Tags

, ,

 

10941137_429886810495312_496811186783548236_nHari ini kyuhyun sudah tidak bisa menahan lagi. bagaimanapun ia adalah manusia yang mempunyai batas kesabaran. Gadis itu sudah seperti heroin untuknya. Dan ia selalu menginginkan lebih. Setelah mencari diseluruh campus, kyuhyun tau, Yoon hye masih belum ingin pergi ke campus. Karena itu saat ini, entah bagaimana nanti tapi yang jelas ia harus bertemu dengan gadisnya. Oksigennya. Agar ia dapat menghirup udara dengan benar.

Ini masih jam empat sore, dan Kyuhyun tau gadis itu tidak mungkin tidur di jam ini. Dengan langkah panjang ia menyusuri koridor apartement itu. Akhir-akhir ini ia selalu tidak pernah benar melakukan sesuatu. Seakan IQ otaknya turun drastis. Bahkan Ahra sampai mengomelinya karena ia seperti orang yang ling-lung.
Akhirnya begitu sampai apartement Yoon hye, sekuat tenaga ia menahan agar tidak sampai mendobrak pintu itu dan masuk kedalam. Dipaksakannya tangannya untuk menekan bell pintu itu. wajahnya terlihat gelisah saat pintu tidak juga terbuka. Ditekannya berkali-kali bell pintu itu. mungkin saja bell-nya rusak. Hampir saat kyuhyun sudah putus asa dan akan mendobrak pintu itu, handle pintu itu bergerak kemudian terbuka.

Yoon hye sedang selesai membuat teh saat bell apartementnya terus berbunyi. Apakah itu Ji-yoo? Tapi hari bukankah hari ini gadis itu ada jam kerja? Dengan langkah cepat Yoon hye menghampiri itu dan membukanya. Lalu semuanya terjadi begitu saja.
Tepat ketika ia memutar handle dan pintu baru terbuka beberapa senti, seseorang mendorong dan merengkuh tubuhnya dengan keras kebelakang.
Ia tidak sempat melihat dan jantungnya terasa berhenti berdetak saat merasakan bibir itu bergerak diatas bibirnya. Yoon hye merasakan punggungnya terhempas kedinding dan pinggangnya ditarik hingga merapat pada tubuh seseorang.
“Mmhh. . .” desahan itu seolah mematikan seluruh sistem syaraf Yoon hye.
Cho kyuhyun, laki-laki itu sedang melumat bibirnya dengan gerakan menuntut. Seolah ia sedang kehausan. Ada berbagai rasa didalamnya. Cinta, rindu, dan sakit akan penantian yang begitu lama. Tubuh Yoon hye terasa lemas, namun tangan itu begitu kuat melingkar dipinggangnya. Membuatnya merasakan hangat tubuh dari laki-laki itu.
Kyuhyun memiringkan wajahnya dan terus melumat bibir Yoon hye. ini pertama kalinya untuk Yoon hye, ia merasa sedikit pusing. Nafas Kyuhyun yang beraroma manis membuatnya perlahan menghirup aroma laki-laki itu. Oh sial, ia pasti sudah gila saat ini. Otak dan fikirnya terasa terbang jauh meninggalkan raganya hingga ia benar-benar menikmati setiap tekanan bibir Kyuhyun di bibirnya. Tanpa sadar, Ia mulai membalas ciuman itu. melupakan segalanya.
“Nghh. . .” Yoon hye mendesah pelan sambil mencoba menghirup udara disela-sela ciuman mereka yang semakin intens.
Sentuhan jari-jari Kyuhyun dilehernya membuatnya hilang akal. Bahkan saat ini ia sudah berani melingkarkan tangannya keleher Kyuhyun dengan jari-jari yang menyusup masuk kesela-sela rambut laki-laki itu. Tubuhnya menempel erat pada tubuh Kyuhyun, ia merasa nyaman dengan kehangatan itu.
Perlahan ciuman kyuhyun memelan dan semakin lambat hingga akhirnya mereka hanya saling mengatur nafas tanpa menjauhkan wajah masing-masing. Saling menghirup aroma nafas masing-masing. Kyuhyun mengecup bibir Yoon hye lembut lalu melepasnya beberapa detik, kemudian dikecupnya sekali lagi. “Jangan pergi dari pandanganku yoon, kumohon. . .”
Mendengar itu Yoon hye tersadar. Reflek didorongnya dengan kuat tubuh laki-laki yang masih memeluknya itu. Dilihatnya keterkejutan dalam mata laki-laki itu. Perlahan air mata itu mengalir. Kemudian kaki itu berlari pergi meninggalkan Kyuhyun.
“yoon tunggu!!” teriak Kyuhyun.
Yoon hye tidak memperdulikannya. Yang ia tau, ia harus pergi dari laki-laki itu. secepat mungkin kaki itu berlari keluar dari gedung apartement. Ia menahan hasratnya untuk menoleh kebelakang, menatap laki-laki itu. Ia sadar, begitu ia melihat wajah yang selalu dimimpikannya itu, ia akan rapuh. Yoon hye menyetop taksi pertama yang ditemuinya dijalan dan langsung masuk kedalamnya.
“yoon berhenti!! Kumohon,” teriak Kyuhyun sambil mengetuk-ketuk kaca pintu mobil taksi.
Taksi itu tetap meluncur hingga akhirnya Kyuhyun tidak dapat mengikutinya. Meninggalkan laki-laki itu jauh dibelakang.
—————–

