Tags

, ,

season of love

“Bukan maksudku kalau kau sekarang tidak normal, hanya saja kau sangat terlihat berbeda. Apa kau selalu seperti ini jika tidak di depan kamera?”

——————

Part 8

 

 

Gadis itu menatap gedung SM entertaiment dengan perasaan cemas. Mimpi buruknya di mulai dari tempat ini. Bukan, bukan mimpi, semua itu adalah nyata. Hal terburuknya. Jantungnya berdebar cepat. Tubuhnya bergetar berusaha menahan rasa gelisah dan keringat dingin mulai terasa pada tengkuknya.

“Leeteuk ssi, apa kita tidak bisa bertemu di luar saja?” tanya Yoon Hye gelisah.

“Waeyo?” tanya Leeteuk bingung.

Yoon Hye meremas syal merah tuanya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Ia tidak tau harus berkata apa kepada Leeteuk.

“Jangan cemas. Kami akan membantumu dan aku meminta maaf untuk hal ini. Tidak seharusnya kami menyeretmu ke dalam masalah ini. Tapi kami benar-benar memerlukanmu hingga berita tentang Eunhyukie reda dulu.”

Gadis itu mencoba menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan dari mulutnya saat mobil leeteuk memasuki ruang parkir gedung.

“Ayo kita turun!”

Leeteuk keluar dari dalam mobil dan mau tidak mau Yoon Hye juga harus ikut turun. Gadis itu sebisa mungkin berjalan di dekat Leeteuk. Mereka mengambil jalur belakang karena kemungkinan adanya wartawan di loby utama. Jantung Yoon Hye berdetak kencang saat mereka semakin dekat dengan pintu masuk gedung itu. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram lengan Leeteuk erat-erat.

“Jangan khawatir Kim Yoon Hye ssi, aku akan menemanimu.” kata Leeteuk pelan. Ia masih mengira bahwa gadis itu gugup bila harus bertemu dengan Hyuk Jae.

Menit-menit yang terasa menyiksa. Yoon Hye menundukkan kepalanya menatap lantai di sepanjang perjalanan. Ia membiarkan Leeteuk menuntunnya.

Tiba-tiba laki-laki itu berhenti melangkah “Itu dia…” bisiknya pelan.

Yoon hye mengangkat wajahnya dan melihat laki-laki itu sedang duduk di sana bersama seorang gadis. Dia sedang tertawa renyah bersama gadis itu. Dada Yoon Hye terasa sesak. Ia merasa sakit sekaligus lega di saat bersamaan. Ia lega melihat laki-laki itu baik-baik saja tapi juga merasa sakit saat melihatnya tertawa untuk gadis lain. Hyeyeon, ia tertawa untuk gadis itu. gadis masa lalunya.

Cengkeraman tangan Yoon Hye semakin kuat saat Leeteuk membawanya mendekat pada laki-laki itu.

“Oh Hyeyeon ah, kau ada disini?” sapa Leeteuk begitu sampai di tempat mereka.

“Anyeong Jung Soo oppa, kebetulan aku melihat Hyuk Jae oppa di sini tadi.” Jawab gadis itu.

“Ada yang harus kubicarakan dengan Eunhyukie, bisakah kau memberi waktu untuk kami sebentar?”

Hyeyeon terdiam sambil menatap tajam Yoon Hye sejenak. Kemudian ia beranjak dari duduknya, “Tentu,” balasnya, pandangannya beralih pada Hyuk Jae, “Sampai nanti oppa, jangan lupa janjimu untuk mentraktirku makan nanti malam.”

Hyuk Jae tertawa kecil, “Araseo…”

“Manager Hyung belum datang?” tanya Leeteuk setelah Hyeyeon pergi. Laki-laki itu menarik kursi, mempersilahkan Yoon Hye untuk duduk sementara ia mengambil tempat di sebelah gadis itu, di hadapan Hyuk Jae.

“Belum, dia masih dalam perjalanan tadi saat aku meneleponnya.”

“Ah begitu… Hyuk ah, ini Kim Yoon Hye ssi. Gadis yang kuceritakan kepadamu.”

“Oh,” Hyuk Jae beralih menatap gadis itu sambil tersenyum, “Anyeong haseo…”

Gadis itu hanya bisa menatap nanar, “Kau… Benar-benar tidak ingat?” tanyanya nyaris berbisik.

“Ye?”

“Ah aniyo, Kim Yoon Hye imnida, senang berkenalan –lagi denganmu Lee Hyuk Jae ssi.”

