Tags

,

Musim demi musim berlalu. Kenangan-kenangan akan semakin banyak. Tentang tawa, tangis, ataupun duka. Kini bukan tentang ‘aku’ lagi, tapi berubah menjadi ‘kami’.

Soojin termenung di kamarnya.  Ditatapnya foto-fotonya yang terpajang di dinding kamarnya. Hasil kerja Jung Soo untuk tugas akhir di kampusnya.

 

“Jung Soo ya, apa kita bisa selalu bersama seperti ini? Aku tidak takut pada takdirku. . . aku tidak takut jika akan pergi. Tapi… aku takut jika kau dan orang-orang yang menyayangiku akan sedih karena kepergianku…”

Bisikan itu begitu lirih. Menguar pada ruang yang sunyi. Dan hanya bergema di dalam batin. Tiba-tiba bunyi ponsel soo jin memecah keheningan. Ada sebuah pesan yang masuk.

‘Soo Jin ah, kutunggu kau di taman kampusku besok jam sebelas, ne?!’

Sudut bibir itu otomatis tertarik membentuk sebuah senyuman saat membacanya. Selama bersama pria itu, ia mengalami banyak hal. Ia melihat hal yang belum pernah ia lihat.

“Eonni, kau ada pesanan bunga untuk pernikahan hari ini?” tanya Soo Jin sambil merangkai bunga dalam vas.

“Aniyo, waeyo?”

“Ani… hanya saja nanti aku ada janji. Kalau kau harus mengantar bunga ke gereja, aku akan membatalkan janjiku,”

“Pergilah, aku akan jaga di sini seharian,”

“Araseo,” jawab Soo Jin ceria.

“Kau mau kencan eh?” goda Yoon Hye.

“Mola, Jung Soo Oppa hanya menyuruhku datang ke kampusnya,” jawab Soo Jin acuh.

Soo Jin melirik jam yang ada di atas meja kerja kakanya lalu cepat-cepat merapikan bunga-bunga yang berserakan.

“Eonni ya, aku pergi dulu!!” teriak Soo Jin.

“Ne!!” balas Yoon Hye dari lantai atas.

Soo Jin berjalan pelan menuju kampus Jung Soo. Hari ini mendung. cuaca menjadi lebih dingin. Soo Jin merapatkan jaket panjang yang dipakainya.

“Oh, Soo Jin ssi, anyeong!!”

Soo Jin menghentikan langkahnya dan menoleh “Anyeong In Hoo ssi,” balasnya ramah.

“Kau mencari Jung Soo?”

“Ne, apa kau melihatnya?”

“Tadi dia bilang padaku akan pergi ke taman belakang kampus, kau susul saja dia disana,”

“Araseo, In Hoo ssi, kasamhamnida,”

Soo Jin meneruskan langkahnya menuju tempat yang dikatakan In Hoo. Sampai di sana ia memutar pandangannya mencari sosok jung soo. Dan, laki-laki itu berdiri disana, dalam pelukan seorang gadis??

Soo Jin terpaku menatapnya. Ia merasa fikirannya menguap entah kemana. Ia tidak tau apa yang harus dipikirkannya. Terlalu banyak pertanyaan di dalamnya. Dalam diam, kaki itu berbalik lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Gadis itu berjalan amat lambat. Kepalanya menunduk memperhatikan kakinya yang melangkah. Dan disetiap langkahnya ia menyimpan sebuah pertanyaan.

Siapa dia? Mengapa Jung Soo tidak pernah bercerita? Pacarnya? Kakaknya? Atau temannya? Tapi mengapa sampai berpelukan seperti itu? jika dia gadis yang dekat dengan Jung Soo, lalu dirinya apa?

Langkah kaki Soo Jin terhenti karena bunyi nyaring pada ponselnya. Diambilnya benda itu dari saku jaketnya. Nama Jung Soo berkedip-kedip di layar ponselnya. Gadis itu menghela nafas sesaat lalu menjawab teleponnya.

“Yoboseo?”

“Soo Jin ah, di mana kau?”

“Mianhae Oppa, aku masih di rumah, Eomma memerlukan bantuanku,”

“Ne, gwenchana. Besok saja kita bertemu, baru saja Appa memintaku untuk mengantarnya pergi,”

“Araseo,” langsung ditutupnya telepon itu tanpa menunggu jawaban dari Jung Soo.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa hatinya tiba-tiba terasa sakit. tidak masalah jika Jung Soo ingin bersama gadis itu. tapi kenapa berbohong? Mengapa berbohong kepadanya? Ia anggap apa Soo Jin? Soo Jin bukan kekasihnya, lalu mengapa ia harus berbohong?

