Tags

, ,

‘jung soo ya, kau tidak ingin mengantarku? Bahkan kau tidak menemuiku seminggu ini. . . apa kau marah? Mianhae. . .tapi aku tetap harus pergi, ini mimpiku. . .’
Jung soo mendengarkan pesan suara dalam ponselnya itu dengan diam. Kemudian dengan cepat ia menekan nomor seseorang yang sudah dihafalnya.

“jung soo ya, dimana kau? Apa kau marah kepadaku?” suara itu langsung terdengar ditelinga jung soo.
“nonna, mianhae, aku akan kebandara sekarang, tunggulah sebentar,”
Jung soo menutup telphonenya, kemudian bergegas berlari keluar dari ruang studio dikampusnya. Ia berlari dan mendapati in hoo temannya sedang duduk diatas motornya sambil membaca buku.
“in hoo ya, aku pinjam motormu,”
“mwo?”
Belum sempat in hoo berfikir, jung soo sudah menarik paksa in hoo turun dari motor itu dan mengendarainya.
“YAA park jung soo!! Mau kau bawa kemana motorku??” teriaknya pada jung soo yang sudah melesat pergi.

“nonna!!!”
Nafas jung soo tersegal. Ia berhenti sejenak sambil menghirup udara. Gadis itu tersenyum kemudian berlari menghampirinya.
“jung soo ya, akhirnya kau datang, kupikir kau tidak akan mau mengantarku,”
“mianhae nonna, akhir-akhir ini aku sangat sibuk. . .”
Hyemi tertawa sambil mengacak-acak rambut jung soo “kau berani berbohong kepadaku huh? In hoo bilang kalian sedang santai saat ini setelah ujian,”
“YAA nonna hentikan,” gerutu jung soo.
“kau memang manis,”
“nonna berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil, aku sudah dua puluh dua tahun!!”
“dan aku tetap dua tahun lebih tua darimu,” hyemi tertawa.
“ingatlah, saat kau pulang nanti, aku akan berubah, kau tidak akan mengenaliku lagi,”
“baiklah. . . jaga dirimu baik__” kata-kata hyemi terpotong saat jung soo menempelkan jari telunjuknya ke bibir gadis itu.
“perubahanku dimulai dari sekarang,” kata jung soo, dipegangnya ke dua bahu gadis itu “han hyemi, kau harus menjaga dirimu baik-baik disana, aku tau kau sangat suka bernyanyi, tapi kau tidak boleh sampai sakit tenggorokan atau semacamnya, kau harus tidur cukup, dan jangan minum kopi sebelum makan, penyakit maghmu bisa kambuh, araseo?!”
Sesaat hyemi tertegun, kemudian ia tersenyum “aigoo. . . kenapa laki-laki ini cepat sekali berubah? Aku takut kalau aku kembali nanti kau sudah menjadi kakek-kakek,”
“setidaknya aku lebih tua darimu,”
“hyemi ya, sudah waktunya,” sela heechul.
“oh? Baiklah,” saut hyemi “jung soo ya, aku harus berangkat sekarang,” hyemi maju selangkah dan memeluk jungsoo
“ne, jangan lupa pesanku,”
“araseo,”
Jung soo masih diam ditempatnya melihat gadis itu berjalan menjauh bersama heechul. Kemudian bibirnya tersenyum tipis. Ditempat ini, dilepasnya gadis itu, bukan hanya dalam hidupnya tetapi juga dalam hatinya.
——————

