Tags

, ,

season of love

“Dia tidak boleh bersamamu. Kalian tidak boleh bersama. Sebelum hal ini terlalu jauh, lebih baik kalian berpisah.”

—————

Part 5

 

 

“Mss. Kim, tolong kau bawa ini ke fitting room lantai tiga nomor empat. Ada member SNSD di sana. Mereka akan mencoba design yang baru saja keluar,” pinta Miss. Wang, managernya sambil menyerahkan sebuah trolli berisi pakaian-pakaian.

“Ne,” ucap Yoon Hye sambil mengambil trollie itu lalu membawanya ke lantai tiga bersama bawahannya yang juga sedang membawa rak pakaian gantung.

Ia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ada sekitar sepuluh atau lebih gadis-gadis sedang duduk di sofa.

“Anyeong haseo, Kim Yoon Hye imnida. Saya membawa pakaian-pakaian yang akan kalian coba.”

“Oh, terima kasih,” ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat masih menawan. Sepertinya dia manager mereka.

“Ne, silahkan…”

Gadis-gadis itu mulai memilih-milih pakaian mana yang akan di ambil sementara Yoon Hye berdiri sambil memperhatikan mereka yang keluar masuk masuk fitting room.

“Kalau tidak salah, kau… pacar eunhyuk Oppa bukan?” tanya salah satu dari gadis itu tiba-tiba.

“Mwo? Jadi dia yang ada diberita-berita itu?” tanya gadis lain yang berdiri disebelahnya, “woaa… chukae, kau jadi terkenal sekarang.”

Yoon Hye tersenyum gugup. Kenapa tiba-tiba ia berada dalam situasi seperti ini?

“Aku Kim Hyoyeon,” ucap seorang gadis lainnya yang berambut coklat.

Yoon Hye menundukkan kepalanya sedikit, mencoba memberi salam.

“Kau tau siapa aku?” tanya Hyeyeon.

“Anda member SNSD.”

Hyoyeon tertawa kecil bersama temannya yang kini sedang memilih-milih baju.
“Aku adalah mantan kekasih Eunhyuk oppa.”

Gadis itu mengerjap kaget tapi kemudian tersenyum gugup. Ia masih tidak mengerti apa yang diinginkan oleh gadis-gadis itu.

“Hubungan kami masih sangat baik saat ini,” tambah Hyeo Yeon, “tidak ada yang ditutupinya dariku. Semua rahasianya aku tau,” katanya agak angkuh sambil menghampiri rak pakaian gantung.

Yoon Hye mengerutkan keningnya. Apa gadis itu ingin menunjukkan padanya kalau Yoon Hye tidak lebih banyak tau darinya tentang Hyuk Jae?

“Eh, sepertinya aku pernah melihatmu…” kata seorang gadis lain yang baru saja menghampiri rak sambil mengamati Yoon Hye dari atas hingga bawah membuatnya gugup.

“Tentu saja kau pernah melihatnya, Yuri ya. Dia kekasih Eunhyuk oppa!” saut teman Hye Yeon tadi. Tiffany.

“Jeongmal?”

“Kenapa kau heboh sekali? Ini hal biasa,” saut Hyeo Yeon ketus sambil masuk ke fitting room.

“Jangan diperdulikan,” bisik Yuri “dia memang seperti itu. Walaupun sudah pisah dengan Eunhyuk oppa dia masih menyukainya. Jadi kau harus berhati-hati.”

Yoon Hye menatap Yuri bingung sementara gadis itu hanya mengedipkan sebelah matanya.
Jadi Hyuk Jae pernah berpacaran dengan Hye Yeon? Hal itu membuat Yoon Hye merasa tidak nyaman. Entahlah, rasanya aneh memikirkannya. Gadis itu sangat cantik kau tau, tapi mengetahui bahwa dia masih menyukai Hyuk Jae, benar-benar mengusik pikirannya. Apakah Hyuk Jae juga masih menyukainya? Seberapa dekat hubungan mereka saat ini?
.
.
.

Gadis itu hanya mengaduk-aduk saladnya tanpa semangat. Rasa lapar yang tadi menyerangnya seakan hilang begitu saja. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Yeobseo?” jawabnya lemas.

‘Ada apa denganmu?’ tanya Hyuk Jae dengan nada cemas.

