Tags

, ,

“vea?? Ve??” hyuki berteriak-teriak panik. “aiiishh…gimane ini?? gue nggak ngerti tempat di sini, ini kudu diapain?? Iblis mah nggak punya darah, kalo ketusuk paling-paling ntar balik sendiri. Sialan, ujian aja ribet gini,”

Ditiup-tiupnya luka yang menganga di lengan vea. Tidak lama kemudian darah yang mengalir itu mulai mengering bekat tiupan ajaibnya. Lalu, disobeknya kain baju yang ada kemudian dibalutkannya pada luka vea. Digendongnya gadis itu, dibawanya ke tempat tidur.
“ini cewek frustasi sampek mau bunuh diri tapi nggak pernah nangis, sial amat sih gue…” dumelnya sambil sibuk benerin posisi vea.
Untuk sejenak, ditatapnya gadis itu. “padahal lo kelihatan manis kalo lagi ketawa…” gumamnya pelan.
Perlahan, hyuki mengulurkan tangannya. Disentuhnya kening vea dengan jari telunjuknya lalu ia memejamkan mata. Dicobanya untuk menggali memory dari gadis itu. kelebihan lain yang ia miliki, ia dapat melihat memory orang lain dari sentuhan jari telunjuknya di kening tersangka.

~flashback~
Seorang laki-laki tengah berpelukan mesra dengan seorang wanita yang berpenampilan sexy di salah satu café sebuah mall.
“papa…” ada seorang gadis yang berpakaian seragam putih biru menatap mereka dengan pandangan tidak percaya. Air matanya sudah mengambang lalu gadis itu berlari pergi.
———–
“ceraikan saja aku mas, daripada kau bermain di belakangku lebih baik kita berpisah!!” teriak seorang wanita cantik yang mirip dengan vea. Itu pasti ibunya.
“tanyakan pada dirimu sendiri kenapa aku seperti ini!! kau tidak bisa membahagiakan aku!!”
“benar!! Aku memang wanita biasa yang tidak sempurna, tapi aku tidak menyangka kau sebejad itu!!”
“besok kukirimkan surat cerai, jangan temui aku lagi!!!” pria itu berjalan keluar, melewati vea yang tengah meringkuk di depan pintu sambil menangis. Gadis itu memeluk lututnya sendiri.
———-
“kak ardhi nggak akan ninggalin aku kan?? aku takut kak…”
Laki-laki itu tersenyum sambil menggeleng pelan “kakak nggak akan kemana-mana, jangan takut ya,”
Vea memeluk laki-laki itu erat “janji??”
“janji…”
————
“mamaaa… mama kenapa ma??” vea menggoyang-goyangkan tubuh ibunya itu sambil menangis. Ada darah yang keluar dari hidung sang ibu.
Lalu datang ardhi dan segera membawa ibu vea ke rumah sakit.
“dia menderita kanker hati stadium akhir, maaf saya tidak bisa menyelamatkannya,”
“nggak!! Dokter bohong!! Mama nggak mungkin ninggalin vea!! Dokter bohong!!!” vea menjerit histeris sementara ardhi mencoba menenangkannya.
———–
“hallo?? Kak ardhi? Ada apa? ? Iya, aku udah pulang sekolah, kakak nggak ke kampus? Jemput? Kakak sekarang dimana?…royal plaza? Iya deh aku tunggu di sini, … hallo?? Hallo?? Kak ardhi??”
Vea menatap panik hp-nya. Tanpa berfikir lagi, ia langsung menghampiri tukang ojek dan pergi ke daerah royal plaza.
Tubuh gadis itu membeku saat melihat orang yang di sayanginya tergeletak berlumur darah disamping sepeda motornya yang hancur. Mendadak, pikiran gadis itu menjadi kosong.
———–
~flashback end~

Hyuki mengerjapkan mata dengan diam. Kilasan-kilasan yang dilihatnya baru saja benar-benar membuatnya tertegun. Dipandanginya gadis itu “ditinggal papa, ditinggal mama, juga ditinggal ardhi… nggak heran kalo lo jadi kayak gini…” tanpa sadar, tangan hyuki terulur, merapikan rambut vea, mengusap-usap pelan kepala gadis itu.
***