Setelah kejadian malam itu Kyuhyun tidak bisa menemukan Yoon hye. Gadis itu seolah hilang tanpa jejak. Malam itu ia tidak berhasil menyusul taksi yang membawa Yoon hye. Ia sudah menyusuri jalanan untuk mencari gadis itu tetapi nihil. Gadis itu tidak bisa ditemukan.
Sudah tiga hari kyuhyun mencari Yoon hye. Ia bahkan tidak tidur sama sekali apalagi makan. Ia benar-benar kacau sekarang. Dan itu membuat Ahra khawatir. Laki-laki itu menghabiskan waktunya untuk mencari tau dimana Yoon hye berada. Bahkan Ahra juga ikut bertanya pada teman-teman Yoon hye. Tapi tidak ada hasilnya sama sekali karena gadis itu memang sangat tertutup. Yang diketahui hanya sebatas nama, pekerjaan dan alamat apartement saja. Sedangkan untuk data orang tua Yoon hye tidak ada yang tau sama sekali. Bahkan Lee Donghae-pun tidak tau dimana alamat ayah Yoon hye. Laki-laki itu sempat tercengang melihat Kyuhyun. Ini tidak normal. Kyuhyun tidak bisa dikatakan tidak lagi mencintai Yoon hye, tetapi terobsesi lebih tepatnya. Ia terlihat seperti mayat hidup saat gadis itu tidak ada.
“Kyuni, berhentilah, aku yakin Yoon hye pasti akan kembali. Dia tidak akan meninggalkan kuliahnya,” bujuk Ahra.
Kyuhyun menggeleng pelan “Ini semua karena salahku nonna, Jika saja saat itu aku. . . Aku harus menemukannya Nonna,”
“Tapi tidak ada yang tau dimana dia, lalu kau mau mencarinya kemana?”
Kyuhyun mengacak-acak rambutnya frustasi sambil mengerang.
“Lihatlah dirimu, kau berantakan kyuni, kau tidak memperhatikan kuliahmu atau dirimu sendiri,”
“Aku tidak perduli nonna, tanpa dia dihidupku rasanya lebih menyakitkan daripada kematian,” jawab kyuhyun sambil berjalan pergi.
“Kyu kau mau kemana?? Cho Kyuhyun!!” Ahra hanya bisa mendesah melihat adiknya itu.

“Ji-yoo ssi, kumohon,”
Ji-yoo hanya bisa mendesah pelan melihat laki-laki yang ada didepannya itu. meskipun tidak mengurangi ketampanannya, tapi laki-laki itu terlihat sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan. Ada lingkaran hitam dibawah matanya. Dan tatapan itu penuh dengan harapan.
“Kalau saja aku tau Kyuhyun ssi, tanpa ragu aku akan memberitahumu. Tapi aku sama sekali tidak tau. Ponselnya bahkan tidak pernah dijawab.” Saut Ji-yoo.
Kyuhyun tau kenapa gadis itu tidak menjawab panggilan Ji-yoo. Yoon hye sama sekali tidak membawa apa-apa saat pergi. Itu sebabnya kyuhyun merasa amat sangat cemas. Jika ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu, jika Yoon hye sampai kenapa-kenapa, ia tidak akan bisa memafkan dirinya sendiri.
“Kau tidak tau dimana rumah orang tuanya?”
Ji-yoo menggeleng pelan “Dia tidak pernah bercerita tentang orang tuanya Kyuhyun ssi, dia selalu bilang ia sudah tidak punya orang tua,”
“Baiklah, jika kau bertemu dengannya tolong kabari aku, aku hanya ingin tau keadaannya Ji-yoo ssi, dan tolong berikan ini kepadanya,” Kyuhyun mengeluarkan sebuah lipatan kartu dan memberikannya pada Ji-yoo.
“Aku pasti akan mengabarimu begitu menemukannya,”
“Gomawo Ji-yoo ssi,”
Ji-yoo hanya bisa menghela nafas melihat Kyuhyun melangkah pergi meninggalkan ruang perpustakaan umum itu. Bagaimana bisa ada laki-laki sepertinya yang mampu memberikan seluruh kehidupannya pada gadis itu?