“Aniya… Gwenchana. Aku sedang makan sekarang.”

‘Apa kau sakit? Suaramu terdengar lemas.’

“Aniyo, hanya lelah saja. Kenapa meneleponku?”

‘Tidak boleh?’

“Bukan begitu…”

‘Aku sudah berada di bandara saat ini. Sebentar lagi aku akan masuk. Jadi aku ingin mendengar suaramu lebih dulu.’

“Oh…”

‘Yaa, apa kau baik-baik saja? Kau tidak sedih karena aku pergi bukan?’

Yoon Hye tertawa kecil, “Oppa… Kau ini percaya diri sekali?”

‘Senang rasanya mendengar tawamu lagi. Kau tau? Sebenarnya aku tidak ingin pergi, tapi aku harus.’

“Arayo… Kosentrasilah kepada pekerjaanmu, berikan yang terbaik.”

‘Tentu saja, karena itu kau juga harus memberiku semangat. Katakan ‘Figthing’ kepadaku!’

Yoon Hye tersenyum mendengarnya, “Oppa fighting!”

‘Tidak, tidak, tidak… Kau harus mengucapkan ‘Fighting yeobo! Saranghae!’ seperti itu.’

“Mwo? Aniyo!”

Hyuki tergelak di seberang, ‘Sudah kuduga. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu untukku, kau bisa?’

“Mmm… Jangan khawatir.”

‘Saranghae Kim Yoon Hye, sampai jumpa…’

“Sampai jumpa…”

Telepon terputus. Yoon Hye menatap ponselnya sejenak kemudian tersenyum. Ia melanjutkan memakan saladnya yang tertunda. Hanya dengan mendengar suara laki-laki itu saja semuanya terasa lebih baik.
.
.
.

“Oh, Jung Yong Hwa ssi? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yoon Hye begitu melihat seorang laki-laki sedang bersandar di dinding apartementnya.

“Aku menunggumu.”

“Ada apa?”

“Yoon ah, benarkah sudah tidak ada kesempatan untukku lagi?” tanyanya penuh harap.

Yoon Hye menghela nafas pelan, “Aku menyesal mengatakan hal ini, tapi maafkan aku Yong Hwa ssi… Kita sudah berakhir dan aku sudah memiliki orang lain.”

Laki-laki itu tersenyum pahit, “Baiklah, aku mengerti. Aku hanya ingin memastikan lagi sebelum aku mengikuti traine. Mungkin kalau kau berubah pikiran, aku akan menolak traine itu.”

“Kau di terima untuk mengikuti traine?”

“Mmm, FnC management menerimaku untuk mengikuti traine di Jepang.”

“Chukaeyo… Itu sangat bagus. Kau harus mengikutinya. Lakukan yang terbaik untukmu dan jangan memikirkanku lagi.”

“Araseo… Gomawo, Yoon ah. Sampai jumpa,” Yong Hwa tersenyum lemah kemudian berjalan pergi.

Gadis itu masih menatap punggung laki-laki itu hingga dia berbelok dan menghilang. Ia menghela nafas berat. Yong Hwa adalah kekasih pertamanya meskipun bukan cinta pertamanya. Laki-laki itu cukup baik hingga setahun yang lalu Yoon Hye memergokinya sedang kencan dengan gadis lain dan kebaikannya itu seolah-olah tidak ada artinya lagi. Ia mencintai laki-laki itu, tentu saja. Butuh waktu yang lama untuk melupakannya. Hingga saat hati Yoon Hye dalam keadaan netral dan mulai menerima kehadiran Hyuk Jae, laki-laki itu datang lagi.

Yoon Hye membuka pintu apartementnya lalu masuk ke dalam. Dinyalakannya lampu kemudian melempar jaket dan tasnya ke sofa. Ini awal musim gugur, angin bertiup lebih kencang. Karena itu ia mulai memakai jaket setiap kali pergi.

Ponselnya berbunyi ketika ia selesai mandi. Ada sebuah pesan masuk. Langsung dibukanya pesan itu. Sebuah gambar memenuhi layar ponselnya. Gambar pohon-pohon yang menggugurkan daunnya. Sungguh cantik. Daun itu berwarna-warni. Merah, kuning, coklat…
Dibawahnya terdapat sebuah pesan.