Vea mengerjapkan matanya pelan. kepalanya terasa pusing. Baru ia akan beranjak bangun, seseorang menahan lengannya.
“jangan bangun dulu, kondisi lo lagi nggak bagus,”
“gue… belum mati??”
“lo mau bikin gue nggak lulus ujian huh?? kalo lo mati gue gimana??”
“sebenernya lo ini apa sih?”
“kan gue udah bilang kalo gue ini evil!!”
Vea menatapnya datar tanpa ekspresi. Jelas-jelas ia masih belum percaya kata-kata hyuki.
“jam berapa sekarang?”
“masih setengah tiga pagi,”
“lo nggak tidur?”
“gue nggak pernah tidur. Nggak ada ceritanya iblis itu bisa tidur,”
Vea menatap hyuki aneh ”harusnya lo nggak nolongin gue,”
“gue tau semua tentang lo,”
Vea menatap hyuki terkejut. Tatapan gadis itu seolah mengatakan bahwa itu hal yang tidak mungkin.
“papa lo… pergi karena wanita lain, mama lo meninggal karena kanker hati, dan ardhi… gue nggak tau dia siapa lo, yang jelas dia yang selalu nemenin lo akhirnya kecelakaan dan pergi ninggalin lo juga. Lo heran kenapa gue tau? Udah gue bilang, gue ini iblis, gue bisa ngelihat memory hidup lo,”
Vea terdiam antara percaya dan tidak. Namun semua yang dikatakan laki-laki itu benar.
“kadang… gue nggak ngerti cara berfikir manusia, kenapa mereka bisa menahan sesuatu hingga bertahun-tahun. Hidup ini realita. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Semua akan berubah, tidak seperti kami makhluk abadi,” gumam hyuki.
“karena itu… karena itu gue kayak gini. Lebih baik gue sendirian daripada ditinggal lagi… gue nggak percaya lagi,”
Perlahan, hyuki mengusap kepala vea lembut “kau seharusnya bersyukur bisa menjadi manusia. Kalian punya mimpi dan keinginan, berbeda dengan kami…”
Ada yang mengalir hangat ketika sentuhan itu terjadi. Hal yang pernah dirindukan oleh gadis itu. seseorang yang bisa dijadikannya tempat menyangga lelah.
“tidurlah, sudah malam…” bisik hyuki.

Vea terbangun dari tidurnya saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Gadis itu bangun lalu berjalan menuju dapur. Ia terdiam saat melihat hyuki sibuk memasak di situ.
“apa yang kau lakukan?”
Hyuki mengerjap kaget dan menoleh “oh? Kau sudah bangun?? Duduklah, aku sedang membuat martabak, kau menyukainya bukan??”
Vea tercenung. Bagaimana hyuki tau makanan favoritenya? Lalu ia mendengus pelan, jika masa lalunya saja laki-laki ini tau, apalagi dengan hal kecil seperti itu?
“hei, kenapa Cuma bengong? Ayo duduk!!” tiba-tiba saja hyuki sudah menarik vea dan mendudukkannya gadis itu di kursi.
“apa ini??” vea mengeryit sambil menatap masakan yang di buat hyuki.
“martabak…” saut hyuki polos.
“kok ancur gini??”
“wajar dong, gue Cuma nyontek di memory ibu-ibu warung yang lagi tidur di depan sana, abis di memory lo yang ada Cuma bikin mie instan doank,”
“ogah!! Kalo gue keracunan ntar gimana?”
“bagus donk, itu artinya lo cepet mati!!”
PLETAK
“YAA!!” Hyuki meringis sambil memegangi kepalanya sementara vea tertawa. Tertawa karena ucapannya yang bodoh. Dia memang ingin mati, lalu kenapa dia khawatir?? Sangat tolol!!
Dimakannya sesuat telur yang tidak berbentuk itu. begitu ia mengunyah, vea langsung berlari ke tong sampah dan memuntahkannya .
“hueeeekkk…”
“eh? Kenapa??”
“asiiiiiin begooo’!!” vea menyambar botol air di meja dan langsung meneguknya sementara hyuki nyengir nggak jelas.
“gagal ya?”
“pakek tanya lagi, ck!!”
Hyuki tersenyum lebar “lo cantik kalo lagi marah,”
Ekspresi gadis itu berubah datar, ia menatap hyuki tajam “gue mau kerja,” katanya dan langsung masuk ke kamar mandi.
***

