Tags

, ,

season of love

“Jangan takut, sayang… Loe nggak salah. Loe cuma cinta sama dia dan itu bukan kesalahan.”

Part 11

 

Hyuk Jae membungkuk hormat ketika Ketua salah satu stasiun televise itu akan pergi. Kemudian ia kembali lagi ke tempat gadis itu. matanya menatap sekeliling dengan bingung. Kemana Yoon Hye? Kenapa dia menghilang? Laki-laki itu berjalan sambil mencari-cari sosok gadis itu. Apa mungkin dia keluar terlebih dahulu? Cepat-cepat ia melangkah menuju ruang penyimpanan jaket.

Keningnya berkerut saat langkahnya semakin dekat ruangan itu. Ia seperti mendengar sesuatu dari dalam sana. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Kakinya melangkah semakin cepat tanpa ia sadari. Ia masuk ke dalam ruangan itu dan seketika tercekat melihat apa yang ada dihadapannya. Tanpa berfikir, dihampirinya laki-laki yang mengurung tubuh Yoon Hye memukulnya.

Park Dong Woo mendecih pelan sambil mengusap darah di sudut bibirnya akibat pukulan Hyuk Jae, “Cih. Apa kau belum tau kalau gadis itu sudah tidak suci? Aku yakin dia bukan perempuan polos seperti dulu lagi.”

Bough!!

Hyuk Jae menghantam rahang pria itu hingga terjatuh lagi. Tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali. Laki-laki itu seperti orang yang kesetanan. Ia tidak perduli wajah pria itu sudah babak belur.

“Beraninya kau menyentuhnya…” desis Hyuk Jae sambil terus memukul laki-laki itu.

“Eunhyuk__ Astaga, Eunhyuk ah berhenti!!” Manager Hyung yang kebetulan masuk bersama Siwon terkejut melihatnya. “Won ah, beritahu yang lainnya! Alihkan wartawan dari tempat ini, panggil Leeteuk!”

Tanpa membantah Siwon langsung berjalan keluar dan memberitahu yang lainnya untuk tetap menahan wartawan di acara pesta. Leeteuk yang diberitahu oleh siwon, langsung diam-diam pergi ke ruangan itu.

“Eunhyuk ah, hentikan! Kau bisa kena sekandal!” Manager Hyung berusaha menarik tubuh Hyuk Jae, “dia bisa mati!!”

“Hyung nim, apa yang__ Astaga Eunhyuki, berhentilah!!” Leeteuk yang baru datang terkejut melihatnya. Apalagi saat melihat Yoon Hye yang sedang meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya dengan tubuh gemetar dan berantakan.

“Eunhyuk ah, biar kami yang mengurusnya! Yoon Hye ssi membutuhkanmu!!”

Mendengar nama itu Hyuk Jae tersadar. Ia berhenti memukul lalu cepat-cepat menghampiri gadis yang meringkuk di sudut ruangan itu.

“Yoon ah…”

Gadis itu tersentak dan langsung menjauh. Ketakutan itu terlihat jelas dimatanya.

Hyuk Jae terasa perih melihatnya, “Ini aku… Ini aku, Yoon ah…” diulurkannya tangannya untuk menyentuh kepala Yoon Hye, namun gadis itu mencoba memberontak.

“Ini aku! Ini aku, Yoon ah… Jangan takut,” bisiknya sambil mendekap gadis yang masih memberontak itu. “Uljima… Aku di sini sekarang.”

“Oppa…” Yoon Hye bergumam pelan. kemudian mulai terisak.

“Mianhae… Mianhae sudah membiarkanmu sendiri. Mianhae…” laki-laki itu mendekap Yoon Hye dengan erat. Tangis gadis itu pecah. Tubuhnya bergetar hebat.

“Tidak apa-apa… Semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah, ayo kita pulang.”

Hyuk Jae melepas jasnya lalu memakaikannya pada Yoon Hye. Kemudian ia mengangkat tubuh gadis itu dan diam-diam keluar melewati pintu lain.

Yoon Hye sudah tidak menangis lagi, namun ia masih belum membuka suara. Wajahnya masih terlihat pucat dan tubuhnya masih bergetar. Sampai di apartement, Hyuk Jae menuntun gadis itu untuk untuk di ranjang kemudian dibawakannya segelas air putih hangat.

“Minumlah!”

Kim Yoon Hye menyesap air itu perlahan. Matanya masih menatap takut. Laki-laki itu meletakkan gelas di meja nachkast kemudian berlutut di depannya sambil menggenggam tangannya.

“Kau harus mengajukan tuntutan untuk hal ini.”

“Ani!!” jawab gadis itu cepat, terlalu cepat.

“Wae?” tanya Hyuk Jae bingung, “dia sudah menyakitimu, Yoon ah…”

“Kumohon oppa… Masalah ini tidak perlu dibahas. Aku tidak ingin kau terkena masalah karena kejadian ini.”

“Jangan memikirkan aku! Dia sudah menyakitimu dan aku tidak bisa menerimanya.”

