Tags

, ,

tiba-tiba aja otak gak jadi ngadat, akhirnya kelar juga ne ff, happy reading deh ^^

“oppaaa. . . kenapa meninggalkanku??” teriak seorang gadis sambil menghampiri seorang laki-laki yang sedang berdiri bersandar didinding sambil memasukan sebelah tangannya kedalam saku celana.
Gadis itu sampai dihadapan laki-laki itu dengan nafas tersegal.
“bukankah kau selalu berangkat dengan bocah itu?” tanya jung soo dingin.
“kau tidak suka?? Apa kau cemburu?”
“bodoh!!” jung soo mendengus sambil memalingkan wajahnya.
“oppa. . . kau benar-benar sibuk ya, aku tidak pernah melihatmu sekarang,”
“rin ah, apa kau masih menyukaiku??” tanya jung soo tiba-tiba. Raut wajahnya terlihat gelisah kini.
Ah rin mengerjap sesaat “te-tentu saja, wae?? Apa kau mau menjadi kekasihku??” tanya ah rin berbinar-binar.
“kenapa kau ingin aku menjadi kekasihmu?”
Lagi! Pertanyaan yang dibalas pertanyaan yang sama setiap harinya. Akankah jawaban itu lain?
Ditatap seperti itu, ah rin menjadi tergagap “karna. ..karna. . . karna kau mirip kyo!! Apalagi??”
Jung soo menghela nafas panjang “jangan menyukaiku rin ah, kumohon,” ucapnya pelan kemudian melangkah pergi.
Ah rin tercenung menatapnya “dasar bodoh!! Aku menunggumu park jung soo ssi!!” gerutunya pelan.
“apa yang kau lakukan??”
“aaaakhh-“ ah rin terlonjak kaget dan langsung berbalik sambil mundur “wookie ya, kau mengagetkanku!!”
Wookie nyengir “habisnya aku sedang bosan! Pelajaran pertama matematika bukan? Aku belum mengerjakan PR!!”
“PR??” ah rin termangu sesaat “gyaaaaaaa aku lupaaaa eohteohke??”
“woaaa jadi kau tidak mengerjakannya juga??”
“itu gara-gara kau yang selalu mengajakku bermain PS!”
“bagaimana kalau kita bolos saja?”
“kemana??”
“kau ingin kemana?”
“aku ingin mengunjungi kebun pear kakek didesa,”
“kalau begitu ayo kita kesana!!”
“tapi aku tidak bawa baju ganti!”
“serahkan semuanya padaku! Kajja!”
“baiklah!”
“bolos dengan rih ah, gyaaa. . . asyiiiik. . .”
——————-

“rin ah, apa kau benar-benar menyukai jung soo??” tanya wookie sambil mengambili keong didalam sungai yang dangkal itu.
“ne, tapi dia tidak pernah peka,” gerutu ah rin.
“bukankah kau sering menyatakan cinta kepadanya?”
“aku ingin dia yang mengatakannya,” keluh ah rin “saat aku memintanya, dia selalu saja menanyakan alasannya, aku sangat malu!”
“tapi bagaimana kalau dia memang tidak menyukaimu?”
‘jangan menyukaiku rin ah, kumohon. . .’
Ah rin terdiam saat teringat kata-kata jung soo “aku tidak tau. . .” jawabnya pelan.
“kau tidak pernah berfikir bagaimana kalau ternyata dia menyukai orang lain?”
“aku tidak pernah memikirkan itu. . . apa yang harus kulakukan?”
Wookie menaruh plastik berisi keongnya diatas batu dan memegang kedua bahu ah rin, menghadapkannya.
“rin ah, bagaimana kalau kau denganku saja??”
“YAA apa kau sudah gila?”
“ayolaaah. . . aku ini sangat manis, imut dan lucu dibandingkan dengan ajhusi itu!”
“shiero!!”
“wae?”
“karna kau mirip tora!” saut ah rin cuek “eh, keongmu. . .”
Wookie menoleh kearah batu tempat keong-keongnya diletakkan “gyaaaaa. . . . kemana merekaaaa??” jeritnya begitu melihat batu itu bersih. Sontak ia menghampiri batu itu tapi kakinya menginjak lumut dan akhirnya. . .
Byuuur. . .
“gyaaa. . .” ah rin memekik saat cipratan air dari wookie mengenainya. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak saat melihat wookie basah kuyup.
“kalau begitu kau juga harus merasakannya!!”
“gyaaaa. . .” ah rin menjerit saat wookie menyipratinya dengan air kemudian ia membalasnya.
Akhirnya mereka berdua bermain air dan saling berteriak.
“YAA apa yang kalian lakukan??” teriak seorang pria tua tiba-tiba.
“wokkie ya, kabur!!!” teriak ah rin.
—————-