‘Autumn in Paris. Benar-benar cantik. Seperti dirimu yang dapat mewarnai hariku. Kau adalah gadis musim gugurku.’

Yoon Hye tersenyum membacanya, lalu cepat-cepat dibalasnya pesan itu, ‘Aku tidak ingin hanya menjadi gadis musim gugurmu yang selalu datang sekali setiap tahun. Aku ingin menjadi semua musim dan menghabiskan waktu bersamamu sepanjang tahun.’

‘Terima kasih sudah bersedia menjadi musim-musim dalam hidupku. Bogoshipo… Baiklah, saatnya perform. Kuhubungi lagi kau besok. Saranghae…’

Gadis itu tercenung menatap ponselnya. Tiba-tiba saja ia merasa tidak nyaman saat ini. Ada sesuatu yang membuatnya takut seolah akan ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Benda itu bergetar dalam genggaman tangan Yoon Hye.

“Yeobseo Appa?” jawab yoon hye saat ponsel itu sudah menempel di telinganya.

‘Yoon ah, kau sudah tidur?’

“Belum, ada apa appa?”

‘Hari senin besok, kau akan pulang?’

“Itu acara peringatan kematian kakek bukan? Tentu saja aku pulang appa.”

‘Kau akan kemari dengan laki-laki itu?’

“Aku tidak tau. Aku belum bertanya padanya.”

‘Baiklah kalau begitu, cepatlah tidur!’

“Ne…”

Yoon Hye meletakkan benda itu di samping bantal lalu segera mandi. Ia memutuskan untuk tidur walaupun ini belum pukul sepuluh lewat.

 

****

 

Lee Hyuk Jae baru saja tiba dib andara Incheon Korea sepuluh menit yang lalu. Ia bersama member yang lainnya sedang naik Van menuju dorm. Semuanya merasa lelah setelah penerbangan. Laki-laki itu mengambil ponsel lalu menekan angka sembilan.

‘Yeobseo?’ suara gadis itu terdengar di seberang sana tapi cukup membuatnya lega.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hyuk Jae.

‘Mmm… Aku sedang memasak. Kau sudah tiba di Korea?’

“Sepuluh menit yang lalu.”

‘Kalau begitu mampirlah ke apartementku! Aku memasak Mae Woon Tang (Sup Ikan Pedas) dan Stew Kimchi, kau suka?’

“Kedengarannya enak. Baiklah aku langsung ke sana!”

Hyuk Jae menutup ponselnya lalu menyandarkan kepalanya. Ia merasa lelah tapi bibirnya tidak lepas dari senyuman.

“Eunhyuk ah, kau tidak ikut kami makan bersama?” tanya Donghae.

“Mianhae, aku punya acara.”

“Kau akan menemui gadis itu?” tanya Leeteuk yang duduk di sebelahnya.

“Mwo?”

“Kim Yoon Hye ssi, kau akan menemuinya?”

Hyuk Jae tersenyum riang, “Ne…”

“Aku penasaran. Kalian ini hanya pura-pura atau…”

“Sepertinya kau benar-benar menyukainya, benarkan hyuk ah?” tanya Sungmin, “Ah, tidak perlu kau jawab. Kau membuat panggilan cepat di nomor sembilan untuknya, itu sudah menjawab semuanya.”

Laki-laki itu tersenyum semakin lebar.

“Memangnya kenapa dengan angka Sembilan, Hyung?” tanya Kyuhyun.

“Angka sembilan adalah angka tertinggi. Dalam permainan Basball, harus lengkap sembilan orang tidak boleh kurang. Jadi dia adalah nomor sembilanku, pelengkapku.”

“Eunhyuk ah, apa kau sakit?” tanya Yesung polos.
.
.
.

“Bagaimana perjalannanmu?” tanya Yoon Hye sambil menaruh semangkok Mae Woon Tang di atas meja, di hadapan Hyuk Jae.

Melihat gadis itu menunggunya sambil memasakkan makanan dan menanyakan perjalanannya membuat Hyuk Jae tersenyum, “Kau sudah seperti istriku saat ini.”

Kontan wajah gadis itu memerah, “Yaa, aku hanya bertanya!”

