Tags

, ,

season of love

“Itu bahasa prancis. Artinya, aku dan segala yang kuinginkan dalam hidupku.”

———————-

Part 6

 

 

Lee Hyuk Jae berdecak kesal saat mendengar suara operator yang menjawab teleponnya. Gadis itu sangat aneh saat bertanya nama eommanya. Lalu ponselnya tiba-tiba mati. Nomor gadis itu tidak aktif. Apa yang terjadi? Bukankah dia sedang berada di rumah appanya? Apakah dia belum pulang? Akhirnya Hyuk Jae memutuskan untuk pergi ke apartement Yoon Hye setelah acara yang diikutinya berakhir, tapi gadis itu tidak ada di sana.

“Kau tau dimana dia?” tanya Hyuk Jae saat menemui Lee Hyo Ra di caffe-nya.

Hyo Ra menatap terkejut, tidak menyadari keberadaannya sebelumnya. “Bukankah dia ada di rumah appanya?” tanya gadis itu balik.

“Kenapa dia belum kembali hingga jam segini?”

“Lee Hyuk Jae ssi, mungkin saja dia menginap di sana. Lagipula Yoon Hye jarang sekali pulang ke rumahnya.”

“Tapi ponselnya tidak aktif.”

“Mungkin dia lupa membawa charger? Atau ponselnya bermasalah? Jangan khawatir, dia pasti baik-baik saja. Tapi… Aku jadi curiga…”

Hyuk Jae mengerutkan keningnya bingung. Gadis itu menatapnya sambil menyipitkan mata. “Wa-waeyo?

“Setahuku, Yoon Hye hanya sebagai kekasih pura-puramu. Tapi kenapa kau memperlakukannya seperti kekasih sungguhan? Aku tidak ingin ada masalah nantinya!”

Mendengar itu, Hyuk Jae langsung tersenyum, “Dia tidak pernah cerita kepadamu?” tanyanya heran.

“Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Hyo Ra langsung.

“Kami sudah tidak berpura-pura lagi!”

Gadis itu membulatkan matanya, “Jeongmalyo? Kau benar-benar serius dengannya? Kau tidak main-main__”

“Percayalah…” potong Hyuk Jae, “aku serius dengannya. Kalau tidak, tidak mungkin aku sekhawatir ini padanya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata membuat Hyo Ra ternganga lebar.

“Ini seperti mimpi…”

Hyuk Jae tertawa renyah, “Baiklah, aku pergi dulu. Jika dia menghubungimu atau kau bertemu dengannya, katakan aku mencarinya!”

“Neee…”

“Sampai jumpa…”

“Mmm…”

Laki-laki itu melangkah meninggalkan caffe Hyo Ra lalu pulang ke dorm meski hatinya masih belum tenang. Perasaannya tidak enak saat ini.

 

*****

 

Gadis itu mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya terasa sakit. Ia menatap ruangan itu sambil mencoba bangun. Ini bukan apartementnya. Di mana dirinya saat ini?

“Kau sudah sadar?”

Yoon Hye terkesiap mendengar suara laki-laki itu. Kepalanya langsung berputar ke asal suara dan melihat seorang laki-laki menghampirinya sambil membawa secangkir minuman. Ia langsung merasa takut. Siapa laki-laki itu? Kenapa Yoon Hye bisa di sini? Apa yang terjadi?

“Jangan menatapku takut seperti itu,” laki-laki itu tersenyum geli, “aku ini pria baik-baik.”

Kata-kata laki-laki itu malah membuat Yoon Hye semakin takut. Tiba-tiba gadis itu menyadari sesuatu, “Bajuku??” serunya kaget, “Kenapa berubah??”

“Karena kemarin kau basah kuyup, terpaksa aku meminta tolong ajhuma di apartement sebelah untuk mengganti pakaianmu! Aku tidak punya baju wanita jadi terpaksa kuberikan kaosku. Kau bisa sakit kalau memakai pakaian yang basah terus.”

“Be-benarkah?”

“Aku berani bersumpah,“ jawab laki-laki itu lembut, “Kemarin aku hampir saja menabrakmu karena kau tiba-tiba pingsan di depan mobilku. Karena itu aku terpaksa membawamu ke apartementku. Ponselmu mati terkena air dan kau tidak membawa kartu identitas, jadi aku tidak tau harus menghubungi siapa.”

