Tags

,

someday…

cast :

– kim heechul

– song hyo jin [silvia]

————————



Pintu apartement itu terbuka. tidak lama kemudian ruangan yang tadinya gelap itu tiba-tiba berubah terang. Seorang gadis dua puluh lima tahun sedang melepas sepatunya di depan pintu yang sudah tertutup itu. dengan raut wajah lelah, ia berjalan ke arah dapur. Melemparkan tas tangannya ke sofa  putih sambil melepas syal yang melilit lehernya.

Ia langsung menghampiri lemari es, mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya langsung dari botolnya. Setelah minum dikembalikannya botol itu ke tempat semula lalu menyalakan api untuk merebus air. Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.

Air sudah mendidih saat ia keluar kamar. diambilnya sebungkus ramen dan memasaknya. Sudah lama sekali ia hidup sendirian. Orang tuanya tinggal di sebuah desa yang sedikit jauh dari Seoul. Pekerjaannya sebagai wartawan memaksannya untuk menetap di seoul.

Song Hyo Jin. Gadis itu makan dalam diam. Terkadang ia merasa lelah dengan hidupnya. Namun ia harus membantu ayah dan ibunya untuk membiayai sekolah adiknya. Selama ini ia jarang bergaul dengan teman-temannya. Hubungan dengan mantan pacarnya juga berjalan tidak bagus. Ia hanya pernah dua kali pacaran dan yang terakhir sudah berakhir setahun yang lalu.

Gadis itu tidak menghabiskan ramennya. Langsung dibawanya lagi mangkok itu ke tempat cucian begitu tidak ada nafsu makan lagi. Sambil menghela nafas, ia menyeduh susu coklat panas. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Sedikit lebih awal dari waktunya pulang kerja. Jika mencapai deadline, terkadang ia harus pulang tengah malam.

Gadis itu terlihat cantik meskipun wajahnya tampak lelah. Tubuhnya kurus karena jarang makan teratur bahkan tidak sempat. Rambutnya yang ikal hanya di kuncir kuda, dandanan yang menurutnya praktis untuk wartawan yang dituntut cepat dalam mencari berita.

Disibaknya gorden putih yang menutupi pintu kaca balkonnya itu. ia tidak ingat kapan terakhir kali dirinya menikmati pemandangan malam. Biasanya ia langsung tidur begitu pulang ke apartement. Bahkan untuk berganti pakaian dan menggosok gigipun ia tidak sempat karena kantuk lebih mengambil alih pikirannya. Hawa dingin langsung membelai tubuhnya saat pintu balkon itu terbuka. sambil menikmati susu coklatnya, ia mengamati jalanan yang masih cukup ramai di bawahnya.

Di depan apartementnya persis, juga ada sebuah apartement yang sangat mewah. Tepatnya diseberang jalan yang lebarnya tidak lebih dari delapan meter itu. tinggi apartement itu dua kali lipat dibanding apartementnya yang hanya punya lima lantai. Hyo jin mendongak menatap langit. Tidak ada bintang… tentu saja. langit seoul sekarang sudah berbeda. Tidak seperti di rumah orang tuanya yang masih banyak bintang saat langit gelap.

BRAAAKK…

“Aaahh…nghhh…”

Hyo Jin mengerjap kaget dan langsung ternganga melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu. tepat di depan balkonnya, di balkon apartement mewah di depannya ada sepasang pria dan wanita  telanjang yang sedang berhubungan intim. Apa mereka sudah gila?? Mengapa melakukan itu hingga di balkon? Bagaimana jika di lihat orang seperti dirinya saat ini?

Pria itu tiba-tiba menoleh dan menatap sojin. Tampan, hal itulah yang terlintas di pikiran Hyo Jin. Lalu sebuah kedipan dan senyuman iblis dilemparnya ke gadis itu sambil terus membuat pasangannya mendesah.

