aku tidak pernah tau kalau kau dekat dengannya. Lalu tiba-tiba saja ada berita bahwa kau berpacaran dengannya. Apakah ini tidak terlalu aneh?”

“Yaa, apa kau sedang mengawasiku? Bagaimana kau yakin aku tidak dekat dengannya?”

Yong Hwa menghela nafas –lagi, “Kau masih marah kepadaku?”

“Di mana Rae Ki sunbae? Kenapa dia tidak ikut bersamamu?” Yoon Hye balik bertanya sambil menyesap capuchinonya.

“Aku sedang berbicara tentangmu, Yoon ah.”

“Tentangku bukan urusanmu Yong Hwa ssi,” jawab Yoon Hye tajam.

“Apakah aku sudah terlambat?”

“Mwo? Apa maksud__” kalimat Yoon Hye terpotong saat ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Nama Lee Hyuk Jae sedang berkedip-kedip di layar ponselnya. Tanpa meminta ijin laki-laki yang duduk di sebelahnya, gadis itu menjawab panggilannya. “yeobseo? …Ne? Oh aku sedang ada di caffe Lee Hyo Ra. Ada apa? …Sekarang? Tapi aku__”

“Aku ingin kembali kepadamu, Yoon ah.”

“Mwo??” Yoon Hye tersentak kaget sambil mentap Yong Hwa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedang dipegangnya. Ia menatap laki-laki itu tidak percaya. Tapi saat melihat wajah seriusnya, Yoon Hye kemudian memalingkan wajahnya lalu berbicara lagi dengan ponselnya, “Aku masih ada urusan, nanti kuhubungi kau lagi,” ditutupnya ponsel itu dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari seberang. “Apa maksudmu?” tanyanya lagi pada laki-laki di sebelahnya.

“Aku ingin kembali kepadamu,” ulang Yong Hwa.

“Jung Yong Hwa ssi, apa kau sudah gila? Bukankah dulu kau yang meninggalkanku demi gadis itu? Sekarang kau ingin kembali lagi kepadaku? Apa menurutmu aku akan menerimamu lagi?” tanya Yoon Hye dengan alis terangkat sebelah.

“Setidaknya aku sudah mengatakannya padamu. Kemungkinan itu ada bukan? Aku sudah putus dengannya setengah tahun yang lalu dan itu karenamu.”

“Naega? Naega wae?”

“Karena aku tidak bisa melupakanmu. Setiap bersamanya aku hanya memikirkanmu.”

“Daebak… Jadi sekarang kau menyalahkanku?”

“Bukan begitu…”

Yoon Hye mendesah pelan, “Kumohon, jangan membuat hidupku lebih rumit Yong Hwa ssi.”

“Mianhae. Tapi aku benar-benar ingin kembali kepadamu, Yoon ah.”

Baru saja gadis itu akan membuka mulutnya, ponselnya berdering lagi. Masih dari orang yang sebelumnya. “yeoboseo? Bukankah sudah kubilang aku__ mwo? Di luar? Baiklah tunggu aku!” Yoon Hye menutup ponselnya kemudian beranjak sambil mengambil tasnya, “maaf aku harus pergi Yong Hwa ssi,” ucapnya lalu cepat-cepat berjalan keluar tanpa sempat pamit pada Hyo Ra.
.
.
.

Lee Hyuk Jae baru saja pulang dari latihan dance saat ia teringat pada gadis itu. Tadi Manager Hyung memberinya tiket untuk konser di Mokpo nanti. Mungkin saja Yoon Hye mau datang untuk menonton. Ia mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku jaket lalu mencoba menghubungi gadis itu.

‘Yeobseo?’ sapa gadis itu.

“Eodiga?” tanya hyuk jae sambil focus mengemudi.

‘Ne? Oh, aku sedang ada di caffe Lee Hyo Ra. Ada apa?’

“Apa yang kau lakukan di sana? Aku ingin bertemu denganmu.”

‘Sekarang? Tapi aku__ ‘Aku ingin kembali kepadamu, yoon ah’, Mwo??’ gadis itu berteriak kaget membuat Hyuk Jae mengerutkan kening bingung. Jika ia tidak salah dengar, baru saja ada suara laki-laki. Apa gadis itu tidak sedang sendirian?

