Tags

, , , ,

season of love

 

“Kau gadis pertama yang kuperlakukan seperti ini. ‘Kau bukan kekasihku’, ‘kau juga bukan teman dekatku’. Itu kau yang mengatakannya. jadi bagaimana kalau kita hilangkan kata ‘bukan’ dari kalimat-kalimat itu?”

————–

 

Part 4

 

“Eunhyuk ah, akhir-akhir ini sepertinya kau terlihat senang…” komentar donghae heran yang melihat Hyuk Jae berlatih dance penuh semangat.

“Geure?”

“Eoh, kau terlihat berbeda.”

“Kita harus berlatih keras,” saut Hyuk Jae dengan senyuman. Tiba-tiba manic matanya melihat Manager Hyung masuk ke dalam ruang latihan, “Oh, hyung!” serunya, “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Ada apa?” tanya Manager Hyung heran.

Laki-laki itu menghampiri Manager Hyung sambil mengelap peluh di wajahnya, “bagaimana pengaruh hubunganku dengan Yoon Hye? Apakah ada masalah serius?” tanyanya dengan suara yang lebih pelan.

“Sejauh ini belum ada masalah serius. Penggemarmu menangis itu sudah pasti. Banyak dari mereka yang meninggalkanmu. Tapi kau tidak perlu khawatir. Kalau mereka berpaling darimu, pasti mereka akan lari ke member yang lain,” jawab managernya sambil tertawa.

Hyuk Jae mendesah pelan, “Syukurlah kalau begitu…”

“Tetaplah fokus untuk album kelima dan konser sebentar lagi!”

“Konser? Kita ada konser lagi?”

“Kali ini konser SMTOWN Global. Kita bicarakan ini bersama, suruh yang lainnya berkumpul di ruang meeting!”

“Araseo.”
.
.
.

Yoon Hye baru saja masuk ke apartementnya ketika ponselnya berbunyi. Ditekannya saklar lampu sambil mengambil benda itu dari dalam tas.

“Hallo ma?” sapanya dengan bahasa indonesia begitu tau ibunya yang menelepon.

‘Sayang, bagaimana kabarmu?’ tanya ibunya di sebrang sana.

“Aku baik, ma…” jawabnya sambil melempar tas ke sofa lalu duduk di tepi ranjang.

‘Lalu hubunganmu dengan artis itu?’

“Semuanya baik-baik saja, Mama tidak perlu khawatir. Appa juga sudah tau, kami sempat mampir ke rumah.”

Terdengar desahan lega ibunya di sebrang sana, ‘Oke, kalau ada apa-apa kabari mama ya!’

“Tentu saja…”

‘Ah, kakakmu ingin berbicara denganmu,’ kata ibunya.

‘Hallo Yon!’ terdengar suara ceria di sebrang menggantikan suara ibunya. Yoon Hye tertawa mendengar suara saudaranya, Kim Yoon Ra, atau Rara nama Indonesianya.

“Hai…”

‘Kapan loe balik? Betah amat di Korea, sudah terkenal ya di sana?’ Rara tertawa cekikikan.

“Eonni… Aku kan harus berkerja di sini. Bagaimana kabar Eonni?”

‘Gua baik. Cuma sekarang lagi sibuk, ada event di perusahaan.’

“kapan-kapan datanglah kemari. Temui appa, dia merindukanmu.”

‘Pinginnya sih gitu, tapi lagi nggak ada waktu nih. Salamin buat Appa yah!’

“Oke.”

‘Oh ya, kalau pulang ke sini hati-hati ya. Di sini Super Junior terkenal banget, loe bisa dicincang kalau ELF tau. Hahahah….’

Yoon Hye tergelak mendengarnya, “Daripada menungguku, kenapa mereka tidak mencincangmu saja?”

‘Eh, Loe tau nggak? Teman gue yang ELF malah histeris banget waktu ngliat fotomu bareng Eunhyuk, pagi-pagi dia ke studio dan langsung nodong gue, ckckck…’

Lagi-lagi Yoon Hye tertawa “Lalu?”

‘Ya terpaksa gue bilang kalau itu elo, kembaran gue. Daripada gue diapa-apain. Tapi dia malah mohon-mohon ke gue nyuruh supaya elo sama Eunhyuk putus hahah…’ giliran Yoon Ra yang tertawa.

