Tags

, ,

 

10941137_429886810495312_496811186783548236_nKau nafasku. . .
Semua tau akan hal itu,
Kau adalah mimpi-mimpiku
Dan aku ingin menjadikannya nyata. . .
Air matamu adalah sakitku,
Dan dukamu adalah perihku,
Dengan apa harus kucairkan dinginnya jiwamu?


“Yoon hye waktumu sudah habis. Yoon hye?? Kim yoon hye ssi, waktumu sudah habis!!”
Yoon hye tersentak dari lamunannya. Ia menatap temannya itu bingung.
“Aigoo. . . Apa yang sedang kau pikirkan? Waktumu sudah habis Yoon hye,”
“Oh, mianhae Ji-yoo~ya,” saut Yoon hye sambil cepat-cepat mengambil tasnya.
“Kulihat sejak tiga hari yang lalu kau selalu terlihat sedang melamun, wae?”
“Aniyo. . .” jawab Yoon hye sambil tersenyum tipis. Gadis itu beranjak dari duduknya dan memberikan kursinya pada Ji-yoo, teman kerjanya. Saat ini ia sedang bekerja disebuah perpustakaan umum Seoul. Rasa cintanya pada buku membuatnya selalu betah berada diruangan penuh rak itu.
“Aku pergi dulu Ji-yoo~ya, anyeong,”
“Anyeong,”

