Tags

, ,

 

10941137_429886810495312_496811186783548236_n

Mokpo, 10.12 pm

Gadis itu duduk disebuah bangku taman yang sepi. Ini sudah malam, namun ia sama sekali tidak berniat untuk beranjak dari duduknya.Tubuhnya terasa sangat kaku. Dadanya sesak, dan ia tidak tau harus bagaimana. Digigitnya bibir bawahnya kuat-kuat menahan tangis. Ia tidak boleh menangis, tidak sebelum ia tau yang sebenarnya. Salah satu tangannya terangkat meremas syal yang melilit dilehernya, berharap sedikit dapat mengurangi rasa perih yang dirasakannya. Kemudian, dengan gerakan lambat, dikeluarkannya sebuah ponsel dari kantong mantel panjang yang dipakainya. Setelah menekan beberapa tombol, ditempelkannya benda itu ke telingannya.
“Yeoboseo? Yoon hye, wae?” terdengar suara seorang laki-laki yang sedikit berat begitu telphone tersambung.

Yoon hye menggigit bibirnya semakin kuat. Ia tidak tau harus berkata apa.
“yoon hye, kau baik-baik saja? Kalau kau tidak berbicara juga aku akan menutup telphonenya,”
“Oppa. . .” saut yoon hye cepat begitu mendengar kata-kata itu.
“Wae?”
“Bisakah. . . Bisakah kita bertemu sekarang ini?” tanyanya dengan susah payah.
“Sekarang? Tidak bisa besok? Ini sudah malam yoon hye,”
“Sekali ini saja oppa. . . Kumohon, temui aku sekarang. Ada hal penting yang ingin kukatakan kepadamu,”
Hening. Tidak ada jawaban dari seberang. yoon hye menggigit bibirnya lagi. Air matanya sudah mengambang memenuhi rongga bola matanya.
“Baiklah. . . “ jawab laki-laki itu kemudian “Dimana kau sekarang?”
“Aku. . . ada ditaman tempat kita pertama kali berkencan dulu,”
“Tunggu aku,”
Sambungan telphone itu terputus. yoon hye menggenggam ponsel itu erat-erat sambil menatap kosong kedepan. Perasaannya masih baik-baik saja tadi. Namun hal itu berakhir saat ia berada dalam perjalanan ke perpustakaan umun dan tidak sengaja melihat orang-orang yang amat dikenalnya berada dalam sebuah café.
Langkah kakinya berhenti seketika. Tubuhnya membeku dengan mata yang terpaku pada pemandangan didalam café itu.Dari kaca café yang begitu lebar itu, dapat dilihatnya dengan jelas apa yang terjadi didalamnya. Kekasihnya, Lee Donghae sedang bersama sahabat dekatnya, lee rae ki. Mungkin ia tidak akan terlalu kaget jika saja Donghae tidak menggenggam tangan rae ki dengan erat seolah mereka sepasang kekasih. Dan detik berikutnya benar-benar membuat yoon hye terluka. Lee Donghae, laki-laki itu meraih wajah rae ki kemudian mencium kening gadis itu dengan lembut.
Sebuah benturan dibahu yoon hye dari belakang membuat gadis itu tersadar. Dan benturan-benturan berikutnya memaksanya untuk berjalan dijalan yang mulai ramai orang itu. langkahnya tidak lagi menuju perpustakaan umum. Pikirannya yang mendadak kacau membuat langkahnya tidak fokus dan tiba-tiba saja ia sudah berada ditaman ini. Hingga saat ini.
“yoon hye, gwenchanae??”
Suara itu membuat yoon hye tersadar. Ia mengerjap kaget kemudian mengangkat wajahnya. Dilihatnya laki-laki itu sudah berdiri dihadapannya. Lee Donghae. . .
“Oppa. . .” bisiknya hampir tidak terdengar.
“Ada apa yoon hye? Mengapa kau ada disini? Ini sudah jam sepuluh,” tanya Donghae.
“Bisakah kau duduk sebentar? Ada yang ingin kutanyakan,” jawab yoon hye pelan.
Donghae mengambil tempat disebelah yoon hye. Menunggu yoon hye berbicara sementara gadis itu kini tengah berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya.
“kenapa oppa?” akhirnya hanya pertanyaan itu yang keluar. Hatinya terlalu sakit untuk menanyakannya.
Donghae mengerutkan keningnya bingung “apa maksudmu?”
“Kenapa, kenapa harus rae ki oppa?” tanya yoon hye pelan “Dia sahabatku. . .”
Donghae menegang mendengar nama itu. “yoon-“
“Aku melihatnya oppa,” potong yoon hye cepat “Tadi sore aku melihat kalian, dicafe itu,”
Hening. Donghae tidak berbicara apapun sementara yoon hye sibuk meredam perih dihatinya.
“itu benar yoon hye,” pengakuan Lee Donghae itu memecah keheningan.
Air mata yoon hye yang sudah lama ditahannya akhirnya jatuh. Ia sadar apa arti dari kalimat itu. Apa yang sudah dilihatnya itu adalah nyata, bukan ilusinya. Tenggorokannya tercekat. Sakit itu semakin menghujam dadanya.
“mianhae. . .” lanjut Donghae “aku ingin mengatakan hal ini kepadamu, tapi aku tidak ingin membuatmu terluka. . .kita selalu bersama sejak kecil yoon hye, kupikir aku mencintaimu. . . Ternyata aku salah. . . Aku hanya menyayangimu, bukan mencintaimu, kau seperti adikku sendiri. . . Itu yang kurasakan saat bersamamu. Tapi berbeda pada rae ki. Aku merasa tidak bisa jika tidak menatapnya, dan saat itu aku sadar, aku mencintainya. . .”