“aku lapaar. . .” kata wookie lemah sambil menggigiti batang rumput.
“hiks. . . kenapa kita bisa kesasar??”
“rin ah, jangan menangis, ayo kita cari sama-sama!”
“tapi ini sudah gelap, ponsel juga tidak ada signal, huwaaa. . . eoteohke??”
Wookie menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia tidak pernah kerumah kakek ah rin, bagaimana dia tau jalan pulang?! Sedangkan ah rin saja yang pernah mengunjungi kakeknya juga ikut tersesat.
Kedua anak itu sedang berjongkok dibawah pohon besar dengan pakaian yang basah dan penuh kotoran.
“jung soo oppa. . . hiks. . .”
“setaaaan. . .” pekik tora dan langsung meringkuk dibelakang punggung ah rin.
“mana?” tanya ah rin “uwaaaaaa. . .” jeritnya saat melihat sebuah cahaya melayang-layang dari dalam kegelapan. Ia langsung ikut meringkuk.
Terdengar suara kasak kusuk yang semakin dekat. Kedua bocah itu semakin meringkuk sambil memejamkan mata rapat-rapat.
“YAA rin ah, apa yang kau lakukan disini??”
Ah rin sontak membuka matanya dan menoleh. Dan dalam sekejap, ia langsung menghambur kedalam pelukan orang itu.
“oppa aku takut. . .” isaknya.
“kenapa bisa kau ada disini? Jangan membuatku khawatir,”
“aku tersesaat. . .”
“dasar bodoh!” dibelainya kepala ah rin lembut “kau basah dan sangat kotor, ayo pulang, ibumu sangat khawatir saat kau tidak pulang-pulang!”
“YAA bagaimana denganku??” teriak wookie.
“eh? Kau juga ada disini?” tanya jung soo
“dari tadi aku juga disini!!” sewot wookie.
“hhh. . . kalau begitu ayo cepat pulang, kakek sudah menunggu!” jung soo menggendong ah rin dipunggungnya dan mulai berjalan.
“hh. . . dasar ajhusi! Padahal yang dilihatnya hanya rin seorang, tapi masih saja tidak mau mengaku,”
“YAA sedang apa kau disitu? Mau ikut tidak?” teriak jung soo yang sudah beberapa meter didepan.
Dengan setengah berlari, wookie menyusul mereka.
——————-

“oppaaa. . . bagaimana ujianmu?” tanya ah rin begitu bertemu jung soo.
Memang beberapa hari ini jung soo mengikuti ujian akhir dan tidak sempat bertemu ah rin “kurasa aku bisa mengerjakannya,” jawab jung soo.
“kau pasti lulus!” ah rin tersenyum riang “oppa, maukah kau menjadi kekasihku?”
Jung soo menghela nafas “berhentilah meminta hal itu!”
“wae?”
“aku bukan setsu ataupun kyo rin ah, aku bukan mereka, sudahlah, aku ada urusan!! Hei wookie kemarilah!!”
Wookie yang sedang berjalan santai langsung menoleh dan seketika senyum lebar “riiiiin. . .” teriaknya sambil berlari kearah mereka.
“temani rin!” kata jung soo singkat setelah wookie sampai ditempat mereka kemudian ia berlalu pergi.
Rin masih diam sambil memandang kepergian jung soo “tentu saja kau bukan mereka, karna kau adalah park jung soo. . .” gumamnya singkat kemudian melangkah pergi.
“eh? Sebenarnya ada apa? YAA tunggu aku!!” teriak wookie.