Yoon hye melirik jam tangannya sambil mendesah pelan. Kelas tulis dimulai empat puluh lima menit lagi. sebelumnya itu bukan masalah untuknya, karena ia bisa menghabiskan waktunya diperpustakaan atau diruang music. Tapi kini semuanya telah berbeda. Ia tidak ingin berada dicampus lagi. karena tidak ada yang tidak menatapnya saat ia memasuki gerbang universitas itu. dengan terpaksa, Yoon hye melangkahkan kakinya menuju café. Sebenarnya ia ingin pulang, tapi jarak apartement dari campusnya sedikit jauh dan ia tidak akan punya waktu untuk kembali nanti.
Braaak. . .
“Ah mianhae, aku sedang terburu-buru saat ini,” ucap seorang gadis yang baru saja menabrak Yoon hye sambil buru-buru pergi. Sama sekali tidak membantu Yoon hye untuk mengambil buku-bukunya yang berjatuhan. Yoon hye hanya bisa menghela nafas menatapnya. Hanya dalam waktu beberapa hari ia sudah memiliki musuh begitu banyak. Dan itu semua karena seorang Cho Kyuhyun.
Dengan pelan Yoon hye berjongkok untuk memungut buku-bukunya kembali. Tepat ketika ia akan meraih buku terakhir, sebuah tangan mengambilnya terlebih dahulu. Yoon hye terpana melihatnya, Cho Kyuhyun. Laki-laki itu sedang tersenyum sambil menatapnya lembut. Tatapan itu selalu saja bisa membuat Yoon hye tersihir. Sial, Yoon hye mengumpat dalam hati. Dia memang bahaya yang sangat sulit untuk dijauhi.
“Gomawo,” ucap Yoon hye datar sambil merebut bukunya dari tangan Kyuhyun.
“Kau terlihat pucat. . .” gumam Kyuhyun “Apa kau tidak tidur dengan cukup? Matamu sedikit bengkak,” Kyuhyun menyentuh bagian bawah mata Yoon hye dengan jarinya.
Sentuhan ringan yang mematikan. Yoon hye baru sadar bahwa efek dari sentuhan kyuhyun sangat besar untuknya, membuatnya menginginkan lebih. Seolah tersadar, ditepisnya tangan Kyuhyun “Pergilah Kyuhyun ssi, aku lelah. . .”
“Kau harus cukup istirahat, dan jangan lupa makan yoon, aku tidak ingin melihatmu sakit, tubuhmu terlihat sangat rapuh,”
Yoon hye menghela nafas “Jika kau ingin aku baik-baik saja, tinggalkan aku Kyuhyun ssi, kau bisa melakukan itu demi aku bukan?”
Laki-laki itu mematung ditempatnya. Tiba-tiba saja Yoon hye merasa bersalah saat menatap mata itu penuh sarat kekecewaan. Apa ia bicara keterlaluan tadi?!
“Kenapa? Tolong katakan alasan yang membuatku harus menjauhimu yoon,”
“Kau meminta alasan? Baiklah. . . Pertama, kau terlalu berkilau untukku dan aku tidak ingin buta jika terus menatapmu. Kedua, kau membuatku dibenci oleh seluruh gadis disini. Dan ketiga, aku takut padamu Kyuhyun ssi, sangat takut. . .”
“Apa yang kau takutkan yoon, aku tidak akan menyakitimu. . .” kata Kyuhyun sendu.
“Untuk saat ini!” saut Yoon hye “Untuk hari-hari berikutnya, tidak ada yang tau. Aku takut aku akan menjadi sama seperti gadis-gadis lainnya yang selalu menginginkanmu, kau berbahaya untukku Kyu, sangat berbahaya. . .”
“Jadi sebenarnya kau juga menginginkanku?” tanya Kyuhyun dengan senyum lebar.
Sial, maki Yoon hye dalam hati. Bagaimana mungkin ia harus mengatakan yang sebenarnya?! “Bukan begitu Kyu. . . dan aku tidak bisa mengatakannya kepadamu,”
“Aku tidak bisa menjauhimu yoon, aku tidak tau kenapa aku selalu ingin melihatmu,”
“Berhentilah mengatakan hal itu Kyu,” keluh Yoon hye. ia sudah tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi makhluk dihadapannya ini. Ia hanya tidak ingin hancur lagi. Atau sebaliknya? Lebih baik ia hancur dan mencintai laki-laki itu?
“Kyuni!!”
Panggilan itu membuat Yoon hye dan kyuhyun menoleh kesamping. Disana Cho Ahra sedang menghampiri mereka bersama. . . Lee Donghae??
Tubuh Yoon hye mematung seketika. Ia masih mengingat senyum itu, senyum khas Lee Donghae. Tiba-tiba saja tubuh yoon hye gemetar. Ia merasa masa lalu yang ingin dihapusnya kembali lagi bersama kedatangan laki-laki itu.
“Nonna, kenapa kau disini? Bukankah kau ada di Mokpo?” tanya Kyuhyun bingung.
“Aku baru saja kembali Kyu, jangan harap aku akan melewatkan kejadian langka didunia ini,”
“Lalu skripsimu?”
“Itu bisa diatur, Lee Donghae akan membantuku, ia memiliki industri bisnis yang cukup maju disana,” jawab Ahra riang, “Donghae ssi, kenalkan ini Cho Kyuhyun, adikku yang paling tampan dikorea,”
Donghae membungkukkan tubuhnya pada Kyuhyun dan dibalas hal yang sama oleh Kyuhyun.
“Dan ini Kim Yoon hye, gadis yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri,” lanjut Ahra.
Yoon hye masih membeku saat Lee Donghae menatapnya sambil tersenyum “Apa kabar yoon hye?” tanya Donghae lembut, membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya.
“Kalian saling mengenal?” tanya Ahra.
“Maaf, aku harus pergi!” kata Yoon hye tiba-tiba, membuat kaget ketiga orang itu dan sebelum ada yang menjawab, ia sudah berlari pergi.
“yoon hye tunggu!!” teriak Donghae dan langsung menyusulnya.
Kyuhyun mengerjap kaget. Ia memandang Ahra sejenak kemudian ikut menyusul Yoon hye.
“yoon tunggu!!” Donghae berhasil mengejar gadis itu dan menahan tangannya.
“Lepaskan aku oppa!!” bentak Yoon hye.
Kyuhyun yang tiba tidak jauh dari situ tertegun ketika Yoon hye memanggil Donghae dengan kata ‘oppa’. ada apa dengan mereka?!
“Kau masih marah padaku?” tanya Donghae masih menahan lengan Yoon hye.
“Benar!! Jadi pergilah dari hadapanku, jangan temui aku lagi!! Bukankah saat itu kau sendiri yang bilang untuk tidak bersama lagi saat rasa itu masih ada?! Rasa itu masih ada oppa, jadi pergilah dari hadapanku!!” teriak Yoon hye.
Donghae melepaskan lengan gadis itu tanpa sadar. Kata-kata Yoon hye menusuk tepat dihatinya. Air mata Yoon hye sudah mengalir sekarang “Aku tidak mengenalmu Lee Donghae ssi, jadi tolong jangan ganggu aku!” pinta Yoon hye dengan suara bergetar. Kemudian gadis itu melangkah pergi.
Kyuhyun menahan sekuat tenaga untuk tidak berlari kearah Donghae saat itu juga dan memukulnya. Laki-laki itu sudah membuat gadisnya menangis, mengeluarkan air matanya. Dan ia tidak akan pernah memafkan orang yang telah menyakiti jiwanya. Dihampirinya Donghae dan ditatapnya tepat dimanik mata. “Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian, tapi kuberi tau kau satu hal, dia milikku Lee Donghae ssi, dan aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya, atau membuat gadisku menangis lagi,” ucap Kyuhyun tanpa keraguan sedikitpun kemudian berlalu, menyusul Yoon hye.
Donghae tertegun mendengarnya. Laki-laki itu. . . berbicara seolah-olah Yoon hye adalah hal berharga satu-satunya yang ada didunia. dan tatapan mata itu, tidak ada keraguan disana akan ucapannya. Donghae yakin, Kyuhyun memang akan membunuhnya jika ia menyakiti Yoon hye lagi.
“Donghae ssi, apakah kau bisa menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi?!” tanya Ahra yang sudah berada disamping laki-laki itu.