yoon hye hanya diam mendengarnya. Bukan karna ia menerima kenyataan itu, tapi tubuhnya terlalu kaku untuk digerakkan. Bagaimana bisa seseorang yang sudah bersamanya sejak bertahun-tahun yang lalu, orang yang dicintainya, sekarang ini mengatakan bahwa ia mencintai gadis lain?
“Jeongmal mianhae. . . Tidak ada alasan lagi untukku menjelaskannya kepadamu, kau sudah tau semuanya. . . Kita masih bisa bersama, namun untuk keadaan yang berbeda, dan sebelum kau mampu menghapus rasa itu untukku, lebih baik kita tidak perlu bertemu dulu, kuharap kau mengerti, mianhae. . .”
Donghae beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Namun dengan cepat yoon hye berdiri dan menahan lengan laki-laki itu.
“Oppa. . .” isaknya pelan.
Donghae terdiam sejenak kemudian ia berbalik dan memeluk yoon hye “mianhae. . .” bisiknya ditelinga yoon hye lalu dilepasnya pelukan itu dan melangkah pergi.
yoon hye tidak mampu lagi untuk melihat laki-laki yang berjalan semakin jauh itu. air matanya terus mengalir, mengaburkan pandangannya sementara tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan. Bahkan untuk membuka matanya-pun rasanya ia tidak sanggup.
Tetes-tetes air itu turun dari langit dan semakin lama semakin deras ketika yoon hye berjalan pulang kerumahnya. Ia berjalan pelan dengan pandangan kosong. membiarkan air hujan itu membasahinya. Mengalir ditubuhnya. Berharap air hujan itu dapat menghapus semua rasa sakitnya. Namun tidak ada yang berubah. Rasa itu masih berdenyut perih hingga ia melewati gerbang rumah dan masuk kedalam rumahnya.
“Sudah berkali-kali aku meminta kepadamu untuk menceraikanku, tapi kau selalu tidak perduli, aku tidak tahan lagi denganmu!!” teriakan itu menghentikan langkah yoon hye diambang pintu. Teriakan ibunya.
“Aku juga tidak tahan denganmu, apa kau sudah merasa menjadi istri dan ibu yang benar? Setiap hari kerjaanmu hanya menghabiskan uang saja, tidak pernah mengurus yoon hye! bahkan saat ini dia belum pulang-pun kau tidak perduli!” balas ayahnya.
“Itu karna kau yang selalu pergi dengan wanita-wanita murahan itu!! Aku membencimu, kenapa aku harus menjadi istri dan ibu yang baik kalau kau tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik!”
“Cukup!! Kau membuatku semakin muak!”
“Ceraikan aku!! Aku tidak tahan denganmu, lebih baik aku hidup sendiri!!”
“Baik kita bercerai!! yoon hye ikut denganmu!!”
“Kenapa harus aku? Kau bilang aku tidak bisa mengurus anak, kenapa dia tidak ikut denganmu saja?”
yoon hye memandang kosong kearah ayah dan ibunya yang sedang bertengkar itu. memang sudah dua minggu mereka tidak terlihat dirumah, dan ini puncaknya. Ia tidak sanggup melihat hal itu lagi. Digerakkannya kakinya untuk melangkah pergi sekuat tenaga. Setelah tempatnya bertahan itu sudah pergi, kini kedua pilar penyangganya-pun telah runtuh. Membuatnya terjatuh dan hancur berantakan.
Dingin air hujan itu kembali mengguyur tubuhnya. Kilasan-kilasan kejadian masa lalu yang penuh kebahagiaan itu berputar cepat di memori otaknya. Saat dulu keluarga mereka menghabiskan hari libur mereka dengan piknik, saat ayah dan ibunya selalu ada sebelum ia memejamkan mata untuk tidur, saat melihat kemesraan orang tuanya, saat ia bermain dengan Lee Donghae, saat Donghae menjaganya, saat mereka semua selalu bersama, saat itu, ia merasa bahwa ia sudah memiliki segalanya.
Tapi satu hal yang sudah dilupakan yoon hye. Ia lupa bahwa tuhan selalu menciptakan apapun dalam bentuk berpasangan. Bila ada kebahagiaan, pasti akan ada kepedihan. Dan hal itu sudah datang saat ini, seolah hal itu menjadi sesuatu yang pantas untuk membayar setiap tawa yang keluar.
Gadis itu terus berjalan tanpa tau arah dan tujuan. Ia kini memahami apa yang telah terjadi. Semua itu tidak pernah abadi. Seperti Lee Donghae yang pernah mengatakan bahwa ia akan mencintai yoon hye selamanya, kini semua itu sudah pupus. Seperti cinta yang dimiliki oleh kedua orang tuanya dulu, kini semua itu sudah hancur.
Kenyataannya adalah, tidak pernah ada cinta sejati didunia ini. Cinta sejati itu hanya ada dalam dongeng dan novel-novel yang pernah dibacanya. Karna cinta itu akan terus berubah sama seperti hati manusia yang flexible, tidak tetap. . .
——————

