Tags

, , ,

cast :

– park jungsoo

– park soojin (devi)

Cinta, takdir dan kehidupan. . . apa yang kau ketahui tentangnya?? Beribu-ribu makna dapat digunakan untuk menggambarkannya, hal yang bahkan keberadaannya melewati batas cakrawala nan jauh disana. Rasa, ketiga hal itu hanya bisa dirasakan saat kau telah memperolehnya. . .

—————-

Gerimis. . .

Ini adalah musim panas di negara korea, namun curah hujan yang datang jauh lebih banyak daripada mentari yang bersinar. Hawa dingin menyebar, membuat setiap orang merapatkan jaket yang mereka kenakan dan lebih mempercepat langkah kaki supaya cepat sampai ditempat tujuan.

“ibuu aku pergi dulu!!” teriak seorang gadis sambil berlari menuruni tangga rumahnya.

“soojin ah berhati-hatilah!! Bawalah payung, diluar sedang hujan!! Jangan pulang terlalu malam!!”

“araseo!!” balas gadis itu sambil membenarkan letak jaketnya.

Dengan payung berwarna biru tua, soo jin Membuka pagar rumah sederhananya dan berhenti sejenak didepannya. Ia menengadahkan kepalanya yang terlindung payung untuk menatap langit. Hujan. . . ia sangat menyukai hujan. Ia suka mendengarkan suaranya, ia juga suka menghirup aroma hujan.

Kemudian, ia melangkah santai menyusuri jalan menuju kesebuah toko bunga milik kakaknya yang sudah menikah. Jalanan terlihat sepi karna hujan semakin deras. Tapi tetap saja ada beberapa orang yang berlalu lalang karna tidak bisa menunda urusan yang ada.

Bruuuk. . .

Payung itu terlepas begitu saja dari tangan soojin saat seseorang menabraknya dari belakang. Disebelah payung yang tergeletak ditanah itu ada seikat bunga mawar merah yang kini terlihat kotor karna terkena tanah dan hujan. Untuk sejenak yang terdengar hanyalah suara hujan. Mereka berdua sama-sama diam memandang benda-benda yang tergeletak ditanah itu.

Soojin Mengangkat wajahnya dan melihat seorang laki-laki yang berambut coklat sedang menatap bunganya yang terjatuh. Tetesan-tetesan air hujan menetes dari ujung-ujung rambutnya dan tanpa soojin sadari, sebelah tangannya sudah terangkat, mencengkeram syal yang melilit dilehernya karna jantungnya kini sedang berdetak sangat cepat.

Tiba-tiba saja laki-laki itu menoleh menatap soojin “mianhamnida,” ucapnya pelan sambil membungkuk sedikit, kemudian ia menghampiri benda-benda yang terjatuh tadi itu.

Diambilnya payung dan ikatan bunga mawar itu kemudian menghampiri soojin “payungmu, maaf membuatmu basah,” ucapnya sambil tersenyum.

Soojin mengambil payungnya dari tangan laki-laki itu sambil terus menatap wajahnya. Jantungnya terasa berdetak liar, ada rasa aneh saat ia menatap senyum laki-laki itu. sepertinya senyum itu sangat familiar.

“aku bisa mengganti bungamu,” kata soojin tiba-tiba.

“mwo?”

“ayo ikut aku!!”

Soojin menggenggam tangan laki-laki itu dan menariknya tanpa sempat laki-laki itu menjawab. Mereka berlari-lari kecil dibawah derasnya hujan menyusuri deretan pertokoan. Hingga akhirnya mereka berdua tiba disebuah toko bunga. Soojin menarik laki-laki itu masuk kedalam “ini toko milik kakakku,” ucap soojin Sambil melepaskan pegangannya.

Soojin menghampiri rak yang berisi penuh bunga mawar, mengambil satu ikat kemudian menyerahkannya pada laki-laki itu “ambillah,”

Laki-laki itu menatap ragu. Dengan cepat soojin merebut ikatan bunga yang masih dipegang laki-laki itu dan menggantinya dengan ikatan mawar yang baru saja diambilnya “tidak apa-apa. . . ini gratis untukmu, tidak mungkin kau memberikan bunga kotor ini pada kekasihmu,” ucap soojin Sambil tersenyum.

Laki-laki itu tersenyum malu-malu “bukan, dia bukan kekasihku. . . belum,”

“kalau begitu semoga berhasil,”

“agashi, kamsahamnida,”

“Park soojin, namaku park soojin,”

“soojin ssi, Kamsahamnida, kalau begitu aku pergi dulu!!”