“Eonnie, maaf ya…”

‘Santai ajalah… Gue sebenernya juga seneng sih, jadi terkenal juga di sini. Jadi bisa deket sama cowok gebetan gue.’

“Jangan lupa mengenalkannya padaku nanti!”

‘Gampang… Eh, udah dulu ya, mahal nih teleponenya. Kita ngobrol di SNS aja, ok?’

“Ne, araseo…”

‘Bye bye!’

Telepon terputus. Yoon Hye tersenyum sendiri mengingat kakaknya. Kim Yoon Ra adalah saudara kembarnya. Dia adalah gadis yang selalu ceria dan berani mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dia juga ramah dan mudah tersenyum atau tertawa. Berbeda dengannya yang lebih pendiam. Saat ini, saudara kembarnya itu bekerja di sebuah perusahaan majalah Asia terkenal di Jakarta sebagai Designer editor.

Sudah lama sekali Yoon Hye tidak pulang ke Indonesia, hampir tiga tahun. Memang, saat kedua orang tuanya bercerai, Yoon Ra ikut ibunya dan Yoon Hye ikut appanya. Tapi hubungan mereka tidak pernah putus. Mereka selalu komunikasi melalui social media.

Tiba-tiba ponsel Yoon Hye berbunyi lagi, membuatnya tersentak kaget. Cepat-cepat dijawabnya panggilan itu.

“Ne?”

‘Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?’ suara Hyuk Jae terdengar sedikit kesal.

“Mianhae, eomma sedang menelphone tadi.”

‘Geure? Apa yang kalian bicarakan?’

“Eoh?”

‘Aku juga ingin tau apa yang dibicarakan antara Eomma dan putrinya yang sudah memiliki kekasih.’

“Yaa, oppa… Kita hanya__”

‘Ara, ara!’ potong Hyuk Jae cepat, ‘jadi apa yang kalian bicarakan?’

“Dia hanya menanyakan kabarku dan aku lebih banyak mengobrol dengan saudaraku tadi.”

‘Saudara? Kau punya saudara?’

“Mmm… Tapi sebelum itu, apa kau akan menelepon lama? Aku ingin mandi dulu.”

‘Kau baru saja pulang kerja?’

“Mmm…”

‘Baiklah, mandilah dulu! Nanti kuhubungi lagi. Jangan khawatir, aku tidak akan mengintipmu.’

Yoon hye mendengus pelan mendengar candaan itu,“Araseo…”

Butuh waktu dua puluh menit untuk gadis itu mandi dan berganti piama. Sekarang ia sudah naik ke tempat tidur. Ponselnya berbunyi lagi saat tangannya menarik selimut.

“Yeoboseo?”

‘Sudah selesai?’

“Mmm…” gadis itu mengangguk meskipun tau Hyuk Jae tidak akan bisa melihatnya.

‘Apa yang kau lakukan sekarang?’

“Na? Aku sudah berada di tempat tidur. Jadi saat kau menutup telepon, aku bisa langsung menutup mataku.”

Hyuki tertawa kecil, ‘Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Tiga hari lagi aku harus pergi ke paris untuk konser. Sebelum itu, aku ingin bertemu denganmu dulu.’

“Waeyo?” tanya Yoon Hye dengan jantung yang berdebar, “kau bahkan sering meneleponku.”

‘Wae? Kau tidak suka? Bukankah tidak ada larangan seorang Eunhyuk untuk menemui kekasihnya?’

“Oppa, kita__”

‘Arayo…’ desah Hyuk Jae dari seberang, ‘baiklah… Sekarang ceritakan tentang dirimu.’

“Diriku?”

‘Mmm… Aku ingin tau semuanya.’

 

****

 

“Kita istirahat dulu!!” seru leeteuk.

Member Super Junior itu langsung mendesah lega. Mereka berjalan menuju tas masing-masing untuk mengambil handuk dan air mineral. Hyuk Jae mengambil ponselnya setelah menghabiskan setengah air mineral dari botol. Ada tiga panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan.

‘Oppa ini aku Hyeo Yeon. Aku sudah mendengar kabar itu. Apakah itu benar? Aku senang mendengarnya.’