Hyo Jin tersentak dari keterkejutannya. Gadis itu langsung berbalik kembali masuk ke dalam tanpa ingat telah meninggalkan susu coklatnya di tepi balkon. Ditutupnya pintu kaca itu lalu dikuncinya. Disibaknya gorden itu hingga pemandangan itu hilang dari hadapannya. Tapi yah tidak mampu dihilangkannya dari benaknya. Cepat-cepat ia melangkah ke kamarnya lalu naik ke tempat tidur dan memejamkan mata.

Akhir-akhir ini pekerjaan Hyo Jin tidak sepadat biasanya. Ia bisa pulang lebih awal meskipun yang di sebut awal itu dia tetap harus lembur. Yah setidaknya jam delapan malam ia sudah bisa pulang ke apartement. Sejak kejadian itu Hyo Jin tidak pernah bisa menikmati pemandangan dari balkonnya lagi. Bagaimana tidak? Saat ia bisa pulang lebih awal, begitu ia menyibak tirai gordenya, laki-laki itu selalu saja bercinta dengan membuka pintu balkon apartementnya lebar-lebar. Membuat hyojin dapat melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan mengingat balkon apartementnya berhadap-hadapan dengan  balkon apartement laki-laki itu. dan yang sulit di mengerti wanita-wanita itu selalu saja berbeda. Terkadang rambut pendek, terkadang rambut panjang, atau pirang.

“Hyo jIn ah, besok kita libur,” kata Yoon Hye riang.

“Uh? Bagaimana mungkin??” Hyo Jin sangat mengenal sifat atasannya itu yang tidak akan membiarkan pegawainya libur sebelum pekerjaan selesai.

“Artikel yang kita buat kemarin lusa mendapat rating bagus. Ini semua karena dirimu yang pandai mengumpulkan informasi,” jawab Yoon Hye.

“Kau juga pintar menulis… Baiklah, jadi besok kita bisa istirahat,”

“Mmm, Miss Cha juga mengijinkan kita pulang lebih awal. Ia sedang ada acara keluarga, mungkin saja acara perjodohannya,” yoon hye terkikik pelan “kasihan sekali dia, sudah hampir tiga puluh dua tapi belum menikah,”

“Itu bukan urusan kita Yoon ah,”

“Araseo, aku pulang dulu, Hyuki Oppa sudah menunggu di bawah,”

“Kau pulang sekarang??”

“Ne, waeyo? Miss Cha sudah pergi dua puluh menit yang lalu. Jangan menyiksa diri sendiri Hyo Jin ah, bersenang-senanglah,”

“Ne gomawo,” jawab Hyo Jin sambil memaksakan seulas senyum.

Masih jam tujuh tapi Hyo Jin sudah berada di dalam bus.  Ini amat jarang sekali terjadi, karena itu ia ingin bersenang-senang sedikit nanti. Mungkin dengan menonton film dan makan makanan ringan. Ia turun dari bus ketika sampai halte. Kemudian berjalan dan mampir ke sebuah toko kecil dibelakang apartementnya. Ia membeli beberapa kantong kripik kentang besar, beberapa bungkus ramen dan minuman soda juga keperluan lain yang mungkin dibutuhkannya.

“Tidak lembur hari ini?” tanya bibi penjual itu ramah.

“Aniyo Ajhuma, atasanku sedang ada keperluan jadi aku boleh pulang lebih awal,” jawab Hyo Jin sambil membayar belanjaannya.

“Itu bagus, sesekali kau harus beristirahat. Lihatlah, tubuhmu lebih kurus,”

Hyo jin hanya tersenyum pada wanita separuh baya itu. dia mengenal hyojin dengan baik karena hyo jin sering mampir ke toko yang buka 24 jam ini.

“nah semuanya dua puluh delapan ribu won,”

Hyo jin membayar belanjaannya lalu pamit pergi. Gadis itu menyusuri jalan untuk pulang ke apartementnya dengan menjinjing dua kantong plastik berisi belanjaannya. Ah, apa yang akan dilakukannya besok?? Besok adalah hari yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. mungkin sebaiknya ia harus pergi ke toko buku, lalu berbelanja baju dan membeli dvd baru.

