Tags

, ,

Missing you…

meriindukanmu…

kehilanganmu…

[percakapan yang terjadi dilakukan lewat pesan di ponsel]

Dia temanku?

“hei cheonyeo!! (kuntilanaknya orang korea)”

“ige mwoya?? Aku bukan cheonyeo!!”

“kau sama mengerikannya dengan dia!!”

“apa kau cari mati huh?”

Kurasa bukan. dilihat dari sikap kami, sepertinya dia lebih cocok disebut musuh.

“hei!”

“……”

“ya, aku sedang bicara padamu!!”

“…..”

“ah aku tau, kau lagi poop benar kan?”

“YA, aku sedang sibuk tau!!”

“ck, sibuk apanya? Cuma membaca novel saja sibukl!!”

“……”

“kyuhyun ah, ceritakan hal yang lucu!!”

“kau tau, tadi aku berbicara dengan orang, dan ternyata orang itu sedang poop,”

Tertawa, aku tertawa saat itu. mungkin orang lain menganggapnya biasa namun tidak bagiku. Orang yang dimaksud adalah aku. Jadi, masih bisakah dia disebut sebagai musuh? Okeh, dia musuh sekaligus teman.

“kyuhyun ah…”

“wae? Merindukanku?”

“ne… aku merindukanmu… apa yang kau lakukan?”

“kau tau pasti aku sedang apa!”

“berkencan dengan istri game-mu itu huh?”

“gadis pintar!!”

“apa yang kau lakukan?”

“aku sedang makan buah apel!”

“apel? Kau suka apel?”

“ya,”

“apa kau suka pear juga?”

“ya, ada tiga buah yang kusukai,”

“hmm… apa yang terakhir melon?”

“nope, rasa buah melon seperti pepaya, aku tidak suka, pisang juga tidak suka!”

“aku juga tidak suka pepaya. kalau begitu… semangka??”

“bagaimana kau tau?”

“mereka semua memiliki banyak air,”

“kyuhyun ah, apa kau suka susu?”

“aniyo!! Baunya bikin mual!!”

“sama, aku juga tidak suka… “

“sudah sana tidur!!”

“kau sendiri belum tidur,”

“I am owl!!”

“cih, bilang saja dukun!!”

“YA, dasar cheonyeo!!”

“jangan memanggilku seperti itu!!”

“jjajangmyeon ini sangat enak…”

“benarkah? Aku jadi ingin memakannya juga,”

“sudah habis, kau terlambat, kekekek. . .”

“jahat!! Aku akan minta eomma membuatkannya untukku nanti!!”

“kyuhyun ah…”

“ada apa lagi?”

“sebentar lagi ujian, dan aku sangat takut,”

“berfikirlah optimis,”

“apa yang kau lakukan?”

“teh hangat memang sangat nikmat,”

“kau minum teh lagi huh? sudah dua hari ini aku tidak bisa minum teh…”

“hahaha kasihan…”

Kalian tau, dia maniak teh hingga diberi julukan Mr. freaktea. Tapi satu hal yang kusuka darinya, aku dapat mengobrol bebas dengannya. Tentang hal-hal sepele yang tidak membebaniku. Membuatku lupa dengan masalah kehidupan.

“kyuhyun ah…”

“wae?”

“kenapa lee hyuk jae sangat menyebalkan?”

“kenapa bertanya kepadaku, yang yeojachingunya kan kau,”

“kyuhyun ah…”

“aku mau mandi dulu,”

“cih, bilang saja mau nyukur bulu ketiak!!”

“yang punya bulu ketiak panjang itu kau!!”

“ige mwoya??”

Seperti itulah dia. Selalu dapat mengalihkan pembicaraan. Membuatku lupa dengan sesuatu yang membebaniku. Dia dingin, namun selalu ada saat aku butuh seseorang untuk berbagi. Dia mengenalku, tapi aku tidak mengenalnya karena dia begitu tertutup…

“kyuhyun ah?”

“waeyo??”

“boleh ku tau nama margamu?”

“wae?”

“hanya ingin tau,”

“tanyakan pada yang lainnya,”

“aniyo… aku ingin kau yang memberitahuku,”

“kalau begitu selamat menunggu!”

Dia egois… sangat. Orang teregois yang pernah kukenal.

“ayolah kyu… aku ingin tau nama margamu,”

“untuk apa?”