———–

“Jung Soo ya??”

“Hye Mi Nonna??” Jung Soo begitu terkejut melihat sosok gadis di hadapannya ini. Gadis yang sempat ia lupakan. Dan sebelum otaknya kembali normal, gadis itu sudah melingkarkan tangannya memeluk Jung Soo.

“Bogoshipo…” desahnya lembut.

Jung soo masih berdiri diam ditempatnya. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Hye Mi ada di depannya. Apakah ini halusinasinya? Tapi ia tidak pernah memikirkan gadis itu lagi sejak… Sejak ia berjanji untuk menjaga Soo Jin.

“Apa kau tidak merindukanku?” tanya Hye Mi masih memeluknya.

“Aku… Aku merindukanmu…” ucap Jung Soo gamang.

Hye Mi melepas pelukannya sambil tersenyum lebar “Kau terkejut??”

“Sangat,” jawab Jung Soo cepat.

Gadis itu tertawa kecil “Kau bertambah tinggi sekarang…” gumamnya sambil mendongak menatap Jung Soo dengan satu tangan menyentuh rambut halus laki-laki itu “Terlihat lebih dewasa…”

“Nonna, bagaimana bisa kau ada disini??” tanya Jung Soo.

Gerakan Hye Mi terhenti “Aku harus melakukan sesuatu di sini,” wajahnya berubah menjadi muram.

“Bagaimana dengan sekolahmu?”

“Jangan khawatir, aku sedang liburan tengah semester.”

“Kapan kau tiba di sini?”

“Kemarin,”

“Lalu Heechul Hyung?”

“Aku sudah tidak bersamanya lagi,” jawab hye mi sambil memalingkan wajahnya.

“Apa maksudmu nonna?”

“Ya, Park Jung Soo, kenapa kau banyak sekali bertanya? Tidakkah kau mengajakku makan? Aku belum sarapan tadi pagi,”

“Ta-tapi_”

“Ayolah, mentraktirku saja kau tidak mau, dan kau juga tidak memberikanku kado saat ulang tahun. Ya, Park Jung Soo, kenapa kau menjadi pelit sekali huh?”

Jung Soo menatap bimbang. Lalu ia mendesah dan menyerah “Tunggulah sebentar, aku ingin ke toilet dulu,”

“Araseo,” saut Hye Mi riang.

Jung Soo berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan Hye Mi. Kemudian di ambilnya ponsel untuk menghubungi Soo Jin.

Sudah dua hari. Sudah dua hari ini Jung Soo tidak bisa menghubungi Soo Jin. Setiap ia menelepon selalu saja tidak di angkat. Kemana gadis itu?? apakah ia baik-baik saja??

“Jung Soo ya, coba ini!!” Hye Mi mengulurkan sebotol minuman berwarna biru pada Jung Soo dengan ceria. Tapi wajahnya langsung berubah saat melihat Jung Soo “Kau kenapa? Ada yang menghubungimu?” tanya Hye Mi sambil menatap ponsel dalam genggaman Jung Soo.

“Aniyo…” elak Jung Soo.

“kau ada janji? Kulihat dari tadi kau melihat ponselmu,”

“Ani Nonna, apa itu?” tanya Jung Soo mengalihkan perhatian sambil memaksakan seulas senyum.

“Cobalah,”

Tanpa merasa curiga Jung Soo mengambil botol itu dan meneguknya. “YAAIKK…” dimuntahkannya kembali cairan itu sementara Hye Mi tergelak melihatnya. Dilihatnya botol minuman itu “Seratus persen vitamin C?? Kau ingin membunuhku huh??”

“Aigoo… Wajahmu lucu sekali Jung Soo ya, minumlah,” jawab Hyemi sambil mengulurkan sebotol air mineral, masih tertawa.

“Andwaeyo!!” saut jung soo sambil berjalan menuju kran air lalu berkumur di sana.

“Kau marah?” tanya hye mi pelan dari belakang.

“Ani, hanya kesal,”

“Mianhae,”

“Gwenchana, mungkin terkejut karena sudah lama kau tidak menjahiliku,”

Hye Mi tertawa lagi “Jung Soo ya, ayo kita makan sushi!!” tanpa menunggu jawaban Jung Soo, gadis itu langsung menyeret Jung Soo pergi.

“Kau tau restoran sushi favoriteku dengan Appa? Aku akan mengajakmu makan di sana. Penjualnya orang Jepang asli,” Hye Mi melangkah dengan riang sambil menggandeng lengan Jung Soo. Gadis itu terus berceloteh sementara pikiran Jung Soo terbang entah ke mana.

