Tags

,

Tittle : can’t. . .
Cast :
– Lee jonghyun (cn. Blue)
– shin yeon hyo

cant
ff requesan kyuchintya, I hope you like this,
INFO : ff ini combinasi antara film lewat tengah malam dengan 49days (yeah indo feat korea), dan didominasi oleh vidio klipnya Lyla, bernafas tanpamu (tau dah kayak apa ffnya)

——————

“Aku sudah tidak mampu Jonghyun ah! Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Kau sama sekali tidak pernah mengerti!!” ucap Yeon Hyo penuh emosi.

“Aku juga tidak ingin seperti ini. Tapi aku tidak bisa, kau lihat sendiri bagaimana dia.” Balas Jong Hyun.

“Apa kau budaknya? Apa kau pembantunya? Kenapa harus selalu kau?”

“Aku hanya butuh waktu. Kau sendiri yang bilang akan menungguku. Apa kau sudah lelah sekarang?”

“Ne!! Aku lelah! Aku lelah denganmu! Aku lelah dengan semua sikapmu! Aku lelah dengan kau yang tidak bisa lepas darinya, aku lelah dengan semuanya!”

“Aku juga sudah muak denganmu yang setiap hari merengek seperti anak kecil!!”

“Mwoya? Mworago?? Aku merengek? Kau yang tidak tau diri! Kau tidak sadar kita sudah berhubungan berapa lama?? Dua tahun lebih Lee Jong Hyun, dan selama itu aku terus bersabar menghadapimu. Kau tidak tahu bagaimana kata teman-temanku. Saat mereka kencan dengan pasangan mereka, hanya aku yang ada dirumah! Kau tahu itu? Kau peduli? Tidak!!”

“Jadi kau berpacaran denganku hanya karena ingin memamerkanku dihadapan teman-temanmu? Kau pikir aku barang pameran?” Jong Hyun tersenyum sinis “Akhirnya aku tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya.”

“Aku tidak sepertimu yang tidak tau diri!!” Pekik Yeon Hyo ingin menangis.

“Kau lebih tidak tau diri, seharusnya kau sadar!”

“Kau_ kau benar-benar brengsek! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi kau!!”

“Kau pikir aku masih ingin melihatmu? Tidak!” Jong Hyun langsung berjalan keluar dari rumah gadis itu.

Yeon Hyo memegang kepalanya frustasi. Ia menyambar sebotol air di meja dan langsung meminumnya. Tapi kemudian matanya melihat jaket laki-laki itu masih tersampir di sofa ruang tamunya. Dengan geram diraihnya jaket itu kemudian berjalan cepat menyusul Jong Hyun. Setidaknya laki-laki itu tidak boleh meninggalkan jejak.

****

Teriakan nyaring itu membuat Jong Hyun mengerjap kaget. Ia berusaha bangun sambil meruntuki dirinya sendiri yang sepertinya jatuh tersandung batu. Dibelakangnya orang-orang mulai berdatangan untuk melihat sebuah mobil yang sepertinya baru saja menghantam tiang lampu jalan. Mungkin baru saja ada kecelakaan. Tapi Jong Hyung tidak perduli. Itu bukan urusannya dan ia masih kesal dengan kejadian tadi. Dengan langkah cepat ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.

Sampai di rumah kontrakannya, Jong Hyun langsung menghempaskan dirinya ke sofa. Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Bibirnya berdecak kesal saat mendengar suara operator di seberang sana. Tidak aktif… Dengan wajah kusut, Jong Hyun menghampiri telphone rumahnya dan tertegun saat mendapati satu pesan.

‘Jonghyun ah, mianhae… Aku memutuskan pergi ke London untuk menyusulnya. Untuk semua bantuanmu, terima kasih… Saranghae.’

“AAARRGH!!!”

PRAAANG…

Laki-laki itu menyapu seluruh benda yang terpajang di atas meja telphone hingga jatuh berantakan. Nafasnya tersengal. Ia marah, sangat. Kenapa gadis itu lebih memilih pria brengsek yang tidak pernah bisa menghargainya?