Takdir itu adalah miliknya,
dan memainkan kita yang telah dipilihnya. . .
namun, saat takdir tidak berjalan bersama rasa,
apa yang harus kulakukan??
Aku menginginkanmu, telah kuteriakkan itu pada tuhan
Seandainya saja bisa, akan kutentang ia dan menjadikanmu milikku. . .

5 years later. . .
Seoul, 02.27 pm

Cantik, smart dan angkuh. Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok perempuan 22 tahun yang saat ini sedang berjalan menyusuri koridor kampusnya dengan beberapa buku dan map dalam dekapannya. yoon hye, gadis itu berjalan dengan langkah lambat. Terlihat raut lelah pada wajahnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Cepat-cepat diambilnya benda itu dan langsung menjawab begitu tau siapa yang menelphonenya.
“Ahra eonni?”
“yoon hye mianhae. . . Hari ini aku tidak bisa mengajarimu bermain piano, tapi tenang saja, aku sudah menyuruh adikku untuk menggantikanku,” kata ahra panjang lebar dari seberang sana.
“Memangnya eonni kenapa? “
“Aku harus keluar kota beberapa hari, ah tidak, mungkin sampai dua minggu- entahlah. . . Aku harus menyelesaikan skripsiku. . .” terdengar nada lelah dalam suara itu “dan benar-benar suatu kesalahan aku mengambil jurusan bisnis management, sekarang aku harus merelakan diriku pergi ke mokpo untuk mengamati perkembangan industri bisnis disana,”
yoon hye tertegun mendengar nama kota itu, kota tempatnya berasal, kemudian ia tersenyum tipis “Berusahalah eonni,”
“Gomawo, aku harus menyiapkan barangku sekarang, dan jangan khawatir, adikku akan ada diruang music sebelum kau tiba disana, ok?! Anyeong,”
Telphone terputus, yoon hye menghela nafas pelan. Ia harus menyelesaikan kelas bahasa sebelum bisa belajar bermain piano. Ia menyukai piano, sangat. Karna itu yoon hye meminta Cho Ahra, Sunbae-nya untuk mengajarinya bermain piano. Ia melihat Ahra pertama kali bermain piano pada festival musim panas di campusnya. Saat itulah ia meminta Ahra untuk mengajarinya, dan dengan senang hati Ahra menyanggupinya.
Ahra gadis yang menyenangkan. Satu-satunya gadis yang dianggap yoon hye sebagai teman di Universitas Seoul ini. Seoul? Ya, seoul! Disinilah yoon hye hidup sekarang. Setelah perceraian kedua orang tuanya, ia ikut ayahnya pindah ke Seoul. Namun hanya sampai lulus SMU ia tinggal bersama ayahnya karna hidup bersama ayahnya sama seperti hidup sendiri. Keluarganya tidak akan pernah kembali menjadi utuh lagi. Bahkan setelah ia tinggal sendiri diapartement, ia sudah menghapus semua masa lalunya. Tidak ada Lee Donghae, dan tidak ada ayah atau ibunya. Tidak pernah ada . . .