Yoon hye terus berlari sambil berkali-kali menghapus air mata yang keluar. Hingga sampai dibelakang gedung olah raga ia berhenti dan menjatuhkan buku-buku dalam dekapannya. Tubuhnya jatuh ketanah berumput, ia membenamkan wajahnya kedalam kedua tangannya yang bertumpu pada lututnya, terisak pelan.
Kyuhyun merasa sesak melihatnya. Kini ia tau, gadis yang terlihat angkuh itu sebenarnya rapuh. Gadis yang terlihat kuat, sebenarnya mudah pecah. Dihampirinya gadis itu. diangkatnya satu tangannya untuk menyentuh gadisnya. Namun kyuhyun tidak sanggup, jarinya hanya mengambang diudara. Hatinya ikut merasa sakit.
“yoon. . .” lirihnya.
“Kenapa dia harus muncul. . .” isak Yoon hye.
Sedetik kemudian, tangan itu merengkuh kepala Yoon hye. menarik gadis itu kedalam pelukannya. Yoon hye membenamkan wajahnya didada Kyuhyun, membuat kaos laki-laki itu basah. Dan Kyuhyun tidak perduli hal itu. dipeluknya gadis itu seolah memberikan tempat untuknya berbagi.

Hari sudah malam. Namun Kyuhyun ataupun Yoon hye tidak berminat sama sekali untuk beranjak dari duduknya. Mereka masih berada dibelakang gedung olah raga. Yoon hye sudah berhenti menangis. Saat ini gadis itu hanya duduk diam sambil memandang lurus kedepan.
“Pergilah Kyu. . . Tinggalkan aku,” kata Yoon hye memecah keheningan.
“Kau lupa? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi,”
“Kenapa kau belum juga mengerti?” tanya Yoon hye sendu.
“Aku tidak tau apa-apa tentangmu, yang ku tau aku menyayangimu yoon, jadi bisakah kau melupakannya dan mulai menatapku?” pinta Kyuhyun.
Yoon hye menelan ludahnya. Ia tidak ingin bersama Kyuhyun walaupun ia menyukai laki-laki itu. Tidak, bukan menyukai, lebih tepatnya menggilai. Jika saja luka masa lalunya tidak menggores hatinya begitu dalam, mungkin ia sudah menjadi salah satu yeoja yang ada disini. Yeoja yang selalu histeris saat melihat Kyuhyun. Yeoja yang rela memberikan apapun untuk laki-laki itu.
“Kenapa kau begitu menginginkanku Kyu?”
“Karena aku mencintaimu yoon, sesederhana itu. . .” jawab Kyuhyun pelan “Kurasa aku salah. . . Aku tidak hanya mencintaimu, tapi juga tergila-gila kepadamu, dan akan selalu begitu,”
“Aku tidak percaya pada cinta Kyu. . .” ucap Yoon hye dengan suara bergetar “Kau tau, cinta itu hanya ada didalam lembaran kisah, bukan dalam realita. Hati dan perasaan manusia akan selalu berubah, saat ini kau mengatakan kau mencintaiku, tapi esok, dan hari-hari selanjutnya, tidak ada yang tau Kyu. . . Bisa saja semuanya berubah. . . Bahkan pernikahan yang telah dibina bertahun-tahunpun bisa hancur. Hati manusia itu flexible, tidak tetap. . . Dan tuhan menciptakan semuanya berpasangan, jika ada kebahagiaan, akan ada kepedihan juga. . . Didunia ini tidak ada yang tetap Kyu. . .”
Hening beberapa saat “Lalu, apa yang kau takutkan dariku? Kau bilang kau takut padaku, kenapa?”
Yoon hye terdiam sesaat. Ia bimbang apakah ia harus berterus terang atau tidak. Tapi jika ia berterus terang, bukankah itu sama saja seperti mengatakan bahwa ia juga menyukai Kyuhyun?!
“Kumohon Kyu. . .” akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir Yoon hye.
“mengapa sesulit itu untuk kau percaya kepadaku yoon? Aku mencintaimu, bukankah itu sudah cukup?”
“Aku. . . Aku tidak tau Kyu. . . Aku tidak tau. . .”
——————–