Yoon Hye menggeleng pelan, “Tidak ada yang perlu dituntut, Oppa. Kumohon, managermu pasti setuju dengan keputusan ini.”

Laki-laki itu menatap sendu, “Mianhae… Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendiri.”

“Bukan salahmu, oppa. Semuanya bukan salahmu…” gumam gadis itu dengan nada melamun.

“apa kau benar-benar yakin tidak mau menuntutnya?”

“Ne… Mianhae.”

“Jangan meminta maaf, Yoon ah… Baiklah kalau itu maumu.”

Tiba-tiba bell apartement berbunyi. Yoon hye menatap laki-laki itu takut.

“Itu pasti Lee Hyora ssi. Aku yang memintanya datang untuk menemanimu,” jelas Hyuk Jae lalu berjalan pelan menuju pintu.

Ternyata memang benar Lee Hyora yang datang. Gadis itu langsung masuk begitu pintu terbuka.

“Ada apa?” tanyanya panik.

“Masuklah! Jangan tanyakan apapun dulu padanya. Biarkan dia tenang, dia pasti akan memberitahumu nanti. Aku harus pergi, bisakah kau menjaganya untukku?”

“Mmm, jangan khawatir!”

Hyuk Jae berjalan kembali menghampiri Yoon Hye, berlutut di depan gadis itu. “Besok aku akan kemari lagi, tidak apa-apa kalau kutinggal sekarang?”

Yoon Hye mengangguk pelan, “Pergilah…”

“Sampai jumpa besok,” dibelainya kepala gadis itu lembut sebelum beranjak, “aku pergi dulu Lee Hyora ssi!”

“Ne…” gadis itu mengangguk pelan kemudian mengalihkan pandangannya pada temannya itu, “Yoon ah, kau baik-baik saja?” tanyanya cemas.

Kim Yoon Hye terdiam menatapnya. Air matanya jatuh, “Appo…” lirihnya, “Neomu appo, Hyo-ya…” tangisnya.

“Waegeure?”
.
.
.

Lee Hyuk Jae mengendarai mobilnya sambil merenung. Kenapa gadis itu tidak ingin menuntut? Dan apa maksud kata-kata pria itu saat dia bilang Yoon Hye sudah tidak suci lagi? Ada yang harus diketahuinya. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

“Yeoboseo, Hyung Nim… Bagaimana orang itu? … Araseo, Yoon Hye sendiri yang memintaku untuk tidak menuntutnya. … Ya, boleh aku tau di mana dia sekarang? … Baiklah, aku mengerti. Kamsahamnida…”

Laki-laki itu menutup ponselnya lalu meletakkannya di dasboard mobil kemudian memutar mobilnya menuju ke suatu tempat.

Lima belas menit kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu sebuah apartement mewah. Menunggu pemiliknya untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka diikuti oleh keterkejutan dari sang pemilik kamar apartement itu.

“K-kau…”

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Hyuk Jae tenang namun penuh ancaman.

“Ke-kenapa kau kemari?” jawab pria itu gugup.

“Tidak ingin mempersilahkan aku masuk dulu, Park Dong Woo ssi?”

Dong Woo menelan ludah. Walaupun ia lebih tua dari Hyuk Jae, dia bukan laki-laki yang lemah.

“A-apa maumu?”

“Aku ingin mendengar! Jadi, boleh aku masuk?” nada meminta itu terdengar halus, namun tajam.

Pria itu terpaksa membuka pintu apartementnya membiarkan Hyuk Jae masuk sementara ia berjalan kembali menghampiri meja untuk mengambil kompres. Wajahnya memar akibat ulah Hyuk Jae tadi dipesta.

“Darimana kau tau dimana apartementku?” tanyanya.

“Aku mencari tau,” jawab Hyuk Jae singkat, “jadi… Apa maksud kata-katamu di pesta tadi?”

“Kata-kata yang mana?”

“Kau mengatakan kalau Yoon Hye tidak suci lagi, apa maksudmu?”

Dong woo mendengus pelan, “Jadi kau belum tau? Dia memang sudah tidak su__” kata-katanya terhenti saat melihat sorot mata Hyuk Jae.

“Temanku Cha Im Dong pernah tidur bersamanya,” jelas Dong Woo.

Lee Hyuk Jae mengepalkan tangannya mencoba meredam amarah, “Aku tidak percaya.”

“Terserah kau. Saat itu aku baru saja memberikan obat kepadanya, dia bilang ingin bersenang-senang dan kebetulan dia bertemu dengan gadis itu. Jadi dia mengajaknya ke hotel.”

“Apa yang mereka lakukan?” tanya Hyuk Jae dengan suara yang bergetar.

“Menurutmu apa yang mereka lakukan hingga gadis itu tidak suci lagi?”

“Bagaimana dia bisa membawa Yoon Hye ke hotel? Jangan bilang kalau Yoon Hye pergi dengan suka rela,” tatap Hyuk Jae tajam.