Kau seperti kembang api yang meledak dalam gelapnya malam
Memberikan cahaya warna-warni yang begitu mempesona
Hingga akhirnya, mata ini selalu ingin menatap indahmu yang begitu memukau. . .

Yoon hye memandang selembar tiket menuju Italy itu dalam diam. Apakah ia harus pergi seperti keinginan ayahnya dulu untuk menyekolahkannya diluar negeri? Yoon hye mendesah pelan. Masa lalu itu tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Sekarang ini setelah ia berusaha mati-matian untuk menghapus semuanya, pada akhirnya ia kembali lagi. dan disinilah ia berada saat ini, dirumah ayahnya.
Saat ia datang hari itu, keadaannya cukup membuat terkejut ayahnya. Dan ayahnya juga tidak berani menanyakan apapun karena sejak perceraian itu, Yoon hye menjadi pribadi yang amat sangat tertutup. Tanpa banyak bertanya, ayahnya menyetujui begitu saja saat Yoon hye mengatakan ingin melanjutkan sekolahnya keluar negeri seperti yang diinginkannya.
Yoon hye mendesah pelan. Ia beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju telphone rumah untuk menghubungi seseorang.
“Perpustakaan umum seoul selamat sore?” sapa seseorang diseberang.
“Aku ingin berbicara dengan Choi Ji-yoo, apa dia ada?”
“Dengan siapa ini?”
“Kim yoon hye imnida,”
“Oh tunggu sebentar, biar kupanggilkan dia,”
Yoon hye menarik nafas pelan saat menunggu Ji-yoo. Namun dadanya masih terasa berat. Apakah ia akan sanggup bila tidak bertemu Kyuhyun lagi? Beberapa hari ini saja sudah menjadi hal berat dalam hidupnya. Ia sadar laki-laki itu sudah menguasai jiwanya.
“Yeoboseo? Yoon hye? Kau ada dimana? Mengapa tidak menjawab telphoneku? Apa kau baik-baik saja?” tanya Ji-yoo begitu menempelkan telphone itu ditelinganya.
“Aku tidak apa-apa Ji-yoo~ya,” jawab Yoon hye dengan nafas tersendat “Aku membutuhkan bantuanmu,”
“Apa itu?”

