Tags

, , ,

season of love

“Kenapa nomermu ada di nomor sembilan panggilan cepatku?”

————————

Part 9

 

 

Gadis itu mengucek-ngucek matanya yang terasa berat. Tapi mendengar pintu apartementnya digedor-gedor dengan keras, mau tidak mau ia harus bangun dari tidurnya. Dengan langkah tersaruk-saruk Yoon Hye berjalan menuju pintu lalu membukanya.

“Yaa! Katakan apa yang terjadi sebenarnya kepadaku! Kenapa kau bersedia menemuinya? Apa kau tidak memperdulikan perasaanmu sendiri, Yoon ah? Seharusnya kau tidak perlu berhubungan lagi dengannya. aku tidak ingin melihatmu seperti mayat hidup lagi. Jika ada manusia yang harus kau jauhi itu adalah dirinya! Aku tidak mengerti, kenapa kau masih berhubungan dengannya. Waeyo?”

Yoon Hye menggaruk-garuk rambut kusutnya dengan linglung di ambang pintu. Temannya, Lee Hyora langsung menerobos masuk begitu ia membuka pintu sambil berbicara panjang lebar.

“Kim Yoon Hye ssi, kau dengar aku atau tidak?” sungutnya kesal sambil berkecak pinggang.

“Bisakah kau memberiku waktu untuk mandi dulu? Ucapanmu yang panjang itu tidak bisa diproses oleh otakku yang masih kusut ini.”

“Mwo? Heol… Neo jjinja…” Hyora mendesah keras, “baiklah, kutunggu kau sepuluh menit untuk mandi!”

Saat yoon hye keluar kamar, tercium aroma teh dari dapurnya.

“Duduklah, minum ini dulu!” ajak Hyora sambil mengoleskan selai pada roti.

Gadis itu duduk di hadapan Hyora sambil menggosok-gosokkan rambutnya yang basah. Ia menyesap teh hangat dari cangkir yang ada dihapannya itu.

“Waktumu habis Kim Yoon Hye ssi, sebaiknya kau mulai menjelaskannya kepadaku!”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Semuannya!”

“Aku tidak tau harus memberitahumu dari mana, bagaimana kau tau aku bertemu lagi dengannya?”

“Semalam, dia makan di café. Bersama seorang gadis!” jawab Hyora datar. Gadis itu menatap Yoon Hye lekat-lekat, mencoba mencari tau lewat ekspresinya. Namun ekspresi gadis itu tetap tenang. Tidak terbaca sama sekali.

Yoon hye tau gadis itu Hyeyeon. Hyuk Jae sudah berjanji kepadanya untuk makan malam bersama. Hanya saja ia sedikit heran, dari semua tempat makan yang ada, kenapa harus di caffe Hyora?
“Apa kau tau jika dia kehilangan sebagian memory otaknya?” tanya Hyora hati-hati.

“Ara…”

“Siapa yang memberitahumu? Media tidak tau tentang ini.”

“Managernya dan Leeteuk ssi yang memberitahuku. Mereka juga yang memintaku untuk tetap berpura-pura menjadi kekasihnya.”

“Dan kau menyetujuinya?” seru Hyora tidak percaya, “Yaa, neo paboya?”

“Aku harus melindunginya Hyo ya… Kau tau sendiri bagaimana Halyu. Semuanya akan bertambah rumit jika wartawan tau hal ini.”

“Tapi dia tidak mengenalmu, yoon ah!” bantah Hyora.

Yoon Hye menghela nafas pelan, “Bukankah itu bagus? Kami bisa menjalaninya tanpa mengingat apa yang sudah terjadi. Semuanya sudah kembali seperti awal. Kami hanya pura-pura di depan publik. Karena itu kemarin Leeteuk ssi mengajakku menemuinya untuk membicarakan hal ini.”

“Tapi bagaimana denganmu? Kau tidak hilang ingatan sepertinya, kau ingat semuanya. Kenapa mereka sama sekali tidak memperdulikan perasaanmu? Kenapa kau tidak perduli pada dirimu sendiri?”

“Aku bisa mengatasinya hyo ya.”

“Ani, kau tidak bisa! Jangan berpura-pura kuat di hadapanku, Yoon ah. Aku tau bagaimana dirimu. Seharusnya kau menolaknya. Seharusnya kau menjauh darinya. Dulu dan sekarang berbeda. Dulu dia kekasihmu dan sekarang dia kakakmu sementa__”

“Dia bukan kakakku!” potong Yoon Hye tiba-tiba.