Bruuuk…

Kantong belanjaan itu terlepas dari tangan Hyo Jin. Gadis itu mengerjap pelan dan tersadar bahwa dirinya tadi sedang melamun. “Mianhamnida…” ucapnya sambil membungkuk beberapa kali pada seseorang di depannya.

“Gwenchanae,” jawab orang yang ternyata seorang pria itu.

Hyo Jin tersentak. Pria itu… Pria yang apartementnya tepat di depannya. Pria yang sering bercinta dengan wanita. Sontak wajah Hyo Jin terasa panas. Dengan gugup Hyo Jin berjongkok sambil memunguti belanjaannya yang tercecer di tanah.

“Yaa, sepertinya aku pernah melihatmu,” gumam pria itu sambil membantu Hyo Jin memunguti belanjaannya.

Hyo Jin tidak menjawab. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam tidak mau menatap pria yang ada dihadapannya itu.

“Ah, kau gadis yang melihatku bercinta itu kan??” seru pria itu tanpa malu.

Wajah Hyo Jin semakin memanas. Tangannya lebih cepat memasukkan barang-barangnya ke kantong plastik lagi. Demi tuhan, apa pria dihadapannya ini tidak punya malu? Atau tidak tau malu?

“Yaa, agashi, kenapa kau diam saja?” tanya pria itu.

“Aku harus pergi,” saut Hyo Jin sambil beranjak dan langsung melangkah pergi.

“Yaa, barangmu ketinggalan!!”

Mau tidak mau Hyo Jin berhenti dan berbalik menatap pria itu. pria itu tersenyum sambil menunjukkan kantong plastik lain miliknya. Dengan wajah lelah gadis itu berjalan kembali mengambil kantong itu.

“Aku Kim Heechul. Siapa namamu?” tanya heechul sambil menahan kantong plastik itu ketika Hyo jin ingin mengambilnya.

“Tolong berikan padaku, aku harus pergi,” pinta Hyo Jin sambil memalingkan wajah ke arah lain.

“saat kau berbicara kepada seseorang kau harus menatap matanya,” tegas Heechul tanpa mau melepas kantong itu.

Hyo Jin mendesah kesal sambil menatap heechul “berikan kepadaku,”

“Apa kau gugup melihatku?”

“Ani!!” jawab Hyo Jin mulai ketus.

“Wae? Apa kau teringat tubuh telanjangku yang sedang bercinta??

Blusshh… demi tuhan ia tidak ingin bertemu laki-laki ini. wajah Hyo Jin memerah. Kenapa mulut pria ini seperti kereta yang tidak bisa di rem??

“Tidak ingin mampir ke apartementku?” goda pria itu.

Hyo Jin mendelik mendengarnya “Aku tidak sama seperti wantia yang sering kau bawa itu!!” bentaknya kesal.

Heechul tergelak “Jadi kau berbeda eh? Kau belum pernah bercinta??”

Demi tuhan Hyo Jin ingin membekap mulut itu dengan kaos kakinya. Bagaimana mungkin ia mengatakan bercinta semudah ia mengatakan makan?

“Berikan kepadaku atau aku akan berteriak maling!!” ancam Hyo Jin. Pria itu benar-benar membuatnya hilang kesabaran.

“Berikan aku soda dan aku akan membiarkanmu pergi, bagaimana?”

Tanpa banyak berbicara, Hyo Jin membuka kantong plastik yang di pegangnya lalu menyodorkan sekaleng soda dan merebut kantong plastik lain yang dipegang Heechul kemudian melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Hyo Jin mengerjap-kerjapkan matanya pelan. gadis itu bergerak dalam tidurnya. Diliriknya jam di atas meja lampunya. Setengah delapan pagi. Hal yang sangat jarang- hampir tidak pernah ia lakukan mengingat ia harus ada di kantor sebelum pukul delapan. Namun meskipun ia bisa bangun sesiang ini, tadi malam ia malah tidak dapat tidur. Bisa kau pikirkan apa yang sudah terjadi. Saat ia memejamkan mata, memory pria itu selalu saja membayanginya membuatnya tidak bisa tidur hingga jam dua pagi. Padahal sebelumnya ia sempat menonton drama dream high ke dua yang seharusnya dapat membuatnya bermimpi indah.