Kim seohyun, gadis yang selalu bersamanya dari kecil hingga saat ini. Ia menyayangi gadis itu. Sekaligus membenci sifatnya yang selalu lemah terhadap kekasihnya. Jong Hyun memang menyukai gadis itu, dulu sebelum Shin Yeon Hyo merebut hatinya. Meskipun begitu, ia tetap akan selalu melindungi Seohyun apapun yang terjadi.

Ia tau Yeon Hyo cukup bersabar dengannya selama ini. Ia sering kali tidak punya waktu untuk gadis itu karena harus berkerja sebagai penyanyi indie di beberapa cafe bersama anggota band CN. Blue lainnya. Dan saat ia punya waktu luang, terkadang Seohyun meminta untuk menemaninya.

Ia mencintai Yeon Hyo, sangat. Tapi ia tidak pernah tau bagaimana cara mengungkapkannya pada gadis itu. Shin Yeon Hyo berbeda dari gadis lainnya. Jika semua gadis suka coklat, dia tidak suka. Jika semua gadis suka bunga, dia juga tidak suka. Yeon Hyo lebih suka jika Jonghyun mengajaknya ke tempat-tempat yang tenang seperti pantai, kebun teh, sawah, atau kebun buah pear. Gadis itu menyukai alam.

Jonghyun mengusap wajahnya dengan kasar kemudian kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa. “yeon ah,mianhae…” lirihnya.

****

Laki-laki itu terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal. Ia mengusap wajah pelan. Apa yang baru saja dimimpikannya? Yeon Hyo sedang menangis di makamnya? Mimpi itu sedikit mengerikan untuknya. Jong hyun mendesah pelan lalu menyadari bahwa hari sudah pagi. Ia harus bersiap-siap pergi ke kampus sekarang.

Jonghyun sedang menutup pintu pagar rumah kontrakannya ketika paman pemilik kedai bubur ayam di dekat rumahnya sedang mengajak anjingnya untuk berjalan-jalan. Anjing itu tiba-tiba saja menyalak saat berada di dekatnya. Ia mengernyit pelan, tidak biasanya anjing lucu itu bersikap seperti itu. Baru saja Jong Hyun akan berbicara, paman itu langsung menarik anjingnya pergi tanpa menyapa jonghyun seperti biasanya.

Laki-laki itu mengerutkan keningnya heran sambil menatap paman yang semakin jauh itu. Biasanya paman itu akan menyapanya atau mengajaknya bercakap-cakap sebentar. Tapi kenapa tadi dia sikapnya sangat dingin? Seperti tidak mengenalnya. Apa ada yang salah dengannya? Jong Hyun menghembuskan nafas pelan kemudian mulai melangkah pergi ke kampus.

Selama di kampus semuanya berjalan seperti biasa. Namun yang membuat Jonghyun bingung, kenapa tidak ada satupun yang mengajaknya berbicara?? Apa keadaannya yang kacau terlihat begitu parah? Tapi setidaknya hal itu bagus. Sepertinya teman-temannya mengerti apa yang sedang dialaminya hingga tidak berani mengganggunya. Ia pun tidak tau harus mengatakan apa kalau mereka bertanya nanti. Setelah kelas terakhirnya berakhir, Jonghyun memutuskan untuk mencari Yeon Hyo. Ia ingin meminta maaf pada gadis itu. Ia benar-benar tidak bermaksud untuk mengacuhkannya. Tapi ternyata gadis itu tidak ada di kampus. Dengan lesu, laki-laki itu pulang ke rumah kontrakannya.

Sudah dua hari Yeon Hyo tidak pergi ke kampus. Apa Jonghyun harus mengunjungi rumah gadis itu? Teman-temannya juga kenapa tidak bisa dihubungi sama sekali? Ada apa dengan semua orang sekarang ini?

Dan di sinilah Jonghyun berdiri. Di depan rumah Yeon Hyo. Di rumah yang cukup besar itu, Yeon Hyo tinggal sendiri karena ayahnya harus bekerja di luar negri. Sedangkan ibunya sudah meninggal saat ia masih kecil. Mungkin itu juga sebabnya dia tumbuh menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Berbeda dengan Seohyun yang selama ini semua keinginnannya selalu terpenuhi.
Jonghyun menatap pintu dengan ragu. Apa yang harus diucapkannya nanti? Belum sempat otaknya berfikir, pintu itu terbuka.