“Mwo?”

“Dia… bukan kakakku,” ulang gadis itu sambil menahan tangis.

“Apa maksudmu?”

“Bukan dia anak dari appa. Tapi Hyung-nya yang sudah meninggal.”

“Saesange… Sejak kapan kau tau hal ini?”

“Saat dia kecelakaan.“

“Kenapa tidak memberitahuku?” tanya Hyora kecewa, “kau sudah mengatakan hal ini kepadanya?”

Yoon Hye menggeleng pelan, “Untuk apa? Dia tidak mengenalku. Dia tidak mengingatku, jadi untuk apa aku memberitahunya?”

“Kalau begitu buat dia agar mengingatmu.”

Sebutir air mata jatuh dari kelopak mata gadis itu, “Terlambat…”

“Mwo?”

“Aku terlambat ke kantor,” Yoon Hye beranjak dari duduknya dengan cepat. Ia mengganti pakaiannya dengan terburu-buru dan langsung menyambar tasnya di sofa, “aku pergi dulu!” ucapnya sambil berlari keluar apartement.

 

****

 

“Eomma…”

“Oh, Hyuk ah, waseo?”

“Nunna eodiga?”

“Dia sudah pergi lebih dulu karena ada urusan setelah ini.”

“Geure? Kalau begitu ayo kita langsung saja ke makam Hyung.”

“Changkaman, duduklah sebentar! Ada yang eomma bicarakan denganmu.”

Hyuk Jae menarik salah satu kursi makan lalu duduk di sana, “Ada apa, eomma?”

“Sebenarnya, kau sudah tau sebelum ini. Tapi karena kau tidak mengingatnya, akan eomma katakan lebih jelas kepadamu.”

Hyuk Jae hanya diam, menunggu eommanya melanjutkan kata-katanya. Wanita itu menghela nafas sejenak, “Kau… sebenarnya, kau bukan anak kandung kami.”

Hyuk Jae mematung mendengarnya. Ia hanya diam menatap eommanya, mencoba mencerna kalimat itu. “Aku bukan anak kalian?” tanyanya pelan.

“Kau adalah putra dari Lee Shin Ae, dongsaeng appa. Kedua orang tuamu meninggal dalam kecelakaan, karena itu kami mengangkatmu sebagai putra kami. Dan tentang gadis itu… dia sebenarnya bukan saudaramu.”

“gadis?”

“Ah, tentu saja kau tidak mengingatnya. Kim Yoon Hye, kekasihmu. Appanya sempat melarangnya untuk berhubungan denganmu karena mengira kau adalah putranya.”

Kening hyuki berkerut bingung. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ibunya.

“Aku tau kau bingung dengan ini semua. Akan kuceritakan kepadamu dari awal. Dulu sebelum eomma menikah dengan uri appa, eomma pernah mencintai seorang namja. Namun halmeoni tidak menyukainya. Uri Jung Hyun sebenarnya bukan anak dari uri appa. Dia putra Kim Tae Hyun, cinta pertama eomma. Saat itu kami melakukan kesalahan. Tapi… beberapa waktu lalu saat kau berpacaran dengan Yoon Hye, Tae hyun mengira kau adalah Jung Hyun karena saat itu kau membawa kalung giok milik Jung Hyun yang diberikannya kepadamu saat kalian kecil dulu. Kalung itu adalah warisan dari keluarga Tae Hyun. Karena itu, dia salah sangka dan melarangmu untuk berpacaran dengan Yoon Hye. Gadis yang menjadi kekasihmu itu ternyata adalah putrinya. Apa gadis ini sudah bertemu denganmu?”

Dengan kebingungan Hyuk jae mengangguk, “Aku sudah bertemu dengannya, tapi dia tidak mengatakan apapun.”

“Eomma tidak tau bagaimana hubungan kalian. Tapi eomma menceritakan ini agar kau mengerti dan tidak ada hal buruk yang terjadi lagi. Sepertinya kenyataan itu sangat melukai kalian berdua. Aku masih ingat bagaimana ekspresinya saat tau bahwa kalian bukan saudara, dia terlihat begitu lega hingga menangis.”

“Aku perlu berfikir eomma.”

