Tags

,


Cast :
– Shin Ha Ni (tante Vhevhey)
– Park Jungso (Leeteuk)
– Kim Yoon Hye

Just About Heart…

Dunia ini sangat luas, kau tau?! Dan semuanya itu tidak akan bisa cukup dilihat dengan panjang usiamu. Di waktu yang tersisa ini, egoiskah aku jika ingin melihat semuanya?
Merasakan angin desa. Melihat hamparan sawah yang berwarna hijau. Melihat pohon-pohon besar. Tidur di hamparan rumput. Melihat langit, melihat bintang dan bulan. Bermain bersama anak-anak. Bernyanyi, menari. Mencoba berbagai jenis makanan. Menikmati pergantian musim.
Ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan. Merasakan bahwa hidup ini indah meskipun terkadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan. Dan dari segala hal indah dalam hidup ini, yang paling berkesan adalah saat-saatku bersamanya. . .
“Anyeong haseo Ha Ni ya,”
“Anyeong Eonni,” aku tersenyum lebar membalas sapaan dari Ji Yoon Eonni.
“Kau memotret lagi huh?”
Aku tersenyum mendengarnya sambil menatap kamera yang menggantung di leherku “Dunia ini indah kau tau,”
“Araseo! Jangan terlalu lelah Ha Ni ya. Seharusnya kau tetap di sini saja.”
“Eonni… Kau tidak bermaksud untuk mengurungku di tempat ini selama sisa hidupku bukan? Ooh… Kejamnya dirimu…”
“Tidak, tidak… Tidak akan kulakukan. Kau puas?!”
Aku tersenyum lebar kepadanya “Baiklah, aku akan menemui anak-anak dulu,”
“Mmm, pergilah! Sepertinya mereka sudah menunggumu,”
“Anyeong Eonni!!”
Jung Ji Yoon. Dia adalah seorang dokter yang sudah kuanggap sebagai Eonniku. Aku sering bermain dengan anak-anak yang sakit di rumah sakit ini. Berharap dapat memberikan sedikit kegembiraan untuk mereka.
“Anyeong Haseo!!!” seruku saat aku masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang banyak pasien anak-anak disana.
“Ayeong Eonni!” jawab mereka.
“Kyuhyun ah, bagaimana operasi usus buntumu kemarin?”
“Besok aku sudah boleh pulang Nonna,”
“Jjinja? Chukae Kyuni,” aku mengacak-acak rambut anak laki-laki itu kemudian menghampiri seorang gadis kecil yang sedang sibuk menggambar.
“Rae In ah, apa yang sedang kau gambar??”
“Ini aku, Kyuhyun ah, Boom ah, Chae Rin ah, Ji Hyun ah, Taemin ah, Yong Jae ah, Min Young ah, dokter Ji Yoon dan kau Eonni,”
“Whoaaa… Kau pintar sekali menggambar,”
“Jjinja?”
“Mm!”
Kau tau? Anak-anak itu adalah teman yang sangat menyenangkan. Mereka begitu polos hingga aku tidak takut untuk ditipu atau disakiti. Kutatap mereka yang sekarang sedang tidur siang. Kubenarkan selimut mereka satu-satu. Rasanya sangat menyenangkan memiliki mereka sebagai keluarga.
Angin musim semi ini begitu sejuk. Bunga-bunga Maehwa mulai berguguran. Kutatap halaman rumah sakit itu dari salah satu jendela. Di bulan April ini setahun yang lalu, dia masih bersamaku…
“Apa yang kau lihat Eonni?”
Aku menoleh dan melihat Yoon Hye sedang menghampiriku sambil membawa tiang infusnya. Dia mengalami gangguan pencernaan di lambungnya.
“Kau tidak tidur?” tanyaku. Ia menggeleng pelan. Kutarik sebuah kursi plastik lebih dekat denganku, “Duduklah,”
Dia duduk di kursi itu sambil menatap keluar jendela sepertiku. Merasakan angin yang membawa aroma bunga. Yoon Hye adalah pasien yang paling besar di ruangan ini. Saat ini dia sudah duduk di bangku kelas 8.
“Eonni, kudengar… kau punya penyakit jantung. Apa itu benar?”
Aku tersenyum mendengarnya tanpa menoleh “itu benar… Jantungku ini bisa berhenti kapanpun dia mau,”
“Tapi kau tidak terlihat seperti orang yang sakit. Kau tidak terlihat sedih sama sekali,”
Aku menoleh dan tersenyum menatapnya “Yoon Hye ya, kau mendengarkan sebuah cerita?”
“cerita?”
“Mm, cerita tentang hati…”
—————

Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di panti asuhan. Di sekolah, aku sering dikucilkan oleh teman-temanku. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak merasa sedih. Aku punya banyak orang yang menyayangiku.
Suatu hari. Aku mendapatkan teman sebangku yang bernama Park Jungso. Dia adalah murid baru di kelasku. Dia ramah dan selalu tersenyum. Aku tidak tau mengapa ia lebih memilih berteman denganku daripada anak-anak lainnya. Dan akhirnya pertemanan kami berlanjut hingga lulus SMU. Aku masih ingat apa yang dikatakannya kepadaku saat itu.
“Ha Ni ya… sangat indah bukan?” tanyanya sambil memandang langit yang berwarna jingga. Saat itu, matahari sudah akan tenggelam. Kami sedang tidur di hamparan rumput dekat sungai.
“Mmm… musim semi memang menyenangkan,“ gumamku pelan.
“Mungkin… langit adalah sesuatu yang tidak pernah diperdulikan oleh orang. Tetapi ada begitu banyak hal yang dapat dilihat pada langit. Kau bisa melihat matahari, awan, bintang, bulan, bintang jatuh, bahkan meteor… sama seperti dunia ini. Ada banyak hal yang bisa dilihat hingga usiamu tidak akan cukup untuk melihat semuanya. Hanya saja, manusia terlalu sibuk untuk menikmatinya,”
Aku hanya diam saja mendengarkannya. Mencoba menerka apa maksud dari ucapannya. Tiba-tiba aku merasakan jari-jarinya yang meraih jemariku. Menggenggamnya.“Kau tau? Aku sangat ingin melihat dunia ini bersamamu…”
Aku tersenyum mendengarnya “Jungso ya, kita akan selalu bersama. Karena aku akan selalu mengikutimu!”
“Jangan… Jangan seperti itu. Jika suatu saat aku harus pergi jauh. Kau tidak boleh mengikutiku,”
“wae?”
“Karena aku masih ingin melihatmu tersenyum walau dari tempat yang jauh di sana. Kau harus selalu tersenyum untukku. Kau bisa melakukannya bukan?”
“Tapi…bagaimana jika aku yang pergi lebih dulu? Bisakah kau terus tersenyum untukku?”
Hening. Yang terdengar hanyalah gemercik air sungai.
“sudah hampir malam, ayo kuantar kau pulang!!”

Tanpa pernyataan, kami menjadi sepasang kekasih begitu saja. Tanpa kata cinta, kami saling mengasihi dan menjalani hidup bersama. Kami lulus bersama dan melanjutkan ke Universitas yang sama juga. Terkadang aku berfikir. Akankah kami selalu bersama hingga akhir? Satu pertanyaan yang belum ditemukan jawabnya sebelum aku menjalaninya.
Hari terindah dalam hidupku. 24 April. Saat itu, kami mendapat kabar bahwa kami diterima di Universitas yang kami pilih. Dia mengajakku ke sebuah tempat dimana aku bisa meraih langit. Atap gedung teather.
“Bintang terlihat sangat dekat bukan?!” tanyanya sambil menatap langit.
“Ya, sangat indah…”
“Kurasa aku bisa mengambil salah satunya untukmu. Lihat!!”
Dia menjulurkan tangannya ke atas, meraih angin lalu menggenggamnya. Lalu membawanya ke hadapanku. Begitu ia membuka telapak tangan. Sebuah cincin emas putih sederhana tampak berkilau.
“Jungso ya…”
Dia tersenyum lembut sambil meraih jemariku dan memasangkannya di sana “sekarang kau milikku!”
Aku tidak bisa berkata apapun saat itu. Yang kulakukan hanyalah memeluknya.
“Shin Ha Ni, apa kau tidak penasaran mengapa aku tidak pernah mengucapkan kata saranghae?”
Aku menoleh dengan bingung kepadanya “kau tau, hanya berada di sisimu itu sudah lebih dari cukup meskipun tanpa adanya kata-kata,”
Dia tersenyum “kau benar…” jawabnya “cinta itu hanya kamuflase. Di dunia ini banyak sekali orang yang mengatakan cinta kepada kekasihnya. Tapi tahun-tahun berikutnya, cinta itu bisa saja menghilang. Pada dasarnya, hidup ini butuh realistis. Tidak sedikit orang yang menikah karena uang. Tidak sedikit juga orang yang melepas cinta untuk tujuan tertentu. Cinta itu hanya mimpi. Yang kebetulan saja datang dalam perjalanan hidup. Aku tidak bisa mengatakan apa yang kurasakan kepadamu ini cinta atau bukan.Karena yang kutau, dalam suatu hubungan, yang diperlukan hanyalah toleransi. Saat kau bisa menerima segalanya seiring perubahan waktu, tidak perduli itu dinamakan cinta atau bukan karena ini hanya tentang hati. Araseo?”
“Jungso ya, kau membuatku pusing. Tapi aku memahami kata-katamu…”
Dia mengacak-acak rambutku pelan “Gadis bodoh!!”
“YAA hentikan…”