“anyeong haseo, anda ingin mencari bunga? Silahkan,”
Jung soo tersenyum pada wanita itu, “aku ingin mencari mawar,”
“oh, mawar ada disebelah sini, silahkan,”
“mm. . .nonna, maksudku mawar yang hidup,”
“ah, kami punya banyak, anda bisa memilih jenis-jenisnya,”
Jung soo tersenyum ketika wanita itu menunjukkan mawar-mawar dalam pot itu “maksudku park soo jin, apa dia ada?”
“ye?”
“aku mencari park soo jin, apa dia ada?” ulang jung soo.
Seketika mata wanita itu menyipit “kau mencari soo jin? Apa kau pacarnya?”
“eonniii, aku tidak menemukan box itu, dimana ka. . . park jung soo ssi. . . sedang apa kau disini?”
Jung soo tersenyum pada gadis yang baru saja menuruni tangga itu “apa kau sedang bekerja saat ini?”
“ah aniyo. . .kau ingin mengajaknya pergi? Ajak saja dia agar tidak menggangguku disini,” saut yoon hye cepat.
“onnie!!”
“apa? Kau itu selalu saja berkeliaran disini, ada baiknya kalau kau main keluar, apalagi ini baru pertama kalinya ada laki-laki yang mencarimu, aku sangat bahagia, oooh. . . akhirnya, soojin kecilku sudah dewasa_”
“eonni kalau kau bicara lagi akan kupecahkan semua pot-pot ini!!” ancam soojin yang sudah membawa sebuah pot siap membantingnya ketanah.
“aigooo. . . letakkan pot itu kembali, kau bisa membuatku bangkrut nanti!! Baiklah-baiklah aku akan diam, jadi kembalikan bunga itu,”
Dengan muka masam soo jin meletakkan pot bunga itu lagi.
“kau harus hati-hati dengannya, kau lihat sendiri kan? dia sangat mengerikan. . .” bisik yoon hye.
“eonii!!”
“araseo, araseo, haaiss. . kemana bunga-bungaku tadi, ini harus ditata ulang dan harus disemprot. . .” kata yoon hye sambil berjalan menjauh menghampiri salah satu rak bunga.

“park jung soo berhentilah tertawa!!” gerutu soo jin.
Jung soo masih tergelak, tidak dihiraukannya gadis yang sudah kesal itu.
“YAA park jung soo ssi, berhenti tertawa!!” bentaknya.
Tawa jung soo semakin keras, laki-laki itu sampai memegangi perutnya.
“kalau kau mengajakku keluar hanya untuk melihatmu tertawa, aku pergi!” soo jin berdiri dari duduknya tapi tangan jung soo dengan cepat menggenggam lengannya dan menariknya untuk duduk kembali “aigoo. . . kau tau apa yang kutertawakan?”
“jika yang kau maksud itu ‘diriku’, aku benar-benar akan pergi!”
“kau tau aku bilang apa saat mencarimu di toko tadi?”
Kali ini soo jin mengerutkan keningnya “apa?”
“aku bilang pada nonna, aku mencari mawar,”
“apa ada yang aneh?”
“park soo jin, mawar itu adalah kau!”
Soo jin tertegun mendengarnya “aku?”
“ne, tapi sekarang aku tau bahwa kau sama sekali tidak mirip dengan mawar, aku tau bunga apa yang sangat mirip denganmu!!”
“a-apa?”
“kantung semar!”
Soo jin melebarkan matanya “kan-kantung semar?”
“benar! Saat dilihat, ia akan diam. Tapi begitu ada serangga terbang didekatnya. . .hup” jung soo menepukkan kedua telapak tangannya tepat didepan wajah soo jin “ia akan melahap serangga itu, bukankah itu sangat mengerikan?” bisiknya secara dramatisir.
Soo jin menyipitkankan matanya “benar, itu sangat mengerikan. . . “ balasnya berbisik “jadi sebaiknya kau menjauh dariku!!” bentaknya tiba-tiba sambil beranjak dan cepat-cepat melangkah pergi.
“YAA tunggu!!” secepat kilat jung soo mengejar gadis itu dan menahannya lagi.
“apa??” soo jin mengibaskan tangannya dengan kesal.
“ayolah, aku hanya bercanda, sebenarnya aku ingin minta tolong kepadamu,”
“huh?” soo jin mendengus “caramu meminta tolong sangat aneh. Kalau kau membuat orang lain marah setiap meminta bantuan kepadanya, tidak akan ada yang membantumu!!”
Jung soo tersenyum lebar, “kau pasti akan membantuku,”
“percaya diri sekali kau!” dengus soojin
“ayolah, aku hanya memintamu menjadi modelku,”
“mo-model?” sojin mengerutkan keningnya bingung.
“benar,”
“aku tidak berminat,”
“ayolaah. . . kau hanya perlu pergi berlibur denganku,”
“mwo? Ber. . .berlibur? apa kau gila huh? apa kau pikir aku mau berlibur denganmu? Apa sebenarnya tujuanmu? Omona. . . aku tidak menyangka kalau ternyata kau. . .”
Pletak
“YAAK!!” soo jin meringis langsung memegangi kepalanya yang baru saja dijitak
“aiiish. . . kenapa pikiranmu kotor sekali? Aku mendapat tugas akhir semester untuk membuat photografi, tema yang kuambil adalah natural, aku menginginkanmu menjadi modelku karna wajahmu terlihat natural, aku sudah punya beberapa fotomu saat hujan dulu, dan kurasa itu akan bagus. Ayolah, kau hanya perlu pergi ke hutan atau laut, atau taman dan bermainlah disana sesukamu, dan aku hanya akan memotretmu, bagaimana?”
“jung soo ya, kau tau kebun buah pear?”
“ye?”
“kau tau kebun buah pear? Aku ingin kesana,”
“kenapa?”
“dulu temanku pernah bercerita, neneknya memiliki kebun buah pear, dan aku ingin sekali melihatnya. . .”
“kita akan ke sana!”
“jjinjayo? Kau tau tempatnya?”
“kakek dan nenekku juga mempunyai kebun buah pear didesa kelahiranku,”
“woa. . .benarkah?”
Jung soo mendengus pelan “kau mau pergi atau tidak?”
“tentu saja, kapan?”
“bagaimana kalau lusa? Aku akan menjemputmu,”
“ah tidak usah, kita bertemu saja disini,”
“baiklah. . .”