“Kau tidak sendiri?” tanya Hyuk Jae.

‘Aku masih ada urusan, nanti kuhubungi kau lagi!’

Sambungan telepone terputus. Laki-laki itu mengernyit pelan, menatap ponselnya tidak suka. Siapa laki-laki yang bersama gadis itu? Sedang apa mereka? Tiba-tiba saja Hyuk Jae merasa kesal. Diinjaknya gas mobil lebih kuat lalu meluncur ke tempat Hyo Ra. Ia ingat Yoon Hye pernah mengatakan caffe Hyo Ra berada di dekat perpustakaan umum.

Ada banyak caffe dan restaurant yang berderet-deret di tempat itu. Ia tidak tau yang mana caffé Hyo Ra, karena itu ia menghubungi gadis itu lagi. Menyuruhnya untuk keluar. Tidak lama kemudian gadis itu keluar dari salah satu caffé sambil menatap sekeliling. Mungkin sedang mencarinya. Hyuk Jae menjalankan mobilnya dan berhenti tepat di depan gadis itu. Ia membuka kaca jendela mobil, “Masuklah!” katanya pelan.

Yoon hye membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya, “ada apa kau mencariku?” tanyanya saat Hyuk Jae mulai menjalankan mobilnya.

“Ini!” laki-laki itu mengulurkan tangannya, memberikan dua buah tiket, “Manager Hyung menyuruhku untuk memberikannya padamu. Mungkin kau mau melihat konser kami di Mokpo besok.”

Gadis itu menerima tiketnya dengan kening berkerut, “Kau menjemputku kemari hanya untuk mengatakan hal ini?”

“Aku sedang kosong malam ini, jadi bagaimana kalau kita nonton? Cha Tae Hyun Hyung memberiku tiket film barunya.”

Yoon Hye mengangguk pelan tanpa menoleh. Ia menatap lurus ke depan, masih memikirkan kata-kata Jung Yong Hwa tadi. Apa laki-laki itu benar-benar serius?

“Jadi… siapa dia?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba.

Yoon Hye mengerjap kaget mendengarnya, “Ne?”.

“Aku mendengar suara laki-laki saat meneleponmu tadi. Siapa dia?”

“Dia… hanya temanku.” Jawab gadis itu sedikit ragu. Kenapa ia jadi merasa bersalah?

“Teman tanpa ada hubungan lebih?”

Yoon Hye terdiam sambil menatap jalan. Apakah ia harus membicarakan ini dengan laki-laki di sampingnya yang baru dikenalnya? Sebenarnya ini juga bukan masalah penting.

Hyuk Jae menghela nafas pelan, “Tidak ingin memberi tahuku?”

“Bu-bukan begitu,” saut Yoon Hye, “dia… sebenarnya mantan kekasihku.”

“Kalian masih berhubungan?”

“Tidak! Tentu saja tidak!” saut Yoon Hye terlalu cepat, “Entahlah, akhir-akhir ini dia kembali menghubungiku.”

“Wae?”

“Dia bilang… Dia ingin kembali kepadaku. Entahlah, aku juga tidak tau apakah dia serius atau tidak.”

“Kau menerimanya lagi?” tanya Hyuk Jae hati-hati.

Yoon Hye terdiam sesaat, “Tentu saja tidak,” jawabnya kemudian, “Bukankah aku sudah memiliki kekasih saat ini?” ia tertawa kecil.

Tanpa sadar Hyuk Jae menghembuskan nafas lega setelah mendengarnya. Ia membalas senyum gadis itu, “Benar, sebaiknya kau tidak macam-macam. Aku ini tipe pecemburu!”

Tawa gadis itu perlahan menghilang, “Oppa, jangan lupa kita hanya__”

“Ara!” potong Hyuk Jae cepat “Tapi saat ini yang orang-orang tau, kau adalah milikku. Aku hanya tidak ingin kau mendapat masalah.”

“Aku mengerti. Jangan khawatir, aku ini tipe gadis yang setia,” jawab Yoon Hye sambil tersenyum.

“Akan kuingat hal itu,” balas Hyuk Jae, “jadi… kenapa kalian dulu putus?”

“Ah itu… itu karena dia lebih memilih gadis lain. Menyedihkan bukan?”

“Kau dicampakkan?”