Sebelumnya, aku memang tidak mengerti tentang takdir. Semakin berjalannya waktu, aku merasa bahwa takdir itu adalah sebuah alur. Dan hidup ini adalah kisah. Tuhan adalah penulisnya. Dia dapat membuat alur sesuka yang dia mau. Terkadang bahagia, terkadang lara. Dan mempermainkan kita, sebagai tokoh dalam kisahnya.
“Ha Ni ya?? Gwenchanae??”
Aku tidak sanggup membuka bibirku untuk mengatakan aku baik-baik saja. Yang kurasakan, dada ini sakit. Amat sangat sakit. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Mata ini hanya bisa menatap raut wajah paniknya.
“Ha Ni ya, bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit!!” Jungso menarik lenganku untuk melingkari lehernya dari belakang. Lalu ia mengangkat tubuhku dan menggendongku.
Aku dapat merasakan guncangan tubuhnya yang berlari. Aku dapat merasakan deru nafasnya. Hingga lambat laun, semuanya perlahan menghilang. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Saat aku sadar, aku merasakan tangan hangat seseorang sedang menggenggam jariku. Seraut wajah tua dengan senyuman lembutnya ada di hadapanku. Dia adalah suster kepala di tempat panti asuhanku dibesarkan.
“Ha Ni ya, bagaimana perasaanmu?”
“Suster Kepala… apa yang terjadi?”
“Tunggu sebentar, biar kupanggilkan Dokter,”
Suster kepala menekan tombol di samping ranjang. Tidak lama kemudian, seorang dokter datang bersama seorang perawat.
“Bagaimana Dokter?” tanya suster kepala setelah dokter memeriksaku.
“Ada yang ingin saya tanyakan Suster. Apa pasien mempunyai penyakit kelainan jantung?”
Aku menatap suster kepala bingung.
“Dulu, memang benar. Saat ia berumur tujuh tahun pernah dilakukan oprasi jantung. Dokter mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Apa ada masalah dokter?”
“Sepertinya, pasien saat ini sedang mengalami gagal jantung,”
Suster kepala sangat terkejut hingga ia menutup mulutnya dengan kedua tangan sementara aku masih tidak mengerti.
“Ini tidak bagus suster. Sepertinya jantungnya mulai bermasalah. Dan dapat berhenti kapan saja,”
Meskipun aku tidak tau apa yang telah terjadi, tapi aku mengerti bahwa hidupku tidak akan lama lagi. Tiba-tiba saja aku tidak bisa berfikir. Yang kulakukan hanyalah menatap Jungso yang sedang berdiri di ambang pintu. Dan sesuatu jatuh dari genggamannya. Sebuah rosario…

“Jungso ya… Kau pernah berkata kepadaku jika kau pergi jauh, jangan pernah menyusulku… sekarang bila aku yang meminta hal itu, bisakah kau melakukannya?”
Jung soo beranjak dari duduknya lalu berlutut di hadapanku. Menggenggam tanganku. Hangat…
“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya pelan.
“Aku… Aku hanya berfikir… Sampai kapan aku bisa hidup bersamamu… Apa nanti kita bisa melewati natal bersama-sama?!”
Dia tersenyum lembut “Bagaimana kalau kita menikah dimalam Natal? Kau mau berjanji kepadaku akan bertahan hingga hari itu? Hingga hari-hari selanjutnya? Apa kau bisa?”
Air mataku jatuh. Apa aku bisa berjanji? Apa Tuhan mengijinkannya? “Berjanjilah untuk tidak marah jika aku tidak bisa menepati janjiku,” isakku pelan.
Dia masih tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dihapusnya air mataku dengan kedua ibu jarinya “Ayo kita menikah di malam natal!”