Hyo Jin beranjak bangun dari tidurnya. Dengan rambut masih kusut, ia berjalan ke arah balkon dan menyibak gordenya. Lalu digesernya pintu kaca sliding itu hingga terbuka lebar. Apartement pria itu terlihat gelap dengan kelambu masih menutupi semua jendela dan pintu balkonnya. Huh, dia pasti masih tidur setelah bercinta dengan wanita-wanita itu semalaman.

Tiba-tiba saja Hyo Jin mendengus kesal. Untuk apa ia memikirkan pria itu?! itu bukan urusannya! Dengan langkah tersaruk-saruk gadis itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Jam sembilan lebih tujuh menit Hyo Jin sudah berada di sebuah toko buku terbesar di Seoul. Ia senang membaca dan sudah lama sekali ia tidak pergi ke toko buku. Sekarang ketika ia punya waktu, ia ingin membeli beberapa novel terbitan terbaru.

Ia baru saja tenggelam dalam sinopsis novel yang di pegangnya saat ada seseorang yang berteriak.

“YAA perawan baik-baik!!!”

Tidak ada maksud apapun. Itu hanya reflek ketika Hyo Jin menoleh. Tapi yang tidak di duganya adalah ia melihat pria itu di sana, di sisi seberang ruang toko buku itu. Pria itu melambai-lambaikan tangannya riang. Hyo Jin sempat mengagumi penampilan pria itu yang hanya memakai kaos putih lengan panjang dan celana jins serta sebuah syal yang melilit di lehernya.

“Yaa perawan baik-baik!! Kemarilah!!” teriakan itu membuat Hyo Jin langsung mengalihkan tatapannya dan berjalan menjauh pura-pura tidak mengenal. Demi tuhan, perawan baik-baik? Apa pria itu ingin mempermalukannya?? Astaga… Dia benar-benar kutukan.

Dan yang dimaksud dengan kutukan itu adalah benar-benar kutukan. Bagaimana tidak?  Saat Hyo Jin di counter pakaian, saat ia makan di café, saat ia mencari dvd, pria itu selalu muncul di sekitarnya dan tidak ragu meneriakkan sapaan yang sangat memalukan itu. terakhir kali saat hye jin berada di sebuah super market. Gadis itu sedang asyik memilih buah dan teriakan nyaring itu tiba-tiba masuk ke dalam gendang telinganya. Ternyata pria itu ada di counter makanan ringan di sebelah counter buah. Hyo Jin membatalkan niatnya untuk membeli jeruk dan langsung pergi dari supermarket itu.

Gadis itu memutuskan untuk pulang ke apartement saja. bagaimana bisa pria itu bisa berkeliaran di dekatnya seharian ini? apa sebelumnya juga begitu? Hanya saja mereka tidak menyadarinya. Ini membuat modnya turun drastis.

“YAA perawan baik-baik!!”

Geeezzz… Hyo Jin menghentikan langkahnya. Gadis itu memejamkan matanya dengan geram lalu berbalik “Jangan berteriak seperti itu kepadaku!!” bentaknya kesal.

Pria itu tertawa kecil sambil berlari menghampirinya “Aku akan terus memanggilmu seperti itu jika kau tidak memberitahu namamu!”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Hyo Jin dingin.

“Namamu,” saut pria itu polos.

Hyo Jin menghela nafas kesal. Ia benar-benar berharap ada kendaraan yang sopirnya mabuk lalu tidak sengaja menabrak pria di hadapannya ini hingga enyah dari hadapannya.

“Song Hyo Jin!! Jika kau menyebut kata-kata yang tadi kupastikan kau akan mati!!”

“Benarkah?”

“Silahkan mencobanya!” dengus Hyo Jin sambil melangkah pergi.

“Yaa perawan baik-baik!!”

