Tags

, , , ,

season of love“Kupikir setelah kejadian itu kau tidak berani datang kemari lagi,”

Part 10

 

Kakinya kemudian berbalik untuk pergi dari tempat itu namun langkahnya terhenti begitu saja. Dia, laki-laki itu, Lee Hyuk Jae, sedang berdiri sambil menatapnya tajam. Oh dear…

“Jelaskan semuanya padaku!” pinta laki-laki itu dengan nada tajam.

Gadis itu masih berdiri di tempatnya. Tubuhnya kaku dan lidahnya terasa kelu. “Tidak ada yang perlu dijelaskan…” jawabnya dengan susah payah.

“Apa yang tidak kuketahui kim yoon hye ssi? Apa hubungan kita sebenarnya?”

“Kau tau hubungan kita seperti apa.”

“Kau benar. Aku tau hubungan kita seperti apa dan aku yakin itu lebih dari sekedar teman. Benar bukan?”

Yoon Hye menatap gelisah, “A-apa maksudmu?” tanyanya ketakutan.

“Kau adalah kekasihku!”

Gadis itu terdiam menatapnya, “Di depan publik dan kamera, ya, aku kekasihmu.” jawabnya kemudian.

Hyuk Jae mengerang frustasi, “Dalam kenyataan pun kau adalah kekasihku! Kau tau kenapa nomor ponselmu ada di angka Sembilan panggilan cepatku? Karena angka sembilan adalah angka pelengkapku. Dan kau adalah pelengkap hidupku! Selama ini tempat itu kosong, tapi sekarang ada nomormu di sana. Juga tempat ini… Bagaimana bisa kau tau tentang tempat ini? Tempat di mana aku menemukan impianku. Tidak ada gadis yang pernah kuajak kemari, Yoon ah… Hanya kau yang tau tempat ini. Itu artinya kau punya arti khusus untukku. Tolong katakan bahwa aku benar!”

Jantung Yoon Hye berdebar keras. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana ini? Tidak… laki-laki itu tidak boleh tau. Dia tidak boleh tau tentang semua ini atau mimpi buruk itu akan datang. Gadis itu melangkah dengan cepat melewati Hyuk Jae menuju pintu keluar tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuknya. Tapi laki-laki itu dengan cepat menahan tangannya. Tidak membiarkannya pergi begitu saja.

“Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Mianhae…”

“Mwo?”

“Mianhae…” Yoon Hye melepaskan jemari Hyuk Jae yang menahan lengannya kemudian berlari keluar secepat yang ia bisa. Ia tidak perduli lagi dengan rasa sakit yang menghimpit dadanya, tidak perduli lagi dengan air mata yang mengalir di pipi. Dalam pikirannya hanya ia harus pergi.

TIIIIIIIINNN…

Ckiiiiiiittttt…

Tubuh gadis itu mematung. Maut baru saja akan memeluknya. Merengkuhnya. Tapi ia selamat. Mobil itu hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya.

“Yoon Hye ssi??”
.
.
.
Hyuk Jae hanya bisa menatap gadis itu berlari menjauh darinya. Ia menghela nafas lelah. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah notes kecil di lantai. Dipungutnya notes itu dan selembar foto jatuh dari dalamnya.

Moi et rien n’allais dans ma vie. . .

“Aku dan segala yang kuinginkan dalam hidupku,” gumamnya pelan sambil menatap sebaris kalimat di balik lembar foto itu.

Laki-laki itu membalik lembaran foto itu dan menemukan gadis itu sedang tersenyum lebar bersamanya. Seolah teringat sesuatu, Hyuk Jae tersentak lalu berlari mengejar Yoon Hye. Ia berlari secepat mungkin untuk menyusul gadis itu. Tapi langkahnya sontak terhenti saat melihat Yoon Hye masuk kedalam mobil seseorang. Mobil Taguchi Junnosuke, teman lamanya.