“Tentu. Sekarang ayo kita pergi ke makam Jung Hyun untuk memperingati hari kematiannya, sekaligus mengunjungi makam orangtua kandungmu.”

 

****

 

Hyuk Jae merasa kepalanya sakit. Ia ingin sekali mengingat, tapi tidak bisa. Ada hubungan apa ia dan gadis itu sebenarnya? Semakin ia berusaha keras, semakin berdenyut sakit kepalanya.

“Aaaarrrgh…” laki-laki itu berteriak frustasi sambil meraih ponselnya. Dengan tampang kacau, ia membuka-buka ponselnya, berharap menemukan sesuatu.

Sudah dua jam sejak kunjungannya ke makam Jung Hyun dan orangtua kandungnya, tapi ia masih bingung memikirkan mengenai dirinya sendiri. Tiba-tiba gerakan jarinya terhenti. Matanya terpaku menatap layar ponsel itu. Nomer sembilan… Kenapa nomor ponsel dengan nama ‘My Season’ ada di nomor sembilan untuk panggilan cepatnya? Ia yakin itu bukan nomor Hyeyeon. Meskipun ia menyukai gadis itu, tapi nomor sembilan belum dirasa pas untuk Hyeyeon.

Akhirnya ditekannya tombol ‘call’ pada ponselnya. Terdengar nada sambung sejenak sebelum seseorang menjawab panggilannya.

‘Yeoboseo?’ terdengar suara wanita di seberang sana, ‘ada apa kau menghubungiku?’

Hyuk Jae mengerutkan keningnya, “Kau… mengenalku?” tanyanya ragu.

Terdengar helaan nafas dari orang itu, ‘Oppa, jangan bercanda.’

Suara ini… “Yoon ah?” panggil Hyuk Jae ragu.

‘Ada apa?’

“Kenapa nomermu ada di nomor sembilan panggilan cepatku?”

‘Mwo?’

“Kenapa nomermu ada di nomor sembilan panggilan cepatku?” ulang laki-laki itu.

Hening…

“yoon ah?”

‘Mollaseo…’ jawabnya dengan nada lelah.

“Apa kau juga tidak tau kenapa aku memberimu nama My Season?”

Hening lagi…

‘Sebenarnya kau menanyakan apa? Aku sama sekali tidak mengerti.’

“Baiklah, tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggumu.”

Hyuk Jae memutus panggilan itu dengan bingung. Angka sembilan adalah angka yang sepesial untuknya. Dan ia menyimpan nomor gadis itu pada angka Sembilan. Sebenarnya apa hubungan antara dirinya dengan gadis itu? Apa benar mereka hanya berpura-pura pacaran saja?

“Hyuk ah, apa yang kau lakukan?”

Laki-laki itu tersentak dan mendapati Sungmin sedang berdiri di ambang pintu kamarnya sambil membawa segelas susu.

“Hyung, apakah kau tau kenapa aku menyukai angka sembilan?”

Sungmin tersenyum, “Yaa, kau juga melupakan hal itu? Bukankah kau pernah bilang angka sembilan adalah pelengkapmu? Kau menyukai bassball bukan? Dalam pemain bassball ada sembilan pemain, kalau berkurang satu saja tidak akan lengkap. Jadi nomor sembilan adalah pelengkap.”

“Benar. Lalu… Apakah Hyung tau mengapa nomor ponsel Kim Yoon Hye ada diangka Sembilan panggilan cepatku?”

Sungmin terdiam sejenak, “Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, mengapa kau menaruh nomor ponselnya pada angka sembilan?”

“Karena…” Hyuk Jae menghentikan kalimatnya. Ia juga tidak tau harus menjawab apa “Hyung, apa hubunganku dengan gadis itu sebenarnya? Apa benar kami hanya berpura-pura saja?”

“Kenapa kau bertanya begitu? Leeteuk hyung sudah memberitahumu bukan?”

“Ne… Hanya saja, aku tidak merasa kalau kami berpura-pura.“

“Maafkan aku Hyuk Jae ya, aku juga tidak bisa membantumu. Seharian ini kau kemana saja?”

“Ah, aku pulang ke rumah. Hari ini adalah peringatan kematian Jung Hyun Hyung. Jadi aku pergi ke makamnya tadi. Aku juga mengunjungi makam orangtuaku.”

“Orangtuamu?”

“Kau tau, Hyung? sebenarnya aku hanyalah anak angkat.”