Hyuk Jae terdiam sejenak menatap gadis itu. Ia merasa ada sesuatu pada gadis itu, “Jadi… Kau adalah kekasihku?”

Kata-kata itu seperti sebuah pisau yang menyayat hatinya, “Aniyo…”

Kedua laki-laki itu menatap bingung.

“Dalam kehidupan yang sebenarnya kau bukan kekasihku. Kita hanya pura-pura di depan kamera.”

“Ah, benar…” saut Leeteuk tepat saat ponselnya berdering. Laki-laki itu segera menjawab panggilannya. “Ne Hyung? …Oh araseo, tapi tidak ada masalah bukan? …Ne, ne…”

“Apa itu Manager Hyung?” tanya Hyuk Jae.

“Ne, dia bilang tidak bisa kemari. Dia terjebak macet dan harus mengantarkan Kyuhyun ke sebuah acara reality show,” jelas Leeteuk, “Jadi Hyuk ah, seperti yang kau dengar, Kim Yoon Hye ssi adalah kekasih pura-puramu. Kau sudah melihat video conferensi pers yang kuberikan kemarin bukan?”

“Ya, aku sudah melihatnya.”

“Bagus. Karena kau lupa apa yang sudah terjadi, kau harus mengingat baik-baik wajah nona ini. Juga tentangnya. Jangan sampai kau salah menjawab saat ada wartawan yang bertanya. Hingga saat ini mereka belum tau kalau kau tidak ingat apapun. Kami hanya mengatakan kau mengalami benturan pada kepala dan semuanya baik-baik saja.”

Hyuk Jae mendesah pelan, “Aku benar-benar seperti orang bodoh bukan? Tidak bisa mengingat apapun.”

“Bersabarlah, mungkin Yoon Hye ssi bisa membantumu mengingat lagi. Benarkan, Yoon Hye ssi?”

Yoon Hye tersentak, “lebih baik kau tidak ingat apapun,” balasnya tanpa sadar.

“Mwo?”

“Ah jeoseonghamnida, aku hanya melantur. Jeoseonghamnida…”

Leeteuk menatap cemas sementara Yoon Hye mengepalkan tangannya erat-erat. Ia ingin pergi. Sekarang, saat ini juga. Tiba-tiba ponsel Leeteuk berbunyi lagi. Cepat-cepat dijawabnya telepon itu.

“Yoon Hye ssi, mianhaeyo… Aku harus pergi sekarang. Biar Hyuk Jae yang mengantarmu pulang.”

“Ye?” gadis itu mengerjap kaget, “gwenchanayo, biar aku pulang sendiri.”

“Aku akan mengantarmu,” sela Hyuk Jae.

“Tidak perlu, aku benar-benar tidak apa-apa.”

“Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadamu.”

“Ye?”

“Baiklah kalau begitu. Eunhyukie yang akan mengantarmu.” putus Leeteuk sebelum ia pergi.

Yoon Hye menelan ludah, gadis itu menatap Leeteuk yang berjalan menjauh dengan cemas. Apa yang harus dilakukannya bersama laki-laki itu? Yang paling penting, hal apa yang akan ditanyakan oleh laki-laki itu.

“Apa kau sakit?”

Gadis itu tersentak kaget dan menoleh menatap Hyuk Jae “Ye?”

“Kau terlihat pucat.”

“Gwenchanayo…” gumam Yoon Hye sambil menunduk.

“Ini hari minggu, kau tidak sedang berkerja bukan? Aku ingin mengobrol denganmu. Kajja!”

Reflek, Hyuk Jae menarik tangan gadis itu, menggenggamnya selama mereka berjalan ke tempat parkir sementara Yoon Hye hanya termangu melihatnya.
.
.
.

Yoon Hye mendesah lega ketika mobil Hyuk Jae keluar dari gedung agency itu, “Hyuk Jae ssi, kita akan pergi ke mana?” tanyanya.

“Peraturan pertama menjadi kekasihku, jangan menggunakan Jeongdaemal (bahasa formal). Gunakan Banmal!”

Gadis itu tertegun mendengarnya, “Hyuk Jae ssi_”

“Peraturan kedua, kau harus memanggilku__”

“Oppa…” jawab Yoon Hye tiba-tiba.

Laki-laki itu mengerutkan kening pelan, “Apa kita pernah mengalami ini sebelumnya?” tanyanya.

Yoon Hye menunduk, menggigit bibir bawahnya. Tidak seharusnya ia menjawab seperti itu tadi.

