Kau pertaruhkan nyawamu untuk hidupku. Begitu raga ini terlahir kedunia, sentuhan tangan halus, pelukan dan senyuman kau berikan kepadaku. Bersyukur karna kau telah menjadi seorang istri yang sempurnya, istri yang menjadi seorang ibu.
Dengan penuh rasa sabar kau rawat aku, kau berikan seluruh cintamu untukku hingga terkadang ayahku cemburu akan hal itu. setiap tangisku adalah tangismu dan tawaku adalah tawamu. Waktu demi waktu terus berjalan. Saat itu fikiranku belum mampu untuk menyadari apa yang telah kau berikan untukku hingga terkadang, pertengkarang-pertengkarang kecil selalu terjadi.
Kini ketika mata ini mampu melihat, ketika batin ini mampu merasa, kusadar kau adalah segalanya bagiku. Saat kukembali mengulang hidupku sebelumnya, aku menyadari bahwa semua itu kau lakukan untuk kebaikanku. Maafkan aku mamah, karena pernah menyakiti hatimu, karna pernah menjadi anak yang tidak menurut, karna selalu melakukan hal yang tidak kau sukai.
Setiap air mata yang kau keluarkan karnaku, selalu kau balas dengan belaian lembut dikepalaku, setiap sakit yang kau rasakan karnaku, kau balas dengan senyuman sayang untukku,
Saat mamah yang lain memarahi anaknya karna selalu keluyuran, kau malah menyuruhku main keluar untuk menyegarkan fikiran. Saat mamah yang lain mengomel karna anaknya baru pulang kerumah, kau hanya bertanya ‘darimana? Sudah makan tadi?’ saat mamah lain hanya bisa pasrah melihat anaknya frustasi, kau selalu mencoba menghiburku dengan memasakkan kesukaanku, memberi uang untuk menyewa kaset-kaset, atau apapun yang bisa mengurangi kesedihanku. Itu kau mamah, jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu??
Aku ingat saat kau selalu mendahulukanku daripada ayah. Aku ingat kau selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Aku ingat kau selalu membelikan hal-hal yang kusukai. Aku ingat kau yang selalu menjahitkan baju untukku saat aku masih kecil dulu. Aku ingat saat kau berdiri didepan rumah hanya untuk menungguku yang terlambat pulang sekolah. Aku ingat kau yang selalu pergi kerumah temanku hanya untuk menanyakan keberadaanku saat aku tidak bisa mengabarimu.
Memang perjuanganmu untukku tidak akan pernah bisa terukur dengan apapun. Cinta yang kau berikan padaku tidak akan pernah habis. Lalu apa yang bisa kuberikan untukmu? Hanya do’a kepada tuhan yang bisa kulakukan. Hanya cinta yang bisa kuberikan, dan mencoba menjadi anak yang bisa membuatmu bangga.
Terima kasih mamah, terima kasih untuk segala cinta, tetes air mata dan tawa yang kau berikan kepadaku, terima kasih, karnamu aku bisa menjadi seperti saat ini. Kau adalah kekuatanku untuk menjalani hidup ini mamah, kau adalah tiang penyanggaku saat aku akan terjatuh, dan kau adalah orang pertama yang berdiri dibelakangku untuk melindungiku. Terima kasih karena telah menjadi mamahku. . . aku mencintaimu mamah, sangat mencintaimu. . .