Yoon Hye mendesah pelan, “Kenapa kau mengatakannya dengan sangat jelas?”

“Ah, mianhae… Aku hanya tidak mengerti kenapa dia bisa seperti itu.”

“Aku juga tidak mengerti…” jawab gadis itu dengan nada melamun.

“Ayolaaah… Jangan bersedih. Bukankah sekarang kau sudah punya aku?”

Yoon Hye mengerjap pelan, “Mwo? Oppa, kita__”

“Ara, ara… Aku tidak akan lupa. Nah sekarang kita lihat, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tertawa. Ayo turun kita sudah sampai!”
.
.
.

Yoon Hye tersenyum saat melihat dua buah tiket konser itu. Ia teringat malamnya bersama Hyuk Jae kemarin. Ternyata laki-laki itu sangat menyenangkan. Dia selalu saja bisa membuat Yoon Hye tertawa. Malam itu mereka nonton bersama kemudian bermain di taman bermain. Gadis itu merasa sangat nyaman bila bersamanya. Terkadang dia seperti anak kecil yang menggemaskan, tetapi juga bisa menjadi laki-laki yang dewasa.

Tunggu dulu… Kenapa ia punya fikiran seperti ini? Gadis itu menepuk pipinya pelan. Sadarlah Kim Yoon Hye… Dia bukan kekasihmu, gumamnya dalam hati. Tiba-tiba saja ponselnya di samping Keyboard computer berbunyi. Lee Hyo Ra.

“Yeobseo?”

‘Yoon ah, kau masih di kantor?’

“Ne, waeyo?”

‘Aniya, apa yang kau lakukan akhir pekan besok? Aku tidak punya acara apa-apa. Caffé akan tutup karena eomma dan appa akan mengunjungi nenek di Busan.’

“Kau mau ikut bersamaku? Hyuk Jae oppa memberiku dua lembar tiket konser mereka di Mokpo.”

‘Jjinjayo? Tentu saja aku mau!’ seru gadis itu langsung, ‘Yaa, kau tidak tau kalau aku ini sparkyu?’

“S-spar- apa? Apa itu?” tanya Yoon Hye bingung.

Hyo Ra mendesah pelan, ‘Sudahlah… Kau juga tidak akan tau. Aku ini sangat menyukai Kyuhyun oppa!’

Yoon Hye tertawa kecil, “Araseo. Baiklah, sampai jumpa besok!”

‘Mmm, anyeong…’

Yoon Hye menutup ponselnya sambil tertawa kecil. Temannya itu memang sangat menyukai Cho Kyuhyun, bahkan Yoon Hye tau Super Junior itu karena Hyo Ra sering membicarakannya dan menunjukkan poster mereka. Dia mungkin tidak akan menjerit saat bertemu member lainnya, tapi kalau bertemu Cho Kyuhyun, Yoon Hye tidak yakin.
.
.
.

Ini pertama kalinya gadis itu datang ke sebuah acara konser. Ia sedikit terkejut melihat banyaknya gadis yang datang. Bahkan banyak diantara mereka yang laki-laki. Karena Lee Hyuk Jae memberinya tiket VVIP, Yoon Hye dan Hyo Ra mendapatkan tempat duduk yang nyaman untuk menikmati konser itu.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Yoon Hye sebelum konser di mulai. Bibir gadis itu otomatis tertarik untuk membentuk sebuah senyuman ketika membacanya.

‘Kau ada dimana?’

Cepat-cepat dibalasnya pesan itu, ‘Di tempat yang kau inginkan aku berada. Beri kami pertunjukan yang hebat!’

‘Setelah konser selesai, temui aku di ruang 3E.’

‘Aku bersama hyo ra, gwenchana?’

‘Gwenchana.’

‘Araseo.’

“Siapa?” tanya Hyo Ra sedikit penasaran dengan temannya yang sedang tersenyum sendiri sambil melihat ponsel.

“Aniyo… Hyuk Jae oppa menyuruh kita ke ruang 3E setelah konser.”

“Untuk apa?”

“Molla…”

“Ah, ini lighstickmu!” Hyo Ra mengulurkan benda itu kepada Yoon Hye saat acara dimulai.