“Yoon hye kau yakin akan pergi?”
“Aku harus menjauh, aku butuh waktu untuk menguji seberapa sanggup aku hidup tanpanya Ji-yoo~ya,”
“Apa yang kau tunggu Yoon hye? apa yang kau takutkan? Tidak pernah aku melihat laki-laki yang seperti kyuhyun. Kau tau Yoon hye, dia selalu keapartementmu saat kau sakit!”
“Mwo?”
“Aku tau kau tidak akan mau menemuinya jadi aku tidak mengatakan apapun kepadamu. Saat kau sudah tidur, ia datang keapartement. Kau tau apa yang dilakukannya? Dia hanya berlutut disampingmu dan menatapmu. Hanya itu, bahkan matanya tidak pernah berpaling darimu, seolah-olah takut kau akan lenyap saat ia mengalihkan pandangannya. Mungkin kau belum bisa melihat, tapi aku bisa melihat jelas hanya ada kau dalam pandangannya,”
Yoon hye menatap Ji-yoo ragu “Aku hanya takut masa laluku akan kembali Ji-yoo,”
“Kau tidak perlu takut yoon ah. Setiap jiwa memiliki kisahnya masing-masing. Jika kau takut pada takdirmu, itu tidak ada bedanya dengan kematian Yoon hye. Jangan merasa kau yang paling menderita karena masa lalumu yang tidak menyenangkan. Apa kau tau bagaimana masa laluku? Sebenarnya aku tidak perlu memberitahukan ini kepadamu, tapi dulu, saat aku masih kecil, ibuku meninggalkanku sendiri ditaman hiburan. Kau tau betapa takutnya aku? Kau tau betapa bencinya aku pada mereka? mereka yang membuatku harus tinggal dipanti asuhan Yoon hye. Tapi suster Maria pernah mengatakan kepadaku ‘Kasihanilah orang yang hidup tanpa cinta Ji-yoo, karena orang yang hidup tanpa cinta, lebih menyedihkan daripada kematian’. Itu sebabnya aku mulai mencari cinta dari orang-orang disekitarku. Kita hidup hanya sekali Yoon hye, pada kesempatan yang diberikan Tuhan untuk hidup ini apa yang akan kau lakukan??
Pergilah jika kau ingin pergi. Tapi ingat, jika kau terus takut akan takdirmu, selamanya kau tidak akan pernah mendapatkan cinta dalam hidupmu dan aku kasihan kepadamu Yoon hye, sangat kasihan!!” Ji-yoo meraih tangan Yoon hye kemudian meletakkan selembar kertas dalam genggaman gadis itu “Ini dari Kyuhyun!!” kata Ji-yoo singkat kemudian gadis itu berbalik dan melangkah pergi.
Yoon hye tercenung menatap Ji-yoo yang semakin jauh itu. perlahan dibukanya kertas yang ada dalam genggamannya itu.
‘yoon mianhae. . . Kumohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu yoon. Saat itu. . . Saat itu aku tidak bisa mengontrol diriku, aku terlalu merindukanmu. Aku, aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar saat kau tidak ada dalam pandanganku yoon. Aku seperti hilang arah. Aku tidak tau mengapa bisa seperti ini. Aku tau ini gila, ini tidak normal, tapi aku sangat mencintaimu yoon, setidaknya saat ini itulah yang sedang kurasakan dan mudah-mudahan sampai nanti, selamanya. . . Aku tidak bermaksud memberimu janji-janji yang suatu saat bisa kuingkari, aku hanya berharap rasa ini terus bertahan selamanya, bahkan dikehidupan mendatang. Kembalilah yoon, maafkan aku. Kau boleh marah kepadaku, kau boleh memakiku sesukamu, kau juga boleh memukuliku, tapi jangan pergi yoon, aku membutuhkanmu. . . kumohon. . .’
Air mata itu jatuh. Tubuh Yoon hye bergetar membacanya. ‘Aku tau ini gila, ini tidak normal, tapi aku sangat mencintaimu yoon, setidaknya saat ini itulah yang sedang kurasakan dan mudah-mudahan sampai nanti, selamanya. . . Aku tidak bermaksud memberimu janji-janji yang suatu saat bisa kuingkari, aku hanya berharap rasa ini terus bertahan selamanya, bahkan dikehidupan mendatang’. Kalimat sederhana, tanpa sodoran mimpi dan janji-janji namun tulus. Yoon hye terisak pelan. Kemudian, dengan keyakinannya, ia berlari meninggalkan bandara bersama koper-kopernya. Ia menghentikan taksi pertama yang ditemuinya kemudian segera pergi dari tempat itu.

Kampus adalah tujuan pertamanya. Ia berlari disepanjang koridor untuk mencari laki-laki itu ataupun Ahra. Selama ini Yoon hye tidak pernah tau apapun tentang mereka berdua, sekarang ia harus mencari kemana??
Braak. . .
“Awaas!!” seseorang berhasil menarik lengan Yoon hye saat gadis itu akan terjatuh.
Dia, laki-laki yang ditabraknya itu adalah teman Ahra.
“Maaf, apa kau tau dimana Ahra eonni??” tanya Yoon hye penuh harap.
“Ahra??”
“Benar,”
“Beberapa jam yang lalu dia menerima telphone dari rumah sakit yang bilang bahwa adiknya kecelakaan parah,”
Kaki Yoon hye langsung lemas mendengarnya. Ia terhuyung mundur hingga laki-laki itu harus menarik lengannya lagi. Semua tenaganya terasa menguap begitu saja. Kyuhyun kecelakaan parah?? Seberapa parah??
“Apa kau baik-baik saja?”
“Dimana? Dimana rumah sakitnya??” bisik Yoon hye lirih.