“ayolah eonni. . .kumohon. . .”
“soo jin ah, aku tidak berani mengambil resiko, tempat itu jauh,”
“aku akan baik-baik saja, aku berjanji,”
Yoon hye menggeleng pelan “ini terlalu beresiko,”
“eonni, setidaknya aku bisa melihat kebun buah pear walau hanya sekali dalam hidupku. . .”
Mendengar nada itu, membuat yoon hye merasa sedih juga.
“eonni, kumohon. . . kau hanya perlu mengatakan pada ibu kalau aku ditempatmu jika ia bertanya,”
“soo jin ah. . .” yoon hye menghela nafas pelan “apa laki-laki itu tau?”
Soo jin terdiam sejenak kemudian menggeleng pelan “aku tidak ingin dia tau eonni. . . kalau dia tau, dia juga tidak akan mengajakku kesana,”
“kau berjanji akan kembali sebelum malam?!”
“aku janji,” jawab soo jin cepat.
“baiklah. . .”
“eonni, gomawoyo. . .”
—————–

“kau tau, ini pertama kalinya aku naik kereta,” ucap soo jin senang sambil melihat pemandangan diluar dari kaca jendela.
Jung soo hanya tersenyum melihatnya, ia mengangkat kameranya dan menjepretkan benda itu.
“YAA kau bilang kau akan memotretku saat dikebun,” protes soo jin.
“oh, kau belum tau judul apa yang akan kuambil?”
“apa?”
“apa ‘kantung semar flower’ menurutmu bagus?”
“hei park jung soo, kau ingin cari gara-gara ya?”
Jung soo tergelak “aku hanya bercanda,”
Soo jin mendengus “sangat kekanak-kanakan!”
“yaa, aku ini lebih tua darimu,”
“araseo, ajhusi~”
“mwo? Kau memanggilku ajhusi huh? aku tidak setua itu, panggil aku oppa,”
“aniyo, kau sendiri yang bilang kau lebih tua,” saut soo jin tidak peduli sambil memalingkan wajah.
“aiish. . .benar-benar menyebalkan,”
“jadi. . . apa judul yang akan kau ambil nanti?” tanya soo jin lagi sambil melihat pemandangan luar.
“summer girl trip’s, bagaimana menurutmu?”
“kedengarannya sedikit aneh, bagaimana jika ‘tranquility’?
“tranquility. . . ketenangan. . . tidak mau, itu terdengar sangat aneh!!”
“YAA- terserah kau saja!!” saut soo jin malas.
“ayo, kita harus turun disini,”