Yoon Hye tercenung. Semalam dia… Tidak itu semua hanya mimpi. Itu semua tidak nyata. Tanpa sadar air matanya jatuh. Rasa sakit itu kembali mendera hatinya. Kenapa ia terbangun lagi? Akan lebih baik kalau dia tidak bangun lagi.

“Ada apa? Apa kau terluka? Mana yang sakit?” tanya laki-laki itu panik.

Gadis itu malah semakin terisak, “Biarkan aku sendiri… Jebal…” isaknya lirih sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Baiklah. Aku ada di dapur. Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja aku. Minumlah teh-mu dulu.” Laki-laki itu meletakkan secangkir teh yang dibawahnya di atas nackhas lalu meninggalkan gadis itu sendiri.

Yoon Hye tidak menjawab. Bibirnya terlalu kelu. Dadanya terasa sesak. “Kenapa harus aku appa…?” gumamnya lirih.
.
.
.

Laki-laki itu datang sambil membawa pakaian yoon hye yang sudah kering saat gadis itu sudah tenang. Sepertinya dia sedang melamun hingga tidak menyadari kedatangannya.

“Pakaianmu sudah bersih. Kau bisa memakainya lagi,” kata laki-laki itu pelan.

“Oh, jeongmal kamsahamnida…” balas gadis itu pelan.

“Bisakah kau memberikan lenganmu?”

Yoon hye menatap bingung. Ia tidak mengerti maksud laki-laki itu.

“Biar kulihat nadimu,” sambung laki-laki itu sambil tersenyum.

Dengan ragu Yoon Hye mengulurkan tangannya, “apa kau seorang dokter?” tanyanya.

“Mmm,” laki-laki itu mengangguk pelan sambil memeriksa deyut nadinya. “Siapa namamu?” tanyanya.

“Yoon Hye, Kim Yoon Hye imnida…”

“Aku Taguchi Junnosuke. Orang-orang biasa memanggilku Junno.”

“Taguchi junnosuke?” gadis itu menatap sedikit terkejut.

“Mmm, waeyo?”

“Apa kau dulu bersekolah di Seoul Junior High School?”

“Bagaimana kau tau?” tanya Junno heran.

Yoon Hye tersenyum tipis, “Kau adalah sunbaeku. Satu-satunya sunbae yang berasal dari Jepang”

“Jeongmalyo?”

“Ne… Dulu kau pernah menolongku untuk mencari gelangku.”

“Aku tidak ingat kejadian itu. Tapi, senang bertemu denganmu Yoon Hye ssi.”

Yoon Hye tersenyum, “Tidak apa-apa, itu sudah lama sekali. Sudah sepuluh tahun lebih.”

“Baiklah, aku harus ke rumah sakit sebentar lagi. Tidak apa-apa kalau kau masih ingin di sini lebih lama.”

“Aniyo… Aku akan pulang. Terima kasih sudah menolongku.”

“Gwenchanayo… Jja, biar kuantar kau pulang.”
.
.
.

Pagi itu Hyuk Jae kembali datang ke apartement Yoon Hye. Tapi gadis itu masih belum ada. Ia menghubungi Lee Hyora tapi gadis itu mengatakan Yoon Hye belum menghubunginya sama sekali. Satu-satunya cara untuk memastikannya adalah pergi ke rumah orangtua gadis itu.

“Dia tidak pulang ke apartementnya?” tanya appa Yoon Hye terkejut.

“Ne, bukankah dia di sini? Ponselnya tidak aktif sejak semalam karena itu saya kemari bermaksud untuk menjemputnya,” jawab Hyuk Jae saat sudah berada di rumah orangtua gadis itu.

Pria itu menatap Hyuk Jae gusar kemudian merogoh saku celananya. “Ini milikmu, benarkan?” tanyanya sambil mengulurkan kalung yang kemarin dipakai oleh putrinya.

“N-ne…” jawab Hyuk Jae bingung,”bagaimana ini bisa ada pada anda?”

“Kau… Mulai sekarang jauhi putriku. Kalian tidak bisa bersama lagi.”