Harus berapa kali kuteriakkan pada dunia bahwa aku menginginkanmu?
Harus sebanyak apa kujeritkan kepada tuhan untuk memintamu disisiku?
Aku membutuhkan eksistensimu, tidak taukah kau tentang hal itu?
Kau seperti heroin untukku, tidak, kau lebih dari sekedar heroin
Kau seperti jantungku, dan aku tidak bisa hidup tanpanya. . .

Kyuhyun mengacak-ngacak rambutnya frustasi karena tidak berhasil menemukan Yoon hye dicampus. Laki-laki itu sudah mengikuti jadwal kelas Yoon hye, namun gadis itu tidak mengikutinya sama sekali. ia sudah seperti orang gila saat memeriksa semua tempat dicampusnya. Ada yang ingin dikatakannya kepada gadis itu. Tapi lebih dari itu, ia ingin melihat gadisnya. Gadis yang mampu menjadikannya pecandu akan keberadaan gadis itu.
Semalam ia sudah mendengar semuanya dari Ahra bahwa dulu Lee Donghae adalah mantan kekasih Yoon hye. Dan laki-laki itu ternyata telah mengkhianati Yoon hye dengan sahabatnya sendiri. Ahra sampai harus menahan Kyuhyun agar tidak pergi saat itu juga untuk membunuh Donghae dengan satu janji bahwa Donghae tidak akan pernah muncul lagi dihadapan Yoon hye maupun dihadapannya. Dan bukan itu saja luka yang dimiliki oleh gadis itu. Setelah Donghae meninggalkannya, orang tua Yoon hye memutuskan untuk bercerai. Kini kyuhyun mengerti mengapa Yoon hye tidak percaya dengan cinta. Mengapa gadis itu mengatakan bahwa didunia ini tidak ada yang tetap.
“Aaaarrrgh. . .” Kyuhyun mengerang frustasi sambil memukul dasboard mobilnya. Kini ia tau bagaimana akibatnya jika gadis itu tidak terlihat dimatanya sama sekali. benar-benar mengerikan. Ia seperti vampir yang haus akan darah.
Kemudian diingatnya bahwa Yoon hye berkerja disebuah perpustakaan umum. Sedetik kemudian, mobil silver itu melesat dari parkiran campus. Hanya dalam delapan menit kurang lima detik Kyuhyun sudah sampai didepan gedung perpustakaan itu. Dengan tergesa ia turun dari mobilnya dan langsung berlari kedalam gedung itu.
“Permisi,” ucapnya dengan nafas terengah begitu tiba didepan meja salah satu pegawai perempuan.
Bahkan dalam keadaan tersegal seperti itu ia masih mampu membuat pegawai yang berjaga dimeja itu ternganga.
“Apa Kim yoon hye ada?” tanyanya dengan nafas lebih teratur.
Gadis itu tergelagap dengan mata masih terbelalak “Nu-nugu?”
“Yoon hye, Kim yoon hye, aku mencarinya, apa dia ada?”
Dengan setengah sadar gadis itu menggeleng pelan.
“Dimana dia?” tanya kyuhyun.
“Dia ti-tidak masuk hari ini,”
“Kenapa?” desak kyuhyun.
Gadis itu menggeleng pelan lagi.
“Baiklah, kamsahamnida,” ucap kyuhyun cepat kemudian melangkah pergi dengan cepat. Hanya satu tempat yang belum didatanginya, apartement gadis itu. . .