“oppa, berkencanlah denganku! Sudah lama aku menyukaimu. . .”
Rin yang kebetulan sedang berjalan dibelakang gedung sekolah langsung berhenti melangkah saat mendengar suara tidak jauh dari tempatnya itu. ia menghampiri pohon terdekat dan mengintip apa yang terjadi. Tidak jauh dari tempatnya ia melihat jung soo bersama seorang gadis.
“mengapa kau menyukaiku?” tanya jung soo
“karna. . . karna. . . karna kau baik dan keren,”
Jung soo menghela nafas pelan “ayo kita berkencan!”
Ah rin tersentak ditempatnya. Jung soo akan pergi berkencan dengan gadis itu? apa ia juga menyukai gadis itu? lalu bagaimana dengannya?
“benarkah?” tanya gadis itu senang.
“ya,” saut jung soo pendek, tanpa ah rin sadari sepasang mata meliriknya sekilas.
————

Jung soo menatap papan pengumuman itu dengan diam. Ia lulus dan masuk dalam sepuluh besar. Namun hal itu tidak bisa membuatnya senang. Sesaat kemudian ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kerumunan anak-anak yang tengah bersorak merayakan kelulusannya.
Jung soo langsung pulang kerumahnya dan mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk besok. Saat membereskan barang-barangnya ia teringat sesuatu. Diraihnya ponsel disakunya.
“yeobseo? Yoon hye ya?. . . aniyo, aku hanya ingin bilang terima kasih atas bantuanmu saat itu, dia pasti berfikir kalau aku menyukaimu dan berkencan denganmu nanti. . . ani, itu yang terbaik untuknya. . . mmm, gomawo,” jung soo menutup ponsel itu kemudian menghela nafas pelan.

‘kau tidak pernah berfikir bagaimana kalau ternyata dia menyukai orang lain?’
Ah rin duduk termenung dibangkunya tanpa semangat. Ia ingin sekali menangis, tapi kenapa air matanya tidak mau keluar? Membuat dadanya terasa sesak. Kini ia sadar, walaupun dekat, jung soo sama sekali tidak bisa digapainya. Apalagi sebentar lagi dia akan masuk universitas. Lingkungan mereka akan semakin berbeda.
“YAA rin ah, apa yang kau lakukan disini?”
“aniyo. . .apa yang sedang kau lakukan?”
“oh? Ini, aku baru saja menindik telingaku,”
“boleh kulihat?”
“ini masih berdarah, belum kering,” jawab wookie sambil memegang kapas yang menempel didaun telingannya.
“ah begitu. . .”
“kau sudah tau kalau jung soo masuk dalam sepuluh besar? Aku tidak menyangka ajhusi sepertinya memiliki otak pintar.
“dia itu tidak sepertimu!”
“kau sudah memberinya selamat?”
Ah rin menghela nafas kemudian menggeleng pelan “aku. . . aku ingin makan jjangmyeon,” jawab ah rin cepat kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan wookie.

Rumah itu tampak kosong dan sepi. Ah rin menghembuskan nafas keras-keras. Untuk apa dia memandangi rumah itu sejam yang lalu kalau jelas-jelas ia tau kemana penghuninya pergi. Ah rin mendesah keras sambil beranjak dari tempatnya didepan jendela kamar dan berjalan menuju meja tulisnya.
Ia menatap foto-foto yang berderet dimeja itu. foto keluarganya dan fotonya bersama jung soo. “wae oppa? Kenapa aku tidak boleh menyukaimu. . .? apa kau benar-benar tidak menyukaiku?” lirih ah rin pelan. gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dan menjatuhkan diri ditempat tidur dalam posisi tengkurap. Tidak lama kemudian bahunya berguncang. Ia terisak lirih.
—————-