Hyuk Jae tidak ingin membuang waktunya. Ia kembali berlari ke mobilnya dan melesat menyusul gadis itu. ia harus bicara dengan gadis itu sekarang juga. Diinjaknya pedal gas lebih kuat. Tapi tiba-tiba saja lampu jalan berubah menjadi merah. Dan sebuah mobil dari sisi lain meluncur dihadapannya. Laki-laki itu sempat merasa kosong sesaat. Tanpa sadar ia memutar setir ke kanan dengan cepat.

Saat semua hal sepertinya sudah berakhir. Semua bayangan itu muncul satu persatu dalam kepalanya. Mengalir mengisi seluruh memori otaknya yang kosong.

Braaak…

Mobil itu menabrak tiang dipinggir jalan. Kepala Hyuk Jae terbentur stir sedikit keras. Laki-laki itu memegang kepalanya yang terasa sakit. Namun beberapa saat kemudian ia sadar apa yang sudah terjadi. Diinjaknya gas tanpa memperdulikan bagian depan mobilnya yang rusak akibat tabrakan itu. Ia harus pergi dari situ secepatnya sebelum orang-orang dan wartawan menemukannya. Sambil menahan sakit, ia memundurkan mobilnya dengan hati-hati kemudian meluncur pergi.

Sungai itu begitu tenang dan damai. Mengalir seperti waktu. Disitulah mobil Hyuk Jae berhenti, di pinggir sungai Hangang. Ketenangan itu membuatnya damai. Laki-laki itu diam menatap lurus ke depan. Memilah-milah ingatan yang mengalir dalam kepalanya. Kemudian ia menghirup udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak sebelum mengambil satu keputusan.

 

*****

 

“Apa kau yakin tidak ingin di rumahku lebih lama?” tanya Hyora.

“Aku harus pulang. Lagipula nanti siang aku harus ke kantor.”

“Kenapa kau tidak mengambil cuti saja? Keadaanmu tidak baik untuk bekerja saat ini.”

“Mrs. Han bisa membunuhku kalau tau aku cuti lagi, lagipula aku sudah tidak apa-apa.”

“Kau yakin?” tanya Hyora ragu.

“Ne… Aku akan membiarkan semuanya mengalir,” Yoon Hye tersenyum “kau tidak perlu mencemaskanku. Dan__oh, tiga jam lagi aku harus berangkat ke kantor, aku pergi sekarang, sampaikan terima kasihku pada Ajhusi dan Ajhuma.”

“Mau kuantar?”

“Gwenchana… Aku sudah cukup merepotkanmu semalam.”

“Dan menghabiskan satu kotak persedian tissueku,” potong Hyora sambil tersenyum.

Yoon hye tertawa kecil, “Lain kali akan kutraktir kau sebagai gantinya. Sekarang aku harus pergi, anyeong!”

Gadis itu berjalan ke arah halte dengan cepat. Ia menghirup aroma udara pagi dalam-dalam. Pikirannya sudah lebih baik setelah menangis semalam. Kata-kata Junno benar, membiarkan semuanya mengalir, menyerahkan segalanya kepada Tuhan dan mengikuti jalannya takdir.
Semalam ia meminta Junno mengantarkannya ke rumah Lee Hyora karena ia belum siap untuk pulang ke apartementnya. Ia butuh seseorang untuk menemaninya. Sekarang, ia merasa lebih baik.
.
.
.

Ponsel Yoon Hye berdering saat ia baru saja turun dari bus yang ditumpanginya. Gadis itu berjalan pelan masuk ke dalam gedung apartementnya.

“Hallo?” jawabnya saat tau itu telepon dari Indonesia.

‘Yoon lo baik-baik aja kan?’ suara jernih Yoon Ra langsung menyapa gendang telinganya.

“Baik eonni, waeyo?” jawabnya sambil terus berjalan.

‘Loe uda berapa bulan nggak nongol di SNS. Mama nanya terus. Gue nggak tau gimana keadaan loe, kenapa nggak ngabarin sih?’

“Eonni sorry… Aku sibuk banget akhir-akhir ini. Salah satu pegawai di tempatku bekerja sedang cuti karena melahirkan, jadi aku harus menghandle semua pekerjaan,” bohongnya.