Aku bahagia, meskipun tidak ada kata cinta yang terucap darinya. Seperti yang dia bilang, cinta itu hanya kamuflase. Mungkin orang-orang melihat kami saling mencintai, tapi sesungguhnya kami sendiri tidak tau apa itu cinta. Ini hanya tentang hati. Saat hati merasa yakin dia adalah orang yang terpilih untuk menghabiskan hidup, saat itu pula hati merasa dapat menerima segalanya. Dan hatiku yakin, dia adalah tuannya.
Waktu berjalan begitu cepat saat kau ingin hidup lebih lama. Dan aku sangat berterima kasih kepada tuhan karena mengijinkanku untuk menepati janjiku.
Salju turun menghiasi malam natal ini. Didepan altar itu, dia berdiri menungguku. Aku menggandeng lengan ayahnya disaksikan oleh keluarga dan suster-suster di panti tempatku diasuh. Dia tersenyum lembut menatapku yang berjalan ke tempatnya. Begitu tampan dengan jas putih yang dipakainya.
Setelah aku tiba di hadapannya, ia mengambil alih jemariku dari genggaman tangan ayahnya dan membawaku ke hadapan pastur. Kemudian, terucaplah sumpah itu. sumpah yang mengikatku dalam kesetiaan. Tanpa ucapan kata cinta. Tanpa janji mimpi-mimpi. Ia membawaku bersama harapannya.
Tidak ada pesta pernikahan. Ataupun perayaan. Walau sederhana aku merasa sangat bahagia saat itu. Tapi, tuhan mengubah takdir semudah ia membalik telapak tangan. Selesai pernikahan itu, Kami pulang ke rumahnya. Ditengah perjalanan, mobil yang mengantar kami berhenti tiba-tiba.
“Ajhusi, kenapa berhenti? Apa ada masalah?” tanyanya saat itu.
“Maaf, sepertinya ada sedikit masalah,”
“Oh, biar aku saja yang mengecek ajhusi, cobalah untuk menghidupkannya,” cegah Jungso.
Kemudian, ia membuka pintu mobil dan keluar. Butuh waktu yang cukup lama untuk mencerna semuanya. Tepat ketika Jungso turun dari mobil, dari belakang, seorang pengendara sepeda motor menghantam tubuhnya. Aku hanya bisa menatap darah yang menyiprati wajah dan tubuhku. Darahnya…
“Jungso ya!!!” pekikku histeris.
Aku langsung keluar dari mobil dan menghampirinya yang terjepit sepeda motor itu. membebaskan tubuhnya yang berlumuran darah sementara ajhusi itu menelphone rumah sakit.
Jalanan saat itu sedang sepi. Tidak ada yang bisa kuminta tolong. Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat takut.
“Jungso ya bertahanlah…” air mataku mulai jatuh. Kudekap erat-erat tubuhnya.
“Ha Ni ya…”
“bertahanlah, terus lihat aku,”
“Ha ni ya… Tersenyumlah…”
Jantungku terasa berhenti mendengarnya. Aku terisak.
“Ha Ni ya… Tersenyumlah…”
Aku meredam sesak di dadaku. Perlahan, aku tersenyum kepadanya.
Dia tersenyum melihatku. Tapi perlahan kemudian, matanya terpejam bersamaan dengan air matanya yang keluar.
Aku tercenung. Senyumku memudar. Dan aku sadar, dia, sudah pergi…

Ada beberapa hal yang ingin dilupakan namun tidak bisa dihilangkan. Kenyataan itu begitu mengerikan. Bagaimana bisa kau melupakan kejadian saat suamimu terenggut nyawanya tepat di hadapanmu?
Bolehkah aku marah pada tuhan yang telah menuliskan takdir kami seperti ini? aku menepati janjiku untuk menikah dengannya di malam natal. Menjadi istrinya walau hanya beberapa jam. Apakah ini begitu menyedihkan? Tapi inilah takdir…Siapa yang akan menduga kalau ternyata dia meninggalkanku lebih dulu? Kepada siapa aku harus marah? Pantaskah aku marah sementara kami hanyalah tokoh dalam permainan kisahnya.
Aku sempat merasa kosong beberapa hari ke depan. Aku merasa kehilangan arah. Lalu aku seperti mendengar Jungso berkata kepadaku. Kata-katanya yang pernah diucapkannya dulu, melintas satu per satu dalam kepalaku.

