Tags

, ,

“jung soo ssi, apa dia mempunyai penyakit jantung?”
“mwo?” jung soo mengerjap kaget “pe-penyakit jantung?”
“kau tidak tau?”
Jung soo menggeleng pelan.
“kurasa ia memang memiliki penyakit itu, kondisinya sangat lemah sekarang. Dan denyut nadinya sangat lambat. Dia tidak apa-apa, tapi jika ia terlalu lelah, aku takut dia tidak bisa bertahan,”
Jung soo tercenung mendengarnya. Tiba-tiba saja ia ingat dengan kata-kata soo jin dulu.

“aku juga akan membencinya kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi dirinya, tapi hidup ini sangat singkat. . . kau tidak akan pernah tau seberapa panjang umur manusia, bisa saja esok. . . atau semenit kedepan, tuhan mengambil nyawa kita. Karna itu aku berfikir. . . daripada membenci, aku belajar untuk mencintai segala sesuatu yang tuhan ciptakan didunia ini. . .”
“apa kau tidak pernah membenci sesuatu?”
“tentu saja pernah, bagaimanapun aku juga manusia biasa yang mempunyai rasa. Rasa sakit, rasa benci, sedih, senang, ataupun suka,”
“lalu. . . apa yang kau benci?”
“aku. . . aku membenci takdirku. . .”

“kalian bukan orang sini, benar bukan? Aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya,”
Jung soo mengerjap kaget “oh? Ye, kami dari seoul, kami kemari untuk mengunjungi kakek dan nenekku,”
“lebih baik kalian menginap disini malam ini, hujan diluar sangat deras dan tidak ada bus. yong mi ya, ambilkan jung soo oppa baju ayah untuk ganti,”
“ne eomma,”
“Aku kebelakang dulu menyiapkan makanan,” ajhuma itu beranjak dari duduknya.
“kamsahamnida,” ucap jung soo sambil menundukkan kepalanya sedikit.

Soo jin bergerak pelan dalam tidurnya. Ia mengerjapkan mata pelan. ruangan itu tampak terang. Kepalanya sedikit pusing.
“kau sudah sadar? Minumlah. . .” seseorang membantunya untuk bangun sedikit dan meminumkan air putih hangat kepadanya.
“apa kau baik-baik saja?” tanyanya sambil merebahkan tubuh soo jin.
Soo jin mengangguk pelan “apa yang terjadi?” tanya soo jin lemah.
“saat mengejar bus kau tiba-tiba saja pingsan,”
“ah, mianhae. . .”
“soo jin ah, apa. . . apa kau punya penyakit jantung?”
Soo jin tersentak kaget “aku. . .”
Jung soo mendesah pelan “seharusnya aku tidak memintamu untuk menjadi modelku. . . maafkan aku. . .”
“kenapa? Kenapa setiap orang yang tau penyakitku selalu seperti itu? melarangku melakukan apa yang kusuka dengan alasan khawatir,”
Jung soo tercenung mendengarnya “bukan begitu. . .”
“aku tau hidupku tidak akan lama. . . dan aku ingin sebelum waktuku habis, aku bisa melakukan apapun yang kusuka. . . aku ingin hidup normal seperti yang lainnya, tapi. . .tapi. . .” gadis itu tidak melanjutkan bicaranya, air matanya sudah mengambang. Ia membalikkan badannya membelakangi jung soo “aku tau itu semua dilakukan karena mereka menyayangiku, tapi aku hanya ingin hidup normal. . .” terdengar isak pelan.
“soo jin ah. . . biarkan. . . biarkan aku yang menjagamu. . . akan kutunjukkan kau apa saja yang indah didunia ini, biarkan aku melakukannya untukmu. . .”
Isak tangis itu lenyap digantikan rasa heran “kenapa? Kenapa kau mau melakukannya?”
“karna ini pertama kalinya ada seseorang yang bisa kulindungi, orang yang membutuhkanku, kumohon soo jin ya, biarkan aku untuk menjagamu. . .”
Soo jin membalikkan tubuhnya menatap jung soo “oppa. . .” lirihnya.
“percayalah kepadaku,”