‘Tapi loe beneran nggak apa-apa kan?’

“Bener. Eonni gimana kabarnya? Baik-baik aja kan? Mama sehat?” tanya Yoon Hye sambil masuk ke dalam lift.

‘Sehat, kita disini baik-baik aja. Akhir-akhir ini pikiran gue nggak tenang, nggak tau kenapa disekitar gue muncul tentang Korea mulu.’

Yoon Hye tertawa kecil, “Itu artinya eonni kangen sama aku.”

‘Iya kali ya? Hahah… Eh, kemarin-kemarin gue sempet denger Eunhyuk kecelakaan. Bener nggak?’

Tubuh Yoon Hye mematung sejenak mendengar nama itu, “Iya, tapi sekarang sudah nggak apa-apa.”

‘Jadi kapan loe pulang ke Indonesia? Ulang tahun kita dirayain di sini ya? Tahun lalu kan gue uda ke Korea.’

“Mmm, terserah eonni saja.”

‘Oh iya, si Orin nitip albumnya suju yang baru. Dari kapan hari ngerengek terus. Pusing gue dengernya.’

Yoon Hye tertawa, “Sudah besar dia sekarang? Kelas berapa eonni?”

Ting… Pintu lift terbuka. Gadis itu berjalan keluar kemudian belok kanan.
Kemarin baru saja tamat SMU. Liburan dia main ke rumah sama om. Begitu nyampek dia langsung protes keras kenapa loe bisa jadi pacarnya eunhyuk padahal kan loe ngefansnya sama Takeru Satoh.’

Gadis itu tersenyum pahit. ‘Dia bukan milikku saat ini, eonni.’ Ingin diucapkannya kata-kata itu, tapi lidahnya terasa kelu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat siapa yang sedang berdiri divdepan pintu apartementnya. Lee Hyuk Jae.

‘Yoon? Yoon? Loe denger gue nggak? Hallo?’

“N-ne eonni,” jawab Yoon Hye gugup.

‘Ada apa?’

“Nggak ada apa-apa…”

‘Yaudah, habis ini gue harus On Air. Udah dulu ya, bye!’

“Bye…”

Laki-laki itu sudah berdiri di depan Yoon Hye saat gadis itu menutup telphonenya. Ia hanya bisa terdiam melihatnya. Tidak tau harus berbuat apa. Kemudian Hyuk Jae mengulurkan selembar foto dalam genggamannya.

“Milikmu. Kemarin aku menemukannya di aula sekolah,” ucap laki-laki itu dengan suara serak.

Yoon Hye menerima foto itu dengan tangan gemetar.

“Siapa yang meneleponmu tadi?” tanya Hyuk Jae, “tadi aku mendengarmu berbicara bahasa Indonesia. Apa itu Lee Yoon Ra ssi?”

“Ye?” gadis itu mengerjap kaget kemudian langsung menunduk, “Ne…”

Tiba-tiba saja gadis itu terkesiap sambil menatap Hyuk Jae dengan pandangan tidak percaya, “Ka-kau…”

SET

GREEP…

Laki-laki itu menarik Yoon Hye ke dalam pelukannya tiba-tiba, “Beri aku waktu sebentar… Aku ingin memelukmu, Yoon ah.” katanya pelan sementara tubuh gadis itu sudah membeku, “Bogoshiposeo…” bisiknya.

Air mata Yoon Hye jatuh begitu saja. Ia tidak percaya apa yang dialaminya saat ini, “Kau ingat?” tanyanya lirih.

Hyuk Jae melepaskan pelukannya. Ditatapnya Yoon Hye sambil menghapus air mata dipipinya, “Mianhae…” ucapnya dengan nada penyesalan yang dalam, “aku membiarkanmu menanggung semuanya sendiri. Mianhae…”

Yoon Hye menggeleng pelan, “Asal kau baik-baik saja, aku juga baik. Sesederhana itu.”

“Tidak, yoon ah. Aku sudah berjanji kepadamu untuk menjaga diri, tapi kecelakaan itu… Aku benar-benar bodoh.”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua ini bukan salahmu.”