Dong Woo terdiam sejenak. Sebenarnya ia ingin melewatkan hal kecil itu, tapi ternyata laki-laki itu mengetahuinya. “Ya… Sebenarnya gadis itu datang ke gedung SM untuk mencarimu. Lalu Im Dong menawarkan diri untuk membawanya kepadamu.”

“Jadi dia tidak membawanya kepadaku tetapi ke hotel?”

“Ya.”

“Apa yang dilakukannya untuk memaksa Yoon Hye pergi ke hotel?”

“Dia… hanya memberikan minuman yang sudah dicampur obat dariku. Mungkin dosisnya sedikit berlebihan hingga gadis itu lemas nyaris pingsan.”

Rahang Hyuk Jae mengeras, “Setelah tau apa yang dilakukan temanmu, kau juga ingin mencoba melakukan hal itu kepadanya?”

Dong Woo tersentak menatap laki-laki itu. Ada kilatan berbahaya di mata Hyuk Jae, membuatnya sedikit takut. “I-itu… Kau tau sendiri kan? Biasanya gadis seperti itu sudah tidak polos lagi_”

Bouugh. . .

Satu hantaman mendarat pada hidung Dong Woo sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya. “Aiiish jjinja! Kau membuat hidungku berdarah!!”

“Aku bisa membuatmu mati kalau kau berani menyentuhnya lagi!” ucap Hyuk Jae dengan nada tajam, “Kalau sampai berita ini bocor, kupastikan kau akan ikut terseret ke dalamnya Park Dong Woo ssi,” tambahnya sebelum pergi meninggalkan pria yang sedang menutup hidungnya karena berdarah itu.

 

*****

 

“Kau sudah bangun?” sapa Hyora yang sedang merebus air di dapur.

Yoon hye hanya bergumam tidak jelas sambil masuk ke dalam kamar mandi.

“Kulkasmu kosong, aku harus pergi ke supermarket sebentar. Kau tidak apa-apa jika kutinggal sebentar?” tanya Hyora saat gadis itu keluar dari kamar mandi.

Yoon Hye duduk di kursi meja pantry sambil tersenyum, “Aku baik-baik saja, terima kasih sudah menemaniku.”

“Bukan masalah… Aku sedang merebus air, tolong matikan kalau sudah mendidih. Aku pergi sebentar,” hyora memakai jaketnya kemudian melangkah pergi.

Gadis itu berjalan menghampiri meja pantry lalu membuat secangkir teh. Kehangatan langsung menjalari perutnya saat air teh itu melewati tenggorokan. Ia termenung dengan tatapan menerawang. Apa yang harus dilakukannya kini?

Tiba-tiba saja bell apartementnya berbunyi. Ia hanya menatap pintu itu tanpa beranjak dari duduknya, ada perasaan takut pada dirinya.

“Yoon ah, ini aku!”

Yoon Hye mendesah lega saat mendengar suara Hyuk Jae. Cepat-cepat ia berjalan menghampiri pintu untuk membukanya.

“Lee Hyora ssi eodiseo? Apa dia sudah pulang?” tanya laki-laki itu begitu masuk ke dalam apartement.

“Sedang pergi ke supermarket sebentar.”

“Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?”

“Mm, gwenchana. Duduklah, kubuatkan kau teh.”

Hyuk jae duduk di salah satu kursi pantry yang tadi di pakai Yoon Hye sementara gadis itu mengambil teko air panas untuk membuatkan laki-laki itu secangkir teh.

“Yoon ah, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Hyuk Jae pelan, dengan hati-hati.

Gerakan Yoon Hye terhenti sesaat, “Ada apa?” tanyanya.

“Apa… Kau mengenal Cha Im Dong?”

“Akh…”

Praaang…

Gadis itu meringis kesakitan saat tangannya tidak sengaja tersiram air panas hingga menjatuhkan cangkir teh itu. Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. Tubuhnya limbung hampir terjatuh jika saat Hyuk Jae tidak cepat-cepat menahannya.

“Gwenchana?” tanya Hyuk Jae cemas, “Lebih baik kau duduk dulu!” dituntunnya Yoon Hye untuk duduk di sofa.

“Di mana kotak obat?” tanyanya.

“Laci meja tv.”

Gadis itu merasa tubuhnya gemetar hebat. Bagaimana bisa Hyuk Jae tau tentang hal itu? Apa yang harus dilakukannya?

“Coba kulihat!”

Yoon Hye mengerjap kaget saat laki-laki itu sudah ada dihadapannya sambil mengoleskan salep dingin pada luka ditangannya. Untuk sejenak, mereka sama-sama terdiam.

“Kemarin aku menemui Park Dong Woo, dia menceritakan semuanya kepadaku,” suara Hyuk Jae memecah keheningan.

“Jadi kau sudah tau semuanya?”

“Ya…”

Gadis itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Hyuk Jae. Ia beranjak dari duduknya lalu melangkah menghampiri jendela. Menatap keluar. “Aku lega kau sudah tau semuanya…” katanya pelan.

“Kenapa tidak memberitahuku? Kenapa tidak menuntut?” tanya Hyuk Jae dengan raut frustasi.