“tunggu!” soojin mengambil payungnya tadi dan memberikannya pada  laki-laki itu “bawalah payung ini, hujannya semakin deras,”

“soojin ssi, Sekali lagi terima kasih,” ucap laki-laki itu kemudian berlari pergi.

Soojin masih menatap sosok laki-laki itu saat seseorang mengagetkannya.

“yaa, apa yang kau lakukan disini huh?”

“ yoon hye eonni. . . kau membuatku kaget,” gerutu soojin sambil melegang masuk kedalam.

“Yaa! Apa yang kau lakukan pada mawar-mawarku huh??”

——————

Seorang laki-laki tampak sedang berlari-lari dibawah hujan. Tangan kirinya sedang memegang payung biru sedangkan tangan sebelahnya tampak menggenggam seikat mawar. Bibirnya terus menampakkan seulas senyum. Ia berlari melewati sebuah gerbang universitas. Mengambil jalan kesamping dan menuju sebuah bangunan music yang terletak dibelakang gedung universitas. Tempat favorite gadisnya.

Tapi, tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti. Tubuhnya membeku bagai patung. Senyum dibibirnya pudar, menguap begitu saja. Dari balik dinding-dinding kaca ruang music itu, ia melihat gadis yang disayanginya sedang berada disana, duduk didepan sebuah piano putih bersama seorang laki-laki. Gadis itu tersenyum lebar kemudian memeluk laki-laki itu.

Payung yang dipegang laki-laki itu terlepas dan jatuh begitu saja, air hujan yang masih belum berhenti, langsung membasahinya. Mengalir ditubuhnya, memberikan rasa dingin yang menusuk. Dengan hati yang berdenyut-denyut perih, ia melangkah pergi.

——————

“soojin ah, ini sudah malam, kau tidak pulang?”

“kau mengusirku huh?” balas soojin sambil asyik menggunting tangkai bunga lily.

“bukan begitu, kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu, jangan terlalu lelah,”

“eonni, aku baik-baik saja,”

“apa kau mau menginap disini?”

“hmm. . . aniyo, nanti aku pulang, bukankah hyuk jae oppa pulang malam, biar kutemani kau hingga ia datang,”

“kau ini, selalu keras kepala!”

“jangan lupa darimana sifat itu berasal eonni,”

“YAA jadi maksudmu aku ini keras kepala??”

“aku tidak bilang se. . .” kata-kata soojin mengambang saat ia melihat seseorang sedang berjalan tanpa semangat didepan toko bunga itu. langsung saja ia beranjak dari duduknya dan berlari keluar.

“Yaa, kau mau kemana?? Diluar masih gerimis!” teriak yoon hye.

Soojin tidak mengindahkan teriakan itu. ia membuka pintu kaca dengan cepat dan berlari mengejar orang yang berjalan tidak jauh itu.

“Hei, kau!!!” teriaknya keras.

Tiba-tiba orang itu berhenti mendadak membuat soojin menabrak punggungnya dengan keras.

“soojin ssi?” gumam orang itu bingung sambil menatap soojin ketika ia sudah berbalik.

Soojin membungkuk mengatur nafasnya “apa ada masalah??” tanyanya.

“ye?”

“apa ada masalah? Aku melihatmu lewat tadi. . .” soojin melihat bunga itu masih ada dalam genggaman tangan laki-laki itu. laki-laki yang sama dengan yang ditemuinya tadi sore “mm. . . kau belum memberikan bunga itu kepadanya?”

Laki-laki itu menatap bunga yang digenggamnya kemudian menyodorkannya pada soojin “untukmu,” katanya sambil tersenyum pahit.

“aku? Kenapa?” tanya soojin heran.

“kau ingin bunga ini berakhir ditempat sampah?”

“tentu saja tidak,”

“kalau begitu ambilah. . .”

Dengan ragu soojin menerima ikatan bunga yang sudah basah itu.

“dia sudah menemukan takdirnya. . .”

Soojin tertegun mendengar itu. ia menatap laki-laki itu dengan diam tanpa tau harus berkata apa. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang sedang patah hati.

“aku pergi dulu,” kata laki-laki itu singkat dan langsung berbalik pergi.

“hei!!” panggil soojin tiba-tiba.

Laki-laki itu berhenti melangkah kemudian berbalik pelan.