Hyuk Jae menatap terkejut. Kenapa tiba-tiba… “Ajhusi apa maksud anda?”

“Kalian tidak boleh bersama lagi.”

“Waeyo? Kenapa tiba-tiba… Apa saya melakukan hal yang salah?”

“Tidak… Kau tidak salah.”

“Lalu kenapa? Saya mencintai putri anda.”

“Karena itulah kau tidak boleh bersamanya. Karena kau mencintai putriku.”

“Tapi kenapa? Saya tidak mengerti…” Hyuk Jae benar-benar bingung sekarang.

“Karena kau adalah putra Min Jung Ah yang artinya kau adalah putraku juga. Kau adalah darah dagingku.”

“M-mwo?”

“Ini adalah kebenarannya.”

“Anda bohong! Mana mungkin aku adalah putramu? Anda berbohong!” teriak Hyuk Jae.

“Tanyakan kepada ibumu. Dia pasti mengerti. Mulai saat ini, jauhi Yoon Hye demi kebaikan kalian. Dia adalah adikmu.”

Hyuk Jae seperti tertampar mendengar hal itu. Ini semua mustahil untuknya. Ia tidak percaya. Ia benar-benar tidak percaya. Pikirannya kacau. Apa karena hal ini Yoon Hye menanyakan nama eommanya semalam? Gadis itu sudah tau. Tidak, Hyuk Jae tidak akan percaya sebelum berbicara dengan eommanya.

“Oh, hyuki, kau pulang?” sambut wanita cantik itu dengan ceria saat melihat Hyuk Jae.

“Eomma, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu.”

“Apa itu? Duduklah, kau sudah makan? Eomma sedang membuat sup daging.”

“Aku tidak bisa lama-lama di sini, eomma.”

Wanita itu menghentikan gerakannya lalu menatapnya, “Ada apa?”

“Apa aku bukan anak kandung appa?”

Sendok yang dibawa wanita itu langsung meluncur membentur lantai begitu kalimat itu keluar dari bibir Hyuk Jae, “Si-siapa yang memberitahumu?”

Hyuk Jae merasa dihantam beton saat mendengar kalimat, “Seharusnya eomma menjawab itu tidak masuk akal. Seharusnya eomma menjawab itu hal yang konyol. Jadi semua itu benar?” tanyanya lirih.

“Mianhae… Hyuk ah…”

Laki-laki itu melangkah pergi dengan rasa sakit yang luar biasa. Ini semua pasti hanya mimpi untuknya. Ini tidak benar. Ia ingin berteriak keras saa ini. Ia ingin menyangkal semuanya. Disetirnya mobil itu dengan kecepatan tinggi. Telepon dari Manager Hyung dan member lain tidak diangkatnya. Ia harus bertemu dengan gadis itu dulu, sekarang.
.
.
.

Kim Yoon Hye membungkukkan badannya kepada Junno saat mereka sudah sampai di depan gedung apartemennya, “Terima kasih sudah menolongku, Junno ssi.”

“Tidak perlu sungkan. Baiklah aku harus pergi, sampai jumpa Yoon Hye ssi.”

Junno masuk kembali lagi ke dalam mobilnya kemudian pergi. Mata gadis itu masih terus menatapnya hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.

Taguchi junnosuke. Nama yang tidak mungkin dilupakannya. Nama milik seorang yang selalu ingin ditemuinya dari dulu. Tapi mengapa takdir mempertemukannya dengan cara seperti ini? Saat hati Yoon Hye sudah terpaku pada satu nama, Lee Hyuk Jae.

Kenapa tidak Junnosuke yang lebih dulu ditemuinya? Kenapa bukan dia? Junnosuke adalah cinta pertama gadis itu. Yoon Hye merasa dadanya kembali berdenyut nyeri. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dihidupkannya kembali benda itu setelah mati kena air kemarin. Untunglah masih bisa berfungsi setelah dikeringkan.

Gadis itu langsung menghubungi sebuah nomor setelah ia membaca pesan yang baru masuk ke dalam ponselnya. Dari appanya.

“Yeobseo appa… Aku sudah di apartement sekarang. Untuk yang semalam, kumohon jangan katakan apapun padanya… Mwo? Dia sudah tau?” Yoon Hye mendesah pelan, “Baiklah, aku mengerti appa.”