Laki-laki itu tersentak kaget. Ia lebih kaget lagi saat melihat wajah pucat gadis itu. Matanya terlihat bengkak sehabis menangis. Saat ini, Yeon Hyo sedang menatapnya dengan pandangan… sedih dan kecewa? Dia terlihat seperti sedang menahan tangis.

Kemudian gadis itu berbalik lalu melangkah ke dalam rumah tanpa berbicara apapun. Membuat Jonghyun merasa bersalah. Ia melangkah masuk ke dalam, mengikuti gadis itu. Yeon Hyo sedang duduk di sofa sambil termenung. Tatapannya terlihat kosong. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan sementara laki-laki itu hanya bisa berdiri dibelakangnya tanpa tau harus berbuat apa. Pundak gadis itu terlihat bergetar. Dia terisak pelan.

Jonghyun merasa sedih melihatnya. Perlahan ia mendekati gadis itu lalu berlutut dihadapannya. Yeon Hyo mengusap air matanya yang keluar. Tapi air mata itu terus keluar tidak bisa dihentikannya. Tangan Jonghyun terangkat hendak menghapus air mata dipipi gadis itu tapi Yeon Hyo langsung memalingkan wajahnya. Jonghyun merasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia mengerti jika gadis itu masih marah kepadanya. Tiba-tiba saja Yeon Hyo beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kamar.

Jonghyun mengikutinya, ia berdiri diambang pintu kamar yang tidak ditutup itu. Seketika ia tertegun melihat gadis itu sedang memeluk boneka tweety yang diberikannya dulu. Jonghyun tau gadis itu tidak menyukai boneka, bahkan dia sempat ingin memberikan boneka itu kepada anak tetangganya. Tapi karena Jonghyun marah, terpaksa disimpannya boneka itu. Satu-satunya boneka yang ada dikamarnya itu kini ada dalam dekapannya. Yeon Hyo memeluk boneka itu seolah-olah benda itu bisa meredam rasa sakitnya.

Kemudian… gadis itu terisak lagi. Matanya terpejam. Kemudian jonghyun melihat nafas gadis itu mulai teratur. Dia tertidur. Laki-laki itu melangkah mendekatinya kemudian menyelimuti tubuh gadis itu. Ditatapnya sejenak, “Mianhae Yeon ah… Aku tau pasti sulit untukmu memaafkanku.” Bisiknya lirih.

Tak pernah aku bermaksud mengusikmu

Mengganggu setiap ketentraman hidupmu

Namun tak mudah bagiku lupakanmu

Dan pergi menjauh…

****

Lagi-lagi Yeon Hyo tidak terlihat dicampus. Gadis itu masih belum masuk kuliah. Apa sedalam itu Jonghyun menyakiti hatinya? Ia tau, ia sudah berkata kasar pada Yeon Hyo. Sepertinya ia benar-benar harus meminta maaf pada gadis itu. Hari ini juga.

Laki-laki itu mendatangi rumah gadisnya lagi. Keningnya mengernyit pelan saat mendapati pintu rumah gadis itu tidak terkunci. Terdengar samar-samar suara orang dari dalam. Jonghyun membuka pintu lalu masuk ke dalam, melangkah mengikuti suara itu. Disanalah ia melihat gadis itu. Sedang duduk disofa sambil melihat tv. Jonghyun terheyak seketika saat menyadari apa yang sedang diputar di layar lebar itu.

Yeon hyo saat ini sedang menonton rekaman vidio yang diambil setahun yang lalu saat mereka merayakan aniversary kedua di kebun kesemek milik kakeknya. Disitu terlihat Jonghyun sedang berusaha memanjat pohon untuk mengambil kesemek yang ditunjuk gadis itu yang pada akhirnya tubuh laki-laki itu malah digigiti semut. Ia mengibas-ngibaskan bajunya dengan panik sementara Yeon Hyo tertawa renyah.