“woaaa… Lihat, bunga ini cantik sekali…”

Jung Soo melihat sekilas dengan matanya bunga yang dipajang dibalik kaca toko itu. Tapi kemudian ia tersentak saat menyadari itu toko bunga milik kakak Soo Jin.

“Ayo kita masuk!!” lagi, tanpa menunggu jawaban Jung Soo, ditariknya lengan itu masuk ke dalam.

“Anyeong haseo, Selamat da…tang…” suara gadis itu melemah saat matanya menatap Jung Soo.

Jung Soo hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Seolah tenggorokannya sangat kering.

“Jung Soo ya, lihat ini, cantik sekali bukan??”

Ucapan Hye Mi membuat Jung Soo mengalihkan tatapannya pada gadis itu.

“Ada apa denganmu?” tanya Hye Mi heran.

“An-aniyo…” jawab Jung Soo sambil menggosok tengkuknya.

“Berapa harga satu pot bunga ini?”

“Itu… Delapan ribu won…”

“Jung Soo ya, kau tidak ingin memberikan bunga untukku? Terakhir kali kau memberikan bunga padaku saat aku menyanyi di festifal musim panas sebelum aku pergi ke Amerika…”

“Kau ingin bunga?” tanya Jung Soo gugup.

“Kau bilang aku seperti Lily bukan? Aku ingin bunga itu,”

Jung Soo tidak begitu mendengarkan omongan Hye Mi. Ia hanya diam memandang gadis yang sedang diam di meja kerja itu. Matanya hanya memandang kosong tumpukan file di meja.

“Soo Jin ah???” terdengar sebuah teriakan di sertai suara langkah kaki dari tangga. Tidak lama, Yoon Hye muncul dari sana “Oh ada pembe…li…” suara Yoon Hye memelan saat melihat Jung Soo bersama seorang gadis yang jelas-jelas menggamit lengannya.

Yoon Hye menoleh lagi dan melihat Soo Jin sedang diam menatap tumpukan file.

“Agashi, berapa harga seikat bunga Lily ini?” tanya Hye Mi riang.

“Maaf kami sudah tutup, kalian bisa kembali lagi besok!!” jawab Yoon Hye ketus.

Semua langsung tersentak dan menoleh pada Yoon Hye.

“Mwo?” Hye Mi mengerutkan kening bingung “Aku tidak melihat tanda tutup tadi…”

“Gwenchanae Eonni,” saut Soo Jin tiba-tiba “Itu Enam ribu won seikat, kau mau? Akan kubungkuskan untukmu,”

“ya, tolong dibungkus,”

————-

“Aku tidak menyangka dia laki-laki brengsek!!” desis Yoon Hye marah.

“Eonni sudahlah…”

“Padahal aku sudah percaya kepadanya, kukira dia benar-benar akan menjagamu. Tidak kusangka dia malah bersama gadis lain. Apa ini sebabnya kau hanya diam selama beberapa hari ini? Karena laki-laki itu?”

“Eonni…”

“Lupakan dia soo jin ah, dia tidak baik untukmu. Aku benar-benar_”

“EONNI HENTIKAN!!”

Yoon Hye tersentak dan langsung berbalik begitu mendengar bentakan itu. Soo Jin menatapnya dengan nafas terengah. Ia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh. “Aku tau… Tidak perlu dibahas lagi. Dia hanya berjanji untuk menjagaku, bukan menjadi kekasihku!! Aku bukan siapa-siapanya Eonni!!”

“Tapi_” kalimat Yoon Hye terhenti saat melihat seseorang berdiri di depan pintu kaca tokonya.

Soo Jin menoleh mengikuti arah pandang Yoon Hye dan melihat Jung Soo di sana. Raut wajah laki-laki itu sama sekali tidak bisa dijelaskan. Seperti menatap menyesal, merasa bersalah, atau… sedih? Entahlah.

“Maaf tuan, kami sudah tutup!!” kata Yoon Hye dingin.

“Aku kemari bukan untuk membeli bunga. Soo Jin ah, bisa kita bicara sebentar?” pinta Jung Soo sambil menatap Soo Jin.

Soo Jin menatap ragu. Apa ia harus pergi dengan laki-laki itu?

“Soo Jin tidak ada!!” jawab Yoon Hye dingin. Padahal Soo Jin ada di depannya, jelas sekali ia melarang gadis itu untuk pergi.

“Hanya sebentar saja,” pinta Jung Soo lirih.

“Apa kau tidak dengar? Soo Jin tidak ada!!”

“Eonni ya,” potong soo jin “Aku akan segera kembali,”

Yoon Hye mendecak pelan “Kau masih ingin menemuinya?”

