Tags

, ,

 

10941137_429886810495312_496811186783548236_nKau tau, tidak ada tempat lagi diruang hatiku,
Karena hati ini sudah terisi penuh akan dirimu. . .
Ketika jarak membentang seluas lautan
Seluas itu pula rasaku terhadapmu. . .
Dan tidak akan pernah kering,
Karena hujan masih akan turun. . .


= Yoon hye pov =

Sudah lima tahun sejak kejadian itu. dan bukankah sangat ajaib jika saat ini aku masih hidup? Aku tidak pernah mengharapkannya kembali, karena ia tidak pernah berjanji akan kembali. Ia hanya bilang akan mencintaiku. Namun kini, aku-pun tidak tau apa cinta itu masih ada atau sudah hilang. Tidak ada kabar apapun tentangnya. Semua keluarganya pindah ke Amerika, termasuk Ahra eonni.
Lalu apa yang bisa membuatku bertahan hingga saat ini? Kenangannya. . . Aku tidak ingin melupakan hal itu. Dan hal itu juga yang kujadikan nafasku. Meskipun orang bilang aku sama seperti orang yang tidak punya kehidupan, tapi aku tidak akan mengakhiri hidupku dan melupakan kenanganku tentangnya. Dan Ji~yoo benar, aku memang orang yang pantas untuk dikasihani.
Aku menghela nafas pelan memandang air danau yang bergelombang itu. ini hari libur kerjaku. Seperti biasa aku menghabiskan waktuku untuk berjalan dikota seoul ini. melihat setiap perkembangan kota. Mencoba meredam perih. Bukan mengobati. Karena sekeras apapun aku berusaha, aku tidak akan sembuh. Kalian tau dengan jelas siapa yang bisa menjadi obat untukku.
Takdir. . . Apakah aku harus takut kepadanya? Tidak, kubiarkan ia yang mengaturnya. Kuikuti setiap kisah waktunya. Dan aku tidak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya. Diam dan menerima, itulah yang kulakukan.
Kulangkahkan kakiku pada keramaian kota seoul ini. orang-orang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing. Mereka memakai pakaian yang beragam dengan warna-warna yang berbeda. Kuhembuskan nafasku dan kupejamkan mataku sejenak. Begitu kubuka lagi, semuanya terasa kosong. . . Kau tidak akan pernah menemukan tempat untuk menenangkan diri, karena ketenangan itu sebenarnya berada dalam hati kita sendiri.
“yoon. . .”
Langkahku terhenti otomatis saat mendengar suara itu. aku masih mengenal jelas suaranya, nada panggilannya terhadapku. Apakah ini hanya ilusi? Atau permainan takdir lagi?
Tiba-tiba saja sepasang lengan mendekapku dari belakang. Memberikan kehangatan yang membuat air mataku keluar begitu saja. Secara naluri, seharusnya aku menjerit, dan melepaskan diri. Tapi mengapa tubuh ini hanya diam? Dan kenapa ilusi ini begitu sempurna?
“Tanpa melihat wajahmu-pun aku tau ini kau yoon,”
Aku terkesiap mendengarnya dan langsung berbalik. Wajah itu, wajah yang selalu kumimpikan kini berada dihadapanku. Terlalu terkejut hingga aku hanya bisa menatapnya dibalik lapisan bening air mataku.
“Aku benar bukan?” bisiknya pelan. Tangannya terangkat, jari-jarinya menyusuri wajahku “Mata ini. . . Hidung ini, Bibir ini, Wajah ini. . . Masih menjadi milikmu yoon. . .” ia tersenyum lembut.
“Kenapa kau kembali?” tanyaku dingin.
“Kau lupa? Aku adalah milikmu, jadi sudah seharusnya aku berada disisimu!”
“Disisiku??” seruku marah, mengabaikan orang-orang yang menatap kami “Kau pikir selama ini kemana saja kau? Apa kau ada disisiku? Tidak!”
Tapi laki-laki itu malah tersenyum lembut “Kau lupa, dulu kau tidak menginginkanku yoon,”
Oh sial! Apa yang harus kukatakan sekarang?!
“Tapi sekarang aku menjadi tau, bahwa kau sebenarnya menginginkanku, benar bukan?”
Aku menggigit bibir bawahku kemudian berbalik dan melangkah dengan cepat meninggalkannya. Apakah ini benar-benar nyata? Atau aku hanya bermimpi? Atau mungkin ia hanya khayalanku dan orang-orang menatapku aneh karena aku berbicara sendiri?
“yoon tunggu aku!”
Aku tidak menoleh ataupun menghiraukannya, tapi aku tau, ia sedang berjalan dibelakangku, mengikutiku.
“Apa kau tau kalau aku kecelakaan?” tanyanya, kemudian kudengar ia tertawa “Aku sangat bodoh bukan? Mataku terlalu sibuk mencarimu hingga aku tidak melihat lampu berubah menjadi merah,”