Yoon hye merasa terkejut dengan dirinya sendiri yang bisa larut dalam suasana konser itu. ia sudah seperti salah satu ELF yang berteriak dengan semangat sambil mengangkat lighstick. Tidak heran banyak yang menyukai Super Junior. Mereka terlihat sangat mengagumkan saat di atas panggung. Mereka bisa memberikan suasana yang menyenangkan. Membuat penonton terkadang tertawa dengan tingkah konyol mereka. Tidak ada bedanya saat mereka di dorm. Pantas saja banyak gadis yang tergila-gila pada mereka.

Akhirnya setelah tiga jam, Yoon Hye dan Hyo Ra dapat mengistirahatkan telinga-telinga mereka dari jeritan para ELF. Kedua gadis itu berjalan ke arah receptionist dan menanyakan di mana letak ruang 3E.

“Jeoseonghamnida, tolong sebutkan nama anda,” kata gadis receptionist.

“Kim Yoon Hye dan Lee Hyo Ra.”

“Ah, silahkan menuju lantai tiga, kemudian belok kiri, ruangan paling ujung.”

“Kamsahamnida,” ucap Yoon Hye kemudian pergi bersama Hyo Ra menuju tempat itu.

“Yoon ah, kau yakin ini tidak apa-apa?” tanya Hyo Ra.

“Dia yang menyuruhku datang ke tempat itu.”

Akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah pintu dengan tulisan 3E, Ruang ganti Super Junior. Yoon Hye sudah akan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu saat pintu itu tiba-tiba saja terbuka. Seorang namja manis berdiri disana kemudian tersenyum saat melihatnya. Kim Ryeowook.

“Oh anyeong haseo, Yoon Hye Nonna! Masuklah, Hyung ada di dalam,” kata laki-laki itu sambil membuka pintu lebih lebar.

“Kamsahamnida,” ucap Yoon Hye sambil membungkukkan sedikit badannya.

Yoon Hye merasakan kegugupan Hyo Ra disampingnya. Ini pertama kalinya Hyo Ra bertemu dengan mereka. Ia bisa mengerti hal itu karena ia juga merasa gugup saat bertemu mereka untuk pertama kali. Ruangan itu tampak penuh oleh namja-namja yang sedang melepas lelah setelah konser. Kedua gadis itu membungkuk dengan gugup, menyapa orang yang ada di dalam ruangan.

“Kau sudah datang?” senyum Hyuk Jae, “bagaimana penampilan kami?”

“Kalian sangat hebat,” jawab Yoon Hye.

“Err… Apa dia baik-baik saja?” tanya Hyuk Jae sambil memandang takut pada Hyo Ra.

Yoon Hye mengerjapkan mata bingung lalu menoleh pada Hyo Ra. Gadis itu sedang berdiri bagaikan patung dengan nafas tersendat. Tatapan matanya mengarah tepat ke sudut ruangan di mana Kyuhyun sedang mengotak atik ponselnya.

Yoon Hye mendesah pelan “Seharusnya kau tidak menyuruh kami kemari.”

“Wae?”

“Dia sangat tergila-gila pada Cho Kyuhyun ssi.”

“Jeongmal?” tanya Hyuk Jae tidak menyangka, ia menoleh menatap kyuhyun lalu berteriak, “Kyuhyun ah, di sini ada sparkyu!!” serunya membuat semua orang menoleh kepadanya.

Kyuhyun mengangkat wajahnya lalu menatap mereka, “Siapa?”

Yoon Hye melirik Hyo Ra yang sedang mencengkeram lengannya erat, “Kau mau berfoto bersamanya tidak?” bisiknya pelan.

Kyuhyun tersenyum menatap hyo ra, membuat gadis itu terkesiap. Dia pasti sedang bermimpi saat ini.
.
.
.

“Kau tidak lelah? Seharusnya kau ikut yang lainnya pulang ke dorm,” kata Yoon Hye.

Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Manager Hyung, baru saja pulang dari Mokpo. Hyuk Jae sengaja meminjam mobil itu untuk mengantar Yoon Hye dan Hyo Ra pulang. Mereka baru saja menurunkan Hyo Ra di rumahnya dalam keadaan setengah sadar. Setelah bertemu cho kyuhyun tentunya.

Laki-laki itu tersenyum lembut, “Aku ingin bersamamu lebih lama.”

Yoon Hye menatapnya penuh tanya.