Malam itu, Jung soo sedang duduk diloby bandara untuk menunggu jadwal keberangkatannya. Ia hanya termenung sambil memandang lurus kedepan. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Sebuah komik dalam genggaman seorang anak kecil yang kira-kira masih junior highscool.
Complex. Matanya melebar begitu membaca judul komik itu. entah apa yang ada difikirannya hingga ia tanpa sadar sudah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri gadis itu.
Gadis itu mengerutkan keningnya kemudian menurunkan buku komik yang dibacanya dan menatap jung soo dengan kening terlipat.
“kau menyukai komik complex?” tanya jung soo.
Gadis itu tidak menjawab. Ia semakin mengerutkan keningnya sambil memandang jung soo dengan tatapan aneh.
“apa menurutmu aku terlihat seperti kyo?” tanya jung soo lagi.
Gadis itu menaikkan sebelah alisnya sesaat kemudian tertawa terbahak-bahak membuat jung soo bingung.
“oppa, kau sangat percaya diri!” saut gadis itu sambil mencibir.
“seseorang mengatakan aku sangat mirip dengan kyo!” jelas jung soo.
“apa kau tau bagaimana kyo? Lihat ini!!” gadis itu membolak-balik beberapa halaman kemudian menyodorkannya pada jung soo “laki-laki yang memakai kaca mata itu adalah kyo!!”
Jung soo mengambil buku itu kemudian mengamati gambar itu. keningnya mengerut sambil mencari kemiripan antara dirinya dan kyo.
“jangan karna kalian sama-sama memakai kaca mata lalu kau mengatakan kalau dirimu mirip kyo, itu sangat menggelikan!”
“kau benar. . . aku tidak mirip dengan kyo, lalu bagaimana dengan setsu? Aku ingin tau seperti apa setsu!”
Gadis itu mengambil komiknya dan membuka halaman lain, kemudian memberikannya lagi pada jung soo. Jung soo mengamati sosok laki-laki yang berambut jabrik itu. tidak sama! Walaupun sama-sama jabrik, tapi gaya rambut mereka berbeda. Lalu bagaimana bisa rin mengatakan bahwa ia mirip dengan setsu atapun kyo?!
“kau benar. . . aku tidak mirip dengan mereka. . .” gumam jung soo pelan.
“kau aneh oppa,” komentar gadis itu.
“baiklah terima kasih,” saut jung soo lemah kemudian berjalan kembali ketempatnya duduk.
“YAA AJHUSI!! Sedang apa kau disini??”
PLETAK!!
“siapa yang kau panggil ajhusi hah??” maki jung soo sebal.
“aduh sakiiit. . .” rintih wookie sambil berjongkok dan memegangi kepalanya.
“kenapa kau ada disini?” tanya jungsoo.
“ayahku pulang dari jepang, jadi aku kemari menjemputnya. Kau sendiri sedang apa disini?”
“jung soo ya, ayo, kita harus masuk, sebentar lagi pesawatnya akan terbang.” Kata ayah jung soo tiba-tiba.
“kau akan pergi?” tanya wookie kaget.
Jung soo hanya diam, ia menoleh kearah ayahnya untuk meminta waktu.
“kutunggu kau didalam,” kata ayah jung soo kemudian meninggalkan mereka.
“benar kau akan pergi??” ulang wookie.
“ya,” saut jung soo pendek.
“lalu bagaimana dengan ah rin??”
Hening sesaat “kuserahkan dia kepadamu,”
BOUUGH. . .
Tonjokan itu berhasil mendarat dipipi jungsoo. “kau pikir dia apa? Kenapa harus diserahkan kepadaku? Kau tidak tau kalau dia menyukaimu?”
“aku tau,” jawab jung soo pendek “tapi aku tidak bisa menjaganya lagi, aku harus pergi sekarang,” jung soo berbalik dan melangkah pergi.
“kau tau dia menyukaimu, tapi apa kau tau alasannya menyukaimu?”
Langkah jung soo langsung berhenti. Ia menoleh kesamping “karna aku mirip dengan setsu dan kyo, tapi aku bukanlah mereka!” jawab jung soo dingin.
“kau memang bukan mereka! Dia menyukaimu karna kau adalah Park jung soo-nya, orang yang selalu menjaganya! Itu yang dia katakan kepadaku!” saut wookie kemudian melangkah pergi, menghampiri seorang pria yang sedang menggandeng wanita jepang. Ayah dan pacar ayahnya.
Jung soo terdiam ditempatnya. Apa benar ah rin mengatakan itu kepada wookie? Dengan langkah ragu, ia berjalan menemui ayahnya.
—————-