“Ji-yoo~ya, terima kasih sudah kemari,”
“Ini pertama kalinya bukan?”
Yoon hye mengerutkan keningnya bingung “Apa?”
“Ini pertama kalinya kau sakit sampai seperti ini Yoon hye, sebelum ini kau tidak pernah sakit bukan? Dan itu karena seorang Cho Kyuhyun, atau seorang Lee Donghae?”
Yoon hye mendesah pelan “Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. . .”
“Setelah mendengar ceritamu, aku ingin tau bagaimana wajah Cho Kyuhyun. Apa dia benar-benar tampan?”
Yoon hye tersenyum tipis “Dia terlalu tampan hingga aku harus menutup mata agar tidak silau oleh kilaunya. . . Dia sangat memukau,”
“Dan kau menyukainya?”
“Tidak ada yang tidak menyukainya Ji-yoo~ya. . . Kau-pun juga pasti akan menyukainya. Dia adalah jenis laki-laki yang tidak bisa ditolak,”
“Jangan lupa, kau sudah menolaknya,”
“Aku tidak menolaknya, aku hanya menjauhinya. Aku takut. . . Aku takut akan terlalu mencintainya hingga saat ia meninggalkanku, tubuh ini seperti hancur berantakan. . . Sama seperti dulu,” bisik Yoon hye pelan.
“Jadi kau mulai mencintainya eh?”
“Lebih dari itu, aku memujanya Ji-yoo~ya, Dia. . . Sangat berbahaya kau tau,”
“Yoon hye, dengarkan aku. Manusia memang tidak pernah tau seperti apa takdir mereka. Bagaimana perasaan, hati dan fikiran mereka nantinya. Mereka bisa menebak, namun sering kali salah. Tapi itulah yang dinamakan kehidupan. . . “
“Aku takut cinta itu akan hilang Ji-yoo~ya, dan aku menjadi manusia yang tidak punya arti. . . Jadi mengapa ia harus berkata seperti itu jika belum tau apa yang terjadi nantinya. Kau tau, ibu pernah bercerita kepadaku betapa ayah dulu sangat mencintainya. Tapi semua itu kini sudah berakhir. . . Dan aku tidak tau bagaimana denganku nanti. . .”
“Setiap orang memiliki takdirnya sendiri Yoon ah. Mungkin Kyuhyun mengatakan hal itu karena ia ingin menyakinkanmu dan menyakinkan dirinya sendiri untuk bertahan mencintaimu hingga akhir. Ia membutuhkanmu untuk percaya, agar ia-pun percaya bahwa ia bisa mencintaimu hingga akhir. . .”
Yoon hye terdiam mendengarnya “Aku butuh waktu Ji-yoo~ya. . .”
“Aku tau, sekarang minum obatmu dan tidurlah. Aku mau membuatkanmu bubur dulu,”
“Ji-yoo~ya gomawo,”
“Tidak masalah,” jawab Ji-yoo sambil tersenyum.
Yoon hye menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Bahkan ditempat tergelap sekalipun sosok Cho Kyuhyun hadir dengan senyuman hangatnya. Dan hari ini Yoon hye sama sekali tidak bertemu dengan laki-laki itu. ia menahan dirinya sendiri untuk tidak berlari mencari Kyuhyun. Makhluk itu sepertinya sudah masuk kedalam jaringan-jaringan syaraf otaknya.