Hyo Jin menghentikan langkahnya sambil mengeram. Sedetik kemudian ia berbalik, menghampiri pria itu dengan cepat lalu…

“YAA!!” Heechul memekik saat tangan Hyo Jin menjitak kepalanya.

“Tidak ada yang pernah melakukan hal ini kepadaku!!” kesalnya sambil mengusap-usap kepalanya.

“Kalau begitu sekarang ada!!” jawab hyo Jin langsung sambil kembali melangkah pergi.

Hyo Jin baru saja akan naik ke tempat tidur saat di dengarnya ada sesuatu yang keras menghantam pintu kaca balkonnya. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk tidur lalu menghampiri pintu balkonnya. Disibaknya dengan kesal gorden putih itu lalu dibukanya pintu dengan kasar. Ada sebuah kerikil kecil yang di ikat tali putih bersama dengan segulung kertas kecil. Dibukanya kertas itu untuk dibaca.

‘Tidak ingin minum kopi di tempatku?’

Hyo Jin mengangkat wajahnya dan melihat Heechul sedang berdiri di balkon kamarnya sendiri di seberang sana sambil memegang secangkir kopi. Pria itu tersenyum pada Hyo Jin. Hyo Jin menghela nafasnya lalu masuk kembali ke kamarnya. Dibukanya sebuah laci, mengeluarkan sebuah nota. Disobeknya selembar kertas dari nota itu lalu menulis sesuatu di sana. Kemudian ia pergi ke dapur, mengambil botol kaca kosong lalu memasukkan kertas itu ke dalamnya.

Gadis itu kembali lagi ke balkon, menatap Heechul sejenak lalu melemparkan botol itu ke balkon Heechul.

PRAAANG… Botol itu menabrak pintu kaca balkon Heechul, membuat pintu itu retak bersama dengan pecahan botol itu saat heechul berhasil menghindar. Jika tidak, mungkin dirinya yang akan masuk rumah sakit. Pria itu memungut isinya lalu tertawa pelan sambil menaikkan salah satu alisnya.

‘Aku lebih senang kau bercinta dengan pelacur daripada menggangguku! Kita tidak saling mengenal, sebaiknya kau menjauh dariku!’

———————-

“Kalian berdua cari tau tentang kehidupan Kim Tae Hwa! Dia adalah seorang pengusaha yang sukses dengan produk mobil terbarunya. Berikan datanya dua minggu lagi. Jika kalian berhasil, aku akan mempromosikan kalian,”

Hyo Jin hanya menatap lelah pada atasannya yang sedang meletakkan map berisi profile pengusaha Kim Tae Hwa. Yoon Hye meraih map itu begitu Miss Cha pergi meninggalkan mereka.

“Kurasa ini sedikit lebih mudah daripada mencari berita tentang pemilik agency artis beberapa minggu lalu,” komentar Yoon Hye.

“Yah, kurasa kau benar,”

“Ayo, kita mulai sekarang saja!” gadis itu beranjak dari duduknya sambil menyambar tasnya di atas meja sementara hyo jin hanya bisa mengikutinya.

“Yoon Hye ya, kurasa mencari berita tentang pemilik agency itu lebih mudah daripada ini,” bisik Hyo jin dengan cemas.

Rumah besar itu memiliki gerbang yang sangat tinggi dengan penjaga di depannya. Mustahil bagi mereka untuk bisa masuk ke dalam.

“Kita coba bertanya saja,”

Kedua gadis itu menghampiri salah satu penjaga rumah itu “Permisi, tuan boleh kami minta tolong?”

“Siapa kalian? Ada keperluan apa?”

“Kami dari salah satu majalah_”

“Kalian wartawan?” potong pria itu “cepat pergi, kalian tidak di perlukan!!”

“Tunggu sebentar kami hanya_”

“Cepat pergi!!” penjaga itu mendorong Hyo Jin dan Yoon Hye dengan kasar.

“YAA biarkan kami menjelaskannya!!” bentak yoon hye tapi pria itu tidak mau mendengar.

Kedua gadis itu menghela nafas sambil memandangi rumah itu dari seberang jalan. Bagaimana cara mereka untuk bertemu dengan Kim Tae Hwa? Setidaknya mereka harus tau managernya dulu.