Yoon hye memandang ponselnya dengan gelisah. Berkali-kali ia menghubungi seseorang namun hanya suara operator yang menjawab. Berkali-kali juga ditengoknya jam dimeja kerjanya. Setengah sembilan malam. Diluar hujan sedang turun sementara soo jin belum juga kembali.
“aigooo. . . akhir-akhir ini selalu saja turun hujan,”
“eomma? Kenapa kau kemari?” tanya yoon hye kaget saat melihat ibunya sedang membersihkan mantelnya dari sisa-sisa air hujan.
“aku baru saja dari rumah bibi won. Dia baru pulang dari inggris tadi, jadi sekalian aku mampir kemari untuk menjemput soo jin. Dimana dia? Apa dia sudah makan dan minum obat??”
“soo-soojin??” tanya yoon hye gugup.
“bukankah kau bilang tadi dia disini?”
“jjagi!! Apa tokonya sudah akan ditutup??” teriak hyuki sambil menuruni tangga “oh, eomma, kau ada disini? Dimana soo jin? Dia tidak ikut kemari??”
“jadi soo jin tidak ada disini? Yoon ah, dimana dia?” tanya ibunya sementara hyuk jae hanya menatap tidak mengerti.
“di-dia. . .”
“dia baik-baik saja bukan?”
“a-aku tidak tau. . .”
“apa maksudmu tidak tau?? Tadi kau bilang dia ada disini, lalu dimana dia sekarang??”
“eomma. . . dia. . . sebenarnya dia. . . dia pergi kekebun pear,”
“apa maksudmu dengan pergi kekebun pear? Dengan siapa dia kesana? Kenapa sampai sekarang belum pulang? Bagaimana dengan penyakitnya? Yoon ah kenapa kau biarkan dia pergi?? Apa kau ingin adikmu itu mati hah? Kau tau dia memiliki penyakit jantung kan??!”
“eomma mianhae. . .” yoon hye terisak sekaligus merasa bersalah.
“eomma tenanglah, kita pikirkan jalan keluarnya bersama,” kata hyuki.
“bagaimana aku bisa tenang?? Bagaimana keadaannya sekarang kita tidak tau!!”
“jjagi, coba hubungi dia,”
“ponselnya. . . ponselnya tidak aktif. . .” isak yoon hye.
“kau lihat itu??! bagaimana bisa aku tenang??!” ibu soo jin semakin menangis.
Tiba-tiba ponsel yoon hye berdering. Cepat-cepat diangkatnya benda itu.
“yeoboseo?”
“eonni. . . ini aku. . .”
“soo jin ah? Kau ada dimana? Mengapa belum pulang_”
“soo jin ah apa kau baik-baik saja? Mengapa pergi tidak memberi tahu eomma? Kau ada dimana sekarang? Cepatlah pulang,”
“eomma. . . aku baik-baik saja. . . disini hujan lebat, aku tidak bisa pulang, tadi kami ketinggalan bus,”
“dengan siapa kau kesana?” tanya ibunya.
“eomma, biar aku yang berbicara,” kata hyuki sambil mengambil ponsel itu. dengan sedikit tidak rela, ibu soo jin memberikan benda itu.
“soo jin ah, ini aku hyuki oppa. Apa kau baik-baik saja?”
“aku baik oppa. . . katakan pada eomma dan eonni kalau aku baik-baik saja,”
“sekarang kau ada dimana?”
“aku dirumah salah satu penduduk desa, disini hujan lebat, aku tidak bisa pulang, tadi aku ketinggalan bus,”
“kau pergi dengan siapa?”
“eonni sudah tau kalau aku pergi dengan park jung soo, jangan khawatir, dia akan menjagaku, oh tunggu sebentar, dia ingin berbicara denganmu,”
“yeoboseo??” kini terdengar suara laki-laki yang berbicara. Park jung soo.
“kau park jung soo?” tanya hyuki.
“benar, maafkan aku tidak bisa memulangkannya tepat waktu hyung, tapi aku berjanji akan menjaganya. Aku tau kalau dia punya penyakit jantung. Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab atas keselamatannya,”
“kupegang kata-katamu, dan pastikan dia baik-baik saja!!”
“mm, aku berjanji!!”
“bagaimana??” tanya yoon hye begitu hyuki menutup telphone.
“aku sudah bicara pada park jung soo. Dia berjanji akan menjaga soo jin, dia baik-baik saja, ibu tidak perlu khawatir, besok pagi mereka akan langsung pulang,”
Ibu soo jin mendesah gelisah “aku menginap disini malam ini!!”
——————-