“Yoon ssi?” panggil Hyuk Jae karena gadis itu tidak menjawab.

“Ya…” desah Yoon Hye pelan.

“Bagus. Tetap panggil aku oppa kalau begitu,” ujarnya riang.

“Terserah kau saja,” gumam Yoon Hye sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela, berharap tidak ada pembicaraan lagi.

“Apa suasana hatimu sedang buruk?”

“Ye?” gadis itu mengerjap kaget, menatap laki-laki itu bingung.

“Suasana hatimu sedang buruk.” Kata laki-laki itu, “Hmm… bagaimana kalau kita pergi ke toko buku?”

Yoon Hye menatapnya bingung. Ia masih tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. pikirannya terlalu penuh hingga hal-hal kecil tidak dapat di proses dengan baik oleh otaknya.

“Kau suka membaca, jadi aku membawamu ke toko buku. Andwae?”

“Bagaimana… Bagaimana kau tau aku suka membaca? Bukankah kau tidak ingat?”

Hyuk Jae tidak langsung menjawab, laki-laki itu mengerutkan keningnya sejenak, “Aku juga tidak tau. Hal itu tiba-tiba saja ada di pikiranku. Seperti tertulis jelas di wajahmu jadi aku bisa membacanya,” ia tersenyum lebar “Apa aku benar?”

“Mwo?”

“Kau suka membaca, itu benar?”

Lagi-lagi Yoon Hye mendesah pelan “Ya…”

“Yoon ah, kita kemana saja selama ini?”

“Mwo?” gadis itu menatap terkejut. Bukan karena pertanyaan itu tapi karena nama panggilan yang diucapkan laki-laki itu. Yoon Hye tidak tau kalau ternyata ia sangat merindukan panggilan laki-laki itu.

“Kita pernah pergi kemana saja selama ini?” ulang Hyuk Jae.

Yoon hye terdiam sejenak, “Managermu pernah menyuruhku untuk menemanimu di beberapa acara konser.”

“Selain itu?”

“Ne?”

“Entahlah, sepertinya aku merasa kita sering pergi bersama. Meskipun aku tidak mengingatmu, tapi aku merasa kita sudah saling mengenal.”

Tangan yoon hye bergetar, gadis itu menggigit bibir bawah dengan kuat, “Itu hanya perasaanmu,” sautnya dingin. Ia tidak ingin bicara apapun saat ini. Kenyataan bahwa Hyuk Jae tidak mengingatnya, membuatnya tidak ingin mengungkap semua hal-hal menyakitkan yang sudah mereka alami. Cukup dengan keadaannya yang sekarang. Yoon Hye ingin laki-laki itu baik-baik saja.

“Apa kau seorang aktris?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba. Ada kebingungan di raut wajahnya.

Yoon Hye mengerutkan keningnya “Bukan…”

“Tapi mengapa aktingmu bagus sekali?”

“Apa maksudmu?”

“Video itu… Di video wawancara itu kau terlihat berbeda. Kau lebih ceria dan normal.”

Gadis itu mengerutkan keningnya -lagi. Ia sudah tidak bisa menghitung berapa kali ia mengerutkan kening hari ini. Kenapa laki-laki itu selalu bertanya hal yang harus dipikirnya lebih dulu?

“Bukan maksudku kalau kau sekarang tidak normal, hanya saja kau sangat terlihat berbeda. Apa kau selalu seperti ini jika tidak di depan kamera?”

Yoon Hye menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan, “Semuanya tidak ada yang sama. Dulu dan sekarang itu adalah dua hal yang berbeda. Setelah mengalami berbagai hal seiring berjalannya waktu, semuanya bisa berubah. Itu toko bukunya!”

 

*****

 

Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat seperti menjaga jarak? Hyuk Jae hanya ingin tau, apa saja yang telah dilakukannya bersama gadis itu selama menjadi sepasang kekasih di depan publik. Gadis itu selalu terlihat resah dan cemas. Saat dia bertemu dengannya di gedung SM, dia seperti ketakutan. Seolah-olah dia sedang berada di dalam rumah hantu.

Saat melihat gadis itu, Hyuk Jae merasa mereka sudah saling mengenal lama. Ia tidak merasa canggung saat bersama gadis itu. Banyak hal yang tiba-tiba muncul dalam fikirannya tentang gadis itu. Siapa dia? Siapa Kim Yoon Hye?