Cho Kyuhyun, laki-laki itu sedang menekan tuts-tuts piano hitam diruang music itu. Ia terlihat sedang mencoba menikmati permainannya. Namun sedetik kemudian ia menghentikan gerakannya, terdiam sejenak lalu mendesah pelan. Kenapa ia harus menggantikan nonnanya untuk mengajarinya seorang gadis bermain piano?! Apa tidak cukup penderitaannya di campus ini hingga nonnanya juga ikut menambah deritanya?!
“Aku tidak mau tau Cho Kyuhyun! Aku sudah berjanji padanya, jadi kau harus menggantikanku mengajarinya, dan bersikaplah manis kepadanya, kau akan mati jika kau bersikap kasar kepadanya,” kata nonnanya beberapa jam yang lalu.
“Tapi nonna, kau tau sendiri bagaimana reaksi gadis-gadis yang bertemu denganku, aku_”
“Kalau sampai dia suka kepadamu itu sangat bagus, aku menyukainya, jadi tidak ada masalah untukku!”
Kyuhyun langsung melototkan matanya “Apa kau bermaksud menjodohkan aku dengannya? Jadi karena itu kau menyuruhku menggantikanmu?”
PLETAK,
“YAA!”
“Diam bodoh!! Kau tidak lihat aku mau pergi ke mokpo? Aku akan lebih senang mengajarinya sendiri daripada menyerahkannya kepadamu, dan asal kau tau, aku lebih menyayanginya daripada kau!!” omel Ahra.
Kyuhyun mendengus keras “Aku tidak mau!”
“Katakan sekali lagi jika kau ingin menjadi direktur Cho Coorporation menggantikan appa!” tandas Ahra. Gadis itu mengeluarkan senjata terampuhnya. Ia tau kyuhyun tidak mau menggantikan appa mereka untuk mengurus perusahaan, karna itulah Ahra mengalah untuk mengambil jurusan bisnis management dan Kyuhyun bisa mengambil pelajaran music yang disukainya.
“Kenapa kau selalu mengancamku dengan hal itu??” protes Kyuhyun.
“Ini karna aku akan pergi ke mokpo Kyuhyun ah, aku harus menyelesaikan skripsiku, kau ingin aku tidak lulus huh?”
“Ara, ara!! Jam berapa aku harus ke campus?”
“Setengah empat sore! Dan ingatlah untuk tidak datang terlambat, araseo?! Aku akan menghubungi yoon hye dan menyiapkan barang-barangku,”
Dan disinilah Kyuhyun saat ini, diruang music menunggu gadis yang harus diajarinya. Tapi hingga sepuluh menit berlalu gadis itu belum datang juga. Kalau bukan karna nonnanya atau karna ada kelas, ia tidak akan mau datang ke campus. Tidak akan pernah. Ia benar-benar malas untuk berada ditempat ini. Bagaimana tidak jika saat kau turun dari mobilmu gadis-gadis yang ada disini langsung mengikutimu dan berteriak-teriak seperti orang gila memanggil namamu. Dan banyak lagi yang mencari perhatian agar kau melihat mereka. Oh ayolah, itu sangat menyebalkan.
Kyuhyun menekan tuts-tuts itu dengan kasar dan tidak beraturan. Wajahnya terlihat sangat kusut. Setelah beberapa detik memainkan nada yang tidak karuan itu, ia terdiam kemudian beranjak dari duduknya dan membalikkan badan. Saat itulah ia melihatnya. . .
Gadis itu berdiri didepan pintu ruang music yang sudah tertutup sambil menatapnya lekat. Mereka saling terdiam. Dia, gadis itu. gadis yang sebelumnya telah diberi nilai tujuh oleh Kyuhyun karena saat ia melihat Kyuhyun, gadis itu tidak bereaksi sama sekali. Berbeda dengan gadis lainnya. Bahkan Kyuhyun sempat heran. Ia sudah mencoba beberapa kali berjalan berpapasan dengan gadis itu dengan disengaja. Namun gadis itu tetap tidak memperdulikannya. Ia hanya berjalan lurus kedepan dengan kepala sedikit menunduk. Seolah-olah dunia ini sama sekali tidak menarik baginya.