Hyuk Jae tertawa kecil, “Melelahkan, tapi menyenangkan. Mungkin akan lebih menyenangkan lagi kalau kau ikut bersamaku.”

Yoon hye tersenyum “Makanlah dulu!”

Mereka berdua menikmati makanan itu bersama. Meskipun sederhana, tapi makanan itu terasa sangat enak jika dimakan bersama-sama.

“Musim gugur di sana sangat indah…” kata Hyuk Jae sambil menyuap sepotong daging ikan.

“Jeongmal? Aku jadi ingin melihatnya. Musim gugur memang sangat indah… Rasanya sejuk, tenang, namun sendu. Aku menyukai perasaan itu. Seperti dalam penantian yang tidak berujung. Melihat daun-daun berguguran tertiup angin… Terlihat tenang namun hampa. Bisa juga di sebut kosong. Seperti jiwa yang tak terisi…” Gumam Yoon Hye dengan nada melamun tapi kemudian gadis itu tersentak sadar, “Ah maaf, aku berbicara melantur.”

Laki-laki itu tertawa melihatnya, “Kau pintar sekali menggambarkan suasana. Apa kau punya camera?”

“Untuk apa?”

“Apa kau punya?” desaknya.

“Tunggu sebentar!” Yoon Hye beranjak dari duduknya lalu menghampiri laci meja kemudian kembali lagi dengan sebuah camera mini di tangannya, “Hanya ada ini,” katanya sambil menunjukkan camera itu pada Hyuk Jae.

“Ini bagus!” jawab Hyuk Jae sambil mengambil camera itu lalu menghampiri Yoon Hye.

Laki-laki itu berdiri d ibelakang Yoon Hye yang sedang duduk di meja makan.

“Apa yang kau lakukan?”

Hyuk Jae agak merunduk, meletakkan dagunya di bahu gadis itu, “Berikan senyum termanismu!” katanya sambil menghadapkan kamera itu ke arah mereka berdua, “Hana, dul, set, kimchi!”

Terdengar suara jepretan dari kamera itu. Hyuk Jae mengambil foto yang baru saja keluar dari kamera itu lalu menatapnya sambil tersenyum.

“Apa aku terlihat aneh?” tanya Yoon Hye was-was.

“Kau terlihat manis,” sautnya sambil tersenyum, “Boleh aku meminjam bolpointmu?”

“Tunggu sebentar!” Gadis itu cepat-cepat pergi mengambilkan apa yang diminta Hyuk Jae.

Laki-laki itu menuliskan sesuatu di balik foto lalu memberikannya pada Yoon Hye. Gadis itu mengerutkan alisnya saat menatap tulisan itu.

Moi et rien n’allais dans ma vie… Bahasa apa ini?” tanyanya.

“Prancis.”

“Apa artinya?” tanya Yoon Hye bingung.

“Kau akan tau nanti,” jawab Hyuk Jae sambil melanjutkan makannya, “Kau ada acara besok?”

“Mmm aniyo, waeyo?”

“Mau menemaniku?”

“Kemana?”

“Ke tempat kelahiranku.”

“Kau tidak ada jadwal?”

“Aniyo, aku kosong.”

“Baiklah, di mana itu?”

“Kau akan tau nanti.”

“Aissh… Selalu saja begitu,” rajuk Yoon Hye, “kalau hari senin, apa kau ada waktu?”

“Aku ada variety show dan pemotretan. Kenapa?”

“Aniya… Appa menyuruhku mengajakmu saat pulang ke rumah untuk memperingati acara kematian kakek!!”

“Maafkan aku…” ucap Hyuk Jae dengan nada menyesal, “Jadwalku penuh, bahkan untuk bertemu denganmu pun mungkin aku tidak sempat.”

“Gwenchana… Jja, habiskan dulu makanmu!”

 

*****

 

Yoon Hye menatap laki-laki itu dari atas hingga bawah. Dia memakai Hoodie biru tua dengan topi besar yang menutupi kepala hingga sebagian wajahnya, ditambah celana jeans dan sepatu kets putih. Di lehernya tergantung sebuah camera.

“Eothe?” tanya Hyuk Jae.

“Hmm… Kalau ini dibilang penyamaran sepertinya cukup berhasil.”

“Masih ada lagi,” laki-laki tu mengeluarkan masker penutup mulut warna hitam lalu memakainya.