Setelah turun dari kereta, mereka berdua berjalan pelan menuju halte bus dan menaiki sebuah bus yang melewati jalanan kecil ditengah-tengah sawah.
“woaa. . . ini sangat menyegarkan. . .” soo jin membuka jendela kaca busnya lebar-lebar dan merasakan hembusan angin yang menerpanya. Sementara jung soo beberapa kali memotret gadis itu.
Setelah naik bus mereka berdua turun dihalte kecil dan melanjutkan berjalan kaki. Mereka melewati jalan ditengah-tengah sawah luas. Berkali-kali soojin menghirup udara, menikmati angin yang menerpanya.
“tidakkah tempat ini terasa sangat menenangkan??” tanyanya tanpa menoleh.
“aku jarang kemari, terakhir kali, setahun yang lalu,”
“kalau boleh, aku lebih suka hidup dipedesaan seperti ini saja, jauh dari keramaian,”
“soojin ah, lihat kebun disana itu,”
Soojin menghentikan langkahnya dan melihat kearah yang ditunjuk jungsoo. Gadis itu memincingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas.
“itu adalah kebun pear milik keluarga kami,”
“woaaa jjinjayo?? Kajja, kita kesana!!”
——————–

“nenek, terima kasih untuk makannannya,”
Wanita tua itu tersenyum “ini pertama kalinya jungsoo membawa seorang gadis kemari, tentu saja aku harus memasak makanan yang enak,”
Jung soo sedikit tersedak saat meminum tehnya. Kemudian ia mengusap-usap tengkuknya gugup sementara soo jin tersenyum canggung.
“cucuku sudah dewasa sekarang. . .” saut sang kakek.
“kakek, itu tidak seperti yang kau pikirkan,”
“memangnya aku memikirkan apa? Hahaha. . .”
“mm. . . kurasa sebentar lagi kami harus pulang, langit sepertinya sedang mendung,”
“hati-hatilah, bus disini lama sekali lewatnya jika sore, kalian harus ada dihalte sebelum jam 5,”
Jungsoo mengangguk “aku mengerti,”
“nenek, kakek, kami pulang dulu,”
“lain kali kemarilah lagi, jungsoo ya, kau harus mengajaknya kemari saat panen buah pear,”
“ne, kami pulang dulu, anyeong haseo,”
Jung soo dan soo jin membungkuk memberi salam. kemudian mereka berdua kembali berjalan menuju halte.