Laki-laki itu menatap sendu, “Kita bukan saudara, kau tau?”

Yoon Hye mengangguk.

“Sejak kapan?”

“Saat kau kecelakaan.”

Hyuk Jae mendesah keras. Diraihnya lagi gadis itu ke dalam dekapannya, “Aku minta maaf…”

“Na gwenchana…”

“Aku sudah melupakanmu. Aku tidak mengenalimu setelah kecelakaan itu. Aku benar-benar bodoh…”

“Aniyo… Meskipun kau tidak mengingatku namun kau masih merasakanku, oppa. Aku bahagia untuk itu.”

Hyuk Jae mempererat pelukannya, “Menyenangkan sekali rasanya bisa memelukmu seperti ini.”

Gadis itu membenamkan wajahnya ke dalam dekapan laki-laki itu. Biarlah, untuk sesaat saja kehangatan ini menjadi miliknya dan memulai semuanya dari awal.

*****

‘Jangan memikirkanku terus hingga lupa makan siang, araseo?’

Yoon Hye tersenyum kecil saat membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Sikap percaya diri laki-laki itu terlalu berlebihan jika digunakan untuk mengingatkan seseorang agar makan siang.

Gadis itu menghembuskan nafas pelan. Pandangan matanya mulai menerawang. Senyumnya perlahan memudar. Semuanya sudah kembali seperti awal. Tapi ia tau, semuanya sudah berbeda. Haruskah ia mencobanya lagi? Mungkin saja takdir kali ini berpihak kepadanya. Setelah terdiam beberapa saat, diputuskannya untuk menghubungi seseorang.

“Yeoboseo? Hyora ya… Apa kau bisa makan siang denganku?”
.
.
.

“Mwo? Dia sudah ingat semuanya?” seru Hyora tidak percaya.

Yoon Hye mengangguk pelan “Ya…”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Yoon Hye menatap temannya itu sejenak kemudian menggeleng pelan, “Aku tidak tau…”

Gadis itu tersenyum, “Kurasa hubungan kalian masih bisa diperbaiki. Aku tau kau masih mencintainya meskipun sebelumnya aku sempat berpikir kau bisa melupakannya dan memulai semuanya dari awal bersama Junno ssi.”

“Junno ssi?”

“Bukankah dia orang yang baik? Lagipula dia juga cinta pertamamu bukan?”

Yoon Hye mendesah pelan, “Aku tidak pernah berpikir untuk berhubungan dengannya.”

“Ara… Jadi apa masalahnya? Bukankah Lee Hyuk Jae ssi sudah ingat semuanya? Kalian bukan saudara, jadi kurasa kau harus menerimanya kembali. Lagipula bukankah selama ini kalian tidak pernah mengucapkan kata perpisahan?!”

Yoon hye menggeleng pelan “Ini tidak mudah. Masalahnya ada padaku, bukan padanya.”

Hyora menaikkan sebelah alisnya tanda tanya, “Maksudmu?”

Kata-kata itu mengalir menceritakan semuanya. Mengungkap apa yang menjadi rahasia terkelam Yoon Hye. Meskipun dengan bahasa yang kacau balau, tetap saja maksud dari kalimat itu bisa ditangkap oleh Hyora. Gadis itu hanya bisa menatap tidak percaya.

“Saat itu kubiarkan kau menganggap ini karena masalah Hyuk Jae oppa. Tapi bukan karena hal itu. Bukan karena itu…” suara Yoon Hye bergetar hebat. Tanpa sadar pipinya telah basah.

Hyora beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Yoon Hye lalu memeluknya, “Kau bisa melewati hal ini. Aku percaya itu.”

Gadis itu melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata, “Aku ingin melupakan semuanya tapi aku takut.”

“Yoon ah, dengarkan aku!” Hyora menggenggam tangan Yoon Hye yang gemetar, “Kau harus melupakan hal itu. Lagipula laki-laki itu sudah tidak ada. Kau harus mencoba memulainya dari awal. Ingat, Lee Hyuk Jae ssi akan selalu menjagamu. Aku yakin dia pasti akan mengerti keadaanmu. Kau harus percaya itu. Carilah kebahagiaanmu.”