“Hyo Jin ah bagaimana sekarang??” desah Yoon Hye.

“Kita tunggu saja, lalu kita hadang mobilnya, bagaimana?” usul Hyo Jin.

“Apa kau gila? Kita bisa tertabrak nanti,”

Hyo Jin menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi caffe sambil menghela nafas. “Yoon ah, kau membawa laptop bukan? Carilah beberapa info melalui internet,”

“Kau benar, kenapa tidak terfikir tadi?!” gumam Yoon Hye sambil mengambil laptop dari tasnya “Aiiishh… aku lupa tidak mengisi batrainya,” desahnya pelan.

Hyo jin ikut mendesah lelah. Hari ini sama sekali tidak ada hasil.

“Apa yang kau lakukan di depan rumah orang tadi?”

Kedua gadis itu langsung menoleh kaget pada seorang pria yang tiba-tiba duduk di hadapan Hyo Jin.

“Apa kau seorang pengintai?” tanya pria itu lagi dengan tatapan lurus pada Hyo Jin.

“kenapa kau ada di sini??” seru hyo jin.

“Ini tempat umum, kau seharusnya bertanya seperti itu jika aku muncul di apartementmu,”

Hyo Jin ternganga mendengar jawaban pria itu.

“Hyo Jin ah, kau mengenalnya?” tanya Yoon Hye bingung.

“Apa yang kau lakukan tadi?” tanya pria itu lagi.

“Bagaimana kau tau aku ada di sana??”

“Kalian sangat mencurigakan!! Tentu saja aku khawatir jika ada dua orang yang sedang mengintai rumahku,”

“YAA aku bukan pengintai!!” bentak Hyo Jin kesal.

“Tunggu… Rumahmu??” tanya Yoon Hye skeptis.

“Benar, ada yang aneh??”

“Bukankah itu rumah Kim Tae Hwa?” tanya Hyo Jin sementara Yoon Hye langsung sibuk membuka map profil Kim Tae Hwa.

“Kau Kim Heechul putra Kim Tae Hwa??” seru Yoon Hye dengan mata terbelak sementara Hyo Jin ternganga menatapnya.

“Apa ada masalah??” tanya Heechul santai.

“Bagaimana mungkin… Pria sepertinya…” desis Hyo Jin sambil menyipitkan matanya.

“Heechul ssi, kebetulan sekali,” seru Yoon Hye dengan mata berbinar sementara Hyo Jin langsung menelan ludah. Firasatnya tidak bagus.

“Bisakah kami minta tolong? Kami sedang mencari info tentang Kim Tae Hwa ssi dengan produk barunya,”

“Kalian meminta bantuanku??”

“Ya,”

“Tidak!”

Heechul mengerutkan keningnya saat mendengar kata yang terucap bersamaan itu. Yoon Hye mendelik ke arah Hyo Jin.

“Heechul ssi, tolong bantulah kami,” pinta Yoon Hye.

“Baiklah,”

“Benarkah??”

“Ya, asal nona Song Hyo Jin mau menjadi asistenku selama dua minggu!!”

“MWO??” pekik Hyo Jin sambil berdiri dari duduknya tanpa sadar.

Yoon Hye menarik tangan gadis itu agar duduk kembali “Tidak masalah, dia akan dengan senang hati melakukannya,”

“APA KAU GILA??” pekiknya pada Yoon Hye sementara Heechul tertawa keras.

“Ayolah hyo… ini demi pekerjaan kita, kau ingin menerima surat pemecatan dari Miss Cha??”

“Tapi…”

“Hanya dua minggu,”

“Yoon ah, kau tidak tau seperti apa dia!!”

“Rasanya mustahil untuk bertemu Kim Tae Hwa langsung. Hanya dia yang bisa membantu. Ini pilihan terbaik Hyo,”

“Astaga tuhaaan…” Hyo Jin menjatuhkan kepalanya ke atas meja sesekali dibentur-benturkannya.

tbc