‘cinta itu hanya kamuflase. Di dunia ini banyak sekali orang yang mengatakan cinta kepada kekasihnya. Tapi tahun-tahun berikutnya, cinta itu bisa saja menghilang. Pada dasarnya, hidup ini butuh realistis. Tidak sedikit orang yang menikah karena uang. Tidak sedikit juga orang yang melepas cinta untuk tujuan tertentu. Cinta itu hanya mimpi. Yang kebetulan saja datang dalam perjalanan hidup. Aku tidak bisa mengatakan apa yang kurasakan kepadamu ini cinta atau bukan.Karena yang kutau, dalam suatu hubungan, yang diperlukan hanyalah toleransi. Saat kau bisa menerima segalanya seiring perubahan waktu, tidak perduli itu dinamakan cinta atau bukan karena ini hanya tentang hati. Araseo?’

Pada dasarnya, hidup ini butuh realistis. Dia benar… hidup ini butuh realistis. Terima atau tidak, dia sudah pergi… hingga akhirnya aku sadar, tidak lama lagi aku akan menyusulnya.

‘Jungso ya, kita akan selalu bersama. Karena aku akan selalu mengikutimu!’
‘Jangan… Jangan seperti itu. Jika suatu saat aku harus pergi jauh. Kau tidak boleh mengikutiku,’
‘wae?’
‘Karena aku masih ingin melihatmu tersenyum walau dari tempat yang jauh di sana. Kau harus selalu tersenyum untukku. Kau bisa melakukannya bukan?’

Untuk pertama kalinya, aku tergerak dalam kekosonganku. Bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman. Senyum untuknya…

‘Mungkin… langit adalah sesuatu yang tidak pernah diperdulikan oleh orang. Tetapi ada begitu banyak hal yang dapat dilihat pada langit. Kau bisa melihat matahari, awan, bintang, bulan, bintang jatuh, bahkan meteor… sama seperti dunia ini. Ada banyak hal yang bisa dilihat hingga usiamu tidak akan cukup untuk melihat semuanya. Hanya saja, manusia terlalu sibuk untuk menikmatinya, Kau tau? Aku sangat ingin melihat dunia ini bersamamu…’

Lalu aku berjanji kepadanya untuk melihat betapa indahnya dunia ini. Aku melihat banyak hal yang bisa kuceritakan kepadanya nanti. Walaupun tidak bersama dirinya, aku tau, hatinya tetap bersamaku. Karena ini hanya tentang hati…

————-

“Eonni, benarkah itu sungguh terjadi kepadamu?”
“Aku lebih senang itu tidak terjadi Yoon Hye ya…” aku tersenyum menatap cincin emas yang masih melingkar di jariku itu.
“Eonni… Kisahmu sungguh bagus. Bolehkah aku menulisnya jika sudah keluar dari rumah sakit?”
Aku menoleh menatapnya “Kau suka menulis?”
Gadis itu mengangguk pelan.
“Tentu,” senyumku. “baiklah, sekarang kau harus tidur, jika tidak dokter Ji Yoon akan memarahiku,”
Gadis itu mengangguk sambil beranjak dari duduknya. Aku membantunya untuk berjalan ke ranjangnya dan menyelimutinya.
“Tidurlah, malaikat selalu menjagamu…” bisikku pelan.
Kutatap ruangan itu. Aku tersenyum melihat anak-anak yang tertidur pulas. Perlahan, kututup pintu. Tapi, baru beberapa langkah aku berjalan. Aku merasakan jantungku nyeri. Sangat sakit. aku mencengkeram dadaku erat-erat. Aku mulai sulit bernafas. Samar, kulihat Jungso ada di sana. Dan perlahan semuanya menjadi gelap…

Rest in the Peace, 14 April 2012
Shin Ha Ni
Story by Kim Yoon Hye

FIN