Yoon Hye terdiam sejenak, “Aku akan berusaha.”

“Benar. Mulai sekarang jangan bicarakan masalah itu lagi. Anggap itu tidak pernah terjadi, kau bisa?”

Yoon Hye mengangguk pelan, “Gomawo…”

Gadis itu tersenyum tulus, “Yaa, sudah seharusnya. Kau itu temanku. Jja, sekarang habiskan makananmu!”

“Changkaman! Jam berapa sekarang?” Yoon Hye mengambil ponselnya lalu memekik pelan “Aku terlambat!” gadis itu segera beranjak dari duduknya kemudian berlari keluar dari pantry café Hyora, “Nanti aku akan meneleponmu!”

“Jangan lupa makan!!” teriak Hyora.

 

*****

 

Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berdering. Diraihnya benda itu kemudian dijawabnya.

“Yeoboseo?” jawabnya sambil berjalan menuju balkon apartementnya.

‘Ini aku,’ kata Hyuk Jae di seberang sana.

“Tentu saja itu kau,” bibir gadis itu tersenyum.

Terdengar suara tawa, ‘Apa yang kau lakukan?’

“Ne? Aku baru saja selesai mandi.”

Hyuk Jae mendesah pelan, ‘Apakah aku terlambat?’

Yoon Hye mengerutkan keningnya mendengar kalimat itu, “Mwo?” matanya membulat lebar kini, “Apa yang kau maksud dengan kata ‘terlambat’?”

‘Hanya bercanda…’ tawa Hyuk Jae.

“Ada apa menghubungiku?”

‘Tidak boleh?’

“Ne?”

‘Aku tidak boleh menghubungimu?’

“Ani… Bukan begitu. Acaramu sudah selesai?”

‘Mm ya, dan orang pertama yang kuingat adalah dirimu!’

“Kau baru mengingatku setelah acara selesai?”

‘hmm… Sebenarnya tidak. Selama acara berlangsung aku terus mengingatmu, bahkan sebelum acara dimulai. Kurasa aku selalu mengingatmu di sepanjang waktuku, bagaimana kedengarannya?’

“Kedengarannya aneh.”

Laki-laki itu mendesah pelan, ‘kau benar. Ini aneh… Jangan lupa, aku ini bukan pengingat yang baik. Sekarang saja aku sudah lupa bagaimana wajahmu, matamu, hidungmu. Jadi apa menurutmu aku harus lebih sering menemuimu?’

Yoon Hye tertawa kecil, “Oppa…”panggilnya pelan.

‘Hmm?’

Untuk sesaat Yoon Hye kebingungan. Tadi, tiba-tiba saja dia memanggil laki-laki itu tanpa tau harus bicara apa.

‘Ada apa?’ tanya Hyuk Jae lembut, ‘ada yang ingin kau bicarakan? Atau jangan-jangan saat ini kau sedang merindukanku, benar?’

Yoon hye mengerjap kaget, “Mwo?”

‘Sedang merindukanku?’

Hening sejenak. Gadis itu merasa jantungnya berdebar cepat. “Ya, aku merindukanmu…”

‘Baiklah tunggu aku! Aku akan segera berlari menemuimu.’

“Tidak perlu op__ oppa? Yeoboseo? Oppa??” ditatapnya ponsel itu dengan kening berkerut.

Astaga, ada apa dengan laki-laki itu?

Yoon Hye menghela nafas pelan kemudian mengalihkan tatapannya ke depan. Memandang pemandangan malam dari balkon apartemennya. Udara sudah tidak terlalu dingin. Ini sudah memasuki awal musim semi. Ia merapatkan swetter yang dipakainya sambil merenung. Memulai semuanya dari awal, ia harap semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Gadis itu tersentak kaget saat menyadari bell apartementnya berbunyi. Cepat-cepat ia berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Saat pintu terbuka, laki-laki itu langsung mendekapnya erat-erat hingga membuatnya terhuyung mundur. Tubuh Yoon Hye mematung tanpa bisa berpikir apapun.