Mata hitam itu masih menatap ponselnya terdiam. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Angin musim gugur yang biasanya terasa sejuk, kini menjadi dingin. Menusuk hatinya yang terasa nyeri. Tiba-tiba saja benda dalam genggamannya itu berbunyi. Ia melangkah pelan masuk ke dalam gedung apartementnya sambil menjawab panggilan itu.

“Oh, Hyora ya? Aku ada di apartement sekarang…” gadis itu terdiam mendengar pertanyaan dari temannya, “Apa aku baik-baik saja? Apa… aku baik-baik saja? Ani Hyora ya… Aku tidak baik . sama sekali tidak baik…” tangan Yoon Hye terkulai. Dadanya benar-benar terasa sesak. Jantungnya seperti diremas dengan kuat. Dengan sisa-sisa kekuatannya ia membuka pintu apartementnya lalu masuk ke dalam. Begitu pintu tertutup, tubuhnya luruh seketika.

Yoon Hye terisak. Bagaimana bisa ini semua terjadi? Bagaimana bisa mereka bersaudara? Bagaimana bisa?

Lee Hyora datang seperempat jam kemudian. Gadis itu membukakan pintu dengan lemah dan seketika mendapat teriakan. “OMOO… kim yoon hye, Waegure?? Kenapa tampangmu seperti ini?”

“Kau benar… aku harus mandi dulu,” gumam Yoon Hye dengan nada melamun.

Hyora mengerutkan keningnya, “Kau terlihat aneh, apa kau sudah makan? Akan kubuatkan sesuatu untukmu,” kata gadis itu tapi sepertinya tidak di dengar Yoon Hye karena dia sudah masuk ke dalam kamar mandi.

Gadis itu mengambil ponselnya setelah memastikan Yoon Hye ada di dalam kamar mandi. Ia menghubungi seseorang dengan cepat lalu mulai membuat roti panggang. Tidak lama kemudian, bel berbunyi saat ia baru saja menggoreng telur. Cepat-cepat dibukanya pintu apartement Yoon Hye, “Oh, kau sudah datang…?” sapa Hyora, “masuklah!”

“Di mana dia?” tanya Hyuk Jae cemas sambil mengikuti Hyora yang berjalan ke dapur.

“Sedang mandi. Duduklah, kenapa kau begitu cemas? Dia tidak akan hilang,” jawab Hyora sambil tertawa geli, “akan kubuatkan kopi untukmu!”

Hyuk Jae duduk dengan gelisah, rasanya lama sekali menunggu gadis itu menyelesaikan mandinya. “Bagaimana keadaannya??” tanyanya cemas.

“Sebenarnya ada apa? Apa ada sesuatu yang belum kuketahui?” tanya Hyora tepat ketika pintu kamar mandi terbuka.

Yoon Hye yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk tertegun sejenak saat melihat ada Hyuk Jae di meja makannya. Ia tersenyum lalu meneruskan kegiatannya mengeringkan rambut, “Kebetulan sekali kita berkumpul di sini. Ayo sarapan bersama!” ucapnya riang, terlalu riang.

Lee Hyora mengerutkan keningnya, “Tidak biasanya kau seperti ini…” komentarnya tanpa menyadari Hyuk Jae yang menatap nanar.

Yoon Hye mengambil tempat dihadapan Hyuk Jae, kemudian hyora ikut bergabung sambil meletakkan sepiring roti panggang isi telur di atas meja.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyuk Jae pada gadisnya.

“Tentu saja sangat baik. Kau sendiri?”

“Tidak. Aku tidak baik. Benar-benar tidak baik.”

Hyora tertegun mendengar jawaban Hyuk Jae, “Yaa, bukankah kau juga mengatakan seperti itu tadi di telepon?” tanyanya sambil menatap Yoon Hye. “Sebenarnya ada apa?”

“Ah, aku lupa kau belum tau,” saut Yoon Hye santai “Aku adalah dongsaeng Hyuk Jae oppa, benar bukan oppa?”

Laki-laki itu hanya bisa menatap terluka, jantungnya terasa diremas dengan kuat. Melihat senyum palsu gadis itu, melihat tawa palsu gadis itu, rasanya sakit.