Hyuk Jae terpaku memandang layar ponselnya. Hyeo Yeon, gadis yang pernah menjadi masa lalunya. Dia adalah artis dari sebuah grilband, SNSD. Karena jadwal mereka yang sama-sama sibuk, hubungan mereka menjadi jauh. Dan kemudian Hyuk Jae tau kalau ternyata gadis tu mengkhianatinya. Mereka akhirnya berpisah. Hingga sekarang sebenarnya ia masih menyayangi gadis itu. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia sudah jarang memikirkan gadis itu. Bukankah itu bagus? Lalu kenapa sekarang gadis itu tiba-tiba menghubunginya?

Hyeo Yeon memang gadis yang menarik. Dia sedikit manja dan cerewet. Selain itu dia juga menjadi saingan Hyuk Jae dalam dance. Berbeda dengan Yoon Hye yang selalu tenang. Ia jadi ingat pembicaraannya di telepon kemarin malam. Gadis itu bercerita banyak mengenai dirinya. Tentang orang tuanya dan saudara kembarnya. Hyuk Jae tidak bisa membayangkan di dunia ini ada gadis yang wajahnya sama dengan Yoon Hye.

“Apa yang kau lakukan Hyuk ah?”

Hyuk Jae tersentak kaget dan mendapati Yesung sedang duduk bersila di depannya, menatapnya lekat-lekat seperti mencari sesuatu. Sejak kapan dia ada di situ?

“Hyung, kau mengagetkanku!”

“Kenapa tadi kau senyum-senyum sendiri?”

“Mwo? Jjinjja?” tanya Hyuk Jae terkejut. Benarkah ia tadi tersenyum sendiri? Apa yang membuatnya tersenyum?

“Kau sangat aneh.”

“Kau lebih aneh,” saut Hyuk Jae dengan wajah datar, “Ah Hyung, apakah kita ada jadwal malam ini?”

“Aku bukan managermu,” sewot Yesung sambil merangkak menjauhi Hyuk Jae lalu menghampiri Siwon yang tertidur berbantal tas. Laki-laki itu menepuk-nepuk pantat Siwon seperti seorang appa yang sedang menidurkan anaknya (aigooo. . . =_=”)

Hyuk Jae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghampiri Leeteuk, “Hyung, apa kita punya jadwal nanti malam?”

“Kita harus siaran di sukira.”

“Setelah itu?”

“Kita bebas, tapi besok siang kita berangkat ke Paris.”

“Araseo,” jawab Hyuk Jae riang kemudian pergi menghampiri Sungmin yang sedang menikmati ice cream, “Hyung, apa itu ice cream Strowberry? Aku juga mau…”

 

*****

 

Yoon Hye menyelesaikan dengan cepat pekerjaannya karena hari sudah malam. Ia terpaksa lembur hari ini karena Mrs. Cha, rekannya itu sedang cuti. Diraihnya ponsel di meja lalu mendesah pelan saat tidak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Dimasukan lagi benda itu ke dalam tas kemudian mematikan lampu meja dan segera meninggalkan ruangan itu.

Gadis itu berjalan pelan melewati parkiran mobil. Masih pukul setengah sembilan malam, ia sangat lapar dan ingin cepat-cepat sampai di apartement untuk membuat semangkok ramyeon. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ia mengambil benda itu dari dalam tas dan langsung menempelkannya ke telinga begitu tau siapa yang menelepon.

“Yeoboseo?”

‘Kenapa kau meninggalkanku?’

“Mwo?” Yoon Hye mengerutkan alisnya bingung. Apa maksud pertanyaan laki-laki itu?

‘Aku sudah lama menunggumu, kau bahkan tidak menoleh ke arahku.’

“Ne? Apa maksudmu? Jangan membuatku bingung!”

Tiba-tiba saja Hyuk Jae tertawa, ‘Wajahmu sangat lucu, Yoon ah… Berbaliklah!’

“Mwo?” Yoon Hye mengerjap bingung sambil berbalik. Keningnya mengkerut saat melihat sosok seseorang yang memakai jaket coklat dengan topi sedang bersandar di sebuah mobil sambil melambai-lambaikan tangannya yang memegang ponsel. Gadis itu mematikan ponselnya saat tau siapa laki-laki itu lalu menghampirinya. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya setelah sampai di tempat laki-laki itu.

Hyuk Jae tersenyum lebar, “Tentu saja menunggumu.”

“Me__ apa? Kenapa?”

“Apa aku tidak boleh menunggumu?”

“Kenapa kau menungguku?”

“Tentu saja karena aku ingin bertemu denganmu.”