“Kau sedang hilang ingatan saat itu…” gumam Yoon Hye pelan, “tidak mungkin aku mengatakan hal ini padamu. Kita mengalami situasi yang sulit saat itu.”

Laki-laki itu terdiam mendengarnya. Benar, saat itu ia sedang hilang ingatan. Wajahnya terasa terpilin. Ia tidak bisa menjaga gadis itu.

“Orangtuaku adalah alasanku untuk menyimpan semuanya. Selama hidupku aku tidak pernah membuat mereka kecewa dengan sikapku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Yang kedua adalah dirimu, karena aku ingin melindungimu.”

Hyuk Jae mengusap wajahnya dengan kasar, “aku tidak butuh perlindunganmu, yoon ah! Bagaimana bisa kau menyakiti dirimu sendiri untukku? Apa kau begitu bodoh? Ah bukan, akulah yang sebenarnya bodoh karna membiarkanmu seperti ini. Mianhae… Jeongmal mianhae…”

“Semuanya sudah terjadi… Ada dua keuntungan yang bisa kudapat dari kejadian itu kalau itu bisa disebut sebagai keuntungan. Yang pertama, saat itu aku benar-benar lemas hingga tidak terasa begitu menyakitkan. Yang kedua, aku tidak hamil. Sekarang aku sangat lega kau sudah mengetahui semuanya. Sekarang kau tau bukan betapa menjijikkannya diriku…?”

“ Bukan seperti itu…”

“Sekarang, saat menatapku kau akan selalu ingat apa yang sudah kulakukan dengan pria itu!”

“Yoon ah…”

“Dan sekarang, aku tidak bisa menatapmu tanpa teringat apa yang pria itu lakukan kepadaku!”

Laki-laki itu tersentak mendengarnya. Ia tidak tau harus berbuat apa jika kenyataaanya, dia-lah yang telah memberi Yoon Hye mimpi buruk. “Maafkan aku…” lirihnya kemudian berjalan pergi meninggalkan gadis itu.

 

*****

 

Lee Hyuk Jae melewati harinya dengan buruk. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya dan beberapa kali mendapat teguran dari staff.

“Eunhyuk ah, waegeure? Kau terlihat kacau,” tanya Donghae saat mereka baru tiba di dorm.

laki-laki itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan keras, “Donghae ya, boleh aku meminta pendapatmu?”

“Waeyo? Apa kau ada masalah dengan Yoon Hye ssi? Apa karena masalah kemarin?”

“Bukan karena itu…” gumam Hyuk Jae pela,n”Donghae ya, jika dengan berada di sisi orang yang kau cintai itu membuatnya terluka, apa yang harus kau lakukan?”

Donghae terdiam sejenak, “Aku akan pergi dari sisinya. Karena aku mencintainya, aku tidak ingin melihatnya terluka.”

“Kau benar…” gumam Hyuk Jae. Ia ingin berada di sisi gadis itu, tapi itu akan membuat Yoon hye Terluka, lalu haruskah ia meninggalkan gadis itu?

“Kalian baik-baik saja bukan?”

Machine dance Super Junior itu tersenyum lemah, “Aku baik-baik saja. Tidurlah, ini sudah lewat tengah malam.”

 

*****

 

Kim Yoon Hye, gadis itu sedang melangkah pelan menyusuri jalanan yang masih ramai. Ia baru saja pulang dari kantornya. Sudah dua hari sejak pembicaraannya dengan Hyuk Jae dan sejak itu pula laki-laki itu tidak menghubunginya sama sekali. Saat ini, ia tiba-tiba saja merasa bersalah. Ia tidak bermaksud berbicara kasar pada laki-laki itu. Apa ia harus meminta maaf?

Ponselnya di dalam tasnya tiba-tiba menjerit minta diangkat. Cepat-cepat gadis itu mengambilnya lalu menjawab teleponenya.

“Yeoboseo?” sapanya pelan.

‘Yaa, neo eodiga?’

“Na? Aku sedang ada perjalanan pulang, waeyo Hyora ya?”

‘Jadi kau belum tau berita hari ini?’ Hyora mendesah pelan, ‘aku tidak bisa menemuimu saat ini, kau bisa melihatnya di internet atau belilah Koran!’

“Ada apa?”

‘Kau akan tau nanti!’

“Araseo!”

Gadis itu menutup teleponenya kemudian mencari toko majalah terdekat. Dibelinya satu surat kabar lalu membukanya. Artikel itu membuat jantungnya nyaris berhenti. Tubuhnya terasa limbung seketika. Cepat-cepat ia mencari pegangan.

“Agashi, gwenchanayo?” seorang ajhuma memegang lengannya. Menahannya.

“N-ne, kamsahamnida…” ucapnya pelan sambil membungkuk.

Yoon Hye tidak jadi pulang ke apartementnya tapi malah berjalan menuju taman. Ia duduk di salah satu ayunannya, terdiam. Ini awal musim semi, namun pohon-pohon masih belum berbunga. Hatinya terasa perih. Air matanya jatuh bergulir mengingat apa yang dilihatnya pada koran tadi.