“Mwo?”

“Eomma kandungku adalah dongsaeng appa. Orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Karena itu mereka mengadopsiku.”

“Jadi kau bukan anak kandung eommamu yang sekarang?” tanya Sungmin terkejut.

“Ya, begitulah…”

“Jadi kau bukan saudara Yoon Hye?”

“Ah, aku baru ingat. Apa Yoon Hye ssi pernah bilang bahwa kami saudara? Itu hanya salah paham. Bukan aku, tapi Jung Hyun Hyung yang sudah meninggal.”

“Ini tidak mungkin…” gumam Sungmin kemudian cepat-cepat pergi meninggalkan Hyuk Jae yang masih bingung.

‘Sebagai temannya aku memintamu untuk menjauhinya. Pergilah dari kehidupannya, karena bukan hanya dia yang akan terluka nantinya, kau pun akan terluka. Sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya terulang lagi dan menjadi semakin fatal. Pergilah dari kehidupannya.’

Hyuk Jae teringat kata-kata Lee Hyora. Apa maksud gadis itu? Sebenarnya apa yang terjadi antara dirinya dan Yoon Hye? Ia harus menanyakan langsung pada gadis itu.
.
.
.

Yoon hye terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Beberapa menit yang lalu laki-laki itu meneleponnya. Memberikan pertanyaan yang tidak bisa di jawabnya.

‘Apa kau juga tidak tau kenapa aku memberimu nama My Season?’

‘Autumn in Paris. Benar-benar cantik. Seperti dirimu yang dapat mewarnai hariku. Kau adalah gadis musim gugurku.’

‘Aku tidak ingin hanya menjadi gadis musim gugurmu yang selalu datang sekali setiap tahun. Aku ingin menjadi semua musim dan menghabiskan waktu bersamamu sepanjang tahun.’

Dada gadis itu tiba-tiba saja merasa nyeri. My season… Jadi selama ini dia menyimpan nomor ponsel Yoon Hye dengan nama itu? Air mata gadis itu menggenang. Tidak bisa… Yoon Hye sudah tidak bisa menjadi musim yang selalu datang sepanjang tahun ke dalam hidupnya.

Gadis itu tersentak saat ponsel dalam genggamannya tiba-tiba saja berbunyi lagi. Ia menghapus air matanya kemudian menjawab panggilan itu, “Yeoboseo?? …Oh, Leeteuk ssi…”
.
.
.

“Apa yang ingin kau bicarakan dengaku, Leeteuk ssi?” tanya Yoon Hye saat ia sudah duduk di hadapan Leeteuk.

kemarin Leeteuk menghubunginya dan meminta untuk bertemu di café dekat tempatnya berkerja karena ingin membicarakan sesuatu.

“Kau tidak lapar? Pesanlah sesuatu!”

Gadis itu menggeleng pelan, “Aku tidak ingin makan.”

“kalau begitu bagaimana dengan secangkir mocca late?”

“Baiklah…”

Leeteuk memesan secangkir mocca late dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yoon Hye setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka.

Leeteuk menyesap kopinya lalu menatap Yoon Hye lekat-lekat, “Kim Yoon Hye ssi, tolong jawab pertanyaanku. Apakah Eunhyukie adalah saudaramu?”

Gadis itu tersentak mendengarnya. Ia menatap Leeteuk tidak mengerti, “Bukankah kau sudah tau?”

Leeteuk tersenyum, “Yang kutau, dia bukan saudaramu.”

“Da-darimana kau tau?” tanya Yoon Hye dengan tatapan gelisah.

“Jadi benar dia bukan saudaramu?”

Gadis itu terdiam sesaat. Ia mencoba meredam rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya “Dia, memang bukan saudaraku.” jawabnya akhirnya.

“Sejak kapan kau tau hal itu?”

“Saat dia kecelakaan.”

Leeteuk mendesah pelan, “Seandainya saja kalian tau hal ini lebih awal…”

“Apa maksudmu Leeteuk ssi? Darimana kau tau hal ini?”

“Aku tau dari Sungmin, Hyuk Jae yang mengatakan langsung.”

“Mwo?”

“Sungmin bilang, Hyuk Jae tau dari ibunya. Ibunya bercerita bahwa dia bukan anak kandungnya.”

“Jadi dia tau…?” gumam Yoon Hye dengan nada melamun.