“Kenapa kau ingin bertemu denganku?”

“Karena aku merindukanmu…” jawab Hyuk Jae riang sambil tersenyum lembut.

Yoon Hye mengerjap pelan. Berusaha mencerna kalimat yang tidak bisa langsung diproses oleh otaknya itu. Apa telinganya rusak? Atau mungkin otaknya kelewat lelah hingga berimajinasi yang tidak-tidak?

“Kau sudah makan?” tanya Hyuk Jae, membuat pikiran gadis itu teralihkan.

Yoon Hye menggeleng pelan.

“Kalau begitu ayo kita makan!” ajak laki-laki itu riang, “Kau tunggu disini sebentar!”

Gadis itu hanya bisa menatap tidak mengerti pada Hyuk Jae. Apa yang sebenarnya akan dilakukan olehnya? Beberapa saat kemudian laki-laki itu kembali sambil mengayuh santai sebuah sepeda roda dua.

“Ayo, naiklah!”

Mata itu menatap sedikit ragu, “Aku tidak yakin… Ini pertama kalinya untukku. Kau yakin kita tidak akan jatuh nanti?”

“Jangan takut, ini sangat menyenangkan. Percayalah kepadaku!”

Saat menatap senyum laki-laki itu, Yoon Hye merasa ketakutannya menghilang. Gadis itu kemudian naik ke boncengannya sambil memegang baju Hyuk Jae dengan gugup.

“Karena ini pertama kalinya untukmu naik sepeda, kau harus berpegangan agar tidak jatuh,” tiba-tiba saja Hyuk Jae menarik kedua tangan gadis yang mencengkeram bajunya itu lalu melingkarkannya ke perut, “seperti ini!” ucapnya sambil tersenyum.

Dan saat sepeda itu bergerak secara tiba-tiba dengan kencang, membuat gadis itu langsung mempererat pelukannya membuat Hyuk Jae tertawa kecil.

“O-oppa… Berhati-hatilah,” ucap Yoon Hye gugup.

“Tenang saja! Lihat, bukankah ini menyenangkan?”

“Ne…”

Gadis itu menikmati angin musim panas yang hampir berakhir karena sebentar lagi sudah memasuki awal musim gugur.

“Kau ingin makan apa?” tanya Hyuk Jae sambil mengayuh sepedanya pelan.

“Tadinya aku akan membuat Ramyeon, tapi terserah kau saja.”

“Kau bisa membuat Bimbibab (nasi campur)? Aku ingin memakannya.”

“Tentu, tapi kita harus belanja dulu.”

“Itu artinya aku akan makan malam di apartementmu, kau tidak keberatan?”

Yoon Hye terdiam sejenak, “Waeyo? Bukankah kau sudah pernah ke sana?”

Hyuk Jae tersenyum kecil mendengarnya, “baiklah, ayo kita belanja dulu!”

Mereka belanja bersama di sebuah supermarket lalu membuat bimbibab di apartement Yoon Hye. Gadis itu memang tidak semahir Hyo ra saat memasak, tapi kalau hanya membuat Bimbibab ia sudah ahli. Dan sekarang, mereka berdua sedang duduk berhadap-hadapan dengan sepanci bimbibab di atas meja kayu kecil. Hyuk Jae meniup-niup Bimbibab yang ada disendoknya lalu memasukkannya ke dalam mulut.

“Eothe?” tanya Yoon Hye sambil menatap penasaran.

Laki-laki itu mengunyah lalu diam beberapa saat, “hmm… Mashita!!” jawabnya sambil tersenyum.

“Jjinja?”

“Mmm… Cobalah!” Hyuk Jae mengambil sesendok lagi lalu meniupnya sebelum mengulurkan ke hadapan Yoon Hye.

Gadis itu menatap sendok itu ragu. Bukan, bukan karena takut Bimbibabnya tidak enak. Tapi… bukankah sendok itu baru saja di pakai Hyuk Jae? Itu artinya…

“Ayo, cobalah! Palli!” desak laki-laki itu sambil mendekatkan sendoknya ke bibir Yoon Hye.

Gadis itu membuka mulutnya, menerima suapan dari laki-laki itu. mengabaikan fakta yang sebelumnya melintas di otaknya meskipun dengan wajahnya terasa panas sekarang.

“Bagaimana??” tanya hyuki semangat.