‘Salah satu staf management SM yang telah meninggal, Cha Im Dong, diketahui telah memperkosa seorang perempuan yang ternyata adalah kekasih dari seorang artis terkenal. Berita ini didapatkan dari teman tersangka, Park Dong Woo. Saat itu Park Dong Woo sedang mabuk dan tidak sengaja mengungkap hal ini. Hingga saat ini, belum diketahui siapa wanita dan artis tersebut. Sementara ini ada tiga artis yang salah satunya di duga berkaitan dengan berita ini. Yaitu Nikhun 2PM, Eunhyuk Super junior dan Lee Joon MBLAQ. Park Dong Woo sendiri, dikabarkan telah mengundurkan diri tadi pagi dan menghilang begitu saja. Ada kemungkinan ia pergi keluar negri. Kekasih dari artis siapakah wanita itu? Hal ini masih ditelusuri kebenarannya.’

“Aku harus gimana, ma…?” lirih Yoon Hye dalam bahasa Indonesia.

“Yoon ah!!”

Gadis itu mengerjap kaget saat melihat Hyuk Jae sudah berdiri di depannya dengan nafas tersengal. Laki-laki terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya yang memburu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya pada Yoon Hye yang masih membeku ditempatnya. Sedetik kemudian direngkuhnya gadis itu ke dalam dekapannya.

“Kau sudah tau berita itu?” tanya Hyuk Jae lagi.

Yoon hye mengangguk pelan. raut kekhawatirannya terlihat jelas. Hyuk Jae meraih wajah gadis itu dan menghapus air matanya, “Jangan cemas, biar aku yang menyelesaikannya. Serahkan semuanya kepadaku. Aku akan melindungimu…”

“Mianhae…” lirih Yoon Hye dengan air mata yang mulai menggenang.

“Jangan mengatakan maaf, itu akan membuatku semakin merasa bersalah. Ini bukan salahmu…” ucap laki-laki itu sendu, “Aku tidak ingin menyakitimu, sungguh. Meskipun aku bagian dari mereka, aku bukan laki-laki itu. Biarkan aku menyelesaikan semuanya. Hingga saat itu, kumohon berjanjilah untuk tetap ada di sisiku. Karena aku mencintaimu dan aku membutuhkanmu…”

Air mata gadis itu jatuh, “Aku berjanji…” kata-kata itu, terucap begitu saja dari bibirnya. Hyuk Jae memeluknya lagi, mendekapnya erat. Rasanya hangat…

 

****

 

Yoon Hye termenung menatap laptopnya di meja kamar Hyora. Ia meminta ijin untuk kerja di rumah kepada atasannya. Beruntung Mrs. Han mengijinkannya untuk mengerjakan pekerjaan asistant manager editing design dan mengirimkannya lewat email saja.

Sudah dua hari ia menginap di apartement Hyora dan selama dua hari itu ia tidak bertemu dengan Hyuk Jae. Ia terpaksa harus bersembunyi karena ada beberapa wartawan yang sedang mencarinya. Yoon Hye menghela nafas panjang kemudian dengan yakin, ia mengambil satu keputusan.

Lee Hyuk Jae sedang merapikan penampilannya saat ini. Ia akan mengikuti sebuah acara variety bersama rekannya, Yesung dan Donghae. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Keningnya berkerut saat melihat siapa yang meneleponenya.

“Yeoboseo? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” cecarnya begitu telphone tersambung.

‘Aniyo… Apa yang sedang kau lakukan?’ tanya gadis itu dari seberang.

“Aku sedang bersiap-siap untuk tampil di sebuah varity show, kau ada di mana?” tanyanya sambil membetulkan letak dasi yang dipakainya.

‘Aku ada dibandara saat ini.’

Laki-laki itu terdiam. Keningnya berkerut samar, “Mwo?” apa ia salah mendengar? Gadis itu bilang dia ada di bandara sekarang.

‘Aku ada di bandara sekarang.’

Oke, dia tidak salah dengar, “Kenapa?”

‘Aku butuh waktu, Oppa… Mianhae, aku butuh waktu untuk memulainya. Jadilah penyanyi yang hebat, kalau ada kesempatan, kita akan bertemu lagi.’

“Apa yang bisa kulakukan untuk menahanmu?”

‘Eopso… Jangan menungguku karena aku tidak tau kapan bisa kembali lagi.’

“Yoon ah…”

‘Ne?’

“Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?”

‘Apa itu?’

“Katakan ‘Fighting!’ kepadaku!”

‘Oppa, fighting!!’ ucap gadis itu terdengar ceria. Tapi Hyuk Jae tau, mungkin gadis itu sedang menangis sekarang.

“Saranghae…”

Yoon Hye terdiam sejenak, ‘Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa!’ ucapnya kemudian.

Telepon terputus.

Hyuk Jae menghela nafas. Tiba-tiba saja semuanya terasa lebih berat untuknya.