“percayalah, kau juga akan menemukan takdirmu nanti!!” teriak soojin.

Hening sesaat, kemudian terulas senyum dibibir laki-laki itu “kamsahamnida,” ucapnya kemudian melangkah pergi.

Soojin masih berdiri ditempatnya memandang punggung laki-laki yang berjalan semakin jauh itu. tetesan germimis membuat rambut dan pakaiannya basah. Dipandanginya mawar yang ada dalam pelukannya “apakah suatu saat nanti aku juga bisa bertemu dengan takdirku. . .?” lirihnya.

“soojin ah, kenapa kau basah kuyup begini? Bukankah sudah kubilang jangan bermain hujan?! Aiiish. . . kau ini keras kepala sekali, kalau sakitmu kambuh bagaimana?”

Soojin tersenyum lemah “aku baik-baik saja ibu, jangan khawatir!”

“cepat mandi dan ganti pakaian, kau bisa masuk angin, kau sudah makan?”

“ayah sudah pulang?”

“belum, dia bilang ada lembur tadi, kita makan dulu saja,”

“mm. . . aku mandi dulu!”

Setelah makan bersama ibunya, soojin langsung masuk kamar. ia mengambil sebuah vas, mengisinya dengan air kemudian memasukkan seikat mawar kedalamnya. Ditaruhnya vas itu dimeja tulisnya. Soojin duduk sambil menumpukan lengannya dimeja, menatap bunga itu. diluar masih gerimis, aroma hujan  yang segar masuk melewati jendela yang terbuka didepan meja tulisnya. Angin bertiup lembut menggoyangkan gorden putih tipis disisi kanan kiri jendela, melayang-layang hampir menyentuh kepalanya.

“seharusnya saat ini kau berada dalam genggaman seorang gadis yang sudah dipilihnya. . . tapi kau malah berada disini bersamaku. . .” soojin menghela nafas pelan sambil menatap tetesan-tetesan hujan yang diterangi lampu diluar jendelanya.

—————–

Ponsel itu bergetar beberapa kali. Tampaknya sang pemilik enggan untuk menjawabnya. Akhirnya pada panggilan ketiga ia menyerah. Ia menghela nafas sejenak sebelum menjawab telphone itu.

“yeoboseo??” ucapnya dengan nada lelah.

“jung soo ya, kenapa lama sekali menjawab telphoneku??” suara jernih seorang gadis langsung terdengar ditelinga jung soo.

“mianhae. . . aku baru saja dari kamar mandi,”

“seharian aku mencarimu, kemana saja kau?”

“aku- ada apa nonna mencariku??”

“aku punya kabar gembira untukmu, tapi sebelumnya apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu kepadaku?”

Jungsoo terdiam sejenak “saengil chukae hye mi nonna,” ucapnya pelan.

Gadis itu mendesah pelan “kukira kau lupa hari ini. . . pasti tidak ada kado juga untukku,”

Jung soo terdiam sambil memandang sebuah kalung dalam genggamannya “mianhae. . . lain kali aku akan mentraktirmu,”

“sepertinya itu akan lama, sebentar lagi aku akan pergi,”

“pergi? Kemana?”

“kau tau? Aku mendapatkan beasiswa itu jungsoo ya, aku akan terbang ke america seminggu lagi untuk sekolah vocal disana!!” kata gadis itu riang.

Jung soo terdiam. setelah membuat hatinya terluka, sekarang gadis itu akan meninggalkannya. Apakah semua itu salah hye mi? tidak, bukan salah gadis itu karna dia berhak untuk menentukan pilihannya.

“jung soo ya kau masih disana?? Jung soo ya??”

Jung soo mengerjap kaget “ye? Ah ne,”

“kau mendengarkanku atau tidak?” gerutu hyemi.

“tentu saja aku dengar, chukae!!” ucap jung soo.

“dan yang lebih penting, heechul oppa juga mendapatkan beasiswa itu, kami akan pergi bersama-sama ke america, kau tau, aku bahagia sekali, tadi dia memintaku untuk menjadi__”

“nonna, maaf aku harus pergi,” potong jungsoo cepat.

“oh? Kau akan pergi?”

“ye, aku sudah terlambat untuk menemui in hoo, kita bertemu besok oke?”

“baik-lah. . .”