“Rasanya berbeda dari yang biasa kubuat… Apa karena kau menambahkan minyak wijen ke dalamnya? Ini lebih enak…”

“Apa menurutmu kita berdua pantas menjadi koki yang handal?”

Yoon Hye tertawa mendengarnya, “Kau ingin beralih profesi menjadi koki?” tanyanya dengan alis terangkat.

“Bagaimana menurutmu?”

“Mungkin restaurantmu akan sukses karena kau sudah punya banyak fans sebelumnya.”

Laki-laki itu tertawa kecil, “Aku tidak berniat untuk membuka restorant.”

Gadis itu menatapnya bingung, “Kau ingin jadi koki, tapi kau tidak ingin membuka restorant? Lalu apa yang kau inginkan?”

Hyuk Jae tersenyum lembut, “Cukup menjadi koki untuk istriku, itu sudah membuatku puas.”

Yoon Hye terdiam menatapnya, ah kenapa jantungnya lagi-lagi berdetak kencang?

“Ayo makan!!” seru Hyuk Jae sambil mulai menyuap Bimbibab lagi.
.
.
.

Lee Hyuk Jae menatap pemandangan kota Seoul dari balkon apartement Yoon Hye. Ia benar-benar merasa nyaman saat ini. Berada di sisi gadis itu membuatnya tenang. Berbeda dari yang sebelum-belumnya, meskipun ia dan Yoon Hye hanya melakukan kegiatan biasa bersama seperti makan, menonton, tapi tetap saja rasanya sangat menyenangkan.

Ia merasakan ponselnya di dalam saku celana bergetar. Cepat-cepat diambilnya benda itu dan mendapati sebuah pesan teks masuk.

‘Oppa kau di mana? Aku ingin bertemu denganmu.’

Hyuk Jae terdiam membaca pesan itu. Dari Hyeo Yeon. Apa yang harus dilakukannya? Tidak, bukankah mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Hyeo yeon lebih memilih laki-laki itu, dia yang meninggalkannya. Saat ini mereka hanya teman. Jadi ia bisa menolak ajakan gadis itu bukan?

“Ini untukmu!”

Suara gadis itu membuat Hyuk Jae tersentak kaget dan langsung menoleh. Yoon Hye sudah ada disebelahnya sambil membawa dua gelas minuman hangat. Cepat-cepat dimasukkannya ponsel itu kembali ke dalam saku celana lalu menerima segelas susu dari Yoon Hye.

“Susu strowberry?” tanya Hyuk Jae dengan alis terangkat.

“Waeyo? Bukankah kau suka itu?”

“Bagaimana kau tau aku menyukai susu strawbery?”

“Ah itu, Hyo Ra sering memanggilmu dengan nam StrawEun. Saat kutanya, dia bilang karena kau menyukai strawberry.”

“Gomawo,” ucap Hyuk Jae sambil tersenyum kecil “lalu, apa yang ada dalam gelasmu itu?”

“Ini teh hijau. Aku sangat menyukai teh.”

“Benarkah? Lalu apalagi yang kau suka?”

“Hmm… itu tergantung. Daripada apa yang ku suka, lebih mudah bagiku untuk mejawab apa yang tidak ku suka.”

“Baiklah, kita rubah pertanyaannya.” Saut Hyuk Jae, “apa yang tidak kau suka?”

“Aku tidak suka susu, kacang panjang, buncis dan papaya… Jangan tanya kenapa, aku juga tidak tau alasannya.”

Laki-laki itu tertawa kecil kemudian menyesap susunya, “Besok aku akan berangkat ke Paris.”

“Paris? Untuk apa?”

“Konser Smtown Global. Hanya tiga hari. Ah, aku pasti akan merindukanmu…”

Hening…

Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat.

“Oppa…” Yoon Hye memanggil pelan, memecah keheningan.

“Ya?”

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Untuk artis sepertimu, kurasa ini membuang-buang waktu. Aku bukan kekasihmu. Aku juga bukan teman dekatmu. Tapi kenapa kau selalu menghubungiku? Apakah kau memang seperti ini pada orang-orang yang kau kenal?”

“kau yang pertama!” saut Hyuk Jae langsung, “Artis juga manusia, yoon ah…”

“Ye?”