Aku hanya diam saja sambil terus berjalan.
“Kau tau, aku harus mengalami koma selama hampir sebulan! Saat aku terbangun, aku sudah berada di Amerika. Tidak ada yang mau menjelaskan kepadaku apa yang sudah terjadi. Nonna berjanji kepadaku, jika aku bisa hidup mandiri tanpa bantuan appa, dia akan memberitahuku apa yang sudah terjadi.
Aku belajar dengan baik disana, dan tenang saja aku tidak akan melirik yeoja-yeoja disana. Kau tau kenapa? Karena aku adalah milikmu. Dan well, aku lulus dengan hasil yang bagus. Kau tau sekarang aku sudah diterima bekerja sebagai produser music disini, dan itulah mengapa aku baru kembali saat ini,”
Kyuhyun terus mengoceh dibelakangku. Aku tidak meresponnya tapi telinga ini, terbuka lebar untuk meresap setiap kata-kata yang dikeluarkannya hingga tanpa sadar, langkahku saat ini sedang menyusuri jalan pulang ke apartementku.
“Benar-benar baru saat ini yoon, karena tadi begitu aku tiba dibandara, aku langsung pergi mengelilingi kota seoul, berharap menemukanmu. Dan aku benar-benar menemukanmu. Apakah ini takdir? Jawab aku yoon, kenapa kau hanya diam saja? Apa kau belum bisa percaya kepadaku? Tidak apa-apa, aku akan terus menunggumu, tapi jangan marah kepadaku karena tidak ada disisimu yoon, karena aku memang membutuhkan waktu sebelum aku melamarmu saat ini,”
Langkahku terhenti otomatis. Apa telingaku salah dengar? Atau mungkin ia salah bicara? Kubalikkan badanku menatapnya penuh tanya.
“Jadi nona Kim yoon hye, apakah kau bersedia menikah denganku?” ucapnya sambil menunjukkan sebuah cincin ditelapak tangannya.
Nafasku tercekat. Jika ini memang hanya mimpi. Aku tidak ingin bermimpi seperti ini, karena bila nanti aku terbangun, luka itu akan semakin parah.
“Ini bukan mimpi yoon,” katanya seolah tau apa yang sedang kupikirkan. “Aku kemari bukan untuk memberikanmu mimpi. Aku kemari untuk memintamu hidup bersamaku agar tuhan dan takdirnya mengikat kita dalam upacara pernikahan, aku tidak akan menjanjikanmu apapun yoon, aku hanya memintamu untuk berharap bersamaku atas kehidupan kita selanjutnya,”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Tuhan, apa ini takdir yang kau berikan kepadaku? Kau mengirimkan malaikatmu untuk menjadi teman hidupku?? Aku meraih tangannya yang masih menunjukan cincin itu. kemudian kugenggam erat “I do. . .” bisikku pelan.
Ia meraih tanganku yang menggenggam tangannya kemudian memasukkan cincin itu kejari manisku. Dengan lembut, ditariknya tubuhku kedalam pelukannya. Tempat tubuh ini seharusnya bersandar. Aku tidak bisa mendeskrisipkan bagaimana rasanya. Yang jelas, semuanya terasa benar.
“Gadis bodoh,” bisiknya “Seharusnya kau tidak membuatnya lebih rumit dulu, seharusnya aku sudah mendekapmu seperti ini sejak dulu!!”
Aku langsung melepaskan pelukannya. Membuatnya menatap bingung. Tiba-tiba saja aku ingin menggodanya. Aku berbalik dan meninggalkannya begitu saja.
“YAA kim yoon hyr berhenti!! Kenapa kau meninggalkan tunanganmu ini begitu saja??” teriaknya.
Aku tersenyum mendengarnya. Tunanganku? Dia milikku. . . entah kenapa terasa menyenangkan mendengarnya.
“yoon!!”
“Kita ini hanya bertunangan, bisa putus kapanpun!!” balasku tanpa menoleh.
“Mworago??”
Tiba-tiba saja ada yang menyentakkan tubuhku untuk berbalik dan aku terdiam. Bibir itu bergerak sedikit kasar melumat bibirku. Tubuhku seperti tersengat listrik. Otakku terasa kosong mendadak. Dan kaki ini seperti tidak lagi menjejak ditanah.
“Jika kau berbicara seperti itu lagi, aku bersumpah akan menikahimu saat itu juga kim yoon hye!!” bisiknya jelas dengan nafas yang tidak beraturan. Kemudian ia mengecup lagi bibirku, lalu mengulumnya lembut. Kali ini kubalas perlahan sambil melingkarkan tanganku kelehernya.
Bukankah takdir itu tidak tertebak? Dan kau tidak akan pernah tau sebelum menjalaninya hingga akhir. . .

FIN