Ah rim membuka matanya yang berat. Dikucek-kuceknya sambil turun dari tempat tidur. Ia membuka tirai jendela dan sinar matahari langsung menerpa wajahnya. Silau. . .
Dilihatnya rumah jung soo yang seperti tidak berpenghuni. Tiba-tiba saja hatinya merasa sesak. Ini hari minggu, tapi ah rin benar-benar tidak bersemangat seperti biasanya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ketempat yang bisa membuatnya tenang. Toko buku. . .
Dan dicounter inilah ia sekarang. Berdiri sambil menatap deretan rak yang penuh buku komik. Matanya menjelajahi satu persatu judul komik-komik itu, sementara langkahnya perlahan menyusuri deretan demi deretan rak itu.
Braaak. . .
“oh mianhamnida,”
Seorang gadis membungkuk meminta maaf kemudian berjongkok memunguti buku-buku yang terjatuh. Ah rin ikut berjongkok dan membantunya.
“kamsahamnida—ah rin ssi??” gadis itu memandang terkejut.
Ah rin menelan ludah. Jika ada gadis yang tidak ingin ditemuinya, gadis inilah orangnya. Ia masih ingat bagaimana gadis didepannya ini meminta jung soo untuk berkencan dengannya.
“eonni. . .”
“kebetulan sekali kita bertemu,” gadis itu tersenyum manis.
“eonni, kau mengenaliku?”
Dia tertawa renyah “tentu saja, jung soo sering menceritakanmu padaku,”
Ah rin tersenyum pahit “benarkah? Apa yang kau lakukan disini eonni?”
“oh, aku sedang membeli beberapa novel dan komik,”
“ah, kupikir kau sedang bersama jung soo oppa,” kata ah rin tiba-tiba. Ada rasa nyeri saat menyebut kalimat itu.
Gadis itu mendesah “jung soo pasti akan marah, tapi seharusnya kau tau ini,”
Ah rin mengerutkan keningnya heran “ada apa?”
“bisa kita mencari tempat untuk berbicara sebentar?”
“te-tentu,”

Ah rin menatap gadis didepannya yang sedang menyesap capucino itu dengan diam. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia takut. Sangat. Bagaimana jika gadis didepannya mengatakan kalau mereka. . .kalau mereka bukan teman lagi.
“aku kim yoon hye, teman sekelas jung soo!” kata gadis itu tiba-tiba “mungkin kau berfikir jika aku menyukai jung soo, dan yah. . . aku memang menyukainya,”
Deg. . .
Ah rin membeku ditempatnya. Apakah seharusnya tadi ia menolak untuk berbicara dengan gadis itu? atau ia harus pergi saat ini juga? Tapi kenapa kakinya terasa kaku?
“dia teman yang baik. . .” yoon hye tersenyum manis.
“teman?”
“maafkan aku ah rin ssi, sebenarnya saat itu kami tidak berkencan. Dan aku juga menyukainya tidak lebih dari seorang teman., kau tau, aku sudah punya namjachingu, dia sekolah ditempat lain.”
Ah rin mengerutkan keningnya bingung “lalu. . . apa maksud semua itu?”
“apa kau tidak tau kalau jung soo akan melanjutkan sekolahnya ke italy?”
“mwo??”
“dia melanjutkan sekolah fotography disana, sekolah memberinya beasiswa penuh,”
Ah rin tidak bisa berbicara lagi. Ia hanya menatap yoon hye dengan pandangan terkejut.
“dan. . . kupikir kau juga tidak tau kalau pesawatnya sudah terbang tadi malam,”
Ah rin terbelak. Ia menggeleng pelan “itu tidak mungkin!!” serunya “dia tidak akan pergi meninggalkanku!!”
Yoon hye mendesah pelan “sudah kuduga kau pasti belum tau, aku tidak tau kenapa jung soo tidak ingin kau tau, tapi menurutku kau berhak untuk tau,”
“tidak!! Dia tidak mungkin pergi!!” ah rin beranjak dari duduknya kemudian berlari begitu saja.

‘berhentilah memintaku untuk menjadi kekasihmu. . .’
‘hidup ini tidak seperti didalam komik rin ah, kenyataan jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan,’
‘jangan menyukaiku rin ah, kumohon. . .’
Ah rin terus berlari dengan menahan tangis. Ia tau kemana untuk memastikan. Dengan nafas yang hampir habis digedornya pintu rumah itu. hening, sunyi, dan sepi. . .
Air mata ah rin mulai jatuh satu persatu. Ia berjalan memutar, menuju jendela kamar jung soo. Dibukanya jendela itu. jung soo memang tidak pernah mengunci jendelanya, ia tau kalau ah rin selalu menemuinya saat butuh bantuan untuk belajar.
Ah rin melompati jendela kamar itu dan seketika hatinya terasa kosong. Kamar jung soo terlalu rapi. Benda-benda itu masih tertata rapi ditempatnya. Deretan foto-foto itu juga masih ada. Tapi entah mengapa terasa hampa. Perlahan ah rin membuka lemari baju jung soo. Lemari itu terlihat berkurang banyak. Ada beberapa bagian yang kosong.
Kemudian, ah rin berjalan menuju tempat tidur dan menjatuhkan diri disana. Aroma itu masih ada. . . aroma yang selalu membuatnya tenang.
“oppa. . .” lirihnya kemudian terisak pelan.