“Kau gadis pertama yang kuperlakukan seperti ini. ‘Kau bukan kekasihku’, ‘kau juga bukan teman dekatku’. Itu kau yang mengatakannya. jadi bagaimana kalau kita hilangkan kata ‘bukan’ dari kalimat-kalimat itu?”

Gadis itu menatap bingung, “Apa kau sedang mabuk?”

Hyuk Jae tergelak sambil meletakkan gelasnya pada dinding pembatas balkon, “Aku tidak mabuk, Yoon ah… Aku benar-benar sadar,” jawabnya sambil menatap gadis itu dalam, “jadi bagaimana? Bisa kita ubah kalimat itu menjadi ‘Kau kekasihku.’ Dan ‘kau juga teman dekatku.’? Aku ingin kau terus berada di sisiku.”

“M-maksudmu…”

“Aku ingin membuat semua ini menjadi nyata. Bahwa kau adalah kekasihku dan terus berada di sisiku. Jadi… Apakah aku harus berhenti menjadi penyanyi mulai sekarang?”

Oh dear… Gadis itu ingin sekali menampar dirinya sendiri untuk membuktikan bahwa semuan ini bukan mimpi. Tapi hal itu akan terlihat sangat konyol.

“Kenapa kau harus berhenti?” tanya Yoon Hye gugup.

“Karena aku tidak ingin mengacaukan hidupmu. Bagaimana? Aku bisa menjadi pengusaha atau guru dance saja.”

“Oppa_”

“Aku tidak ingin mendengar kau mengatakan kalau kita ini hanya berpura-pura. Aku ingin semua ini menjadi nyata. Karena itu, tetaplah disisiku, menjadi kekasihku!”

Yoon Hye diam beberapa saat, “Aku ingin kau tetap menjadi seorang penyanyi. Itu impianmu bukan? Jangan berhenti, tetaplah menjadi seorang penyanyi yang hebat.”

“Jadi… Kau menolakku?” tanya Hyuk Jae lirih.

“Aku tidak bilang seperti itu.”

“Lalu?”

Gadis itu hanya diam sambil menatapnya. Oh tidak, ia bisa gila kalau seperti ini. Tiba-tiba saja, perlahan dengan wajah memerah malu, gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Hyuk Jae. Berjinjit untuk memeluknya.

“Aku bersedia…”

Satu kalimat itu membuat Hyuk Jae menghembuskan nafas lega. Ia membalas pelukan gadis dan baru sadar bahwa sejak tadi ia menahan nafas.

“Kau tau? Bukankah ini seperti yang kau katakan dulu? ‘Aku tidak akan berkata apa-apa, tapi aku akan memelukmu dan berbisik ‘aku bersedia…’’. Benar?”

Gadis itu melepas pelukannya dengan gugup, “Kau tidak berfikir itu aneh?” tanyanya.

“Ani, na joahae. Karena aku tidak tau harus berbuat apa kalau kau mengucapkan kata maaf. Itu artinya kau tidak akan menerimaku.” Senyum Hyuk Jae, “ini adalah musim panas yang paling menyenangkan untukku. Rasanya aku tidak ingin pergi ke Paris besok. Yaa, bagaimana kalau kau ikut juga?”

“Yaa, mana boleh begitu?” Yoon Hye tertawa kecil.

“Saat aku pergi, kau harus menjaga diri dengan baik. Kau harus makan teratur dan tidur cukup! Aku tidak mau kau menjadi kurus karena selalu memikirkanku.”

“Mwo?” gadis itu mendengus pendek, “Kau hanya pergi tiga hari.”

Hyuk Jae tertawa, “Araseo…”

Laki-laki itu melepas sebuah kalung yang melingkar di lehernya lalu memakaikannya pada Yoon Hye, “Ini adalah pelindungku. Benda ini selalu menjagaku. Sekarang, aku ingin dia menjagamu.”

“Oppa…”

Hyuk Jae tersenyum lalu memeluk gadis itu lagi, “Aku benar-benar bahagia…”

“Terima kasih…” gumam Yoon Hye, “Untuk segala-galanya, terima kasih…”

Musim panas tahun ini akan mejadi awal untuk keduanya melangkah bersama. Memang tidak ada yang tau bagaimana musim panas tahun-tahun berikutnya. Tapi keduanya tau, musim panas kali ini adalah yang terbaik. Summer in seoul…

 

To Be Continue…

 

 

[Revisi 23 Nov 2014 ; 12.34 pm]