Jung soo mengepalkan tangannya gugup. Ia tidak berani memandang kedua orang didepannya itu. ibu dan kakak ipar gadis itu.
“jadi kemarin dia pergi bersamamu?” tanya ibu soo jin.
“ne, ajhuma,”
“kau tau dia menderita penyakit jantung?”
“saya tau ajhuma,”
“lalu kenapa kau masih mengajaknya kesana??” bentak ibu soo jin “apa maksudmu membawa putriku kesana?”
“eomma, tenanglah,” kata hyuki.
“ma-maafkan saya. Bolehkah saya menjelaskannya dari awal?!” pinta jung soo “saat itu saya belum tau jika dia punya penyakit jantung. Saya meminta bantuannya untuk menjadi model dalam tugas akhir kuliah saya dan dia menyanggupi asal saya mengajaknya kekebun buah pear. Kebetulan nenek dan kakek saya didesa memiliki kebun pear, jadi saya mengajaknya kesana. Kalau saya tau dia punya penyakit jantung, saya tidak akan mengajaknya kesana ajhuma, saya bersumpah,”
Ibu soo jin mendesah pelan “seandainya saja dia bisa hidup normal seperti gadis yang lainnya. . .”
“eomma sudahlah, yang penting soo jin kembali dengan selamat,” kata hyuki.
“ajhuma, biarkan saya menjaga soo jin. Kumohon. . . biarkan saya menjaganya. . .”
Bibi park dan hyuki tertegun mendengarnya.
“apa maksudmu?”
“selama ini. . . saya yang selalu dijaga. . . ayah dan ibu saya, almarhum kakak saya juga selalu menjaga saya, pada kesempatan ini, saya ingin menjadi orang yang berguna ajhuma. Putri anda sangat luar biasa dalam memandang hidup. Saya banyak belajar darinya,”
Bibi park menghela nafas sejenak. “baiklah, kuijinkan kau berteman dengannya, tapi jangan lupa kalau dia punya penyakit jantung,”
“saya akan selalu mengingatnya. . .”
***

“jung soo ya, siapa dia?” tanya in hoo, teman dekatnya.
Jung soo tersenyum sambil menatap foto-foto didepannya “kau akan kalah kali ini, nilai tugas akhirku pasti yang paling tinggi,”
In hoo tertawa kecil “baru kali ini aku melihatmu sangat percaya diri, apa karena gadis itu? lalu. . . bagaimana dengan hyemi nonna??”
“dia bukan takdirku in hoo ya,”
“jadi. . . apa gadis ini yang akan menjadi takdirmu??”
‘aku tau hidupku tidak akan lama. . . dan aku ingin sebelum waktuku habis, aku bisa melakukan apapun yang kusuka. . .’
Jung soo termenung sejenak “aku tidak tau. . . “ jawabnya pelan “bukankah takdir itu tidak tertebak?”
In hoo tertawa pelan “apa judul yang kau ambil kali ini?”
“tranquility. . . ketenangan. . .”
“jangan yakin dulu, aku tidak mudah kau kalakan,” saut in hoo.