“hanya ingin tau, apakah itu butuh alasan?”

“margaku choklat!!”

“YA jangan bercanda!!”

“…..”

“kyuhyun ah,”

“wae, wae, wae??”

“bolehkah aku minta sesuatu?”

“boleh saat kau ulang tahun,”

“ini hari ulang tahunku,”

“benarkah? Saengil chukae, maaf aku tidak bisa memberimu apa-apa, mungkin kau mau kaset gameku?”

“aniyo… kau tau apa yang ingin kuminta,”

“nama margaku?”

“ye!”

“cho kyuhyun… namaku cho kyuhyun…”

“oke, gomawo,”

Dia juga orang yang tidak perduli. lebih tepatnya pura-pura tidak perduli. bahkan pada orang yang menyukainya sekalipun.

“YAA cho kyuhyun! Kau benar-benar keterlaluan!!”

“wae?”

“aku tau kau orang yang egois, tapi kau terlalu egois!!”

“begitu kah?”

“kau tau kim seohyun itu menyukaimu, kenapa kau bersikap seperti itu kepadanya? Kalau kau menerimanya, anggap dia sebagai kekasih yang sebenarnya! Jangan seperti itu!! aku tau bagaimana perasaannya, kenapa kau kejam sekali??”

Tidak dijawab. Saat itu kami saling diam. Aku mulai mengeluh, apakah dia marah kepadaku? Tapi ternyata tidak. Dia tipe orang yang santai.

“YA cheonyeo!!”

“berhenti memanggilku seperti itu!!”

“itu urusanku!!”

“dasar menyebalkan!! Kyuhyun ah… “

“mmm?”

“mianhae… untuk yang kemarin, mianhae…”

“tidak masalah,”

Dia dingin. Namun hangat. Dan aku tau bagaimana karakternya. Dia tipe orang yang tidak mau orang lain ikut campur masalahnya. Jadi aku tidak pernah bertanya bagaimana kehidupannya, keluarganya, bahkan tentang kim seohyun. Dia juga tidak pernah bertanya bagaimana aku, hanya saja aku yang sering bercerita kepadanya hingga ia tau seperti apa aku…

“kyuhyun ah… “

“wae?”

“kenapa lee hyuk jae suka sekali membuatku menangis?!”

“dasar cengeng!!”

“YAA memangnya kenapa kalau aku suka menangis?!”

“aku benci air mata!”

“kau benci air mata? Apa kau takut air mata? Bagaimana kalau aku menyirammu dengan seember air mata?”

“bukan air matanya, tapi aku benci orang yang menangis!”

“apa sekarang kau membenciku? Baiklah, aku tidak akan berbicara kepadamu, aku berbicara dengan yoon ra saja,”

“jangan! Yoon ra sedang sibuk. Sama aku saja!!”

“kyuhyun ah, jika kau boleh mencuri sesuatu dariku… apa yang akan kau curi??”

“air matamu… biar kau tidak bisa menangis lagi,”

“aku tidak akan menangis lagi!!”


Dia ada dalam setiap tangisku. Ada setiap aku butuh seseorang untuk berbicara. Namun, seperti yang kalian lihat, semua yang ada di dunia ini akan berubah. Waktu, keadaan, juga hati…

Aku menghela nafas pelan. semua itu terjadi dua tahun yang lalu. Dia adalah teman sekolahku. Kelas kami berbeda, namun kami sering berkomunikasi lewat pesan. Di sekolah kami juga seperti orang yang tidak saling mengenal, tidak pernah berbicara kepadanya, bahkan menyapanya. Sebaliknya, ia juga begitu. Sebelum akhirnya hubungan kami terputus karena dia harus pindah keluar negeri. Kami hanya sesekali berhubungan. tapi sekarang rasanya sungguh sakit. dulu, meskipun tidak ada komunikasi, setidaknya aku merasa dia masih orang yang sama. Sekarang aku sadar, saat ia sudah kembali. Dia tidaklah sama…

Menyadari bahwa dia bukanlah kyuhyun yang kukenal, rasanya sangat menyakitkan. Dan aku terpaksa harus menganggapnya telah tiada… aku tidak tau mengapa ia menjadi seperti itu, mungkin selama ini aku yang terbiasa dengannya. Kini dalam sedihku, dalam tangisku, dalam keluhku tidak pernah ada dia.