Karena merasa ditertawakan, Jonghyun kemudian mengejar Yeon Hyo dan merebut handycam yang dibawa gadis itu lalu menghadapakannya ke arah mereka. Ia memeluk gadis itu dengan satu tangan dan memaksa gadis itu untuk mencium pipinya sebagai hukuman karena telah menertawakannya.

Sangat manis, tapi sayangnya itu adalah terakhir kali mereka piknik bersama dalam satu tahun ini. Karena Jonghyun tidak pernah punya waktu lagi untuk Yeon Hyo. Setelah liburan bersama mereka saat itu, Seohyun yang sebelumnya ada di China untuk belajar, kembali lagi ke Korea.

Shin Yeon Hyo memang tidak pernah keberatan Jonghyun bersama gadis itu. karena ia mengerti, Seohyun sudah seperti saudara untuk Jonghyun. Tapi semakin lama, ia sadar bahwa Seohyun punya arti lebih di hati laki-laki itu. Saat ia bertanya, Jonghyun mengaku bahwa Seohyun memang masa lalunya. Tapi gadis itu berusaha untuk mengerti dan menerima hubungan mereka berdua.

Namun ada yang tidak disadari Jonghyun. Gadis itu terluka, tapi tidak pernah dilihatnya. Dan semakin lama luka itu semakin dalam. Tanpa Jonghyun sadari ia malah memperdalam luka itu. Sekarang, apa yang harus dilakukannya? Bahkan untuk bergerak pun tubuhnya terasa kaku.
Yeon Hyo masih duduk disana. Gadis itu masih terisak. Kini Jonghyun dapat melihat dengan jelas seberapa dalam luka yang telah dibuatnya.

Tiba-tiba saja gadis itu beranjak dari duduknya kemudian berbalik dan tertegun menatap Jonghyun. Tatapan itu tidak bisa diartikan. lalu, Yeon Hyo melangkah masuk ke kamarnya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Jonghyun mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Bahkan untuk mengeluarkan suaranya pun ia tidak sanggup. Ditatapnya pintu kamar Yeon Hyo lama. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mencari waktu yang tepat dan melangkah pergi meninggalkan rumah gadis itu.

****

Laki-laki itu sedang termenung di kamarnya. Ia mengambil gitar dan mencoba membuat lagu. Akhirnya, ia berhasil membuat sebuah lagu sebagai permintaan maafnya. Ia ingin Yeon Hyo mendengarnya. Mungkin ia tidak bisa berbicara langsung di depan gadis itu, tapi dengan ini, ia bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.

Pagi-pagi jonghyun langsung pergi kembali ke rumah gadis itu. Rumah itu masih sepi. Apa Yeon Hyo masih tidur? Laki-laki itu mencoba membuka pintu rumah. Lagi-lagi tidak terkunci. Kakinya melangkah masuk ke dalam. Rumah itu tampak legang. Sunyi dan kosong. Jonghyun menghampiri meja telphone dan berniat meletakkan rekaman yang dibuatnya saat terdengar suara pintu dibuka.

Laki-laki itu tersentak dan langsung berbalik. Yeon Hyo menutup pintu kamarnya kemudian memandangnya sejenak. Tanpa berkata apapun, gadis itu melangkah pergi. Jonghyun mengernyit bingung. Kenapa Yeon Hyo berpenampilan tidak biasanya? Seolah tersentak, ia cepat-cepat mengikuti gadis itu.

Yeon Hyo pergi ke sebuah toko bunga dan membeli seikat bunga krisan. Kemudian gadis itu naik kedalam bus sementara Jonghyun terus mengikutinya diam-diam. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang pernah terjadi di tanggal ini, kalau tidak salah hari kematian ibu gadis itu memang di bulan ini. Lalu saat gadis itu turun, Jonghyun juga ikut turun. Ia mengikuti gadis yang sedang berjalan memasuki sebuah pemakaman itu.