“Ah… kau hangat sekali,” bisik laki-laki itu sambil mempererat pelukannya.

Gadis itu tersenyum mendengarnya. Ia meletakkan dagunya di bahu Hyuk Jae sambil memejamkan mata. Menghirup aroma dan merasakan debaran jantung yang menghentak kuat itu. Seperti jantungnya saat ini. “Apa kau benar-benar berlari?” bisiknya pelan.

“Tentu saja! Eng… sebenarnya hanya sebagian,” dilepaskannya pelukan itu lalu menatap yoon hye sambil menyengir, “karena aku ingin cepat-cepat melihatmu, aku memutuskan untuk mengendarai mobil. Jadi bagian berlari-ku hanya saat menuju mobil dan turun dari mobil.”

Yoon hye mendengus pelan sambil tertawa kecil, “kau sudah makan?”

“mau memasakkan sesuatu untukku?”

“Duduklah! kubuatkan kau ramyeon,” jawab gadis itu sambil berjalan menuju dapur.

Lee Hyuk Jae menggosok-gosok telapak tangannya sambil mengikuti Yoon Hye ke dapur lalu duduk di salah satu kursinya. “Kau ada acara hari minggu nanti?” tanyanya saat gadis itu meletakkan semangkuk ramyeon dihadapannya.

Yoon Hye tidak langsung menjawab. Ia duduk dihadapan Hyuk Jae sambil menyesap teh hangatnya, “Ada apa?” tanyanya kemudian.

“Aku ada acara peluncuran album f(x) dan Manager Hyung setuju jika aku membawamu ke acara itu, apa kau mau?”

“Di mana acaranya?” tanya gadis itu pelan. Terlalu pelan.

“Gedung SM lantai lima.”

Hyuk Jae mengerutkan keningnya saat melihat gadis itu menyesap tehnya terlalu gugup, “Tidak perlu khawatir… Aku akan terus bersamamu. Kita buat semua yang hadir iri dengan kita bagaimana?” dikedipkannya sebelah mata, membuat gadis itu tertawa.

Namun ada sesuatu dibalik tawa itu. Hyuk Jae tau Yoon Hye sedang tertawa gugup. Tatapan yang sama dengan yang dilihatnya saat bertemu gadis itu bersama Leeteuk dulu. Tatapan gelisah, khawatir, atau lebih tepatnya takut…?

“Kau berjanji akan terus bersamaku?” tanya Yoon Hye memastikan.

“Ya, aku akan terus bersamamu. Bahkan aku akan seperti perangko yang menempel padamu kemana-mana, bagaimana? “

Gadisitu tertawa lagi, “Baiklah, jam berapa?”

“Hmm… Aku akan menjemputmu jam tujuh malam.”

“Baiklah.”

 

*****

 

Lee hyuk Jae menggenggam jemari gadis itu lebih erat sambil tersenyum. Ia tau gadis disampingnya ini gugup. Hal itu jelas terlihat dari wajah Yoon Hye yang sudah gelisah sejak sebelum memasuki gedung SM. Gadis itu hanya diam saja disebelahnya dan memberikan senyuman saat beberapa orang menyapanya. Untungnya ia bisa cepat akrab dengan member Super Junior lainnya.

“Kau haus?” tanya laki-laki itu pelan, “akan kuambilkan kau minum, tunggu sebentar!”

Ada perasaan tidak rela saat Hyuk Jae hendak melangkah pergi. Gadis itu reflek memegangi lengan jas laki-laki itu.

“Aku tidak akan lama,” Senyum Hyuk Jae. Seolah memberi ketenangan hingga Yoon Hye melepaskan lengan jasnya.

Hyuk Jae menghampiri meja kemudian mengambil dua buah gelas berisi minuman lime kemudian kembali lagi ke tempat Yoon Hye. Ia sempat heran sejenak. Kenapa gadis itu terlihat sangat gelisah? Seolah-olah ada yang mengincarnya.