“Sempurna!” tawa Yoon Hye.

Hyuk Jae mendesah pelan, “Aku benci seperti ini, tapi ini tidak akan lama. Ngomong-ngomong, kau terlihat cantik hari ini,” ucapnya sambil melihat gadis di depannya yang memakai jaket panjang selutut warna coklat tua yang melapisi t-shirt putih sewarna dengan sepatu tanpa haknya. Sebuah syal kotak-kotak putih biru melingkar di lehernya. Kacamata beningnya bertengger manis di hidung dan rambut bergelombangnya membuatnya terlihat lebih manis.

“Hanya hari ini?”

“Bukan begitu… Sudahlah, itu tidak penting. Yang terpenting untukku adalah keberadaanmu di sisiku.”

Gadis itu tersenyum, “Baiklah… Jja, kita berangkat!”

Ternyata Lee Hyuk Jae membawa gadis itu pergi ke Neunggok, Goyang. Tempat kelahiran laki-laki itu. Sebelumnya mereka harus naik train bawah tanah selama tiga jam, kemudian menuju halte bus dan menunggu cukup lama. Saat sebuah bus muncul, mereka cepat-cepat masuk ke dalamnya. Cukup sepi, hanya ada seorang ajhusi yang sedang tidur di bangku belakang dan dua orang ajhuma yang sedang mengobrol dengan menggunakan dialek daerah.

Yoon Hye dan Hyuk Jae memilih bangku bagian tengah. Setelah mereka duduk, laki-laki itu melepaskan masker juga tudung jaketnya, “Aah… Akhirnya aku bisa bernafas bebas,” desahnya.

“Pasti melelahkan menjadi dirimu. Harus menyembunyikan identitas dan tidak dapat keluar dengan leluasa,” gumam Yoon Hye.

“Itu sudah resiko, dari awal aku sudah tau itu. Mau bagaimana lagi…” senyum Hyuk Jae, “Perjalanan ini cukup lama, mungkin sejam lagi kita baru tiba di rumah nenekku.”

“Tidak masalah, ini pertama kalinya aku kemari…”

“Jeongmal? Kau pasti suka, ada kebun buah Pear di sana.”

“Aku tidak sabar ingin melihatnya,” saut Yoon Hye semangat.

“Karena ini pertama kalinya untukmu, ayo kita mengambil foto!” Hyuk Jae mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua dan menjepretnya.

“Kau suka memotret?”

“Sebenarnya ini karena Siwon. Dia suka memotret, jadi aku mengikutinya.”

Yoon Hye tertawa kecil kemudian menyadari bahwa kaca jendela bus itu dihiasi oleh tetesan-tetesan air.

“Hujan…” ucapnya penuh kekaguman.

“Kedengarannya kau sangat menyukai hujan.”

Gadis itu menoleh lalu tersenyum. “Ya…” jawabnya lalu kembali menatap kaca jendela bus yang penuh dengan air karena hujan semakin deras.

Hyuk Jae melingkarkan lengannya pada bahu gadis itu, membuat Yoon Hye otomatis menyandarkan kepalanya pada laki-laki itu sambil tetap memandang hujan.

“Kenapa kau suka hujan?” tanya Hyuk Jae pelan.

“Bagiku hujan itu terasa dingin dan menusuk. Aku menyukainya, rasanya seperti akan menghapus semua rasa sakit dan semua beban, seolah-olah terhapus bersama guyuran air hujan. Menenangkan… Kau dengar suaranya? Itu sangat menenangkan. Seperti meredam luka yang perih dan aromanya benar-benar enak. Bagiku hujan seperti obat.”

Laki-laki itu tersenyum lembut, “Kau menyukai sesuatu yang bersifat dingin. Biar ku tebak, kau pasti menyukai musim dingin juga. Benar bukan?”

“Mmm… Aku menyukai salju.“

“Jjagi, kau suka menulis?”

Yoon Hye menoleh terkejut sambil membulatkan matanya, “Jjagi?”

“Kenapa? Tidak boleh?” tanya Hyuki Jae sambil tersenyum.