Raut wajah laki-laki itu terlihat bingung saat gadis itu tidak melangkah ke tempat makam ibunya. Dia terus melangkah dan berhenti di depan sebuah makam. Air mata Yeon Hyo mengalir pelan kemudian semakin terisak. Membuat Jonghyun heran. Siapa yang ditangisinya? Ya Tuhan, tidak mungkin appa gadis itu meninggal. Bagaimana bisa Jonghyun tidak tau hal itu? Ia benar-benar merasa bersalah sekarang. Gadis itu ada dalam masa yang sulit dan Jonghyun malah membuat parah keadaan. Ia benar-benar merasa kejam saat ini.

Dengan wajah sendu, dihampirinya gadis itu. Tangannya terulur hendak menyentuh bahu gadis itu tapi diurungkannya. Hatinya begitu sakit melihat luka itu. Apa yang bisa dilakukannya?

“Aku merindukanmu jonghyun ah…” bisik gadis itu dengan suara yang bergetar hebat.

Jonghyun terdiam. Ia mengernyitkan keningnya bingung. Lalu matanya menoleh, menatap batu nisan itu. Tubuhnya membeku. Nafasnya tercekat.

Lee jonghyun, nama itu tertulis di atas batu nisan makam itu. Laki-laki itu perlahan melangkah mundur dengan tatapan tidak percaya sementara gadis itu melangkah lalu menaruh seikat bunga krisan di atas makam. Tidak… Ini tidak mungkin. Jonghyun menggeleng pelan. Ia masih hidup!! Gadis itu berbalik kemudian melangkah pergi melewatinya begitu saja.

“Yeon ah!!” teriaknya.

Langkah gadis itu sontak terhenti saat Jonghyun memanggilnya. Laki-laki itu menunggu, berharap Yeon Hyo berbalik dan melihatnya. melihat dirinya yang masih hidup. Dan… gadis itu berbalik namun tidak menatapnya. Melainkan makam itu. Air mata gadis itu kembali jatuh. Tangannya membekap mulut kemudian berlari pergi sambil terisak.

Jonghyun membeku ditempatnya. Tidak mungkin… Sejak kapan ia…

“Kau sudah tau rupanya.”

Laki-laki itu tersentak lalu menoleh dengan cepat dan mendapati seorang gadis bergaun putih yang berdiri dibawah pohon sedang menatapnya.

“Kau… bisa melihatku? Aku masih hidup?” tanya Jonghyun.

Gadis itu tertawa kecil, “Tentu saja aku bisa melihatmu, kita ini sejenis!”

“Apa maksudmu?”

“Setelah melihat semuanya jangan bilang kau masih menganggap dirimu masih hidup. Sekarang kau itu sudah menjadi arwah, Tuan Lee!”

“Jadi, kau…”

“Anyeong haseo Lee Jong Hyun ssi, akhirnya kita bertemu. Kim Yoon Hye imnida.”

“Bagaimana kau tau namaku?”

“Aigooo… Pasti kau tidak pernah menonton drama 49 days. Aku ini scheduler.”

“Sche… Mworago?”

“Aku bertugas untuk menjemput arwah orang yang baru meninggal. Untuk lebih jelasnya kau nonton drama 49 saja, di situ ada jung ill wo, temanku yang sedang kerja sampingan jadi actor(?).”

“Tunggu dulu… Kau membuatku bingung. Jadi aku benar-benar sudah meninggal?” tanya Jonghyun bingung.

“Kau sudah meninggal sejak tiga hari lalu.”

“Lalu, kenapa kau tidak langsung menemuiku?”

“Kau tidak bisa melihatku sebelum kau tau kalau dirimu itu sudah meninggal. Untung kau tidak terlalu bodoh saat melihat batu nisanmu sendiri.”

“Ba-bagaimana aku bisa meninggal?”

Gadis itu tersenyum sambil berjalan menghampirinya, “Lihat ini!” diusapkannya tangannya pada kedua mata Jonghyun dan seketika Jonghyun seperti kembali ke masa lalu.

Ia ada di sana, melihat semuanya.

Saat itu, Jonghyun sedang keluar dari rumah gadis itu dengan kesal. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan Yeon Hyo yang memanggilnya dan…

BRAAAK…

mobil itu langsung menghantamnya tanpa sempat disadarinya.