“Hyuk ah, waeyo?” tanya Leeteuk tiba-tiba.

“Dia pergi, Hyung. Aku tidak bisa mencegahnya, kenapa wanita selalu membuat pusing?”

“Bukankah semuanya seperti itu? Kita juga terlalu bodoh untuk menunggunya meskipun mereka bilang jangan menunggu.”

“Yah… semua laki-laki mungkin seperti itu juga.”

 

*****

 

= Sex month latter =

Lee Hyuk Jae menatap tiket dan pasport yang digenggamnya. Sudah lama sekali, seharusnya waktu yang dibutuhkan Yoon Hye sudah cukup. Jika gadis itu tidak ingin menemuinya lebih dulu, maka ia yang akan datang menemuinya.

“Eunhyuk ah, apa kau yakin?” tanya Leeteuk ragu.

“Aku akan menemukannya, Hyung…”

“Kau benar-benar akan pergi sendiri? Setidaknya bawalah seseorang yang bisa berbahasa Indonesia bersamamu, kau bisa tersesat nanti.”

Laki-laki itu menggeleng pelan sambil tersenyum, “Aku ingin menemuinya sendiri.”

“Baiklah, jaga dirimu! Aku tidak ingin kena omel Manager Hyung. Cepatlah kembali, minggu depan kita ada fanmeet di London.”

“Ne, araseo,” Hyuk Jae mengangguk pelan, “Jja, aku pergi dulu. Sampai jumpa Hyung!”
.
.
.

Taksi itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sederhana. Jendela kacanya terbuka dan tampak seseorang dari dalamnya sedang mengamati keadaan rumah itu.

“Apakah benar ini alamatnya?” tanyanya kepada sopir taksi dengan menggunakan bahasa inggris.

Sopir itu mengangguk pelan. Lee Hyuk Jae kembali menatap bangunan itu. Matanya menatap terkejut saat seorang gadis keluar dari dalam rumah itu. Gadis itu meluruskan rambutnya… pikirnya dalam hati. Dan dia tampak lebih ceria saat ini.

Baru saja Hyuk Jae akan membuka pintu taksi saat matanya menyadari ada sosok lain di sana. Seorang laki-laki tinggi yang berwajah tampan dengan potongan rambut pendek rapi. Mereka terlihat sedang tertawa. Laki-laki itu kemudian memakaikan jaket dan helm pada gadis itu lalu mereka naik motor.

Yoon Hye memeluk laki-laki itu erat sambil tersenyum dan motor itu kemudian melesat keluar dari gerbang rumah melewati taksi yang dinaiki Hyuk Jae begitu saja.

Lee Hyuk Jae tercenung ditempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apakah ia terlambat? Apakah terlalu lama waktu yang diberikannya pada gadis itu? Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berkata kepada sopir taksi untuk kembali menuju bandara.

 

*****

 

Yoon Hye sedang duduk termenung di atas tempat tidur Yoon Ra sambil memandangi laptopnya. Mrs Han memintanya untuk ikut dalam tur ke London. Mereka mendapatkan kontrak dari pihak SM untuk menghandle semua kostum-kostum Super Junior, SNSD, TVXQ, SHINEE dan F(x). Apa yang harus dilakukannya? Apakah ia sudah siap untuk bertemu dengan laki-laki itu?

Beberapa bulan yang lalu Hyora menghubunginya bahwa masalah Park Dong Woo sudah selesai. Ada seorang wanita yang mengaku dialah orang itu. Dia dan Im Dong memang pernah memiliki hubungan sebelum berpacaran dengan Lee Joon (Maaf buat A+, cuma minjem nama) yang sekarang sudah debut menjadi artis. Wanita itu ternyata cordy salah satu boyband. Apakah sekarang sudah saatnya Yoon Hye untuk kembali?

“Hei, ngelamun aja!”

Gadis itu mengerjap kaget saat kembarannya menjatuhkan diri di ranjang tepat di sebelahnya dengan posisi tengkurap.

“Masih mikirin kunyuk?” tanyanya.

“Eunhyuk, eonni… atau Hyuk Jae kalau kau tidak susah memanggil nama panggungnya.”

“Oke, oke, Eunhyuk. Loe masih mikirin dia?” tanya Rara sambil menyisir rambutnya yang lurus dan panjang dengan jari-jari tangannya.

“Eonni, Mrs. Han menawariku untuk ikut ke London. Kami mendapat kontrak dengan SM di sana.”

“Cowok itu ikut?”

“Tentu saja, dia kan salah satu member super junior.”

Rara beranjak dari posisinya kemudian menyingkirkan laptop Yoon Hye lalu duduk di hadapannya. “Apa yang loe takutin?” tanya Rara pelan.

“Aku nggak tau… Aku hanya merasa belum siap buat ketemu lagi sama dia.”

“Sayang, loe nggak perlu takut. Bukannya semuanya sudah selesai?”

“Ya… Tapi apa yang harus kukatakan saat bertemu dengannya, Eonni?”

“Loe ke London buat apa?”

“Tentu saja kerja.”