“Pergilah Yoon hye, untuk apa kau kesini?! Jangan membuat ini semua menjadi semakin sulit!!” kata Ahra dingin.
“Mianhae eonni. . .” isak Yoon hye “Biarkan aku menemuinya. . .”
“Untuk apa? Kenapa kau ingin bertemu dengannya jika kau akan pergi meninggalkannya? Kukira dulu kau baik untuknya, tapi aku salah. Kau sama sekali tidak baik untuknya kim yoon hye ssi, suatu kesalahan saat aku menyuruhnya menggantikanku mengajarimu bermain piano,” air mata Ahra jatuh.
Dada Yoon hye terasa nyeri. Kata-kata Ahra seperti belati untuknya. Menghujam tepat dijantungnya. Membuatnya sesak bernafas “Eonni. . .Maafkan aku. . .”
“Simpan kata maafmu dan pergilah!!”
“Eonni jebal. . . Aku tau aku salah, aku terlalu takut padanya eonni, aku takut terlalu mencintainya hingga suatu saat nanti dia meninggalkanku, aku akan hancur. Aku takut eonni, karena itu aku menjauh,”
“Lalu, kenapa kau kembali lagi? Bukankah lebih baik kau tetap pergi menjauh??”
“Aku. . .”
“Pergilah Yoon hye,” saut Ahra lelah sambil masuk kedalam ruang rawat.
“Eonni, eonni kumohon eonni kumohon. . .”
Ahra melepaskan pegangan Yoon hye dilengannya dengan paksa kemudian masuk kedalam dan menutup pintunya.
“Eonni. . .” isak Yoon hye sambil mengetuk pintu itu tanpa tenaga. Hingga akhirnya tubuh itu merosot jatuh kebawah dengan isak tangisnya.

“Kami tidak dapat berbuat banyak tuan, nyonya. Jika putra anda tidak sadar juga dalam minggu ini, tidak ada lagi harapan untuknya,”
“Kenapa ini bisa terjadi kepadanya,” desah Nyonya Cho.
“Agashi, sedang apa kau disini?” tanya Tuan Cho.
Ketiga orang itu menatap heran pada gadis itu. Tuan Cho berjongkok, mencoba melihatnya.
Yoon hye membenamkan wajahnya diantara kedua lutut yang sedang dipeluk lengannya. Tubuhnya terasa amat lemas. Semua tenaganya menguap tidak tersisa. Bahkan untuk bernafas saja ia merasa sulit.
“Kyu. . . Mianhae. . .” lirihnya berkali-kali. Hanya kata-kata itu yang mampu diucapkannya.
“Agashi, apa kau baik-baik saja?”
“Kyu. . . Mianhae. . .”
Pria itu menatap dokter dan istrinya seolah meminta pendapat. Tiba-tiba saja pintu terbuka.
“Eomma. . .” tangis Ahra kemudian langsung memeluk ibunya.
“Ahra~ya, siapa dia?” tanya Tuan Cho.
Ahra melepaskan pelukannya kemudian menatap appanya. Pandangannya beralih pada Yoon hye yang masih ada dalam posisi tetap. “Dia. . . Gadis yang disukai Kyuhyun,” jawab Ahra jujur walaupun dengan berat hati.
“Agashi, bangunlah, jangan seperti ini,” Tuan Cho memegang lengan Yoon hye, mencoba menarik gadis itu untuk berdiri. Tapi tiba-tiba saja tubuh Yoon hye oleng kesamping. Gadis itu pingsan.
“Agashi?? Dokter tolong!”
“Cepat angkat dia!!”

Mata Yoon hye terbuka perlahan. Kabur. Ia mengerjap pelan. Dimana ia? Kyuhyun?? Bagaimana ia?? Yoon hye tersentak dan langsung duduk “Kyu??” panggilnya dengan nafas tersegal.
“Kau sudah sadar?”
Yoon hye tersentak dan langsung menoleh kesamping. Ahra menatapnya dengan pandangan sendu.
“Eonni, Kyuhyun?”
“Dia sudah pergi. . .”
Satu kalimat pendek itu membuat tubuh Yoon hye beku. Syaraf-syarafnya terasa mati mendadak. Saat ini, waktu terasa berhenti.
“Eomma dan appa memutuskan untuk membawanya ke Amerika,” lanjut Ahra.
“Amerika?” lirih Yoon hye nyaris berbisik.
“Kau tau, dia sudah tidak ada harapan lagi. . .” Ahra menahan tangisnya “Aku tidak tau apa yang akan terjadi, karna itu, aku minta satu hal darimu,”
Yoon hye masih menatap Ahra tanpa bertanya. Ia menunggu gadis itu berbicara.
“Jangan mengharapkannya kembali Yoon hye, jalani hidupmu dengan normal. Kau tidak ingin melihatnya bersedih bukan? Jadi jangan mengecewakannya! Jaga dirimu baik-baik, kumohon,”
Yoon hye tidak tau harus menjawab apa. Otaknya terasa kosong mendadak. Apa maksud Ahra? Dia tidak akan kembali? Dia tidak akan. . . kembali?
“Aku harus pergi Hye-na, sampai jumpa,” bisik Ahra kemudian berbalik dan melangkah pergi.
Yoon hye masih terdiam ditempatnya. Ia tidak tau apa yang saat ini dirasakannya karena ia sudah tidak dapat merasakan apapun. Tidak dapat berfikir apapun. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin dilahirkan. . .