Hyora mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Dongsaeng?”

“Mmm,” Yoon Hye mengangguk pelan, “uri appa adalah orang yang sama. Jadi Hyuk Jae oppa adalah kakakku.”

Pisau yang dipegang Hyora untuk mengoles mentega pada roti langsung terjatuh. Ditatapnya Yoon Hye yang sedang menyesap tehnya dengan tenang dan Hyuk Jae yang masih diam saja secara bergantian, “Ba-bagaimana mungkin??” tanyanya tidak percaya.

Yoon Hye tersenyum menatapnya, “Bukankah takdir sangat kejam?”

Kedua orang itu hanya bisa diam. Hyuk Jae tidak bisa menyangkalnya. Ia terlalu kaget dengan keadaan ini semua. Sama seperti gadis itu.

“Oh, aku harus cepat-cepat ke kantor. Miss Han bisa membunuhku jika aku terlalu banyak cuti!” seru gadis itu sambil cepat-cepat menggigit rotinya.

 

*****

 

“Eunhyukie, ada apa denganmu? Kenapa kau tidak fokus pada gerakanmu? Apa kau ada masalah?” tanya Shindong saat melihat tingkah aneh Hyuk Jae.

“Dari tadi kau hanya diam saja,” saut Donghae.

“Na…” kalimat Hyuk Jae tertahan. Ia ingin mengatakan semuanya tapi menyebut kata ‘saudara’ benar-benar berat untuknya. Seolah selalu tersangkut pada tenggorokannya. Air matanya mengenang dan tidak ingin yang lain melihatnya karena itu ia langsung keluar dari ruang latihan untuk menuju kamar mandi.

Laki-laki itu membasuh wajahnya berulang kali berharap ini semua hanya mimpi dan ia terbangun. Tapi ini semuanya nyata dan tidak akan pernah berubah menjadi mimpi sebanyak apapun ia memohon. Tubuhnya terasa lemas. Ia duduk bersandar dinding sambil terisak pelan.

Bagaimana bisa orang yang dicintainya tiba-tiba saja menjadi adiknya? Bolehkah ia dan Yoon Hye berpura-pura tidak tau? Melupakan semua kenyataan dan terus bersama? Bolehkah?
.
.
.

Gadis itu seharian hanya termenung di kantornya. Ia mengerjakan semua pekerjaannya dengan diam dan hanya menjawab singkat bila ditanya. Terkadang air matanya tiba-tiba saja jatuh, namun cepat-cepat dihapusnya. Semua teman-temannya terlalu bijak untuk tidak bertanya kepadanya.

Ia menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan. Sampai-sampai atasannya juga bingung melihatnya. Hingga malam gadis itu masih berkerja. Ia sengaja lembur hingga jam sepuluh lewat. Akhirnya ketika satpam memaksanya pulang karena khawatir terjadi apa-apa, ia mengalah lalu pulang.

Tapi ia tidak benar-benar pulang. Ia tidak ingin pulang. ia hanya berjalan tanpa tujuan. Ponselnya terus berbunyi dari tadi tapi dihiraukannya. Saat ini ia sedang berada ditengah-tengah keramaian myeondong.

Tiba-tiba matanya melihat pemain biola jalanan. Orang asing dari luar itu memainkan biolanya dengan sangat merdu. Yoon Hye menghampirinya lalu mengambil uang receh dan melemparkannya ke kotak biola.

“Execuse me, milik anda terjatuh nona.”

Yoon hye menoleh dan melihat seorang gadis berambut pirang sedang tersenyum ke arahnya sambil mengulurkan sebuah foto dengan menggunakan bahasa inggris.
“Thank you,” jawab Yoon Hye dengan bahasa inggris juga, tapi mendadak dadanya terasa begitu nyeri saat melihat foto itu. fotonya bersama Hyuk Jae di apartementnya dulu. Ia membalik foto itu dan mendapati sederet tulisan yang sampai sekarang ia belum mengerti artinya.

Moi et rien n’allais dans ma vie…

“Aku dan segala yang kuinginkan dalam hidupku.”