Rumah terlihat gelap saat vea pulang. Gadis itu menyalakan lampu dan heran tidak mendapati hyuki di situ. Oke, ini sudah tidak benar. Apa sekarang dia mulai menganggap keberadaan laki-laki yang katanya bukan manusia itu? di hampirinya meja makan dan mengambil segelas air. Sambil minum, matanya menatap makanan yang di buat hyuki tadi pagi itu.
Diletakkannya gelas yang kosong itu kembali ke meja. Lalu di ambilnya makanan itu, disuapkannya kedalam mulutnya. Rasanya memang aneh, tapi tidak seasin tadi. Disuapkannya pelan-pelan ke mulutnya hingga akhirnya piring itu kosong, membuatnya mengerjap kaget.
“eh? Lo udah pulang??”
Vea tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Hyuki tengah tersenyum lebar sambil membawa bungkusan pelastik.
“gue bawain nasi goreng nih,” katanya ceria “eh? Itu yang tadi udah lo buang ya?”
Vea hanya diam saja melihatnya “lo dapet uang darimana buat beli?”
“gue nggak beli kok, tadi kebetulan bantuin dorong gerobak nasi gorengnya. Yang jualan keseleo kakinya, jadi dikasih gratis, gue hebatkan?”
“dorong seberapa jauh?”
“yah dari pertigaan, lurus trus belok kanan sampai lampu merah, abis itu nyebrang jalan, belok kiri, lurus terus sampek masuk komplek,”
“dorong sampek lima kilo Cuma dikasih nasi goreng dua bungkus?? Dasar bego,” vea menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masuk ke kamar.
“hei ayo makan dulu!!” teriak hyuki.

Setelah mandi, vea makan nasi goreng itu bersama hyuki.
“ssshhh…hhaaahhh…”
Vea menatap laki-laki itu aneh “kenapa lo?”
“mulut gue panassss…ssshh…” hyuki ngeces-ngeces nggak karuan.
“lagian, siapa suruh makan cabe,”
“mana gue tau itu cabe?!” sewotnya.
Vea tertawa “katanya iblis tapi bego’,”
“kalo di dunia gue nggak ada rasa laper, gue nggak pernah makan. Nggak tau kenapa disini gue jadi laper,”
“kenapa nggak balik aja ke dunia lo?!”
“lo nggak nangis gimana gue bisa balik?!”
“jadi lo pingin gue nangis?”
Hyuki menghentikan makannya. Ditatapnya gadis itu. Kenapa lidahnya terasa kelu? Haruskah gadis ini menangis lagi setelah begitu banyak air mata yang sudah ia keluarkan??
Vea meletakkan sendoknya lalu beranjak dari duduknya begitu saja. Entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman. Apakah ini karena laki-laki itu bukan seseorang yang bisa menemaninya untuk hidup? Dan kini ia mulai menerima keberadaan laki-laki itu?? Dia tidak ingin terluka. Tidak lagi…
“ve,” panggil hyuki yang menyusulnya ke kamar.
“pergi!!”
“ada apa?”
“tempat lo bukan di sini, pergi!!”
“tapi_”
“gue bilang pergi!!” bentak vea sambil berbalik. Ditatapnya laki-laki itu dengan tajam.
“lo kenapa sih?? Kenapa tiba-tiba__uwaaaa….”
Bruuuuk…”
Kaki hyuki tersandung karpet hingga ia terjungkal dan menabrak vea hingga jatuh ke tempat tidur. Mereka saling bertatapan. Perlahan, deru nafas itu semakin keras. Debaran jantung mulai terdengar jelas.
Mata itu menatap lekat-lekat hingga akhirnya semakin dekat dan… bibir itu menyentuh lembut bibirnya. menekannya dalam sejenak lalu melepasnya kembali.
Otak vea terasa kosong untuk berfikir. Dia tidak bisa bergerak. Mereka saling bertatapan lagi. Lalu, perlahan ia memejamkan mata saat wajah hyuki mendekat.
Lampu kamar itu tiba-tiba saja padam saat bibir hyuki menempel pada bibir vea. Mengecupnya lembut beberapa kali lalu berubah menjadi lumatan lembut. Untuk pertama kalinya, vea merasakan sesuatu yang berbeda.

tbc…