“kau tau eonni, disana benar-benar indah. . . bunga-bunga putih itu sangat banyak, seperti padang bunga,”
“kau sudah menceritakannya ribuan kali soo jin ah, aku sudah bosan mendengarnya,” saut yoon hye sambil menyemproti tanaman agar tetap segar.
“eonni. . .” wajah soo jin berubah menjadi cemberut “aku hanya senang bisa melihat bunga itu langsung. Bahkan aku belajar untuk mengolesi madu agar nanti bisa berbuah,”
Yoon hye menghela nafas pelan “tapi jangan kau ulangi lagi, kau hampir membuat kami semua mati cemas!! Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu denganmu!!”
Soo jin menatap kakaknya itu dengan penuh haru. Dihampirinya wanita itu kemudian memeluknya dari belakang “eonni mianhae. . .”
“sudahlah, yang penting kau baik-baik saja,”
“eonni. . . sebelum aku pergi, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?”
Yoon hye mengerutkan keningnya “apa itu? bukankah kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan?”
“kalau begitu bagus,” soo jin mempererat pelukannya “ Buatkan aku keponakan, kau bisa kan eonni?!”
Wajah yoon hye seketika merah “YAA bicara apa kau?!!” teriaknya sambil mencoba melepaskan diri. Tapi soo jin tetap menahannya.
“aku tidak ingin eomma merasa kesepian jika aku tidak ada eonni. . .” kata soo jin membuat yoon hye terdiam mendengarnya “jika ada seorang bayi, dia tidak akan terlalu sedih. . .” lanjut soo jin dengan suara bergetar.
“memangnya kau akan pergi kemana??” tanya yoon hye tiba-tiba sambil berbalik, melepaskan pelukan adiknya itu “kau tidak boleh pergi apapun yang terjadi!! Kami tidak akan mengijinkanmu pergi! Kau dengar itu??!”
“eonni. . .”
“semuanya akan baik-baik saja!! Secepatnya kau akan mendapatkan donor jantung dan dioperasi!! Jadi kau tidak akan pergi, araseo?! Sudah jangan memikirkan hal ini lagi!! Yang paling penting jaga kesehatanmu!!”
“Permisiii!!!””
suara itu mengalihkan pandangan soo jin dan yoon hye kearah pintu. Seorang laki-laki berdiri sambil membawa sebuah gulungan kertas besar.
“oppa. . .”
“oh, jung soo ssi, kau ingin mencari mawar hidup?” canda yoon hye.
“aniyo nonna, aku kemari untuk mencari kantong semar, bukan mawar lagi,”
“ige mwoya?” soo jin langsung mendelik kearah laki-laki yang sedang tertawa bersama yoon hye itu “hei ajhusi, kalau kau tidak ada keperluan jangan datang lagi kemari!!”
“aku bukan ajhusi, jadi aku boleh datang kemari kapanpun, benarkan nonna?!”
Yoon hye tertawa kecil “tentu saja,”
“nonna, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan kepadamu,”
“oh? Apa itu?”
Jung soo berjalan ke meja kerja yoon hye kemudian membuka gulungan kertas yang dibawanya.
“woaaa. . . ini cantik sekali. . .”
“kau tau, aku mendapatkan nilai tertinggi untuk tugas akhirku,”
“jjinjayo?” seru soo jin gembira.
“tentu saja. . . gadis dalam foto itu sangat membantuku, tidak seperti kau!!”
“mwo?”
“benar!!” saut yoon hye “lihat, dia cantik sekali disini. . . seharusnya kau berkencan saja dengannya daripada dengan soo jin,”
“YAA eonni!!!”
“kau benar nonna, gadis ini baik sekali. Bahkan dia yang memilihkan judul untuk proyek ini. tranquility. . . ketenangan. . .”
“waaa dia benar-benar hebat. . .” puji yoon hye sementara soo jin hanya mendengus pelan.
Tiba-tiba saja bell berbunyi. Seorang pria masuk kedalam toko.
“ada orang, kutinggal dulu kalian,” kata yoon hye kemudian berjalan untuk menyambut pembeli itu.
“soo jin ah, gomawo. . .”
“kenapa berterima kasih kepadaku? Seharusnya kau berterima kasih kepadanya,” dengus soo jin.
Jung soo tertawa kecil “itu hanya latihanku, agar aku bisa mengucapkannya dengan benar pada gadis itu nanti,”
Bibir soo jin semakin cemberut. Ia sudah akan berbalik saat jung soo menahan lengannya “gomawo. . . soo jin ah. . . “
Soo jin menatap jung soo ragu kemudian ia menghela nafas pelan dan tersenyum “chukae,”
“bagaimana kalau kita makan? Aku yang traktir!!” ajak jung soo.
“itu sudah seharusnya!!”

“ini untukmu,” kata jung soo sambil mengulurkan sebuah kotak kecil pada soo jin. Saat ini mereka sedang duduk di ayunan yang ada ditaman. Mereka baru saja makan jajjangmyeon dan kimchi.
“apa ini?” tanya soo jin bingung sambil membukanya “ponsel??”
“bukankah ponselmu hilang saat kita didesa? Aku membelikanmu ponsel baru, sudah ada nomornya. Dan nomorku ada di angka satu,”
“oppa. . . gomawo. . .”
Jung soo tersenyum “aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Kau ada waktu besok? Aku ingin mengajakmu kekampusku,”
“jjinja??” tanya soo jin tidak percaya “tapi aku harus kepanti asuhan besok,”
“tidak apa-apa, biar kutemani, besok aku tidak ada kelas. Bukankah kau ingin melihat-lihat hal yang belum kau ketahui?!”
Soo jin mengangguk cepat. Kemudian gadis itu mendongak menatap bintang-bintang “aku heran dengan manusia sekarang. . . sebagian dari mereka, terkadang ingin mengakhiri hidup ini. . . apa mereka tidak tau betapa berartinya waktu itu?? tuhan sudah memberikan kesempatan, namun kenapa mereka malah menyia-nyiakannya??”
Jung soo tercenung mendengarnya “soo jin ah, kau pernah mendengar tentang keajaiban? Percayalah itu akan terjadi. . .”