“jung soo ssi, desamu benar-benar sangat menyenangkan. . . “ soo jin berkali-kali menghirup nafas sambil memandang bentangan sawah disekitarnya sementara jungsoo sibuk melihat gambar dicameranya, “aku ingin sekali tinggal disini. . .”
“tidak kusangka wajahmu sangat natural,”
“seharusnya kau membayarku untuk itu. . .” soo jin memayunkan bibirnya, menatap laki-laki disebelahnya yang masih fokus pada kameranya.
“tidak ada perjanjian untuk itu sebelumnya, kau hanya memintaku untuk mengajakmu kekebun buah pear, dan aku sudah mengabulkannya,”
Soo jin mencibir kemudian kembali menikmati angin desa. Tapi tiba-tiba ia menyadari sesuatu “jung soo ssi. . . apa kau tidak merasa aneh?”
“apa?”
“sepertinya kita tidak melewati jalan ini tadi,”
Jung soo menghentikan langkahnya kemudian ia mengangkat wajah, menatap sekeliling “YAA bagaimana bisa kita berjalan sampai kemari?? Seharusnya kita berbelok tadi!!”
“kenapa menyalahkanku?? Yang tau jalan itu kau! Aku hanya mengikutimu, tapi kau malah sibuk dengan kameramu, ini semua salahmu!!”
“ka- aiiish. . .” jung soo mendesah keras, diliriknya jam tangannya “gawat, sudah jam lima kurang sepuluh menit, ayo kita harus cepat,”
“YAA tunggu aku!!” soo jin langsung berlari menyusul jung soo.
nafas gadis itu mulai berat. Ia berusaha memanggil laki-laki didepannya, namun bibirnya tidak sanggup untuk terbuka.
“YAA tunggu kamiii!!!” jung soo berteriak keras saat bus yang berada dihalte itu meluncur pergi. Namun rupanya tidak didengar oleh sopir bus. “aiiish. . .” jung soo mengacak-ngacak rambutnya frustasi sambil menatap bus yang semakin jauh itu sementara tetesan-tetesan air hujan mulai turun.
Soo jin menekan dadanya kuat-kuat. Nafasnya semakin berat dan pandangannya mulai berputar. “jung. . .soo. . .”
Jung soo menoleh kearah soo jin dan terkejut saat melihat gadis itu tiba-tiba saja limbung. Dengan cepat ia berlari dan meraih tubuh gadis itu sebelum menyentuh tanah. Bibirnya mengerang pelan saat punggungnya membentur permukaan tanah.
“soo jin ah?” panggilnya pelan “YAA park soo jin jangan bercanda!!” digoyang-goyangnya tubuh yang terkulai lemas itu.
mata gadis itu masih tertutup rapat, membuat jung soo menjadi panik “soo jin ah??” panggilnya sekali lagi. Tidak ada reaksi, kemudian jung soo menggendongnya dipunggung dan berlari mencari rumah penduduk. Tanpa ia sadari, ponsel dalam saku gadis itu terjatuh.
Hujan semakin deras dan langit semakin gelap. Jung soo berlari kecil menyusuri jalan setapak. Akhirnya ia menemukan perumahan penduduk. Dilihatnya seorang gadis remaja yang sedang menyulam diteras rumahnya, dihampirinya gadis itu.
“agashi tolong aku,” kata jung soo sambil menurunkan soo jin dari gendongannya dan meletakkannya di teras.
Gadis itu mengerjap kaget kemudian segera berteriak memanggil ibunya. Tidak lama, seorang perempuan setengah baya muncul dengan sedikit panik “yong mi, ada apa??”
“ajhuma, tolonglah aku,” saut jung soo.
“kenapa dia??” tanya ajhuma itu “ayo bawa masuk,”
Dengan cepat jung soo menggendong soo jin dan membawanya masuk kedalam sebuah kamar.
“baringkan dia disitu dan tunggulah dia diluar,”
Jung soo menatap soo jin sejenak kemudian menuruti kata-kata ajhuma itu. ajhuma itu menutup pintu kamar sementara jung soo menunggu diluar.
“oppa, keringkan badanmu,” gadis yang dipanggil yong mi itu memberi jung soo selembar handuk.
“kamsahamnida,” ucap jung soo sambil menerima handuk itu.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka. Ajhuma itu keluar kemudian menutup kembali pintu kamar dengan pelan.
“ajhuma, bagaimana keadaannya?” tanya jung soo pelan.
“siapa namamu?” tanya ajhuma itu sambil duduk.
“park jung soo imnida,”
“jung soo ssi, apa dia mempunyai penyakit jantung?”
“mwo?” jung soo mengerjap kaget “pe-penyakit jantung?”

tbc