Dan saat ini, gadis itu sudah berdiri sambil menatapnya. Jika kemarin-kemarin ia boleh berpura-pura tidak melihat Kyuhyun, hari ini ia sudah tidak bisa berpura-pura lagi karena mata itu, menatapnya dengan gamblang.
Hening. Mereka berdua masih saling bertatapan. Kyuhyun dapat melihat jelas sosoknya saat ini, ditelusurinya sosok itu dengan tatapannya. Cantik. . . dengan rambut ikal coklatnya gadis itu terlihat manis. Delapan. . . tanpa sadar, Kyuhyun menyebut angka itu dalam hatinya. Nilai gadis itu berubah menjadi delapan. Ekspresi datar itu, Kyuhyun menyukainya. Ekspresi yang selalu membuatnya penasaran. Sekarang, saat gadis itu berdiri dihadapannya, ia ingin menguak ekspresi itu.
“Apa yang kau lihat?” tanya Kyuhyun dingin “Kau bisa datang lebih lama dan jangan berharap aku akan menunggumu!”
Gadis itu tidak menjawab, ia malah berjalan pelan kearah kyuhyun. Tapi gadis itu hanya melewatinya dan malah menghampiri piano hitam itu. Ditekannya salah satu tutsnya “Lagumu terdengar cukup bagus,” komentarnya.
Kyuhyun menatapnya bingung. Apa maksud gadis itu? Jelas-jelas ia asal menekan tuts tadi.
“Setidaknya belum bisa membuat orang yang mendengar menjadi tuli!” lanjut gadis itu.
Sembilan. Nilai delapan itu kini berubah menjadi sembilan. Kyuhyun tersenyum, gadis ini ternyata menarik. Belum ada seorang gadis yang mendebat omongannya. Err. . kecuali nonnanya.
“jadi kau yang harus kuajari piano?” tanya Kyuhyun basa-basi. Tunggu dulu, ini tidak biasanya. Ia tidak pernah berbicara hal yang tidak perlu seperti itu.
“Aku ragu kau bisa mengajariku Mr. Cho,”
“Kau meremehkanku?”
“Apa aku harus memberikan kesempatan kedua?”
Kyuhyun terdiam sambil mengerutkan keningnya. Tunggu dulu, kesempatan kedua? Hei, mengapa keadaannya jadi terbalik seperti ini? Gadis itu seharusnya bersyukur Kyuhyun mau mengajarinya “Tunggu dulu, kenapa aku harus meminta kesempatan kepadamu?!”
Gadis itu mengangkat bahunya acuh “Kau ingin menghabiskan waktu belajarku dengan berdebat terus Mr. Cho?” dengan tatapan tidak perduli gadis itu mengambil duduk didepan piano hitam disebelah Kyuhyun.
Kyuhyun benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. Gadis ini jauh diluar dugaannya. Sangat menarik. Ia bisa membuat keadaan menjadi terbalik, seharusnya ia yang membutuhkan kyuhyun untuk mengajarinya. Tapi mengapa kini terlihat seolah kyuhyun yang harus menunjukkan kemampuannya pada gadis itu?! Padahal ia sudah berencana akan pergi dari tempat ini begitu gadis itu histeris melihatnya. Dan ternyata ia salah.
“Oh bagus, sekarang dia malah melamun!!” dengus gadis itu pelan seolah berbicara kepada diri sendiri.
Kyuhyun menatap gadis yang mulai menekan tuts piano itu, memainkan lagu dari U-kiss 0330. Ia tersenyum tipis kemudian ikut duduk disebelah gadis itu. Jari-jari tangannya mulai ikut menekan tuts-tuts itu, menjadikan lagu itu semakin bervariasi.
“Aku Cho Kyuhyun, siapa namamu?”
“yoon hye, kim yoon-hye imnida,”

tbc. . .