Kyuhyun memandang pintu apartement itu dengan ragu. Ia ingin sekali melihat gadisnya, namun ia juga tidak ingin mengganggu gadis itu. sudah setengah jam ia berdiri disitu dan hanya terdiam. Akhirnya ia mengerang frustasi dan menekan bel apartement itu. Ia tidak perduli lagi jika Yoon hye mengusirnya. Asal ia bisa melihat wajah itu, wajah gadisnya, semuanya akan baik-baik saja.
Dengan gugup ia menunggu pintu itu terbuka. Ada perasaan yang teramat mendesak untuk menekan bel itu berkali-kali agar gadis itu cepat membukakan pintunya. Dan akhirnya, pintu itu perlahan terbuka dan bukan dia yang ada disana.
Kyuhyun menatap gadis itu bingung. Apakah ia salah apartement? Mengapa bukan Yoon hye yang keluar? Gadis itu masih terkesima menatap kyuhyun diambang pintu. Reaksi setiap gadis yang bertemu dengannya. Kyuhyun mendesah pelan. Ia benar-benar kecewa “Mianhamnida, tapi apakah ini apartement Kim yoon hye?” tanyanya pada gadis itu.
Gadis itu tidak merespon pertanyaan kyuhyun hingga laki-laki itu harus menepuk bahu gadis itu beberapa kali. Gadis itu mengerjap dan mendesis pelan “Astaga tuhan. . . kau Cho Kyuhyun?”
“Darimana kau tau?” tanya Kyuhyun.
“Kau mencari Yoon hye?”
Mendengar nama gadisnya kyuhyun langsung mengangguk cepat “Kau tau dimana dia?”
Gadis itu mengangguk dengan ragu “Tapi aku tidak tau apakah yoon hye mengijinkanmu untuk masuk atau tidak, ia sedang tidur saat ini. ia terkena demam.”
“Demam? Kenapa bisa demam? Apa dia sudah minum obat? Sudah kedokter?” tanya Kyuhyun beruntun membuat gadis didepannya itu hanya bisa ber ‘eh?’ dan ‘oh?’ “Kumohon, ijinkan aku masuk? Aku hanya ingin melihatnya, dia tidak akan tau,”
Tatapan itu. . . tatapan permohonan yang amat sangat dalam. Seolah ia sedang meminta hal yang sangat penting dalam hidupnya.
Dengan ragu Ji-yoo membukakan pintu untuk Kyuhyun “Jangan berisik, Ia mudah terbangun,”
Dengan patuh Kyuhyun mengikuti Ji-yoo yang membawanya ke kamar Yoon hye.
Begitu pintu kamar Yoon hye terbuka, mata Cho Kyuhyun hanya tertuju kepadanya. Kepada gadis yang sedang tidur dalam balutan selimut birunya. Laki-laki itu berjalan pelan menghampiri ranjang Yoon hye dan berlutut disebelah gadis itu. ditatapnya lekat-lekat wajah Yoon hye yang sedikit pucat.
Ji-yoo terkesima melihatnya. Belum pernah ia melihat tatapan mata yang begitu dalam seperti mata Kyuhyun yang sedang menatap Yoon hye. Seolah tidak ada apa-apa lagi disana yang bisa dilihat. Bahkan ia tidak menemukan tatapan itu pada kekasihnya, Choi siwon saat menatapnya. Laki-laki itu memang terlihat lelah dan sedikit berantakan. Namun terlihat raut kelegaan diwajahnya saat melihat Yoon hye. Tangan laki-laki itu terulur akan menyentuh wajah Yoon hye, namun ternyata jari-jari itu hanya mengambang diudara. Seolah Yoon hye akan pecah saat ia menyentuhnya. Ji-yoo meninggalkan Cho Kyuhyun dikamar yang terbuka itu. Kini bisa dilihatnya sendiri dengan jelas bahwa dari cara Kyuhyun menatap Yoon hye, laki-laki itu sangat mencintai Yoon hye melebihi apapun. Jenis laki-laki yang akan dengan senang hati menyusul Yoon Hye ke neraka sekalipun.
Ji-yoo melirik jam diatas lemari es yang menunjukkan pukul sebelas lebih. Sudah hampir tiga jam ia membiarkan Kyuhyun dikamar Yoon hye. gadis itu mematikan televisi yang sedang dilihatnya kemudian berjalan pelan menuju kamar Yoon hye sampai diambang pintu langkahnya terhenti. Ia bersandar pada sisi pintu dan mengamati laki-laki itu. Kyuhyun masih berada dalam posisinya tadi dan tatapan mata itu, masih terpusat pada Yoon hye. Ia terus memandang Yoon hye tanpa rasa bosan sedikitpun, seolah takut Yoon hye akan menghilang jika ia mengalihkan tatapannya. Akhirnya Ji-yoo menghampiri laki-laki itu “Sudah hampir tengah malam Kyuhyun ssi,” ucap Ji-yoo pelan.
Kyuhyun masih menatap Yoon hye berharap ia diperbolehkan berada disisi gadis itu lebih lama. Akhirnya dengan enggan ia mengalihkan wajahnya dari Yoon hye dan mengikuti Ji-yoo keluar kamar.
“Kau sangat mencintainya?” tanya Ji-yoo saat mengantar Kyuhyun kedepan apartement.
“Lebih dari itu, aku menggilainya,” jawab Kyuhyun dengan nada melamun, seperti fikirannya masih tertinggal dikamar itu.
“Dia hanya perlu waktu Kyuhyun ssi, dia sedang berusaha untuk percaya kepadamu,”
“Aku akan selalu menunggunya,”
“Aku tau itu. . . Dan kurasa sebaiknya jangan temui dia dulu, dia masih bimbang saat ini,”
“Kau akan ada disini menjaganya?”
“Ya, aku akan menginap disini,”
“Berikan ponselmu,”
“Ye?” meskipun ragu, Ji-yoo memberikan ponselnya pada laki-laki itu.
Dengan cepat Kyuhyun mengetikkan sesuatu diponsel itu “Siapa namamu?”
“Ji-yoo, Choi ji-yoo imnida,”
“Choi ji-yoo ssi, aku sudah menyimpan nomor ponselku, hubungi aku jika ada apa-apa,” kata Kyuhyun sambil mengembalikan ponsel itu.
“Mm, aku mengerti,”
“Baiklah, aku pergi dulu, anyeong,” Kyuhyun membungkuk sedikit kemudian melangkah pergi.
—————