Lagi-lagi Yoon Hye menoleh ke arah gadis pirang yang masih berdiri di sebelahnya. Dia tersenyum saat Yoon Hye menatapnya seolah bertanya, “Itu bahasa prancis. Artinya, aku dan segala yang kuinginkan dalam hidupku.” jawabnya.

Gadis itu tertegun. Ia mematung beberapa saat kemudian membungkuk sambil mengucapkan terima kasih lalu melangkah pergi.

Aku dan segala yang kuinginkan dalam hidupku…

Yoon Hye berjalan menuju halte kemudian naik bus. Dipilihnya kursi kosong di sudut belakang. Ia menatap foto itu lagi, tangisnya pecah seketika. Diambilnya ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi seseorang.

‘Yeoboseo?’

“Aku mencintainya appa,” ucap gadis itu dengan suara bergetar, “aku mencintainya…” isaknya keras lalu mematikan ponselnya.
.
.
.

Ponsel Hyuk Jae berbunyi nyaring sejak tadi. Laki-laki itu sebenarnya tidak sedang dalam mod untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya. Tapi melihat gadis itu menghubunginya beberapa kali, ia akhirnya menyerah.

“Yeobseo?”

‘Hyuk Jae ssi, kau tau di mana Yoon Hye sekarang?’ tanya gadis itu langsung dengan nada panik.

“Tidak, ada apa?”

‘Baru saja appa yoon hye menghubungiku. Dia bilang tadi yoon hye meneleponnya sambil menangis. Dia tidak pernah mendengar Yoon Hye menangis seperti itu sebelumnya. Lalu ponselnya tidak aktif. Kim Ajhusi menyuruhku ke apartement untuk melihatnya tapi dia tidak ada. Aku juga sudah ke kantornya tapi kata penjaga dia sudah pulang. Bisakah kau membantuku untuk mencarinya?’ gadis itu berbicara dalam satu tarikan nafas. Terlihat sekali dia benar-benar khawatir.

“Hubungi aku begitu kau menemukannya, aku akan mencarinya.”

Hyuk Jae menutup ponselnya. Laki-laki itu berlari menyusuri koridor gedung kantor dengan cepat. Ia bahkan belum sempat memberitahu Manager Hyung dan yang lainnya.

Benar kata Hyora, ponsel Yoon Hye tidak aktif. Hyuk Jae mendatangi semua tempat yang mungkin didatangi gadis itu tapi dia tidak ada. Saat laki-laki itu mulai putus asa, matanya menangkap sosok gadis itu sedang berdiri di tepi sungai Han. Hyuk Jae langsung menginjak rem mobilnya lalu mundur kebelakang.

Gadis itu memang Yoon Hye. Dia sedang berdiri sambil mencengkeram besi pagar pembatas sungai. Matanya mentap air sungai lurus-lurus. Astaga, apa yang akan dilakukannya?

Dingin… Hati Yoon Hye terasa beku dan tubuhnya seolah mati rasa. Ia sulit bernafas karena merasa jantungnya seperti diremas kuat-kuat. Matanya menatap air sungai yang hitam dan tenang. Seperti memanggilnya untuk masuk ke dalamnya. Menghilangkan semua beban yang ada.

Tiba-tiba seseorang menariknya menjauh dari tepi itu dalam satu sentakan lalu kehangatan menyelimutinya. Tubuh itu mendekapnya erat-erat, “Apa kau ingin meninggalkanku?” suara itu terdengar pilu.

Saat itu juga Yoon Hye tau siapa orang yang sedang mendekapnya. Tangisnya pecah seketika, “Nan eothoke, oppa?” isaknya hebat.

Lee Hyuk Jae tidak menjawab, ia hanya terus memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Air matanya juga jatuh. Seandainya saja ia tau apa yang harus dilakukan, tapi saat ini mereka sama-sama tidak tau harus bagaimana.

Lama menangis, gadis itu akhirnya tertidur. Hyuk Jae menggendongnya menuju mobil lalu duduk sambil memangku gadis itu. Ia mendekapnya erat. Dibiarkannya pintu mobil terbuka, dipandanginya wajah gadis itu. hatinya kembali terkoyak. Perih…

 

 

To be continue…

 

[Revisi 23 Nov 14 ; 12.51 pm]