Langkah kaki Shin Yeon Hyo sontak terhenti. Matanya terpaku pada kejadian itu. Jaket dalam genggamannya terlepas, jatuh ke tanah. Jonghyun meremas rambutnya sendiri saat merasakan dadanya sesak melihat hal itu. Ia tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.

Orang-orang mulai berkerumun menghampiri tubuhnya yang terlempar sejauh lima meter. Sedangkan mobil yang menabraknya, berbelok menabrak tiang lampu pinggir jalan. Jonghyun melihat tubuhnya sendiri yang berlumuran darah. Tergeletak tanpa nafas.

Ia menoleh lagi ke arah Yeon Hyo. Gadis itu masih tidak berkedip. Mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan sepatah kata. Air matanya mengenang kemudian jatuh satu per satu. Kemudian tiba-tiba saja dia berteriak keras sambil berlari menghampiri tubuh Jonghyun.

“JONGHYUN ah!!!” jeritnya sambil mendekap tubuh itu, “Jonghyun ah jebbal irona… buka matamu pabo!! Jonghyun ah palliwa! Jonghyun… jebbal… LEE JONGHYUN!!!“

Laki-laki itu melangkah mundur perlahan sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan semuanya, tidak, ini pasti hanya mimpi.

Kemudian tiba-tiba saja seperti ada yang menyeretnya. Kini, ia berdiri lagi di pemakaman. Di tempat yang sama namun dalam waktu yang berbeda. Jonghyun mendengar isak tangis seseorang, ia menoleh dan melihat Yeon Hyo sedang menangis sambil memeluk batu nisan itu.

“Yeon Hyo ssi, kita harus pulang…” kata Jung Yong Hwa lembut, teman satu bandnya mencoba mengajak Yeon Hyo untuk berdiri. Tapi gadis itu tetap terisak dan tidak mau pulang.

Jonghyun menatapnya miris. Ia ingat pernah memimpikan hal ini dan ternyata itu semua bukan mimpi.

“Yeon Hyo ssi, ayo kita harus kembali,” bujuk Min Hyuk.

“Aku tidak mau pulang! Aku ingin disini, aku tidak mau pergi!!” teriak Yeon Hyo histeris “Aku…” tiba-tiba saja tubuh gadis itu melemas sambil memejamkan matanya. Pingsan. Teman-teman Jonghyun yang ada di situ berusaha membawa Yeon Hyo pulang.

Lagi-lagi, ada yang menyeret Jonghyun. Laki-laki itu bisa melihat semuanya sekarang. Saat paman penjual bubur ayam menatapnya, sebenarnya dia menatap pintu rumah kontrakan Jonghyun. Saat Yeon Hyo membukakan pintu untuknya, itu karena gadis itu merasakan kehadiran Jonghyun. Dan tatapannya saat itu, itu adalah tatapan kecewa karena tidak ada siapapun disitu, Jonghyun tidak akan mungkin mengetuk pintu rumahnya lagi.

Kemudian saat Yeon Hyo menatapnya setelah melihat vidio rekaman mereka, dia sebenarnya melihat lukisan wajahnya yang tergantung di dinding. Lukisan yang pernah digambar oleh Jonghyun. Saat gadis itu akan pergi ke makam, dia tidak menatap Jonghyun, melainkan telphone yang ada dibelakangnya. Berharap ada pesan yang selalu ditinggalkannya setiap pagi setelah Yeon Hyo bangun dari tidurnya.

Jonghyun tersentak lagi. Kali ini ada Yoon Hye didepannya.

“Bagaimana? Kau sudah tau semuanya bukan? Sekarang sudah saatnya kau pergi. Aku akan memanggilkan pintu renkarnasi untukmu.”

“Tunggu dulu. Boleh aku meminta sesuatu?” tanya Jonghyun.

“Apa itu?”

“Bolehkah aku menemuinya? sekali saja…”

“Bukankah selama ini kau sudah menemuinya?”

“Aniyo, maksudku biarkan dia melihatku saat aku menemuinya. Kami berpisah dalam keadaan yang tidak baik. Untuk yang terakhir kalinya, biarkan dia melihatku. Bisakah?”