“A-ani… Hanya saja… tidak terbiasa,” jawab Yoon Hye gugup lalu kembali menatap keluar jendela saat dirasakan wajahnya terlalu dekat dengan laki-laki itu. “Kau tau, tempat ini sangat menenangkan. Jauh dari keramaian,” tambahnya sambil menatap kebun selada yang luas di sepanjang jalan. Hujan sudah berubah menjadi gerimis kecil, semuanya terlihat basah dan segar “Terima kasih sudah membawaku kemari.”

Yoon hye merasa Hyuk Jae menempelkan hidungnya pada puncak kepalanya, menciumnya lama, “aku yang harus berterima kasih. Terima kasih sudah membawaku ke dalam hidupmu.”

Gadis itu tersenyum, namun dalam hatinya ia gelisah. Entahlah, setiap ia memikirkan bersama laki-laki itu, tiba-tiba saja hatinya menjadi tidak tenang. Ia merasa seperti semuanya tidak akan bertahan lama, semoga saja tidak.

Akhirnya mereka tiba di rumah nenek Hyuk Jae saat hari hampir siang. Mereka mengobrol dengan nenek sebentar kemudian menemui kakek di kebun buah Pear. Masih belum ada yang berbuah, namun sudah berbunga semua. Sangat indah… Bunga-bunga putih itu sangat cantik. Mereka bermain-main di sana sebentar lalu pergi ke sungai terdekat. Airnya sangat jernih dan dangkal. Banyak batu-batu besarnya.

Setelah itu mereka makan siang bersama di rumah kakek dan nenek dan pulang saat hari hampir sore.

“Oppa, desamu sangat menyenangkan. Aku ingin kemari lagi lain kali,” kata Yoon Hye saat mereka sudah ada dalam bus perjalanan pulang.

“Tentu saja… Saat buah pear panen nanti, kita harus kemari lagi!”

“Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih.”

“Terima kasih juga karena sudah menemaniku.”

 

****

 

Ruang pemotretan itu terlihat ramai. Member Super Junior sedang melakukan pemotretan bersama member Snsd untuk sebuah majalah fashion.

Lee Hyuk Jae sedang duduk di sofa, menunggu giliran sambil menatap ponselnya. Gadis itu baru saja memberitahunya bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya untuk memperingati acara kematian kakeknya.

“Boleh aku duduk disini?” tanya seseorang.

Laki-laki itu mengangkat wajah dan melihat Hyeo Yeon sedang berdiri menatapnya, menunggu jawaban. “Tentu saja…” senyumnya.

Gadis itu mengambil tempat kosong di sebelah Hyuk Jae sambil minum sekaleng soda. “Oppa, kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?” tanyanya.

“Mianhae… Kau lihat sendiri bukan, kita sama-sama sibuk.”

“Kau tidak menghindariku bukan?”

“Ne? Tentu saja tidak, kenapa aku harus menghindarimu?” jawab Hyuk Jae sambil tertawa kecil.

Hyeo Yeon mendesah pelan, “Aku sudah bertemu dengannya.”

“Nuguya?”

“Kekasihmu… Sepertinya dia gadis yang pendiam, juga lugu.”

“Oh, geure?”

“Tipe gadis yang mudah diputus. Kau tidak bosan saat bersamanya?”

Lee Hyuk Jae menoleh sambil menatap tajam, namun gadis itu sedang tidak menatapnya, “Aku lebih banyak tau darimu tentangnya. Bagaimana kabar kekasihmu?” tanyanya mengalihkan perhatian.

“Kekasih? Nugu? Park Dong Suk? Aku dan dia sudah putus. Tepat ketika kita putus.”

Laki-laki itu mengerjap kaget, “Waeyo?”

Hyeo Yeon tersenyum kecut, “Karena aku lebih mencintaimu. Hari itu aku saat kau melihatku sebenarnya aku sedang memberikan ciuman terakhirku. Aku memutuskannya karena tidak ingin berpisah denganmu. Tapi aku tidak menyangka kau lebih dulu melihat kami dan sangat marah”

“kau__”

“Eunhyuk ssi, giliranmu!” teriak Manager Hyung memotong kata-kata Hyuk Jae.

Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu beranjak dari duduknya lalu pergi ke tempat pemotretan sementara Hye Yeon masih menatapnya dengan raut wajah sendu.
.
.
.