Mengapa tuhan memberikan rasa jika sosokmu hanya menjadi mimpi untukku?
Mengapa tuhan mempertemukan kita jika untuk menggapaimu saja aku tidak bisa. . .
Haruskah aku memintanya bertanggung jawab atas takdirku?

“Yeoboseo Ji-yoo ssi, apakah dia sudah tidur saat ini? . . .Mm aku mengerti, hubungi aku kalau ia sudah tidur,”
Kyuhyun menghela nafasnya pelan. Saat ini ia ada dilluar apartement Yoon hye tanpa berani menekan bell ataupun mengetuk pintunya. Ia hanya berdiri bersandar pada dinding dihadapan pintu apartement Yoon hye menunggu saat gadis itu sudah tidur, baru Ji-yoo akan membukakan pintu untuknya. Dan ini sudah dilakukannya sejak kemarin lusa. Sebenarnya meskipun ia dapat menatap Yoon hye, masih ada yang kurang. Suara gadis itu. . . Ia amat sangat merindukan suara gadis itu.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nama Ji-yoo berkedip-kedip dilayar ponselnya. Langsung dijawabnya panggilan itu “Bagaimana Ji-yoo ssi?. . . Aku sudah ada didepan pintu apartement saat ini, ne, cepatlah,”
Setelah sambungan telphone terputus tidak lama kemudian pintu apartement terbuka. Ji-yoo muncul dibaliknya “Masuklah,” kata gadis itu pelan.
“Bagaimana keadaannya? Dia sudah sembuh?”
“Keadaannya sudah baik, hanya saja ia masih enggan keluar apartement, aku mau mencuci piring didapur dulu,”
Kyuhyun mengangguk pelan pada gadis itu kemudian langsung cepat-cepat menuju kamar Yoon hye. Seperti biasa, ketika sosok gadis itu tampak dimatanya, sudah tidak ada hal lain yang memenuhi rongga bola mata itu selain gadis itu. Dan Kyuhyun semakin sadar bahwa gadis ini, adalah pusat dari seluruh hidupnya.
“Aku mencintaimu Kim yoon hye. . . sangat. . .” lirihnya bagai angin.