Rasa ini. . . seperti melebur menjadi satu bersama suaramu. . .
Perlahan datang merayapi batu ketidakpahaman
Namamu selalu menggema dalam gelapnya kalbu
Saat mata ini tertutup, sosokmu datang bersama bayangan
Menyelimuti hati, membungkus jiwa. . . hangat. . .
Seperti cahaya sebatang lilin dalam gelap. . .
Sudah ribuan kali kubisikkan kata cinta untukmu
Dan sudah ribuan kali anginlah yang menjawabnya. . .
Dalam sepi, sunyi yang tak tertebak
Sentuhanmu seperti air hujan ditanah tandus
Menggetarkan saraf dan mematikan akal
Bisikanmu seperti belaian angin malam
Membawa wangi bunga dalam hembusannya. . .
Senyummu yang hangat terbang mengitari ragaku
Pandanganmu yang lembut sanggup menghentikan waktu
Sesaat aku lupa apa yang nyata dan apa yang semu
Bermimpi dan memintal angan, itulah kenyataannya. . .
Membiarkanmu hadir mengisi malam-malamku. . .
Merajut waktu dalam tertutupnya kelopak mata
Saat tubuh bergetar oleh keberadaanmu,
Kuikat kau diruang terdalam fikirku
Membuatmu menjadi satu-satunya milikku. . .
Menyentuhmu bersama rasa. . .
Mendekapmu bersama angan. . .
Detak jantung yang menghentak kuat tak bisa teredam
Deru nafas yang berhembus, menyapu permukaan kulit. . .
Waktu, terus mengikuti setiap detiknya
Dan akal, mulai kembali mengambil alih fikiran
Namun yang tak dapat dipungkiri
Kau telah melekat kuat dalam rasaku. . .