“Aku tidak akan lama,” jawab Soo Jin kemudian meraih mantelnya dan berjalan ke arah Jung Soo.

Taman itu tampak legang. Mereka berdua duduk di ayunan yang ada. Lampu taman yang menyala kekuningan, memberikan sedikit kesan hangat pada malam itu. Soo Jin menggosok-gosokkan tangannya pelan “Kau membawaku kemari hanya untuk duduk? Kalau begitu aku pergi,”

“Dia… bernama  Jung Hye Mi,” kata Jung Soo tiba-tiba membuat Soo Jin mengurungkan niatnya untuk berdiri.

Ditatapnya wajah Jung Soo tidak mengerti. Laki-laki itu hanya menatap lurus ke depan. “Kami tumbuh bersama sejak kecil. Bersekolah di tempat yang sama, dan bermain bersama. Dia gadis yang sangat pandai menyanyi, dan aku menyukainya…”

Soo Jin tercenung mendengarnya “Apakah… Dia gadis yang akan kau berikan bunga mawar itu?” tanya pelan nyaris tanpa tenaga.

Jung Soo terdiam sejenak “Benar… Hari itu, dia berhasil mengikuti tes beasiswa untuk sekolah vokal ke luar negeri. Aku ingin memberitahukan perasaanku kepadanya sebelum ia pergi. Tapi takdir berkata lain… Ia sudah menemukan takdirnya sendiri. Kepergiannya ke Amerika yang seharusnya kulepas sebagai takdirku, berubah kulepas dari takdirku…”

Soo Jin hanya diam. Ia merasa laki-laki itu belum selesai berbicara.

“Dia selalu menganggapku laki-laki kecilnya. Selama ini dia yang menjagaku. Dan aku benci itu. Aku ingin ia melihatku sebagai seorang laki-laki, tapi semua itu sia-sia. Yang dilihatnya kini bukan aku. perlahan aku mulai melupakannya. Dan itu semua karena bantuanmu,”

“Aku…?”

“Ya, kau! Aku tidak tau kenapa aku ingin menjagamu Jin ah. Aku suka saat kau membutuhkanku. Aku senang saat kau membagi semua rasa sakit yang kau alami. Aku merasa dibutuhkan. Aku merasa menjadi orang yang berguna. Dan aku ingin terus membuatmu bahagia…”

Tubuh Soo Jin terasa kaku. Jung Soo ingin membuatnya bahagia. Sebaik itukah laki-laki di sampingnya ini? Lalu bagaimana dengan Soo Jin? Tidakkah dia ingin membahagiakan laki-laki itu?

“Aku tidak tau kenapa ia kembali,” lanjut Jung Soo “Dia bilang dia sedang liburan tengah semester. Tapi saat kutanya tentang Heechul Hyung, orang yang dipilih menjadi takdirnya, ia bilang sudah tidak bersamanya lagi,”

“Mungkin… Ia menyadari kalau ia membutuhkanmu,” bisik Soo Jin lirih. Mengapa ia merasa tidak rela? “Bukankah kalian sangat dekat? Ia kembali kepadamu, seharusnya kau senang, kau dapat meraih takdirmu,”

“Entahlah… Aku tidak mengerti. Sudah lama Soo Jin ah, dan kurasa saat ini diriku sudah tidak sama dengan yang dulu lagi… Aku… Aku sudah terbiasa berada di sisimu…”

Kata-kata itu menusuk tepat di jantung Soo Jin. Laki-laki itu terbiasa di sisinya, ini tidak boleh. Waktunya tidak akan lama, jika seperti ini terus, Jung Soo akan terluka saat ia pergi. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi.

“Kau masih mencintainya Oppa…”

“Menurutmu begitu? Tapi kenapa aku jadi ragu? Sepertinya hatiku tidak berkata seperti itu,”

“Ini hanya karena waktu,”

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Apa maksudmu? Aku bukan siapa-siapamu Oppa. Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau hanya berjanji untuk menjagaku bukan untuk sebagai kekasihku, dan aku tidak pernah berharap untuk hal itu. Kau lupa? Hidupku tidak lama,”

“Soo Jin ah,”

“Aku harus pulang,” dengan cepat Soo Jin beranjak dari duduknya dan berjalan pergi.

“Tunggu, Soo Jin ah,”

Langkah Soo Jin terhenti, tapi tidak ada niat untuk berbalik ke belakang “Sebaiknya kita tidak bertemu lagi, dan ambilah takdirmu kembali…” kata Soo Jin menyembunyikan getarannya lalu melangkah pergi.

Dan Jung Soo hanya bisa terpaku menatap kepergian gadis itu…

Tbc…