Setelah memberi hormat pada foto mendiang kakeknya, Yoon Hye bersama keluarganya makan malam bersama. Ibu tirinya ternyata masih ingat sup jagung kesukaannya.

“Bagaimana kabar Yoon Ra?” tanya appanya.

“Yoon Ra eonni baik-baik saja appa. Dia menitipkan salam untukmu dan menyesal karena tidak bisa berkunjung kemari. Pekerjaannya sangat padat.”

“Syukurlah dia baik-baik saja.”

“Nonna, apa kau akan menginap disini?” tanya Hae Jong, adik tiri Yoon Hye dari pernikahan appa dan eomma tirinya yang sekarang yang masih berumur delapan tahun.

“Menginaplah di sini, Yoon ah… Ini sudah malam,” tambah eomma tirinya.

“Ne, eomma.”

“Nonna, kau harus mengajariku menggambar nanti!” seru Hae Jong semangat.

Gadis itu tertawa kecil, “Tentu!”

“Berikan aku sup telur itu!” pinta appa Yoon Hye sambil mengulurkan sebuah mangkok kecil.

Yoon Hye mengambil mangkok itu lalu mengambilkan sup untuk appanya, “Ini appa, makanlah yang banyak. Kau tidak boleh sakit lagi.”

“Siapa bilang appa sakit? seharusnya yang makan banyak itu adalah dirimu. Lihat, kau kelihatan kurus,” saut appa Yoon Hye sambil menatap putrinya. Namun tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah benda yang dipakai oleh gadis itu.

“Jeongmalyo?” tanya Yoon Hye.

Appa Yoon Hye tidak menjawab. Ia meletakkan sendoknya di meja dengan tiba-tiba, “selesai makan, temui aku di kamar!” ucapnya datar kemudian beranjak pergi tanpa menyelesaikan makannya.

“Appa, waegeure?”

“Ada apa dengannya?” tanya Eomma tirinya sementara Yoon Hye hanya bisa menatapnya tidak mengerti.
.
.
.

Pria itu sedang duduk di atas tempat tidurnya sementara gadis di hadapannya itu menatap tidak mengerti. Begitu juga dengan istrinya yang duduk tidak jauh dari sampingnya.

“Appa, ada apa?” tanya Yoon Hye pelan.

“Kalung itu, dari mana kau mendapatkannya?”

“Ye?” Yoon Hye menunduk melihat kalung yang sedang dipakainya.

“Darimana kau mendapatkannya?”

“Ini… Hyuk Jae oppa yang memberikannya padaku. Kenapa?”

“Apakah itu miliknya?”

“Ya… Sebenarnya ada apa, appa?”

“Tinggalkan laki-laki itu!”

Gadis itu menatap terkejut, “Mwo?”

“Kubilang tinggalkan dia!” ulang pria itu sambil memalingkan wajahnya. Enggan menatap putri di hadapannya.

“Ta-tapi kenapa?”

“Dia tidak boleh bersamamu. Kalian tidak boleh bersama. Sebelum hal ini terlalu jauh, lebih baik kalian berpisah.”

“Kenapa appa berkata seperti itu? Aku tidak mengerti. Apa masalahnya? Kenapa kami harus berpisah?”

“Karena dia putra dari Min Jung Ah.”

“Min Jung Ah nuguseo? Apa hubungannya appa?”

Lagi-lagi pria itu menghembuskan nafas berat. Ia membuka sebuah laci nachkast yang tidak jauh dari tempatnya lalu mengeluarkan sebuah kotak. Dibukanya kotak itu lalu menunjukkan pada Yoon Hye apa isinya.

Gadis itu terkejut melihat benda yang diberikan appanya.

“Lepaskan kalungmu!” perintah pria itu.

Masih dengan perasaan bingung, Yoon Hye menurutinya. Ia melepas kalung milik Hyuk Jae lalu diberikannya pada sang appa. Pria itu kemudian menyatukan bandul kedua kalung itu yang membentuk sebuah persegi dengan gambar lingkaran yang ada burung bangau ditengah-tengahnya.

“Ini adalah warisan dari mendiang uri haraboji. Harus diberikan kepada anak laki-laki pertama yang lahir dari keluarga Kim.“

“Anak laki-laki pertama… Aku tidak mengerti,” gadis itu masih mentap menuntut penjelasan lebih.