“Ya sudah, ngomong aja apa yang perlu diomongin waktu kerja. loe masih sayang sama dia?”

Gadis itu terdiam sejenak, “Sepertinya …”

Rara tersenyum, “Jangan takut, sayang… Loe nggak salah. Loe cuma cinta sama dia dan itu bukan kesalahan.”

Yoon Hye memeluk kedua lututnya sambil tercenung. Itu bukan kesalahan…

 

*****

 

Taman itu tampak sangat indah dengan pohon berwarna-warni. Begitu cerah, membuat hati Yoon Hye sedikit lebih baik. Ini adalah Spring in London. Musim semi yang benar-benar indah. Apapun yang terjadi, Yoon Hye harus menghadapinya. Ia tidak boleh lari lagi sekarang.

“Yoon Hye ssi, kita harus membawa ini ke ruang 108!”

Gadis itu mengalihkan pandangannya dari jendela saat didengarnya Kim Jikyo, temannya itu berteriak memanggilnya. Cepat-cepat didorongnya rak berisi pakaian-pakaian itu mengikuti Jikyo.

“Astaga… Aku benar-benar merasa gugup. Aku belum pernah bertemu dengan member-member Super Junior secara langsung. Siwon oppa pasti sangat tampan. Aku penasaran dengan Heechul oppa, apa benar dia secantik yang diberitakan di media? Omo… eothokeh??”

Bibir Yoon Hye hanya tersenyum menanggapi celoteh temannya. Kim Jikyo adalah karyawan baru di tempat kerjanya. Lambat laun suara gadis itu terdengar samar di telinganya saat pikirannya tentang Lee Hyuk Jae mengambil alih. Ia merasa begitu gugup saat langkahnya mendekati pintu ruangan itu. Sebentar lagi…

“Anyeong haseo!!” teriak Jikyo sambil membuka pintu ruangan, membuat beberapa orang di dalamnya menoleh pada mereka.

Yoon Hye masuk ke dalam sambil mendorong rak dengan hati-hati. Ia melihatnya ada di sana, di antara teman-temannya. Berdiri seperti patung sambil menatapnya.

“Oh, Kim Yoon Hye ssi, anyeong haseo… Tidak menyangka kita bertemu di sini.”

Gadis itu membungkukkan badannya pada Leeteuk dan beberapa orang yang menyapanya.

“Mereka mengenalmu?” bisik jikyo tidak percaya.

“Anyeong haseo,” Yoon Hye membalas sambil tersenyum tipis. Mengabaikan pertanyaan temannya.

“Sepertinya ada yang harus diselesaikan di sini sekarang. Aku tidak yakin dia bisa menghafal gerakan dance dengan benar sebelum masalah kalian selesai,” kata leeteuk sambil tersenyum kemudian pandangannya beralih pada Jikyo, “Agashi, siapa namamu?”

“K-Kim Jikyo imnida…”

Kalau saja saat ini keadaan hatinya normal, Yoon Hye pasti sudah tertawa mendengar Jikyo yang gugup seperti itu. Gadis yang terlihat selalu bersemangat itu bahkan lumer seperti ice cream saat berhadapan dengan artis.

“Jikyo ssi, bagaimana jika kita pindah ke ruangan sebelah?”

“Y-ye?”

“Kajja, kubantu membawakan rakmu!!” Sungmin mengambil alih rak Jikyo sambil tersenyum, membuat gadis itu mati kata sementara Leeteuk sudah menggandeng lengannya mengajaknya keluar.

“Ini kesempatanmu untuk memperjelas, Hyung,” bisik Kyuhyun kemudian ikut keluar bersama member lainnya.

Yoon Hye terpaku ditempatnya. Ia tidak tau harus berbuat apa sementara lidahnya ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu. gadis itu mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap Hyuk Jae. Oh dear…

Lee Hyuk Jae membeku ditempatnya. Ia belum siap bertemu dengan gadis itu sementara seminggu yang lalu ia melihat gadis itu bersama laki-laki lain.

“A-anyeong haseo, Oppa…” gadis itu membungkuk pelan.

Laki-laki itu menatapnya miris, “Apa aku terlambat?” lirihnya.

“Ne?”

“Aiish!! Lupakan!!” Hyuk Jae mengacak rambutnya sambil melangkah membuka pintu dengan kasar.

Member lain yang ada di depan pintu itu melompat mundur dengan kaget. Takut karena mereka telah tertangkap basah sedang menguping.

“Hanya itu?” teriak Yoon Hye, “hanya itu yang ingin kau katakan?” ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan laki-laki itu.

Hyuk Jae terdiam kemudian membanting pintu dengan keras lalu kembali melangkah ke arah gadis itu.

“Tentu saja banyak, Yoon ah… Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Banyak yang ingin kutanyakan kepadamu. Kupikir selama ini aku sudah memberimu waktu yang cukup. Kupikir kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Katakan padaku apa yang dimiliki oleh laki-laki itu yang tidak kumiliki? Aissh jjinja… Lupakan saja!!” laki-laki itu kembali berjalan ke arah pintu lalu membukanya dengan keras membuat mereka yang menguping terlonjak kaget -lagi.