“Ne. Kenapa kau tidak mengatakan hal ini sebelumnya Yoon Hye ssi? Mungkin saja hubungan kalian bisa diperbaiki. Dia bisa saja sembuh dari hilang ingatannya.”

Yoon Hye menggeleng pelan, “Tidak ada yang bisa diperbaiki. Semuanya sudah berbeda. Biarkan saja dia dengan kehidupannya saat ini. Kumohon.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau mencintainya bukan?”

Gadis itu tersenyum pahit, “Apa yang bisa kau harapkan dari takdir dan waktu? Semuanya tidak akan sama dengan seperti yang kita inginkan. Ada hal yang membuatku tidak bisa berada di sisinya lagi. Ini caraku mencintainya. Bantulah aku untuk mencari waktu yang tepat. Aku memohon padamu.”

“Waktu yang tepat?”

“Aku tidak bisa selamanya menjadi kekasih pura-puranya, harus ada berita tentang berakhirnya hubungan kami.”

Laki-laki itu terdiam. Yoon Hye meraih tasnya, “Jam istirahatku sudah habis. Aku harus pergi leeteuk ssi, sampai jumpa…”

Tanpa menunggu jawaban dari Leeteuk, gadis itu beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi.

 

*****

 

“Hyung, kembalikan scrafku yang kau pinjam!” kata Ryeowook saat Hyuk Jae baru saja pulang dari kesibukannya.

“Scraf?”

“Ne, kau pernah meminjamnya dulu. Warnanya putih motif hitam.”

“Akan kucari!”

Hyuk Jae melepas jaketnya, melemparnya ke tempat tidur. Jadwalnya benar-benar padat hari ini. Dengan tubuh lelah, ia mulai membongkar lemari pakaiannya. Akhirnya ditemukannya scraf itu di lemari paling bawah. Diambilnya benda itu dan langsung memberikannya pada Ryeowook.

Laki-laki itu kembali ke kamarnya. Ia melepas jam tangan yang dipakainya kemudian menaruhnya di laci meja lampu. Gerakannya menutup laci terhenti saat melihat sesuatu. Ditariknya kembali laci itu. Ia menemukan sebuah kamera. Keningnya berkerut samar. Seingatnya ia tidak punya kamera. Lalu milik siapa ini? Hyuk Jae mengambil kamera itu lalu kembali ke luar kamar.

“Ryeowook ah, apa ini milikmu?” tanyanya pada Ryeowook yang sedang makan biskuit sambil menonton drama.

“Ani hyung, itu milikmu.”

“Aku tidak ingat pernah membeli benda ini.”

“Kau baru saja membelinya. Bahkan kau bertanya kepada Siwon Hyung soal kamera.”

“Geure?” kening Hyuk Jae mengerut. Tapi ia tidak bertanya lagi. Ia kembali masuk ke dalam kamar lalu menyalakan benda itu. Apa saja yang sudah dipotretnya?

Ia tersenyum saat melihat fotonya bersama member lain. Ada beberapa foto yang sangat konyol seperti saat Shindong Hyung makan dengan pose aneh, atau Kyuhyun yang mengacak rambut frustasi karena kalah main game. Kemudian ia tertegun saat melihat foto berikutnya muncul. Foto seorang gadis yang sedang tersenyum.

Dan foto-foto berikutnya membuatnya semakin terdiam. Ada foto mereka berdua, juga foto dengan nenek dan kakek Hyuk Jae di desa kelahirannya. Di kebun buah pear itu… Juga di sungai dekat sana. Ia pernah mengajak gadis itu ke sana? Sekarang ia benar-benar yakin bahwa gadis itu memiliki hubungan yang lebih dengannya. Kim Yoon Hye, gadis itu pasti seseorang yang penting untuknya.

Ponselnya di atas meja nachkast tiba-tiba saja berdering. Nama Hyeyeon berkedip-kedip di layar ponselnya.

“Yeoboseo?”

‘Oppa… Kau ada waktu?’

“Waeyo?”

‘Bisa menemaniku nonton? Seoyoung memberiku dua tiket film baru Park Hyun Sik. Kupikir kau mau melihatnya.’

“Mianhae Yeon ah, malam ini aku tidak bisa.”

‘Waeyo?’

“Aku harus mencari sesuatu untuk mengembalikan ingatanku.”