“Kami saling mencintai dulu. Aku dan Min Jung Ah. Tapi orang tuanya tidak setuju. Karena kesalahanku, dia hamil. Aku sama sekali tidak tau hingga bayi itu sudah berumur lima bulan. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah memberikan apa yang menjadi haknya. Kalung itu.”

Yoon Hye terkesiap. Ia menutup mulut sambil memandang ayahnya tidak percaya, “Jadi anak laki-laki pertama itu…”

“Itulah sebabnya kenapa kalian tidak boleh bersama. Dia adalah putraku. Anak yang lahir dari rahim Min Jung Ah.”

“Ini tidak mungkin… Tidak mungkin…” Hati Yoon Hye terasa runtuh. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? “Katakan itu tidak benar appa! Tidak mungkin dia putramu. Ini pasti tidak benar…”

“Mianhae, Yoon ah… Ini semua benar. Kau bisa menanyakannya pada laki-laki itu siapa orang tuanya. Mianhae… Appa mohon, jangan mencintainya.”

“Itu tidak benar!!” teriak gadis itu lalu berlari pergi.
.
.
.

Yoon Hye tidak bisa menahan air matanya. Bagaimana bisa orang laki-laki yang dicintainya tiba-tiba saja menjadi kakaknya? Ini pasti mimpi…

Gadis itu berhenti di sebuah halte. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi laki-laki itu. Sekali, dua kali tidak di jawab. Akhirnya ia hanya bisa tercenung. Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

“Oppa?”

‘Mmm… Wae?’

“Siapa… Siapa nama eommamu?” tanya Yoon Hye dengan suara bergetar.

‘Kenapa tiba-tiba__’

“Jawab saja! Si-siapa namanya?”

‘Uri eomma… Min Jung Ah. Namanya Min Jung Ah.’

Tangan Yoon Hye terkulai lemas. Seluruh tenaganya terasa hilang. Air matanya mengalir semakin deras. Satu jawaban itu cukup untuk membuktikan semuanya. Cukup untuk menghancurkan semuanya. Gadis itu terisak hebat. Ia tetap berdiri di sana meskipun tetesan-tetesan hujan mulai turun. Tidak lama, sebuah bus berhenti. Ia masuk ke dalamnya dengan pikiran kosong.

Yoon Hye turun di halte berikutnya lalu berjalan pelan melewati deretan pertokoan yang sepi. Meskipun tidak begitu deras, hujan yang mengguyur kota Seoul membuat orang-orang memilih tinggal di dalam rumah. Tubuhnya terasa menggigil. Ia berhenti didepan sebuah toko electronic dengan pajangan banyak televise di balik dinding kacanya. Televisi-televisi itu sedang menampilkan sebuah acara yang ada Hyuk Jae di dalamnya.

Gadis itu tercenung menatap salah satu layar televise itu. Seorang MC menantang Hyuk Jae untuk menghabiskan dua piring besar Kimchi Lobak yang rasanya benar-benar pedas.

“Apa kau yakin bisa menang?” tanya sang MC.

“Tentu saja aku harus menang.”

“Eunhyuk ah, kau tidak boleh membuat kekasihmu malu!” saut salah satu bintang tamu.

“Aku tidak akan membuatnya malu, demi dia aku akan menghabiskan makanan mematikan ini,” semua orang tertawa riuh.

“Bagaimana kalau dia memintamu untuk melompat ke laut? Apa kau bersedia?”

“Tentu saja… kalau dia mengatakan itu dari mulutnya sendiri, aku akan melakukannya!”

“Wow Eunhyuk ah, kau membuatku terpesona!”

“Ah jeoseonghamnida, aku tidak bisa membalas perasaanmu,” seluruh orang tertawa lagi.

Yoon Hye membekap mulutnya yang terisak. Hatinya tersasa hancur. Sesak… Bahkan hujan yang kini mengguyur tubuhnya tidak bisa menghapus perih itu. Sakit… Gadis itu memaksa kakinya untuk melangkah pergi. Ia sudah tidak tau lagi ada di mana sekarang. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Kepalanya begitu berat lalu semuanya menjadi gelap.

 

 

To be continue…

 

[Revisi 23 Nov 14 ; 12.44 pm]