Yoon Hye terdiam sejenak, “Baiklah… Tapi waktumu tidak banyak. Saat matahari tenggelam, kau akan menghilang. Itu artinya… satu jam lagi! Cepat pergi sebelum waktumu habis.”

“Gomawoyo,” Jonghyun langsung berlari meninggalkan makam itu.

Tempat pertama yang ditujunya adalah rumah gadis itu. tapi tidak ada Yeon Hyo di sana. Kemudian laki-laki itu pergi ke kampus, Yeon Hyo juga tidak ada di sana. Jonghyun berlari dengan putus asa. Waktunya tidak lebih dari setengah jam lagi. Dengan panik ia kembali lagi ke rumah yeon hyo berharap gadis itu sudah pulang. Namun rumah itu masih tetap kosong.

Laki-laki itu menjambak rambutnya frustasi. Tiba-tiba saja ia tertegun saat melihat alat rekamannya sudah tidak ada disamping meja telphone itu. Jonghyun tersentak. Rumah kontrakannya terlintas begitu saja dalam pikirannya. Tanpa membuang waktu, ia berlari untuk pulang ke rumahnya. Ia yakin gadis itu di sana. Gadis itu punya kunci duplikatnya dan bisa masuk kapanpun dia mau.

Jonghyun membuka pintu pagar rumahnya dengan kasar lalu cepat-cepat masuk ke dalam. Rumah itu tampak kosong. Kemana gadis itu? Kaki Jonghyun melangkah ke kamarnya lalu membuka pintu.

Di sana! Gadis itu ada di sana. Shin Yeon Hyo sedang tidur di tempat tidurnya sambil memeluk bantal. Alat rekaman itu ada di samping kepalanya. Hati Jonghyun terasa diremas melihatnya. Perlahan ia mendekati tempat tidur itu kemudian naik ke atas. Ia berbaring disebelah gadis itu, memeluknya erat dari belakang.

Yeon Hyo mengerjap terbangun. Ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Ia kenal aroma ini. Perlahan Yeon Hyo membalikkan badannya, menghadap pada laki-laki itu.
“Jonghyun ah…” lirihnya pelan.

Jonghyun tersenyum kemudian mengecup kening gadis itu lembut “Aku merindukanmu…” bisiknya lirih.

Tiba-tiba saja Yeon Hyo membalas pelukannya dengan erat, “Mianhae…” isaknya dengan suara bergetar “Kkajima Jonghyun ah… Aku membutuhkanmu.”

“Aku disini…” bisik Jonghyun lalu mencium kening gadis itu lembut, “kau bisa merasakannya bukan? Aku tidak pernah pergi. Maaf karena aku sudah menyakitimu. Setelah semua yang terjadi, aku ingin kau percaya satu hal. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu Yeon ah…”

“Ara…” isak Yeon Hyo pelan.

“Ssst! Jangan menangis. Kau tidak boleh menangis.” Jonghyun menghapus air mata di pipi gadis itu, “Jangan bersedih. Kau harus selalu percaya bahwa aku akan selalu menjagamu. Aku akan tetap bersamamu. Kau berjanji?

Yeon Hyo mengangguk pelan, “Aku berjanji…”

“Terima kasih…” bisik laki-laki itu kemudian mengecup bibir gadisnya dengan lembut.

Sedetik…

Dua detik…

Tubuh Jonghyun semakin memudar. Hingga akhirnya berubah menjadi bayangan samar-samar lalu menghilang bersama dengan tenggelamnya matahari.

Gadis itu masih memejamkan matanya. Kemudian bangun perlahan sambil menatap sekelilingnya. Sunyi… Ruang kamar itu masih kosong seperti sebelum ia datang. Ia terdiam sejenak. Lalu bibirnya tersenyum, air matanya jatuh, “Aku tau kau di sini, Jonghyun ah… Aku tau kau akan selalu bersamaku. Aku berjanji…” bisiknya pelan kemudian memutar kembali rekaman lagu terakhir dari orang terkasihnya.

Beri sedikit waktu

Agar ku terbiasa

Bernafas tanpamu…

FIN

[Last editing 16 Jan 2015 ; 00.50 pm]