“rin ah, darimana saja kau hingga sore? Kenapa kau berantakan? Sudah makan?” sapa ibu ah rin saat gadis itu melewati meja makan dengan lesu.
“aku tidak lapar eomma. . .” jawab ah rin tanpa menoleh sambil terus berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu.
Ia merasa bernafas diruangan yang sempit dan penuh orang. Sesak. . . tanpa semangat diraihnya ponsel yang tergeletak dimeja belajarnya sejak semalam. Kemarin ia mematikan benda itu dan sekarang dihidupkannya lagi. Tidak lama setelah benda itu aktif, sebuah pesan masuk. Ia mengerutkan kening saat melihat nama pengirimnya. Jung soo oppa. . .
‘maafkan aku rin ah. . . kumohon, tetap bertahanlah dengan cintamu, tunggulah aku, aku mencintaimu. . .’
Air mata ah rin jatuh begitu saja. Bibirnya tersenyum, “bodoh!!” isaknya lirih. . .
——————
~epilog~
4 years latter. . .

“eomma aku pergi dulu!!” teriak ah rin.
“ya, hati-hati!!”
Seorang gadis berambut panjang yang menggunakan jaket putih dan rok coklat muda terlihat sedang membenarkan letak tali tas dibahunya sambil berjalan melewati halaman rumah. Kemudian ia mengangkat wajah dan tertegun melihat seseorang berdiri di halaman rumahnya.
Dia memakai pakaian berwarna hitam tanpa lengan dan celana berwarna sama. Sepatu kets putih yang dipakainya terlihat kontras dengan penampilannya. Sebelah tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Dibibirnya terulas senyum manis, hingga lesung pipinya muncul.
Ah rin terdiam ditempatnya. Laki-laki itu berjalan menghampirinya masih dengan senyumnya.
“shin ah rin, maukah kau menjadi kekasihku??” tanyanya dalam.
Ah rin terdiam sejenak “kenapa kau ingin aku menjadi kekasihmu?”
“karna. . . karna kau adalah shin ah rin!”
Senyum ah rin mengembang. Ia berjinjit sedikit kemudian tanpa ragu dilingkarkannya lengan itu keleher laki-laki itu “kenapa lama sekali?” bisik ah rin.
“maaf sudah membuatmu menunggu,” jawab jung soo sambil membalas pelukan gadis itu “saranghae shin ah rin,”
“gomawo oppa. . .”
“RIIIIN!!!! YAA AJHUSI, kenapa kau kembali lagi??”
Jung soo melepaskan pelukannya dan berbalik. Dilihatnya wookie sedang berlari kearahnya.
“siapa yang kau panggil ajhusi? Aku kembali atau tidak bukan urusanmu,” saut jung soo saat laki-laki itu sudah dihadapannya.
“rin milikku!” kata wookie sambil menarik ah rin kebelakang punggungnya.
“tapi dia lebih memilihku, weee. . .” jung soo menjulurkan lidahnya.
“kau sudah meninggalkannya, jadi dia milikku sekarang, ayo kita kekampus rin!!” wookie menarik ah rin berjalan pergi sementara jung soo tertawa kecil melihatnya.
Ah rin tersenyum geli, dilambaikan tangannya pada jung soo “oppa, tunggu aku!!” teriaknya.
“jangan melihat ajhusi itu lagi!!” teriak wookie.
“aku sudah bosan melihatmu jadi aku melihatnya!!” balas ah rin.
“kau lebih lama melihatnya daripada melihatku!”
“aku tidak pernah bosan melihatnya,”
“huwaaaaaaaaaa kejaaaaaaaammm”
Jung soo tergelak melihat kedua orang itu. sama sekali tidak berubah, namun ada yang berubah. . .
hidup ini memang tidak seperti didalam komik, kenyataan bisa jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan, namun bisa juga lebih indah karna hidup, tidak sesederhana itu. . .

FIN

=next ff=
Cinta, takdir dan kehidupan. . . apa yang kau ketahui tentangnya?? Beribu-ribu makna dapat digunakan untuk menggambarkannya, hal yang bahkan keberadaannya melewati batas cakrawala nan jauh disana. Rasa, ketiga hal itu hanya bisa dirasakan saat kau telah memperolehnya. . .

bakal lama ni ff, tunggu yah, bye-bye