“Apa maksudmu? Laki-laki siapa?” tanya Yoon Hye kesal.

Laki-laki itu kembali membanting pintu, “Aku melihatmu bersamanya, kalian berboncengan_”

“Dimana?” potong Yoon Hye.

“Tentu saja di rumahmu_”

“Rumah? Rumah Indonesia?”

“Ya_”

“Darimana kau tau alamatku?”

“Aku bertanya pada Lee Hyora ssi, tapi itu tidak penting! Yang penting aku melihatmu bersamanya. Kau berboncengan dengannya. Kau memeluknya dan tersenyum padanya. Kalian terlihat lebih dari akrab_”

“Aku tidak pernah akrab dengan laki-laki manapun, apalagi lebih!”

“Tapi aku melihatmu! Apa perlu kujelaskan bagaimana laki-laki itu?”

“Ya, jelaskan! Karena aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Dia tinggi dan tidak terlalu kurus. Rambutnya hitam pendek_ Demi Tuhan Yoon Hye, jangan berbohong kepadaku. Aku melihatmu!”

“Itu bukan aku!” jawab Yoon Hye dingin.

“Kalau bukan kau lalu siapa? Kembaran…” Oh… Ada yang diingat Hyuk Jae sekarang. Tentang saudara gadis itu.

“Ne!! Dia Lee Yoon Ra, kembaranku! Orang yang memiliki wajah sama denganku!” bentak Yoon Hye.

Bahkan sebelum gadis itu mengatakannya, Hyuk Jae tau bahwa ia salah. Jadi selama seminggu ini ia terus menyiksa diri karena hal yang sia-sia?

“Kupikir…”

“Kau tidak berfikir!”

“Yoon ah…” dengan cepat dihampirinya gadis itu kemudian dipeluknya, “Syukurlah… Kupikir aku sudah terlambat. Kupikir kau sudah punya laki-laki lain.”

Kehangatan itu terasa nyaman. Yoon Hye membenamkan wajahnya dalam dekapan laki-laki itu, “jadi kau datang ke Indonesia? Kenapa?”

Hyuk Jae melepaskan pelukannya, “Aku sudah tidak bias menunggu lagi. Hari-hariku sangat berat tanpa melihatmu. Kupikir jika kau tidak kembali kepadaku, aku yang akan datang menemuimu.”

“Gomawo…” bisik gadis itu.

“Setiap mengingat kejadian itu aku akan selalu teringat betapa bodohnya diriku tidak bisa menjagamu. Maafkan aku… Bisakah kau percaya kepadaku? Bisakah kau percaya bahwa aku tidak seperti laki-laki itu? Bahwa aku tidak akan menyakitimu. Dan terlepas dari segalanya, bisakah kau percaya bahwa aku mencintaimu?”

Ada lapisan bening yang menggenang di mata Yoon Hye. Untuk sejenak ia hanya menatap laki-laki itu dengan diam. Kemudian, teramat pelan, ia berjinjit, melingkarkan tangan pada leher laki-laki itu. Memeluknya, “Aku percaya…” bisiknya pelan.

Seketika Hyuk Jae merasa lega. Merasa benar. Ia bahkan tidak sadar bahwa sejak tadi ia menahan nafas. Dibalasnya pelukan gadis dengan hati ringan, “Berjanjilah untuk selalu di sisiku. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku. Aku mencintaimu…”

“Aku berjanji.”
.
.
.

“Aaah…” sekumpulan orang itu mendesah lega saat melihat dari celah pintu apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Hanya Jikyo yang menatap bingung dengan apa yang terjadi.

“Akhirnya masalah mereka selesai,” gumam Donghae.

“Aku sempat bingung harus menjelaskan apa kepada wartawan jika mereka bertanya kenapa Hyuk Jae putus dengan kekasihnya,” timpal Leeteuk.

“kekasih??” teriak Jikyo terkejut.

“Semoga saja setelah ini tidak adak masalah lagi…” gumam Shindong.

“Apa yang kalian lakukan di depan pintu? Kenapa belum siap-siap? Sepuluh menit lagi Super Junior tampil!” teriak Manager Hyung tiba-tiba.

“MWO??”

“CEPAT BAJUKU!”

“AKU HARUS GANTI SEKARANG!”

Braaak…

“HYUK ah, LANJUTKAN NANTI SAJA! KITA HARUS TAMPIL!!”

“AGASHI, DIMANA KOSTUMKU?”

Ruang yang tadinya penuh romantis itu berubah menjadi kacau karena member yang berlarian panik kesana kemari mencari kostum yang akan dipakai untuk tampil.

“GYAAAAAAAA!!!”

“YESUNG SSI, JANGAN BUKA BAJUMU DI SINI!!”

“YOON TUTUP MATAMU!!”

“ADUH, CELANAKU!!”

 

 

FIN

 

[Revisi 02 Des 2014 ; 11.19 am]