Jung soo langsung menutup ponsel itu. membuka dan melepas batrainya kemudian membuangnya keatas tempat tidur begitu saja. Ditatapnya kalung berbandul kaca yang berbentuk bintang itu kemudian melemparnya sekuat tenaga keluar jendela. Perasaannya benar-benar kacau saat ini.

————–

Jung soo sedang asyik memotret hal menarik yang ditemuinya sepanjang jalan. Tiba-tiba hujan turun, membuatnya berlari dengan cepat mencari untuk berteduh. Kalau tidak kameranya bisa basah. Akhirnya ia menemukan sebuah bangunan kosong dipinggir jalan dan berteduh diterasnya. Tidak lama, seorang gadis datang ketempat jung soo untuk berteduh juga.

Gadis itu terkejut sesaat kemudian tersenyum “anyeong haseo,” sapanya sambil membungkuk sopan.

“oh, anyeong haseo,” jung soo membalas salam itu.

“tidak menyangka kita bertemu lagi,” ucap gadis itu sambil tersenyum.

Jung soo mengerutkan alisnya sejenak, “oh, kau si mawar itu bukan?!”

“hei, namaku park soo jin,”

Jung soo tersenyum “marga kita sama,”

“benarkah?”

“ne, namaku park jung soo,”

Gadis itu tersenyum “lihat, sangat indah bukan?” tanya soojin sambil menatap langit.

Jung soo mengalihkan pandangannya ke arah langit “kau suka hujan?”

“sangat, “ jawab soojin penuh kekaguman “bukankah hujan itu suatu keajaiban?! Air yang jatuh dari langit. . . benar-benar indah. . .”

Jung soo mendengus pelan “aku mengenal seseorang yang tidak menyukai hujan,”

Soojin langsung menoleh “eh? Waeyo?”

“dulu. . . orang tuanya meninggal karna kecelakaan mobil. Mobil mereka tergelincir saat hujan lebat. Hanya dia yang selamat dari kecelakaan itu,”

Jung soo menatap gadis itu, ia penasaran dengan jawaban yang akan diberikannya. Tapi gadis itu hanya diam.

“aku juga akan membencinya kalau aku jadi dia,” soojin menoleh kemudian tersenyum “mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi dirinya, tapi hidup ini sangat singkat. . . kau tidak akan pernah tau seberapa panjang umur manusia, bisa saja esok. . . atau semenit kedepan, tuhan mengambil nyawa kita. Karna itu aku berfikir. . . daripada membenci, aku belajar untuk mencintai segala sesuatu yang tuhan ciptakan didunia ini. . .”

“apa kau tidak pernah membenci sesuatu?” tanya jung soo.

Gadis itu tertawa “tentu saja pernah, bagaimanapun aku juga manusia biasa yang mempunyai rasa. Rasa sakit, rasa benci, sedih, senang, ataupun suka,”

“lalu. . . apa yang kau benci?”

Gadis itu menatap hujan tanpa ekspresi beberapa saat “aku. . . aku membenci takdirku. . .”

Jung soo tertegun mendengarnya “waeyo?” tanyanya begitu saja.

Tiba-tiba saja gadis itu menoleh dan tersenyum “kenapa kau ingin tau?”

Seketika jung soo tergelagap “a-aniyo. . . mianhamnida, bukan maksudku untuk. . .”

“aku tau,” saut soojin sambil tersenyum “kau orang pertama yang menanyakan hal itu kepadaku,”

“benarkah?”

“ya, dan aku tidak tau harus menjawab apa. . .” soojin menghela nafas pelan.

“kuberitahu kau satu hal,” kata jung soo serius “kakakku pernah berkata kepadaku, takdir itu flexible, tidak tetap. Mungkin kau merasa takdirmu buruk, tapi kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya karna kau belum menjalaninya hingga akhir,”

“kau benar. . . dan hingga saat itu tiba, aku akan belajar mencintai apa yang ada didunia ini bersama harapan untuk akhir seperti yang kuingini. Setidaknya, sebelum aku pergi, aku ingin membuat sesuatu yang berguna untuk orang-orang yang kucintai,”

“mengapa kata-katamu terlihat seperti waktumu tidak panjang lagi?”

“seperti yang kau bilang, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. . .”

Hening. Yang terdengar hanyalah suara air hujan.

“hmmm. . . tidakkah kau merasa aroma ini menyegarkan?” soojin menghirup nafas dalam-dalam sambil mendekatkan wajahnya pada air hujan.

Junsoo tertawa kecil, tanpa sadar, dijepretkan kameranya kearah gadis itu.

——————-