“Waeyo?” laki-laki itu bertanya pelan, namun cukup membuat Yoon Hye tersentak.

Gadis itu mengerjap kaget kemudian menggeleng sambil tersenyum, “Aniyo…”

“Untukmu!”

“Gomawo…”

Dalam waktu satu jam sejak di mulainya acara, pesta berjalan masih normal. Namun dua jam berikutnya saat waktu bebas, semakin lama orang-orang mulai terlihat mabuk.

“Oppa, bisa kita pulang sekarang?” tanya Yoon Hye pelan.

“Kenapa? Kau merasa tidak nyaman?”

“Mm.”

“Baiklah, kemarikan gelasmu. Tunggu sebentar!” Hyuk Jae mengambil gelas milik Yoon Hye kemudian berjalan ke arah meja untuk meletakkan gelas itu.

“Hyuk ah, kudengar kau telah mengalami kecelakaan?”

Laki-laki itu menoleh dan mendapati seorang ketua salah satu stasiun televisi sedang berbicara kepadanya, “Oh, Sajangnim… Anyeong haseo?” ia membungkukkan badannya memberi salam pada pria itu sejenak, “berita itu benar, tapi sekarang saya baik-baik saja.”

Kim Yoon Hye menatap gelisah kekasihnya yang sedang berbicara dengan seseorang. Sepertinya pria itu seseorang yang punya kedudukan penting. Akhirnya ia memutuskan untuk lebih dulu pergi ke tempat penyimpanan jaket. Gadis itu sedang mencari-cari jaketnya saat seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba saja ia merasa gugup. Kemana jaketnya diletakkan? Suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas.

“Oh, rupanya Kim Yoon Hye ssi…”
Yoon Hye tersentak. Ia membalikkan badan dan langsung mundur beberapa langkah hingga menabrak deretan rak jaket. Ditatapnya pria asing itu.

“Kalau tidak salah, kau kekasih Eunhyuk Super Junior, bukan?”

“Y-ye… Nuguseo?” jawabnya dengan gugup.

“Kupikir setelah kejadian itu kau tidak berani datang kemari lagi,” pria bersetelan jas hitam itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“A-apa maksud anda?”

“Kenalkan, Park Dong Woo imnida,” pria itu diam sejenak, “aku teman cha im dong. Kau mengenalnya, bukan?” terlihat seringai di bibirnya, “bahkan kalian sudah pernah menghabiskan malam bersama.”

Dunia Yoon Hye merasa gelap seketika saat nama itu disebut. Tidak, ia pasti salah dengar.

“Kau tentu masih mengingatnya bukan? Tidak mungkin kau lupa__”

Gadis itu langsung menggerakkan kakinya untuk pergi. Tapi laki-laki itu lebih cepat menahannya lengannya. Mendorongnya hingga membentur dinding lalu menghimpitnya.

“Kenapa buru-buru?”

“Lepaskan!!” jerit Yoon Hye sambil memberontak. Kedua tangannya dicekal kuat oleh pria itu.

“Im Dong bilang permainan kalian sangat hebat. Membuatku juga ingin merasakannya…”

Air mata gadis itu meleleh. Tenaganya seolah menguap tapi ia tidak ingin menyerah. Ia harus melepaskan diri. “lepaskan aku!!”teriaknya sambil mengerahkan seluruh tenaga untuk memberontak.

Breeet…

Kim Yoon Hye terlihat shock seolah arwahnya di cabut paksa. Gaun di bagian bahu sebelah kirinya robek akibat tekanan tangan pria itu. Memperlihatkan bahunya.

“Le… pas!!!”

“Tidak perlu malu, atau kau ingin tempat yang lebih romantic, agashi?”

BOUGH…

Tiba-tiba saja gadis itu terbebas. Tubuh Park Dong Woo terhuyung jatuh menabrak rak jaket. Tubuh Yoon Hye seketika merosot jatuh. Ia meringkuk dalam-dalam dengan tubuh gemetar hebat. Mimpi buruknya kini sudah kembali…

 

 

To be continue…

 

 

[Revisi 02 Des 2014 ; 11.01 am]