Tiba-tiba Hyuk Jae tersentak. Donghae pernah menyebut nama itu saat ia baru saja sadar dari kecelakaannya. Kim Yoon Hye, ya Kim Yoon Hye.

“Oppa, waeyo?”

laki-laki itu mengerjap kaget. Ia lupa jika saat ini ia sedang makan bersama Hyeyeon. “Ani, gwenchana,” jawabnya sambil tersenyum.

“Oppa, kau tau? Aku sangat merindukan hal-hal seperti ini. Kau sering mengajakku makan pancake dulu.”

“Dan kau bisa menghabiskan tiga porsi pancake, benar bukan?”

Hyeyeon tersenyum, “Aku senang kau masih ingat itu.”

Hyuk Jae termangu. Ia ingin mengingat semuanya. Ia ingin mengingat apa saja yang pernah dilupakannya tentang gadis itu. “Hyeyeon ah, aku ingin ke toilet sebentar.”

“Oh? Ne…”

Hyuk Jae beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri seorang gadis yang sibuk mencatatat sesuatu di meja kasir.

“Jeoseonghamnida agashi, boleh aku bertanya di mana toiletnya?” tanya Hyuk Jae.

Gadis itu mengangkat wajah lalu tersentak saat menatapnya, “Hyuk Jae ssi?”

Hyuk Jae tersenyum, pasti gadis ini seorang ELF. Ia memang sedang tidak menggunakan penutup wajah saat ini.

“Kenapa kau kemari? Apa kau mencari Yoon Hye?”

Baiklah, ia bingung sekarang. Apa gadis ini mengenalnya? Bukan karena dia ELF, tapi apa gadis ini benar-benar mengenalnya? Dia juga menyebutkan nama Kim Yoon Hye. Apa gadis ini mengenal gadis itu juga?

“Kau baik-baik saja setelah kecelakaan itu? Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis itu sambil menatap Hyuk Jae, terlihat raut khawatir di wajahnya.

“Aku baik-baik saja…” jawab Hyuk Jae sambil tersenyum.

“Kau tau, aku sudah berusaha untuk menepati janjiku padamu. Untuk selalu menjaganya. Tapi aku bukan obat yang bisa membuatnya sembuh. Mianhaeyo…”
“Apa maksudmu? Kau pernah berjanji kepadaku? Apa kita saling mengenal sebelumnya?” tanya Hyuk Jae hati-hati.

Gadis itu menyipitkan matanya menatap Hyuk Jae, “Apa kau sedang bercanda? Apa aku harus mengatakan ‘Lee Hyora imnida’ lagi kepadamu? Tidak lucu!”

“Mwo?”

“Aku tidak percaya ini…” desis Hyora.

“Jadi kita saling mengenal?”

“Toilet ada di sebelah sana, silahkan kau berjalan lurus lalu belok kiri!” kata Hyora ketus tanpa menjawab pertanyaannya.

Bahkan sebelum Hyuk Jae membuka mulutnya untuk bertanya lagi, gadis itu berlalu begitu saja membuatnya semakin bingung. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
.
.
.

Hyora sedang membereskan kertas-kertas di mejanya saat ia mendengar salah satu pelayan yang bekerja di cafenya berbicara kepada seseorang.

“Jeoseonghamnida, kami sudah tutup sajangnim…”

“Aku ingin bertemu dengan Lee Hyora Ssi.”

Hyora mengangkat wajahnya dan melihat Hyuk Jae sedang menatapnya. Mau apa laki-laki itu?

“Bisa kita bicara sebentar Lee Hyora ssi?” tanya Hyuk Jae.

“Kami sudah tutup, kembalilah besok lagi!” saut Hyora.

“Aku datang bukan untuk memesan sesuatu, tapi untuk berbicara denganmu mengenai hal diluar restourant dan ini masalah pribadiku!”

Hyora menatapnya diam. Ia masih kesal. Bagaimana mungkin Hyuk Jae melupakan dirinya? Dulu laki-laki itu sendiri yang datang dan memintanya untuk menjaga Yoon Hye, tapi sekarang dirinya malah dilupakan sama sekali. Keterlaluan.

“Kumohon Lee Hyora ssi, biarkan aku menjelaskan dulu.”

Gadis itu menghela nafas kemudian mengangguk pelan, “Duduklah!”
Seorang pelayan meletakkan dua cangkir capuchino di hadapan Hyora dan Hyuk Jae. Saat ini mereka sudah duduk di salah satu meja café.