“Kau, gadis yang menyenangkan,” tambahnya ketika Yoon Hye tidak mengerti.

Gadis itu mendesah pelan sambil memalingkan wajahnya ke depan, “Kurasa kau terlalu lelah, seseorang pernah mengatakan kalau aku ini orang yang membosankan.”

“Orang itu bukan aku.”

Yoon Hye terdiam sejenak “Ya… Dia bukan kau.”

“Apa laki-laki itu?”

“Oh?”

“Apa mantan kekasihmu itu yang mengatakannya?”

Yoon Hye mendesah pelan –lagi, “Mmm…”

“Jangan dengarkan dia, cukup dengarkan aku saja. Bisakah kau melakukan itu?”

Oke gadis itu semakin tidak mengerti. Ia menatap Hyuk Jae penuh tanya. Menunggu laki-laki itu menjelaskan. Tapi melihatnya diam saja, Yoon Hye menyerah, “Akan kucoba,” gumamnya pelan tapi kemudian ia tersentak saat menyadari itu bukan jalan menuju apartementnya, “Oppa, kau mau membawaku ke mana?”

“Kau akan tau nanti.”
.
.
.

“kenapa kau membawaku kemari lagi?” tanya Yoon Hye skeptis saat laki-laki itu membawanya kembali ke ruang pertunjukan yang ada di sekolahnya dulu.

“Kau tidak suka?”

“Bukan begitu…”

Lee Hyuk Jae menghampiri piano hitam itu lalu membuka tutupnya pelan.

“Mainkan sebuah lagu!” pinta Yoon Hye bersemangat.

Laki-laki itu tertawa kecil, “Apa yang kudapatkan kalau aku mau memainkan sebuah lagu untukmu?”

“Kau meminta imbalan dariku?” tanya gadis itu dengan alis terangkat tidak percaya, “Ayolah cepat mainkan!”

“Boleh aku meminta sesuatu? Akan kumainkan lagu apapun yang kau mau selama aku bisa.”

“Kau membuat penawaran? Baiklah… Apa itu?”

Hyuk Jae menatap gadis itu lembut, “Saat kau merindukanku maukah kau memberitahuku?”

Gadis itu membulatkan matanya tidak percaya, “Saat aku merindukanmu?”

“Ya… Maukah kau memberitahuku saat kau merindukanku?”

Manik hitam itu menatap Hyuk Jae lekat. Mencoba mencari tau apa yang sebenarnya diinginkan oleh namja itu, “Kenapa aku harus memberitahumu?” tanyanya.

“Agar aku bisa cepat langsung berlari untuk menemuimu.”

Yoon hye menatap tidak percaya. Apakah pendengarannya tidak ada masalah? Ia menatap laki-laki itu beberapa saat dan tidak menemukan raut wajah bercanda di sana. “Baiklah…” jawabnya menyerah.

“Satu lagi!”

“Yaa, kau ini sebenarnya mau main atau tidak?” tatapnya kesal.

Hyuk Jae tertawa kecil sambil menempatkan posisi jari-jarinya di atas tuts-tuts piano itu, “hanya satu lagi.”

“Apa?”

“Saat aku merindukanmu bolehkah aku mengatakannya?”

Oh tidak… Jantung Yoon Hye terasa berdegup kencang saat ini, “Mmm… Terserah kau,” jawabnya gugup.

“Aku merindukanmu…” ucap Hyuk Jae lembut sambil tersenyum.

Tuhan… Yoon Hye merasa jantungnya benar-benar berhenti saat ini. Gadis itu hanya bisa menatap tanpa berkata apa-apa. Ia sedang serius berfikir apakah ini mimpi atau nyata.

“Baiklah, lagu apa yang kau inginkan?” tanya Hyuk Jae. Menyadarkan gadis itu dari lamunan sekaligus mempertegas bahwa ini bukan mimpi.

“Aku ingin mendengar lagu TVXQ, Why Did I Fall In Love With You…”

Dentingan piano itu mulai terdengar bersamaan dengan jari-jari Hyuk Jae yang bergerak. Laki-laki itu menekan tuts-tutsnya sambil sesekali menatap Yoon Hye. Membuat jantung gadis itu semakin berdebar-debar.

 

To be continue

 

 

[Revisi 23 Nov 2014 ; 12.25 pm]