‘Kenapa tiba-tiba… Bukankah sebelumnya kau tidak ingin berusaha mengingatnya? Kepalamu akan sakit bukan?’

“Ya… Tapi sekarang aku menjadi ragu. Bagaimana kalau dalam tiga bulan itu ada kejadian penting dalam hidupku? Bagaimana kalau aku melupakan hal penting itu? Aku harus mencari tau.”

‘Tapi oppa_’

“Lain kali kau akan kutemani, sampai jumpa!”

Laki-laki itu menutup ponselnya sepihak kemudian meraih jaket dan kunci mobilnya dengan cepat. Ia harus menemui gadis itu sekarang juga. Hyuk Jae mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tapi kemudian ia ingat, ia tidak tau di mana apartement gadis itu. Laki-laki itu menyadari bahwa saat ini mobilnya sedang meluncur ke arah café Hyora. Ia berharap gadis itu mau memberitahunya.

Tapi sangat sayang, hari ini Hyora tidak ada di sana. Laki-laki itu memukul stir dengan kesal. Akhirnya ia hanya berkeliaran tidak jelas di jalan. Tanpa disadarinya, mobilnya meluncur ke sebuah tempat yang bisa membuatnya tenang.
.
.
.

Gadis itu sedang duduk melamun di dalam bus. Pembicaraannya dengan Leeteuk masih memenuhi kepalanya. Jadi laki-laki itu sudah tau semuanya… Entah mengapa hal itu membuatnya sedikit lega. Kenyataan bahwa mereka bukan saudara kandung, membuat pikirannya terasa sedikit ringan. Tapi Yoon Hye tau, semuanya sudah berubah. Ia tau siapa dirinya. Kenangan itu, membuatnya selalu ingat akan berbahayanya dunia ini untuknya. Dan ia tidak akan pernah melupakan saat di mana kehormatannya terenggut.

Ia selalu ingat hal itu, betapa kotor dirinya yang sekarang. Ia selalu takut saat memasuki gedung itu. Ia takut ada yang mengenalnya. Ia takut ada yang mengetahui tentang hal ini. Dan Lee Hyuk Jae, adalah bagian dari tempat itu. Tempat yang ingin dilupakannya seumur hidup.

Akhirnya bus berhenti dan Yoon Hye turun. Salju turun perlahan. Dirapatkannya jaket yang dipakainya. Ia melangkah perlahan. Ia ingin menghilang dari dunia ini, ia ingin berhenti. Terlalu lelah kakinya untuk melangkah. Terlalu perih luka yang ada. Saat ini, ia sudah tidak punya harapan lagi. Apa yang bisa diharapkannya untuk hidup jika semuanya tergantung pada tadir yang sudah tertulis? Sekuat apapun kau menolaknya, semuanya sia-sia.

Gadis itu berhenti melangkah dan termangu sesaat. Kenapa tiba-tiba ia sudah berada di tempat ini? Ditatapnya bangunan itu. Otaknya menyuruh untuk segera pergi, namun tidak dengan hatinya. Perlahan kakinya melangkah memasuki bangunan itu.

Tidak ada perubahan pada tempat itu. Semuanya masih tetap sama. Piano itu masih ada di sana. Perlahan bayangan laki-laki itu muncul, memainkan sebuah lagu. Yoon Hye memejamkan matanya sambil mencengkeram syal yang melilit di lehernya.

Hening…

Sunyi…

Tidak ada siapapun selain dirinya di situ. Panggung pertunjukan itu tampak legang. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menatap benda itu nanar. Ponsel. Benda itulah yang mempertemukan mereka untuk pertama kalinya. Dengan bentuk yang sama, model yang sama, warna yang sama, bahkan dengan nada dering yang sama.

Yoon Hye memasukan benda itu lagi ke dalam tasnya. Ia menatap panggung itu sejenak kemudian menghela nafas pelan. Ia harus melepaskan semuanya dan memulai lagi dari awal. Mengambil waktu jeda untuk beristirahat. Semua beban batin ini sungguh membuatnya lelah. Tapi ia harus menghadapinya. Menyelesaikan semuannya.

Kakinya kemudian berbalik untuk pergi dari tempat itu namun langkahnya terhenti total begitu saja. Dia, laki-laki itu, Lee Hyuk Jae, sedang berdiri sambil menatapnya tajam. Oh dear…

 

 

To be continue…

 

[Revisi 23 Nov 14 ; 01.21 pm]