“Gomawo Eun Chan ah, kau boleh pulang sekarang. Biar aku yang menguncinya nanti,” ucap Hyora pada pelayan itu.

“Ne eonni.”

Kemudian tatatapan Hyora kembali lagi pada laki-laki yang saat ini sedang menatap sekeliling caffenya.

“apa aku pernah kemari sebelumnya…?” gumam Hyuk Jae pelan.

“Mwo?” gadis itu mengerutkan keningnya, “Sebenarnya apa yang ingin kau jelaskan?” tanyanya dingin.

“Darimana kau tau aku kecelakaan?”

Hyora mendengus pelan, “Hampir semua media memuat hal itu. Kecelakaan artis terkenal tidak akan mereka diamkan begitu saja!”

“Apa yang kau tau dari kecelakaan itu?”

Kali ini Hyora menatap dengan pandangan menyelidik, “Yang ku tau, kau mengalami koma kemudian di bawa ke Jepang dan sekarang sudah sembuh. Karena kalau tidak, kau tidak akan duduk dihadaanku saat ini.”

“Hanya itu?“

“Apa masih ada hal lainnya?”

“Apa media tidak mengatakan kalau aku mengalami benturan pada kepala?” tanya Hyuk Jae. Melihat gadis itu hanya diam, ia melanjutkan, “Karena benturan itu, aku mengalami hilang ingatan… sebagian.”

“Mworago?”

“Aku tidak ingat apapun mengenai kejadian tiga bulan terakhir ini Hyora ssi.”

“Omo saesange…” Hyora membekap mulutnya dan menatapnya tidak percaya. Apa laki-laki ini sungguh-sungguh? Apa dia sedang mempermainkannya?

“Aku merasa sangat bodoh saat ini karena tidak ingat apapun.”

“Apa… Apa kau juga tidak ingat dia?” tanya Hyora pelan, nyaris berbisik, “Kau tidak ingat kim Yoon Hye?”

Hyuk Jae menggeleng pelan membuat Hyora terkesiap.

“Manager Hyung dan Leeteuk Hyung memberitahuku bahwa Yoon Hye ssi adalah kekasihku, tapi hanya pura-pura di depan publik. Aku sudah menonton semua video tentang kami dan aku juga sudah bertemu dengannya tadi__”

“Kau bertemu dengannya??” seru Hyora tidak percaya.

“Ada apa?” tanya hyuk jae bingung menerima reaksi gadis itu yang sangat tidak wajar.

“Kau benar-benar bertemu dengannya?” ulang Hyora, kali ini dengan nada lebih pelan.

“Ya, Leeteuk Hyung yang membawanya untuk bertemu denganku. Aku harus tau tentangnya, bagaimanapun status kami masih pacaran saat ini.”

“Dia bersedia menemuimu?”

“Apa ada alasan untuk dia tidak bersedia bertemu denganku?”

“Tentu saja banyak! Aku tidak mengerti kenapa dia…” kalimat Hyora terputus. Ia baru sadar seharusnya ia tidak boleh mengatakan hal ini.

“Apa yang sudah terjadi sebenarnya?” tanya Hyuk Jae dengan tatapan tajam, “kau tau semuanya, benar bukan?”

“Aku juga tidak tau ada apa sebenarnya. Dan aku juga tidak berhak untuk memberitahumu. Karena ini bukan tentang aku, Hyuk Jae ssi.”

“Tapi ini tentang aku.”

“Juga tentangnya! Aku tidak berhak untuk mengatakannya. Maafkan aku… Jika kau ingin tau, bertanyalah langsung kepadanya. Tapi saranku untukmu Hyuk Jae ssi, lebih baik kau tidak bertanya apapun padanya. Kau… Kau bisa membunuhnya.”

“Mwo?”

“Sebagai temannya aku memintamu untuk menjauhinya. Pergilah dari kehidupannya, karena bukan hanya dia yang akan terluka nantinya, kau pun akan terluka. Sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya terulang lagi dan menjadi semakin fatal. Pergilah dari kehidupannya.”

“Kenapa?”

“Seperti yang kubilang tadi, aku tidak berhak untuk memberitahumu.” Hyora beranjak dari duduknya, “kau sudah tau di mana pintu keluarnya bukan? Aku pergi dulu…” ucapnya pelan lalu berjalan pergi, masuk ke dalam counter. Meninggalkan Hyuk Jae yang masih termgangu di tempatnya.

 

 

To be continue…

 

[Revisi 23 Nov 14 ; 01.12 pm]