“kyuhyun ah…”

“nuguseo?”

“kim yoon hye,”

“hmm?”

“terasa dingin!”

“wajar, ini hampir musim dingin!”

“apa kau sibuk?”

“begitulah,”

Yang kutemui kini bukan cho kyuhyun, tapi sebuah batu es. Sangat dingin… hingga aku tidak bisa bernafas. Perlahan aku menjauh. Tapi dunia tidaklah lagi sama… aku menganggapnya telah tiada, namun hatiku benar-benar menolaknya. Aku merindukannya, sangat. Saat aku mengalami hal yang menyakitkan, dia selalu ada. Ku coba untuk menghubunginya, berharap dia kyuhyun yang masih sama.

“kyuhyun ah…”

“sp?”

Tiga huruf dari satu kata yang melukai. Begitu menyakitkan. Bahkan lebih menyakitkan daripada saat aku putus dengan lee hyuk jae, atau mendapat masalah dengan shim changmin. Dia sudah menganggapku tidak pernah ada. Atau mungkin sejak awal aku memang tidak pernah ada dalam hidupnya. Apa dia marah kepadaku? bosan denganku? Atau takut aku akan menyukainya?

Aku sangat paham atas posisiku. Aku tau batasan hati ini. tidak pernah terfikirkan dalam hatiku untuk merubah status teman kami. Aku hanya merindukanya. Rindu berbicara bebas dengannya. Melupakan beban, melupakan semua masalah. Dan kini saat kusadari dia memang benar-benar telah tiada, rasanya sangat menyakitkan.

Jika saja bisa ingin kuteriakan apa yang kurasakan ini sekeras mungkin, memastikan tuhan mendengarnya walaupun kutau seberapa pelan aku berbisik, ia akan mendengarnya juga.

Dada ini terlalu sesak untuk menyimpannya. Seolah keberanian untuk mengucapkannya saat ini sedang meremas paru-paruku.

Ingin kusalahkan waktu dan takdir, tapi pantaskah aku melakukannya sementara aku hanyalah salah satu tokoh yang dikisahkan untuk mengikuti waktu dan takdirnya.

Bukan rasa yang bernama cinta, atau yang bernama sayang. Aku tidak pernah melihatmu dengan rasa itu. Tapi eksistensimulah yang kubutuhkan saat ini, seperti dulu.

Jangan takut akan tumbuhnya rasa dihatiku karna rasa yang tumbuh kini ada batasan yang sudah kupahami.

Aku membutuhkanmu untuk mengisi ruang waktuku dengan percakapan bebas tanpa beban. Melupakan masalah pribadi atau soal kehidupan ini.

Aku merindukanmu, sangat! Itulah yang ingin kuteriakkan kepadamu agar semua mendengarnya. Termasuk tuhan.

Batas waktu itu terlalu jauh dan permainan takdir itu terlalu lama hingga saat aku menatapmu, kau sudah menjadi bongkah es abadi.

Begitu dingin, menusuk jiwaku.

Haruskah aku menangis untuk keadaan ini? Ya! Pada kenyataannya air mata ini tetap mengalir meskipun DULU ada larangan darimu untuk mengeluarkan air mata ini.

Sakit, aku merasa teman penghapus laraku telah tiada. Mengapa kau pergi secepat ini? Tak bisakah dingin itu mencair?!

Hingga pada akhirnya aku yang menjauh karna tidak sanggup menahan sesak oleh dinginmu yang meremas jantungku.

Tak taukah kau betapa berartinya dirimu untukku meskipun kau ‘bukan apa-apa’ untukku. Terkadang, dalam makimu, ada makna yang membekas difikirku. Terkadang, dalam makimu, ada makna yang mampu membetuk tawa dibibirku.

Meskipun tidak berarti, tapi kau sepesial untukku.

Aku merindukanmu, aku merindukanmu, sangat merindukanmu.

Pada akhirnya kata-kata itu hanya tertulis disini dan masih berada dalam batinku yang kian lama kian menyesakkan jiwa.
Katakan apa yang harus kulakukan?? Aku benar-benar merindukanmu. . .

Mungkin memang seperti inilah adanya. Aku berharap dapat menganggapnya hanya sebuah mimpi yang nantinya akan terasa dia seolah-olah tidak pernah ada…